The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 11

Damdeok, Soojinee dan Hyon-go tiba di Shindang untuk menghadiri pertemuan.

Yeon Garyeo berteriak pada mereka untuk berhenti, menyerahkan senjata mereka dan menerima hukuman mereka dari Langit.

Tongkat Hyon-go dan senjata Soojinee diamankan oleh para pengawal. Ho-gae mendekati Damdeok dan mengatakan kalau dirinya, Ho-gae adalah keturunan dari Langit, dan kerena itulah akan mengambil kembali Pedang Joomong. Damdeok, menatap tajam pada Ho-gae, bertanya apakah Ho-gae lah yang merencanakan semua ini sendirian? Ho-gae megatakan tak seharusnya Damdeok datang ke pertemuan ini. Damdeok bertanya lagi apakah itu Ho-gae yang merencanakan semua ini dengan menipu para kepala suku, membunuh ayah Damdeok, Raja Gogookyang, dan menimpakan semuanya ini pada dirinya?

Ho-gae mengatakan bahwa Damdeok tak mungkin bisa meninggalkan tempat itu hidup-hidup. Ho-gae mengatakan betapa bodohnya Damdeok karena tetap datang walaupun sudah tahu kalau mereka sedang menunggunya.

Yeon Garyeo berseru pada Pendeta Tinggi, mengapa ia tak melakukan apapun padahal penjahat nya sudah ada di tempat itu.

Damdeok memberitahu Ho-gae bahwa jika Ho-gae lah yang memikirkan semua rencana ini, dirinya akan memuji dan memberikan selamat pada Ho-gae, mengakui kalau Ho-gae, sungguh cerdas dan berani, layak memerintah kerajaan ini.

Damdeok dalam hatinya tahu kalau Ho-gae bukanlah orang yang licik dan tak mungkin melakukan rencana seperti itu. Ia sebenarnya benar-benar berharap kalau Ho-gae bisa menjadi Raja, bukan dirinya. Pernah saat dipernjara ia berbicara pada Pedang Joomong bahwa Ho-gae bisa menjadi Raja yang baik. Itu berarti bahwa walaupun bukan Ho-gae yang memikirkan rencana ini, tapi Ho-gae sudah pada titik di mana ia bersedia melakukan apapun demi menjadi Raja, dengan mengikuti rencana ini. Damdeok merasakan pergumulan di hatinya dan amarah.

Ho-gae salah paham akan maksud pertanyaan Damdeok, ia berpikir kalau Damdeok berencana untuk memberikan posisinya. JIka seperti itu, Ho-gae berkata, maka Damdeok seharusnya melarikan diri jauh-jauh bukannya pergi ke Shindang dengan membawa Pedang Joomong.

Damdeok kemudian menoleh pada Pendeta Tingg dan bertanya apakah pertemuan ini untuk mencari tahu siapa pembunuh Raja sebenarnya. Pendeta Tinggi mengiyakan.

DAmdeok bertanya apakah saat itu ada orang lain saat Raja terbunuh di Taeshil? Pendeta tinggi menjawab kalau seorang pengawal wanita yang menyaksikannya pergi ke Shindang dan memberitahu dirinya mengenai kejadian itu, tapi sayangnya si saksi itu dibunuh tak berapa lam setelah itu. (Kemungkinan besar ini hasil pekerjaan Hwacheon)

Selama percakapan antara Pendeta tinggi dan Damdeok, Ki-ha menjadi sangat cemas dan gelisah. Ia terus menatap pada Damdeok .. Ia tak punya kesempatan untuk memberitahu secara pribadi pada Damdeok apa yang sebenarnya terjadi di dalam Taeshil, meskipun tak yakin apakah Damdeok akan percaya atau tidak, tapi paling tidak Ki-ha menyatakan ketidakbersalahannya. Namun Damdeok sama sekali tak mau melihatnya dan bertanya mengenai kejadian di dalam Taeshil secara terbuka, itu dapat berarti bahwa Damdeok sungguh percaya kalau Ki-ha lah yang telah membunuh ayahnya, Raja Gogookyang.

Damdeok bertanya apakah pengawal itu telah mengungkapkan siapa di dalam Taeshil waktu itu? Pendeta Tinggi mengiyakan, dan orang itu adalah wanita yang mengaku kalau dirinya adalah Joojak. Pada saat itulah, banyak orang bergumam dan berkasak-kusuk. Yeon Garyeo tampak tidak puas, tampaknya ia tak ingin banyak orang tahu kalau Ki-ha adalah Joojak.

Damdeok, dengan suara penuh penderitaan, bertanya, “Dapatkah kau bertanya pada wanita itu … mengapa ia membunuh ayahku?”

Selama itu, Ki-ha terus menatap Damdeok, berharap ia menatapnya tapi Damdeok sama sekali tak menghiraukannya.

Pendeta Tinggi menjawab dikarenakan ia mengaku kalau dirinya adalah Penjaga Joojak, yang mana adalah salah satu Dewa penjaga Jyooshin, yang dikirim oleh Langti, maka dirinya sebagai Pendeta Tinggi Shindang, harus tunduk pada kehendak Langit. Karena itulah ia tak dapat bertanya satupun pertanyaan.

Ho-gae ingin melindungi Ki-ha mencoba untuk menghentikan tanya jawab ini dengan mengatakan kalau Damdeok berusaha untuk melimpahkan kesalahan itu pada seorang wanita yang lemah.

Damdeok, masih tak mau menatap Ki-ha, berteriak dan bertanya dengan marah, “Yang manakah dirimu? Seorang wanita lemah ataukah Penjaga Joojak? Yang manakah dirimu?”

Ki-ha perlahan-lahan memutar tubuhnya dan menghadap pada Damdeok langsung, mengatakan kalau dirinya akan menjawab Damdeok jika Damdeok bertanya langsung padanya … ah … ia hanya ingin agar Damdeok mau menatapnya dan bertanya secara berdua saja sehingga Ki-ha dapat menjelaskan semuanya daripada mendengarkan semua kisah di luaran. Tapi Damdeok masih tak bersedia menatapnya sama sekali.

Pada saat itulah Ho-gae menyela dan mengatakan bahwa dirinya dan semua kepala suku ingin agar Pendeta Tinggi menggunakan Pedang Gaori dan menghakimi Pangeran Mahkota atas kejahatannya. Ini akan menentukan apakah ia bersalah atau tidak. Pendeta Tinggi, berusaha melindungi Damdeok, mengatakan kalau tak ada perlunya untuk melakukan itu saat ini. Tapi Ho-gae bersikeras untuk melakukannya dan menghadap pada Damdeok, bertanya apakah ia berkeberatan untuk diuji? Damdeok tetap diam dan wajahnya sama sekali tak menunjukkan perasaannya.

Yeon Garyeo tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mengatakan kalau Empat dari Lima Kepala Suku telah meminta Damdeok untuk diuji, dan Pendeta Tinggi harus melakukannya sebagai wakil dari Langit. Lalu Yeon Garyeo mengatakan kalau dirinya, Yeon Garyeo sebagai Kepala Suku dari Suku Gu Ru, ingin agar pengujian dengan Pedang Gaori dilakukan. Semua orang setuju kalau itu satu-satunya cara. Ki-ha sangat cemas.

Pendeta Tinggi menyatakan bahwa Ujian Pedang Gaori dilaksanakan dengan menusuk orang yang tertuduh dengan sebuah pedang. Itu adalah penghakiman dari Langit … jika orang itu bersalah, ia akan mati tapi jika tidak bersalah maka ia tak akan mati. Tapi …

Ujian Pedang Gaori tidak bisa dilaksanakan oleh sembarang orang … hanya Raja dari kerajaan Goguryeo atau seorang yang mewarisi darah keturunan Langit yang boleh.

Ho-gae mengatakan kalau ia akan melakukannya. Ia memiliki darah keturunan langit (ia mempercayai kalau dirinya adalah Raja Jyooshin) dan apakah tidak masalah jika ia melakukan pengujian dengan Pedang Joomong? Lalu satu persatu (dimulai oleh anakbuah Yeon) meminta agar pengujian itu dilaksanakan.

Damdeok hanya menampilkan sedikit perasaan pada wajahnya.

Soojinee berteriak apakah mereka semua sudah gila? Tiada seorangpun yang dapat selamat jika ditusuk jantungnya dengan sebatang pedang! Soojinee ingin meninggalkan tempat itu, tapi Damdeok berbalik dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, menatap pada Soojinee dan Hyon-go. Keduanya segera tahu bahwa dari pandangan matanya, ia akan menerima Ujian itu. Soojinee sangat sedih … sangat sangat sedih … karena ia pikir kalau Damdeok akan mati. Damdeok kemudian memberikan Pedang Joomong pada Ho-gae dan berjalan menuju ke arah Pendeta Tinggi.

Damdeok tidak menoleh sedikitpun pada Ki Ha, bahkan saat Ki-ha ingin meraih tangannya saat ia lewat … Damdeok tak mau bersentuhan dengannya. Ki-ha sangat sedih, sikap Damdeok padanya ini membuat hatinya sangat sakit, lebih sakit daripada jika ia dituduh secara langsung.

Damdeok mengatakan, “Ada orang-orang yang berpikir kalau aku adalah Raja Jyooshin!” Pendeta Tinggi mengatakan kalau dirinya adalah salah satu dari orang-orang itu, tapi Damdeok menggelengkan kepalanya dan menyahut,, “Aku sendiri juga tidak tahu. Aku juga ingin bertanya pada Langit!” Hati Damdeok dalam kebimbangan dan ingin mencari tahu siapa dirinya sebenarnya? Apakah ia memang Raja Jyooshin? Ataukan ia hanya orang biasa yang hanya menjadi korban dari politik?

Pendeta Tinggi mendekatinya dan mengatakan kalau Damdeok kemari untuk mati. Mungkin saja memang demikian, Damdeok memang datang ke sana untuk mati dan berharap kalau bisa ia mati saja. Jika ia bukannya Raja Jyooshin dan ternyata Ho-gae lah orangnya, maka ia tak bisa melakukan balas dendam pada Ho-gae. Jika itu yang terjadi, maka lebih baik ia mati saja, daripada hidup dalam kesengsaraan dan penderitaa karena mengetahui bahwa wanita yang ia cintai telah membunuh ayahnya demi Ho-gae.

Damdeok kemudian mengatakan pada Pendeta Tinggi sama persis apa yang ia katakan sebelumnya pada Hyon-go: Tidakkah Pendeta Tinggi mempercayai dirinya? Damdeok mengatakan bahwa jika Jyooshin adalah Kerajaan Langit, maka Raja dari kerajaan itu tidak akan mati.

Damdeok membalikkan tubuhnya dan mengawasi semua orang, mengatakan, “Aku, Damdeok, akan menerima Pedang Gaori!”

Dan ia kemudian dengan sentuhan ringan mengusap peti mati ayahnya … Sentuhan yang mana menyimbolkan penyesalan, penderitaan, dan juga cintanya…

Pendeta Tinggi dan semua anggota Shindang memulai menggemakan mantra mereka … bahwa orang yang akan menerima Pedang Gaori akan dihakimi oleh Langit dan Langit berbicara melalui Pedang Gaori.

Ki-ha mulai menangis sekarang …

Damdeok kemudian menghadapi semua orang, menutup matanya dan merentangkan tangannya untuk menerima pedang.

Sojinee tampak gelisah dan cemas bukan main …

Dae Jangro hanya duduk, ingin menyaksikan apa yang akan terjadi … tak terlalu terganggu dengan semua ini …

Yan Garyeo diam-diam tampan sangat puas dan senang karena semuanya berjalan sesuai dengan rencananya.

Ho-gae tampak penuh dengan kebencian dan amarah.

Dan Ki-ha … ia telah berhenti menangis … dan tampak pandangannya seperti pasrah … seperti telah mengambil satu keputusan …

Ho-gae sambil membawa Pedang Joomong d tangannya, melewati Ki-ha, dan tampaknya benar-benar ingin membunuh Damdeok. Tiba-tiba, Ki-ha merebut pedang dari Ho-gae dan menusukkannya ke jantung Damdeok. Semua orang tampak sangat terkejut termasuk Ho-gae sendiri.

Saat Damdeok memandang pada wajah wanita yang ia cintai, yang ia percaya telah membunuh ayahnya dan sekarang menusuknya juga … seperti paku terakhir dipakukan ke peti mati, melenyapkan semua jejak kepercayaan yang ia pernah miliki pada Ki-ha, bertahun-tahun lamanya mereka telah berbagi bersama. Damdeok tampak hampir tak menunjukkan perasaan, seperti orang yang akhirnya pasrah menghadapi hukuman mati. Ki-ha dengan air mata menggenang, percaya kalau ia harus melakukan apa yang memang harus ia lakukan … bersedia dengan sepenuh hati mengiringi kepergiannya, karena pria ini adalah pria yang ia cintai dengan sepenuh hatinya, menginginkan agar pria yang ia cintai mempercayai dirinya. Ki-ha memandang pada Damdeok dengan penuh perasaan cinta yang ia miliki di hatinya bagi Damdeok.

Damdeok: Apakah kau juga melakukan ini pada ayahku?

Ki-ha: Aku mempercayaimu. Aku dulu berpikir kalau kau akan terus mempercayaiku sampai kau mati.

Damdeok: Apakah ayahku juga mati seperti ini, karena ia telah mempercayaimu?

Ki-ha: Aku tak akan membiarkan kau pergi sendirian. Aku akan pergi bersamamu!

Tak peduli apapun yang dikatakan orang ataupun Damdeok pikirkan, Ki-ha berharap dengan ia sendiri yang melakukan ini ia bisa menyelamatkan Damdeok. Karena Ki-ha yakin jika Ho-gae yang melakukannya, ia pasti akan melakukannya dengan tusukan yang fatal di jantung Damdeok. Ki-ha berharap agar Damdeok bisa selamat dari tusukannya ini … tampak saat ia merasa ragu-ragu sejenak sebelum ia menarik keluar pedang Joomong dari dada Damdeok. Tapi ketika Ki-ha melihat Damdeok terjatuh tak sadarkan diri, dan ia pikir kalau Damdeok akan mati, Ki-ha menangis keras, menarik pedangnya dan tampak akan membunuh dirinya sendiri, bermaksud untuk mengikuti Damdeok dalam kematiannya …

Saat Damdeok terjatuh … orang pertama yang segera berlari menghampirinya adalah Soojinee, yang nantinya akan selalu seperti itu di masa datang, ia akan selalu menjadi orang pertama yang ada bagi Damdeok. Dae Jangro tampak sedikit kecewa karena Damdeok mati … Bahkan Ho-gae sendiri juga tampak sangat terkejut … seperti tak mengharapkan kalau Damdeok akan benar-benar mati. Para kepala suku yang lain kelihatannya juga sedikit ada perasaan menyesal … Satu-satunya orang yang benar-benar puas dan gembira dengan hasil ini adalah Yeon Garyeo.

Tapi tepat pada saat Ki-ha bermaksud menusukkan pedang itu pada dirinya sendiri, sebuah sinar keluar dari pedang Joomong itu dan membutakan mata semua orang dan kemudian … pedang itu seperti menyusut menjadi sebuah belati, jatuh dari dada Damdeok, yang tampak seperti ia tak pernah ditusuk. Keajaiban memang benar-benar ada … Damdeok masih hidup!

Semua orang … ya … semua orang … tampak sangat sangat sangat terkejut melihat ini. Lalu perlahan-lahan, Damdeok membuka matanya, pelan-pelan bangun … dan menatap pada semua orang.

Kini Damdeok menampakkan sedikit perasaan senang dan lega di wajahnya yang sebelum ini tanpa emosi. Senang karena ia tidak mati dan lega karena ia tahu bahwa ia memiliki peranan dan tanggungjawab yang dibebankan padanya sebagai Raja Jyooshin. Kebimbangan di hatinya sudah lenyap. Langit telah membuktikan siapa Raja Jyooshin yang sebenarnya.

Pendeta Tinggi tampak sangat gembira dan segera berseru, “Langit telah memberikan jawabannya! Pangeran Mahkota Goguryeo, Damdeok dinyatakan tidak bersalah! Langit telah berbicara melalui Pedang Gaori yang suci!”

Semua orang tidak bisa membantah lagi.

Pengumuman segera dipasang oleh Shindang di segala penjuru kota:

Dua ribu tahun yang lalu, Kerajaan Jyoohsin telah didirikan. Dari ke-4 Simbol Jyooshin, Hyunmoo dan Joojak telah bangkit tapi mereka telah mengakui orang yang berbeda sebagai Raja Jyooshin. Orang yang dapat menemukan 2 Simbol yang tersisa: Chung Ryong dan Baekho akan diakui sebagai Raja Jyooshin sekaligus Raja Goguryeo. Sampai saat itu tiba, Pangeran Mahkota, Damdeok akan memerintah sebagai Raja Goguryeo. Ini adalah kehendak dari Langit! Rakyat Goguryeo bersukacitalah!

Jenderal Kho dalam perjalanan ke Gooknaeseong menghadang salah satu pembawa pesan dan mendengar berita itu.

Damdok memasuki halaman Istana, masih diikuti oleh Soojinee, yang tampaknya sangat lengket seperti lem, dan berdiri di hadapan tahta, mengingat kembali apa yang dikatakan oleh pamannya, Raja Sosurim. Raja Sosurim telah mengatakan padanya bahwa dirinya dan ayah Damdeok telah mempertaruhkan segalanya ke atas Damdeok dan ia harus menjadi Raja Jyooshin dan menyatukan wilayah Jyooshin kembali. ia memberitahu Damdeok bahwa ia harus menemukan ke-4 Simbol Dewa dari Jyooshin dan juga para pelindung Simbol itu, yang nantinya akan melindungi dan membukakan jalan bagi Damdeok. Raja memintanya berjanji dan Damdeok, yang belum mengerti sepenuhnya, mengiyakan permintaan pamannya itu. Kembali ke masa kini, Damdeok mengawasi lama kursi tahta itu.

Damdeok mengatakan pada Soojinee bahwa sejak permulaan ia telah diminta untuk menjadi Raja Jyooshin bukannya Raja Goguryeo. Soojinee menjawab kalau Damdeok harus menjadi Raja Goguryeo dulu sebelum menjadi Raja Jyooshin. Damdeok, yang tak pernah berpikiran ataupun berharap untuk menjadi seorang Raja, bertanya-tanya seperti apa sih menjadi seorang Raja itu? Soojinee kemudian menyahut, kalau saja dirinya yang menjadi Raja maka itu sangat bagus karena tiada seorangpun, tidak juga gurunya dapat mempermainkan dan memerintahnya ini itu. Ini membuat Damdeok tersenyum geli. Soojinee lah yang memang selalu dapat membuatnya tersenyum dalam keadaan apapun.

Damdeok kemudian menginta apa yang dikatakan ayahnya pada malam setelah penobatannya. Ayahnya telah memberitahu Damdeok bahwa karena Damdeok masih muda dan dirinya belum dapat melindunginya, untuk tidak menonjolkan dirinya, biarkan orang-orang menyangka dirinya seorang yang bodoh sehingga mengabaikannya. Pada saat itu satu-satunya teman yang ia miliki dan percayai sepenuhnya hanyalah Ki-ha seorang.

Damdeok perlahan-lahan mengusap kursi takhta, mengingat dan berpikir kembali semuanya yang telah terjadi dan yang dikatakan oleh ayah dan pamannya. Damdeok kemudian menyadari kelemahan hatinya dan membuat keputusan apa yang harus ia lakukan. Damdeok meminta roh ayahnya agar melindunginya saat ia menjadi seorang Raja.

Dengan perasaan lega dan penuh tujuan, Damdeok keluar ke halaman dan menemukan Hyon-go sedang menunggunya di sana. Damdeok bertanya padanya, apakah ia telah menunggu sang Raja sejak lama? … Dan Hyon-go mengiyakan, mereka (Desa Geo-mool) telah menunggu kedatangannya ribuan tahun. Damdeok kemudian meminta agar Hyon-go mengajarinya bagaimana menjadi seorang Raja yang baik. Heheheh … niatnya sama dengan Seodong, yang meminta Mokrasu agar mengajarinya menjadi seorang Raja yang baik.

Niat Damdeok membuat hati Hyon-go sangat puas dan senang … karena Damdeok bukan berniat hanya menjadi sekedar seorang Raja, melainkan seorang Raja yang baik. Tampaknya Damdeok juga menyadari kekurangannya sehingga ia ingin belajar menjadi seorang Raja yang baik.

Si pria pendek sedang memberitahu Ba Son bahwa Damdeok selamat dalam pengujian dan kemudian pedang Joomong telah menghilang. Ba Son, yang tergila-gila pada senjata, sangat terkejut dan bertanya, “Pedang Joomong?” Ia sangat sedih karena tak ada lagi pedang seperti Pedang Joomong di dunia ini tapi sekarang menghilang begitu saja padahal ia ingin sekali untuk melihatnya sekali saja. Jadi dalam pemikiran Ba Son bobot pedang itu ternyata lebih berat daripada keselamatan Raja )Damdeok) … ahahaha …

Di dalam kediaman keluarga Yeon, Yeon Garyeo dan ketiga kepala suku dan juga Cheok-hwan melakukan pertemuan. Yeon Garyeo mengatakan pada mereka kalau Damdeok pasti mengadakan tipuan dengan menggunakan pedang Joomong palsu. Mereka juga heran mengapa Joojak (Ki-ha) menginginkan kematian Damdok.

Ki-ha terus memikirkan saat di mana ia menusuk jantung Damdoek dengan pedang Joomong. Ia saat itu seperti dalam keadaan tak sadar atas sekelilingnya tapi menderita, menangis, dan terluka. Dae Jangro mengatakan sekarang dirinya mengerti mengapa Ki-ha mencintai Damdeok. Dahulu kala, Ka-jin, shaman mereka juga telah memberikan hatinya pada Hwan Woong dan kehilangan segalanya.

Kilas balik, di gua, Ka-jin yang terluka disembuhkan oleh Hwan Woong, dan sejak saat itu Ka-jin jatuh cinta padanya.

Dae Jangro kemudian mencoba menggunakan kekuatannya untuk menghapus ingatan Ki-ha tentang Damdeok, aehingga Ki-ha tak harus menderita ketika mengingatnya. Tapi saat Dae Jangro menggunakan kekuatannya, kenangan kehidupan yang lalu dari Ki-ha, yakni kehidupan Ka-jin terus silih berganti muncul dalam pikiran Ki-ha, dan ada penolakan yang sangat kuat, menolak balik kekuatan Dae Jangro. Ki-ha tak sadarkan diri, dan Sa Ryang segera memapah tubuhnya, bertanya pada Dae Jangro apa yang terjadi pada Ki-ha. Dae Jangro menyahut kalau ada sesuatu di dalam tubuh Ki-ha yang menolak kekuatannya. Ki-ha tampaknya hamil.

Dalhee ingin Joomochi untuk mengajarinya bagaimana bertarung karena bukankah Joomochi adalah petarung terhebat di Goguryeo? Ia bersedia mempelajari semua dengan cepat dan sebagai gantinya ia akan memasakkan bagi Joomochi tiap hari. Dalhee terus memohon pada Joomochi tapi ditolak. Tiba-tiba anakbuah Joomochi muncul dan memberitahu kalau ada pelanggan.

Sekelompok orang mendatangi Joomochi untuk meminta bantuannya dan masuk di pihak Ho-gae, mereka bukanlah pendukung Damdeok. Mereka menawari sejumlah uang yang cukup besar. Jomoochi sama sekali tidak mengatakan apapun, tapi ia mengayunkan kapaknya dan mempermainkannya di bahunya … orang-orang itu cukup mengerti artinya, tidak!

Si pria pendek dari Geo-mool melihat semua ini dan kemudian ia juga melihat banyak orang yang mendaftar untuk bergabung dengan pasukan keluarga Yeon.

Hyon-go memberitahu bahwa semua orang masih percaya kalau Ho-gae lah Jyooshin Wang dan beredar kabar bahwa Damdeok telah menipu semua orang di pertemuan Shindang.

Damdeok mengatakan, jika dirinya ingin menjadi Raja Jyooshin yang baik, ia harus lebih dahulu tahu bagaimana menjadi Raja Goguryeo yang baik terlebih dahulu. Jadi ia harus memulai mempersiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya sekarang seperti sedang mempersiapkan kerajaan Jyooshin di masa yang akan datang … Para penduduk Geo-mool mulai membawakan buku-buku dan barang-barang tertentu ke Istana untuk dipelajari oleh Damdeok. Dan para tetua desa mengajari Damdeok mengenai peta politik di negara-negara tetangga mereka.

Pada saat ini, Jinsunwang, Raja Baekjae, yang telah merebut tahta dari keponakannya, Ashin, sedang kehilangan kekuasaannya. Bagian barat Baekjae berusaha menjadikan Ashin raja Baekjae.

Si pria pendek datang dan memberitahu semua orang bahwa lebih dari 10 ribu orang telah bergabung dengan keluarga Yeon. Ia sangat cemas karena melihat Damdeok tampak tenang-tenang saja tidak melakukan apapun, bahkan lebih tertarik dengan buku-buku dan catatan-catatan.

Gam Dong (dari desa Geo-mool sekaligus seorang pejabat di Istana) melaporkan mengenai status politik dari pasukan kerajaan. Kelihatannya Pengawal Kerajaan memutuskan untuk tidak ikut ambil bagian sampai Jenderal Kho kembali. Gam Dong juga mengatakan kalau ia tidak yakin mengenai Pasukan Gaema, tapi kelihatannya mereka akan bergabung dengan Keluarga Yeon, karena Cheok-hwan, Pemimpin Pasukan Gaema, adalah anggota Suku Gu Ru, yang mana pemimpinnya adalah Yeon Garyeo. Lalu mereka semua bertanya-tanya mengenai keberadaan pemimpin mereka, Hyon-go.

Hyon-go tampak sedang memeriksa belati, yang aslinya pedang Joomong, dan membuka catantan kuno untuk mencari tahu. Ia menamukan kalau belati itu sesuai dengan gambar belati yang disebut dengan “Busur Langit”. Busur yang sama yang telah digunakan oleh Hwan Woong beribu-ribu tahun lalu untuk membunuh Sae-oh, demi meredam kemarahan Joojak Hitam.

Gam Dong mengumumkan dengan rasa girang bahwa Jenderal Kho telah kembali dan Damdeok tampak sangat senang.

Jenderal Kho memberikan penghormatan pada Damdeok, mengakui Damdeok sebagai Rajanya dan mengatakan kalau dirinya sangat senang melihat Damdeok aman dan sehat walafiat. Saat Jenderal Kho akan berlutut, Damdeok justru memeluknya dan mengatakan kalau ia telah menunggu kedatangan Jenderal Kho sedemikian lamanya … (Jenderal Kho selama ini berdiam di Suku Chor No).

Jenderal Kho kemudian mengatakan kalau ada orang lain yang datang bersama-sama dengan dirinya. Lalu muncullah Huk-gae, Kepala Suku Chor No, memperkenalkan dirinya sendiri dan memberikan penghormatan pada Damdeok. Tapi Damdeok … tidak menggunakan kedudukannya sebagai Raja, sebaliknya ia memperkenalkan namanya sendiri, Damdeok, orang yang telah menyebabkan kematian anaknya, Sou Duru. Damdeok sungguh-sungguh merasa bersalah karenanya. Huk-gae mengatakan kalau ia sangat bangga pada anknya ketika ia mendengar anaknya mati karena berusaha  menyelamatkan nyawa Yang Mulia Raja. Sekarang Damdeok adalah Raja Goguryeo tapi hanya sementara, ia juga mendengar kalau Damdeok tengah bersaing dengan Yeon Ho-gae untuk menjadi Raja Jyooshin. Damdeok mengiyakan tapi kemudian Hukgae menjadi gelisah dan bertanya, kalau begitu mengapa Damdeok sekarang justru ada di dalam kamar, membaca kertas bersama dengan si biksu bau, Hyon-go, padahal semua suku dan para prajurit, dan orang-orang lainnya bergabung dengan keluarga Yeon?

Damdeok kemudian dengan tenang menjawabnya bahwa sampai hari kemarin, keluarga Yeon telah memiliki sekitar 19.000 prajurit sedangkan dirinya memiliki kira-kira kurang dari 8000, itu sudah termasuk Pasukan Pengawal Kerajaan, Pasukan Gaema, dan Pasukan  Kerajaan.

Pada titik ini Huk-gae bertanya apakah Damdeok sudah memikirkan untuk menjadi seorang Raja Jyooshin? Damdeok bisa menyebutkan situasi militer yang ada, artinya ia tidak hanya duduk diam saja di dalam Istana dan memainkan jari-jarinya tanpa melakukan apapun. Pada kenyataannya Damdeok terlihat sangat tenang dan tidak panik sedikitpun menunjukkan bahwa ia benar-benar serius berpikir untuk menantang kekuasaan keluarga Yeon, khususnya Ho-gae.

Damdeok mengatakan dengan penuh keputusan bahwa ia … satu-satunya cara untuk membalas atas kematian anak Huk-gae dan para prajurit yang mati, termasuk ayahnya, harus menjadi Raja Jyooshin.

Mendengar perkataan Damdeok ini, Dal gu, anak ke-2 dari Huk-gae, mulai menangis dan Damdeok melihatnya. Ia menghampiri Dal-gu dan menaruh tangannya di pundak, bertanya apakah Dal-gu baik-baik saja. Damdeok ingin meminta maaf karena menyebabkan kematian kakaknya, tapi Dal-gu berkata, “Kau tidak usah mengatakan apapun mengenai Jakeundol (si anak termuda dari Suku Chor No) dan Sou Duru telah mengetahui resikonya … karena itu kau tak usah mengatakan apapun.” Mereka dari Suku Chor No benar-benar setia pada sang Raja.

Keluarga Yeon menaruh pengumuman akan mengadakan sebuah turnamen di kediamam mereka pada hari ketiga bulan itu di siang hari. Semua orang, entah itu bangsawan atau rakyat biasa boleh ikut untuk berpartisipasi. 7 pemenang akan dipilih untuk menjadi pemimpin pasukan Ho-gae.

Si pria pendek dari Geo-mool mencoba untuk membaca pengumuman itu tapi tak mampu, lalu Soojinee membacakan untuknya. Soojine kemudian mengejek Ho-gae dan didengar oleh salah seorang penjaga yang ingin memukulnya, tapi si pria pendek segera menarik Soojinee pergi.

Ketika mereka berdua sedang berjalan-jalan, mereka melihat seorang pria keluar dari kediaman keluarga Yeon dengan membawa sekeranjang botol anggur. Si pria pendek berpura-pura menyenggolnya sementara Soojine dengan keahliannya mencuri sebotol anggur. Tepat saat mereka hendak meminum anggur itu, mereka melihat Dae Jangro dan Sa Ryang sampai di kediaman Yeon, membopong Ki-ha yang tampaknya tak sadarkan diri.

Yeon Garyeo memberitahu Dae Jangro bahwa Suku Chor No dan Jenderal Kho telah kembali ke Istana dan para penduduk Desa Geo-mool tampaknya ada di pihak Damdeok. Dae Jangro memotong perkataannya dan bertanya apakah ia sudah melihat kondisi Ki-ha? Dae Jangro memberitahu bahwa Ki-ha sudah dalam kondisi tak sadarkan diri selama beberapa hari dan ia ingin mengetahui apakah Ho-gae dapat membangunkannya.

Sementara itu, Ki-ha sendiri terus memimpikan masa lalunya sebagai Ka-jin … dan pada saat yang bersamaan hawa panas menyerang di ruangan tempat Ki-ha berada … lilin meleleh padahal tidak dinyalakan.

Soojinee dan si pria pendek sedang minum-minum anggur curian mereka dan kemudian Sojinee tiba-tiba menjadi mimisan … entah kenapa, tapi kelihatannya ada hubungannya dengan Ki-ha yang mengingat kehiduupan masa lalunya.

Di dalam kediaman Yeon, Ho-gae sedang mondar-mandir, ragu-ragu sejenak tapi kemudian mengambil keputusan dan berjalan ke arah kamar Ki-ha. Sementara itu, si pria pendek dan Soojinee menyusup masuk ke dalam kediaman keluarga Yeon.

Ho-gae masuk ke kamar Ki-ha dan melihat bunga anggrek yang terjatuh, teko teh yang mendidih dan lilin yang meleleh walaupun tak dinyalakan. Kamar itu sangat panas. Ki-ha sedang bermimpi buruk dan berkeringat dengan deras. Ho-gae mengambil sapu tangannya dan dengan lembut menyapu keringat Ki-ha. Kemudian Ho-gae membuka baju luar dan duduk di sebelah Ki-ha untuk merawatnya.

Ki-ha terus bermimpi mengenai kehidupannya yang dulu, sebagai Ka-jin, dan menangis pada bagian di mana Hwan Woong mengambil kekuatan apinya. Lalu saat Sae-oh menjadi Joojak Hitam, dan akhirnya, ketika ia terjatuh dari tebing. Ki-ha menangis dengan penuh kedukaan. Ho-gae yang melihatnya dalam keadaan seperti itu, memeluknya dengan erat … bermaksud melakukan penghiburan. Tapi Sojinee yang berada di luar kamar, mengintip mereka yang berpelukan (tak tahu apa sebenarnya yang terjadi) sangatlah terkejut.

Seorang dari pihak Ho-gae datang mencari Ba Son agar ia mau bekerja bagi pihak mereka (Dalhee segera bersembunyi melihatnya), Pria itu mengatakan bahwa Yeon memiliki kira-kira 20 ribu orang dan mungkin saja tembus 30 ribu pada keesokan harinya. Ba Son menolak ajakannya dan menyuruhnya kembali saja. Tapi pria itu mengatakan kalau senjata Ba Son adalah senjata yang sangat spesial di dalam Gooknaseong dan bertanya berapa banyak uang yang ia inginkan. Ba-Son sangat marah dan tidak ingin bekerja bagi keluarga Yeon, ia mengusir mereka semua pergi dari tempatnya, tapi kemudian Jenderal Kho yang kelihatan berwibawa datang membuat Ba Son mengaguminya dan sedikit takut. Ba Son memanggil seseorang untuk keluar dan melayani Jenderal Kho.

Hyon-go kemudian memanggil Ba Son dan Damdeok lantas muncul, tersenyum pada Ba-Son. Hyon-go mengatakan pada Ba Son bahwa inilah orangnya, dan Ba Son, tidak paham, bertnaya, “Siapa?”

Jenderal Kho mengumumkan bahwa Ba Son sedang berdiri di hadapan Raja, Ba Son sangat terkejut dan gugup sehingga ia jatuh berlutuh dan dengan kepalanya menunduk.

Damdeok membangunkannya, tersenyun dan dengan penuh keramahan mengatakan kalau Ba Son adalah pandai besi terbaik yang ada di Gooknaeseong. Ia mengatakan, “Ooi! Maukah kau berdiri? Akulah yang ingin meminta bantuan dari dirimu.” Jarang-jarang seorang anggota kerajaan memanggil yang lain dengan “Ooi” karena itu sangatlah tidak resmi, mungkin ini hasil dari dirinya yang bergaul dengan rakyat jelata semasa ia masih muda.

Damdeok mengatakan kalau sebentar lagi perang pasti pecah, dan ia ingin agar Ba Son membantu pihaknya sehingga orang-orangnya hanya akan sedikit terluka. Ia mendengar dari Hyon-go kalau Ba Son bisa memenuhi harapannya itu. Ba Soh, masih gemetar, bertanya,” Jadi maksudmu kau tidak menginginkan senjata yang lebih baik untuk membunuh orang, tapi justru baju pelindung yang lebih baik untuk melindungi prajuritmu sehingga tak terluka?”

Damdeok tahu kalau perang tak mungkin bisa dihindarkan, dan sekarang ia tahu kalau ia memiliki kehendak Langit sebagai Raja Jyooshin, dan paham kalau dirinya memiliki jumlah pasukan yang lebih sedikit daripada Ho-gae, ia juga tidak ingin mereka yang bersedia mempertaruhkan nyawa dan bertempur demi dirinya untuk terluka dengan mudah.

damdeok: Bisakah kau membantuku?

Ba Son membawa mereka untuk melihat-lihat koleksi baju pelindung nya selama ini. Ia mengatakan kalau ia memulai mengumpulkan satu persatu dari baju pelindung itu sejak lama.

Baju pelindung yang pertama terbuat dari kulit. Bagus untuk para pemanah karena mereka bisa dengan mudah menggerakkan lengan mereka, tapi sayangnya anak panah mudah menembusnya.

Baju pelindung yang kedua terbuat dari besi. Panah tak bisa menembusnya tapi para prajrurit tak bisa naik ke atas kuda mereka sendirian.

Yang ketiga biasa digunakan di daerah barat dan bahkan leibh kuat daripada yang kedua, dan juga pelindung kepalanya melindungi seluruh wajah. Tapi kelemahannya, prajurit memerlukan dua orang untuk membantu mereka naik kuda dan mereka tak bisa menggunakan pedang, hanya tombak dan menyerang lurus saja. Jika mereka jatuh, mereka tak bisa berdiri dengan baik.

Lali Damdeok melihat pada baju pelindung yang terakhir dan bertanya apakah itu terbuat dari baja karena karena koq ringan. ba Son terlihat sedikit malu dan mengatakan kalau baju itu ia yang membuatnya.

Ba Son kemudian memakai baju pelindung itu lalu berjalan dan berputar (kayak peragawati aja .. hehehe …), mengatakan kalau baju pelindung itu dibuat olehnya dan 100 kali lebih baik dalam menghentikan anak panah. Beratnya lebih ringan daripada yang digunakan oleh Pasukan Gaema dan lebih mudah bergerak menggunakannya.

Ba Son dengan penuh semangat ingin memperlihatkan pada mereka betapa baju pelindungnya sangat bagus dan mendesak mereka untuk memanahnya. Damdeok sedikit ragu-ragu … karena bagaimana jika ia terluka? Tapi Hyon-go membujuknya untuk melakukan sekali saja. Jadi Damdeok memberikan tanda pada Jenderal Kho yang segera memanah Ba Son.

Ba Son terjatuh, semua orang sangat cemas dan Damdeok lah menjadi orang pertama menghampirinya. Tapi kemudian mereka sangat kagum saat menyadari kalau panah itu tidak menembus baju pelindungnya dan Ba Son sama sekali tak terluka. Damdeok sangat senang dan puas. Ba Son sendiri tampak terkejut … hehehe … Damdeok kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Ba Son berdiri. Sungguh lucu, Ba Son melihat pada tangannya sendiri yang dipegang sebelumnya oleh Damdeok dan merasakan kesulitan bernapas … hahahaha …..

Ho-gae berada di dalam kamar Ki-ha lagi. Kali ini, kamar itu tak terasa panas dan Ki-ha tidak bermimpi buruk tapi masih saja tidur. Ho-gae berbicara padanya, kapankah ia akan bangun lagi? Ho-gae mengatakan betapa senang dirinya melihat Ki-ha sadarkan diri nantinya. Ia ingin agar Ki-ha membuka matanya dan memandangnya dengan mata itu. Ia sedang mempersiapkan diri agar bisa menjadi Raja bagi Ki-ha (yang mejadi Joojak) dan ingin mereka berdua melakukannya bersama-sama. Sungguh luar biasa jika Ki-ha bisa berada di sampingnya dan mengawasi dirinya. Maka ia akan melakukan semuanya dengan baik. Selesai mengucapkan semua itu, Ho-gae mencium Ki-ha dengan sangat lembut.

Ki-ha bermimpi mengenai malam di mana ia menghabiskannya berdua dengan Damdeok … lalu saat ia menusuk jantung Damdeok … dan tiba-tiba Ki-ha terbangun. Ia mencengkeram perutnya dan mulai menangis sedih. Dan kemudian … tiba-tiba .. uh oh … Ki-ha mulai merasakan mual-mual hebat. Sa Ryang masuk ke kamar dengan membawakan minuman untuk Ki-ha tapi melihat keadaanya seperti itu, ia segera pergi.

Joomochi dan orang-orangnya kembali ke tempat Ba Son. Mereka melihat para prajurit dan tidak begitu senang. Hyon go kemudian memberitahu Damdeok mengenai kelompok Joomochi dan mengatakan kalau Joomochi adalah orang yang terkuat di Goguryeo, tapi tak banyak orang tahu mengenai kekuatan mereka sesungguhnya dan mereka juga bisa berkuda dengan cepat.

Damdeok bertanya apakah ia, Joomochi? Damdeok mengatakan kalau dirinya baru saja menjadi Raja Goguryeo beberapa hari yang lalu … Joomochi tak nampak terkesan dan wajahnya tanpa ekspresi. Jenderal Kho tidak menyukai perilakunya dan ingin agar ia memberikan penghormatan yang selayaknya pada Raja. Tapi Damdeok mengatakan kalau Joomochi adalah Kepala Suku Malgal dan tidak perlu memberikan penghormatan padanya. Suku Malgal (yakni rakyat Desa Heuksoo Malgal, pelindung Simbol Baekho) bukanlah suku asli Goguryeo. Joomochi kagum karena Damdeok mengetahui asalnya, dan ia bersedia mengakuinya dengan sedikit menganggukkan kepalanya.

Joomochi mengulai 3 syaratnya:

1. Mereka tidak membunuh secara gelap.

2. Mereka tidak menyerang wanita, anak-anak, dan orang lanjut usia.

3. Mereka tidak bekerja bagi orang yang tidak mereka sukai.

Damdok: Bagaimana denganku?

Joomochi: Aku tidak menyukaimu!

Dalhee tampak kecewa mendengar jawaban Joomochi.

Kelihatannya Joomochi bukannya tidak menyukai Damdeok, tapi hanya berpikir kalau Damdeok adalah seorang yang lemah dan juga ia tak ingin terlibat dengan politik kerajaan Goguryeo. Lagipula ia juga menolak bekerja untuk keluarga Yeon.

Damdeok: (mendesah) … Ini tidak baik … Aku tak punya banyak waktu.  Haruskah aku menungu sampai kau menyukaiku? … hahahaha …

Jawaban ini segera membuat Joomochi terkejut dan terheran-heran, karena mungkin ia berharap Damdeok, entah menggunakan paksaan atau bujukan hadiah meminta bantuan padanya. Seballiknya, Damdeok beranjak pergi.

Seorang pembawa pesan tiba dengan berita bahwa para pimpinan pasukan meminta pada pertemuan Jegahweyi (제가회의) untuk menyetujui pergerakan pasukan Ho-gae. Karena tanpa persetujuan Jegahweyi maka pergerakan mereka akan dianggap sebagai upaya untuk melakukan pemberontakan. Jegahweyi merupakan pertemuan dari seluruh suku yang di bawah kekuasaan Goguryeo.

Damdeok mengatakan kalau ini belum waktunya dan tidak yakin bagaimana dengan respon dari negara lainnya. Tapi Damdeok sendiri juga menyadari kalau mereka tidak bisa mencegah diadakannya pertemuan Jegahweyi. Sekarang Damdeok baru tampak khawatir. Ia telah ditekan dari segala sisi, dengan hanya sedikit dukungan.

Dalhee mempersiapkan semacam hidangan dan memberikannya pada Joomochi. Ia kemudian menemui Joomochi dan berterimakasih padanya karena telah menjaganya selama ini. Dalhee memberitahunya kalau ia akan pergi mengikuti Raja. Dalhee merasa kalau Raja yang sekarang ini adalah seorang Raja yang pemberani dan akan membantunya, karena itulah ia datang menemui Joomochi untuk mengucapkan selamat tinggal.

hahahaha … ini benar-benar membuat Joomochi tertegun, yang setelah sedetik, pergi mengejarnya …. tampaklah kalau si Joomochi benar-benar sudah jatuh dalam perangkap cinta … ahahahah :P

Joomochi memanggil Damdeok keluar dan bertanya apakah ia seorang petarung yang baik? Damdeok bertanya apakah Joomochi mau bertarung dengannya? Joomochi menjawab kalau ia tak bisa melayani Damdeok sebagai seorang klien karena dirinya menyukai tampang Damdeok, tapi karena sukunya bukanlah di bawah Raja, maka ia tidak bisa bertarung untuknya sebagai seorang bawahan. Jadi jalan satu-satunya adalah, jika Damdeok menang atas dirinya dalam sebuah pertarungan, maka ia akan melayani Damdeok selama setahun. Tapi Damdeok mengatakan kalau dirinya tak punya kepercayaan diri karena ia mendengar Joomochi adalah seorang petarung yang andal.

Joomochi lalu menoleh pada Jenderal Kho dan bertanya apakah ia mau bertarung dengannya? Jenderal Kho kemudian bersiap untuk menerima tantangannya dan hanya menunggu persetujuan dari Damdeok. Tapi Damdeok tertawa dan berkata jika Jenderal Kho yang menang maka bukankah Joomochi nantinya hanya akan tunduk pada Jenderal Kho dan bukan dirinya, Damdeok. Joomochi,”Baiklah jika kau tak menginginkan bantuanku”

Damdeok mengatakan kalau ia akan menerima 30 pukulan dari Joomochi, dan jika dirinya tak mati, maka Joomochi harus mengakuinya. Tapi Joomochi meremehkan Damdeok dan mengatakan, ia pikir Damdeok tak akan bisa menerima pukulan sebanyak itu. Lalu Damdeok mengatakan, “10 pukulan?” dan Joomochi setuju … Lalu Joomochi menoleh pada Dalhee, yang terlihat sedikit senang sebelum kemudian melihat dengan malu-malu pada Joomochi …. hahahah kekuatan wanita … ahahah :P

About these ads

6 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 11

  1. yahhhh kecewa nech kok yg hamil anaknya damdeok malah si kiha sih!!! andai kisah cinta 2000 th yg lalu terulang lagi dan sujinilah yang mengandung anaknya damdeok,bukannya kiha. huh sebel sama sutradaranya nih ><

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s