Tamra The Island – Episode 02

Saat sedang duduk mau bab Park Kyu dari jauh melihat porselen mirip pispot. Tak Jauh dari tempat itu William yang berjalan-jalan di sekitar situ pun melihat porselen miliknya. William pun berlari ke arah porselen itu sebaliknya di lain arah Park Kyu juga berlari ke arah porselen itu.

Tapi di tengah jalan William dihadang oleh kakek tua yang makan ikan bersama kemarin.
Park Kyu pun bahagia mendapatkan porselen itu. Ia pun berteriak kegirangan. William pun mau teriak namun dibekap oleh kakek tua. Park Kyu melihat ke sekelilingnya dilihtanya nggak ada orang dibawanya porselen itu. William pun hanya bisa melihat hartanya dibawa pergi Park Kyu dengan lemah di sekapan kakek supaya William nggak berteriak.

Ternyata Park Kyu menjadikan porselen itu sebagai pispot , ia pun membuang babnya dikandang babi.
Dengan senyum penuh percaya diri ia berkata,”itu benar, itu benar. Bagaimana rasanya ini adalah milik bangsawan ?”serunya (huekssssss mual-mual saia wkkwkw).

Park Kyu pun menyimpan pispot itu dalam kamarnya dengan hati-hati.

Sementara itu William bersama kakek tua duduk bersama. Kakek tua menakut-nakuti William menggunakan topengnya. Ia pun menepuk-nepuk William dan mempergakan orang dipotong lehernya.

“Sampai sekarang belum ada orang asing meninggalkan Chosun(Korea) dalam keadaan hidup”ujarnya. Tapi William nggak ngerti apa yang dibicarakan kakek tua itu. Lalu kakek tua itu menoleh dan dilihatnya wig rambut pirang.”Oh!apa ini?”tanyanya sambil mengambil wig itu.

Lalu kakek tua itu memperhatikan wig itu mirip rambut William lalu ia mencoba mencari tahu cara pakainya, ia pun memakainya. William pun tertawa kecil diikuti kakek tua itu. Lalu kakek tua itu memberikan topengnya ke William.
“Ambil ini, aku akan mengambil ini”ujar kakek tua sambil memegang kepalanya yang sudah memakai wig, ceritanya jadi barter nih wig buat kakek, topeng buat William hahaha.
“Ini adalah pertukaran yang adil”serunya.

William masih memperhatikan topeng itu, lalu kakek menyentuh topeng itu dan berkata,”Ini adalah topeng raja, orang-orang tak peduli siapa pun ingin menjadi raja bahkan dengan membunuh ayahnya sendiri dan bahkan membunuh saudaranya sendiri”ujarnya. Kakek tua William mana tahu apa yang kakek bilang hahaha.

Sementara itu di pos ronda penjaga upeti untuk istana di lembah Sanbang tertidur pulas. Seorang pencuri datang membuka kandang kuda yang akan jadikan upeti. Semua kuda terbaik yang sudah disipakan untuk upeti itu pun dibawa semua oleh pencuri.

Keesokan paginya di rumah keluarga Jang. Ny. Choi mencampur makanan di dipan luar tengah . Park Kyu melihatnya dengan agak jijik. “Apakah itu benar-benar makanan untuk manusia? Apa yang berbeda dari makanan untuk babi?”gumannya. Lalu ia berdiri untuk menyaksikan langsung makanan itu. Ny. Choi, Tn. Jang, Beo Seol pun memakan makanan itu bersama, Ny. Choi menengok ke arah Park Kyu yang diikuti Tn. Jang. “Ingin makan sedikit juga? Jika kamu ingin makan, bekerjalah. Di sini tanganmu diam, maka mulutmu juga akan diam. Mengerti?”seru Ny. Choi .

“Bagaimana tidak sopan menyuruhku untuk bekerja. Aku tidak mau makan bahkan jika anda memintaku untuk memakannya. Yang tampak seperti makanan untuk babi begitu”seru Park Kyu lantang, berdehem lalu melangkah pergi.

“Dia belum cukup lapar”ujar Ny. Choi meneruskan makannya.
“Seberapa kuat….sepertinya sejak dia datang ke sini, dia tidak makan apa pun”ujar Tn. Jang.
“Lemah….. yah! Dia bukan orang yang dipengasingan kita, kita sudah banyak menampung mereka. Orang-orang yang kaku lehernya awalnya perlu kelaparan untuk membuat leher mereka lentur seperti daging dari landak laut”seru Ny. Choi mendebat suaminya. Tn. Jang pun ngambek lalu istrinya Ny. Choi menyuwirkan ikan dan menaruh disendok Tn. Jang. Tn. Jang pun tersenyum lalu sepertinya minta disuapin.

Begitu menengok dilihatnya anaknya Beo Seol memperhatikan kedua orang tuanya ini dengan jutek. Beo Seol pun kesal lalu menaruh sendoknya.”Aku akan meninggalkan kalian sendirian, sehingga kalian dapat melanjutkan apa yang kalian lakukan”serunya lalu mengambil tas perlngkapan tulisnya dan melanngkah pergi.

Tinggallah berdua kedua orang tua ini, lalu Tn. Jang bersiap disuapi dia pun menyerahkan sendoknya pada istrinya. “Makan sendiri”ujar istrinya, namun Tn. Jang tetap meminta istrinya menyuapinya, istrinya pun akhirnya menyuapi suaminya. Mereka pun tersenyum.

Di lain tempat penjaga yang semalam berjaga di pos ronda dibawa ke kantor kepolisian.
“Tuan! Tunggu sebentar”teriak istri penjaga. Akhirnya istri penjaga itu menghadang kedua opsir yang membawa suaminya.
“Beri kami satu hari lagi, kami pasti akan menemukan kudanya”pintanya.
“kami tidak bisa melakukan apa-apa. Pejabat itu memerintahkan kami untuk membawanya segera…”seru opsir kurus.
“Dia bahkan tidak bisa tidur untuk melindungi kuda-kuda yang dijadikan upeti! Dan sekarang dia harus ditangkap dan dihukum?”protes istri penjaga.

Dari jauh Park Kyu memperhatikan dan mendengarkan percakapan orang-orang ini.
“Ah!apakah kamu tahu kejahatan besar itu adalah membiarkan upeti dicuri?”seru opsir gendut.
“Hanya memberi kami satu hari lagi! Satu hari lagi!”rengek istrinya memohon, tapi kedua opsir penjaga ini tidak mengindahkan permintaan istri penjaga upeti. Kedua opsir pun menerobos istri penjaga yang menghadang dan membawa penjaga pergi. “Tuan, tuan!”teriak istrinya. Park Kyu pun melihat orang itu di bawa pergi .

Di kantor kepolisian, kepala kepolisian memperintahkan menghukum penjaga yang menghilangkan barang upeti tadi.
“Hukum orang yang bersalah karena kejahatannya!”teriaknya. Lalu Yi Bang pun mengingatkan lagi karena belum juga dihukum.
“Apa yang kalian lakukan?”serunya. Penjaga itu pun ditengkurapkan dalam papan dan disiram air lalu mulai dipukul pantatnya secara bergantian oleh dua orang algojo. Penjaga itu hanya bisa berteriak kesakitan setiap dipukul.

Di luar gerbang istrinya memohon supaya suaminya dilepaskan.
“Ayahnya Yang Son bisa mati!”teriak istrinya mencoba menerobos masuk namun dihadang 2 opsir pengawal. Istrinya terdakwa itu pun terdorong jatuh oleh kedua opsir. Banyak orang yang melihat kejadiaan ini tanpa mampu berbuat apa-apa, ternyata Park Kyu juga ada, mungkin ia mengikutinya tadi seperti ia berpikir ada yang tidak beres dengan kejadiaan ini makanya dia mengikuti.

“Aigoo, ini sangat tidak adil! Tidak adil!”protes istrinya. Park Kyu pun melihat ketidakadilan ini.

Malamnya Park Kyu memperhatikan sebuah peta, sepertinya peta daerah Tamna ini, ia berpikir kemana kuda-kuda itu akan dibawa lewat peta tersebut. Ia mencoba menulis kata kuda dalam peta itu. “Kuda” (dalam bahasa Cina “Ma”, Korea “Mal”) tulisnya

Keesokan paginya, berbekal peta semalam Park Kyu berkunjung ke sebuah pos penjaga upeti di Lembah Dae Jung Hyun. Ia ingin mengecek apakah kuda-kuda yang dicuri semalam ada di tempat itu.

Sesampainya di pos penjagaan yang dijaga seorang laki-laki tua, buru-buru penjaga itu menemui Park Kyu. Penjaga itu siap mengayunkan kayunya” Siapa Anda?”tanyanya.
“Aku orang yang tinggal di pengasingan di desa Sanbang. Aku datang hanya untuk melihat kuda-kuda”jelas Park Kyu pada penjaga.
“Kehidupan di pengasingan apakah begitu santai”ujar penjaga.
“Aku mendengar tempat ini….memegang kuda upeti untuk raja, tetapi kuda-kudanya agak banyak….”seru Park Kyu.

“Itulah yang aku katakan, kuda-kuda untuk raja hilang”ujar penjaga.
“Apakah kamu mengatakan bahwa kamu sedang dirampok?”tanya Park Kyu.
“Hanya sehat dan kuat yang diperuntukkan bagi raja, diambil tikus dan burung tanpa memperhatikan peternak dari sini dan ada yang diambil oleh polisi”jawabnya.
“Aku tidak bisa tidur malam ini, aku terus mengawasi mereka”lanjut penjaga itu lalu melangkah pergi. Park Kyu pun mendengarkannya dengan seksama dan berpikir.

Sementara itu William di laut mengawasi para wanita menyelam yang sedang bercakap-cakap.
“Di rumahku semua kue beras dalam toples benar-benar menghilang kemarin”seru salah seorang penyelam.
“Kue beras hilang tidak masalah, kalian tahu bahwa kuda yang diperuntukkan bagi raja hilang”seru Ny. Choi. Salah seorang penyelam gemuk sedang menguliti ikan segar.
“Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Kita dikenal tidak memiliki pencuri di desa kita”tanya Ny. Choi pemimpin penyelam.

William yang melihat salah seorang penyelam mengguliti ikan segar dengan pisau dan memakannya mentah-mentah begidik ketakutan.
“Aigoo, rasanya benar-benar segar!”ujar salah seorang penyelam setelah makan ikan yang dikulitinya mentah-mentah (huekssss).
Penyelam lainnya dan Ny. Choi pun mengambil ikan dan memakannya. “Ikan terbaik adalah ketika kalian memakannya langsung setelah menangkapnya”seru Ny. Choi lalu memasukkan ikan mentah ke mulutnya.

William yang melihatnya dari jauh pun kaget dan merasa jijik lalu mundur ke belakang yang menimbulkan bunyi. Dengan sigap ketiga wanita penyelam ini mengambil pisaunya dan melangkah menuju asal suara. William yang melihatnya pun langsung pergi meninggalkan tempat persembunyiannya itu. Dan ketika ketiga penyelam ke tempat itu sudah tidak ada siapa-siapa.
“Kurasa aku mendengar sesuatu….”ujar seorang penyelam. “Aku juga mendengarnya”ujar penyelam gendut menimpali. “Oh, mungkin ada babi liar?”pikirnya. Ia dan penyelam gendut pun antusia bersiap menangkapnya.
“Kita harus menghemat energi kita untuk menyelam ke dalam laut”seru Ny. Choi lalu melangkah pergi, penyelam gendut pun mengikutinya.

Malam hari Beo Jin dan William duduk di pinggir pantai, Beo Jin mengajari William tidur memakai selimut dari anyaman daun kelapa.
“Jika kamu kedinginan di malam hari, kamu dapat menutup diri dengan ini”seru Beo Jin sampil mempraktekannya.
“Kesepian di tempat asing mungkin membuatmu merasa lebih kedinginan”tanya Beo Jin.
“Penutup?”tanya William sambil mempraktekkannya. Beo Jin pun mengangguk. (Beginilah nasib dua orang yang tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama, bahasa isyarat pun jadi hahahaha).

“Me Too” darimana kau berasal? Seberapa jauh kau datang?”tanya Beo Jin.
“Aku juga”ujar William sambil menunjuk dirinya.
“Me Too, kau. Kau darimana datang ke sini?”ulang Beo Jin. Sepertinya William mulai menyadari kesalahapaham ini, William mulai menyadari Beo Jin menganggap namanya “Me Too” ia pun mengklarisikasinya.
“Tidak, tidak, aku William, William J. Spencer”jelas William sambil menunjuk ke arahnya sendiri.
“Dari mana kau datang, bahwa kamu tidak tahu bagaimana berbicara dengan bahasa kami?”ujar Beo Jin sambil memperhatikan William. Beo Jin pun mengambil tangan William dan memegangnya.
“Aku ingin tahu sedikit, tapi itu baik-baik saja. Percaya saja. Karena kita berteman sekarang “Me Too”. Aku akan melindungimu”ujar Beo Jin menjelaskan.

Lalu tiba-tiba William terpikir sesuatu mengambar untuk menceritakan kejadian William bisa terdampar di pulau itu. “Aku datang dari lautan di Inggris, terus menjauh dari ibuku yang menakutkan dan jauh dari tunanganku karena aku takut bersamanya. Dengan sahabatku Ya, aku berangkat ke Nagasaki untuk mencari keramik yang indah. Setelah perjalan panjang, kami hamper dekat dengan Nagasaki tapi karena tiba-tiba terjadi badai, aku jatuh ke laut. Aku pikir aku akan mati…. Untungnya aku William selamat, seorang anak laki-laki yang beruntung! Sekarang aku masih hidup dan jatuh ke pulau ini yang indah di Asia Timur. Aku bahkan bertemu dengan seorang putri duyung yang cantik. Dan itu adalah…..”ujar William sambil menggambarkan ilustrasinya di atas pasir.

“Apakah itu aku? Benarkah?”tanya Beo Jin. “Namaku Beo Jin”ujar Beo Jin sambil menujuk ke dirinya sendiri. William pun terdiam masih belum mengerti apa yang dibicarakan Beo Jin, lalu Beo Jin terpikir ia pun menuliskan namanya di pasir pakai hangul. “Tunggu apakah ini benar?”guman Beo Jin lalu menambah huruf lagi. “apakah ini?”gumannya (Beo Jin kamu nulis benar atau salah William juga nggak tahu hahahaha).
“Anyway…namaku Beo Jin. Beo Jin.”seru Beo Jin terpatah-patah mengejanya.
“Beo Jin”ulang William. Beo Jin pun mengangguk.”Jadi itu namamu?”seru William lalu ia akhirnya ngeh. “Ah…aku…William”lanjut William terputus-putus.
“Will….i….am”ulang Beo Jin.

“William. Wi-li-am”ujar William terputus-putus supaya Beo Jin bisa mengikutinya.
“Wi….li…am”ulang Beo Jin. William pun mengangguk.
“Namamu William? Aku pikir namamu adalah “Me Too”seru Beo Jin tertawa.
“Itu benar-benar nama yang aneh. William, William, William”ulang Beo Jin sambil tertawa menghafal nama William. William pun tertawa lalu mereka menikmati pemandangan malam di tepi pantai.

Keesokan paginya Beo Jin bertugas mengambil air di sumur bersama.
“Hei, semua!”sapa beo Jin sambil melambaikan tangannya. “Apa yang kalian bicarakan?”tanya Beo Jin yang sudah mendekat ke arah Kkeut Boon dan kedua temannya.
“Seseorang yang beruntung bahwa ia adalah putri seseorang”jawab Kkeut Boon.
“aku mendengar kamu dalam perjalanan menyelam?”tanya salah satu teman Kkeut Boon.
“Kenapa aku?”tanya Beo Jin melongo.

“Ibumu… kamu bahkan bukan seorang penyelam yang terampil tetapi kamu bisa pergi juga. Kamu beruntung”jawab teman Kkeut Boon tadi.
“itu tidak masuk akal”ujar Beo Jin.
“Alih-alih Kkeut Boon yang merupakan penyelam terbaik. Beo Jin mungkin akan mempromosikan kelompok kita yang pertama”ujar teman Kkeut Boon yang lain.
Beo Jin pun panik dia segera kembali pulang tidak jadi ngambil air. Kkeut Boon yang kesal dengan Beo Jin langsung meminum air langsung dari gayung yang dipakai untuk mengambil airnya dan membantingnya kwkwk.

Sesampainya di rumah Beo Jin langsung menghadap ibunya.
“Ibu, aku benar-benar akan ikut menyelam ke dalam laut dalam? Mengapa aku harus ikut pergi?”tanya Beo Jin. “Ibu, kau sudah tahu keterampilan menyelamku. Penyelam akan mengalami banyak kesulitan dalam perjalanan ini, bagaimana aku bisa mengatasinya?”keluh Beo Jin.

Lalu tiba-tiba ibunya Kkeut Boon datang dan menyela,”Siapa yang tidak tahu? Tidak apa-apa kau tidak pergi” Lalu Ibunya Kkeut Boon ikut duduk dan berkata,”Ibumu ingin kau pergi supaya kamu memahami kekurangan dalam dirimu. Kita akan lihat besok. Kita bahkan mungkin harus menangkap untuk kehidupan atau mati dilaut”ujar ibunya Kkeut Boon. Beo Jin pun hanya mendengarkan dengan masam.
“Itu hanya bicara yang tidak masuk akal…pergi dan bersiap-siap untuk besok”bentak Ny. Choi pada ibunya Kkeut Boon. Lalu tiba-tiba Tn. Jang keluar rumah, segera ibunya kkeut Boon berdiri dan menyerahkan makanan yang dibawanya.
“Oppa!”serunya sambil menyerahkan makanannya dan Tn. Jang pun menerimanya.
“Aku…aku akan dalam perjalan menyelam dan besok akan kembali”lanjutnya.
“Selamat jalan”seru Tn. Jang.
“kau satu-satunya orang yang mengkhawatirkanku”seru ibunya Kkeut Boon.
“Apakah kau tidak pergi?”tanya Ny. Choi melihat suaminya digoda wanita lain cemburulah. Ibunya Kkeut Boon tersenyum lalu melangkah pergi. Ny. Choi pun melihat isi klenting Beo Jin masih kosong, sebelum dimarahi dengan sigap Beo Jin pun mengambilnya dan bergegas lari.
“Itu,……anak itu….bahwa…..bahwa…”omel ibunya sambil mau mengajar Beo Jin tapi ditahan ibunya.

“Sayang, Aaakh….”seru Tn. Jang sambil mengambil makanan yang dibawanya untuk disuapkan ke mulut istrinya. Tn. Jang pun menyuruh istrinya membuka mulut untuk disuapi. Istrinya pun menerima suapan suaminya.

Ternyata ibunya Kkeut Boon belum pulang ke rumah, ia masih bersembunyi dibalik batu ketika dilihat makanan yang sengaja dibuatkan untuk Tn. Jang diberikan pada istrinya apalagi dengan mesra begitu, ibunya Kkeut Boon pun cemburu dan marah. “Oppa!!!”teriaknya. Ny. Choi pun kaget dan salting lalu ia menghambur pergi yangdiikuti suaminya kwkwk.

Keesokannya penyelam yang sudah terbagi dalam 3 grup berangkat menyelam. Beo Jin pun ikut serta.

Kkeut Boon dan kedua temannya melihatnya dari jauh. “beo jin sangat beruntung!”puji salah satu teman Kkeut Boon. Dengan wajah kesal Kkeut Boon mengusap pisaunya. (wahhh nggak luka ntu hahaha).

Sementara itu di rumah Tn. Jang Park Kyu meminum langsung air dari gentong penyimpanan air sesaji.
“Apakah Anda tahu air apa itu?”tanya Beo Seol didepan pintu.
“Apakah ini air kotor?”ujar Park Kyu.
“Ini air baru yang diambil untuk nenek Sulmoondae dimana kami berdoa untuk kesejahteraan penyelam kami”seru Beo Seol menjelaskan.
“Lalu ini harus bersih?”tanya Park Kyu.
“Apakah itu semua yang dapat anda pikirkan?”tanya Beo Seol.
“Apa yang kamu maksud dengan ini?”ujar Park Kyu.

Lalu tiba-tiba Tn. Jang menanyakan ke Park Kyu apakah ia baru saja meminum air sesaji itu dengan isyarat karena suara Tn. Jang hilag, lau ia berdehem suaranya pun kembali.
“Kami tidak ingin nenek Sulmoondae marah….”ujar Tn. Jang lalu ia terpikir sesuatu.
“Itu baik-baik saja…. Aku akan pergi mengambil air”serunya sambil melangkah pergi.
“Ayah, aku yang akan mengambil air”ujar Beo Seol merasa kasian dengan kondisi ayahnya lalu mulai menggendong tempat air yang biasa dipakai Beo Jin. Ayahnya melarang Beo Seol tapi Beo Seol kekeuh di gendongnya tempat itu lalu bersiap pergi.

“Itu cukup”seru Park Kyu lalu melangkah keluar menghampiri Beo Seol.
“Aku akan pergi dan mengambil air”serunya lalu mengambil klenting (bingung mau dinamain apa ari namain klenting aja biasanya dijawa gitu ini agak mirip jadi namain klenting aja hahahaha) dari gendongan Beo Seol lalu melangkah pergi.

“Seperti yang diharapkan, rakyat jelata percaya pada takhyul”guman Park Kyu sambil berjalan.
Tn. Jang yang mendengar pun berkomentar,”Bangsawan, tentu saja ningrat berbeda karena anda akan tetap pergi dan bawa banyak air supaya tidak pergi untuk kedua kalinya, bawa banyak air untuk minum dan untuk mencuci beras”ujar Tn. Jang menjelaskan. Park Kyu pun menoleh ke arah Tn. Jang dengan penuh tanda tanya, Tn. Jang pun berkedip tersenyum, Park Kyu pun berdehem dan melanjutkan langkahnya.

Sementara itu di tempat pengambil air bersama sudah banyak orang mengantri mengambil air.
“Orang yang diasingkan itu!”ujar teman Kkeut Boon, Park Kyu melihat seorang ibu-ibu kecapean membawa airnya, tidak tega ia pun meletakkan klentingnya dan membantu membawakan kelnting ibu itu ke atas.
“Biarkan aku membantumu”ujar Park Kyu lalu mengambil klenting ibu itu dan membawanya ke atas.
“Biarkan aku membantumu….biarkan aku membantumu”bisik teman Kkeut Boon pada temannya.

Setelah selesai membantu ibu tadi Park Kyu kembali tapi begitu ia kembali, banyak wanita sudah mengantri minta ditolong wkkwkwkw. Mereka mengeluh sakit punggungnya , mau tak mau Park Kyu pun membantu mengangkatkan klenting mereka satu persatu. Begitu seterusnya, dan dihitung oleh kedua teman Kkeut Boon yang duduk santi di depan barisan pengantri.

Selesai membantu mengangkat sebanyak 3 kali, begitu Park Kyu kembali disana ada Kkeut Boon duduk di atas batu dengan menggoda.
“Capek, bukan?”tanya Kkeut Boon. Lalu Kkeut Boon berdiri sambil berkata,”haruskah kita pergi ke suatu tempat sambil minum teh?”tanya Kkeut Boon menggoda. Park Kyu pun hanya tersenyum dan bersiap melanjutkan pekerjaannya. Kkeut Boon melihat rayuannya tidak berhasil pun tidak kehilangan akal.
“Ah,dia malu….”ujarnya lalu mulai mendekati Park Kyu dan mengendus-ngedusnya (mirip anjing hahaha).
“Setiap orang seperti itu di awal…”kata Kkeut Boon. Park Kyu tidak mengindahklan rayuan Kkeut Boon, ia melangkah pergi namun tangannya segera di tarik Kkeut Boon.
“Jangan takut!”ujar Kkeut Boon sambil memeluk Park Kyu.
Tiba-tiba terdengar Yi Bang datang melihat semua itu. “Hei, kau….”teriak Yi Bang.
Kkeut Boon dan semua wanita yang mengantri tadi pun menghambur pergi.
“Aku sudah bilang untuk memperbaiki caramu… dan kamu masih belum belajar? Bagaimana mungkin kamu berjalan di sekitar dimana ada banyak perempuan tanpa pakaian lengkapmu sebagai bangsawan?”seru Yi Bang.

“Berhati-hatilah dari apa yang anda katakan?”ujar Park Kyu.
“Kau pikir bercanda dengan wanita masih ok?”tanya Yi Bang.
“Anda harus memperhatikan diri anda dengan kebiasaan desa. Meskipun penduduk desa bekerja tanpa lelah kehidupan mereka yang menyedihkan! Bukankah ini tanggung jawab bagi mereka yang bertanggung jawab?”seru Park Kyu menjelaskan.
“Bagaimana kamu bisa berkata kasar seperti itu? Bagaimana orang di pengasingan begitu mudah berbicara tentang orang lain begitu?”ujar Yi Bang tidak percaya.
“Aku….aku berada di tengah-tengah pekerjaanku. Anda harus memaafkanku”ujar Park Kyu lalu melangkah melanjutkan tugasnya.

Sementara itu di pinggir laut para penyelam bersiap-siap dengan melakukan pemanasan. Mereka melakukan beberapa gerakan menyelam. (ngakak ni nontonnya lucu hahahaha). Beo Jin yang ikut dalam pemanasan itu berguman”William pasti lapar”. Beo Jin pikirannya dimana tapi jiwanya ada bersama para penyelam .

Di lain tempat William mencari-cari ikan di laut dengan bambu runcing sebagai senjata. Ia kesal karena tidak mendapatkan satu ekor ikan pun.

Para penyelam pun sudah mulai penyelam, tiba-tiba dua orang penyelam berteriak ke permukaan bahwa mereka menemukan kerang besar,”itu raja kerang!raja kerang!”seru duaorang penyelam. Ketua penyelam (ibunya Beo Jin) pun menyelam ke dalam air, Beo Jin yang kesal pun mau tak mau ikut menyelam.

Para penyelam pun menyelam menuju kerang yang disebutkan tadi, Ibunya Beo Jin dan ibunya Kkeut Boon berusaha mengeluarkan kerang besarnya, Beo Jin yang datang berusaha membantu diusir hehehe. (mereka menyelam diiringi ost keren banget, tim ost dan lyric request ya, lagi susah ngudek-udek google saia). Beo Jin pun kembali ke permukaan.
Kerang besar tadi diangkat dengan tambang . Akhirnya kerang itu pun berhasil muncul ke permukaan. Para penyelam pun pun bersorak kegirangan.

Sementara itu Park Kyu berjalan-jalan sambil menyelidiki jejak pencurian. Dia pun menyentuh jejak kuda dan terbesit suatu pikiran.

Ternyata Park Kyu masuk ke dalam hutan. Dan di dalam hutan itu ada William yang sedang mencari makanan yang bisa dimakan. William yang baru memetik beberapa buah langsung pergi ketika melihat Park Kyu. Park Kyu yang menoleh menyadari ada dahan pohon bergoyang pun menghampirinya, dilihatnya ada bekas batang baru saja patah, ia pun menyentuhnya lalu berpikir.

Kembali ke para penyelam. Para penyelam membakar sebagian ikan yang diperoleh. Beo Jin kembali sambil membawa kayu bakar.
“Apakah kau belajar sesuatu, kamu hanya terampil menyelam di air yang dangkal dan mengumpulkan rumput laut. Kamu seharusnya tidak ikut bersama kami. Bagaimana kau bisa ikut dalam perjalanan menyelam ini?”protes ibunya Kkeut Boon. Lalu ibunya Beo Jin pemimpin penyelam datang dan duduk bersama .
“Dengan mendengarkan semua pembicaraan ini, kamu harus masih memiliki sisa kekuatan. Aku ingin menyelam lagi besok untuk Raja kerang lain. Bagaimana?”seru Ny. Choi.
“Oh, gee! Meninggalkan penyelam terburuk, putri seseorang sendirian dan tidak membiarkan kita beristirahat”protes ibunya Kkeut Boon.

“eee…dari hal tampilan, bahkan kamu tidak bisa menyelam dengan baik”bentak Ny. Choi pada Beo Jin. Beo Jin pun matanya sudah kembang kempis mau nangis.
“Ketika kita pulang besok, kau harus pergi menyelam ke tempat dangkal, setidaknya untuk belajar menyelam kali ini”lanjut ibunya.
“Bu, tidak bisakah kamu melihat betapa sulitnya ini untukku?”tanya Beo Jin yang sudah tidak dapat menahan tangisnya.
“Jika kamu menginginkan sesuatu yang lebih besar begitu banyak di sekitar kita. Anda hanya menggantinya dengan sapi!”protes Beo Jin.
“apa itu! Ini…ini….mulutmu! jika kamu adalah orang pertama yang datang menyelam mendalam dengan kami, kamu harusnya berhati bangga. Kamu telah mengerjakan yang paling sulit”ujar Ny. Choi pada Beo Jin.
Beo Jin pun menangis dengan keras.”Aku bukan seperti it. Siapa bilang aku ingin menjadi seorang penyelam””protes Beo Jin sambil menangis.
“Jika kamu lahir di Tamna, kamu ditakdirkan untuk menjadi seorang penyelam. Mengapa kau menangis?”seru ibunya.
“Mengapa aku lahir sebagai putrimu?”protes Beo Jin lalu bergegas pergi. “aish……aish….”guman ibunya menghadapi kekeras kepalaan Beo Jin.

Beo Jin menyendiri di tepi laut sambil melihat matahari terbenam. (kerennnnnn).

Sementara itu Park Kyu yang sedang membaca buku di kamar mendengar seseorang berteriak ada pencuri.
“Tangkap pencuri, Semua orang keluar!”teriak orang yang datang. Semua rang pun telah berkumpul.
“Apa yang terjadi? Tenang . Apa itu?”ujar Tn. Jang pada pembawa berita itu.
“Aku sedang tidur, kemudian aku mendengar sesuatu. Perlahan aku keluar bayangan gelap masuk dan mengambil sesuatu”jelas pembawa berita itu.
“Mungkinkah seekor babi hutan? Mungkin?”tanya salah seorang warga.
“Tidak, bukan itu….aku melihat hati-hati, itu manusia!”jelas pembawa berita.

Tiba-tiba Yi Bang datang mengagetkan semua orang.
“Sudah larut malam, keributan apa ini?”seru Yi Bang.
“tuan, apa yang terjadi pada larut malam ini….”ujar salah seorang warga.
“Aku tanya keributan apa ini?”tanya Yi Bang lagi.
“Pencuri datang ke rumahku”jawab pembawa berita tadi.
“Apakah kau mengatakan pencuri? Apakah seseorang mencuri barang yang dikenakan pajak lagi?”tanya Yi Bang.
“Bukan itu.. hanya beberapa tiram kering. Bukan barang kena pajak. Mengambil pisauku… bahkan telur rebus yang ingin kumakan “jawab pembawa berita tadi.
“Bahkan rumah kami, beras yang telah disiapkan untuk acara ritual juga hilang”ujar salah seorang warga.
“Itu tidak masuk akal. Pencurian kecil semacam itu harus dilaporkan ke polisi dengan tenang. Semua kekacauan ini akan mengkhawatirkan orang lain? Kembali ke rumah masing-masing. Cepat!”seru Yi Bang.

Park Kyu pun mendengarkan dengan seksama di dekat orang-orang itu.

Sementara itu para penyelam sudah kembali dari penyelamannya. Beo Jin yang sejak awal enggan ikut, kembali dengan ketus ditambah dengan pertengkarannya dengan ibunya, ketika ibunya menoleh ke arahnya dengan segera Beo Jin membuang muka. Para penyelam pun turun ke dermaga di sambut para suaminya.

“Ibu Kkeut Boon , aku disini”teriak ayah Kkeut Boon. Dengan segera ibunya Kkeut Boon berlari kea rah suaminya. Beo Jin yang beradu pandang dengan ibunya memasang muka jutek lalu melangkah pergi. Ibunya hanya keheranan melihat tingkah laku Beo Jin. “Itu….gadis itu… apa yang telah membuatmu menjadi marah?”teriak ibunya.

Di lain tempat William duduk di gua sendirian memainkan topengnya. Tiba-tiba Beo Jin datang dan duduk di sebelahnya. “Beo Jin”seru William. Melihat Beo Jin duduk dengan lesu dan sedih William berkata,”Beo Jin, kau baik-baik saja?”tanyanya.
Beo Jin pun menoleh ke arah William dan berkata,”William, kamu akan pergi dari sini, kan?”
William menatap Beo Jin penuh tanda tanya.”Kamu harus membawaku bersamamu. Kau mengerti? Jangan lupa untuk membawaku bersamamu, kamu harus”pinta Beo Jin sungguh-sungguh.

William yang tidak mengerti apa maksud Beo Jin hanya terdiam mendengarkan kata-kata Beo Jin dengan seksama, lalu Beo Jin mengambil tangan William. Lalu Beo Jin mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking William sehingga jempol saling bertemu untuk mengikat janji.
“Janji, bahwa kau tidak akan meninggalkan aku sendiri. Bahwa kamu pasti akan membawaku bersamamu”ujar Beo Jin. Tapi tetap saja William nggak ngerti hahaha.

“Mulai sekarang William tidak bisa pergi sendiri, jika kamu melanggar janji yang dibuat dengan jari-jari seperti ini kamu akan di seret ke bawah dalam gelombang laut oleh nenek Young Deung”jelas Beo Jin.
“Mengerti?”tanya Beo Jin. William pun mengangguk padahal nggak ngerti apa maksudnya Beo Jin ntu wkwkkw. Beo Jin pun melepaskan jari-jarinya, ia mulai curhat pada William, tentu saja dengan bahasa yang William tidak dimengerti William.
“Aku benar-benar ingin meninggalkan tempat ini. Jika ada orang yang lebih banyak sepertimu, maka dunia akan luar biasa dan berbeda. Tapi mengapa aku harus terjebak di Tamna untuk sisa hidupku?”keluh Beo Jin yang mulai hampir menangis. Melihat Beo Jin begitu sedih dan hampir menangis William pun menguatkan Beo Jin, ia menggengam tangan Beo Jin dan tersenyum mengangguk kea rah Beo Jin. (mungkin ikatan batin kali ya William juga tertekan dengan sikap ibunya begitu pula Beo Jin hehehe).

“Meskipun kamu tidak mengerti, mampu mengatakan hal-hal seperti ini kepadamu hatiku merasa lebih baik. Terima kasih, William”ujar Beo Jin tersenyum ke arah William. William pun tersenyum padanya.
Lalu Beo Jin melihat topeng yang ada dipangkuan William dan mengambilnya.
“Tetapi mengapa ini di sini?”tanya Beo Jin.
“Apakah kamu suka? Lihatlah…”ujar William sambil mengambil topengnya dari tangan Beo Jin lalu memakainya. “Huarggggggg”seru William sambil memakai topeng itu diwajahnya untuk menaku-nakuti Beo Jin. Beo Jin pun tertawa kecil dan tersenyum ke arah William. William pun membalas senyumnya.

Beo Jin pulang ke rumah dengan mengendap-endap, ia pun menaruh peralatan selamnya dengan hati-hati dan merasa lega karena tidak ada siapapun. Lalu ia melangkah, baru beberapa langkah ia berhenti dan menoleh ke arah ruangan Park Kyu, ia berjalan mendekati ruangannya sambil memelet-meletkan lidahnya untuk mengejek.

Tapi Beo Jin sedang tidak beruntung ternyata yang di ejek diluar kamar dan memergokinya wkwkkwkw. Sepertinya Park Kyu baru kembali dari tempat biasanya (?????), Park Kyu mendekat ke arah Beo Jin sambil membawa porselen di belakang tubuhnya. Beo Jin kaget saat menoleh dilihatnya Park Kyu berdiri disampingnya.
“Kau seperti gadis sebesar kuda poni, kamu seharusnya takut mengendap-endap dalam gelap”seru Park Kyu.

“jika kau tahu gelap menakutkan, dari mana saja kau sampai sekarang?”selidik Beo Jin. Park Kyun pun membentak Beo Jin, lalu Beo Jin memperhatikan kalau Park Kyu menyembunyikan sesuatu, ia pun ingin melihatnya.
“Kamu, ada…apa itu?”tanya Beo Jin sambil menyelidiki apa yang dibelakang Park Kyu.
“Itu bukan urusanmu”seru Park Kyu
“Tidak, ini sangat kebetulan….apakah Jinsangpae!?”seru Beo Jin lalu menghampur ke arah park Kyu mau mengambil apa yang disembunyikan di belakangnya. Park Kyu pun menahan kepala Beo Jin lalu terjadilah perebutan.
“Biarkan aku lihat”teriak sambil berusaha melihat apa yang dibelakang Park Kyu.

“Uh Huh! Bisakah kamu mengendalikan diri?”teriak Park Kyu balik. Mendengar suara berisik diluar ibunya Beo Jin pun membuka pintu. Mereka bedua pun kaget. Di lihatnya ibunya melotot kea rah mereka berdua karena dilihatnya posisi Beo Jin dan Park Kyu membuat salah paham orang kwkwkw.
Beo Jin pun menatap ke arah ibunya lalu melepaskan pegangan tangannya di pinggang Park Kyu, dan menaboknya lalu melangkah pergi. Park Kyu menoleh ke arah NY. Choi yang masih memperhatikannya lalu ny. Choi dengan masih tanda tanya menutup pintunya. Park Kyu pun kaget lalu berdehem.

Tapi tiba-tiba Beo Jin membuka pintunya, Park Kyu pun kaget dikiranya Ny. Choi yang membukanya wkkwk. “Pencuri”omel Beo Jin di depan pintunya lalu menutup pintunya dengan keras. Park Kyu pun mendesis dengan kesal. (couple yang aneh wkkwk).

Sementara itu William di atas batuan melihat pemandangan yang indah dengan taburan kerlap-kerlip kunang-kunang. “Ini indah”guman William. Angin pun berhembus sepoi-sepoi William sangat menikmati suasa itu. ( Tamna-Jeju Island pulau yang sangat indah seRF fams?)

Di lain tempat Park Kyu sedang bersiap-siap pergi, ia merapikan dan memakai topinya. Lalu meniup lampu dikamarnya dan bersiap menyelediki kasus pencurian yang terjadi kemarin malam.

Kembali ke William yang berjalan-jalan di hutan memakai topengnya. Tiba-tiba dilihatnya dua buah pahatan patung dilepasnya topengnya dan ia pun menghampiri kedua buah patung tersebut. Tiba-tiba terdengar ocehan orang mabuk buru-buru William memakai topengnya kembali dan bersembunyi.

Orang mabuk tersebut kebelet pipis (namanya belum tahu tapi orangnya sama kayak yang rumahnya kecurian itu). Orang mabuk tadi ternyata malah pipis di tempat William bersembunyi yaitu di depan dua buah patung pahatan. Ketika sedang enak-enaknya pipis orang mabuk tadi melihat di tengah-tengah patung itu ada sesuatu yang lain, tapi dia belum ngeh.
“Jangan salahkan aku, aku kebanyakan minum”gumannya. Lalu tiba-tiba ia ngeh di tengah-tengah kedua patung itu ada sesuatu yang lain. “Omo”gumannya, woalah ternyata patung itu yang buat orang mabuk ini hahaha. Ia pun memperhatikan kedua patungnya dangan yang ditengah beda.
“Keduanya ini aku yang buat, apa yang satu ini?”gumannya lalu mulai mengambil topeng William.

Begitu ditariknya topeng itu terlihatlah wajah William, orang mabuk tadi pun mengedipkan matanya dikiranya mimpi, lalu dibukanya matanya dan diperhatikannya kembali wajah William yang tidak berkedip. Ia pun menutup matanya kembali tidak percaya,lalu dibukanya pelan-pelan matanya dan dilihatnya William berkedip. Spontan dia pun berteriak dan lari terbiri-birit. “Itu goblin!”teriaknya.

William yang masih di hutan pun melihat botol arak orang tadi tertinggal, botol itu pun di ambil William. “porselen putih!”guman William. Lalu memakai topeng kembali dan membawanya pergi botol itu.

William yang membawa botol arak tadi dengan hati-hati ke suatu tempat, ketika dia mengendap-endap tiba-tiba dari belakang Park Kyu menodongkan pisau ke lehernya. “Siapakah kamu?”tanya Park Kyu. Tapi tidak ada jawaban dari William, “Aku bertanya siapa kamu?”seru Park Kyu.
“Lepaskan topeng aneh itu”perintah Park Kyu. William pun pura-pura mau melepaskan topengnya tapi ia malah meng hempaskan tangan Park Kyu dan melarikan diri. Park Kyu pun mengejarnya sehingga terjadilah pertarungan sengit antara keduanya.
Park Kyu berhasil melukai William, ia menendang William dengan jurusnya, sehingga ketika William berdiri topengnya terlepas.

Park Kyu pun kaget ketika dilihatnya William itu orang barat.
“Orang Barat…?”guman Park Kyu. Dengan gesit William melempar botol arak ke arah Park Kyu dan melarikan diri. Park Kyun pun dapat menghindarinya ia pun segera mengejar William yang tengah berlari. Hampir terkejar William pun membuang topengnya di jalan lalu terus berlari dan Park Kyu mengejarnya. Tapi akhirnya Park Kyu pun kehilangan jejaknya. Dan juga Park Kyu pun tidak mengetahui bahwa topeng William tertinggal ditanah sampingnya.

Keesokan harinya, seperti biasa para penyelam wanita yang telah selesai menyelam memakan masakan sup yang dimasak di pinggir laut oleh anak-anak mereka yang tidak menyelam.(hebat euy masak dipinggir laut hehe)
“Ini mulai mendidih dengan baik “seru penyelam yang bertugas memasak.
Ibunya Kkeut Boon, ibunya teman Kkeut Boon dan Ny. Choi (ibunya Beo Jin) kembali dari menyelam dengan hasil tangkapannya.
“Apakah kamu dapat banyak?”tanya Ny. Choi pada ibunya Kkeut Boon sambil meletakkan hasil tangkapannya dan duduk di samping ibu Kkeut Boon. Melihat banyaknya hasil tangkapan Ny. Choi ibunya Kkeut Boon iri dan sinis melihatnya namun berubah ceria saat terdengar teriakan dari Kkeut Boon.
“Ibu, makan ini!”seru Kkeut Boon yang melangkah ke arah ibunya sambil membawa semangkuk sup. Yang diikuti kedua temannya.
“Oh anakku yang manis”ujar Ibu Kkeut Boon.
Tak kalah Beo Jin pun memberikan semangkuk sup kepada ibunya.
“Sup selera yang terbaik ketika kalian makan di tepi pantai”ujar ibu Kkeut Boon.
Ny. Choi pun meminum sup yang dibawakan Beo Jin.

Lalu tiba-tiba ibunya salah satu teman Kkeut Boon berseru,”Di sana, bukankah itu ayah Beo Jin?”ujarnya sambil menunjuk arah orang-orang yang membawa gerobak yang berisi orang yang terluka parah.
Ibunya Kkeut Boon kaget dengan segera membuang mangkuk supnya dan berlari ke arah ayah Beo Jin.

Yang diikuti oleh Ny. Choi dan yang lainnya mereka pun mengerumi orang yang terluka itu. Sepertinya orang yang digerobak itu penjaga yang bertugas menjaga barang upeti tapi terjadi pencurian lalu dia dihukum pukul itu, kasian banget ampe luka-luka gitu.
“Pasti sangat keras. Apa yang di dunia… bisnis apa ini?”ujar Ny. Choi pada istri orang yang terluka itu.
Istri penjaga itu pun menangis dipelukan Ny. Choi,”Ibu Beo Jin” serunya. Ibu Beo Jin pun menenangkannya.

Tiba-tiba orang yang semalam mabuk datang dan berteriak,”aku melihatnya!.
“Aku melihatnya”serunya. Semua orang yang berkerumun tadi pun melihat ke arah orang yang mabuk semalam.
“Apa yang terjadi?”tanya Tn. Jang (ayah Beo Jin).
“Pencuri itu mengambil semuanya. Dia mengambil semua upeti”serunya. Semua orang pun melongo mendengar cerita orang itu.
“Apa? Dia mengambil semuanya?”tanya ibu Kkeut Boon. Orang yang mabuk pun mengangguk.
“Siapa itu? Kita harus menangkapnya”ujar istri penjaga lalu menangis tertunduk sedih.
“Aku melihatnya. Dia hanya muncul di tengah hutan”seru orang mabuk semalam. Semua orang pun serius mendengarkan penjelasannya.
“Matanya biru, ketinggiannya kira-kira 100 chunck (30meter). Rambutnya melambai-lambai di mana-mana seperti rumput laut. Ia harus!”jelas orang mabuk semalam. Semua orang pun ngeri mendengarnya namun tetap ingin mengetahui siapa orangnya.
“Goblin!”lanjutnya. Semua yang tadi serius mendengarkannya pun jadi tidak percaya pada orang yang mabuk semalam.
“Siapa sih yang coba kamu bohongi?”teriak Ny. Choi. Orang yang semalam mabuk pun terdiam berpikir bagaimana mau menjelaskannya.
“Mari kita pergi. Mari kita pergi”seru Tn. Jang mengajak orang-orang membawa gerobak yang berisi orang yang terluka tadi.
Orang yang mabuk semalam tetap mau menjelaskannya , tapi tidak digubris.

Sementara itu Park Kyu mendatangi tempat yang semalam , tempat dimana dia kehilangan jejak William. Ia pun memeriksa seksama disekitar tempat itu.

Di lain tempat Beo Jin dan William di dalam hutan mengejar kelinci. Ketika Beo Jin berhasil menangkap kelinci tiba-tiba dilihatnya tempat itu seperti bekas tempat di huni manusia ada bekas makanan dan banyak jeruk. Tiba-tiba orang datang membungkam mulut Beo Jin, tapi Beo Jin memberontak melepaskan diri, ia pun menginggit tangan orang itu dan berlari memanggil-manggil nama William.
“William”teriak Beo Jin sambil berlari ke arah William. “Beo Jin”teriak William yang juga berlari ke arah Beo Jin.
“Apakah kau baik-baik saja?”tanya Beo Jin memerikasa kondisi William.
“Ini buruk, mereka datang untuk menangkapmu”seru Beo Jin lalu menarik tangan William untuk segera lari. William terjatuh mereka pun berhenti dan bersembunyi di balik pohon.
“William berhati-hatilah!”pinta Beo Jin pada William yang akan melihat siapa yang datang.

William memperhatikan orang yang datang itu dengan seksama, lalu ia berseru,”Yan?”
Lalu orang itu menoleh kea rah William dan ternyata orang itu jreng…jreng…..jreng…. Lee Ann… *gubraks* maksudnya Yan Kuwabara hehehe.
William pun tersenyum senang, Yan!”serunya. Yan pun tersenyum dan Beo Jin hanya bisa terbengong-bengong hehehe.

William menemani Yan yang mandi di air sungai. William duduk di tepi sungai. “Kau tahu aku tidak bisa percaya kau bersamaku di sini. Dan aku pikir aku yang satu-satunya jatuh dari kapal”ujar William.
“Siapa gadis itu?”tanya Yan.

William tersenyum menjelaskan. “Yah….. dari mana aku harus mulai? Dia telah menyelamatkanku dan melindungiku dan memberiku makanan…. Yan, aku jamin dia bisa dipercaya. Maksudku, aku pasti sudah benar-benar hilang dan dan tidak tahu apa-apa di sini tanpa dia”jelas William.
“Sebaliknya akan hilang dan tidak mengerti, itu bisa cukup berbahaya”ungkap Yan. William pun hanya tersenyum.

Kembali ke Park Kyu yang menelusuri hutan untuk mencari jejak William. “Bagaimana dia melarikan diri di hutan ini begitu cepat? Hal ini tidak bisa menjadi yang pertama kali, bagaimana bisa orang asing”gumannya.
Tiba-tiba seorang kakek menyahut,”Luar biasa . Ini luar biasa, aku melihat bahwa hutan ini sangat indah. Tapi jangan kau pikir ini terlalu dini untuk seorang guru muda ke siaga waktunya jauh dengan alam”ujar kakek tua itu. (kakek tua ini yang makan ikan bersama William dan menukar topengnya ke William dengan wig rambut pirang).
“Dari logat, aku rasa anda tidak berasal dari sini?”seru Park Kyu.
Kakek tua itu pun melompat ke depan Park Kyu. “Siapa namamu?”tanya kakek tua.
“Park”jawab Park Kyu. Kakek tua itu masih menatap Park Kyu yang minta disebutkan nama lengkapnya.
“Park Kyu”tegas Park Kyu. Tiba-tiba kakek tua itu memberi kode diam dan mereka bersembunyi karena ada yang datang.

Ternyata yang datang Yi Bang dia juga menyelediki kasus pencurian itu. Yi Bang menemukan sesuatu benda lalu ia menyimpannya di dalam bajunya. Park Kyu pun mengawasinya dari jauh bersama kakek tua tadi. Setelah mengambil benda yang ditemukan Yi Bang pun bergegas pergi, sedangkan Park Kyu seperti memikirkan sesuatu, ia pun menoleh ke sebelahnya mencari kakek tua tadi namun kakek itu sudah tidak ada.

Di lain tempat William dan Yan mengobrol berdua.
“Bagaimana kamu mengatur untuk membawa semua ini keluar dari air? Oh ini menakjubkan “seru William yang memperhatikan barang-barangnya selamat dari badai. Lalu William mengambil jam pasir,”Wow, bagus”gumannya.

Dari atas batu karang Yan meneropong bintang yang ditemani William.
“Yah, lihat. Sisi utara di sana”seru William.
“33 derajat lintang utara, ini terlalu jauh ke selatan untuk Chosun”ujar Yan.
“Jadi,…Di mana kita sekarang?”tanya William.
“Pulau Tamra!Tentu saja!”jawab Yan.
“Ta-ta…apa?”ulang William.

“Pulau Tamra. Di Eropa mereka menyebutnya Quelpart. Itu sebuah pulau di ujung selatan Chosun”jelas Yan.
“Tamra…. Chosun. Fantastik! Laut ini di isi dengan tanah yang eksostis”ujar William.
“Lebih baik kita segera pergi. Negara ini jauh lebih tertutup dari Jepang. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang terjadi jika orang-orang setempat menemukan kita”jelas Yan lalu melangkah pergi.
“Tidak, aku tidak bisa pergi sekarang. Tidak seperti ini”seru William. Yan pun menoleh kembali ke arah William.
“Maksudku, tidak sampai aku menemukan harta berhargaku kembali”ujar William.
“Tidak ada yang lebih penting daripada keluar dari sini dalam satu waktu. Kita harus pergi ke Nagasaki sebelum Hollandia 2 kali meninggalkan “jelas Yan lalu melangkah pergi.

William terdiam ia pun mengingat bagaimana harta karunnya (porselen yang disimpan Park Kyu) diambil Park Kyu di laut. Bagaimana Beo Jin menyelamatkannya dengan memberinya nafas buatan.

Keesokan paginya, Beo Jin keluar dapur mengendap-endap. Ia pun kaget saat pintu terbuka. Makanan yang dibungkusnya pun terjatuh ke tanah. Dan yang ternyata membuka pintu Park Kyu hehe.

“Kau membuatku kaget! Kamu harus memberitahu kedatanganmu”omel Beo Jin.
“Lihatlah kesalahan bicaramu dan perilakumu yang tidak bijaksana . aku melihat caramu terkejut, kamu seperti telah melakukan dosa”ujar Park Kyu.
Spontan Beo Jin menengok kanan kirinya,”Dosa apa?”tanya Beo Jin.
“Lupakan tentang hal itu. Ambilkan aku air”seru Park Kyu.
“Oh, tentu saja, aku harus membawakanmu air”ujar Beo Jin lemah lembut. Park Kyu pun senang mendengar ucapan Beo Jin.
“Tapi, nanti”lanjut Beo Jin sambil menjulurkan lidahnya ke arah park Kyu dan berlari pergi.
“Itu….itu”omel Park Kyu. Lalu ia melihat Ny. Choi keluar ruangan.

“lihat di sini, kepala penyelam”seru Park Kyu. Ny. Choi pun mengehntingkan langkahnya dan menoleh ke arah Park Kyu.
“Apakah anda pernah melihat sesuatu yang aneh dengan air? Kau tahu… seseorang dengan hidung yang mengarah ke langit, dengan kulit pucat seperti kertas”terang Park Kyu pada Ny. Choi (Park Kyu menjelaskan ciri-ciri William siapa tahu Ny. Choi pernah bertemu dengannya di laut).

Ny. Choi yang tidak tahu apa-apa pun hanya berdecak aneh. “Aku kasihan padamu. Jika kamu bosan, bantu dengan membuat jaring”omel Ny. Choi lalu melangkah pergi.
“Anda sedang berbicara kasar”seru Park Kyu. Ny. Choi pun menghentikan langkahnya lalu melotot kea rah Park Kyu, Park Kyu yang melihat dipeloti jadi diam. Setelah Ny. Choi pergi ke dapur park Kyu pun ngedumel dengan menjejakkan kakinya ke tanah.
Ny. Choi yang memeriksa dapur melihat makanannya sudah tidak ada buru-buru keluar mengambil sapu dan akan memukulkannya ke Park Kyu. Park Kyu pun refleks mundur ke belakang.
“Berapa banyak makanan yang kamu makan hingga tempat makanan kami kosong?”teriak Ny. Choi.
Park Kyu yang tidak tahu apa-apa berpikit,”(beras?apa yang…!)”gumannya kesal. (malang nasibnya ni jadi salah sangka ibunya Beo Jin mengira Park Kyu yang memakannya padahal dibawa ama Beo Jin hahaha).

Sementara itu Beo Jin mengunjungi William, ia pun membangunkan William.
“William, ayo bangun. Aku datang”serunya.
William pun mulai membuka matanya, ketika dilihatnya itu Beo Jin ia pun tersenyum.
“Beo Jin?”ujar William.
“Cepat, bangun. Kamu harus sarapan. Kau Japang, kan? (Japang=lapar?)”ujar Beo Jin.
“Makan ini”lanjutnya sambil menyerahkan bungkusan makanannya. Ketika Beo Jin menoleh Yan kembali ke dalam gua.
“Dia diberkati , datang di waktu yang baik ketika ada makanan”ujar Beo Jin pada William. William pun tersenyum lalu Beo Jin mempersilahkan Yan ikut sarapan bersama William. “Yan, datang ke sini”seru Beo Jin. Tapi Yan diam saja, ia malah duduk di dekat api unggun.
“Aku harus pergi sekarang, aku datang lebih awal karena takut kamu Japang(lapar). Lain kali aku akan membawa banyak. Aku pergi”ujar Beo Jin lalu melangkah pergi.

Tapi William menahan tangan Beo Jin. “Tunggu…tunggu sebentar”seru William dalam bahasa korea.
Beo Jin pun terkaget saat William bicara dalam bahasa korea. “Apa? Apa yang kamu katakan?”tanya William.
Lalu William mengambil sebuah pisau yang sudah terpasangi kepangan rambut emas William dan menyerahkannya pada Beo Jin.
“Ini…bukankah ini rambut emasmu? Ini cukup panjang”ujar Beo Jin senang menerima hadiah itu.

Sementara itu Yan tertawa sinis melihat percakapan kedua orang ini.
“Apakah ini, untukku supaya menjagaku?”tanya Beo Jin.
“Aku baik-baik saja?”jawab William dalam bahasa Korea. Beo Jin pun merasa senang.
“Kamu belajar dari semua yang aku katakan?”ujar Beo Jin. Lalu Beo Jin berniat mengajari sedikit kata-kata dalam bahasa Korea pada William.
“Itu benar, ok. Aku harus mengajari sedikit sebelum aku pergi. Petama , salam pagi”ujar Beo Jin.
“Apakah kamu telah sarapan?”pandu Beo Jin sambil memperagakannya. “Katakan seperti yang aku katakana”ajak Beo Jin.
“Apakah kamu telah sarapan?”ulang William.
“Kau melakukannya dengan baik, William”puji Beo Jin.
“Apakah kamu sudah sarapan, William?”ulang Beo Jin.
“Apakah kamu…sudah …sarapan…. Beo Jin?”ulang William terpatah-patah.
“Aku sudah sarapan”jawab Beo Jin, lalu ia bertanya ke Yan.
“Yan, kau sudah sarapan?”tanya Beo Jin pada Yan. Namun Yan tidak menjawab dia malah melangkah pergi tanpa berkata apa-apa.
Beo Jin kesal mau memukul Yan tanpa diketahui Yan.

Saat selesai menyelam, Beo Jin dengan bangga memperlihatkan hasil tangkapannya, yang ditangkap dengan pisau yang sudah dipasangi jimat pemberian William.
“hey! Hey kalian! Lihatlah tiram ini! Aku menangkapnya. Bukankah ini benar-benar besar?”seru Beo Jin memamerkan hasil tangkapannya.
Tiba-tiba Kkeut Boon datang merebut pisau Beo Jin yang ada jimat pemberian William.
“Apa ini? Apakah ini emas?”tanya Kkeut Boon yang sudah merebut pisau itu dari tangan Beo Jin sambil mencoba menggigit kepangan rambut pirang.
“Yah, berikan kepadaku. Ini milikku?”seru Beo Jin sambil merebut kembali pisaunya. Beo Jin berhasil merebutnya kembali.
“Tampakanya sedikit menarik. Di mana kau menemukan sesuatu seperti itu di pulau ini?”tanya Kkeut Boon.
Tiba-tiba sahabat Kkeut Boon yang selalu bersamanya berkata,” Hal itu, orang yang dipengasingan itu bukan yang memberikannya? Aku benar. Bukan?”tanyanya.
Beo Jin pun kaget tidak tahu harus bilang apa.
“Hal seperti itu hanya berasala dari Hanyang (Seoul)… Beo Jin ah… Apakah itu benar?”lanjut teman Kkeut Boon.
“Benarkah?apakah orang yang dipengasingan yang memberikannya padamu?”tanya Kkeut Boon.
“Ini….orang dipengasingan…”jawab Beo Jin terpatah-patah.
Kkeut Boon pun kesal dia mendorong Beo Jin lalu bergegas pergi.
Beo Jin yang tidak memahami sikap Kkeut Boon yang cemburu padanya berguman,”apa yang dia lihat pada diri orang yang diasingkan itu?

Sementara itu Park Kyu mengikuti Yi Bang yang bertemu dengan seorang petugas. Petugas itu member informasi rahasia pada Yi Bang. Park Kyu pun terus mengikuti Yi Bang yang melangkah pergi.

Baru beberapa langkah menyusul Yi Bang, Park Kyu sudah dihadang Kkeut Boon. Seperti biasa Kkeut Boon mengeluarkan jurus rayuannya dengan cepat menggoda Park Kyu.
“Kenapa kau terus mengikutiku?”tanya Kkeut Boon (wahh kepedean ni Kkeut Boon bukannya dia yang terus mengikuti Park Kyu, pengen disate ni wkwkwk). Park Kyu tidak terkena rayuan Kkeut Boon dia tidak menjawab satu pertanyaan pun dari Kkeut Boon.

“Aku mendengar kau memberikan string emas untuk Beo Jin benar itu? Yang satu melekat pada pisau tiram? Apakah kamu benar-benar mencoba mendapatka perhatian Beo Jin?”tanya Kkeut Boon penuh selidik. Park Kyu hanya menatap Kkeut Boon tanpa menjawab apa-apa lalu ia menoleh ke sana-sini mencai Yi Bang,
“Apakah kau punya juga untukku? Kamu bisa saja tidak hanya membawa satu dari Hanyang?”tanya Kkeut Boon.

Tiba-tiba Park Kyu menarik Kkeut Boon untuk bersembunyi.
Ternyata Yi Bang kembali ke tempat Park Kyu berdiri karena mungkin merasa diikuti. Yi Bang pun melihat ke sekelilingnya dilihatnya tidak ada orang dia pun bergegas pergi.

Kembali ke Park Kyu dan Kkeut Boon yang bersembunyi, ternyata Park Kyu bersembunyi dengan cara berdiri sambil memeluk Kkeut Boon dan menutupinya dengan kipasnya. Kkeut Boon yang terlalu geer bersiap dicium Park Kyu, ketika Park Kyu menoleh dilihatnya Kkeut Boon bersikap itu segera dilepaskannya Kkeut Boon lalu bergegas kabur.

Yi Bang menemui kepala pemerintahan Jaejung-Hyun di jeju, ia menyerahkan hasil temuannya di hutan.
“Di mana kau menemukan ini?”tanya petugas.
“Di jalan hutan menuju Samigol”jawab Yi Bang.
“Benarkah? Apakah kau menemukan hal-hal lain?”tanya petugas.
“Kami melihat di sekitarnya, tetapi tidak ada yang lain”jawab Yi Bang.
“Samigol, yang kamu katakan….”guman petugas.
“Untuk saat ini kami telah mengumpulkan cukup bukti”ujar Yi Bang.
“Omong-omong, kamu harus mengisi dengan barang kena pajak. Bahkan jika mereka memiliki kehidupan yang keras, mereka tidak dapat membantu membawa keluar jika kamu menekan dengan keras”jelas petugas.
“Ya, aku mengerti”jawab Yi Bang.
Lalu petugas itu menyerahkan sebuah kertas.” Ini dari Hanyang (Seoul). Mereka akan mengirim seorang simpatisan, kita diperintahkan untuk bekerja sama dengan dia”seru petugas.
Yi Bang pun kaget. “Mulai sekarang, kita perlu berhati-hati”seru petugas.
“Aku ingin menyelesaikan masalah ini secara diam-diam. Ini akan sulit”guman Yi Bang.

Keesokan harinya, Beo Jin menemukan topeng milik William.Beo Jin pun mengambil topeng itu, dia berpikir William ada disekitar situ.
“William”panggil Beo Jin. Karena tidak ada jawaban ia pun melangkah pergi namun di depannya sudah ada Park Kyu yang juga ke tempat itu untuk kembali menyelediki William.

Beo Jin melihat Park Kyu dengan sinis. “Ini merupakan topeng yang menarik”seru Park Kyu lalu mengambil topeng yang ada di tangan Beo Jin.
“Topeng digunakan seseorang yang harus menyembunyikan wajahnya…. Apakah ada seseorang yang membutuhkan ini untuk hidup dengan menyembunyikan wajahnya di balik topeng di kota ini?”tanya Park Kyu penuh selidi.
“Aku… aku tidak tahu”jawab Beo Jin lalu mencoba mengambil topengnya kembali. Tapi Park Kyu tidak mudah memberikannya begitu saja, semakin Beo Jin mencoba meraihnya Park Kyu mengangkat topeng itu lebih tinggi.
“Itu milikku!”seru Beo Jin. Lalu Park Kyu seperti melihat pisau Beo Jin yang terpasang kepangan rambut pirang. Dengan sigap Park Kyu menyerahkan topeng tadi ke Beo Jin, karena Beo Jin lengah Park Kyu pun segera mengambil pisau itu. Beo Jin pun terlonjak kaget.
“Apakah ini? Aoa yang telah kamu beritahukan pada orang lain bahwa aku yang telah memberikannya padamu? Kamu tampaknya membawa banyak hal yang menarik. Di mana kau mendapatkan ini?”tanya Park Kyu penuh selidik.

Beo Jin pun segera menetralisir sikapnya agar tidak terlihat panik, ia pun berusaha merebut pisaunya.
“Kamu orang yang diasingkan, sekarang kamu bahkan mencuri sesuatu”seru Beo Jin sambil mencoba merebut pisaunya.
“Aku bahkan tidak memberikan ini kepadamu. Ini sangat aneh?”pikir Park Kyu. Beo Jin pun merebut berhasil pisaunya.

“Apa ini (topeng) terkait dengan pisau? Secara ada kebetulan, itu rambut manusia?”tanya Park Kyu. Lalu ia mengintari Beo Jin sambil mengintrogasinya.
“Sama seperti rambut dari orang asing…”seru Park Kyu di dekat telinga Beo Jin.
“Orang asing? Apa itu…”tanya Beo Jin pura-pura tidak tahu.
“Ah benar, aku harus pergi ke kebun untuk bekerja. Yangdari, (bahasa korea orang yang diasingkan, bener nggak ya?) aku akan pergi sekarang. Jika aku tertangkap ibuku. Aku akan mendapatkan masalah karena tidak bekerja”ujar Beo Jin member alasan lalu segera pergi.

Sementara itu William memasang uluran belukar supaya bisa mendekteksi orang jika ada yang datang. Sedangkan Yan membuka-buka buku peta.
Tiba-tiba uluran belukar yang terpasang kerang-kerang berbunyi tanda ada orang yang datang, William dan Yan pun segera bersembunyi. Ternyata yang datang Beo Jin tertatih-tatih karena terkena perangkap yang William pasang wkwwk.

“Siapa yang mencoba menangkap babi? Menyiapkan perangkat “keluhnya. Lalu ia memanggil nama William.
“William”panggil Beo Jin.

“Beo Jin”seru William lalu menghampiri Beo Jin. Yan pun keluar dari persembunyiannya.
“Apakah kamu baik-baik saja?”tanya William.
“William. Kau pergi ke kota?”tanya Beo Jin sambil menunjukkan topeng yang ditemukan Beo Jin.
William pun tidak bisa menjawab apa-apa karena itu benar.

“William, kamu tidak bisa pergi ke kota. Kamu akan dalam kesulitan besar jika kau tertangkap. Aku harus melakukan sesuatu . Bagaimana jika mendapatkan hal yang lebih berbahaya?”jelas Beo Jin.

Lalu Beo Jin berpikir sebentar lalu ia terpikir mengajari William agar berhati-hati.
“Lihatlah aku hati-hati, kamu tidak bisa. Berbahaya. Kota”ujar Beo Jin sambil memperagakan ilustrasinya.
“Kota”ulang William.
“Kota Sanbang” jelas Beo Jin.
“Kota Sanbang ”ulang William.
Tanpa mereka sadari Park Kyu ternyata mengikuti Beo Jin sampai ke dalam gua itu. Ia pun mendengarkan percakapan mereka.

“Kamu tidak bisa pergi, itu berbahaya”seru Beo Jin.
“Kamu tidak bisa pergi, itu berbahaya”ulang William. Lalu Yan bersiap akan pergi.
“Itu bagus, William”puji Beo Jin. Dan ketika William menoleh dilihatnya Park Kyu yang mendekat kea rah mereka. Beo Jin terlonjak kaget.
“Yandari”serunya. Yan pun menoleh kembali ke belakang.


sumber: pelangidrama.net

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s