The Return Of Iljimae – Episode 14

Setelah pengakuan di episode sebelumnya, ketika Iljimae menjelaskan pada Wol-hee kalau Dal-yi sangat berarti baginya, suasana menjadi tegang diantara mereka. Wol-hee berkata pada Iljimae dengan nada dingin jika mereka bisa membatalkan pernikahan mereka, sebab, “Aku tidak ingin menjadi bayangan bulan. Aku ingin menjadi bulan yang dipandangi oleh seseorang.” Iljimae sangat kaget. Keol-chi, tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka, meminta Iljimae untuk tidak menunda rencana pernikahan.

 

 

Pemanah misterius yang sebelumnya menolong Iljimae kini muncul lagi. Dia tidak menyebutkan siapa namanya tapi dari episode sebelumnya dia menyebut dirinya Yang-po. Dia menuntun polisi ke rumah Wol-hee dan mengatakan pada mereka untuk mencari bukti keberadaan Iljimae disana. Bertindak sesuai perintah, polisi masuk meski Wol-hee protes, dan mencari-cari ke seluruh sudut rumah sampai menemukan alat2 pembuatan metal yang Iljimae gunakan untuk membuat bunga plum emas. Mereka menyita bukti itu dan menyeret Wol-hee ke markas polisi. Ketika Cha-dol melihat Wol-hee ditarik di jalan desa, Wol-hee membisikkan pesan pada Cha-dol untuk disampaikan pada Iljimae.

 

 

Wol-hee dibawa kehadapan Petugas Gu Ja-myung, yang kaget pada kemiripan Wol-hee dengan Dal-yi. Faktanya, petugas lain juga kaget sebab dia tahu bila Dal-yi sudah meninggal. Wol-hee bersikeras kalau dia bukan Dal-yi; dia Wol-hee. Meski begitu, Wol-hee melindungi Iljimae dengan mengatakan kalau dia sama sekali tidak ada hubungan apa2 dengan Iljimae. Akan tetapi, Gu Ja-myung menyadari kalau ini bukan hanya sekedar kebetulan kalau gadis yang mirip sekali dengan Dal-yi berhubungan dengan Iljimae. Gu menyimpulkan kalau Wol-hee adalah kekasih Iljimae dank arena itulah berbohong untuk melindungi Iljimae.

 

 

Ketika Iljimae tiba di rumah, Cha-dol memberitahunya apa yang terjadi dan mengatakan peringatakan Wol-hee untuk kabur. Iljimae mengambil beberapa benda dan kabur dengan Keol-chi, sedangkan Cha-dol menutupi pelarian mereka dengan memberitahukan arah yang berlawanan pada polisi. Sedangkan, Perdana Menteri Kim mendengar berita terbaru, dan berlawanan dengan harapan sebelumnya, dia tidak senang bila Iljimae segera ditangkap. Meski Iljimae senang Iljimae ditangkap dan mengembalikan emasnya yang dicuri, dia menyadari bahaya melibatkan pemerintah – jika Iljimae ditangkap dan mengakui kebenarannya, banyak bangsawan akan mendapat kesulitan karena korupsi.

 

Saat Wol-hee dibawa kehadapan hakim untuk ditanyai lebih lanjut, dia tetap pada pengakuannya kalau dia tidak kenal Iljimae. Ini pernyataan yang tidak meyakinkan dan Wol-hee akan disiksa, tapi Gu menjadi perantara. Dia membuat pernyataan sah sebab mereka tidak punya bukti nyata hubungan Wol-hee dengan Iljimae. Petugas yang lain mengiyakan keraguan urusan Iljimae – semua orang tahu apa yang dia lakukan tapi tidak ada yang punya bukti sebab semua korbannya adalah bangsawan yang menyangkal segalanya sedangkan sifat deramawan Iljimae melindunginya. Untuk itu, mereka harus memprioritaskan untuk menangkap Iljimae.

 

 

Gu bicara dengan Wol-hee secara pribadi, menyebutkan kemungkin Iljimae akan menyelamatkannya. Karena Wol-hee masih waspada pada Gu, maka Gu percaya pada Wol-hee untuk memperoleh kepercayaan Wol-hee: Gu telah berjanji pada ibu Iljimae untuk membuat Iljimae dan ibunya bersatu kembali. Untuk itu, Gu harus menemukan Iljimae terlebih dahulu – sebab kalau orang lain yang bisa menangkap Iljimae terlebih dahulu, Gu tidak akan bisa melakukan apa2.

 

Wol-hee berkata dengan sedih, “Tidak ada alasan baginya untuk tertangkap. Dia sudah kabur.” Seolah-olah dia sudah bisa menerima bila Iljimae meninggalkannya. Gu tidak berpikir demikian, “Iljimae yang aku kenal bukanlah orang yang seperti itu. Dia mungkin akan datang kesini untuk menyelamatkanmu.” Sambil menangis, Wol-hee mengatakan kalau Iljimae tidak akan datang kesini untuk menyelamatkannya sebab dia bukan kekasih Iljimae. Wol-hee berkata, “Aku bukan satu2nya orang dalam hati Iljimae.”

 

 

Iljimae mengintai di sekitar desa untuk mencari informasi, dimana Yang-po sang pemanah menemuinya dan bertanya, “Apa kau mencari informasi tentang Wol-hee?” Iljimae berbicara pada Yang-po dengan campuran rasa frustasi pada ketidakmampuannya melakukan apa2 dan keharusan untuk menemukan cara menyelamatkan Wol-hee. Yang-po tetap tutup mulut soal identitasnya yang sebenarnya, berkata kalau dia hanya membantu. Dia memberitahu Iljimae tentang rencana polisi untuk memindahkan Wol-hee dari penjara ke divisi lain yang menangani kejahatan yang lebih tinggi.

 

Saat Yang-po menyinggung kalau ada ‘orang lain’ yang sedang menunggunya, Iljimae langsung setuju untuk bertemu orang itu, tapi Yang-po merasa kalau Iljimae berkata begitu karena rasa depresinya dan tidak mempercayai kebohongan itu. Yang-po menambahkan, “Ada wanita selain Wol-hee yang juga menangis, sejak dulu.”

 

Iljimae semakin kesal dengan perbincangan tidak jelas ini (Yang-po menyuruh Iljimae untuk menunggu) tapi dia tidak bisa menyangkal kebenaran peringatan Yang-po kalau akan sangat bodoh untuk masuk dan menyelamatkan Wol-hee sendirian. Tanpa menghiraukan peringatan itu, Iljimae membuat keputusannya untuk bertindak. Malam itu, dia mengeluarka penyamarannya dan bersiap-siap untuk mengeluarkan Wol-hee dari penjara. Keputusan itu tidak muncul dengan mudah – Iljimae menangis saat berkata, “Aku akan menyelamatkannya dan mati sendiri.”

 

Gu Ja-myung mengharapkan Iljimae datang untuk menyelamatkan Wol-hee, tapi dua bawahannya menentang hal ini. Soo-ryun khusunya menghentikan Gu – Gu harus menyerahkan penangkapan Iljimae kepada mereka yang berwenang, sebab meski Gu menemukan Iljimae, takdirnya sudah ditutup. Soo-ryun mengatakan pada Gu, “Yang bisa anda lakukan sekarang adalah menunggu.” Ketika Wol-hee diarak dalam kurungannya, Bae dan Cha-dol juga muncul, bertanya-tanya apakah Iljimae akan muncul. Mereka tahu kalau Iljimae punya hubungan dengan Wol-hee tapi tidak tahu seberapa dalam hubungan itu. Bae berkata, “Kita akan tahu seberapa dalam hubungan mereka ketika kita melihat Iljimae datang atau tidak.”

 

Iljimae benar-benar muncul dan menggunakan shuriken-nya untuk menyerang tentara di garis depan dan menakuti sisanya. Wol-hee mendengar suara Iljimae dari bawah penutup kepalanya, yang kemudian dipindahkan ketika Iljimae membuka kurungan itu dan membebaskannya. Iljimae berkata, “Sekarang sudah tidak apa-apa.” Iljimae menuntun Wol-hee ke seekor kuda dan benar2 melakukan hal yang manis ketika Iljimae mengatakan pada Wol-hee kalau dia memutuskan untuk mengejar bulan yang masih hidup ketimbang bayangan bulan, mengulangi perkataan Wol-hee sebelumnya.

 

 

Iljimae meminta Wol-hee untuk segera ke gua dimana Keol-chi menunggu dan membuat kuda itu menderap menjauh. Iljimae lalu beralih ke sisa tentara yang ada dan dengan gaya khasnya dia menjatuhkan mereka untuk dapat dengan mudah melarikan diri. Tapi sesuatu yang aneh terjadi kali ini. Setelah mendengar suara drum, Iljimae tersandung. Kelihatannya suara drum itu membuat Iljimae sakit. Suara itu membuatnya mengingat kenangan akan Dal-yi.

 

 

Penjaga yang terlukan menyadari kalau Iljimae sedang lemah dan berkumpul untuk menangkapnya ketika Iljimae jatuh. Mereka akan menangkapnya ketika Yang-po muncul, memanahkan anak panahnya ke panjaga yang paling dekat. Dia mengangkap Iljimae yang tidak sadar ke pundaknya dan memperingatkan petugas kalau mereka mengikuti, mereka akan menemui takdir yang bahkan lebih buruk. Ketika Iljimae sadar, dia menjelaskan apa yang terjadi setelah mendengar bunyi drum, dan bagaimana kilas balik akan eksekusi Dal-yi menyedot tenaganya. Yang-po telah melihat ini terjadi di medan perang, dimana ingatan yang menyakitkan bisa memberikan efek fisik pada seseorang setelah bertahun-tahun.

 

 

Iljimae sudah dua kali ditolong oleh Yang-po tapi dia masih tetap curiga. Kecurigaan Iljimae bertambah waktu mendengar Yang-po bergumam, “Negara ini mungkin akan segera dipenuhi oleh orang seperti itu.” Iljimae bertanya dengan kaget, “Apa kau berkata kita akan segera berperang?” Yang-po sadar dia mungkin sudah berkata terlalu banyak dan mulai pergi. Iljimae menghentikannya dengan marah sebab dia sudah lelah penasaran seperti ini dan menginginkan jawaban nyata. Tapi Yang-po sama sekali tidak peduli pada ancaman Iljimae dan hanya berkata, “Meski kau tidak berusaha mencari tahu, kau akan tahu pada saatnya nanti.”

 

 

Baek-mae akhirnya tiba di kota dan bersiap-siap untuk masuk ke gerbang. Dia melihat seorang pria muda diinterogasi oleh pihak berwenang dan mendengar dari wanita terdekat kegiatan terbaru Iljimae – seperti mengeluarkan kekasihnya dari penjara – telah membuat petugas pemerintah waspada tinggi. Untuk itulah waktu Baek-mae berjalan ke pasar, dia melihat Iljimae lewat, dan memberikannya peringatan ramah agar dia mengambil jalan yang lain – semua pemuda dicurigai dan dia harus berbuat yang terbaik agar tidak diperiksa. Baek-mae sama sekali tidak tahu kalau pemuda yang ada dihadapannya adalah putra kandungnya sendiri.

 

 

Baik Wol-hee dan Keol-shi benar2 merana sebab telah menunggu Iljimae semalaman dengan gelisah untuk bergabung dengan mereka. Wol-hee ingin mendapatkan lebih banyak informasi tapi Keol-chi menolak untuk membiarkannya pergi – terlalu berbahaya baginya untuk muncul. Keol-chi menawarkan diri untuk keluar, tapi detik berikutnya, Iljimae tiba. Wol-hee bergegas ke arah  Iljimae dan memeluknya, menangis saat dia meminta maaf kalau semua ini adalah salahnya. Iljimae memandang Wol-hee untuk beberapa saat lalu menciumnya dengan hangat.

 

 

Sekarang semuanya sudah selamat, Iljimae dan Wol-hee menikmati waktu bersantai bersama, dan Wol-hee memberitahukan Iljimae tentang pertemuannya dengan Gu Ja-myung. Mendengar ibunya disebut tidak membuat Iljimae kaget. Dia tahuu ibunya tinggal di suatu tempat tapi sekarang sudah tidak lagi. Mendengar kalau mengatakan Baek-mae sedang dalam perjalanan kemari, Iljimae baru tertarik perhatiannya. Dengan segera, dia ingin keluar untuk bicara dengan Gu, mengabaikan permohonan Wol-hee dan Keol-chi agar dia tinggal disini, sebab dia sedang menuju bahaya. Tapi Iljimae tidak bisa diam; tahu ibunya sedang berada dalam jarak yang dekat, dia harus tahu lebih banyak lagi.

 

 

Ketika Baek-mae tiba di markas polisi, dia kembali lagi sebab Gu sedang pergi keluar dan sangat kaget waktu mendengar dari salah satu petugas kalau Gu keluar untuk menangkap Iljimae. Gu dan Soo-ryun tiba saat Baek-mae akan pergi, tapi kegembiraan Gu melihat Baek-mae dibayangi sebab Baek-mae melihat ke tempat orang yang dibawa Gu dan Soo-ryun. Baek-mae melewati Gu dan bertanya pada pria itu, “Apa kau Iljimae?”

 

 

Baek-mae bertanya-tanya seperti apa Iljimae sekarang. Dia mungkin sudah menebak, sebab dia tidak terlalu kaget pada jawaban Gu bahwa karena Iljimae sekarang seorang penjahat, penangkapannya bisa mengarah ke kematian. Baek-mae menyelesaikan pikiran itu, “Dan menangkap Iljimae adalah tugasmu.” Akan tetapi, Gu masih memegang janjinya untuk menyatukan mereka berdua. Baek-mae bertanya dengan pahit, “Jika dia tidak bisa hidup, apa artinya bertemu dengannya?” Tapi Gu menjamin kalau dia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa Iljimae dan meminta Baek-mae untuk mempercayainya.

 

Soo-ryun mengajak Baek-mae ke rumah Gu untuk beristirahat dan memberitahu Baek-mae bagaimana Gu sudah mempersiapkan segalanya untuk menunggu kedatangannya. Soo-ryun berkata, “Ini untuk pertama kalinya aku melihat dia begitu bahagia.” Baek-mae memikirkan kata2 Gu dan bertanya apa maksud Gu tentang akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa Iljimae. Baek-mae mengatakan kekhawtirannya, “Jika satu hidup, maka yang lain harus mati, apa begitu?”

 

Soo-ryun mengatakan iya, tahu karakter Gu, mungkin itu yang dia maksud. Akan tetapi, Soo-ryun memperingatkan Baek-mae kalau sesuatu terjadi pada Gu maka dia tidak akan memaafkan Iljimae. Sambil menjelaskan, Soo-ryun menghubungkan cerita tentang hidupnya sendiri: dia belajar seni bela diri dari ayahnya bersama dengan kakaknya, yang dibunuh tanpa tahu kesalahannya apa. Tidak hanya itu, sang pembunuh malah lulus ujian negara dan diangkat menjadi pegawai negeri yang dihormati.

 

 

“Tapi aku membunuhnya!” Soo-ryun menjelaskan. Gu maju dan membelanya sebagai korban dari ketidakadilan dan dengan begitu menyelamatkan nyawanya. Dia telah melayani Gu sejak saat itu. Untuk itu, Soo-ryun berkata, “ Jika sesuatu terjadi pada Gu, aku tidak akan memaafkan Iljimae!” Baek-mae mengerti dan bertanya pada Soo-ryun putranya mirip siapa. Soo-ryun menjawab, “Dia mirip dengan ibunya.” Selagi Baek-mae menunggu, dia melihat-lihat dan memutuskan untuk menyiapkan makan malam. Demikianlah, ketika Gu memeriksa kembali markas, Soo-ryun memberitahunya kalau Baek-mae sedang menunggu di rumah dan membuatkannya makan malam – dan kalimat sederhana ini membuat Gu begitu girang. Gu berujar, “Apa kau bilang makan malam? Un-untukku? Makan malam?”

 

 

Reaksi Soo-ryun cukup lucu sebab dia bergumam setangah hati, “Ya.” Gu segera pulang ke rumah dan tiba dengan harapan membuncah, tapi ketika dia melihat kalau tidak ada sepatu di luar, dia mulai kecewa. Dia melihat ke seluruh rumahnya dan sama sekali tidak ada aktivitas apapun. Dan ketika dia melihat makan malam sudah tersaji, dia terpukul – Baek-mae telah pergi. Gu berlari untuk menemukan Baek-mae, untuk sekali saja bersikap tidak setenang biasanya dan meneriakkan nama Baek-mae. Setelah mencari dengan tidak sukses, dia harus mengakui kekalahannya.

 

 

Sedangkan, Wang Hweng-bo dan mantan bos gang Bongsuni sudah kembali. Berita bagusnya, karena Iljimae menciptakan banyak keributan, tidak ada yang peduli pada mereka lagi. Wang sendiri lelah berada di dalam ruangan dan bos Bongsuni berpikir sudah waktunya membuat gang baru. Mereka kekurangan anggota tapi ada satu tempat yang menyediakan banyak anggota bagi mereka: penjara. Sekarang penjara sedang penuh dengan pencuri yang ditangkap saat penyerangan terakhir, yang ternasuk di dalamnya Sung-kae.

 

 

Dan malam itu, Iljimae terlihat lagi. Petugas membunyikan alarm karena bandit berbaju dan bertopeng hitam muncul lagi dan mereka menyiapkan penyerangan. Hanya saja, orang ini terlihat sedikit berbeda…

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

The Return Of Iljimae – Episode 13

Gudang Sohn si jahat dikoosngkan, baik itu dari bangsawan Choi yang disekap disana dan juga harta2 yang disimpan disana. Dibawa ke tempat yang aman, Choi berterima kasih pada Iljimae atas bantuannya, sedangkan putrinya, Kyung-ok terlihat merindukan ayahnya. Malam itu, Kyung-ok menggumamkan nama Iljimae dalam tidurnya lalu bangun mendadak dan menyadari kalau Wol-hee telah mendengarkan. Ketimbang membuat alasan, Kyung-ok melakukan pendekatan langsung dan bertanya pada Wol-hee tentang Iljimae, bagaimana dia bisa mendapatkan nama yang aneh seperti itu.

 

 

Pertanyaan ini membuat Wol-hee tidak nyaman khususnya karena Wol-hee tidak tahu jawabannya. Kyung-ok membuat pernyataan kalau itu sangat aneh – apakah Wol-hee tidak penasaran? Bagaiamana Wol-hee bisa menikah dengan pria tapi tidak tahu asal usul pria itu? Kalau itu dia, maka dia akan mencari tahu. Wol-hee beranjak keluar dan menemukan Iljimae menggelar tikarnya disana ketimbang di kamarnya sendiri.

 

 

Iljimae berpikir suasananya akan nyaman bagi Choi bila ruangannya tidak penuh. Wol-hee sedikit terganggu pada sindiri Kyung-ok jadi dia berkata pada Iljimae rasanya aneh Iljimae terganggu melakukannya ketika dia menghabiskan malam dengan Kyung-ok di gua. Iljimae tertawa dan berkata kalau dia lebih baik menghabiskan malam diluar saja.

 

 

Ketika ditanya soal pertemuan dengan Yeol-gong, Iljimae mulai mengaku tentang apa yang dikatakan Yeol-gong dan tentang Dal-yi… tapi dia menghentikan dirinya, dan malah meminta Wol-hee untuk bermain kecapi. Setelah Wol-hee memainkan kecapi untuk Iljimae, mereka menghabiskan waktu dengan membaca nasib masing2, saling bercanda berapa banyak anak yang akan mereka miliki.

 

 

Mimpi buruk Iljimae masih saja kembali dan Iljimae dikunjungi oleh lebih banyak kenangan eksekusi Dal-yi. Iljimae yang bergumam dalam tidurnya membuat Wol-hee khawatir lalu membangunkan Iljimae. Meski dia berkata kalau dia baik2 saja, tapi Iljimae berkeringat dingin dan suhu badannya tinggi. Iljimae menyingkirkan tangan Wol-hee ketika Wol-hee memeriksa dahinya.

 

 

Pagi artinya waktu bagi Choi dan putrinya untuk pergi. Choi berterima kasih pada Iljimae dan siap untuk pergi, tapi Kyung-ok, dalam suasana hati muram, tidak bergerak sama sekali untuk bergabung dengan ayahnya. Menebak masalahnya, Wol-hee menangani gadis itu, mengatakan kalau Kyung-ok naksir Iljimae. Kyung-ok mengakui kebenaran itu dan mengejutkan semua orang dengan memohon untuk diijinkan tetap tinggal: “Aku tahu aku seharusnya tidak mengatakan ini, tapi jika bukan untuk Iljimae, aku pasti sudah diinjka oleh Sohn Seok-joo dan mati. Biarkan aku bersama Iljimae.”

 

Choi tentu saja sangat ingin menjadikan Iljimae menantunya, dan mata beralih pada Wol-hee, yang menjawab kalau Kyung-ok harus bertanya sendiri pada Iljimae. Iljimae sendiri tidak menjawab pertanyaannya dan malah meminta kedua orang itu bergegas. Choi kecewa tapi menerima hal ini; Kyung-ok tidak rela dan ikut di belakang dengan suram.

 

 

Iljimae menunjukkan arah yang tepat pada Choi, karena mereka akan meninggalkan Hanyang untuk daerah yang lebih aman, dan untuk kebaikan Choi sendiri. Iljimae memberitahu bangsawan itu kalau dia akan menghukum Sohn dengan pantas, lalu memberi Choi sejumlah uang untuk perjalannya. Ketika Kyung-ok terus menyeret kakinya, Iljimae memberitahu gadis itu apa yang akan dia lakukan: dia akan membunuh Sohn Seok-joo, memotong tubuhnya dan memberikannya pada anjing. Orang macam inilah Iljimae jadi Kyung-ok lebih baik pergi dengan ayahnya saja.

 

 

Wol-hee tertawa ketika dia mendengar ini, sebab dia berpikir Iljimae mengarang alasan terlalu jauh untuk membohongi Kyung-ok. Setelahnya, Iljimae hanya perlu mengatakan kalau dia (Wol-hee) adalah satu2nya wanita baginya. Iljimae tidak merasa keadaan itu lucu, meski dia memang ingin mengatakan itu untuk menakuti Kyung-ok, tapi itu juga tidak sepenuhnya bohong. Dia benar2 ingin membunuh Sohn. Wol-hee kaget pada pernyataan ini.

 

Gu Ja-myung telah memerintahkan anak buanya untuk mengawasi Cha-dol dan Bae kalau2 mereka mengarahkan ke bukti keberadaan Iljimae. Rasa perhatian Gu ini adalah bentuk rasa sayang Gu sebagai seorang ayah – dia harus menghentikan Iljimae menyerang bangsawan/orang kaya korup sebab hal itu hanya akan berakhir buruk. Di sisi lain, Baek-mae sedang dalam perjalan ke Hanyang untuk bergabung dengan Gu dan dia tentu ingin menemukan putra Baek-mae. Itu artinya, Cha-dol dan Bae mendapati dirinya terjebak di dalam rumah, sebab kalau mereka keluar mencari Iljimae, mereka mungkin akan membuatnya tertangkap. Mereka sangat ingin bergosip tentang pahlawan mereka, jadi ketika penjaja garam tiba di gerbang mereka, mereka meminta info pada pria itu.

 

 

Sang penjaja garam telah mendengarkan beberapa info, sebab temannya adalah salah satu pelayan di rumah Sohn – tapi dia menghentikan keingintahuan Cha-dol dan Bae soal gossip dan menahannya sampai mereka berjanji untuk membeli garam dalam jumlah besar sebagai ganti info yang dia berikan. Mereka dengan enggan membeli garam dan penjaja itu mengatakan bangsawan Choi lolos dari rumah Sohn dan semua itu berkat Iljimae.

 

 

Yeol-gong kaget mendengar keputusan Iljimae untuk membunuh Sohn. Dia memperingatkan Iljimae meskipun maksudnya baik tapi Iljimae harus menahan dirinya. Iljimae mengingatkan kalau dia sudah memilih jalur yang benar – dia bukan orang yang haus darah tapi dia berpikir dengan jujur kalau itu adalah cara yang terbaik untuk menyingkirkan orang yang sudah banyak menyakiti orang lain. Iljimae mengatakan pelajaran yang dia peroleh dari ayah angkat Dal-yi kepada Yeol-gong bahwa satu orang menemukan jalannya melalui orang lainnya, cara pedang adalah dengan pedang, bertarung melalui bertarung. Dia sendiri belajar semua seni bela diri untuk menghabisi orang macam Sohn.

 

Biksu itu mengatakan kalau Iljimae tidak boleh membohongi dirinya sendiri – itu hanya alasan bagi Iljimae untuk menjalankan keinginan pribadinya. Iljimae dalam diam bertanya-tanya motif pribadi apa yang dia miliki untuk membunuh Sohn? Biksu menantang, “Apa kau belum menyadarinya? Atau kau berpura-pura tidak tahu?” ketika Iljimae bersiap-siap pergi malam itu, Wol-hee bertanya apakah Iljimae harus pergi – dia takut. Apakah tidak ada cara lain untuk menagakkan keadilan? Wol-hee berkata, “Aku tahu kenapa kau melakukan ini. Kenapa kau harus melakukannya?”

 

 

Mungkin Iljimae sudah tahu tapi belum benar2 dia sadari jadi dia sama sekali tidak berkomentar apa2. Oleh karena itu, dia kaget waktu Wol-hee berkata padanya, “Ini karena Dal-yi.” Kalimat ini menghentikan Iljimae dan mereka pun duduk untuk bicara. Wol-hee mengingatkan Iljimae pada kata2 pertama yang dia ucapkan padanya – dia memanggilnya Dal-yi. Ketika Iljimae pergi setelah pertemuan pertama mereka, Wol-hee tidak bisa melupakan Iljimae atau pun nama yang Iljimae gunakan untuk memanggilnya.

 

Khawatir karena Iljimae mungkin tertangkap, Wol-hee membuka telinganya dan mendapatkan info kalau gadis bernama Dal-yi telah dieksekusi secara tidak adil. Wol-hee berkata, “Ini karena Dal-yi, kan. Gadis yang mirip denganku hingga kau takut orang lain akan mati dengan sia-sia. Itu yang kau takutkan.” Iljimae menjawab, “Iya. Dal-yi meninggal karena plot konspirasi. Dia meninggal bahkan ketika dia tidak tahu hal salah apa yang sudah dia perbuat.”

 

 

Iljimae tetap pergi tapi itu bukan tanpa rasa ragu; dia berhenti beberapa saat tapi mengubah pikirannya lagi dan melanjutkan misinya. Seorang polisi yang jahat datang ke rumah Sohn dan percakapan mereka jelas: “Kenapa anda memanggil saya, Tuan?” Aku pikir kau ingin bertemu denganku.” Tapi pria tampan ini datang untuk membawa pesan untukmu…”

 

 

Iljimae menginterupsi dengan berkata, “Itu aku.” Dia datang kesini untuk menghukum mereka berdua – petugas itu karena disuap oleh Sohn dan Sohn atas semua perbuatan jahat yang telah dia lakukan, termasuk rencananya untuk menculik anak Choi. Ketika para pria itu ketakutan dihadapannya, Iljimae memegang pedangnya hingga ke leher petugas polisi itu… kemudian menggoreskan sedikit luka di lehernya. Iljimae mengampuni hidup petugas itu, memperingatkan agar petugas itu menjalani hidup yang lurus mulai dari sekarang.

 

 

Bernafas lega, petugas itu berterima kasih pada Iljimae. Sohn berpikir kalau dia akan dilepaskan dengan mudah juga, tapi Iljimae berkata kalau kejahatan Sohn sepuluh kali lebih buruk dan menghasilkan hukuman yang lebih besar. Jadi saat Iljimae memandang keliling untuk beberapa saat, Sohn meraih tombaknya dan menyerang; kedua pria itu bertarung hingga ke halaman.

 

Dengan membeli tumpukan garam, Bae dan Cha-dol mendapati kalau Iljimae mungkin akan muncul malam ini, dan melihat saat Sohn mengumpulkan anak buahnya untuk memerangi Iljimae. Bae memperhatikan kalau ini bukan pelayan biasa tapi sebenarnya adalah tentara yang sudah terlatih – salah satunya adalah petarung yang ahli dengan tombaknya, bahkan mungkin lebih kuat dari si ahli wal-do dari episode sebelumnya.

 

 

Sohn menyerahkan senjatanya ke si ahli tombak, membiarkan petarung itu yang meladeni Iljimae sedangkan dia mencari tempat yang aman. Pertarungan satu lawan satu. Selama pertarungan ini, Bae dan Cha-dol menggigit kuku mereka karena khawatir akan keselamatan Iljimae – dia membela dirinya dengan baik tapi pria dengan tombak itu terlihat sangat kuat. Akan tetapi, Iljimae benar2 tahu bagaimana menggunakan sis lemah lawannya dan memindahkan pertarungan itu ke dalam ruangan yang membuat gerakan tombak menjadi terbatas. Dia menjebak tombak itu dan menendang sang petarung, membuatnya kalah.

 

Iljimae beralih ke Sohn, membuatnya khawatir dan menyuruhnya untuk meminta anak buahnya menjatuhkan senjata mereka. Sambil gemetaran, Sohn menuruti, dan anak buah Sohn pun menjatuhkan senjata mereka. Sohn memohon agar nyawanya diampuni, dan terlihat untuk beberapa saat kalau Iljimae benar2 tidak punya belas kasih. Tapi dia berhenti menyerang pada saat2 terakhir, dengan penyesalan yang sangat besar. Iljimae tidak akan membunuh Sohn tapi dia juga tidak akan membebaskannya.

 

Menarik sesuatu dari sakunya, Iljimae menyalakan benda itu – granat kuno – dan melemparkannya ke gudang Sohn yang membuat segalanya terbakar. Dia lalu memperingatkan Sohn bahwa kalau dia tidak berubah, Iljimae benar2 akan membunuhnya lain kali. Dia meninggalkan bunga plum-nya sebagai kompensasi untuk semua perbuatan illegal yang baru saja dia lakukan dan membiarkan Sohn meratapi kehilangannya.

 

 

Petugas Gu menerima berita tentang kebakaran di rumah Sohn dan bergegas ke tempat kejadian dimana dia menemukan Bae dan Cha-dol sedang mengintai. Mereka mencoba untuk kabur tapi Gu menghentikan mereka, bertanya apakah Iljimae yang memicu kebakaran ini. Gu memerintahkan anak buahnya untuk memadamkan api itu dan membawa kedua orang ini ke markas. Perdana Menteri Kim juga tahu soal kebakaran ini dan keterlibatan Iljimae. Kim merasa kalau ini sangat menarik dan jelas Iljimae sangat ahli. Soo-ryun melaporkan balik pada Gu kalau kebakaran di rumah Sohn tidak ada detailnya. Faktanya, mereka bersikeras kalau kebakaran itu karena kecelakaan, tahu kalau mengatakan yang sebenarnya akan membongkar kejahatan mereka.

 

 

Tanpa ada arahan lagi, Gu beralih ke Bae dan Cha-dol dan bertanya bagaimana dia bisa bertemu dengan Iljimae. Karena mereka diintimidasi oleh petugas polisi dan tidak mau membuat Iljimae dalam masalah, mereka mengatakan kalau mereka tidak tahu – mereka hanya berusaha melihat Iljimae lewat keberuntungan. Gu kehilangan kendali! Jika ceritanya benar maka Iljimae telah menjadi buronan dan Sohn adalah orang yang sangat penting. Dia tidak hanya kaya tapi dia cukup berkuasan untuk menjadi pejabat pemerintah. Untuk itu, Gu harus menemukan Iljimae sebelum Sohn melakukan hal buruk.

 

 

Ketika Iljimae pulang ke Wol-hee yang menunggu, Iljimae mengatakan pada Wol-hee kalau dia tidak membunuh Sohn. Tapi Iljimae membakar rumahnya dan bahkan Iljimae kaget pada aksinya sendiri: “Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu.” Percakapan ini sangat bagus. Keduanya saling duduk. Wol-hee duduk di dalam sedangkan Iljimae di luar, dan keduanya menghadap ke arah yang berlawanan. Wol-hee mengakui kekhawatirannya demi keselamatan Iljimae, sebab dia tahu apa yang Iljimae lakukan atau kemana dia pergi. Setiap kali dia bertanya-tanya, bagaimana kalau Iljimae tidak akan kembali?

 

Wol-hee mengerti kalai Iljimae yakin pada apa yang dia lakukan – tapi malam ini, Iljimae berbeda: “Malam ini, kau adalah Iljimae yang tiga tahun lalu yang tidak dapat melupakan Dal-yi.” Hal ini membawa mereka kembali ke percakapan mereka sebelemnya. Penyerangan hari ini bukanlah untuk kebaikan yang paling besar tapi lebih kepada keperluan untuk memuaskan rasa takut Iljimae dan rasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan Dal-yi.

 

 

Berikutnya adalah segmen yang menakjubkan, percakapan Iljimae dan Wol-hee disela oleh percakapan Gu Ja-myung, Bae dan Cha-dol yang bermalam di markas polisi. Gu menceritakan cerita masa lalu Iljimae dan di saat yang sama Iljimae juga menceritakan tentang masa lalunya pada Wol-hee. Cerita mereka saling bersinergi dengan sangat indah.

 

 

Iljimae memulai ceritanya dari awal, dari saat ketika ayahnya yang bangsawan memperlakukan ibu Iljimae yang seorang budak dan membuangnya keluar serta meninggalkan Iljimae untuk mati. Ketika sampai di saat bagian tentang Dal-yi, Iljimae berkata, “Dal-yi adalah orang pertama di tanah Joseon yang tersenyum padaku dan membuatku tersenyum. Bagaimana bisa aku melupakan Dal-yi yang itu?” Di dalam ruangan, tidak terlihat oleh Iljimae, Wol-hee menangis tanpa suara. Begitu pula dengan Cha-dol yang tersentuh mendengar cerita tentang masa lalu Iljimae.

 

 

Dan akhirnya, Baek-mae tiba di luar Hanyang, perjalannya hampir selesai. Dia melewati jalan dengan pengelana lain tiba dari arah yang berlawanan, yang bercerita tentang pria yang dengan sengaja membakar rumah seorang bangsawan malam sebelumnya. Baek-mae kaget mendengar nama yang disebut, dan dia berbalik ke kedua pria itu dan bertanya, “Apa yang kau bilang dilakukan oleh Iljimae?”

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

The Return Of Iljimae – Episode 12

Kunjungannya ke biksu Yeon-gong telah memaksa Iljimae untuk memeriksa perasaannya dengan tidak nyaman, dan malam itu dia memimpikan Dal-yi. Pada awalnya, mimpi itu berisi kenangan indah yang dihabiskan bersama Dal-yi, dan Iljimae berkali-kali bergumam dalam tidurnya, “Rasanya hangat!” Tapi adegan dalam mimpi berubah menjadi berbahaya ketika Mimpi Dal-yi hilang, meninggalkan Iljimae sendiri, dan dia terbangun di gua, kesal.

 

Iljimae bermalam di gua dan kembali ke rumah baik Wol-hee maupun Keol-chi bertanya-tanya kemana Iljimae semalam. Iljimae tidak pernah memberitahu mereka, tapi mereka yakin kalau Iljimae pasti cukup aman. Berikutnya, Keol-chi mengeluh soal tugasnya – dia berpikir kalau karena Wol-hee setuju menikahi Iljimae, dia seharusnya tidak bekerja lagi, tapi Wol-hee tidak membiarkan Keol-chi bebas tugas.

 

 

Ketika Iljimae pulang ke rumah, Wol-hee menyapanya dengan ceria, berpikir kalau Iljimae telat pasti karena menghabiskan banyak waktu mengobrol dengan Yeol-gong. Jika Iljimae terlihat lelah dan kacau, Wol-hee sama sekali tidak berkomentar soal itu, malah, dia bertanya apa yang Yeol-gong katakan tentang keputusan mereka untuk menikah. Iljimae mulai menjawab yang sebenarnya – kelihatan untuk beberapa saat dia akan mengakui semua kebenaran itu, tapi dia menahan diri dan berkata kalau menurut Yeol-gong pernikahan itu ide bagus.

 

 

Di kota, Wang Hweng-bo menciptakan masalahnya sendiri. Masalah pencernaan membuatnya berkali-kali harus ke belakang sambil memegang perutnya yang sakit. Selagi dalam masalah pencernaan itu, dia dilihat oleh pria yang kemarin dulu dia curi. Jadi Wang harus segera kabur.

Karena merasa harus mendapatkan uangnya yang dicuri, pria itu memanggil polisi dan mengajak mereka ke rumah sewaan Wang Hweng-bo. Wang sendiri bersembunyi di pojok, tapi polisi malah menemukan teman Wang, mantan bos Bongsuni, yang punya kantong uang curian Wang. Polisi mulai menarik pemimpin Bongsuni itu, jadi Wang keluar dan menyelamatkan bos-nya. Betapa lelahnya Wang Hweng-bo menghadapi pria yang dia curi kantong uangnya, seolah-olah pria itulah yang memulai pertarungan. Wang mengembalikan uang pria itu dan memintanya untuk tidak mengikutinya lagi.

 

 

Iljimae tetap menjadi pendiam ketika dia, Keol-chi, dan Wol-hee pergi ke kota untuk berburu pakaian. Wol-hee tetap mempertahankan suasan bicara yang menyenangkan ketika mereka melihat-lihat. Tapi Iljimae sedang tidak mood berbelanja dan berbalik. Wol-hee mencoba mengajak Iljimae bercakap-cakap, lalu bertanya, “Apa aku berbuat salah?” Mereka diganggu oleh sebuah keributan. Seorang bangsawan sedang ditangkap.

 

 

Sesuatu tentang penangkapan ini memancing keingintahuan Iljimae dan dia beranjak untuk mencari tahu lebih banyak tentang keadaan ini. Wol-hee bergumam kalau Iljimae sudah menolong orang miskin – apa dia harus terlibat dalam semua hal? Ini dia masalahnya. Pria yang ditangkap adalah bangsawan Choi Sae-woon. Pria di sebelah kiri adalah mantan temannya, bangsawan kuat lainnya, Sohn Seok-joo. Konflik mereka seperti ini: Sohn adalah pria rakus dan Choi adalah teman yang dikhianati.

Sohn ingin menikahi putrid Choi yang cantik, Kyung-ok, yang tentu saja ditentang Choi. Sebagai balasan, Sohn membuat temannya diperiksa karena perbuatan kotor, tapi karena tidak banyak yang ditemukan, jadi Sohn memutar balikkan fakta untuk keuntungannya. Dalam sebuah percakapan tentang reformasi, Sohn menuduh Choi sebagai pengkhianat. Sebagai hasilnya, Choi dituduh melakukan konspirasi dan diseret. Ketidakhadiran Choi memberikan kesempatan bagi Sohn untuk mendapatkan Kyung-ok.

Iljimae mempelajari semua ini dan mulai menjalankan aksinya menegakkan keadilan yang merupakan pekerjaan termudahnya selama ini. Dia kebetulan lewat di depan rumah Choi ketika sekelompok orang sewaan Sohn mengintai di depan. Sebab mereka sedang bertugas, dan bertindak sebagai pengintai, mereka mencoba yang terbaik untuk melepaskan Iljimae pergi. Akan tetapi, Iljimae adalah penyerang yang pasif dan memulainya dengan perang kata2 untuk membuat pengintai ini kesal.

 

 

Pemimpin para orang sewaan ini mencoba mengendalikan emosinya dan membiarkan Iljimae pergi, tapi Iljimae tidak akan mundur. Tetap mempertahankan raut muka yang menyenangkan, Iljimae membuat yang lainnya lepas kendali. Iljimae jelas memenangkan pertarungan singkat yang terjadi, tepat ketika seorang wanita berteriak dari jarak yang tidak jauh. Sisa gang yang lain berhasil menculik gadis itu, jadi Iljimae mengikuti mereka ke hutan.

 

 

Iljimae menunggu saat untuk maju, tapi tidak mendapatkan kesempatan – pria misterius lainnya muncul untuk menghentikan gang itu. Pria itu membawa busur dan kotak anak panah, tapi dia mengejek kalau para penculik itu bahkan tidak memerlukan panah dan mengalahkan mereka semua dengan busurnya. Para penculik yang kalah kabur dan pria misterius itu mengatakan pada Iljimae kalau dia disini hanya sebagai pembantu. Mendengar ini, Iljimae merasa tidak nyaman sebab pria itu tahu identitasnya sedangkan dia tidak tahu siapa pria itu. Yang dia tahu, Pemanah Misterius ini bisa saja bekerja untuk seseorang.

 

 

Dipaksa untuk memberikan nama, pria itu menyebut dirinya Yang-po dan mengingatkannya kalau Iljimae punya banyak masalah untuk diselesaikan. Yang-po menunjuk gadis yang diculik itu lalu pergi. Gadis itu adalah Kyung-ok, putrid Choi, yang Iljimae bebaskan. Karena perlu tempat untuk melindungi gadis itu, Iljimae membawanya ke gua di gunung, dimana gadis itu bisa tinggal sampai Iljimae membebaskan ayahnya.

 

 

Setelah meminta Kyung-ok untuk tetap bersembunyi, Iljimae keluar dengan kostum ninjanya untuk mendapatkan informasi untuk misi penyelamatannya. Di luar rumah bangsawan Sohn, Iljimae menguping pembicaraan antara Sohn dengan kaki tangannya, yang menjelaskan detail usaha penculikan mereka yang gagal. Menyimpulkan bahwa penjahat itu adalah Iljimae, Sohn memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Iljimae.

Iljimae kembali ke gua untuk memeriksa keadaan Kyung-ok. Merasa sangat yakin kalau dia akan menyelamatkan ayah Kyung-ok besok, Iljimae mengatakan kalau Kyjung-ok harus tinggal disini untuk malam ini, dan beranjak pergi. Akan tetapi, Kyung-ok kelihatannya adalah makhluk yang masih muda sekali dan dia memohon pada Iljimae agar Iljimae tinggal di gua bersamanya. Dia takut sendirian, yakin kalau di luar sana ada binatang buas atau semacamnya.

Iljimae mencoba menjelaskan kalau ada orang yang menunggunya di rumah, tapi Kyung-ok begitu ketakutan hingga Iljimae mau bermalam di gua. Ini malam yang aneh: Iljimae membuat Wol-hee dan Keol-chi khawatir di rumah dan Kyung-ok mulai menyukai Iljimae dan untuk itulah dia merasa tidak nyaman bila dekat2 Iljimae. Karena tidak bisa tidur, Kyung-ok melewatkan malam itu dengan gugup. Mereka berdua hanya diam saja.

 

 

Pada pagi harinnya, Iljimae membawa Kyung-ok pulang dan meminta Wol-hee dan Keol-chi untuk merawat gadis itu. Dia harus menyembunyikan gadis itu di suatu tempat selagi dia menyelamatkan ayahnya. Wol-hee tidak merasa terancam pada gadis yang muda dan cantik itu, tapi malah menerima tugas itu tanpa mengeluh.

 

 

Ketika gadis itu makan, Wol-hee bertanya apakah dia dan Iljimae menghabiskan malam bersama. Kyung-ok tanpa pikir panjang langsung menjawab iya, mereka menginap di gua di gunung sana. Lalu, dengan ragu2 Kyung-ok bertanya apa hubungan Wol-hee dengan Iljimae. Dengan puas, Wol-hee menjawab kalau dia akan menikah dengan Iljimae. Kyung-ok terlihat kecewa.

Pada waktu yang bersamaan, ada seorang bangsawan yang sangat ingin balas dendam – bangsawan korup dari episode sebelumnya, Shim Chan-kyu. Setelah semua uangnya dicuri, Shim sangat ingin menghukum Iljimae, dan meminta pelayannya untuk menarik Cha-dol dari pasar untuk ditanyai. Seperti biasa, Cha-dol dengan sibuk menceritakan penyelidikannya tentang cerita Iljimae kepada siapa saja yang mau mendengarkan.

 

 

Cha-dol dibawa ke rumah Shim dan diikat, dimana dia ditunjukkan alat2 penyiksaan yang mengerikan. Mengancam akan menggunakan berbagai jenis hukuman, Shim bertanya dimana Iljimae sekarang, menebak kalau Cha-dol pasti punya beberapa informasi sebab dia selalu punya cerita terbaru tentang Iljimae. Cha-dol menolak memberikan info apapun – dia bersikeras kalau dia tidak tahu apa2 dan meminta belas kasihan. Shim mengambil besi yang dipanaskan yang digunakan untuk membakar kaki Cha-dol, lalu mengancam akan membuat lubang di wajah anak itu dengan besi panas.

Iljimae datang! Shim memerintahkan anak buahnya untuk menyerang, tapi mereka semua ketakutan sebab telah mendengar kehebatan Iljimae dalam memukul orang. Ketika anak buah Shim mulai maju, mereka tiba2 saja berhenti saat Iljimae mengeluarkan shuriken sebagai peringatan. Shim bersembunyi di belakang Cha-dol dan berteriak kalau itu hanya sebuah shuriken – saat Iljimae melemparnya mereka akan bebas dari disakiti. Jadi Iljimae menunjukkan banyak sekali shuriken.

Pertarungan itu berlangsung singkat dan jelas saja dimenangkan Iljimae. Iljimae membebaskan Cha-dol dan dengan sikap mengancam mendekati Shim dengan besi panas. Shim menciut ketakutan dan ketika Iljimae menyuruh pria itu untuk melepas sepatunya dan menjilati sepatu itu, Shim menurut saja. Iljimae mengatakan kalau Shim berhenti menjilat maka akan ada luka bakar di lehernya.

 

 

Cha-dol berterima kasih pada Iljimae karena menyelamatkannya sekali lagi dan bangga pada dirinya karena menolak untuk mengungkapkan info apapun. Iljimae tersenyum bangga tapi dia mengatakan pada Cha-dol untuk berhenti menyebarkan cerita tentang dirinya lagi – atau mengikutinya malam-malam. Ketika Cha-dol diseret tadi, Bae bergegas meminta bantuan Gu Ja-myung, jadi polisi tiba saat Iljimae sudah pergi. Cha-dol menjamin Bae kalau dia baik2 saja dan bahwa Iljimae yang sudah menyelamatkannya – yang membuat Gu tertarik dan bertanya kenapa Shim menginginkan Cha-dol.

Sekarang karena Cha-dol sudah diingatkan untuk tidak menceritakan kisah Iljimae, dia menyimpan fakta itu untuk dirinya sendiri dan mengatakan kalau tidak ada apa-apa. Bae mengerti dan beralasan kalau ucapan Cha-dol tidak masuk akal. Gu tidak percaya alasan itu, tapi apa yang bisa dia lakukan? Gu tiba di rumah Shim dan mendapati orang2 yang terluka masih tergeletak di tanah dan Shim dengan takut menjilati sepatunya.

 

 

Petugas Gu menebak kebenarannya – Shim mendapatkan uang dengan cara tidak sah dan telah dicuri Iljimae – tapi secara alami Shim tidak mengakuinya, dan mengatakan kalau inilah untuk pertama kalinya dia bertatap muka dengan Iljimae. Dia bersikeras kalau satu2nya alasan dia mencari Iljimae adalah karena polisi melakukan pekerjaannya dengan tidak bagus dalam menangkap Iljimae hingga dia berpikir untuk membantu.

 

 

Sekarang waktunya untuk memulihkan nama baik ayah Kyung-ok yang tidak bersalah. Sekali lagi, Iljimae menggunakan identitas gisaeng-nya, Hong-mae, dan membuat perjanjian dengan gisaeng lain untuk bertukar tempat di tugas yang selanjutnya. Dan untuk itulah, Iljimae berhasil masuk ke rumah Sohn untuk datang ke perjamuan yang diadakan disana.

Iljimae tidak takut; malah penyamaran ini sangat membantu. Pria yang harus dilayani Iljimae/Hong-mae membuat sanjungan kepadanya yang Iljimae/Hong-mae balas dengan mngatakan kalau dia merasa sangat tersentuh. Pria itu mulai mendekati Iljimae jadi dia terpaksa membuat gerakan yang membuat pria itu pingsan.

 

 

Karena orang yang dia layani sudah pingsan, Iljimae bangkit dan keluar seolah-olah dia sudah selesai melayani. Di luar, Iljimae/Hong-mae bertemu dengan penjaga kesepian dan minta ditemani – semua orang ada di dalam bersenang2 sedangkan dia di luar sendirian.

 

 

Penjaga itu mulai menggoda dan Iljimae bersikap jual mahal. Secara alami, penjaga ini semakin menginginkan Iljimae/Hong-mae dan dia mengatakan untuk mencari sebuah tempat. Iljimae mengatakan, “Tidak di luar!” penjaga itu kegirangan – apa ini artinya mereka bisa bersenang-senang di dalam?

 

 

Iljimae menunjuk ke sebuah gudang yang ada di dekat mereka dan penjaga itu tanpa menunggu apapun membuka gudang itu. Setelah membuat penjaga itu pingsan, Iljimae membuka penyamaran gisaeng-nya, dan masuk ke ruang penyimpanan itu dan menemukan bangsawan Choi yang hilang.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

The Return Of Iljimae – Episode 11

Mendengar putranya disebut, sikap beku Baek-mae berubah menjadi sinis; dia dengan datar menyangkal kebenaran itu meski ketika Gu menceritakan masa lalunya, tentang bagaimana Baek-mae dipaksa untuk menyerahkan bayinya. Untuk menyakinkannya, Gu mengatakan pada Baek-mae bagaimana putranya tidak diasuh dengan baik tapi malah ditinggalkan untuk mati dalam kedinginan. Untungnya, anak itu diselamatkan dan dibesarkan dengan nama Iljimae dan juga, Gu mungkin telah menemukannya.

 

 

Baek-mae beraksi dengan campuran harapan dan keputusasaan – bagaimana dia bisa yakin kalau Gu telah menemukan orang yang benar, bahwa Iljimae adalah putranya? Ketika Gu Ja-myung mengatakan puisi yang Baek-mae ditinggalkan bersama bayi itu, Baek-mae akhirnya mempercayai Gu, meski dia diselimuti oleh rasa bersalah pada pikiran bahwa dia sudah salah selama ini, berpikir bahwa putranya selamat dan dibesarkan dengan baik.

 

 

Soo-ryun mendengarkan ketika Gu setuju pada permintaan Baek-mae untuk mengatur pertemuan dengan anaknya, lalu melihat dengan ketenangan dingin ketika Gu menambahkan: “Dan ketika aku membawa Iljimae padamu, aku ingin menjadi ayahnya.” Kalimat ini membuat Baek-mae kaget; Gu melanjutkan, “Biarkan aku menjaga kau dan Iljimae.” Baek-mae berpikir kalau Gu sedang mengasihaninya, merasa sulit percaya kalau Gu sudah memendam perasaan padanya selama 20 tahun. Gu menjamin bahwa dia tulus, “Aku mungkin melihatmu satu kali dua puluh tahun yang lalu, tapi selama dua puluh tahun ini, tak sehari pun aku tidak memikirkanmu.”

 

Baek-mae menjawab dengan pesimis kalau sudah terlambat sekarang, dia sudah jatuh terlalu jauh – dia tidak ingin membodohi dirinya dengan memikirkan kalau kebahagiaan itu ada padahal sebenarnya tidak ada. Gu menjawab, “Kebhagiaan itu tidak pergi, kebahagiaan itu ada disini.” Gu meminta jawaban sebelum dia pergi. Baek-mae meminta waktu untuk memikirkannya selagi Gu mencari putranya. Ketika Baek-mae sudah merubah pikirannya, dia akan mengabarkan.

 

 

Kembali ke Hanyang dimana Iljimae memulai karirnya dalam perampokan terhadap para bangsawan. Dia menargetkan bangsawan dan pejabat pemerintah yang korup. Iljimae mengendap malam2 ke rumah mereka dan mencuri barang haram yang mereka miliki. Tidak ada yang tahu siapa yang ada di balik pencurian itu, karena satu2nya tanda kegiatan pencuri itu adalah bunga plum emas yang ditinggalkan pencuri itu saat beraksi.

 

 

Bae Sun-dal khawatir kalau kalahnya dua gang bandit berarti bahwa Iljimae akan pergi bersembunyi atau pensiun dan khawatri kalau Iljimae Jeon (Riwayat Iljimae)-nya sudah berakhir. Akan tetapi, Cha-dol muncul dengan gembira, membawa berita menjanjikan tentang pencuri yang baru saja beraksi – pencuri yang hanya mencuri dari orang kaya tak bermoral dan meninggalkan bunga plum. Pencuri itu pasti Iljimae.

 

 

Kejadian berikutnya adalah kejadian yang menggambarkan orang2 miskin yang tidak mampu membeli makanan atau obat. Iljimae melihat perjuangan mereka untuk hidup dan dengan diam-diam meninggalkan uang dan bunga plum emas di depan rumah mereka yang mereka temukan dengan gembira. Berita segara menyebar kalau penolong baik hati mereka adalah Iljimae.

 

 

Mempelajari tanda bunga plum Iljimae, Perdana Mentri Kim marah setelah menduga-duga kalau emas Iljimae berasal dari batang emasnya yang dicuri. Dengan hidupnya legenda Iljimae setiap hari, bahkan Wang Hweng-bo iri pada keberuntungan Iljimae. Dia dan mantan bos Bongsuni bersembunyi di sebuah kamar sewaan untuk menghindarkan diri dari masalah, dan ini membuat Wang Hweng-bo bosan dan lelah. Dia berkelana keluar dalam sebuah misi yang diperbaharui dan insting mencurinya tetap tidak bisa diam dan terus mengincar target – kali ini seorang pria yang membawa sekantong uang.

 

 

Kejadian ini kembali begitu lucu. Dan bertambah semakin lucu. Wang Hweng-bo mencuri kantong uang pria itu dan sang korban sadar lalu mengejar Wang. Wang lari dengan cepat tapi kelihatannya sang korban masih belum mau menyerah. Wang akhirnya menghadapi pria itu dalam kelelahannya dan meminta pria itu untuk bersumpah agar tidak mengejarnya lagi. Bah! Pria itu kembali mengejar. Wang meratap karena pria itu melanggar janjinya dan terhuyung-huyung menyelamatkan diri.

 

 

Ketika Wol-hee mengganggap Keol-chi sebagai ayah mertuanya, Keol-chi mengatakan pada Wol-hee bahwa hanya karena dia dan Iljimae tinggal bersama bukan berarti mereka menikah. Juga, dia berkata dari pengalaman ketika dia memperingatkan kalau Iljimae adalah pria yang mungkin menghilang kapan saja.

 

Ini tidaklah mengganggu Wol-hee sebelumnya, tapi sekarang dia memikirkannya. Keol-chi ada benarnya juga. Tanpa pernikahan, dia tidak punya jaminan Iljimae akan terus tinggal dengannya dan ini mulai membebani pikirannya. Untuk itu, dia sedang dalam suasana hati tidak pasti saat makan malam, bersungut-sungut kalau Keol-chi wajib berkontribusi dalam biaya rumah tangga – dan saat Keol-chi berkata, “Bagaimana kalau menjadi ayah mertuamu?” Wol-hee mengulangi kata2 Keol-chi padanya bahwa dia bukan ayah mertuanya karena Iljimae dan dirinya tidak menikah.

 

 

Pada saat mengucapkan kata ‘menikah’, Iljimae mengunyah makanannya dengan matanya melihat berkeliling dengan waspada. Keol-chi menjawab kalau mereka tidak punya uang untuk mengganti biaya2 itu jadi Wol-hee menyuruh mereka berdua untuk bekerja untuk mempertahankan tempat mereka di rumah itu. Wol-hee menugaskan mereka untuk menangani pekerjaan seperti menyiapkan makanan, mencuci, dan belanja ke pasar. Karena para pria yang menyiapkan makanan, Iljimae bertanya-tanya apakah dia wajib menikahi Wol-hee. Keol-chi menjelaskan dengan bijak jika Wol-hee bersikap seperti ini karena dia merasa tidak pasti – hanya Iljimae yang dia punya, dan apa yang akan terjadi dia dia bosan dan meninggalkan Wol-hee suatu hari nanti?

 

 

Berikutnya mereka pergi berbelanja di pasar dimana Wol-hee melihat belanjaan Keol-chi dan Iljimae. Wol-hee terlihat marah tapi sebenarnya kelihatan jelas juga kalau dia menikmati semua ini. Dan di pasarlah mereka melihat kebengisan penagih hutang, Shim Chan-kyu, mengancam seorang pedagang dengan hutangnya.

 

Pedagang itu meminta belas kasihan tapi Shim malah menyuruh anak buahnya untuk memukuli orang itu. Pedagang itu hanya meminjam 30 nyang dari Shim tapi bunga yang Shim berikan membuat hutang itu menjadi 300 nyang. Pertemuan dengan penagih hutang itu memberikan ide selanjutnya bagi Iljimae, jadi dia mengendap malam itu untuk menuju target selanjutnya. Dia melewati Keol-chi yang sedang tidur, tapi menemukan Wol-hee berdiri di halaman.

 

Wol-hee sedang dalam suasana hati yang murung dan bertanya-tanya dengan sedih bagaimana mereka bisa terus hidup bersama jika Iljimae selalu menyelinap tiap malam. Melihat kesedihan Wol-hee, Iljimae berpikir beberapa saat. Lalu berkata, “Wol-hee… mari atur sebuah kencan dan menikah.” Wol-hee tidak langsung menjawab, jadi Iljimae bertanya dengan gugup apa Wol-hee tidak mau menikah dengannya. Wol-hee dengan cepat menjawab, “Siapa bilang aku tidak ingin?” lalu melanjutkan kalau dia akan memikirkan ini.

 

 

Menuju ke rumah Shim Chan-kyu, Iljimae menemukan banyak batangan emas dan harta lainnya, semuanya diperoleh melalui kekejaman dan ada juga tumpukan surat2 berharga Shim. Shim terbangun dan melihat bunga plum emas dan malah senang karena mendapatkan batangan emas lagi. Aneh. Padahal, emas itu hanyalah kompensasi atas semua emas milik Shim yang sudah Iljimae ambil. Yang terburuk adalah Iljimae membakar surat hutang Shim dihadapan pria itu.

 

 

Shim protes tapi Iljimae mengancam akan memotong lehernya dan tidak hanya tangannya bila dia melanjutkan dengan bunga tinggi. Shim dengan takut setuju untuk berhenti. Iljimae pergi dari rumah itu tapi Shim tidak dengan mudah akan membiarkannya pergi. Dia memanggil semua anak buahnya termasuk petarung bayaran (Petarung Seo), seorang petarung besar dengan senjata pedang besar bernama ‘wal-do’ (pisau bulan). Seo menyusul Iljimae dan keduanya saling beradu pedang masing2.

 

 

Bae Sun-dal dan Cha-dol, seperti biasa, telah mengikuti Iljimae dengan harapan menyaksikan lebih banyak aksi heroiknya. Mereka beroh-oh dan ah-ah waktu kedua petarung beraksi dengan pedang mereka, melompat ke udara saat mereka menyerang dan menangkis serangan. Akan tetap, Bae dan Cha-dol mulai khawatir kalau Iljimae tidak mendominasi pertarungan seperti yang telah mereka harapkan. Iljimae memegang pedangnya sendiri dan menangkis semua serangan wal-do tapi kelihatannya dia tidak melakukan banyak kerusakan dalam membalas. Cha-dol marah – apa ini artinya Iljimae kalah saing?

 

 

Ketika Iljimae kabur, Cha-dol lebih khawatir lagi bahwa Iljimae tidak akan mampu mengalahkan pria ini. Bae menduga kalau ada alasan lain bagi aksi Iljimae itu, dan mereka mengikuti pertarungan itu dari halaman ke sebuah paviliun.

 

Saat bagian pertama pertarungan ini membosankan, bagian yang kedua justru lebih seru. Bae memperhatikan kalau Seo sedang dilucuti – semua senjata punya kelemahan dan Iljimae sedang mencari kelemahan senjata Seo. Yaitu, wal-do berat dan besar, dan untuk menghadapi, Iljimae mengajak Seo bertarung berputar, membuatnya bingung, memukul dan lari. Pria besar dengan pedang besar itu tidak punya kesempatan untuk bereaksi tepat waktu.

 

Iljimae sangat cerdik. Dari atas paviliun dia turun ke bawah untuk melanjutkan pertarungan itu. Pada titik ini, Seo mendapatkan masalah dengan pedangnya yang besar itu. Akhirnya, Iljimae bahkan tidak perlu senjata untuk mengalahkan Seo – dia menyerang pria itu di bagian dada dengan tangannya, lalu melompat dan menjebak Seo ke pilar dengan tendangannya.

 

 

Cha-dol dan Bae praktis berteriak girang karena pertarungan ini sangat keren. Memiliki berita segar, Cha-dol sekali lagi menceritakan kisahnya pada pendengar yang penasaran dan dia memberikan dirinya sedikit tempat. Dia berkata kalau dia menasehati Iljimae, “Ingat tuan, semua senjata punya kelemahannya!”

 

 

Soo-ryun berdandan seperti wanita dengan hanbok ketimbang dandanannya dengan tomboy-nya dengan damo seperti yang selalu dia kenakan selama ini. Dia menjelajahi kota dan berhenti di toko yang menjual perhiasan rambut. Dia tidak membeli apa2 lalu mulai melanjutkan perjalannya – lalu dia kembali untuk membeli penjepit rambut.

 

 

Soo-ryun tiba di rumah Gu sambil membawa sebuah surat tapi tidak ingin dia berikan langsung. Gu terlihat kaget dari ruangan dengan wallpaper dan bertanya, “Kenapa kau berdandan seperti wanita?” Soo-ryun menjawab, “Aku tidak berdandan seperti wanita, aku seorang wanita!” Gu tertawa hampir lupa pada kenyataan itu – dia selalu mempercayai Soo-ryun sebagai bawahan tapi tidak sebegai wanita, yang membuat Soo-ryun kecewa. Gu sedang menyiapkan kedatangan Baek-mae dan ketika Soo-ryun mengingatkan kalau Baek-mae belum memberikan jawaban, Gu mengaku, “Jika aku tidak melakukan sesuatu, aku pikir aku tidak akan tahan menunggu.”

 

 

Soo-ryun menyerahkan surat itu, yang datang dari desa ginseng. Dengan segera, Gu menyambarnya, tahu kalau surat itu adalah balasan dari Baek-mae dan dengan penasaran membacanya. Jawaban Baek-mae membuat Gu dikuasai oleh senang dan gugup. Baek-mae telah memutuskan untuk menerima lamaran Gu meski kekhawatiran wanita itu adalah Iljimae mungkin tidak akan mau bertemu dengannya. Tapi jika Iljimae setuju untuk sebuah reuni, Baek-mae setuju untuk memulai awal yang baru.

 

Akan tetapi, Petugas Jung-tae membawa pesan tentang perampok baru di kota, yang mencuri dari orang kaya korup dan membagi harta hasil curian itu di kalangan orang miskin. Berita itu sampai dengan terlambat ke pihak yang berwenang sebab tidak satu pun dari korbannya yang melaporkan perampokan itu. Dan parahnya, nama perampok itu adalah Iljimae.

 

Iljimae dan Keol-chi membantu mencuci pakaian (sebagai pekerjaan baru mereka) dan keduanya membantu Wol-hee menjemur pakaian. Wol-hee bertanya-tanya apakah Iljimae akan bertanya apakah dia akan menikahinya, jadi Iljimae bertanya. Wol-hee menjawab kalau dia sudah memikirkannya berulang-ulang dan memutuskan untuk setuju. Iljimae tersenyum kecil, tapi reaksi keseluruhannya begitu biasa jadi Wol-hee mengulangi, “Aku bilang aku setuju.” Iljimae tersenyum lebih lebar dan menggangguk sambil berkata, “Terima kasih.”

 

 

Dan Wol-hee mengharapkan sesuatu yang lebih. Reaksi Iljimae begitu biasa hingga dia merasa agak kesal. Wol-hee mengalihkan perhatiannya ke cucian, menggoyangnya begitu kuatnya. Iljimae mengikuti Wol-hee ke tali jemuran dan bertanya, “Ada apa? Aku bilang terima kasih.” Wol-hee ingin jawaban yang lebih dari itu.

 

Sekarang giliran Iljimae yang menyibukkan diri dengan cucian, berpindah dan Wol-hee mengikutinya di bawah tali jemuran. Wol-hee berpindah ke samping Iljimae dan memintanya untuk mengatakan sesuatu, jadi Iljimae menyeberang ke sisi yang berlawanan. Mungkin Iljimae tidak ingin mengatakan sesuatu sebab dia merasa sangat bingung. Dia sangat menginginkan Wol-hee tapi ada sesuatu yang menahannya. Akhirnya Iljimae menemui Biksu Yeol-gong.

 

 

Biksu itu berkata karena tidak ada hubungan keluarga atau alasan politik dalam kasus mereka, pernihakan seharusnya bagi dua orang yang saling mencintai. Apa ini artinya Wol-hee sudah memasuki hati Iljimae? Sudahkah Iljimae melupakan Dal-yi? Iljimae terlihat kaget pada pertanyaan itu dan menjawab, “Aku ingin melindungi Wol-hee. Aku dulu lemah dan tidak bisa melindungi Dal-yi. Tapi Wol-hee…” Tapi Biksu Yeol-gong memotong, “Aku bertanya apakah Wol-hee sudah memasuki hatimu? Kalau begitu, apakah Wol-hee sudah mengambil tempat Dal-yi?” Iljimae tidak suka pikiran itu, “Bukan begitu.”

 

 

Biksu Yeol-gong mendekat dan menunjuk dada Iljimae, “Ayo tanya hatimu langsung. Apa orang di dalam sana Wol-hee atau Dal-yi?” Dengan sedikit gugup, Iljimae bertanya, “Apa katanya?” Yeol-gong menjawab, “Kenapa kau bertanya padaku tentang hatimu?”

sumber: meylaniaryanti.blogspot.com

The Return Of Iljimae – Episode 10

Menindaklanjuti pertempuran skala besar di markas utama Haedongchung, Gu Ja-myung dan anak buahnya menangkap para pencuri itu. Akan tetapi, mereka tidak terlalu beruntung dengan gang yang lainnya – para petugas polisi yang dikirim untuk menghancurkan markas Bongsuni menemukan bahwa tempat itu telah ditinggalkan. Bongsuni sudah berkemas dan pergi. Selain upacara kematian, tidak ada aktivitas lain di daerah tersebut.

Saat mendengar kata pemakaman, Gu menyadari kalau Bongsuni pasti sudah mengambil sebuah halaman dari buku Haedongchung dan menyamarkan upacara pemakaman untuk menghindarkan kecurigaan. Taktik itu telah sukses membawa Bongsuni keluar dari tempat persembunyiannya dan jauh dari bahaya. Selagi anggota Bongsuni yang mengungsi tinggal di kandang baru mereka, Wang Hweng-bo gelisah, ingin keluar kea real pasar untuk tahu apa yang terjadi. Bos mengingatkannya tentang perlunya untuk bersembunyi sebab dia dapat dikenali polisi, tapi Wang menjelaskan kalau mereka perlu pencegahan. Dia juga yakin pada kemampuannya untuk tetap tak terlihat.

Wol-hee dan Iljimae memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan dan melihat-lihat perhisan di pasar saat Cha-dol melihat mereka. Kegirangan karena mengenali Iljimae, dia berlari untuk menjemput Bae Sun-dal, tapi kembali terlalu telat untuk menangkap Iljimae. Sedangkan, Iljimae juga menangkap sekilas sosok yang tidak asing – Keol-chi yang tidak bersemangat (sang pengemis), berjalan di sekitar toko-toko meminta makanan. Wang Hweng-bo memperhatikan dan menawarkan pengemis itu makanan dan uang sebagai pertukaran karena mau membawa barang-barang Wang ke rumahnya.

Keol-chi setuju dengan riangnya, dan menemani Wang ke tempat persembunyian baru Bongsuni. Wang mengatakan pada Keol-chi agar menunggu untuk dibayar, dan meninggalkan sang pengemis berdiri di luar gerbang. Pada saat itulah Wol-hee datang untuk menyuruh Keol-chi kabur. Pengemis itu tidak terpengaruh oleh peringatan Wol-hee sampai Wol-hee menyebutkan kalau dia bertindak atas nama Iljimae. Mendengar nama Iljimae disebut, Keol-chi akhirnya menuruti perintah itu.

Ini adalah pergerakan yang cerdas, soalnya Wang Hweng-bo memerintahkan anak buahnya untuk membunuh pengemis yang menunggu di luar – tidak ada gunanya membiarkan dia hidup sebab dia tahu dimana markas mereka. Tapi anak buah Wang tidak menemukan siapa2 di luar, sebeb Keol-chi telah dituntun pergi oleh Wol-hee, yang mengatakan kalau Keol-chi bisa bertemu Iljimae besok di kota. Di saat yang sama, Keol-chi harus pergi ke kantor polisi dan membawa mereka ke tempat persembunyian tadi. Mendengar bahwa dia sudah digambarkan oleh Iljimae sebagai sosok ayah, Keol-chi sangat tersentuh.

Ketika polisi lain merasa laporan Keol-chi tidak benar, Petugas Gu mengingat Keol-chi dari masa lalu dan mempercayai ceritanya. Gu mengerahkan anak buahnya untuk menyerang tempat persembunyian Bongsuni dengan segera. Bos Bongsuni mendengar hilangnya Keol-chi dengan tiba-tiba dan memerintahkan Wang untuk mencari pengemis itu. Sungguh nasib, mereka kebetulan di luar ketika polisi menyerang masuk, dan untuk itu mereka berusaha kabur selagi sisa orang2 mereka dikepung.

Hampir saja tertangkap, kecerobohan Wang Hweng-bo kembali lagi – dia menjelaskan kalau ini adalah kebiasaan gugup karena ‘ pria yang paling aku takuti di dunia ini adalah Gu Ja-myung!’ Selama pertempuran mini dengan pencuri itu, polisi telah mengendalikan hampir semua bagian. Petugas Gu sedang meladeni pencuri ketika seorang pria mengendap di belakangnya, siap untuk menikam punggung Gu, tapi dihentikan dengan segera – shuriken terbang ke punggung pria jahat itu, dilempar dari atap oleh sosok berpakaian serba hitam. Iljimae mundur tapi Gu telah mengenalinya dan mengikutinya ke hutan dimana dia memanggil-manggil Iljimae.

Gu berkata, “Setelah cukup lama, kau seharusnya menyapa kawan lama!” Mungkin ini tidak terlalu mencurigakan bila Iljimae berbalik dengan curiga. Gu selalu menyayangi Iljimae, tapi tidak pernah punya kesempatan untuk menunjukkannya secara langsung, jadi Iljimae mengingatnya sebagai petugas pemerintah yang tidak dapat dipercaya. Gu berterima kasih pada Iljimae atas bantuannya dan sebab sudah mengirim pengemis itu untuk memberitahukannya tentang markas baru Bongsuni. Gu berujar lagi, “Kau Iljimae yang aku kenal, bukan?”

Iljimae tidak menjawab, tapi matanya sangat ekspresif ketika Gu bertanya, “Apa kau sudah bertemu dengan ibumu?” Tapi Iljimae segera pulih dan mengatakan kalau Gu sudah salah orang. Iljimae melempar shuriken ke pohon, di sebelah kepala Gu, dan pergi dengan peringatan untuk tidak mengikuti. Meski mengelak, Gu tetap yakin pada tebakannya kalau orang itu adalah Iljimae sebab dia dapat melihat perubahan pada matanya ketika menyebut ibunya.

Berita telah dilumpuhkannya Bongsuni seharusnya menjadi angina segar bagi Perdana Mentri Kim karena itu artinya emas-nya lebih mudah dilacak. Akan tetapi, kemarahannya meledak waktu mendengar bahwa salah satu pimpinan yang berusaha kabur berhasil ditangkap (Wang Hweng-bo). Dia memerintahkan orang-orangnya untuk cepat; waktu mereka sudah hampir habis sebelum mereka bisa menggunakan emas itu untuk mengamankan persediaan mereka.

Sebuah pemberitahuan ditempel yang memberitahu masyarakat pembubaran kedua gang itu. Meski ini berita bagus, tapi bagi Cha-dol dan Bae ini sedikit mengecewakan sebab tanpa para penjahat ini yang sering berulah, Iljimae mungkin tidak lagi punya alasan untuk muncul.

Bae berpikir bagaimana Iljimae mengingatkannya pada masa mudanya – bukan karena dia seperti Iljimae, tapi faktanya karena mereka bergitu berbeda. Iljimae bertarung dengan orang jahat sedangkan Bae lemah dan malas dan lebih memilih diam di kamarnya membaca buku seharian. Tapi saat dia melihat Iljimae mengalahkan Bulgasari, dia sadar kalau dia ingin seperti itu: “Begitulah aku, Iljimae adalah sosok yang tidak bisa aku tiru.”

Cha-dol berbagi sentimen yang sama, karena Iljimae membuat Cha-dol ingin menjadi sepertinya. Bae merenung, “Bagiku, Iljimae adalah masa laluku yang hilang. Bagimu, dia adalah masa depanmu yang belum tiba.” Keduanya tidak hanya benar2 mengagumi Iljimae dan tertarik pada karakternya, mereka bersama juga karena Iljimae. Narrator menggambarkan kalau Bae di masa lalu seperti melayang-layang tanpa tujuan sampai dia menolong Cha-dol, sedangka Cha-dol yang yatim piatu sangat rindu akan keseimbangan yang dia temukan bersama Bae.

Meski tahu kegiatan terselubung Iljimae, Wol-hee tetap memperlakukan Iljimae dengan normal dan Iljimae akhirnya bertanya kenapa Wol-hee tidak bertanya tentang hal itu. Wol-hee menjawab secara praktis, “Sebab mungkin ada sesuatu yang tidak bisa kau beritahu aku. Dan sebab kau mungkin bisa pergi karena itu.” Pada kalimat kedua, Iljimae tersenyum penuh meyakinkan pada Wol-hee, dan mengatakan padanya kalau tidak mungkin ada sebab itu.

Meski kedua gang sudah dilucuti, ini bukan berarti kejahatan sudah pergi. Kali ini, sekelompok penjahat berkeliaran di siang bolong, melakukan pengrusakan umum. Contohnya, mereka mencuri seekor sapi dari seorang wanita, kemudian mengancam seorang bangsawan untuk menjual tanahnya. Bersikap sebagai pemimpin dari gang ini adalah seorang bangsawan bernama Yoon-bang. Dia menyakiti bangsawan lain untuk menjual tanahnya dengan harga yang jauh sangat murah. Dia juga membuat semacam surat2 untuk mendapatkan tanah itu.

Iljimae menunggu sampai para bajingan itu menyelesaikan perayaan mereka dan berjalan gontai pulang ke rumah, pada saat itulah dia memanggil mereka semua. Sikap tidak peduli Iljimae membuat mereka tersinggung, dan ketika seorang pria maju dengan kasar, Iljimae menjatuhkannya. Satu per satu mengikuti menyerang Iljimae tapi semuanya dapat dikalahkan hingga yang tersisa hanya dua. Iljimae menunjukan sang pemimpin yang berpakaian biru, Yoon-bang, dan memerintahkannya melepaskan pakaiannya. Yoon gugup pada perintah itu tapi menurut ketika Iljimae menodongkan pedangnya ke leher Yoon.

Setelah semua bajingan itu ditelanjangi, mereka diikat ke pohon. Ketika sang pemimpin mengeluh, Iljimae secara gesit mengambil surat tanah dari baju Yoon dan menggantinya dengan kertas yang lain. Iljimae lalu membakar pakaian para bajingan itu, dan membuat pertunjukkan telah menemukan surat tanah (yang palsu) dan menambahkannya ke tumpukan yang terbakar sambil berkata, “Kau tidak memerlukan ini.” Tanpa daya, para bajingan itu meratapi sia-sia surat tanah curian itu dan melihat kertas itu terbakar di depan mata mereka. Iljimae lalu mengambil surat tanah yang asli dan mengantarkannya ke orang yang tepat.

Di kota, Keol-chi menunggu di tempat yang dijanjikan untuk bertemu Iljimae, yang terlambat. Wol-hee datang lagi untuk mengantarkan pesan atas nama Iljimae, yang pergi untuk urusan bisnis dan memerintahkan Wol-hee untuk memberikan sesuatu pada Keol-chi. Ternyata itu adalah surat tanah yang dicuri Yoon-bang. Wol-hee mengatakan kalau benda itu berharga 470 nyang, yang merupakan jumlah uang yang besar.

Keol-chi protes, bersikeras kalau dia tidak menginginkan uang – tapi Iljimae. Wol-hee menemukan cara mudah untuk meyakinkan pria tua itu untuk menerima pemberiaannya denga bertanya dimana Keol-chi akan tinggal bersama Iljimae tanpa uang. Kenapa Keol-chi tidak menggunakan uang itu untuk membeli rumah? Keol-chi suka pada gagasan itu – terdengar sangat bagus. Wol-hee meminta Keol-chi untuk menjual surat itu untuk mendapatkan uang, yang kemudian Keol-chi bisa membeli rumahnya, yang akan dia jual. Wol-hee menawarkan diri untuk mengantar Keol-chi berkeliling dan pria tua itu terlihat sangat senang.

Semua ini sudah direncanakan oleh Iljimae sebab dia tidak sedang dalam urusan apapun – dia berada di dalam salah satu ruangan, mendengarkan dengan kagum ketika Keol-chi berteriak dengan riang bagaimana dia akan berbagi rumah dengan Iljimae. Bagian Wol-hee sudah selesai dan ketika Keol-chi pergi untuk mendapatkan uangnya, dia bercanda dengan Iljimae dan mengatakan kalau Keol-chi itu seperti ‘ayah mertuanya’. Iljimae terlihat terkejut.

Masalah muncul saat Keol-chi meminta uangnya dari Yoon-bang. Setelah kehilangan surat tanah itu, dia tidak akan menyerahkan uang apapun di atas itu semua, surat hutang atau apapun. Yoon menolak dan meminta pelayannya untuk memukul Keol-chi dan menendangnya keluar.

Kebetulan, Petugas Gu melihat Keol-chi yang marah dan terluka dan mendengarkan ceritanya dengan penuh keprihatinan. Gu pergi ke rumah Yoon dan menghadapkannya dengan cerita itu, tapi Yoon berbohong dan mengatakan kalau dia akan dengan senang hati menukar surat itu jika sangat berharga dan asalkan pengemis itu punya surat hutangnya. Tapi Keol-chi tidak punya. Gu tidak percaya pada bangsawan itu tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Sedangkan Keol-chi menangis sebab mimpinya tinggal dengan Iljimae hilang sudah.

Tapi hal ini sudah sampai ke telinga Iljimae. Malam itu dia menyusup ke rumah Yoon, dia menyelinap ke kamar utama bangsawan itu selagi bangsawan itu tertidur. Iljimae dengan tenang mencari dokumen yang dimaksud dan mengeluarkan surat hutang ketika Yoon tertidur. Tak berapa lama kemudian Yoon bangun di tengah malam dan memangil pelayannya. Ketika sang pelayan meninggalkan ruangan, dia melihat bayangan gelap Iljimae bergerak di luar dan meneriakkan kalau ada hantu. Hal itu membuat seluruh isi rumah menjadi gempar dan mencari hantunya.

Yoon, di sisi lain, mendapati kalau kotak dokumennya sudah dijarah, sebuah bunga plum dari emas di letakkan di tempat surat hutang itu. Menyadari kalau dia sudah dirampok, Yoon memerintahkan pelayannya untuk menangkap pencurinya. Tapi karena mereka masih takut pada hantu, mereka diam saja dengan gugup.

Ketika Iljimae muncul di atap, Yoon yang kesal meminta pelayannya untuk menangkap Iljimae. Seorang pelayan memasang tangga ke atap sambil mengatakan kalau Iljimae membuat kesalahan besar… yang membuat Iljimae bertanya-tanya, bukahkah pelayan itu yang membuat kesalahn? Menempatkan kakinya di bagian atas tangga, Iljimae bertanya, “Apa yang akan terjadi jika aku mendorong ini?” Sekarang pelayan itu gugup dan meminta Iljimae untuk bersikap baik, dia hanya menjalankan perintah majikannya.

Dengan pandai Iljimae mendorong sedikit tangga itu lalu mendorongnya dengan keras hingga tangga itu bertengger di atap lainnya. Yoon marah2 pada pelayannya untuk menangkap Iljimae lalu ingin siapa pencuri itu. Iljimae menjawab dengan mudah, “Aku Iljimae.” Yoon merasa senang karena bisa memojokkan Iljimae di atap rumahnya, tapi Iljimae membuktikan kalau Yoon salah dan mulai melompat dari satu atap ke atap yang lainnya dengan mudahnya.

Wol-hee menemui Keol-chi yng terluka dan kecewa di pasar, dan berpura-pura ‘menemukan’ kertas yang Keol-chi jatuhkan di tanah. Itu adalah surat hutang yang hilang dan Wol-hee mengembalikannya pada Keol-chi, membuatnya berpikir kalau dia sudah memiliki surat itu selama ini. Keol-chi memang tidak pintar-pintar amat tapi dia punya hari dan itu membuatnya tidak berhenti untuk memikirkan ulang hal logisnya. Dengan harapan yang diperbarui, Keol-chi menerima ini sebagai kenyataan dan segera pergi untuk mendapatkan uangnya.

Keol-chi punya ide bagus untuk pergi dulu ke Petugas Gu dan menunjukkan dokumennya, dan kali ini Yoon-bang tidak bisa mengingkari klaim itu. Dia benar2 tidak bisa menjelaskan kalau surat hutang itu telah dicuri di tengah malam, sebab dia telah bersumpah dia tidak memiliki surat itu. Terjebak dalam kebohongannya sendiri, Yoon dipaksa untuk membayar.

Dengan membawa uangnya, Keol-chi tiba di rumah Wol-hee, bermaksud untuk membelinya langsung. Hanya saja, bukannya Wol-hee tapi malah Iljimae yang menyapanya. Keol-chi terpaku dan tidak dapat bisa bicara melihat Iljimae, lalu segera meraih Iljimae dengan penuh suka cita. Kasih sayang Keol-chi pada Iljimae sangat murni dan bahkan Wol-hee pun ikut tersentuh olehnya.

Dan sekarang, adalah waktunya bagi Gu untuk melakukan apa yang sudah lama sekali ingin dia lakukan – menemui Baek-mae dan mengatakan kalau dia sudah menemukan putranya. Gu mengajak Soo-ryun dalam perjalanannya dan mengatakan padanya kalau Baek-mae adalah ibu Iljimae.

Baek-mae masih saja sama seperti sebelumnya, hidup sendiri dan menanam ginseng untuk mempertahankan hidup. Seperti perhatian yang dia berikan pada ginsengnya, Baek-mae seperti melakukan pendekatan pada apapun dengan hati ibu – ketika dia memberi makan anak kucing yang kelaparan, dia bertanya-tanya ibu macam apa yang sudah meninggalkan anak kucing itu untuk mencari makan sendiri.

Gu tiba, gembira melihat Baek-mae, dan bertanya apa dia masih ingat Gu. Baek-mae ingat tapi reaksinya sangat berlawanan dengan Gu. Sikapnya yang awalnya bertahan berubah menjadi melawan dan tidak hormat – Baek-mae tidak percaya pada pria. Soo-ryun, yang tidak tahun sejarah hidup Baek-mae, marah pada kurangnya rasa hormat yang ditujukan pada atasannya. Tapi Gu tidak kaget. Faktanya, dia sudah menantikan reaksi seperti ini.

Baek-mae mulai mengusir Gu, tapi berhenti dengan kaget waktu Gu berkata, “Aku datang untuk memberitahumu tentang putramu.”

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

The Return Of Iljimae – Episode 09

Iljimae melanjutkan mengubar batangan emas menjadi kembang plum. Dia menawarkan satu pada Wol-hee (yang menggoda karena hanya mendapat satu) tapi Wol-hee memberitahu Iljimae kalau dia tidak perlu emas: “Aku hanya perlu satu hal.”

Sang pembunuh misterius, Park Bi-su (yang disewa oleh Perdana Menteri yang korup), mengendap-endap ke persembunyai Bongsuni untuk menangkap bos Bongsuni dengan hati-hati. Dia memperingatkan kalau Bongsuni bodoh karena mencuri emas itu tanpa tahu dari siapa mereka mencurinya. Bos Bongsuni menelan ludah dengan gugup sebab emas itu sudah tidak ada pada mereka lagi.

Dipimpin oleh Wang Hweng-bo, gang Bongusni kembali ke lokasi penghadangan oleh pria bertopeng hitam dan mereka mereka ulang penyerangan itu. Wang Hweng-bo terhibur dengan pikiran kalau penyerang itu adalah Iljimae tapi dia tidak bisa yakin pada hal itu.

Di kantor polisi, Cha-dol dan Bae dengan antusias menceritakan apa yang mereka dengar tentang pertarungan antar gang dan yakin kalau Iljimae pasti pria dengan topeng hitam itu. Gu masih penasaran ingin tahu soal pertarungan itu tapi Cha-dol dan Bae punya syarat: mereka akan mengatakan pada petugas dimana pertarungan itu terjadi kalau Gu mau berbagi cerita soal masa lalu Iljimae.

Soo-ryun mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka, sebab saat mereka tahu tentang pertarungan itu tapi mereka tidak tahu keterlibatan Iljimae. Masih saja, Gu menghadapai masalah yang lebih besar – meski banyak anggota gang yang terbunuh dalam penyerangan itu, baik Haedongchung dan Bongsuni masih beroperasi. Gu harus mampu menghabisi mereka hingga ke akar2nya.

Wol-hee menemukan tas Iljimae yang berisi pakaian hitam2nya dan merasa kalau pakaian itu memberikan firasat buruk tapi dia tidak meminta penjelasan apa2. Wol-hee sangat ingin Iljimae mencurahkan isi hatinya padanya tapi Iljimae malah pergi keluar dengan alasan ingin bertemu seseorang. Ketika Iljimae memperingatkan Wol-hee untuk tetap mengunci pintu, Wol-hee mengatakan kalau Iljimae bisa menguncinya sendiri dan menunjukkan pada Iljimae dimana dia menyembunyikan kunci di luar.

Wang Hweng-bo membagi kecurigaannya dengan pemimpin Bongsuni yang lain kalau pria berpakaian hitam2 itu mungkin saja Iljimae. Kemudian, dia memperhatikan debu berterbangan di langit2, yang menandakan kehadiran seorang pengacau, dan para anggota gang itu menarik pedang mereka dengan pelan2. Tepat saat mereka melakukan pergerakan untuk menyerang, Iljimae turun dari langit2, dan menghabisi para pencuri itu lalu kabur.

Iljimae lolos dengan melakukan gerakan akrobatik dengan melompati tembok, jadi Wang Hweng-bo bergumam, “Aku juga bisa melakukan itu.” Wang lari melompati tembok itu tapi malah jatuh! Dia bangkit dan melanjutkan mengejar Iljimae ke tengah hutan dimana mereka saling berhadapan.

Iljimae bertanya berapa lama Wang Hweng-bo ingin tetap menjadi pencuri. Wang menjawab kalau dia akhirnya menemukan tempat dimana seharusnya dia dan tidak punya rencana untuk pergi. Iljimae menasehati Wang untuk bekerja sama dengan polisi, yang akan mengurangi hukumannya. Wang secara alami sangat tidak tertarik untuk bekerja sama. Mereka berkelahi. Wang melakukan gerakannya yang biasa tapi Iljimae lebih cepat dan lebih kuat. Wang memperhatikan kalau kemampuan Iljimae sudah sangat berkembang.

Kemudian, seseorang muncul di tengah2 perkelahian itu (Park Bi-su) dan membuat pertempuran itu menjadi pertempuran tiga arah. Wang memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dan Iljimae mencoba mengikuti. Akan tetapi, Park membuatnya tetap disana. Pertarungan pedang yang cepat terjadi antara Iljimae dan Park Bi-su dan Wang menonton dari kejauhan dari tempat yang aman. Mereka lawan yang seimbang dan sulit untuk mengungguli satu sama lain.

Tepat ketika Park meminta Iljimae untuk menyerahkan emas2 itu, sisa gang Bongsuni tiba. Iljimae berusaha untuk kabur dan dia melemparkan semacam bubuk yang menimbulkan asap hitam. Yang lainnya jadi bingungndi tengah2 asap itu tapi ketika asap itu hilang, Iljimae juga sudah hilang. Perdana Menteri Kim mendengar kalau Iljimae lolos dari pertarungan pedang dengan Park Bi-su, dan Kim tahu seberapa hebat kemampuan Iljimae. Sebab, selama ini tidak ada yang pernah lolos dari Park. Park Bi-su berjanji akan menangkap Iljimae dan mengalahkannya.

Salah satu petugas polisi, Kim Kyung-chul tenggelam dalam dunia alkohol dan menjadi pemabuk. Hal ini membuatnya mendapat masalah dengan orang lain. Gu memerintahkan agar polisi yang ini dihukum dan dipecat dari kepolisian.

Gu melanjutkan rencananya untuk menghabisi gang2 di kota dan membuat persiapan untuk menyamar sebagai pengemis sebab dia telah mendengar salah satu pengemis terikat dengan Haedongchung. Melihat kalau ini adalah satu2nya cara, Gu memerintahkan kanan tangannya untuk membuat agar aksi ini tetap rahasia. Soo-ryun akan mengawasi dan tetap membuat Gu selamat.

Ketika Iljimae kembali dari penyamarannya, dia menemukan kalau Wol-hee meninggalkan sebuah pesan untuknya, yang membuat Iljimae menuju ke dalam ke sebuah hidangan. Ada lagi pesan lainnya yang mengatakan kalau Wol-hee pergi ke peminjam buku.

Ketika pegawai pemerintah yang suka memeras tiba dia tempat peminjam buku untuk menagih bayaran bulanannya, Wol-hee angkat bicara. Nada bicara Wol-hee tidak menentang tapi kalimat2nya membuat pegawai pemerintah itu tersinggung dan membuatnya terang2an terlihat sangat salah. Pegawai itu tahu kalau Wol-hee sangat lancing dan memerintahkan agar peminjam buku itu diseret.

Ada aturan bicara disini sebenarnya tapi pegawai pemerintah ini hanya ingin membalikkan keadaan. Tiba2 saja, pria berpakaian serba hitam muncul. Pegawai pemerintah itu menyerang tapi Iljimae mengalahkannya dengan mudah. Tapi orang2 dari pegawai pemerintah ini muncul. Jadi Iljimae juga melawan mereka dengan mudah lalu setelahnya dia menyelinap pergi.

Setelah pertarungan itu, para petugas dan penduduk desa berkumpul di sekitar toko peminjam buku. Seorang petugas bertanya apa yang terjadi jadi Wol-hee menggunakan kesempatan ini untuk mengancam pegawai pemerintah yang korup itu. Dia menawarkan untuk melaporkan perbuatan pria itu kepolisi sebab sudah melakukan pemerasan dan ancaman. Karena tahu hal ini akan berakibat buruk untuknya, pegawai itu berjanji akan mengembalikan uangnya dan tidak akan pernah kembali ke toko itu.

Iljimae bertemu dengan Wol-hee di depan dan berpura-pura dia baru saja tiba. Dengan dandanan normal, Iljimae berpura-pura penasaran pada kehebohan yang terjadi dia toko peminjam buku, seolah-olah itu adalah berita besar buatnya. Ketika mereka berbelanja di desa, Wol-hee mengatakan pada Iljimae bahwa kalau bukan karena pria bertopeng hitam itu, dia sudah dalam masalah sekarang. Iljimae bergumam kalau bajingan seperti itu perlu dihukum.

Gu berangkat untuk masuk ke komunitas pengemis dan membuat kegemparan dengan mengatakan kalau dia adalah bagian dari Haedongchung. Setelah mendengar keterkaitan Gu, pengemis yang lain langsung bergegas pergi sebab tidak ingin melihat sisi buruk Gu. Hanya satu pengemis yang memandangi Gu dengan curiga dan malam itu menyerang Gu ketika dia sendirian. Ini adalah Sung-kae, yang berasal dari desa nelayan dan merupakan anggota asli Haedongchung dan untuk itu dia tahu Gu berbohong.

Inilah yang diinginkan Gu dan dia mulai menyembah Sung-kae untuk membiarkannya bergabung. Gu hanya berpura-pura sebagai anggota gang sebab dia ingin mendapatkan perlindungan. Jadi dia meminta ijin untuk bisa bergabung di dalam Haedongchung.

Bae Sun-dal dan Cha-dol pergi ke kantor polisi untuk mencari Gu tapi mereka mendengar kalau Gu pergi jauh untuk sebuah misi rahasia. Di kota, mereka melihat prosesi pemakaman dan Cha-dol mengenali salah satu anggotanya adalah Gu. Cha-dol mulai berteriak untuk menyapa tapi Bae menyuruhnya diam – Gu pasti sedang mengerjakan misi rahasianya, untuk itu, ini pasti ada hubungannya dengan kedua gang yang ada di kota.

Prosesi itu adalah untuk mengubur salah satu bos Haedongchung dan Bongsuni telah mendengar berita pemakaman ini. Berdasarkan info ini, Bongsuni berencana untuk menyerang Haedongchung selagi mereka berkumpul di satu tempat. Tahu bahwa hal2 yang berurusan dengan kedua gang itu akan menarik Iljimae, maka Bae dan Cha-dol pergi ke hutan untuk mengintip prosesi ini. Merekalah yang pertama kali melihat tibanya gang Bongsuni yang bersembunyi sebagai persiapan untuk menyerang.

Tapi bukannya meraih kemenangan, Bongsuni malah menghadapai sesuatu yang sangat di luar dugaan. Ini semua adalah jebakan Haedongchung untuk menarik keluar musuh mereka. Haedongchung membuka peti tapi isinya bukan mayat melainkan senjata yang disembunyikan disana. Mereka mempersenjatai dirinya dan berbaris untuk menyerang para pengacau itu.

Bongsuni yang akhirnya menjadi mangsa dan untuk itulah pemimpin mereka meminta anak buahnya untuk melalui ini. Mereka bertarung sampai mati. Selagi anak buah mereka bertarung, para pemimpin Bongsuni mundur, khususnya Wang Hweng-bo, yang secara cerdik menunggu sampai bos-nya diserang. Lalu, Wang meluncurkan penyelamatan waktu bos-nya diserang oleh Sung-kae. Wang memukuli Sung-kae dan mendapatkan perhatian bos-nya. Saat ini pula, Wang melihat ke keramaian dan mengenali sebuah wajah – Petugas Gu – yang berdandan ala anggota gang Haedongchung. Sung-kae mendengar informasi ini dan menyimpannya.

Bae dan Cha-dol bertanya-tanya kenapa Iljimae tidak muncul. Dengan kecewa mereka menyimpulkan kalau Iljimae tidak tahu pertemuan tiap gang. Mereka tidak melihat kalau Iljimae sebenarnya ada disana, menonton dengan tenang meski tidak terlibat pertarungan. Ketika pertarungan berhenti, pimpinan Bongsuni memutuskan untuk mundur saja. Ketua Haedongchung juga meminta anak buahnya untuk mundur dan bertemu nanti di markas.

Anggota Haedongchung yang tersisa berkumpul di tempat persembunyian, dimana pemimpin mereka memikirkan rintangan baru mereka. Senjata terakhir Bongsuni adalah Bulgasari, yang sudah dikalahkan, tapi sekarang ada petarung yang gerakannya sangat cepat (Wang Hweng-bo). Bos ingin membuat Wang kalah!

Sung-kae sedang membuat rencananya sendiri dan menawarkan diri untuk melakukan pekerjaan itu – bersama anggota baru mereka (Gu). Bos menyuruh mereka untuk bertindak malam ini dan Gu mengikuti rencana tersebut, tidak sadar bahwa Sung-kae sudah tahu siapa Gu sebenarnya.

Sebuah pemandangan aneh di kota menarik perhatian orang banyak dan membuat mereka heran – seorang pegawai tinggi pemerintahan telah diikat dan digantung di atas tembok yang tinggi. Pejabat yang lain berusaha menurunkannya dan para penduduk memandang dan menunjuk. Ini adalah pejabat negara yang menikam Cha-dol dan mencoba menyerang Wol-hee dan dari kakinya bergantung dua benda: buku dan bunga plum emas. Wol-hee mengenali rangkaian emas itu dan menjadi curiga.

Wol-hee pulang ke rumah dan menuju ke tempat persembunyian Iljimae. Dia mengeluarkan pedang Katana Iljimae dan tas yang berisi baju hitam2nya. Malam itu, Wol-hee menceritakan tentang pejabat itu pada Iljimae untuk melihat reaksinya. Pria itu ditemukan dengan sebuah buku terikat di kakinya, yang ternyata adalah catatan pendapatan uang yang dia peras dari para pedagang. Dengan bukti itu, pejabat itu akan diseret ke penjara.

Wol-hee bertanya-tanya siapa yang telah melakukan ini dan menyimpulkan kalau ini pastilah pria bertopeng hitam yang menyelamatkannya tempo hari, sedangkan Iljimae berpura-pura tidak peduli. Wol-hee tidak tersinggung meski Iljimae tidak memberitahunya atau dia terlalu berterus terang tentang Iljimae yang harus memberitahunya. Malah ketika Iljimae tidak memberikan jawaban apa2, Wol-hee berkata sambil tertawa, “Ayolah, beritahu aku!” Iljimae berujar, “Memberitahumu apa?”

Sung-kae dan Gu Ja Myung melancarkan aksi mereka untuk membunuh Wang Hweng-bo dan Sung-kae menuntun Gu ke sebuah gang kecil. Disana, Sung-kae menyerang Gu dengan cara mencekiknya dengan tali dan mengatakan kalau dia tahu apa yang direncanakan Gu. Sung-kae menaikkan belati dan bersiap untuk menikam Gu tapi hal ini dihentikan oleh orang ketiga – Kim Kyung-chul, polisi yang sudah dipecat itu.

Sung-kae bangkit dan bersiap menyerang kembali dan kali ini dia menikam Kim di dadanya. Gu menendang Sung-kae dan menyuruh temannya untuk bertahan dan membawanya untuk mendapatkan pengobatan. Itu membuat Sung-kae berurusan dengan Soo-ryun yang selama ini sudah membuntuti Gu. Ternyata, petugas polisi yang mabuk itu hanyalah berpura-pura, sebab selama ini Kim berusaha untuk masuk ke Haedongchung sama seperti yang Gu lakukan.

Tabib mendiagnosa kalau Kim tidak akan bertahan dan dalam semalam, kondisinya terus memburuk. Dengan nafas terakhirnya, Kim membisikkan sebuah informasi rahasia – dia memberitahu dimana markas Haedongchung lalu meninggal.

Berkat info dari Kim, Gu sekarang memimpin anak buanya untuk menyerang Haedongchung di markasnya dengan satu kali serangan. Petugas polisi masuk dan terlihat jelas kalau anggota gang yang kaget ini tidak lebih unggul dari para polisi. Para anggota gang yang tidak mati ditahan. Dan selama itu pula, Iljimae manonton dari kejauhan.

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

The Return Of Iljimae – Episode 08

Episode 8 dimulai dengan sebuah pembicaraan: seorang penyidik pemerintah yang menyamar sedang melakukan perburuan terhadap operasi penyelundupan illegal antara Korea dan pedagang Qing. Sebelum penyidik itu sampai menyiagakan orang2nya, dia sudah dibunuh oleh seorang pembunuh kejam.

Kembali ke Hanyang, seorang bangsawan bernama Kim Ja-jum membicarakan pembunuhan terhadap penyidik itu dengan kawan2nya. Pembicaraan ini beralih ke pembicaraan tentang hubungan rapuh antara Joseon dan Qing, yang dikhawatrikan akan menyerang.

Kim Ja-jum, yang baru2 ini membantu raja yang sekarang naik tahta, adalah pegawai pemerintah yang haus kekuasaan. Dia juga berpura-pura lugu ketika pembunuhan itu disebutkan. Padahal ada sesuatu berikutnya yang sangat mengejutkan: kim Ja-jum menyewa pembunuh untuk membunuh penyidik itu. Dia jelas menginginkan sesuatu. Sekarang, dia sedang meraba-raba emas yang rencananya akan dijual untuk membeli kekuasaan ketika Korea diserang. Kim juga mengatakan pada pembantunya kalau sekarang dia sedang diawasi dengan ketat jadi itu artinya Kim harus lebih berhati-hati.

Ada dua gang di kota: Bongsuni (yang biasanya berpakaian serba merah) dan Haedongchung (yang berpakaian serba biru). Gang merah, yang menyewa Bulgasari, mendengar kalau Petugas Gu akan segera dibawa pulang dari pengasingannya. Dengan banyaknya kejahatan di kota, kepemimpinan Gu sangat diperlukan. Dan beberapa petugas dikirim untuk menjemputnya. Untuk menghadang mereka, Bongsuni mempersiapkan jebakan. Karena kalah jumlah dan kekuatan, petugas yang menjemput Gu itu kalah.

Tiba2 saja, pria dengan pakaian serba hitam muncul. Iljimea dengan cepat masuk ke kerumunan itu dan menusuk para penjahat itu di titik yang tepat. Bulgasari meremehkan Iljimae dan berpikir kalau Iljimae dapat dikalahkan dengan mudah. Akan tetapi, Bulgasari ini malah dipukul hingga pingsan. Iljimae memerintahkan para petugas polisi yang sedang melakukan misi penjemputan Gu untuk cepat2 pergi sebelum Bulgasari bangun. Semakin cepat Petugas Gu kembali semakin baik.

Berita dengan cepat beredar di dalam penjara kalau Petugas Gu akan kembali dari pengasingan. Ini membuat Wang Hweng-bo mempercepat rencananya untuk kabur dari penjara. Dia punya kesempatan lebih baik untuk kabur tanpa ada Gu di penjara itu. Wang kabur dengan 2 teman sel-nya. Dia mendapati kalau latihan kakinya selama ini di dalam penjara terbayar sudah: dia bisa berjalan seperti orang normal sekarang.

Teman2 yang diajak Wang kabur adalah anggotan Gang Bongsuni. Mereka mempersembahkan Wang sebagai penolong dan dia pun diterima di dalam gang itu. Meski Wang Hweng-bo punya kepribadian yang sedikit menyebalkan tapi dia tetap diterima. Salah satu alasan kenapa dia diterima adalah dia punya ilmu bela diri yang bagus dan hal itu dia pamerkan di depan para pencuri itu.

Gu Ja-myung kembali satu bulan kemudian. Dia terlambat untuk menangkap Wang tapi teman-teman sesame petugas kepolisian menyambutnya dengan suka cita. Gu dengan segera merancang pekerjaannya dan membuat rencana untuk menghancurkan kedua gang itu.

Sekarang kita melihat kejadian yang terjadi pada episode 1 dimana Iljimae mengalahkan Bulgasari Raksasa. Memang tidak terlihta perkelahiannya tapi jelas kalau baru saja terjadi sebuah perkelahian sengit. Ada rumor yang beredar kalau orang misterius yang mengalahkan Bulgasari adalah Iljimae dan bukan petugas polisi. Perbincangan itu dikompori oleh Cha-dol yang menyaksikan secara langsung pertarungan itu.

Wol-hee bertanya apakah Cha-dol sudah berusaha menemui Iljimae. Cha-dol menjawab tidak. Dia sudah mencari Iljimae kemana-mana tapi tidak berhasil. Cha-dol lalu bertanya kenapa Wol-hee begitu ingin bertemu dengan Iljimae dan apa hubungan mereka. Wol-hee menjawab, “Tiga tahun yang lalu, kami pernah bertemu. Tapi hanya pertemuan singkat.” Cha-dol mempelajari setiap kalimat Wol-hee lalu menggodanya dengan mengatakan kalau Wol-hee menyembunyikan perasaan selama tiga setelah pertemuan yang singkat itu. Wol-hee menjelaskan, “Tatapan matanya seperti hewan yang terbuang. Aku tidak bisa melupakannya.”

Ketika Wol-hee berjalan menjauh, Cha-dol berkata pada dirinya kalau Wol-hee bukan pasangan yang cocok untuk Iljimae. Wol-hee masih melakukan pekerjaannya menyalin buku, yang merupakan pekerjaan yang sangat menghasilkan, apalagi ditopang oleh cerita macam Hong Gil-dong dan Tiga Kerajaan yang sedang populer. Paman Wol-hee masih tidak senang pada hal ini. Tidak hanya kenyataan bahwa Wol-hee bekerja seperti ini untuk bertahan hidup tapi paman juga memaksa Wol-hee untuk menikah. Yang membuat paman khawatir adalah karena Wol-hee bekerja, single dan hidup sendiri.

Seperti yang selalu Cha-dol lakukan, dia selalu menceritakan pertarungan Iljimae pada setiap orang yang tertarik. Dia tidak sadar kalau Iljimae berdiri di dekatnya, mendengarkan. Cha-dol melihat sekilas Iljimae – yang berpakaian Gisaeng – dan mengenalinya sebagai wajah yang familiar. Tapi dia tidak bisa ingat bagaimana dia tahu orang itu. Bae Sun-dal menemukan Cha-dol sedang menceritakan ceritanya lalu mengejar bocah itu karena tidak melakukan seperti yang diperintahkan, yaitu mengawasi kalau2 ada Iljimae di sekitar mereka.

Kenapa Iljimae menyamar? Dia punya dua alasan: pertama, untuk mengawasi secara diam2 situasi terkini negara dan kedua, dia berharap bisa mendengar berita tentang ibunya. Iljimae tidak sukses mendapatkan info tentang ibunya tapi dia sukses mendapatkan info tentang keadaan negara terkini. Dengan menyamar sebagai Hong-mae, Iljimae ditugaskan untuk bertemu dengan Pimpinan Bongusni yang akan mengadakan pertemuan dengan seorang informan.

Iljimae berpura-pura tidak mendengar apa2, jadi para pria itu mengendorkan penjagaan mereka. Dengan kehadiran Iljimae disana, para pria itu menceritakan rencana mereka untuk menghadang pedagang emas dalam perjalanannya. Pedagang ini baru2 ini mengubah semua hartanya menjadi emas dan mengirimnya keluar Hanyang. Diperkirakan kalau pedagang itu bekerja untuk orang yang lebih tinggi jabatannya.

Berikutnya, Iljimae mengendap-endap untuk menguping pembicaraan di Markas Bongsuni ketika mereka sedang mendiskusikan rencana penghadangan itu. Bongsuni sudah tahu kalau Gang Biru alias Haedongchung, juga merencanakan akan menghadang pedagang emas itu. Bongsuni menggunakan info ini untuk kepentingan mereka sendiri.

Dan sekarang untuk Wol-hee. Dia benar2 tidak berharap Iljimae akan datang menemuinya tapi harapan yang tersembunyi berharap kalau Iljimae akan datang. Jadi ketika Iljimae muncul di rumahnya tanpa peringatan dan dengan senyum yang sangat manis, Wol-hee mendekatinya dengan pelan2, senang tapi tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Keduanya terlihat senang sebab akhirnya bisa berjumpa lagi – meski ada perasaan sedikit tidak pasti. Wol-hee mengundang Iljimae masuk dan mereka pun duduk untuk berbincang-bincang. Iljimae mengatakan kalau Wol-hee bertambah cantik saja dan Wol-hee justru mengatakan kalau Iljimae yang bertambah cantik. Ketika melihat ada Wolgeum (kecapi) di ruangan itu, Iljimae meminta Wol-hee untuk memainkannya. Iljimae memandang Wol-hee dengan seksama ketika gadis itu memainkan kecapinya. Kemudian Iljimae mengesampingkan alat musik itu dan meminta sesuatu pada Wol-hee. Ada sesuatu yang harus disembunyikan Iljimae dan dia ingin Wol-hee yang menyembunyikannya untuk Iljimae.

Petugas Gu mampir ke tempat Bae Sun-dal untuk mengucapkan terima kasih pada Bae karena sudah menolong Soo-ryun di masa lalu. Gu juga menanyakan sebuah pertanyaan karena sudah mendengar insiden penghadangan yang melibatkan Bulgasari. Gu memperkirakan kalau pria dengan baju hitam2 yang menyerang Bulgasari bisa saja Iljimae. Untuk beberapa alasan, Gu merasakan kalau Iljimae terlibat tapi Gu tidak mengerti motif Iljimae.

Membicarakan tentang pedang Iljimae membuat Bae ingat pada senjata yang dipakai Iljimae – terlihat seperti pedang Ninja. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang direncanakan Iljimae dan apakah Iljimae mempelajari kemampuan baru ini pada saat dia menghilang. Bae dan Cha-dol sangat ingin mempelajari lebih banyak tentang Iljimae dan meminta Gu untuk menceritakan masa kecil Iljimae. Gu mengatakan kalau dia akan menceritakannya lain kali saja.

Seorang pedagang dan rombongannya sedang berkelana di jalanannya – dia ditemani oleh seorang penjaga sewaan. Salah satu penjaga itu adalah bandit Haedongchung yang menyamar. Ketika mereka beristirahat, sebuah serangan kejutan dilancarkan yang membuat semua orang dalam rombongan itu terbunuh.

Para pencuri itu memegangi peti yang berisi batangan emas… ketika tiba2 gang Bongsuni melompat keluar. Terjadi perkelahian hebat! Merah melawan biru! Pertarungan yang terjadi sangat sengit tapi akhirnya merah menang. Hanya saja, hanya tiga orang anggota Bongsuni yang tersisa dari pertarungan ini. Ini dimanfaatkan Iljimae dengan sangat cerdik.

Si cerdik Iljimae bersembunyi di atas pohon sampai pertarungan berhenti. Ketika anggota Bongsuni yang tersisa mulai pergi, Iljimae muncul. Para pencuri itu meremehkan Iljimae sebab mengira kalau diri mereka yang paling kuat (tiga lawan satu). Dua orang dari anggota Bongsuni maju tapi dengan cepat dapat dikalahkan oleh Iljimae. Pencuri yang ketiga mempersiapkan busur dan anak panahnya tapi lagi2 Iljimae lebih cepat dengan shuriken-nya. Setelah membuat musuhnya tumbang dan tidak bisa bergerak, Iljimae pergi dengan emasnya.

Iljimae membawa peti itu ke rumah Wol-hee untuk disembunyikan dan Wol-hee megap2 melihat emas dihadapannya. Tapi Wol-hee tahu alasan Iljimae melakukan ini jadi dia mau membantu. Sementara itu, di kota telah bererdar tentang berita pertarungan antar gang dan bahwa Iljimae muncul juga dalam pertarungan itu.

Kim Ja-jum – yang merupakan dalang dari kejadian itu – marah setelah mendengar bahwa emas2 itu dirampas. Pelayannya melaporkan bahwa meski Bongsuni yang mendapatkan emas itu tapi tidak dapat dipastikan juga gang mana yang memegangnya sekarang. Di markas Bongsuni, pencuri yang berhasil bertahan hidup melapor kembali. Dia membela diri tentang kegagalannya mengamankan emas itu. Seorang bertopeng hitam ikut campur dan menyerangnya dengan shuriken. Dia menunjukkan shuriken itu.

Sementara semua orang sibuk menebak siapa pria berpakaian serba hitam itu, Wang Hweng-bo punya firasat kalau orang itu mungkin saja Iljimae. Ini hanya dugaan sebab Iljimae yang dia kenal tidak belajar ninja tapi dia tetap saja punya perasaan kalau orang itu Iljimae. Pimpinan gang bersumpah kalau mereka harus menemukan Pria Bertopeng Hitam itu. Tidak peduli apapun yang terjadi.

Di tempat lain, Iljimae mengalihkan perhatiannya ke emas itu. Menggunakan pengalaman pandai besinya, Iljimae mempersiapkan peralatan pandai besi dan sebuah oven untuk mencairkan metal. Dia begitu tersedot ke pekerjaannya sehingga Wol-hee yang dia suruh2 menjadi sedikit kesal karena diabaikan.

Wol-hee bahkan mengetes Iljimae dengan mencibir, “Aku pasti mendapat masalah kalau menikah dengan orang sepertimu.” Wol-hee menjadi patah semangat sebab Iljimae bahkan tidak memperhatikannya dan hanya berfokus pada pekerjaannya. Tapi sebenarnya, Iljimae peduli pada Wol-hee. Ketika dia selesai dengan peralatan pandai besinya, dia kembali memperhatikan Wol-hee.

Beberapa waktu kemudian, ketika metal sudah mulai mencair, Iljimae menjelaskan pada Wol-hee kalau langkah selanjutnya bisa dilaksanakan. Iljimae mengatakan kalau metalnya sekarang sedang mendidih. Wol-hee malah berkata, “Itulah yang aku rasakan!” Iljimae memandangi Wol-hee dengan terkejut lalu tersenyum.

Akhirnya, ketika emas sudah siap, Iljimae memulai fase selanjutnya – menuangkannya ke cetakan. Ketika dia mengeluarkan emas itu, benda itu sudah berbentuk bunga plum.

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

The Return Of Iljimae – Episode 07

Ketika Iljimae terdampar di Jepang, Wang Hweng Bo sedang mencoba kabur dari penjara. Tapi tentu saja tidak berhasil. Dia ingin menguatkan kakinya untuk rencana kabur yang selanjutnya.

Gu Ja Myung menghadapi masalahnya sendiri. Semuanya bersumber dari pejabat yang menikam Cha Dol karena mencuri. Pria sombong itu adalah alasan kenapa Gu disalahkan karena gagal menangkap Iljimae, begitu pula dengan pembunuhan di pasar. Sebagai hukuman, Gu dicopot dari jabatannya dan dikirim ke pengasingan. Dia dipenjara selama semalam – di dekat Wang Hweng Bo – dimana untuk keesokan harinya dia dipindahkan dengan kawalan. Anak buah Gu tahu kalau dia orang baik tapi tidak bisa berbuat apa2 sebab pejabat sombong itu punya pengaruh besar. Mereka melepas Gu dengan berat hati.

Tak ada yang mengganggap kejadian itu seberat Soo Ryun. Ketika Gu pergi, dia berusaha menahan air mata dan menyatakan kalau dia akan menunggu Gu hingga kembali. Soo Ryun berfokus pada kasus pembunuhan di pasar sebab dia percaya bila dapat memecahkan kasus itu maka Gu akan kembali. Ketika menginterogasi ulang Bae Sun Dal, pria ini menyebutkan sesuatu yang sangat mengganggunya – tepat sebelum mayat itu ditemukan, dia bertabrakan dengan pria yang punya tahi lalat di pipi. Pada waktu itu, dia mengganggap hal itu tidak penting tapi itu ternyata terus mengganggunya.

Dengan informasi ini, Soo Ryun melacak penjahat itu dan berhasil membuntutinya. Masalahnya adalah, meski mereka berhasil menangkap pria itu dan menginterogasinya, pria itu adalah pembunuh bayaran. Dia menolak untuk mengatakan siapa orang yang telah membayarnya untuk membunuh.

Gu melakukan perjalanan jauhnya dengan diikat. Ketika dia dan pengawalnya berhenti untuk makan, Gu mendengar beberapa pria merencanakan akan melakukan penyerangan dan pemerkosaan terhadap seorang mantan gisaeng bernama Bae Mae, yang hidup sendiri. Gu meminta pada pengawalnya agar membiarkannya pergi sebentar sebab ada sesuatu yang harus dia lakukan atas nama penegakan keadilan dan aturan. Dengan reputasi Gu yang bagus, pengawal itu setuju dan melepas ikatan Gu. Dia bahkan ingin membantu.

Kedua pria itu mengintai rumah Baek Mae malam itu. Dan selagi mereka menunggu, Gu memandangi Baek Mae dari tempatnya bersembunyi. Tak lama kemudian, sekelompok pria mengendap-endap di halaman rumah Baek Mae. Gu dan pengawalnya yang mendengar teriakan Baek Mae segera melompat dan berkelahi dengan para pria itu.

Gu bertanya pada Baek Mae apakah dia masih ingat dengannya. Gu menyebutkan namanya dan ternyata hal itu membuat Baek Mae kaget dan menjauhkan dirinya dari Gu. Tanpa mengucapkan terima kasih, Baek Mae mengatakan kalau dia tidak pernah meminta bantuan Gu. Dia lalu mengurung dirinya di rumahnya. Pengawal Gu benar2 marah dengan sikap Baek Mae tapi Gu hanya berkata, “Itu karena dia pernah disakiti oleh pria!” Tujuan Gu sudah tercapai, dia melanjutkan perjalannya sambil berpikir, “Jika dia hidup, kita akan bertemu lagi di lain waktu!”

Sekarang kembali ke pahlawan kita, Iljimae. Setelah diselamatkan, dia terbangun di rumah seorang pria baik dan istri pria ini merawat Iljimae dengan baik sejak ditemukan di pantai. Ketika Iljimae berjalan-jalan keliling, dia melihat putri pasangan itu, Rie (Sandara Park), yang menderita penyakit serius. Ibunya menemani gadis itu di sisinya dengan wajah khawatir dan ayahnya juga sama terlihat khawatirnya.

Iljimae memperhatikan seorang pria, Kotari, yang berkeliling di sekitar rumah. Dia kemudian menemukan Kotaro di sebuah kuil. Iljimae bertanya pada Kotaro tentang penyakit yang diderita Rie, tapi tidak ada yang tahu apa penyakit itu. Yang mereka tahu adalah Rie akan segera meninggal. Kotaro itu tipe pria pendiam yang memendam marahnya dan mengatakan kalau doa-nya sama sekali tidak berguna, “Tapi, hanya ini yang bisa aku lakukan!”

Iljimae tiba2 ingat pada tas-nya. Dia lantas mengeluarkan ginseng gunung yang diberikan ayah Dal Yi padanya. Dia memberikan ginseng itu pada pasangan suami istri itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawanya. Dal Yi pernah mengatakan tentang kekuatan menyembuhkan ginseng langka itu. Pasangan Jepang itu mengakuinya dengan sangat terheran2. Ibu Rie meraih tangan Iljimae dan berkata, “Kau telah menyelamatkan putri kami.”

Rie dengan segera bisa bangkit dari tempat tidur dan berjalan-jalan serta melakukan kegiatannya yang biasa. Dia dan Iljimae menghabiskan banyak waktu bersama ketika Iljimae membantu ayah Rie dengan pekerjaan pandai besi, memancing serta pekerjaan sejenisnya. Ketertarikan Rie pada Iljimae terlihat jelas saat Rie menyebutkan betapa dekat jarak negara mereka. Iljimae tidak membesarkan hati gadis itu. Dia tetap ramah meski sering menyendiri.

Rie bertanya pada Iljimae kenapa dia tidak meminta ayahnya untuk melatihnya. Iljimae menjawab kalau dia sedang belajar. Tapi Rie mengatakan kalau bukan melatih sebagai pandai besi – tapi ninja. Ini sebuah kejutan buat Iljimae sebab dia tidak tahu kalau ayah Rie ternyata seorang ninja. Rie mengajak Iljimae ke sebuha kamar rahasia di rumah itu dimana mereka menemukan senjata seperti pedang, nunchaku, shuriken, dan lainnya. Rie menyarankan agar Iljimae meminta ayahnya untuk melatihnya. Normalnya, ayah Rie tidak akan mau tapi dia pasti tidak menolak karena Iljimae sudah menyelamatkan nyawa Rie.

Jadi dimulailah latihan ninja, yang juga dilakukan dengan Rie. Pelatihan ini melibatkan semua senjata dan membuat mereka harus naik ke puncak pohon hingga ke bawah air. Pada saat yang sama, Kotaro yang patah semangat menyaksikan Iljimae dan Rie yang semakin terikat. Ketika Iljimae sudah sampai di tingkat tertentu, ayah Rie menyerahkan sebuah shuriken pada Iljimae sebagai bagian terakhir dari latihan itu. Iljimae akan tinggal di hutan dan menggunakan senjata itu untuk mendapatkan makanan. Jika Iljimae tidak berhasil, takdirnya adalah mati kelaparan. Ayah Rie juga mengatakan kalau sekarang diantara mereka tidak ada hutang lagi. Semuanya tergantung pada kemempuan Iljiame untuk menjadi seorang ninja.

Rie sangat khawatir pada tugas berat ini ketika Iljimae menuju ke hutan dengan hanya berbeka sebuah shuriken. Iljimae memanjat pohon, mengikuti kelinci tapi semuanya perjuangan ini semakin membuatnya lemah. Pada suatu waktu, kakinya bahkan terjerat di semak2 ketika Iljimae mulai mengejar satu buruan yang membuatnya jatuh ke tanah. Kitaro tiba2 muncul dan melihat betap kelelahannya Iljimae. Dia memberikan sebuah tip: mata harus melihat sebelum tubuh bergerak. Kata2 Kotaro itu pasti sangat hebat sebab Iljiame tiba di rumah Rie beberapa saat kemudian. Dia terlihat sangat kacau dan kelelahan sambil membawa seekor bebek yang mati.

Kedua orang tua Rie sangat senang karena Iljimae lulus tes itu. Tapi Rie terlihat sangat cemas. Dia mengatakan kalau yang masih tersisa adalah test melempar shuriken yang akan berlangsung beberapa hari lagi di festival desa dan setelahnya, Iljimae akan resmi menjadi seorang ninja. Ada hal lain dalam kegembiraan Rie yang tidak disadari Iljimae. Ketika dia bertanya pada Kotaro tentang test itu, Kotaro mengatakan kalau Iljimae dengan kemampuannya yang luar biasa akan mampu melewati tes itu bahkan dengan mata tertutup. Kotaro tahu Iljimae tidak mengerti Rie menyemangatinya menjadi ninja, Kotaro menambahkan, “Dengan begitu, Rie bisa menikahimu!” Masalahnya, seorang ninja tidak bisa menikahi orang yang bukan ninja.

Pada festival itu, Rie akan mengikuti upacar pertambahan usianya dimana pada saat itu dia juga akan menunjuk pria yang ingin dia nikahi. Sebelum Iljiame datang, Kotaro adalah satu2nya calon Rie. Jujur saja, Iljimae tidak pernah tertarik pada Rie, dia sudah punya wanita lain. Iljimae menjawab kalaupun Rie menyebutnya, dia tidak bisa menikahi Rie. Kotaro mengatakan, “Jika kau menolaknya, dia harus tetap sendiri seumur hidupnya!”

Kotaro menunjuk seorang wanita paruh baya yang menyedihkan. Dia ditolak dan sekarang harus menderita seumur hidupnya. Jika ini masalahnya, Iljimae jadi bertanya-tanya, “Kenapa kau menolongku di hutan?” Kotaro memerlukan waktu lama untuk mejnawab ini dan akhirnya dia berkata, “Aku juga tidak tahu!” Iljimae memikirkan dilemma ini selama beberapa hari ke depannya saat Rie sedang mempersiapkan upacara itu. Dia tidak bisa menikahi Rie tapi gagal dalam tes itu akan membuat ayah Rie kecewa. Dan menolak Rie akan membawa Rie ke kesepian seumur hidup.

Tidak sadar dengan perjuangan Iljimae, Rie menantikan tes Iljimae dengan antusias. Ini hanya formalitas jadi sebenarnya dia sudah dipastikan menjadi ninja. Iljimae diberikan sebuah shuriken dan dia berdiri di depan sebuah lilin yang menyala dan di depan para juri serta para penonton. Iljimae memerlukan waktu lama untuk melihat targetnya dan ketikan shuriken dilempar, Iljimae malah mengarahkannya ke tembok. Karena keluarga Rie tahu kemampuan Iljimae jadi mereka sadar dia melakukan ini secara sengaja. Rie sendiri sangat sakit pada penolakan ini.

Di rumah, ayah Rie bertanya apakah ini artinya Iljimae akan pergi. Waktu dia mengiyakan, ayah Rie menghadiahinya sebuah shinobi katana (pedang). Iljiame kaget dan berkata, “Aku tidak berhak menerima…” Ayah Rie mengatakan kalau tugas utama seorang ninja adalah membuat dirinya selamat. Malam itu, Rie menemui Iljimae sebelum dia pergi. Iljimae mencoba mengatakan pada Rie kalau Kotaro jauh lebih baik untuknya. Tapi Rie memotong pembicaraannya. Rie menggenggam Iljiame sambil menangis dan menciumnya.

Sambil terisak, Rie mengucapkan selamat tinggal dan pergi terburu-buru. Keesokan harinya, Iljimae berangkat. Dia mengikuti jejak di pinggir danau ketika sebuah suara berteriak memanggilnya dari seberang: Kotaro! Kotaro yang biasanya bicara lembut sekarang malah berteriak dan mengatakan kalau dia tahu Iljimae sengaja mengalah dalam tes itu. Iljimae berkata, “Jaga diri,” dan diapun mulai pergi. Tapi Kotaro memanggil namanya lagi. Dia menyerukan, “Kau temanku, Iljimae!” Iljimae menjawab, “Ya, kau temanku, Kotaro!” kemudian Iljimae berteriak lagi dan mengatakan, “Kotaro, aku punya permintaan! Buat Rie bahagia!” Di seberang sungai, Kotaro melambaikan tangannya yang dibalas oleh Iljimae.

Sudah tiga tahun Iljimae tidak berada di ibukota. Orang jahat yang dulu melakukan pembunuhan dan melimpahkan pembunuhan itu pada Iljimae, sedang merencanakan sebuah kejahatan baru. Dia meletupkan perang dengan kelompok lain. Pertarungan besar diantara penjahat terjadi. Pertarungan meluas ketika grup lain membawa petarung yang sangat kuat dan tentu saja dia dapat dengan mudah mengalahkan lawannya. Tapi grup yang pertama tidak mau kalah. Mereka membawa petarung andalan mereka – Bulgasari Raksasa. Dalam pertarungan ini, Bulgasari yang menang.

Ketika Iljimae kembali ke Korea, dia mengunjungi biksu Yeol Gong, yang menyambutnya dengan senang dan bertanya tentang perjalanan Iljimae. Yeol Gong bertanya tentang maksud kembalinya Iljimae. Iljimae menjawab kalau dia lahir di Korea dan dia orang Korea. Tapi dia tidak punya keluarga disini dan tidak ada yang menyambut kedatangannya. Tapi, Iljimae merasa terikat pada negeri ini ketika dia membaca puisi yang ditulis ibunya untuknya.

Iljimae mengatakan pada Yeol Gong kalau dalam perjalanannya kembali, dia bertemu dengan biksu lain yang mengenal Yeol Gong. Mendengar nama Tae Gam, Yeol Gong menjawab kalau mereka belajar bersama dan Tae-gam adalah orang yang ahli bela diri. Di Jepang beberapa waktu yang lalu, kita melihat bagaimana Tae-gam dan Iljimae bertemu. Biksu itu melihat Iljimae memakan nasi dan memberikan lauk padanya untuk melengkapi nasinya. Iljimae mengenali makanan itu sebagai makanan Korea dan Tae-gam langsung menjelaskan kalau dia selalu merasa bersedih pada tentara yang hanya makan nasi jadi membuatkan itu untuk mereka. Tae-gam menggunakan nama Dakuan.

Mereka berjalan beberapa saat sampai mereka tiba di sebuah lokasi di sebuah hutan dimana Dakuan berjanji untuk bertemu dengan seseorang – seorang pahlawan yang tidak pernah kalah dalam bertarung. Rupanya Dakuan ingin agar Iljimae bertarung dengan orang ini. Dakuan sudah memerhatikan pedang yang dibawa Iljimae dan menebak kalau pria ini pasti punya kemampuan. Pendekar itu melihat Iljimae dengan cepat dan merasa bahwa ini adalah lawan yang kuat. Dia menantang Iljimae untuk bertarung.

Ketika Iljimae menolak ajakan itu, pendekar itu pura2 kehilangan minat kemudian dengan tiba2 dia meluncurkan serangan. Iljimae bereaksi dengan cepat, menarik pedangnya dan berputar sangat jauh. Gerak cepat Iljimae membaut firasat pendekar itu terbukti. Dia menarik tas Iljimae dan membukanya. Dia menemukan barang2 yang berhubungan dengan ninja. Pendekar itu mengatakan kalau pertarungannya sudah berakhir. Dia juga mengatakan kalau dia ingin mengetes Iljimae sebab dia suka pandangan mata Iljimae. Pendekar itu lalu bertanya pelajaran apa yang diikuti Iljimae sebagai seorang petarung.

Iljimae menjawab menggunakan kata2 Yeol Gong: “Mereka yang bisa dibunuh bisa juag diselamatkan!” Biksu dan Pendekar itu mengangguk. Ketika mereka berpisah, pendekar itu memberikan pahatan pada Iljimae: Patung Dewa Api. Benda ini akan melindungi Iljimae. Iljimae bertanya siapa nama pendekar itu. Ternyata dia adalah si ninja terkenal: Miyamoto Musashi.

Kembali ke masa kini. Yeol Gong bertanya apa rencana Iljimae selanjutnya. Iljimae menjawab kalau sambil menunggu hari dimana dia bisa bertemu dengan ibunya, dia akan menggunakan kemampuan yang dia pelajari untuk menolong orang yang lemah.

Setelah tiga bulan kembali, Iljimae melihat bagaimana orang biasa hidup. Ibu kota dipenuhi para gang dan pencuri. Iljimae berencana untuk membantu Gu Ja Myung menjalankan kota dengan baik.

Segera, Iljimae kembali ke Hanyang. Wol Hee melihat sekilas sosok Iljimae di pasar dan langsung berjalan ke tempat Iljimae…

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

The Return Of Iljimae – Episode 06

Iljimae marah2 di dalam bangsalnya yang gelap. Dia berteriak pada biksu itu agar membiarkannya bebas. Beberapa hari berikutnya, biksu itu datang ke bangsal Iljimae dan membawakan makanan untuknya. Biksu berkata kalau Iljimae harus dikurung disana selama setidaknya 10 bulan. Biksu itu berkata, “Iljimae, tempat ini adalah rahim ibumu!” Iljiame perlu waktu untuk merenung dan kemudian lahir kembali ke dunia. Biksu berbicara dengan gaya yang tenang dan hanya ingin agar Iljimae mampu mengendalikan amarahnya. Iljiame malah berteriak, “Aku akan memukulmu!”

Bae Sun Dal menyaksikan Cha Dol menipu pria lain dengan pedang berharganya. Kemudian, dia mengikuti anak itu. Bae melihat Cha Dol masuk ke sebuah halaman, menyembunyikan beberapa koin di dalam lubang di tembok dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, ada tiga orang pejudi yang salah satunya dipanggil Cha Dol ‘ayah’. Ayah menarik Cha Dol dengan kasar dan mengambil semua uangnya. Dia lalu memberikan pedang lain untuk dijual. Cha Dol bertanya apakah dia bisa makan dulu dan ayah bilang kalau dia baru bisa makan kalau dia telah menjual pedang itu.

Bae Sun Dal menyaksikan Cha Dol yang disiksa dengan penuh ngeri. Khususnya lagi setelah Cha Dol pergi dan kedua pejudi yang lain menawarkan untuk membeli Cha Dol. Ayah menolak penawaran itu – sebab Cha Dol membawa keuntungan yang besar untuknya. Bae berlari untuk memperingatkan petugas keamanan tentang para penjudi itu. Mereka langsung menggrebek kandang mereka dan menahan para penjudi itu. Mereka ternyata punya daftar kejahatan yang panjang! Ketika Cha Dol pulang dan mendapati rumah yang kosong, Bae mendekatinya dan memarahinya karena bersedih. Cha Dol melawan dan kabur.

Selama itu, Iljimae dikurung di dalam bangsal yang gelap, sepi, dan terasing. Ternyata benar, biksu mengurung Iljimae disana selama berbulan-bulan: ketika masa kurungan Iljimae habis, biksu bertanya, “Siapa kau?” Iljimae menjawab dengan suara rendah kalau dia hanyalah kutu kotor yang hanya menyebabkan orang lain mendapat masalah, orang tidak berharga yang bernama Iljimae. Biksu setuju. Selama ini, Iljiame hidup dengan membenci orang lain dan bahkan ingin membunuh. Akan tetapi, biksu berkata, “Mereka yang bisa dibunuh, bisa juga diselamatkan!”

Iljiame bebas. Sebelum pergi, dia membungkuk dengan tenang pada biksu. Ketika biksu bertanya kemana Iljimae akan pergi, dia hanya menjawab kalau dia ingin bertemu dengan seseorang yang sangat ingin dia temui. Dan itu adalah Wol Hee. Gadis ini terlihat pergi ke pasar. Saat Iljimae tiba di depan pintu gerbang Wol Hee, Iljimae berpikir kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengucapkan terima kasih. Iljimae berkata, “Aku akan pergi sekarang. Tapi aku janji, aku akan kembali.”

Wol Hee sedang mencari pekerjaan. Dia harus menghidupi diri sendiri setelah ayahnya meninggal karena sakit. Dia meminta untuk mengambil alih pekerjaan ayahnya menyalin tulisan. Pihak percetakan ragu mempekerjakan Wol Hee sampai dia mengungkapkan kalau dialah yang mengerjakan pekerjaan ayahnya setelah ayah jatuh sakit. Saat Wol Hee menemui pamannya, dia memberitahu Wol Hee kalau pekerjaan itu rendahan – meski Wol Hee miskin, tapi tetap saja dia kelahiran bangsawan.

Setiap kelas memiliki tempatnya dalam hidup dan setiap orang harus memperhatikan peranan sosial mereka. Wol Hee mengatakan kalau manusia yang menciptakan pengkelompokan itu dan semua orang bisa melakukan apapun untuk bertahan hidup. Paman kaget mendengar pandangan ini. Wol Hee menjelaskan kalau ini adalah pandangan yang diyakini ayahnya. Wol Hee yakin apapun yang diyakini ayahnya benar.

Di pasar, ada seorang pegawai pemerintah yang mengancam seorang pedagang yang berdagang tanpa ijin resmi. Pedagang ini memberikan tanda kalau dia akan menyuap pejanat pemerintah itu. Kalau dia tidak membayar dalam jumlah besar, maka dia akan dimasukkan ke penjara dan dihukum.

Ketika pedagang itu diseret dan barang dagangannya disita, sebuah gangguan menarik perhatian semua orang. Cha Dol melarikan diri dari seorang pedagang setelah mencuri makanan. Pegawai pemerintah itu mengendalikan situasi. Dia menarik belatinya dan melemparkannya. Cha Dol tertusuk di bagian punggung. Anak itu jatuh dan Bae berlari ke sisinya. Para penduduk heran melihat aksi Bae yang berlebihan. Bae hanya bergumam, “Beraninya kau mencuri!”

Ketika keadaan semakin panas, Petugas Gu tiba untuk menilai keadaan. Mendengar bahwa seorang anak dibacok karena mencuri kue, Gu beralih ke petugas pemerintah itu. Si petugas ini malah marah2 pada reaksi masyarakat – dia adalah orang berjasa yang telah menangkap pencuri. Dia berharap Gu ada di pihaknya. Tapi Gu malah mengatakan pada petugas pemerintah itu kalau karena keterlibatannya dalam urusan ini, dia harus ikut ke kantor polisi.

Petugas pemerintah itu mencoba kabur tapi Soo Ryun menghentikannya. Petugas ini lalu mengeluarkan pisaunya seolah-olah ingin menekankan kalau Soo Ryun bukan siapa2. Terjadi saling pandang yang cukup lama. Tapi, Gu menangani masalah ini dengan bijak dan tenang. Dia memperingatkan pegawai pemerintah itu kalau dia tidak bebas dari hukum. Dia harus tetap datang ke kantor polisi.

Setelah pegawai pemerintah itu dibereskan, mereka bergegas untuk mengobati Cha Dol. Meski anak itu akan sembuh, tapi tabib mengatakan kalau dia perlu istirahat dan pengobatan lebih lanjut. Gu menyusun rencana untuk memindahkan Cha Dol. Tapi, Bae membela anak itu dan menawarkan diri untuk merawat anak itu. Dia juga berjanji akan mengantarkan Cha Dol ke kantor polisi ketika dia sudah sembuh.

Iljimae berkelana ke arah selatan dan tiba di desa pinggir laut. Ke sinilah biksu menyuruhnya pergi. Dia bertanya tentang keberadaan Keol Chi – pengemis yang menjaganya waktu masih bayi. Iljiame melihat mantan pengemis itu dia pantai berbatu, sedang berjuang dengan tombak ikannya. Keol Chi melihat kedatangan Iljimae dengan curiga. Karena Iljimae tahu nama pria itu, maka dia bertanya, “Apakah kau tidak mengenaliku?” Iljimae lalu menceritakan tentang biksu yang mengatakan padanya ada pria bernama Keol Chi yang dulu menjaganya waktu masih bayi. Iljimae berada disini untuk berterima kasih pada pria itu.

Keol Chi ingat dan dia begitu terharu melihat Iljimae sekarang. Dia sangat sakit hati waktu kehilangan Iljimae dulu. Sekarang dia berterimakasih pada Tuhan karena sudah mengembalikkan Iljimae ke sisinya. Dia memegang Iljimae dengan erat. Keol Chi menjelaskan kalau dia terikat pada Iljimae dan sempat mengembara setelah kehilangan Iljimae dulu. Dia berakhir disini dan menjadi nelayan. Dia memerungn beberapa saat kalau hidup ini memang aneh. Dulu dia berharap ingin melupakan bayi itu tapi sekarang malah muncul dihadapannya. Untuk itu, Iljimae harus tinggal dengannya sekarang. Iljimae dengan senang menyetujuinya.

Cha Dol sembuh dari lukanya dan dibawa ke kantor polisi. Masalah pencurian itu bukan lagi jadi masalah besar sebab Bae sudah membayar kue yang dicuri. Akan tetapi, Cha Dol menghadapi masalah yang lebih besar karena menjual pedang palsu. Bae membela dengan mengatakan bahwa dia dipaksa oleh ayah Cha Dol yang abuser. Gu memberitahu Bae kalau pria itu bukan ayah Cha Dol. Sebenarnya, ayah kandung Cha Dol meninggal beberapa tahun lalu dan kemudian diikuti olah kematian ibunya. Cha Dol berkelana selama beberapa saat sampai bertemu dengan pejudi yang mau memberinya makan asal dia mau menjual pedang palsu. Dia juga memaksa Cha Dol untuk memanggilnya ayah.

Cha Dol meminta maaf pada Bae karena sudah menipunya. Bae sendiri tersentuh dan khawatir akan nasib anak itu sekarang. Soo Ryun menjawab kalau Cha Dol akan dikirim ke panti asuhan agar bisa diadopsi. Dia mungkin akan diambildengan cepat karena usianya – bukan diadopsi, untuk bekerja atau dijual sebagai budak. Bae tidak bisa membiarkan Cha Dol dijual sebagai budak. Dia mau mengadopsi Cha Dol!

Sementara itu, Iljimae mengalami hidup yang tenang dan belajar menangkap ikan dari Keol Chi. Mereka hidup dengan tenang di pinggir laut. Akan tetapi, semuanya akan segera berubah. Keberadaan seorang pria tampan di desa terpencil menyebabkan kehebohan di kalangan para wanita. Mereka berusaha menarik perhatian Iljimae tapi dia sama sekali tidak tertarik.

Dan kemudian, suatu hari seorang gadis bernama Bong Yi ditemukan tewas di hutan. Kejadian itu disaksikan oleh seorang gadis jahat bernama Nan Yi, yang menuduh Iljimae sebagai pelaku kejahatan itu. Dia bersikeras kalau dia melihat Bong Yi mencium Iljimae di hutan. Bong Yi digambarkan sebagai gadis yang agresif. Iljimae menolak dan akhirnya memukulkan batu ke kepala Bong Yi.

Iljimae sedang berada di desa ketika dia dipanggil untuk ditanyai. Hal terakhir yang dia lihat sebelum pergi adalah Sung Kae yang mendayung perahunya terburu2 ke sebuah teluk kecil. Ada sesuatu yang aneh tapi dia harus pergi dulu ke tempat tetua desa. Dia harus membela dirinya dari tuduhan aneh itu. Iljimae menolak tuduhan itu dan melihat ada keanehan dalam kesaksian Nan Yi. Nan Yi langsung mengatakan alibinya yang dibenarkan oleh yang lain. Iljimae menjelaskan alibi Nan Yi yang kacau – kalau dia berada jauh, kenapa dia bisa melihat Iljimae membunuh Bong Yi?

Nan Yi tertangkap basah dan bicara tergagap-gagap. Iljimae menjelaskan kalau Nan Yi adalah sepupu Sung Kae dan pria ini terlihat aneh dengan mendayung perahunya ke teluk. Jika Nan Yi tidak mau mengakui kebenaran, mungkin Sung Kae tahu sesuatu. Iljimae bergegas ke teluk dan menghadang Sung Kae yang mencoba kabur. Terjadi pertarungan singkat. Sung Kae mencoba mencambuk Iljimae sebab dia begitu marah.

Iljimae sudah tahu ceritanya dan menarik benda yang selama ini dijaga Sung Kae. Iljimae menemukan banyak perhiasan di dalamnya yang dikenali. Iljimae menjelaskan cerita sebenarnya – Nan Yi membayar Sung Kae dengan perhiasan itu agar dia mau memperkosa Bong Yi. Akan tetapi, Bong Yi melawan dan Sung Kae memukulkan batu ke kepala gadis malang itu hingga dia meninggal.

Semua perhatian tertuju pada Nan Yi, yang jatuh terisak-isak. Dia meraung2 bahwa dia melakukan itu karena Bong Yi lebih cantik darinya. Nan Yi mengaku kalau dia takut Bong Yi akan mencuri Iljimae darinya. Tapi, ketika Iljimae mendengar ini, dia diam dan mencerna fakta kalau dia adalah sumber kekacauan ini.

Sung Kae mencoba melakukan serangan terakhir untuk mengalahkan Iljimae tapi gagal. Iljimae ingin mengakhiri ini semua dalam kemarahan yang aneh. Dia naik ke atas tebing dan melompat ke laut dan berteriak, “Semoga hidupmu menyenangkan. Aku pergi!” Malam itu, Iljimae tenggelam dalam pikirannya dan mengatakan pada Keol Chi kalau dia mungkin harus meninggalkan desa ini. Semua ini tidak akan terjadi kalau dia tidak datang.

Keol Chi segera berkata kalau Iljimae tidak perlu menyalahkan dirinya. Semuanya adalah salah seorang gadis kejam dan pria bodoh. Kalimat itu sangat menenangkan. Tapi Iljimae menyelinap di tengah malam buta. Dia mengambil perahu Keol Chi dan berlayar. Celakanya lagi, dia bertemu dengan badai waktu masih di tengah lautan. Sepanjang malam, Iljimae berjuang agar bertahan di atas perahu.

Ketika pagi tiba, yang terisisa hanyalah patahan perahu Keol Chi. Iljimae menggantungkan nyawanya dengan memegang papan sampai tiba di darat. Iljimae kelelahan dan terbaring tidak sadarkan diri di pinggir pantai. Seorang pria datang untuk menyelamatkannya. Iljimae ternyata terhempas hingga ke Jepang…

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

The Return Of Iljimae – Episode 05

Jauh di pegunungan, Iljimae dan ayah Dal Yi memanen Ginseng liar yang sangat berharga. Kemudian mereka kembali. Iljimae sangat ingin bertemu Dal Yi. Dia tidak memperhatikan tanda bahaya yang dirasakan oleh petarung berpengalaman seperti ayah Dal Yi. Tapi, Dal Yi muncul di pintu dan Iljimae berlari untuk menyapanya. Melihat ini, Gu Ja Myung mendekat dan mengepung Iljimae yang telah jatuh ke perangkap mereka.

Para petugas mengecoh Iljimae dengan mendandani Seo Ryun seperti Dal Yi dan akhirnya berhasil menangkap Iljimae. Petugas yang lebih muda sangat puas atas kerja mereka. Akan tetapi, Gu Ja Myung meralat sebab jika mereka benar2 bertarung, mereka pasti kalah. Bahkan, Seo Ryun tidak akan mampu mengalahkan ayah Dal Yi – Master Bela Diri yang dulu menjadi pelatih bagi para petugas yang masih baru.

Rupanya, memburu Iljimae telah membawa Petugas Gu pada buruan yang lebih besar, yaitu ayah Dal Yi – pria yang bernama asli Kang Seo Wook menghilang bertahun-tahun yang lalu setelah dituduh sebagai pengkhianat. Dia terlibat dalam sebuah persekongkolan yang melibatkan menteri pertahanan. Gu menginterogasi Kang. Ayah angkat Dal Yi ini mengahadapi takdirnya dengan tenang.

Menteri Pertahanan adalah bangsawan Lee Joon Shik, ayah kandung Dal Yi. Ketika Lee dituduh melakukan konspirasi dan dibunuh, Kang yang memang mengabdi padanya membawa kabur Dal Yi untuk menyelamatkan hidupnya. Gu merasa sedih sebab tidak ada yang percaya pada Kang tapi Kang sama sekali tidak mengaharpkan itu. Dia tahu Gu tidak bisa melakukan apa2 untuknya ataupun untuk Dal Yi. Tapi Kang punya permintaan: “Iljimae tidak tahu siapa kami, jadi biarkan dia pergi.” Gu berjanji akan melakukan sebisanya. Kang: “Itu adalah permintaan terakhirku!”

Karena tidak tahu akan hal ini, Iljimae senang, berpikir bahwa mereka di penjara hanya karena kasus pencurian ayam. Dia berjanji akan membayar pemilik ayam2 itu dan akan meminta maaf. Kang Seo Wook memecah keheningan dan bertanya apakah Iljimae masih ingat tempat mereka mencari ginseng di gunung. Kang berkata: “Tempat itu akan menolongmu suatu hari nanti!”

Iljimae tidak mengerti hingga Kang bertambah serius dan meminta Iljimae untuk mendengarkannya: “Hanya untuk waktu singkat. Aku memikirkanmu dengan teknik pedang Jang Baek. Aku pikir teknik itu akan mati bersamaku dan aku merasa begitu malu pada para leluhurku. Tapi setelah bertemu denganmu, aku mampu mewariskannya padamu. Ini adalah anugrah untuk para leluhurku. Sekarang aku akan mengajarimu untuk yang terakhir kalinya. Ulangi apa yang aku ucapkan: temukanlah kebenaran sebuah pedang dengan sebuah pedang. Temukanlah kebenaran perang melalui sebuah perang. Temukanlah kebenaran seseorang melalui seseorang. Kalimat2 ini diwariskan oleh leluhurku. Maknanya, harus kau sadari sendiri.”

Iljimae dibebaskan tapi Dal Yi dan ayahnya masih di dalam penjara. Dia bingung sebab hanya dia yang dibebaskan. Dia mengejar penjaga penjara tapi dia tidak mendapatkan informasi apa2. Iljimae merasa bahwa dialah yang bersalah. Karena tidak mendapat jawaban juga, dia melakukan hal nekat.

Bae Sun Dal membeli pedang dari Cha Dol. Melihat pria dewasa ini yang tertarik pada seni bela diri, Cha Dol mengatakan kalau pedang itu dijual untuk membeli obat ayahnya yang sakit. Cha Dol ini anak pintar. Tidak lama setelahnya, Petugas mendatangi Bae dan mengatakan kalau dia sudah ditipu. Anak itu telah menjual pedang palsu pada semua orang dan mengatakan kalau itu adalah benda berharga.

Beberapa hari setelah kebebasannya, Iljimae melihat pergerakan dari penjara – Dal Yi dan ayahnya dipindahkan dengan kurungan kayu. Kelihatannya Dal Yi tidak mengerti pada apa yang akan terjadi. Dia menangis waktu Iljimae malihatnya dan memangil namanya. Iljimae mencoba menerobos penjaga tapi mereka mengahalangi Iljimae hingga dia harus tetap berada dalam jarak jauh.

Iljimae mengikuti rombongan itu sampai ke sebuah lokasi di hutan dimana seorang pengeksekusi telah mempersiapkan pedangnya. Iljimae sama sekali tidak mempercayainya dan malah marah2 pada Bae Sun Dal yang saat itu berkata kalau sayang sekali harus membunuh seorang gadis muda. Mendengar kata ‘membunuh’, Iljimae menarik Bae dan bertanya apa yang sedang terjadi. Bae menjelaskannya. Setelah tahu kalau Dal Yi dan ayahnya akan mati, Iljimae mengumpulkan kekuatannya untuk menggapai Dal Yi. Dia memanggil namanya tapi para penjaga menghalanginya.

Yang pertama dipenggal adalah Kang. Dal Yi menangis ketika melihat tubuh di sampingnya tergeletak di tanah. Dia ketakutan waktu pengeksekusi mendekatkan pedang ke lehernya. Iljimae bertambah gila. Dia berteriak, “Ini aku Iljimae! Dal! Dal Nim!” Waktu mendengar nama Dal Nim, seorang biksu yang ada di kerumunan itu menajamkan telinganya. Biksu ini adalah yang dulu menyelamatkan Iljimae. Dal Yi menelusuri kerumunan dan disanalah dia melihat wajah sedih Iljimae. Meski wajahnya penuh ketakutan, tapi dia memaksakan sedikit senyum. Kemudian Dal Yi pun dieksekusi! Iljimae melihat tubuh Dal Yi jatuh ke tanah.

Setelahnya, Iljimae benar2 merasa marah. Sangat marah. Dia telah kehilangan kekasih dan figure seorang ayah. Saking marahnya, dia ingin sekali berkelahi. Iljimae manabrak seorang pria di pasar dan pria itu mengatakan kalau sebaiknya Iljimae memperhatikan langkahnya.

Iljimae mangancam pria itu. Dia menendang kios dan mengobrak-abrik barang dagangannya. Ketika ada yang mencoba melawannya, Iljimae memukul orang2 itu hingga banyak orang2 yang terluka berceceran di tanah. Sementara itu, Bae Sun Dal memperhatikan Iljimae dengan takjub tapi dia terus bersembunyi agar tidak terlihat. Seorang pria menyusup dalam perkelahian ini. Dia baru saja mengalami kerugian dan ingin membunuh pria pemilik kios dan menyalahkan Iljimae.

Ketika Gu Ja Myung mendengar kalau Iljimae mengamuk, dia mengerti jika Iljimae pasti mengalami syok berat setelah melihat apa yang terjadi pada Dal Yi dan ayahnya. Ja Myung memerintahkan anak buahnya untuk membawa Iljimae pulang ke rumahnya. Dia juga mempersiapkan rumahnya sedemikian rupa untuk menyambut putra Baek Mae.

Pedagang itu dibunuh di sebuah gang. Iljimae melihat mayatnya ketika dia kabur tapi dia sedang dikejar oleh kerumunan yang marah. Dia membuat keputusan yang cepat dan lari dari tempat itu. Tak lama, Iljimae dituduh sebagai pembunuhnya. Gu Ja Myung tidak percaya mendengar berita ini. Dia tidak menyangka kalau Iljimae akan membunuh orang. Di TKP, dimana kerumunan mengelilingi mayat pedagang itu, Petugas Gu memeriksan mayatnya dan menemukan kalau pria itu dibacok.

Gu bertanya apakah Iljimae membawa pisau. Bae Sun Dal maju dan mengatakan kalau dia memperhatikan Iljimae dan tidak melihat pisau. Gu senang mendengar ini dan berharap bahwa bukan Iljimae pembunuhnya. Dia lalu memerintahkan untuk menangkap Iljimae. Memang tidak gampang bersembunyi jika semua orang mencarinya. Iljimae terpojok. Dia melompat ke atas sebuah tembok lalu ke sebuah atap. Dari sana dia memandang para pengejarnya. Petugas Jung Tae berteriak, “Turunlah dan minta maaf atas kesalahanmu. Maka kau akan dimaafkan!”

Iljimae tidak percaya, “Aku tahu ketika aku menyerahkan diri, aku mati! Kalian akan memenggal leherku seperti Dal Yi, benar kan?” Iljimae terus kabur. Dia melompat ke sebuah tembok dan memasuki rumah seseorang. Disana, dia bertemu dengan Dal Yi… Iljimae memanggilnya dan mendekat. Gadis itu mengatakan kalau dia bukan Dal Yi. Tapi dia adalah Wol Hee! Iljimae menyadarinya. Tidak mungkin itu Dal Yi. Waktu mendengar para petugas mendekat, Iljimae mulai akan kabur lagi tapi Wol Hee mengehentikannya – jalan yang dipilihnya buntu!

Jung Tae mengetuk gerbang dan bertanya pada ayah Wol Hee apakah ada pria muda yang datang kesini. Dia kemudian memaksa masuk dan mendobrak pintu. Di dalam dia melihat Wol Hee yang sedang berbaring tanpa ditutupi Jeogori. Jung Tae memalingkan matanya. Ayah Wol Hee memarahinya atas ketidaksopanannya. Jung Tae dan yang lagi gagal menangkap Iljimae.

Wol Hee sedikit terganggu menyadari bahwa Iljimae dikejar oleh petugas tapi anehnya dia malah membantunya. Wol Hee menawarkan makanan dan tempat beristirahat untuk Iljimae. Dia menerima makanannya tapi menolak untuk beristirahat. Iljimae berterimakasih dan juga heran kenapa Wol Hee mau membantunya. Dia juga bingung atas kemiripan Wol Hee dengan Dal Yi.

Wol Hee merasakan ada masalah tapi tidak tahu apa. Ketika dia memperhatikan Iljimae makan, dia berpikir kalau di satu sisi kelihatannya Iljimae jatuh cinta padanya tapi di sisi lain, kelihatannya dia ingin menjauh darinya. Dengan enggan Wol Hee menawari Iljimae untuk menginap tapi ditolak. Iljimae berkata kalau dia akan membawa bencana yang lebih besar untuk Wol Hee. Iljimae bilang, “Aku tidak akan pernah melupakan bantuanmu!” lalu dia pergi.

Di markas, Jung Tae mengeluh tentang lukanya dan Iljimae. Gu Ja Myung berkata, “Iljimae seperti ibunya. Ibunya juga bisa sangat tangguh!” Wang Hweng Bo melihat ada kesempatan. Dia menawarkan akan menangkan Iljimae untuk Gu. Dia berkoar kalau hanya dia yang bisa menangkap Iljimae. Gu tahu Wang Hweng Bo sangat licik. Dia menghadiahkan Wang dengan sebuah manset tambahan di kakinya.

Dalam pelariannya, Iljimae kembali ke gua yang dulu dia bagi bersama Dal Yi. Dia bertambah sedih setelah bertemu dengan Wol Hee. Dia meluapkan kemarahannya, “Sial! Aku akan membunuh mereka semua!” Sebuah suara menyaut, “Siapa yang akan kau bunuh?” Itu adalah biksu yang Iljimae lihat di tempat eksekusi. Biksu itu ternyata juga menginap di gua ini.

Awalnya, biksu ini bercerita tentang hal entah apa dan tiba2 dia mengatakan tentang sesuatu yang berhubungan dengan dibuang di sungai dengan sebuah kembang plum. Iljimae tertarik, “Apa kau membicarakanku?” Dia ingat perkataan Wang Hweng Bo tentang seorang biksu. Iljimae bertanya apakah dia adalah biksu yang menyelamatkannya. Biksu itu berkata, “Ikut aku. Aku akan membawamu pada ibumu.”

Iljimae mengikutinya. Biksu itu membawa Iljimae ke kuilnya. Dia mengajaknya ke belakang ke sebuah bangsal. Biksu itu menyuruh Iljimae masuk mengatakan kalau dia ingin tahu tentang ibunya dia harus masuk. Pada awalnya, Iljimae khawatir. Tapi dia masuk juga. Sang biksu menendang Iljimae masuk lalu mengunci bangsal itu. Dia berkata pada Iljimae: “Kau anjing tersesat yang menggigit semua orang. Anjing tersesat seharusnya tetap berada di dalam gerbang!”

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com