The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 12

Joomochi bertarung dengan Damdeok dan menyetujui hanya akan melakukan 10 kali pukulan, karena ia percaya kalau Damdeok, yang kelihatannya seorang yang lemah, tak akan bisa menahan dua atau tiga pukulannya saja. Tapi tentu saja Damdeok membuktikan bahwa perkiraannya itu salah, meskipun sebenarnya secara fisik Joomochi memang lebih kuat.

Dalbee tampak sangat cemas, ia takut kalau Damdeok, Rajanya akan kalah dan akhirnya terluka.

Dan di tengah-tengah pertarungan, kapak Joomochi mematahkan pedang Damdeok menjadi dua, bahkan menancap pada meja. Patahan pedang itu terlempar ke udara dan jatuh tepat ke arah Joomochi. Damdeok segera mendorongnya pergi sehingga selamat dari bahaya.

Damdeok mengatakan kalau Joomochi sudah memukulnya 10 kali. Joomochi yang tahu kalau perkiraannya salah, memandang Damdeok dengan pandangan baru dan lebih baik daripada sebelumnya karena Damdeok juga telah menyelamatkannya. Ia mengulurkan tangannya dan membantu Damdeok untuk berdiri.

Joomochi mengatakan bahwa meskipun ia akan menerima Damdeok tapi kelompoknya sangat mahal dan meminta dahulu setengah bayaran mereka untuk digunakan membeli makanan. Ba Son menegurnya bahwa mereka makan terlalu banyak!

Damdeok kemudian mengatakan kalau ia akan mengembalikan wilayah Sheewoo pada Suku Malgal. Joomochi berpikir kalau Damdeok bercanda dan barkata apakah ia bermaksud menyewa kelompoknya dengan gratis? Ia bertanya apakah Damdeok benar-benar tidak memiliki uang? (yang mungkin benar). Damdeok kemudian mengatakan sekali lagi bahwa ia akan mendapatkan wilayah Suku Malgal kembali dan mengembalikannya pada Joomochi. Maka mereka pasti akan bisa hidup di sana dengan baik dengan seluruh Suku mereka.

Joomochi kali ini tahu bahwa Damdeok memang serius tapi ia masih tidak mempercayainya. Ia mengatakan bahwa semua Raja dan bangsawan selalu memanfaatkan rakyatnya untuk kemudian mereka singkirkan. Ia bertanya pada Damdeok … apakah Damdeok bermaksud memberikan tawaran ini sehingga bisa mendapatkan bantuan dirinya dan kelompoknya dengan gratis hanya dengan janji mengembalikan tanah mereka, lalu kemudian menyingkirkan mereka nantinya?

Damdeok bertanya apakah Joomochi adalah pria yang bisa dengan mudahnya disingkirkan?

Joomochi tampak tidak menyangka akan ditanya balik seperti itu, sekarang ia menjadi tertarik dan menunjukkan keseriusannya. Apa yang diinginkan oleh setiap Suku Malgal, lebih dari pada uang, adalah wilayah di mana mereka bisa hidup dalam damai dan membangun keluarga mereka.

Joomochi menatap langsung pada mata Damdeok dan mengatakan, “Jangan membuatku berlutut di hadapanmu, Yang Mulia”.

Damdeok balas menatapnya dan dengan tegas mengatakan, “Aku tak akan melakukannya.”

Joomochi kemudian mengatakan, “Jangan membuat diriku dan orang-orangku menjadi rakyat Goguryeo.”

Damdeok menjawab, “Dulu Baekjae, Malgal, Sunbi, dan Goguryeo adalah saudara sejak permulaan.”

Catatan: Suku Malgal atau Mohe, adalah suku barbar di luar Tiga Kerajaan Korea, termasuk salah satu nenek moyang bangsa Jurchen atau Mongolia.

Joomochi tampak merasa puas, ia memberi hormat kemudian pergi. Ini adalah permulaan di mana Joomochi menyatakan kesetiaannya pada Damdeok, dan tentu saja juga sebagai reinkarnasi Baekho nantinya … :D

Ho-gae sedang berjalan di dalam Istana, dipimpin oleh Dong gam. Ia berhenti sejenak, mengingat masa kanak-kanaknya … di mana ia mengajari Damdeok bagaimana caranya memegang tombak, dan memberitahu Damdeok mengenai perburuan. Ho-gae tampak menunjukkan sedikit senyum ketika ia mengingat masa-masa bahagia itu. Jika saja bukan karena keluarga mereka dan juga situasi yang terjadi di antara mereka berdua, keduanya mungkin saja bisa menjadi sahabat kental

Damdeok sedang duduk di tempat yang sama di Tempat Latihan Militer saat ia bertemu dengan Ho-gae dulu. Waktu itu, Damdeok merasa sangat senang bisa bertemu dengan Ho-gae. Memandang semua yang telah terjadi pada waktu itu, semua orang berharap kalau Ho-gae akan menghindar darinya, tapi Ho-gae bukanlah orang jahat, bukan juga berpikiran licik. Ia hanya memilih jalannya seperti ini karena orang-orang di belakangnya terus mendorongnya.

Ho-gae dan Damdeok bertemu, Ho-gae berkata kalau Damdeok seharusnya tidak bertemu dengannya tanpa satupun pengawal. Yang mana, Damdeok bertanya apakah Ho-gae berpikir untuk membunuhnya secara gelap? Ho-gae, tampak serius, menjawab bahwa ia memang sedang memikirkannya. Tapi Damdeok hanya tertawa dan menyuruh Ho-gae duduk di sebelahnya. Ho-gae tidak duduk di sebelahnya tapi di dekatnya.

Damdeok bertanya apakah target pertamanya adalah Baekjae? Ho-gae menjawab bahwa ia telah diberikan informasi kalau Simbol Chung Ryong [Woon Sa, si Naga Biru] dibawa ke Baekjae oleh pengikut dari So Seoh No, Ratu Joomong.

Catatan: Joomong adalah pendiri Kerajaan Goguryeo. Ia  memiliki dua istri, istri pertamanya, Ye Sohya,  melahirkan Pangeran Yuri, yang nantinya akan mewarisi Goguryeo, negara yang didirikan oleh Joomong, sedangkan istri keduanya, So Seo No, melahirkan dua anak, Pangeran Biryu dan Pangeran Onjo). So Seo-no tidak mau terjadi pertumpahan darah akibat perebutan kekuasaan sehingga ia dan kedua anaknya, beserta para pengikut mereka,  pergi dari Goguryeo dan mendirikan Kerajaan Baekjae di sebelah selatan Goguryeo. Biryu dan Onjo nantinya berpisah dan sama-sama mendirikan kerajaan, namun hanya Baekjae yang didirikan oleh Onjo lah yang bisa bertahan dan berkembang menjadi kerajaan besar menyaingi Goguryeo.

Ho-gae melanjutkan bahwa ia yakin kalau Raja (Damdeok) pasti telah mengetahui semua ini dari orang-orang desa Geo-mool.

Damdeok menyahut, karena Ho-gae menyebutnya sebagai Raja, akankah ia mematuhi perintahnya jika mereka pergi berperang? Dan Ho-gae menjawab kalau ini adalah perlombaan untuk mencari tahu siapa sebenarnya Raja Jyoohin yang sejati dan rakyat bergabung dengan pasukannya karena mereka menginginkan dirinya menjadi Raja.

Damdeok mengatakan kalau mereka benar-benar berupaya sekuat tenaga untuk mencari Simbol-simbol itu maka akan ada peperangan. Ho-gae salah paham dengan maksud Damdeok, menyangka kalau Damdeok tidak ingin bertarung dengan Ho-gae demi takhta dan bertanya apakah Damdeok tidak memiliki kepercayaan diri untuk memulai sebuah peperangan, tapi justru bersedia menipu rakyat? Tapi alasan utama Damdeok adalah ia tak ingin membuat para prajurit mati karena perlombaan di antara mereka berdua.

Tapi Ho-gae tak bergeming. Damdeok mengatakan kalau besok ada pertemuan Jaega dengan para kepala suku dan ia bisa menduga apa yang diinginkan oleh rakyat Goguryeo, yang ia perhatikan dan cemaskan, mengenai hal ini.

Keesokan harinya, di dalam Halaman Istana, para petugas mengumumkan kedatangan Raja, namun tak seorangpun benar-benar memberi perhatian dan tampak enggan untuk berdiri memberikan penghormatan mereka, kecuali Huk-gae, kepala suku Chor No. Yeon Garyeo dan Ho-gae tampak tidak senang. Melihat banyak yang enggan, petugas kembali mengumandangkan dengan suara lebih lantang kedatangan sang Raja, dan semua orang akhirnya berdiri walaupun terpaksa.

Tapi ternyata Damdeok tidak duduk di kursi takhta, yang sebenarnya memang haknya sebagai Raja yang sah, sebaliknya ia berdiri di balik kursi takhta.

Ho-gae mengumumkan bahwa ia ingin mengajukan permohonan agar Raja mengijinkan untuk mengirim pasukannya pada akhir bulan ini.

Damdeok kemudian menjawab bahwa perang memakan banyak jiwa, karena itu harus ada alasan kuat untuk melakukan peperangan dan rencana harus dibuat dengan seksama jika darah akan tercurah.

Ho-gae menyahut bahwa banyak alasannya. Untuk membangun kembali wilayan Jyooshin, mereka harus mencari semua dari 4 Simbol dan satu di antara mereka ada di Baekjae. Yang kedua, ia katakan, bukanlah sepenuhnya untuk menemukan Simbol. Ia bertanya pada Damdeok apakah telah melupakan kematian Raja Gogookwon yang dibunuh oleh Baekjae?

Pada perkataan Ho-gae yang terakhir, semua orang menghentakkan kaki ke tanah, menggemakan persetujuan mereka.

Catatan: Gogookwon Wang adalah Raja ke-16 Goguryeo dan wafat saat peperangan dengan Geunchogo Wang, Raja Baekjae, ketika Geunchogo Wang menginvasi Pyeongyang pada tahun 371 SM.

Ho-gae mengumukan bahwa ia akan membalaskan dendam bagi mendiang Raja mereka. Ia juga mengatakan kalau strateginya adalah ia dan 20 ribu – 30 ribu orangnya untuk menyerang Baekjae. Semua orang menghentakkan kaki mereka lebih keras menyatakan persetujuan mereka. Sebenarnya tidak ada strategi sama sekali, Ho-gae hanya mengandalkan jumlah pasukan yang besar untuk menyerang … itu saja.

Tapi balas dendam adalah alasan terbaik untuk berperang daripada menemukan Simbol. Simbol bisa saja ada atau tidak di Baekjae dan tidaklah bagus untuk memulai peperangan atas suatu benda yang belum diketahui keberadaannya. Dan dengan demikian, alasan berperang untuk membalaskan dendam adalah alasan yang paling kuat, yang tentunya menggerakkan hati para kepala suku, yang semuanya adalah para pejuang.

Damdeok dengan tenang mengatakan kalau  mereka menyerang Baekjae dengan cara ini, maka persentase kemenangan mereka hanyalah separuh, jadi Damdeok mengusulkan kalau mereka seharusnya membangun terlebih dahulu hubungan diplomatik dengan negeri tetangga, seperti Shilla, Hooyun, dan Malgal, dan memastikan kalau mereka tak akan membantu Baekjae atau menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Goguryeo, saat semua pasukan keluar berperang dengan Baekjae. Damdeok kemudian melanjutkan, bahwa sejak Baekjae terbelah menjadi dua, antara Bakjae Timur dan Barat, mereka seharusnya menggunakan kesempatan ini dan membuat keduanya berperang satu sama lain (alias devide et impera :P )

Nah ini baru pikiran seorang komandan sekaligus ahli strategi yang baik. Bukan hanya sekedar berperang .. tapi juga harus berperang dengan cerdik juga ….

Tapi sebelum Damdeok melanjutkan lebih jauh, seorang dari kepala suku memotong perkataannya dan bertanya apakah Damdeok menentang perang karena ia takut? Sebaliknya, Ho-gae telah berperang untuk waktu yang lama, dan Damdeok seharusnya belajar untuk memiliki keberanian seperti Ho-gae. Ini membuat marah Huk-gae, yang berteriak pada si kepala suku itu.

Chojodo (anakbuah Yeon) menyela lebih jauh dengan mengatakan kalau ia ingin mengucapkan beberapa patah kata dari lubuk hatinya. Ia mengatakan kalau semua ini bukanlah mengenai penemuan Simbol Jyooshin tapi pembalasan dendam terhadap Baekjae. Ia mengatakan kalau semua prajurit sangat mempercayai Ho-gae sehingga dengan sukarela akan berperang untuk membantunya. Jadi Damdeok tidak seharusnya merasa iri akan ini. (Pria ini memang tahu bagaimana berbicara, sekarang tidak hanya semua orang berpikir kalau Damdeok adalah seorang penakut, tapi juga picik). Chojodo mengakhiri perkataannya dengan mengatakan kalau kemenangan Ho-gae adalah kemenangan Goguryeo, yang artinya juga kemenangan Damdeok (sebagai Raja Goguryeo).

Semua pejabat dan kepala suku mulai saling berbicara dan berdebat membuat suasana menjadi sedikit panas. Damdeok mengamati semua ini dengan tenang, menyerap semuanya. Ia tampak sedikit khawatir tapi sama sekali tidak gentar. Tak heran, karena ia sudah mengira akan terjadi seperti ini tapi ia masih ingin mencoba untuk mengurungkan niat mereka untuk berperang jika memungkinkan. Yeon Garyeo juga sedang mengamati reaksi dari Damdeok. Di belakang, Hyon-go juga ada di ruangan itu … mendengarkan semuanya ini.

Malam itu, di dalam halaman Istana, Damdeok melihat Soojinee sedang duduk minum-minum. Damdeok nampak hatinya sedikit ringan dan dengan sebuah senyuman, berkata, “Kau minum-minum lagi?” Sojinee menjawab kalau ia tidak minum-minum. Damdeok mengambil botol minuman dari Soojinee.

Damdeok lalu bertanya padanya ke mana ia pergi seharian, tapi Soojinee mengatakan kalau itu rahasia. Damdeok meminum seteguk dan berkata mengapa minuman ini begitu kuat (alkoholnya)?

Damdeok mengatakan padanya, “Aku sudah memberitahumu untuk tidak melakukan itu.” Soojinee heran dan bertanya dengan tampang tidak bersalah, apa maksudnya? Damdeok menjawab bukankah ia pergi ke kediaman keluarga Yeon, benar bukan? Soojinee sedikit terkejut kemudian bertanya siapa yang memberitahunya? Hanya Soojinee dan si pria pendek itu yang tahu, jadi bagaimana Damdeok mengetahuinya? Damdeok memberitahunya sekali lagi untuk tidak melakukan itu dan bertanya apakah ia telah lupa kalau dirinya pernah memberitahu agar ia tak turut campur dalam permasalahan orang lain.

Soojinee menjadi naik darah dan bertanya apakah ia pikir kalau dirinya pergi ke sana untuk bermain-main saja? Bukankah ia sedang mencoba mencari tahu mengapa Ki-ha berada di kediaman Yeon. Ia sangat marah pada Damdeok yang berpikir kalau dirinya pergi ke sana hanya untuk bermain-main saja.

Damdeok kemuduian menjawab kalau ia lebih suka melihatnya bermain-main seperti pergi ke rumah judi daripada pergi ke kediaman Yeon.

Sekarang Soojinee benar-benar menjadi marah dan mengatakan, yeah .. ia memang sedang bermain-main saja. Ia pergi ke kediaman Yeon karena ia mendengar di sana banyak minuman dan ia ingin melihat macam apakah anggur itu dan berapa banyak yang mereka miliki kemudian akan mencicipinya.

Sekarang Damdeok tahu kalau dia tidak pergi ke sana untuk bemain. Damdeok tersenyum, bertanya apa yang ia sembunyikan dari dirinya? Damdeok sangat sabar menghadapi Soojinee.

Soojinee duduk dan mendesah, ia bertanya apakah Yang Mulia masih sangat menyukai wanita itu? Pertanyaan ini membuat senyum Damdeok lenyap dari wajahnya dan mukanya berubah.

Soojinee, tanpa melihat pada Damdeok dan tidak menyadari perubahan mukanya, melanjutkan perkataanya kalau semua orang di Desa Geo-mool tahu kalau mereka berdua (Damdeok dan Ki-ha) saling menyukai satu sama lain sejak masih kecil, jadi mereka berpikir kalau Ki-ha adalah wanita yang benar-benar baik. Tapi mengapa sekarang ia melakukan itu? Mengapa ia membunuh Raja Gogookyang? Mungkinkah ada alasan di balik semuanya ini? Ataukah sebenarnya ia tidak bermaksud demikian karena bukankah Raja adalah ayah kekasihnya? Paling akhir Soojine mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak bisa memahami perbuatan Ki-ha.

Damdeok tak ingin mendengar lebih banyak lagi, menoleh ke arah lain, mengatakan dengan suara dingin, “Cukup. Jangan bicara lagi!”

Soojinee masih belum menyadari apapun, menoleh padanya dan mengatakan dengan suara yang lebih keras, “Tapi kuminta agar Yang Mulia tidak menyukai wanita ini lagi. Ia telah menusukmu dengan pedang!” … Aigooo … dasar Soojinee tak tahu kapan harus tutup mulut … Pada saat ini Damdeok mungkin masih sangat terluka dan perkataan Soojinee seperti garam yang digosokkan ke luka, membuatnya sangat sakit dan menderita. Soojinee masih mengatakan, mungkin ada alasan di balik perbuatannya itu. Mungkin sebagai seorang Joojak, Ki-ha telah tahu dari mula kalau Damdeok tidak akan mati, karena itulah ia melakukannya. Tapi Soojinee tetap tak dapat memaafkannya.

Kali ini Damdeok membentaknya, “Aku sudah memberitahumu untuk menghentikannya!”

Kemarahan Damdeok bukanlah diarahkan pada Soojinee, hanya saja ia merasa sangat sakit dan menderita saat mendengar semua itu.

Soojinee menjadi semakin galau dan mulai berteriak bahwa Damdeok tidak mengetahui apapun dan Damdeok juga tidak tahu apa yang sedang dilakukan wanita itu sekarang (Soojinee melihat Ho-gae memeluk Ki-ha dan berpikir kalau Ki-ha mempermainkan Damdeok). Soojinee mengatakan bahwa yang harus berhenti adalah Damdeok dan mengapa sekarang ia justru  menjadi begitu marah, apakah Damdeok masih menyukainya?

Damdeok, perlahan-lahan menatap ke langit .. dan tampak air mata menggenang di matanya yang memantulkan penderitaan … bukan karena ia sedih tapi karena ia merasa frustasi dan marah, tak tahu mana yang harus ia percayai.  Damdeok kemudian dengan berbisik mengatakan ya, ia masih menyukainya. Itu membuat Soojinee menutup mulutnya, sedikit kecewa mendengar jawabannya.

Damdeok mendesah dan berkata dengan nada pahit kalau ia tak dapat berhenti memikirkannya dan ia benar-benar merindukannya. Ia inign bertemu dengan Ki-ha dan berbicara dengannya, tapi tidak bisa karena Damdeok percaya kalau Ki-ha lah yang telah membunuh ayahnya. Lalu Damdeok mendesah lagi, mengambil napas dalam-dalam dan berkata, “Karena itu, jangan sebut namanya di hadapanku lagi!”

Dan Soojinee, gadis yang ceria dan suka bercanda, yang mungkin tak pernah menangis, duduk membelakangi
Damdeok, berkata dengan airmata di matanya, “Aku mengerti.” Ah … Soojinee telah jatuh cinta pada Damdeok tanpa menyadarinya sedikitpun. Lalu Damdeok menghela napas.

Hyon-go, para penduduk Desa Geo-mool, Jenderal Kho, Huk-gae, dan Damdeok tampak mempelajari sebuah gulungan semacam peta dan berdiskusi.

Huk-gae mengatakan bahwa rakyat mengatakan kalau Raja yang baru adalah seorang penakut. Jenderal Kho segera berseru padanya untuk menutup mulut. Huk-gae, Kepala Suku yang besar dan gemuk ini meskipun ia setia tapi juga pendek sumbunya …

Huk-gae meminta pada Damdeok untuk mengijinkan dirinya dan Suku Chor No bergabung dalam peperangan yang akan berlangsung, mereka akan berperang demi menjaga nama baik Damdeok.

Damdeok mendongak ke atas, bertanya pada Hyon-go mengenai persentase keberhasilan peperangan melawan Baekjae ini. Ia sama sekali tak terpengaruh dengan luapan amarah si Huk-gae … heheheh …

Hyon-go menjawab kalau peperangan ini akan sangat sulit untuk dimenangkan karena kedua kerajaan sama-sama memiliki persiapan yang baik. Lalu Huk-gae mengatakan kalau ia akan membawa semua pasukan cadangan dan bahkan akan memanggil Pasukan Penjaga Perbatasan … Hyon-go segera menolak usulannya dan mengatakan jika Pasukan Penjaga Perbatasan dipanggil, maka Hooyon dan Georan akan menyerang mereka. Huk-gae menyadari kesalahannya dan menutup mulutnya.

Lalu seorang penduduk desa Geo-mool mulai menjelaskan mengenai semua aspek ekspedisi Ho-gae, yang harus menyerang lebih dari 20 benteng untuk mencapai ibukota Baekjae, Sabiseong. Jika setiap benteng memakan waktu 10 hari untuk ditundukkan maka itu akan membuatnya berperang selama 3 bulan lebih sedikit untuk menundukkan separuh dari benteng-benteng itu.

Damdeok mendengarkan semua ini dengan seksama, berpikir dalam-dalam … lalu ia mendongak ke atas dan berkata pada Hyon-go, “Guru”

Hyon-go nyata-nyata sangat senang karena Damdeok menghormatinya dan dengan bangga mengatakan pada Huk-ge, “Aku adalah guru dari Yang Mulia!” … Huk-gae sangat tidak puas mendengar ini …. :D

Damdeok mengatakan bahwa sejak Desa Geo-mool mengetahui segalanya di dunia ini, akankah mereka juga tahu bagaimana caranya untuk membocorkan sebuah informasi? Hyon-go dan semuanya terkejut dengan perkataannya ini. Damdeok melanjutkan, ia ingin sebuah rahasia dibocorkan dan kalau itu berhasil, maka ia akan menyetujui ekspedisi perang Ho-gae. Ia mengatakan bahwa ia sudah tidak punya pilihan lain lagi.

Huk-gae lalu bertanya apa yang akan Damdeok kerjakan jika benar-benar terjadi perang?

Damdeok menjawab, karena semua orang di pertemuan mengatakan kalau pasukan Ho-ge adalah pasukan Goguryeo dan kemenangan Ho-gae adalah juga kemenangan dirinya, ia berpikir untuk membantu Ho-gae sehingga dirinya bisa menang dalam peperangan ini. Hohohoho … akal licik dimanfaatkan oleh akar cerdik … ahahaha :D

Kesibukan besar terjadi di tempat kerja Ba Son karena banyak pandai besi tiba. Ba Son mengenali seorang pria di antara mereka dan sangat senang melihatnya.

Bijih-bijih besi tiba dan Ba Son serta semua orang mengawasi bahan itu, seakan-akan bahan itu adalah benar-benar bahan yang sangat berharga.

Di ruangan pertemuan, Hyon-go mengatakan, jika mereka berperang melawan Baekjae Timur saja, mungkin mereka bisa menang, tapi jika Baekjae Barat bergabung, mereka tak mungkin bisa memenangkan perang ini, meskipun dengan jumlah dua kali lipat, sekitar 40 ribu orang. (Pada saat itu Ho-gae sedang berencana akan menyerang Baekjae Timur.)

Damdeok menoleh pada Hyon-go dan mengatakan kalau dirinya telah menyebut Hyon-go sebagai guru dan membawa orang-orangnya kemari, maka dari itu Damdeok memberitahu Hyon-go bahwa ia tak mau mendengar sama sekali kata-kata: tak mampu, tak bisa menang, dan lain-lain.

Damdeok tahu kalau ada banyak alasan mengapa mereka tidak akan dan tidak bisa menang tapi sekarang ia ingin mereka memberitahu dirinya bagaimana caranya mereka bisa menang dalam pertempuran ini. Inilah prinsip komandan yang sejati, jika seorang komandan sudah berpikir kalah sejak awal, maka itu sama saja dalam peperangan itu mereka sudah kalah sebelum berperang.

Hyon-go bertanya apakah mereka dapat menghentikan Ho-gae dan Damdeok segera menjawab tidak. Damdeok mengatakan kalau dirinya akan sulit mendapatkan 40 ribu orang sebagai pasukannya, jadi ayo bagaimana caranya mereka bisa menang dengan pasukan ini.

Hyon-go mengatakan bahwa pasukan militer dari Baekjae dan Goguryeo berada dalam tingkat yang sama. Satu hal yang membedakan adalah bahwa pihak Goguryeo lebih ahli dalam berkuda.

Damdeok segera bertanya bagaimana pekerjaan Ba Son? Gam Dong menjawab kalau Ba Son telah mengumumkan kalau ia akan mengungkapkan rahasianya dan karena itu semua pandai besi di seluruh penjuru negeri ada di tempat kerjanya sekarang. O.o … jadi Ba Son ternyata pandai besi yang hebat dan terkenal ya, buku memang tak bisa dinilai dari sampulnya saja … hehehehe …

Berikutnya terlihat Ba Son sedang menunjukkan pada semua pandai besi yang ada di tempatnya dan memberitahu mereka bagaimana membuat senjata hebat. Tak ketinggalan, Ba Son juga menunjukkan pada mereka mengenai koleksi baju pelindung dan perisainya, dan macam-macam yang lainnya.

Kembali ke tempat pertemuan, Hyon-go memberitahu Damdeok bahwa mereka tidak punya cukup waktu dan akan membutuhkan sekitar setengah tahun untuk mempersenjatai 40 ribu prajurit. Hyon-go tampaknya berpikir kalau Damdeok akan memberikan persenjataan pada pasukan Ho-gae, karena selama ini Damdeok sama sekali tidak mengungkit-ungkit akan berperang sendiri.

Damdeok tampak berpikir keras untuk sejenak dan kemudian bertanya pada Jenderal Kho bahwa selekasnya Ho-gae berangkat, berapa lama yang akan ditempuh pasukannya untuk mencapai perbatasan dengan Baekjae?

Jenderal Kho menjawab karena Ho-gae sudah terjun dalam peperangan sejak usia muda dan sangat berpengalaman, ia akan mecapainya dalam waktu 7 hari. Damdeok kemudian bertanya berapa lama Baekjae Barat untuk menyeberangi laut dengan bahan-bahan persediaan. (Baekjae Timur dan Barat dipisahkan oleh laut)

Jenderal Kho berpikir dan mengatakan kalau mereka akan menyadari pergerakan pasukan Ho-gae dalam tiga hari dan akan menyeberangi laut dalam waktu 10 – 14 hari, dengan semua ini maka bala bantuan Baekjae Barat akan tiba sekitar 2 minggu. Pada saat itu, pasukan Ho-gae masih belum mencapai tengah-tengah Baekjae. Dalam perhitungan sebelumnya, diperkirakan pasukan Ho-gae mungkin akan dapat menundukkan 10 kota dalam waktu 3 bulan, jadi sampai waktu ia mencapai tujuannya, diandaikan ia menang terus, maka pasukan gabungan dari kedua Baekjae Timur dan Barat sudah siap dan sedang menunggu kedatangan mereka.

Atas jawaban ini Damdeok merasa sedikit kecut dan patah semangat, dan Jenderal Kho dan Hyon-go memandang Damdeok dengan pandangan bertanya-tanya, seperti sedang menunggu apakah Damdeok dapat memberikan suatu jawaban brilian atau keputusan yang hebat atas masalah ini. Sikap kedua orang ini, tanpa mereka sadari, sebenarnya sudah sedikit menunjukkan bahwa Damdeok mulai dihormati dan diakui bukan saja sebagai Raja tapi juga sebagai ahli strategi yang handal.

Sedetik kemudian, Damdeok tampak sadar dari renungannya dan mengatakan, tak peduli apapun, ia ingin mencoba dan berusaha menunda pasukan Ho-gae tiba di Baekjae. Tentu saja ini sama sekali tidak masuk di akal, karena semakin lama mereka menunda maka semakin banyak waktu bagi Baekjae Barat untuk mengirimkan pasukan bantuan. Tapi Damdeok kemudian mengatakan, selama waktu tunda tersebut, mereka akan mencoba  menghentikan Baekjae Barat. Hyon-go bertanya apakah ia ingin menghentikan mereka dengan pasukan Jenderal Kho dan Suku Chor No saja? Padahal kalau digabungkan jumlah mereka tidak sampai 3 ribu orang saja dibandingkan dengan 40 ribu pasukan Ho-gae.

Damdeok tersenyum dan mengatakan, bukankah semakin sedikit jumlahnya justru semakin baik karena mereka dapat membuat senjata lebih cepat bagi pasukan mereka? Hyon-go bertanya dengan penuh rasa kejut, apakah mereka benar-benar akan berperang dengan Baekjae Barat hanya dengan jumlah prajurit 3000 orang? Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri?

Lalu Damdeok mengatakan kalau mereka harus menunda keberangkatan Ho-gae hanya untuk 2 minggu saja dan untuk mengalihkan perhatian Baekjae dari target mereka sebenarnya, bukannya Hansung tapi justru ke arah Timur.

Hyon-go kemudian bertanya dengan rasa khawatir apakah mereka akan berperang dengan Baekjae Barat hanya dengan 3 ribu orang prajurit saja? Damdeok menoleh pada Jenderal Kho, dan dengan senyum simpul penuh kepercayaan diri bertanya, seberapa baiknya jaringan mata-mata Baekjae? Jenderal Kho menjawab kalau dirinya terkena demam, maka semua orang di Hansung, Baekjae, akan segera mengetahuinya dalam waktu 5 hari saja. Wow ….

Damdeok kemudian mengatakan, dengan sedikit ekspresi jahil, mari buat semua orang berpikir kalau dirinya akan tetap tinggal di dalam Istana dan takut untuk berperang. Dengan itu, Damdeok bangun dari duduknya dan beranjak pergi, ia sudah memiliki rencana dalam otaknya dan tak peduli apa kata orang walaupun nantinya ia dikatai sebagai pengecut. Tapi Hyon-go bangkit dan segera mengatakan kalau ini tidak baik. Ia bertanya pada Damdeok, apakah ia sedang bermaksud untuk membantu Ho-gae dalam perang dan membiarkannya menemukan Simbol Dewa?

Damdeok menoleh pada Hyon-go dan menatapnya langsung di mata, mengatakan, “Guru, tanpa rakyat, seseorang tak dapat menjadi Raja. Para prajurit di pasukan Ho-gae adalah rakyatku juga. Aku tak berharap mereka mati.”

Bagi Damdeok, keinginannya yang terutama adalah melindungi rakyatnya dulu dalam peperangan … untuk mengurangi korban jiwa yang mungkin terjadi.

Hyon-go tahu kalau perkataan Damdok benar sehingga ia tak bisa mendebatnya, lagipula ia sangat senang saat Damdeok memanggilnya guru… :D

Ba Son sedang memegang sebuah anak panah yang ia buat dan menunjukkannya pada Soojinee. Ia memberitahu Soojinee bahwa anak panah itu sangat kuat dan bagus, dapat melesat lebih cepat dan lurus saat melayang.

Soojinee mengatakan kalau sungguh aneh sampai sekarang Ba Son tidak mau membuat senjata hebat karena jika ia melakukan itu sejak  dulu, maka mungkin saja ia sekarang sudah menjadi orang kaya. Ba Son menjawab, jika ia dulu bersedia membuat senjata pada satu orang, maka yang lain akan datang padanya untuk meminta dibuatkan juga dan ia tak ingin orang-orang yang tak ada nilainya itu menerima senjata yang begitu bagus …

Soojinee bertanya apakah ia pikir kalau Raja mereka yang sekarang layak untuk menerima senjata bagus ini? Ba Son mengatakan kalau ia sudah tahu Raja sekarang orang baik, karena itu ia bersedia mengungkapkan rahasianya dan membuatkan senjata. Ba Son sangat terkesan dengan Damdeok, karena Damdeok menginginkan agar dirinya untuk membuatkan baju pelindung yang baik demi melindungi jiwa rakyatnya bukannya senjata yang baik untuk membunuh, jadi ia memutuskan kalau Raja ini sangat pantas untuk ia bantu.

Ba Son melihat Dalbee sedang memegang sebuah buku catatan dan tampak dalam pemikiran yang mendalam. Ba Son bertanya-tanya apakah Dalbee sedang memikirkan ajuhsi itu … (Ba Soon menyebut ahjusi mengacu pada Joomochi)

Dalbee melihat mereka memandang padanya dan segera menyembunyikan bukunya, dengan pandangan seperti bersalah dan pergi untuk melakukan tugasnya. Soojinee menghampirinya dan bertanya apakah Dalbee merindukan Joomochi? Soojinee sangat suka menggoda, dan korbannya kali ini adalah Dalbee … dasar gadis bengal :P

Lalu Soojinee mengatakan kalau dirinya akan pergi ke Istana, karena kelihatannya Joomochi ada di istana berdiskusi mengenai rencana penyerangan dengan Damdeok. Dalbee memanggilnya dan menyuruhnya untuk menunggu, kemudian ia pergi mengambil buku catatan itu dari tasnya. Dalbee menyerahkan buku itu pada Soojinee dan memintanya untuk memberikannya pada Raja. Soojinee sangat terkejut dan berkata, jadi itu bukan Joomochi .. apakah itu Raja? (Wah saingannya tambah satu deh … mungkin itu dalam pikiran Soojinee :P ) Dalbee mengatakan kalau Raja sibuk, maka berikan saja buku itu pada orang lain yang mungkin tertarik.

Soojinee kemudian bertanya apa isi buku itu dan Dalbee menjelaskan kalau itu adalah semacam buku logistik dari ekspedisi militer … mengenai makanan, kuda, kayu, dan lain-lain semacam itu. Dalbee mengatakan kalau ia mencatat itu semua saat ia ada di kediaman Yeon. Mulut Soojinee menganga lebar, tampak sangat lucu … ahahahah … Dalbee mengatakan kalau ia pikir buku itu mungkin bisa membantu. Soojinee masih tetap dengan muka yang menampakkan wajah tidak percaya. Dalbee salah paham dan mengira kalau pandangan Soojinee itu berarti dirinya hanya bercanda. Dalbee mengatakan kalau ia hanyalah seorang diri dan tak ada yang bisa ia lakukan dan berpikir kalau …. kemudian ia meminta maaf dan berjalan pergi dengan wajah murung. Ia benar-benar ingin membantu Damdeok tapi tak yakin apakah ia bisa membantunya karena … yah, ia seorang pembantu saja. Sesungguhnya, Soojinee sangat sangat terkesan dan segera mengambil buku itu darinya :D

Sa Ryang membawakan makanan ke dalam kamar Ki-ha tapi menemukan kalau kamar itu kosong.

Ho-gae mengingat mengenai harapan terakhir ibunya yang sedang sekarat, bahwa ia menginginkan agar Ho-gae bisa menjadi Raja Jyooshin … Ini sangat menyedihkan … sebenarnya dari permulaan Ho-gae bukanlah orang jahat dan tak inign menjadi Raja. Ia tak adan keinginan untuk merebut posisi Damdeok, tapi karena ibunya …  dan sekarang ayahnya …

Jadi Ho-gae membuat janji pada dirinya sendiri kalau ia akan menjadi Raja Goguryeo dan Jyooshin … demi ibunya dan juga untuk orang itu (Ki-ha).

Ho-gae kemudian melihat Ki-ha, yang akhirnya bangun tapi tampangnya terlihat pucat seperti hantu dan tampaknya tak terlalu sehat secara mental …

Ki-ha sedang berbicara pada dirinya sendiri dengan suara seperti berbisik, mengatakan kalau kekuatannya untuk menggunakan api sangat kuat tapi sungguh aneh kenapa sekarang ia tak bisa memadamkannya?

Ho-gae jelas sangat senang melihat Ki-ha sudah sadar dan bertanya apakah ia baik-baik saja? Ia mengatakan kalau ia selalu menunggunya dan untuk melihatnya sehat. Ki-ha masih dengan suara pelan bertanya mengapa Ho-gae menunggu dirinya padahal ia sama sekali tak pernah menunggu diri Ho-gae. Ho-gae bertanya mengapa Ki-ha menusuk jantung Damdeok dengan pedang, apa yang ia pikirkan waktu itu? Apakah ia sudah tak mencintai Damdeok lagi?

Ki-ha, masih bersuara tanpa emosi, akhirnya berbalik untuk melihat pada Ho-gae, mengatakan kalau ia berpikir untuk mati bersama. Ho-gae tampak sedikit terkejut. Ki-ha melanjutkan, tapi sekarang ia memiliki alasan untuk hidup. Ia ingin bertemu dengan Damdeok dan kemudian memutuskan nanti bagaimana dirinya seharusnya hidup.

Dari secuil pernyataannya itu, bisa diketahui kalau Ki-ha ternyata memang ingin membunuh Damdeok lalu bunuh diri sehingga mereka bisa mati bersama-sama.

Di dalam Istana, Soojinee menunjukkan buku yang diberikan Dalbee pada Damdeok dan bertanya apakah ia memahaminya? Damdeok melihat buku itu dengan seksama dan bertanya apakah ini ditulis oleh pembantu dari kediaman keluarga Yeon? Soojinee memberitahu kalau namanya adalah Dalbee, sedangkan suaminya, seorang kapten pasukan Yeon telah terbunuh. Dalbee berhasil melarikan diri dan sekarang tinggal bersama dengan Ba Son. Sebenarnya Soojinee tidak begitu mengerti tepatnya isi buku itu dan tak begitu yakin kalau buku itu berguna. Damdok sedikit mengacuhkannya dan memanggil Jenderal Kho.

Damdeok bertanya apakah Jenderal Kho sedang mencari seseorang yang bisa bertanggungjawab dalam logistik?

Catatan: Karakter tulisan 병참부대 berarti sebuah unit pasukan yang bertanggungjawab dalam hal akomodasi, makanan dan pakaian para prajurit. Unit ini sangatlah penting dalam setiap ekspedisi, terutama dalam peperangan. Tanpa makanan, para prajurit akan lemah dan menderita. Bahkan tugas yang paling penting adalah menyiapkan makanan untuk kuda karena tanpa kuda, para prajurit tak dapat berperang. Unit ini tidak maju berperang maupun melakukan tugas yang lain, tanggungjawab mereka terletak dalam pengaturan makanan, akomodasi dan pakaian saja. Oleh karena itu biasanya unit ini selalu dijaga dengan ketat dan harus sampai dulu di tempat peperangan sebelum pasukan utama tiba. Hanya pasukan yang cukup makan dapat berperang dengan baik.

Jenderal Kho mengiyakan, tapi pada kenyataannya semua petugas yang bisa dipercaya dan berpengalaman sudah bekerja untuk Ho-gae. Karena tentu saja mereka tak akan bekerja pada Jenderal Kho yang berpihak pada Damdeok.

Damdeok menyerahkan buku itu pada Jenderal Kho dan memintanya untuk melihat buku itu dengan seksama karena dirinya sangat terkesan. Jenderal Kho mengambil buku itu, tapi tak melihat isinya ataupun memeriksa, mengatakan kalau Yang Mulia berpikir buku itu bagus, maka ia tak berkeberatan dan akan segera mengangkat orang yang membuat buku ini di posisinya yang layak.

Sudah umum jika para Raja atau komandan sangat senang kalau perintah mereka  tidak dipertanyakan, bahkan dalam kondisi tertentu, mereka tak boleh dipertanyakan … tapi Damdeok berbeda. Ia mengingat pada masa lalu, Jenderal Kho telah mengajarinya bahwa jika seorang Penata Logistik tidak menyediakan dukungan yang baik, maka para prajurit tak dapat berperang dengan baik. Jenderal Kho tampak sangat senang karena Damdeok masih mengingat pengajarannya.

Damdeok kemudian bertanya, kalau ia membuat kesalahan dengan mengangkat orang yang salah pada posisi yang sangat penting itu, akankah itu menjadi kesalahan dirinya atau Jenderal Kho yang telah menerima perintah dari sang Raja dan tidak mempertanyakannya?

Jenderal Kho menjawab kalau itu adalah kesalahannya dan mengatakan kalau ia akan bertemu dengan orang ini dan memberinya pekerjaan yang ia nilai sesuai dan layak dengan kemampuannya, Jenderal Kho kemudian pergi.

Nah … sekarang perlahan-lahan kita mulai bisa memahami mengapa Raja ini disebut Tae Wang (Raja Agung) dan mampu untuk memperluas wilayah Goguryeo. Ia tak ingin anakbuahnya hanya mendengar perintahnya dengan membabi-buta tapi mempertanyakannya jika memang diperlukan.

Saat keduanya sedang bercakap-cakap, sebuah keributan pecah antara Soojinee dan seseorang dari Desa Geo-mool. Mereka sedang bermain-main dengan tinta, saling mengoleskan di wajah lawannya.

Damdeok menoleh dan melihat pemandangan itu. Ia terlihat tidak begitu senang. Hyon-go sedang mengamati Damdeok … yang mengamati Soojinee. Mungkinkah itu karena permulaan rasa suka sudah timbul di hati Damdeok? Karena terlihat rasa tidak suka di wajah Damdeok melihat Soojinee melakukan kontak fisik dengan mudahnya dengan pria lain. Tapi kelihatannya Soojinee yang bertumbuh di antara mereka, sering lupa kalau dirinya adalah seorang gadis tapi tentu saja Damdeok sama sekali tak melupakannya :D

Malam itu di Istana, saat para prajurit berjaga, seseorang menyusup dengan ahlinya dan hanya terlihat sebagai sebuah bayangan yang lewat dengan cepatnya.

Hyon-go saat itu sedang di dalam sebuah ruangan bersama-sama dengan anggota-anggota Geo-mool sedang bekerja keras (tapi yang benar adalah, Hyon-go sedang tidur tapi yang lainnya bekerja keras … ahahahah … :D ) Tiba-tiba, ada angin bertiup sangat keras … dan Hyon-go menjadi gelisah dan curiga. Ia melihat ke arah luar dan segera menutup pintu kamar.

Soojinee dengan gembiranya sedang berjalan membawa sebotol anggur … dan di belakangnya, Ki-ha sedang mengawasinya. Soojinee bisa merasakan kehadiran seseorang tapi saat ia menoleh ke belakang, tak ada seorangpun yang terlihat.

Damdeok sedang berada di kamarnya,  meneliti kertas-kertas di hadapannya dan tiba-tiba ia mendongak, mencium bau sesuatu dan muncullah Soojine … melambaikan botol anggur sehingga aromanya menusuk hidung Damdeok.

Soojinee berbicara banyak hal mengenai anggur dan juga manfaatnya … yah .. ia memang benar-benar suka dengan anggur.

Damdeok bertanya apakah Soojinee bisa berhenti minum hanya untuk sehari saja, dan Soojinee, segera mendekatkan botol itu di dadanya dan mengatakan tidak. … ahahaha … gadis ini khan sudah terbiasa minum sejak ia masih kecil ….

Damdeok mendesah kesal … berbalik menghadapi kertas-kertasnya lagi. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa pada gadis satu ini … :D

Soojinee meminta agar Raja berhenti belajar dan minum-minum untuk bersantai dulu. Ia kemudian meletakkan botol anggur itu tepat di bawah hidung Damdeok dan mengatakan kalau minuman ini kiriman dari Langit!

Damdeok menatap Soojinee dengan pandangan serius … ahahah Yang Mulia sama sekali tak terkesan … ahahah :D

Soojinee kemudian memohon Damdeok agar mencicipinya sedikt saja, seteguk … karena anggur itu hanya disuguhkan pada Raja saja .. tapi jika Damdeok mencicipinya maka mereka berdua bisa mendapatkannya kapan saja.

Damdeok tertawa, dan dengan sedikit mendesah, menyerah dengan permintaan Sojinee.

Damdeok meminum seteguk .. menoleh pada Soojinee, yang berharap Damdeok akan menyerahkannya kembali padanya … tapi Damdoek mengalihkan pandangannya … dan dengan tersenyum simpui, meminum seteguk lagi. Ia sedang menggoda Soojinee … :D

Damdeok mengatakan kalau baunya cukup enak dan kemudian Soojine … menunggu dengan harap-harap cemas, ingin mendapatkan kembali botol anggurnya dan mengatakan kalau Damdeok tidak harus minum lagi … (lebih banyak yang diminum Damdeok artinya lebih sedikit yang bisa Soojinee minum .. ahahah :D ). Damdeok meminum seteguk lagi, merasakannya, dan sedang menikmati rasanya … Soojinee menjadi gelisah setengah mati dan mengatakan, ia pikir Damdeok tidak suka anggur. Damdeok mengatakan kalau anggur itu sedikit kuat (alkoholnya) .. tapi masih mengambil satu tegukan lagi. Sekarang Soojinee menjadi uring-uringan dan marah, seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya … ahahah …:P

Damdeok berpura-pura mau meneguk anggur itu lagi, tapi kemudian ia mengatakan ada sesuatu yang ganjil dan melemparkannya pada Soojinee, yang dengan segera menangkapnya kembali.

Dalam pada itu, Ki-ha mengamati mereka dari luar jendela … ouch … ia benar-benar terlihat seperti hantu saja …

Saat Soojinee memegang erat botol anggur dan beranjak pergi, Damdoek mendongak kemudian memintanya berhenti, bertanya kemana ia mau pergi? Lalu Damdeok bertanya apakah Soojinee mau mabuk-mabukan dan bertingkah laku ga genah dengan para pria?  (hehehe Damdeok benar-benar tidak suka kalau Soojinee bermain-main dengan pria lain). Soojinee tersinggung dan bertanya kapan ia pernah bertingkah laku seperti itu?

Damdeok memintanya untuk duduk di sana .. di mana ia bisa melihatnya minum-minum. Soojinee masih menatapnya … dan kemudian Damdeok mengatakan karena mereka berdua adalah murid dari satu guru, maka aib Soojinee adalah aibnya juga … (Itu cuma alasan saja agar Soojinee berada di dekatnya .. :P )

Soojinee merasa ragu-ragu tapi Damdeok menegurnya, “Oh hoh …” dengan nada memerintah dan Soojinee akhirnya menyerah. Ia masuk ke dalam ruangan dan duduk di pojok dengan diam.

Sementara Soojinee menikmati minumannya, Damdeok tersenyum geli dan … dan … Ki-ha sedang menatapnya dari luar jendela .. dengan pandangan seperti ingin membunuhnya. Ia sebelumnya telah mengatakan pada Ho-gae bahwa ia ingin melihat Damdeok baru ia bisa memutuskan bagaimana hidupnya. Mungkin Ki-ha berharap melihat betapa menderitanya Damdeok sama seperti dirinya … tapi tak disangka … sekarang ia melihat Damdeok sedang bercanda dengan wanita lain. Damdeok tampaknya sudah melupakan semua hal mengenai dirinya. Ataukah mungkin memang Damdeok sama sekali tak peduli akan dirinya?

Lalu Damdeok tampak merasakan sesuatu, mendongak dan melihat ke arah Ki-ha berada, tapi tak ada seorangpun di sana.

Ki-ha kembali ke Abullansa … jelas patah hati dan bersedih … dan kemudian ia mengingat apa yang dikatakan Ho=gae bahwa ia akan menunggu hati Ki-ha dan akan berangkat keesokan harinya.

Keesokan harinya, Ho-gae berangkat dengan pasukannya. Rakyat mengelu-elukannya dan mendukung Ho-gae sepenuhnya. Ho-gae tampak bertekad … hanya ada satu tujuan di pikirannya … mendapatkan Simbol Dewa di Baekjae dan membuktikan kalau dirinya adalah Raja Jyooshin yang sejati.

Di sebuah desa pelabuhan kecil di Baekjae, sekelompok pengawal bersenjata lengkap sedang mengawal seorang pria, yang sedang membawa sebuah kotak dengan hati-hati. Mereka beristirahat di sebuah kedai makanan yang kecil dan pelayan di sana menatap kotak itu yang tampaknya berpendar. Si pria menghalangi pandangan pelayan dan satu dari pengawal menyuruh si pelayan untuk menjauh.

Pria itu mengatakan pada para pengawal kalau mereka harus segera bergegas karena Simbolnya tidak stabil.

Kelompok itu meninggalkan kedai itu dan setelah berjalan beberapa puluh langkah jauhnya, memastikan tak ada seorangpun mengikuti mereka, si pria itu keluar dari kereta kemudian merentangkan tangan dan kakinya, yang pegal-pegal. Mereka semua dari Desa Geo-mool. Pria itu mengatakan kalau majikan dari pihak lawan mereka pasti akan mendengar ini. Misi mereka sudah terlaksana.

Pelayan kedai makanan tadi berasal dari Hwacheon dan para anggota Geo-mool tahu kalau pelayan itu pasti akan memberitahu Dae Jangro mengenai ini. Ini lah “rahasia” yang Damdeok ingin agar Geo-mool membocorkannya.

Pria itu membuka kotak dan meniup padam beberapa lilin di dalam kotak.

Pelayan kedai itu benar saja mengirimkan pesan ke Abullansa.

Di dalam Kuil Abullansa, Dae Jangro menerima pesan itu yang menyatakan kalau Simbol Chung Ryong terlihat di bagian Timur Baekjae. Tapi Dae Jangro tak sepenuhnya mempercayai ini. Jika itu memang benar-benar Simbol Dewa maka seharusnya ada di Hansung (Ibukota Baekjae), mengapa itu berada di tempat terpencil? Sa Ryang kemudian berkomentar kalau mungkin di sanalah pemiliknya tinggal.

Yeon Garyeo menemui Dae Jangro untuk berdiskusi mengenai berita Simbol itu. Dae Jangro mengatakan kalau ada rumor bahwa So Seo No membawa Simbol Dewa itu bersamanya saat ia pergi ke selatan dengan kedua anaknya. Juga ada rumor kalau pelindung Chung Ryong ikut bersama rombongan So Seo No.

Yeon Garyeo bertanya kalau Dae Jangro mengatakan ia tidak tahu tepatnya di mana Simbol berada, bagaimana ia bisa tahu kalau Simbol itu ada di Baekjae? Dae Jangro menjawab kalau sinar kebangkitan Chung Ryong terlihat di Baekjae di hari Ho-gae terlahir, tapi setelah itu, tak seorangpun tahu di mana keberadaannya.

Yeon Garyeo kemudian bertanya apakah Simbol Dewa sekarang telah terlihat di bagian Timur Baekjae Timur. Dae Jangro mengiyakan dan memberi usulan kalau Ho-gae harus mendapatkan Simbol itu dahulu baru kemudian menyerang Baekjae.

Damdeok benar-benar sangat cerdik. Ia tahu Dae Jangro dan yang lainnya akan lebih tertarik mengenai Simbol Dewa itu.

Si pria pendek dari desa Geo-mool sedang menjajakan dagangannya di sepanjang jalan. Sebuah pentas telah didirikan dan satu babak permainan sandiwara akan segera dimulai di hadapan masyarakat.

Di dalam Istana, Damdeok, Huk-gae dan semua orang sedang berdiskusi mengenai situasi yang berkembang saat ini. Damdeok berkata, jika orang-orang Geo-mool melakukan pekerjaan mereka dengan baik, maka pasukan Ho-gae akan bergerak menuju ke arah Palgoonsung.

Huk-gae hampir tersedak minuman dan mengatakan apakah mereka bermaksud untuk membuat Ho-gae menyerang tempat itu? Bukankah itu adalah benteng yang pertahanannya sangat baik?

Damdeok berkata mereka harus memulai peperangan dengan perlahan-lahan dan sejauh mungkin dari Baekjae Barat jika memungkinkan.

Huk-gae, masih tak memahami apa yang sedang terjadi … menjadi uring-uringan dan berkata kalau asap sekarang pasti sedang keluar dari kepalanya … ahahaha … Damdeok hanya tersenyum dan mengatakan kalau Ho-gae membawa 40 ribu orang, apakah Baekjae mengetahuinya sekarang?

Huk-gae berpikir kalau itu pertanyaan yang sangat bodoh dan mengatakan kalau semua orang di Baekjae Timur dan Barat pasti sudah tahu sekarang. Damdeok kemudian bertanya apakah Huk-gae berpikir kalau Ho-gae akan menang melawan sebuah pasukan yang telah mempersiapkan diri dengan baik dan juga bala-bantuannya telah siap?

Huk-gae berkata dengan bangga dan mengatakan meskipun ia tak menyukai Ho-gae, tak seorangpun dapat mengalahkan pasukan yang dibawa oleh Ho-gae.

Damdeok menatap pada Huk-gae dengan tenang dan bertanya sekali lagi apakah ia pikir kalau Ho-gae akan menang? Sekarang Huk-gae tetap diam karena ia tahu di dalam hatinya, kalau kemenangan akan sangat sulit untuk diraih, dan terus terang saja, Ho-gae mungkin akan kalah melawan gabungan pasukan Baekjae.

Lalu kemudian Damdeok dengan pandangan menggoda bertanya lagi, “Ia akan menang (khan?)”.

Di jalanan, para pemain sandiwara sedang mengadakan pentas yang memuji Ho-gae dan mengatakan kalau ia akan menundukkan Baekjae hanya dengan sekejap mata. Rakyat sangat mendukung Ho-gae.

Damdeok berencana akan melakukan penyerangan di propinsi yang mana tidak akan diharapkan sama sekali.

Huk-gae sangat bersemangat dan bertanya apakah mereka akan berperang?

Damdeok kemudian mengatakan, ketika propinsi diserang, maka para prajurit akan segera bergegas untuk kembali mempertahankannya, dan ia meminta Jenderal Kho untuk memberitahu Ho-gae bahwa mereka seharusnya menyerang pasukan Baekjae dari belakang ketika itu terjadi. Dengan demikian mereka dapat menyerang pasukan Baekjae dengan mendadak dan tanpa disangka-sangka oleh lawan dari belakang. Dan pada saat yang bersamaan, propinsi-propinsi yang tidak dipertahaknkan juga akan jatuh ke tangan pasukan Damdeok.

Huk-gae bertanya sekali lagi apakah mereka (pihak Damdeok) akan beperang juga?

Damdeok tersenyum dan mengatakan kalau mereka tak akan menyerang Hansung di Baekjae, tapi justru menyerang bagian tengah yang menghubungkan Baekjae Timur dan Barat. Jika mereka mampu melakukan ini, maka mereka akan memiliki akses ke laut.

Ini adalah rencana yang sangat cerdas, karena dengan memutus hubungan kedua wilayah dan mengendalikan laut, maka itu artinya Baekjae Timur tidak akan mendapatkan bantuan dari Baekjae Barat. Bukan hanya tak bisa mengirimkan pasukan bantuan tapi juga kemungkinan besar makanan dan semua barang yang penting tak bisa dikirim oleh Baekjae Barat sehingga Baekjae Timur harus bertahan sendiri.

Sementara itu di jalanan, pertunjukan sandiwara sedang memainkan sebuah adegan di mana Ho-gae menemukan Simbol Dewa di Baekjae dan pelindungnya mengatakan kalau ia telah menunggu kedatangan Ho-ga sangat lama. (Semua orang masih percaya kalau Ho-gae adalah sang Raja Jyooshin yang sejati). Semua penonton bertepuk tangan meriah.

Melanjutkan pertemuan, Damdeok kemudian mengumumkan kalau ia memiliki sebuah misi untuk Suku Chor No (Jeolno) dan si kepala suku sangat senang karena setelah lama mendengar rencana menyerang, ia pikir Damdeok akan memberinya perintah untuk turun berperang.

Damdeok: Pertama, kuminta kau pulang kembali ke wilayah Jeolno.

Huk-gae sangat terkejut, “Yang … Yang Mulia?” Ia seperti … apa maksudnya ini … kau tidak membiarkan aku berperang tapi justru menyuruhku kembali ke tempat asalku? ahahaha …. :D

Damdeok jelas tahu mengenai karakter orang ini dan berkata dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya, “Aku masih punya sesuatu yang harus kusiapkan.” Ia mengatakan ia tak bisa mengirim para prajuritnya ke medan perang sampai ia telah selesai menyiapkan segalanya.

Huk-gae berteriak padanya, apa yang harus dipersiapkan lagi … tak ada seorangpun pergi ke medan perang harus bersiap-siap dulu. Ck .. ck .. ck .. Si gendut ini memang berjiwa seorang pejuang tapi otaknya bukanlah seorang ahli strategi … ahahahah …

Damdeok menjawab kalau ia akan melakukan persiapan dan ia tak akan memulai sebuah perang kecuali ada keyakinan untuk menang. (Ini adalah perkataan yang sama persis dengan apa yang ia pernah katakan bertahun-tahun lalu kepada Jenderal Kho ketika ia mengetahui kalau ibu Ho-gae yang meracun ayahnya. Pada saat itu Damdeok memberitahu Jenderal Kho bahwa ia tak akan memulai sebuah perang kecuali ia yakin dapat memenangkannya.)

Pada saat itulah, Dong Gam masuk ke dalam dan mengatakan kalau Cheok-hwan dan para prajurit Gaema sedang menanti untuk menemui Damdeok.

Pertunjukan sandiwara masih berlanjut … dengan para pemain sandiwara mengejek Damdeok sebagai seorang pengecut. Si pria pendek dari desa Geo-mool berjalan pergi dengan penuh amarah …

Damdeok keluar menemui Pasukan Gaema, dan sekali lagi ia tak duduk di atas kursi takhta, tapi justru duduk di tangga di depan pasukan Gaema. Pasukan Gaema sangat menghormati Damdeok.

Cheok-hwan memberitahu Damdeok mengenai sejarah Pasukan Gaema sebagai sebuah pasukan elit … Cheok-hwan mengatakan kalau mereka akan mengikuti sang Raja dan kapanpun Raja akan turun berperang, mereka akan menemaninya. Tapi karena sekarang sang Raja tidak bermaksud untuk berperang … ia meminta agar Damdeok mengijinkan mereka untuk bergabung dengan pasukan Ho-gae, karena itu akan menjadi celaan dan sangat memalukan jika pasukan Gaema tak ada di sana saat peperangan berlangsung.

Damdeok mendengarkan dengan diam, dan kemudian berkata … tentu saja pasukan Gaema tidak boleh dipermalukan dan dihina. Lalu ia bangun dan menepukkan tangannya pada bahu Cheok-hwan, mengatakan kalau ia tidak memikirkan posisi Gaema. Ia memberikan ijin pada Pasukan Gaema untuk bergabung dalam perang dan sebuah pesan akan dikirim pada Ho-gae agar menunggu mereka sebelum menyerang.

Cheok-hwan sangat tergerak hatinya dan merasa berterima kasih. Ia mungkin berpikir kalau Damdeok tak akan menyetujui usulannya dengan semudah itu.

Tapi sebenarnya ini justru sesuai dengan rencana Damdeok karena ia ingin menunda Ho-gae berperang selama mungkin. Ia memberitahu Jenderal Kho untuk menunda keberangkatan Pasukan Gaema selama mungkin yang ia bisa, untuk memberikan kesempatan bagi Damdeok melaksanakan rencananya.

Seorang pembawa pesan tiba dan menyampaikan sebuah pesan pada Ho-ge bahwa sang Raja telah melepaskan Pasukan Gaema untuk bergabung dengannya dan ia harus menunggu kedatangan mereka sebelum mulai menyerang. Ini terdengar bagus bagi Ho-gae karena sepertinya sebuah pengakuan kalah dari Damdeok, tapi para jenderal Ho-gae tampak tak senang dan tidak setuju karena itu artinya pasukan Baekjae akan memiliki waktu untuk mempersiapkan diri sementara mereka menunggu Pasukan Gaema.

Ho-gae masih ragu-ragu tapi kemudian si pembawa pesan mengatakan kalau ada pesan lain yang berasal dari keluarganya. Pesan itu adalah Pasukan Gaema akan datang bersama dengan pemilik Joojak (Ki-ha).

Ini adalah faktor yang paling menentukan. Ia mungkin tak akan menunggu kedatangan Pasukan Gaema, tapi ia akan menunggu demi Ki-ha.

——————–

Sekedar pemberitahuan bahwa Episode 13 tidak ada sinopsis bahasa inggrisnya jadi aku harus buat dari awal, mungkin paling lambat besok lusa baru keluar >.<

About these ads

4 comments on “The Legend [Tae Wang Sa Shin Gi] – Episode 12

  1. Ya.. Gue dukung..
    Kalau bisa secepatnya ya…
    Udah ga sabar nih..
    Habis di LBS film nya kemalaman, jadi susah nonton…
    So.. Gue akan setia menanti kelanjutan kisahnya…

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s