Tamra The Island – Episode 04

Park Kyu merebut kendi air yang dia curigai dari sang penjaga dan membawanya pergi, tapi sebelumnya dia juga menghancurkan gentong air yang merupakan sumber air tersebut. Si penjaga terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Park Kyu.

Di kamarnya, Park Kyu mengadakan percobaan dengan mengeringkan air itu dan mengambil sedikit sampel. Esoknya dia membawa sampel air tersebut ke seorang penjual obat.


Park Kyu: “Aku rasa ini merupakan semacam obat tidur anestis. Ketika aku merebus air, warnanya berubah menjadi seperti itu. Apa anda pikir anda tahu apa ini?
Tukang obat: “Aku tidak bisa mengatakannya, tetapi aku akan mencari tahu dari apoteker yang lain.”

Yan dan William sedang berada di pantai dan tengah mengamati sebuah rakit. Rupanya Yan berniat untuk segera membawa William meninggalkan pulau Tamra menuju Nagasaki. Meskipun William sendiri meragukan hal tersebut, tetapi Yan tetap bersikeras mencobanya. Namun tiba-tiba dua orang wanita muncul menuju rakit. Yan dan William pun bergegas pergi dari tempat tersebut (takut ketahuan kayaknya).

Park Kyu yang melintas di hutan bertemu dengan kakek tua. Sang kakek berkata kalau dia menemukan seekor tikus mondok. Park Kyu bertanya kepada si kakek mengenai siapa sebenarnya dirinya itu, tapi si kakek tidak menjawab pertanyaannya dan hanya bilang dirinya mau makan daging (what the??? Itu mah makan tikus kakek!).

Yan akhirnya berinisiatif untuk membuat rakit sendiri. Tapi tetep si William masih ragu dan menanyakan kembali mengenai niat mereka untuk pergi.
William: “Yan, apa kau yakin kita akan sampai dengan rakit ini?”
Yan: “Terus apa usulmu? Apa kita harus tinggal dan tidak melakukan apa-apa?”

Tiba-tiba seorang anak laki-laki (namanya Phi Lip) muncul. Melihat ada dua orang asing di depannya, Phi Lip pun langsung mengambil langkah seribu alias kabur sambil berteriak-teriak minta tolong. Otomatis Yan dan William mengejarnya.

Kemudian mereka pun bertemu dengan Park Kyu bersama si kakek tua (gara-gara tuh anak sembunyi di balik sang kakek, hehehe).
Park Kyu: “Kalian rupanya. Apa kabar?”
Phi Lip: “Bagaimana seorang asing bisa sampai di sini?
William: “Orang asing?” (wah, dia gak sadar, wkwkwk)

Phi Lip menanyakan kembali hal tersebut pada Park Kyu, tapi justru Park Kyu sendiri menanyakan identitas Phi Lip karena curiga kenapa anak itu bisa tahu tentang orang asing.

Belum selesai bertanya, mereka dikagetkan dengan kehadiran dua orang pedagang yang sedang melintas di hutan. Dalam sekejap mereka semua langsung sembunyi. Setelah kedua orang itu pergi, Phi Lip mengajak Park Kyu, William dan Yan untuk mengikutinya ke tempat persembunyiannya.

Melihat Park Kyu dan William sudah pergi duluan, tiba-tiba sang kakek menarik tangan Yan dan menanyakan tentang dirinya yang sebenarnya (semuanya pada nanya niy, cari di google aja, wkwkwk).
Kakek: “Siapa kau? Melihatmu sepertinya kau merada dalam situasi yang sama dengan si mata biru (William).”
Yan tidak menjawab. Lalu si kakek menyuruhnya agar berhati-hati agar jangan sampai tertangkap atau akan… Kek! (maksudnya dihukum mati). Kakek itu memberikan Yan semacam pakaian penduduk setempat dan dia pun pergi.

Di persembunyian (markas rahasianya Phi Lip) Park Kyu kembali bertanya kepada bocah tersebut tentang orang asing karena selain dirinya tidak ada lagi yang tahu (kecuali Beo Jin).
Park Kyu: “Nak, bagaimana kau tahu tentang orang asing?”
Phi Lip: “Nak? Aku punya nama, Phi Lip. Han Phi Lip (nama yang unik, hahaha). Aku adalah anak buah seorang pelaut yang bekerja di bawah serikat dagang yang sangat besar. Ketika kau berlayar ke sana kemari, orang asing menjadi hal yang sangat biasa.”
Gantian kali ini si Phi Lip yang bertanya kepada Park Kyu mengenai alasannya menyembunyikan William dan Yan (si William lagi sibuk ngamatin benda-benda yang ada di situ, xixixi) dan bagaimana kalau pemerintah sampai tahu tentang hal tersebut. Park Kyu yang enggak mau ngasih tahu malah mengalihkan topik pembicaraan dengan balik bertanya kepada Phi Lip.
Park Kyu: “Lalu kenapa kau di sini?”
Phi Lip: “Itu karena tunanganku ada di sini di Tamra. Jika kau tahu, dia merupakan gadis tercantik di San Bang Gol.” (jadi penasaran kayak apa ya tunangannya? Beo Seol kah? Hehehe)

Berhasil mengalihkan pembicaraan, kini giliran Park Kyu bertanya kepada William tentang Yan. Sayang, William sendiri rupanya juga tidak tahu apa yang dipikirkan oleh temannya itu. Park Kyu yang tidak mengerti sama bahasa William cuma bisa manggut-manggut (secara dia ngomong masih pake English, wkwkwk).

Yan sendiri ternyata sudah berada di gua tempat persembunyiannya dan kaget pas tahu William datang bersama Park Kyu beserta Phi Lip yang membawakannya beberapa lembar pakaian. Kontan saja Yan marah dan mengusir mereka pergi. Dia juga bilang kalau mereka tidak butuh benda itu. Phi Lip yang juga tidak mengerti ucapan Yan (masih pakai English) malah menyuruh Yan dan William memakai pakaian yang dia bawa. Namun saat melihat Yan, Phi Lip pun bingung karena dia belum pernah melihat orang asing berambut hitam. Park Kyu langsung menjawab kalau Yan adalah orang Jepang.

Phi Lip: “Dia memakai baju Belanda, tetapi rambutnya tidak seperti itu.”
Park Kyu: “Dia orang Jepang.”
Phi Lip: “Ya, aku rasa juga begitu. Aku juga pernah melihat orang Jepang.”
Park Kyu: “Dia seorang pelaut sepertimu”
Phi Lip: “Benarkah?”
Park Kyu: “Dia berasal dari serikat dagang yang sangat besar, tidak sepertimu.”
Mendengar kata-kata Park Kyu yang menyudutkan dirinya (hampir membongkar identitasnya), Yan lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.

Rupanya Yan tengah mencari sebuah pisau yang berada di tangan Park Kyu. Seperti biasa, Park Kyu mencecarnya dengan bermacam pertanyaan meski yang bersangkutan tidak menjawab.
Park Kyu: “Kau mencari ini? Aku sudah tahu kalau kau bisa berbahasa Korea dan berhentilah mempermainkan kami. Aku dengar tentang para pedagang dari pedagang Cina. Apakah di sana ada orang Jepang juga sepertimu?”
Sudah muak kayaknya, Yan akhirnya menjawab semuanya dalam bahasa Korea (coz udah ketahuan, hohoho).
Yan: “Itu semua hanya di masa lalu. Sekarang aku hanya seorang warga negara Belanda.”
Park Kyu tampaknya belum puas dengan jawaban Yan dan masih curiga kenapa Yan bisa berbicara Korea dengan sangat baik. Lalu Yan pun bilang kalau di kampung halamannya di Nagasaki ada sebuah desa Korea bernama Do Gok dan dia mempelajarinya di sana. Park Kyu kembali bertanya kepada Yan mengenai dirinya karena dia tidak yakin jika Yan benar-benar terdampar. Lalu Yan berkata kalau seperti itulah resiko kehidupan seorang pelaut yang berlayar mengelilingi dunia.
Yan: “Kenapa harus ada alasan datang ke Cho Sun yang membuat kami sulit keluar. Kami tidak punya alasan untuk tinggal di sini. Kami akan segera pergi. Jadi tolong kau jaga hal ini sampai dikemudian hari.”

Puas mendengar jawaban Yan, Park Kyu pun mengembalikan pisau miliknya dan berharap juga Yan bisa pergi secepatnya tanpa diketahuai oleh yang lain. Lalu saat Park Kyu pergi , Yan mengambil pisau itu dan kemudian membukanya. Ternyata itu adalah pisau milik VOC (serikat dagang milik Belanda) dan bisa ditebak kalau Yan merupakan salah satu anggota dari VOC.

Di tempat lain, Seo Rin (lady in red) sedang merencanakan untuk mengambil alih pulau Jeju agar dia bisa berpartner dengan VOC. Untuk memuluskan hal itu, Seo Min berniat menemui pejabat desa, Hong Gu Rak.

Hong Gu Rak pun datang memenuhi undangan Seo Rin yang sudah menyambutnya di depan pintu rumahnya dan meminta maaf kepada tuan Hong yang sudah jauh-jauh datang.
Seo Rin: “Pasti sulit bagi anda untuk datang kemari, tuan Hong. Kau bukanlah orang yang mudah untuk ditemui, jadi saya perlu mencari tempat yang sesuai untuk anda. Saya minta maaf karena telah membuat anda datang ke sini. Tolong dimaafkan.”

Di dalam rupanya sudah ada banyak tamu pejabat lainnya yang menunggu kehadiran tuang Hong. Melihat hal itu, tuan Hong memuji Seo Rin yang dinilainya sebagai serikat pedagang yang bisa mengontrol ekonomi Cho Sun. Agar tujuannya tidak diketahui, Seo Rin pun berdalih kalau dia tidak mempunyai maksud apa-apa mengundang mereka semua ke tempatnya (ah, yang bener ahjumma?). Namun tuan Hong tetap curiga dengan Seo Rin, meski pada akhirnya dia dipaksa juga untuk bersenang-senang. Seo Rin tersenyum melihat rencananya berhasil (licik nyo).

Park Kyu yang baru kembali kemudian bertemu Beo Jin di tengah jalan. Beo Jin bertanya pada Park Kyu kemana saja dia seharian ini bukannya membantu ayahnya bekerja.
Beo Jin: “Yandari! Dari mana saja kau? Seharusnya kau kan membantu ayahku, kau pergi kemana saja?”
Park Kyu hanya menghela nafas dan tidak menjawab pertanyaan Beo Jin. Melihat ada Park Kyu yang merupakan laki-laki alias tenaga bantuan berpura-pura keberatan dengan gembolan yang dibawanya (jyah, itukan cuma sandal jerami doang). Sayang, Park Kyu bukannya menolongnya malah pergi meninggalkan si Beo Jin (hahaha).
Beo Jin: “Aigoo… Aigoo… Beratnya.
Park Kyu: “Benar.”

Tanpa sepengetahuan mereka berdua, diam-diam seseorang bertopeng mengikuti mereka dari belakang. Sampai di rumah, Beo Jin kembali marah-marah karena kesal si Park Kyu tidak membantu dirinya.
Beo Jin: “Aku dengar sebelumnya kau membantu semua wanita yang ada di desa, tapi kenapa kau tidak pernah membantuku? Apakah dia mendiskriminasi aku? Aku rasa begitu, tidak heran dia Yandari.”
Orang bertopeng yang mengikuti Beo Jin ternyata adalah William. Mengetahui temannya datang, Beo Jin pun cemas. Tapi William rupanya lebih cemas lagi setelah tahu kalau Park Kyu tinggal bersama dengan pujaan hatinya itu.

William: “Beo Jin…”
Beo Jin: “Kenapa kau datang kemari? Sudah kubilang nanti bisa ada masalah kalau kau datang ke sini.”
William: “Kenapa Park Kyu ada di sini?”

Belum sempat dijawab, Beo Jin panik saat melihat kedua orang tuanya datang. Beo Jin pun terpaksa menyembunyikan William ke tempat Park Kyu. Sudah tentu si Park Kyu kaget setengah mati pas lihat si William tiba-tiba masuk ke kamarnya (wkwkwkwk).

Di luar, si Beo Jin juga kaget pas tahu ternyata ibunya sudah ada di belakang dirinya. Ibunya curiga melihat Beo Jin di depan kamar Park Kyu, tapi bukan Beo Jin namanya kalau dia enggak bisa ngeles, hehehe.
Jang Myeo: “Apa yang kau lakukan di sini?”
Beo Jin: “Tidak ada. Ibu, kau tidak tidur?”
Jang Myeo: “Aku harus merapikan semua sepatu.”

Di kamar, Park Kyu berusaha berkomunikasi dengan William dan secara mengejutkan si William sudah bisa berbahasa Korea walau masih sedikit (wkwkwk, niy bule lama-lama lebih pinter dari si Beo Jin). William meminta kembali hartanya yang berharga dari Park Kyu, tapi Park Kyu tidak tahu menahu soal itu. Melihat sikap Park Kyu, William berinisiatif mencarinya sendiri yang malah menimbulkan kegaduhan. Ibu Beo Jin yang masih ada di luar pun curiga dan merupaya menyelidiki kamar Park Kyu sebelum akhirnya dihalangi Beo Jin. Bukan itu saja, si ibu menduga kalau di kamar tersebut Park Kyu sedang menyembunyikan seorang wanita (padahal mah kagak).

Beo Jin: “Ibu, ibu. Kau mau kemana?”
Jang Myeo: “Aku rasa ada seseorang di sana. Orang terasing ini… Aku dengar kau tidak pernah bisa memperbaiki kebiasaanmu, kau masih belum bisa belajar sebagai seorang pengasingan.”
Beo Jin berusaha membela Park Kyu dengan mengatakan kalau mungkin dia sedang olah raga (aja aja ada). Sayang, hal itu malah membuat ibunya jadi tambah curiga dengan hubungan Beo Jin dan Park Kyu.
Beo Jin: “Tidak, bukan itu. Aku tadi melihatnya sedang olah raga.”
Jang Myeo: “Di tengah malam seperti ini?”
Beo Jin: “Aku rasa dia sedang melatih tenaganya.”
Jang Myeo: “Kau tahu… ‘itu’ dengan baik. Apa yang harus aku ketahui? Kau belum cukup umur untuk membicarakan hal ini!” (emang yang cukup umur berapa bu?)
Beo Jin pun kena dijitak sang ibu gara-gara hal tersebut (wkwkwk) dan kembali sang ibu berusaha masuk ke kamar Park Kyu, tapi gagal karena Beo Jin lebih dulu menyeretnya masuk.

Gara-gara berisik (selain itu namanya juga jadi jelek, hehehe), Park Kyu memarahi William yang dinilainya tidak tahu sopan santun. William enggak mau tahu dan tetap mencari harta berharganya itu dan betapa kagetnya Park Kyu pas tahu pispot yang dia gunakan selama ini adalah benda yang dicari William (ih jijay!). Mereka pun berebut pispot tersebut.

Secara tiba-tiba Beo Jin masuk ke kamar Park Kyu yang kaget banget setengah mati. Rupanya Beo Jin ingin tahu alasan William datang ke tempatnya. William menjawab kalau dia datang untuk mengambil kembali hartanya dari Park Kyu. Pada akhirnya mereka pun berdebat dan lagi-lagi menimbulkan kegaduhan.
Beo Jin: “William, kenapa kau datang ke sini?”
William: “Aku datang mencari hartaku.”
Park Kyu: “Berani sekali! Kau pikir ini dimana? Kenapa kau sangat kasar setelah menggangguku di sini!”

Ibu Beo Jin kembali memanggilnya. Tanpa pikir panjang Beo Jin langsung memaksa Park Kyu keluar kamar sebelum ibunya masuk.
Hal itu tentu saja mengagetkan si ibu (hati-hati udah umur, hehehe). Melihat Park Kyu yang keluar tanpa alas kaki membuat ibu Beo Jin semakin curiga dan bertanya apakah Beo Jin ada di kamarnya atau tidak.

Park Kyu lalu membantah hal tersebut dan bilang apa alasannya sampai-sampai si ibu bisa menuduhnya seperti itu. Dengan santai ibu Beo Jin menjawab kalau si Park Kyu punya catatan melakukan hal tersebut (waha, kasian Park Kyu dari tadi dijadiin kambing hitam mulu sama si Beo Jin).

Jang Myeo: “Apa Beo Jin ada di sana?”
Park Kyu: “Apa maksudmu? Kenapa kau mencarinya di kamarku?”
Jang Myeo: “Karena catatan masa lalumu.”
Park Kyu: “Apa? Aku juga punya standar.” (maksudnya dalam memilih cewek)
Jang Myeo: “Apa dirimu dalam situasi untuk memilih siapapun yang kamu suka?”
Park Kyu: “Kenapa kau masih melakukan hal ini?”
Jang Myeo: “Beo Jin benar-benar tidak ada di sana? Kemana dia pergi selarut ini?”

Sementara Park Kyu mengalihkan perhatian ibunya. Beo Jin pun membawa William pergi dari rumahnya sebelum ketahuan. Apes, rupanya suara keras pintu kembali membuat ibunya curiga dengan kamar Park Kyu.
Kali ini giliran Park Kyu yang berusaha menghalangi ibu Beo Jin masuk ke kamarnya dan kembali menegaskan kalau Beo Jin tidak ada di sana. Save by the bell. Saat ibunya masuk, dia tidak menemukan apa-apa di kamar tersebut (kamar pembawa bencana, wkwkwkwk). Yup, Beo Jin berhasil kabur dengan William dan tidak ketinggalan tentunya si pispot eh harta berharga, hehehe.

Beo Jin kembali memperingatkan William agar tidak datang kembali ke rumahnya karena pasti akan timbul masalah. William pun mengerti dan berkata kalau dia tidak akan mengulanginya lagi. Sebagai gantinya Beo Jin akan membawakannya makanan ke tempat William juga mengajak cowok itu untuk mendaki gunung Han Ra.

Beo Jin: “William, akan sangat berbahaya untukmu jika kau datang ke desa. Sesuatu yang buruk akan terjadi. Mengerti?
William: “Oke. Sekarang tidak akan ada lagi masalah (sambil menunjukkan hartanya).”
Beo Jin: “Jangan datang ke desa. Walaupun begitu, lain kali aku akan membawakanmu makanan enak dan kita bersama-sama mendaki gunung Han Ra.”
William: “Gunung Han Ra?”
Beo Jin: “Iya, ayo pergi.”

Keesokkan harinya, Park Kyu mendatangi pasar dan bertanya kepada sang pendagang tentang stok abalone yang dia jual.
Park Kyu: “Apa ini semua abalone yang kau punya?”
Pedagang: “Semua yang abalone bagus sudah diserahkan sebagai upeti. Sisanya hanya tinggal ini. Meski jarang. Kau mau membelinya atau tidak?

Tidak jauh dari lapak itu, Kkeut Boon juga sedang berbelanja dan sedang melakukan tawar menawar dengan si penjual. Park Kyu lalu mendatangi kios tersebut. Dia memperingati sang penjual agar tidak menipu pembeli hanya karena ini adalah Jeju (Tamra).
Kkeut Boon: “Walau pun begitu, 5 Nyang terlalu mahal.”
Penjual: “Tidak juga kok.”
Park Kyu: “Hanya karena ini Jeju, kau jangan coba-coba menipunya.”

Penjual: “Apa maksudmu menipu?”

Park Kyu: “Di Han Yang (Seoul), harganya hanya sekitar 2 Nyang. Mustahil bisa 5 Nyang.”
Penjual: “Baik kalau begitu… Beri aku 3 Nyang saja.”
Akhirnya sang penjual pun menyerah setelah Park Kyu menyudutkannya. Kkeut Boon pun merasa senang karena udah ditolong oleh pujaan hatinya itu, tidak lupa dia pun mengucapkan terima kasih pada Park Kyu dan seperti biasa Kkeut Boon kembali agresif kepadanya (aigooo, niy cewek sok kecakepan, wkwkwk). Park Kyu hanya bisa menghela nafas melihat ulahnya, hehehe.

Di perkebunan, Kkeut Boon datang dengan riang gembira. Teman-temannya yang heran lalu bertanya apa yang membuatnya bahagia. Kkeut Boon hanya menjawab karena hari ini cuacanya bagus dan rumput-rumput berwarna hijau (lha emang warna apa?).

Kemudian Kkeut Boon menghampiri Beo Jin yang juga ada di sana. Dia bertanya kepada Beo Jin tentang kejadian tempo lalu di malam Beo Jin menyelam.

Kkeut Boon: “Antara yandari dan kau, apakah terjadi sesuatu pada malam itu? Kau tahu, malam ketika kau pergi menyelam.”
Beo Jin: “Tentu saja tidak!”
Kkeut Boon: “Aku tahu itu!”
Takut kejadian yang sebenarnya diketahui, Beo Jin mengalihkan pembicaraan. Akibatnya Kkeut Boon malah mencap Beo Jin sebagai tukang main, lalu Kkeut Boon yang lagi good mood pun menari-nari kegirangan (awas, patah hati).

Di pantai, Yan bersama William sedang sibuk membuat rakit. Sebenarnya ada yang mau William bicarakan, tapi tidak jadi pas lihat Yan lagi serius dan dia pun pergi.

Beo Jin dan ayahnya sedang takjub melihat cermin yang dibawa Phi Lip (bapaknya Beo Jin juga main di Cruel Temptation, baru sadar euy). Bukan hanya itu, Phi Lip kemudian memberikan Beo Jin pewarna bibir. Park Kyu yang baru datang langsung terkejut pas tahu kalau tunangan Phi Lip adalah Beo Jin! (tenang Park Kyu, si Beo Jin juga gak serius kok)

Phi Lip: “Ini gadis yang akan kunikahi…”
Beo Jin: “Kau… Berhentilah bercanda…”
Park Kyu: “Sanbanggol… Gadis tercantik???” (wkwkwk, ekspresinya gak nahan)
Bapaknya Beo Jin (namanya Won Bin) juga kaget kalau ternyata Park Kyu dan Phi Lip sudah saling kenal.
Namun penjelasan Phi Lip hampir membongkar semua gara-gara dia ngomong tentang ‘orang asing’.
Won Bin: “Bok Man, eh Phi Lip. Ini bukan pertama kalinya kalian bertemu?
Phi Lip: “Tidak, sebelumnya aku pernah bertemu dia dengan orang asing.”
Jang Myeo: “Apa itu?”
Phi Lip: “Maksudku… Aku… Tidak…” (mulutnya lemes..)
Takut ditanya macam-macam, Park Kyu lalu bergegas masuki ke kamarnya meninggalkan ibu Beo Jin yang bingung (curiga lebih tepatnya).

Kim Yi Bang beserta anak buahnya menemukan gua persembunyian William dan Yan setelah diberitahu oleh seorang pria misterius yang mengaku sebagai polisi rahasia.

Kim Yi Bang: “Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?”
Pria misterius: “Apa kau tidak pernah mendaki gunung? Saat kau melihat sebuah tempat asing, hal yang pertama kau lakukan adalah berusaha menemukan tempat tertinggi. Kau bisa melihat apa yang tidak bisa kau lihat dari bawah. Jika kau menemukan sebuah tempat yang tersembunyi oleh pepohonan dan bebatuan, apa kau juga akan datang ke sini? Sudah pasti mereka telah bersembunyi di tempat ini.”
Kim Yi Bang: “Maksudmu para pencuri jinsangpoom?”
Lelaki itu hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Kim Yi Bang yang sedang bingung antara kaitan gua tersebut dengan kasus yang sedang dia selidiki.

Di luar, Yan dan William tengah bersembunyi. Lalu Yan berkata pada William agar mereka tidak lagi buang-buang waktu dan secepatnya pergi dari Tamra.

Yan: “Kau lihat mereka? Sudah tidak ada waktu lagi, kita harus pergi sekarang juga.”

Beo Jin sedang sibuk menyelesaikan pakaian yang dia jahit untuk William dan dengan segera dia pun beranjak pergi menuju tempat William.


Park Kyu yang sedang membaca di luar rumah menanyakan tujuan Beo Jin pergi, walau dia tahu Beo Jin mau kemana. (ckckck, nekat malem-malem pergi)

Park Kyu: “Mau kemana kau selarut ini?”
Beo Jin: “Bukan urusanmu. Apa yang kau lakukan di sini malam-malam?”
Park Kyu: “Apa kau akan menemui orang asing?”
Beo Jin: “Diamlah… Bagaimana kalau seseorang mendengarmu.”
Park Kyu: “Konyol… Apa yang akan kau lakukan pada orang asing yang akan segera pergi?”
Beo Jin: “Tidak. William berjanji kalau dia tidak akan pergi meninggalkanku.”
Park Kyu: “Kau percaya dengan janji itu?” (mulai cembokor niy, hehehe)
Beo Jin tidak menjawab pertanyaan terakhir Park Kyu, dia lalu bergegas pergi.

Beralih ke pantai, Yan rupanya sudah tidak sabar untuk secepatnya pergi dari pulau tersebut. Sayang, William belum siap berangkat. Dia ingin berpamitan dengan Beo Jin sebelum pergi.

William: “Aku tidak bisa pergi begitu saja.”
Yan: “Kenapa tidak? Kau sudah mendapatkan kembali harta karunmu bukan?”
William: “Tidak. Bukan harta karun itu. Beo Jin… Dia merupakan harta karunku yang paling berharga. Aku tidak bisa pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padanya.”
Yan langsung mencegah William, tapi William sendiri tetap bersikeras dan bilang kalau dia dan Beo Jin telah berjanji bersama pergi ke gunung Han Ra. Maka dari itu sebelum pergi paling enggak dirinya ingin pamitan. Yan pun berusaha membujuk William dan bilang kalau mereka udah enggak punya banyak waktu lagi. Beo Jin yang tidak tahu apa-apa sedang dalam perjalanan menuju tempat William. William akhirnya memutuskan untuk pergi bersama Yan (setelah sebelumnya dipaksa). Beo Jin yang sudah sampai mendapati gua William telah kosong. Meski udah di atas rakit, kesedihan tetap terpancar dari raut wajah William. Melihat hal itu, Yan hanya menyuruhnya untuk tidak menengok kembali.
Yan: “Tidak perlu menengok kembali. Lagi pula kita juga tidak tinggal di sini.”
William: “Tetapi paling tidak harus mengucapkan selamat tinggal…”
Mendengar perkataan William, Yan pun mengalihkan pembicaraan dengan bilang kalau air pasang sedang bagus dan mereka mungkin akan segera sampai di Nagasaki dalam beberapa hari (yakin kakak?).

William hanya diam dan duduk, lalu dia pun menyadari kalau rakit yang mereka naiki terbelah! Mereka pun langsung jatuh ke dalam air.

Nasib malang menimpa Beo Jin. Di saat yang sama, Kim Yi Bang yang sedang menyelidiki gua temuannya bertemu dengan dirinya.
Kim Yi Bang: “Kau… Bukankah kau putri keluarga Jang di Sanbanggol? Bagaimana kau bisa ada di sini?”
Beo Jin: “Tuan…”
Kim Yi Bang makin mencurigai Beo Jin dengan apa yang dibawa gadis itu. Lalu dia pun merebutnya dari Beo Jin yang ternyata adalah pakaian pria (buat si William). Kim Yi Bang lantas menyuruh Beo Jin mengatakan hal yang sebenarnya.
Kim Yi Bang: “Jawab dengan jujur!”
Beo Jin: “Itu bukan…”
Kim Yi Bang: “Kau pernah berbicara pada pencuri jinsangpoom?”
Beo Jin: “Apa? Tidak, apa maksudmu dengan pencuri jinsangpoom? Mereka bukan pencuri jinsangpoom!” (jyah, kebablasan deh)
Kim Yi Bang: “Lalu apa!? Siapa mereka? Mereka yang telah bersembunyi di sini, mereka yang telah kau sembunyikan!?”
Beo Jin yang ketakutan pun berusaha kabur, malang dia malah tertangkap oleh pengawal Kim Yi Bang.

William dan Yan berhasil menyelamatkan diri dari rakitnya yang rusak. Yan sangat kesal dengan hal tersebut, tetapi tidak dengan William yang justru senang (kan bisa ketemu Beo Jin, hehehe). Gantian deh sekarang giliran William yang membujuk Yan (wkwkwk).

Yan: “Aish, sial!”
William: “Yan, sudahlah. Mengarungi sepanjang jalan ke Nagasaki toh juga di luar jangkauan. Ini adalah sesuatu yang baik bahwa… Kita kembali.”
Akhirnya Yan mengalah, walaupun masih kesel. Kemudian dia menyuruh William buat cepat-cepat pergi dari pantai biar tidak ketahuan dan untuk pertama kalinya Yan berbicara bahasa Korea di hadapan William (biasa pake English).
William: “Yan, kau…”
Yan: “Aku bekerja pada perusahaan Hindia Belanda yang berpergian ke berbagai tempat di dunia. Bahasa Chosun (Korea)? Sangat mudah untukku (kalau ini pake English). Ayo.”

Sementara itu Beo Jin yang tertangkap dimasukkan ke penjara oleh Kim Yi Bang. Meski sudah dipaksa buka mulut, Beo Jin tetap mengaku kalau dia tidak tahu mengenai pencuri Jinsangpoom yang mereka maksud. Dia pun berteriak memanggil sang penjaga. Sayang, ternyata dia tidak sendiri di dalam penjara.

Gara-gara berisik, penghuni lain jadi ikut bangun dan memarahinya (bingung mau ketawa atau sedih, huhuhehe).
Beo Jin lalu menangis dan memanggil nama William… Park Kyu yang tidak tahu keadaan Beo Jin terus menunggu gadis itu pulang.

Ya, Park Kyu menunggu Beo Jin hingga pagi hari sampai dia sendiri enggak tidur (aw, sweet~!). Tiba-tiba, Park Kyu dikejutkan dengan kedatangan para petugas Kim Yi Bang yang datang untuk menggeledah rumah keluarga Jang.

Park Kyu: “Apa yang kalian lakukan!?”
Penjaga: “Yandari, kau jangan ikut campur.”

Lalu orang tua Beo Jin yang juga kaget ikut keluar dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Jang Myeo: “Apa yang kalian lakukan!? Apa-apaan ini??”
Won Bin: “Apa yang terjadi?”

Salah satu penjaga mengabarkan kalau anak mereka Beo Jin telah ditahan karena tuduhan menyembunyikan pencuri. Mendengar hal tersebut, Park Kyu pun murka. Dia juga marah dengan orang asing yang menurutnya sudah menyebabkan masalah.
Park Kyu: “Orang-orang itu… Kalian telah menciptakan sebuah masalah…”

Di kantor pemerintahan, Beo Jin yang diikat di kursi tengah diintrogasi oleh Kim Yi Bang. Dia bertanya pada Beo Jin tentang apa yang dia sembunyikan di gua itu. Namun Beo Jin menolak memberitahu dan bersikeras kalau dia tidak menyembunyikan apapun di sana.
Kim Yi Bang: “Orang yang kau sembunyikan di gua, siapa mereka?”
Beo Jin: “Tidak ada siapa pun di sana… Itu hanya… Sebuah tempat yang biasa aku datangi ketika aku tidak mau pergi menyelam… Untuk bersembunyi dan istirahat… Itu benar! Tidak ada yang mengetahui tempat itu kecuali aku…”

Kemudian Kim Yi Bang memperlihatkan barang bukti yang dibawa Beo Jin berupa pakaian pria. Dia lalu kembali bertanya pada Beo Jin mengenai barang tersebut.
Kim Yi Bang: “Lalu ini milik siapa?”
Beo Jin: “Itu… Maksudku… Itu milikku.”

Kim Yi Bang tahu kalau Beo Jin berbohong dan mengambil pakaian tersebut. Dia berkata kalau itu merupakan milik laki-laki dan kembali mendesak Beo Jin untuk berbicara jujur atau dengan terpaksa dia akan menyiksa gadis itu sampai mengaku. Beo Jin ketakutan, tapi tetap dia tidak mengaku (hmm, salut buat Beo Jin).
Kim Yi Bang: “Apa kau akan bicara setelah kau disiksa? Aku tanya sekali lagi… Siapa yang kau sembunyikan di gua itu? Katakan! Bila tidak, aku akan membuatmu…”

Di depan pintu gerbang kantor tersebut, orang tua Beo Jin bermaksud menjenguk putrinya. Rupanya suara tangisan Beo Jin mengurungkan niat mereka (tidak tega ngeliat anaknya).

Park Kyu melihat gua orang asing dijaga oleh banyak anak buah Kim Yi Bang.

Yan dan William mendatangi tempat Phi Lip. Apes buat Yan, kali ini dia kena jebakkan yang dipasang Phi Lip di pintu masuk.

Phi Lip: “Siapa di sana? Kau… Kau kan orang asing Jepang itu. Kenapa kau tergantung di sana?”
Bukannya nolongin, Phi Lip malah asyik melepas kangen sama William (wkwkwk, dikacangin si Yan).

Kemudian Phi Lip bertanya tentang apa yang terjadi dengan mereka, dia heran kenapa ada banyak polisi di sana. Tanpa mengidahkan kata-kata Phi Lip, Yan memutuskan untuk sementara tinggal di tempat Phi Lip yang langsung diprotes oleh bocah itu

Yan: “Tempat ini cukup besar untuk kita bertiga…”
Phi Lip: “Apa yang kau bicarakan?”
Yan: “Namaku bukan ‘orang asing’… Aku Yan.”
Phi Lip: “Jangan lakukan itu… Bila kalian lakukan, maka tamatlah riwayatku.”

Mungkin takut tempatnya didatangin sama polisi, makanya si Phi Lip nolak. Saat sedang memohon pada Yan yang lagi megang pisau. Phi Lip terkejut, karena di pisau itu ada lambang VOC. Buat para pelaut dan pedagang pada waktu itu sudah pasti tahu tentang VOC, perusahaan dagang yang sangat besar dan berpengaruh. Karuan saja Phi Lip langsung berbalik dan memanggil Yan dengan sebutan ‘hyungnim’ alias kakak, hehehe.

Park Kyu mendatangi kantor pemerintah. Di sana dia bertemu dengan Kim Yi Bang. Park Kyu berkata pada Kim Yi Bang mengenai sikapnya yang telah menahan orang yang tidak bersalah. Kim Yi Bang curiga dan berbalik bertanya pada Park Kyu, bagaimana dia bisa tahu kalau Beo Jin tidak bersalah.

Park Kyu: “Bagaimana bisa kau menahan orang yang tidak bersalah?”
Kim Yi Bang: “Putri Jang? Apa kau ke sini untuk menemuinya?”
Park Kyu: “Dia tidak bersalah… Jadi, lepaskan dia.”
Kim Yi Bang: “Bagaimana kau tahu dia tidak bersalah? Untuk menghakimi seseorang bersalah atau tidak merupakan bidang dari Gwan. Ini bukan tempatmu untuk memutuskannya.”
Park Kyu: “Walaupun aku seorang pengasingan, aku mengikuti yang benar. Bagaimana bisa aku mengabaikan kebenaran yang ada di depanku?”
Kim Yi Bang: “Ini merupakan kejahatan yang berat bila mencuri sesuatu yang menjadi hak raja.”

Park Kyu tetap membela Beo Jin mati-matian dihadapan Kim Yi Bang dan kembali menegaskan kalau gadis itu tidak bersalah. Namun Kim Yi Bang tidak mempercayainya, lalu menyuruh para penjaga untuk tidak mengizinkan siapa pun memasuki kantornya dan meninggalkan Park Kyu.

Di rumah keluarga Jang, Kkeut Boon dan ibunya melakukan kudeta terhadap ibu Beo Jin. Mereka menilai Beo Jin telah berbuat kejahatan. Maka dari itu ibu Beo Jin harus turun dari kursi kepemimpinannya sebagai pemimpin dari kelompok penyelam wanita.

Ban Soon: “Bagaimana bisa kau tinggal di desa yang sama dan berbuat suatu kejahatan? Melihat semua kesulitan yang kita hadapi, bagaimana bisa dia menyembunyikan pencuri? Kita tidak bisa hanya duduk diam oleh…”


Di tengah provokasi mereka, ibu Beo Jin pun datang. Lalu dia balik bertanya kepada ibu Kkeut Boon tentang apa yang telah mereka tuduhkan pada Beo Jin.
Jang Myeo: “Apa kau lihat dengan mata kepalamu sendiri kalau dia menyembunyikan pencuri jinsangpoom? Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu dengan mulutmu!?”

Ibu Kkeut Boon pun berdalih dan terus memprovokasi yang lainnya agar ibu Beo Jin turun dari jabatan pemimpin. Mereka mendesak untuk mengadakan pemilihan pemimpin yang baru. Ibu Beo Jin pun pasrah dan menyuruh mereka melakukan apa yang mereka suka.
Jang Myeo: “Silahkan… Lakukan apa yang kalian inginkan…”
Han Soon: “Apa yang aku inginkan??? Apa maksudmu dengan itu?”
Jang Myeo: “Lakukan saja!”
Mendengar pernyataan ibu Beo Jin tersebut ,para penyelam wanita lainnya (kecuali Kkeut Boon dan ibunya) pun kaget dan karena masalahnya sudah selesai, ibu Beo Jin lalu menyuruh mereka semua pergi dari rumahnya (alias ngusir).

Di saat yang sama Park Kyu yang baru kembali dari kantor pemerintah. Dia pun langsung disambut dengan pertanyaan dari ibu Beo Jin yang khawatir dengan nasib putrinya. Mendengar curahan hati si ibu, Park Kyu pun tersentuh (sama, hiks…).

Jang Myeo: “Bagaimana keadaan Beo Jin? Aku rasa dia tidak diperlakukan cukup baik di penjara. Terakhir dia pernah mengalami hal yang berat mungkin ketika kami semua pergi ke pulau Tae Yuk. Dia bertanya, ‘kenapa ibu tidak melahirkan seekor sapi saja?’. Gadis aneh dan periang seperti dirinya pasti merasa hidup di Tamra seperti terpenjara dalam neraka.

Ini bukan berarti aku tidak tahu dengan apa yang dirasakannya saat ini, tetapi apa yang bisa kami perbuat? Menyelam di lautan tanpa henti merupakan takdir kami sebagai penyelam. Jika kamu tidak bisa menerimanya, maka kau tidak bisa tinggal di Tamra.”
Lalu sang ibu pun meminta ide Park Kyu yang dinilainya sebagai orang yang berasal dari Han Yang dan pastinya dia lebih pintar dari mereka semua. Ibu Beo Jin akan sangat senang bila Park Kyu bisa menolongnya walau hanya sedikit. Sambil memohon ibu Beo Jin juga berkata jika nanti terjadi sesuatu pada anaknya, si orang tua pasti akan merasa bersalah lalu dia pun pergi meninggalkan Park Kyu (uwah, sampe segitunya ya. Sumpah, bikin nangis… Omoni, saranghe!).

Beo Seol yang merasa kasihan meminta izin pada sang ibu untuk pergi ke tempat tetua adat. Dia bermaksud untuk meminta bantuan padanya. Ibunya hanya bisa mengeluas kepala putri kecilnya itu dan pergi (jadi inget sama Shin Yun Bok kecil, hehehe).

Tiba-tiba Park Kyu memanggil Beo Seol. Rupanya Park Kyu mempunyai sebuah ide untuk menyelamatkan Beo Jin.

Kemudian Beo Seol mendatangi kantor pemerintah seorang diri (lucu, hehehe). Para penjaga merasa heran dengan kehadiran gadis kecil itu yang lalu memanggil mereka.

Penjaga: “Hei, nak. Ada urusan denganku?”
Beo Seol memberi isyarat pada salah satu penjaga dan membisikkan sesuatu kepadanya.

Ternyata si penjaga disuruh untuk menemui Park Kyu di sebuah tempat makan. Tak lama kemudian sang penjaga pun datang, lalu Park Kyu menanyakan kabar Beo Jin yang ditahan karena tuduhan telah menyembunyikan pencuri kepada sang penjaga.

Penjaga: “Kau mencariku?”
Park Kyu: “Bagaimana Beo Jin?”
Penjaga: “Dia sangat ceroboh dan masih belum mengatakan apapun. Kita semua tahu kalau dia bukan seorang gadis yang akan menyembunyikan seorang pencuri. Meski demikian bagaimana Yi Bang bisa tahu semuanya? Kira-kira siapa yang disembunyikan Beo Jin. Dia sangat pendiam…”

Sang penjaga juga bilang kalau mereka menemukan beberapa pakaian pria di gua tersebut dan Beo Jin tetap bersikeras bahwa itu semua adalah miliknya. Hal ini menyebabkan masalah besar dalam penyelidikkan dan pada akhirnya Yi Bang akan menghukum Beo Jin bila dia tidak juga mengaku.
Penjaga: “Yi Bang bilang jikalau sampai jam 5 sore Beo Jin tidak juga mengaku, maka dia akan dihukum.
Park Kyu: “Jam 5 sore?”
Penjaga: “Ya, kau harus segera melakukan sesuatu atau dia akan mati. Kau harus membujuk Beo Jin untuk mengatakan yang sebenarnya. Pemerintah sangat waspada dengan polisi rahasia akhir-akhir ini.”
Park Kyu: “Polisi rahasia?”

Park Kyu langsung teringat dengan seorang pria ber-sakat (topi caping) hitam yang dia temui beberapa waktu lalu.


Di rumah, Beo Seol memberitahu Phi Lip kalau kakaknya sekarang sedang ditahan di kantor pemerintah. Dia pun langsung berlari meninggalkan Beo Seol (awas cemburu lho, kekeke).

Phi Lip lalu bergegas mencari Park Kyu untuk menanyakan kebenaran kabar tersebut. Park Kyu yang melihat Phi Lip kemudian menarik bocah tersebut ke hadapannya. (hadoh, gak tahu otaknya lagi butek apa ya?).

Phi Lip: “Kakak, apa benar Beo Jin ditangkap?”
Park Kyu: “Saat mereka menemukan gua orang asing, Beo Jin dipersalahkan karena telah menyembunyikan para pencuri di sana.”
Phi Lip: “Apa yang akan terjadi pada Beo Jin?”
Park Kyu: “Sekarang orang-orang asing tersebut telah pergi, kita tidak punya jalan untuk membelanya.”


Tapi dugaan Park Kyu meleset karena ternyata William dan Yan masih berada di pulau tersebut gara-gara rakit yang mereka naiki rusak (udah keburu kebelah duluan, wkwkwk). William yang memakai topeng nekat datang ke desa. Yang juga melihat orang buang air besar di kandang babi (aigooo! Gak nahan euy). Saat lagi bersembunyi, William dikejutkan oleh kehadiran si kakek tua (yang lagi pake wig-nya William, hehehe) yang lalu membawanya pergi ke suatu tempat dimana terdapat patung-patung batu besar kesukaannya William.

Si kakek berkata kalau patung tersebut mirip dengan wajah William yang maksudnya dia merupakan orang yang berbahaya.
Kakek: “Ini wajahmu.”
William: “Ini aku? Tidak, tidak mungkin.”
Kakek: “Di sini kau adalah orang yang berbahaya.”

Mendengar pernyataannya, William pun berdalih kalau dirinya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti orang. Dia datang hanya ingin bertemu Beo Jin dan bingung kenapa tidak ada yang mempercayainya.
William: “Aku tidak bermaksud untuk menakuti orang.Beo Jin. Aku datang untuk bertemu Beo Jin. Kenapa orang-orang tidak mempercayaiku.”

Tiba-tiba orang yang tadi buang air melintas, tapi pas melihat ada sosok berambut kuning dia pun kabur ketakutan karena disangkanya si kakek itu monster, hehehe (ya, maklumlah mereka blm pernah ngeliat orang asing). Park Kyu dan Phil Lip yang mendengar jeritan orang tersebut langsung menghampirinya. Mereka lalu diajak untuk melihat si monster yang bukan lain adalah si kakek, wkwkwk (Williamnya udah kabur).

Di laut, para penyelam wanita terlihat menderita semenjak pergantian kepemimpinan. Yup, sejak ditinggalkan oleh ibunya Beo Jin, para penyelam diforsir untuk lebih giat lagi mencari abalone yang akibatnya salah satu di antara mereka jatuh sakit (muntah-muntah gitu). Mereka lalu menyalahkan si pemimpin baru yaitu ibunya Kkeut Boon yang dinilai kurang memperhatikan mereka sebagai anak buahnya.

Penyelam A: “Kau akan baik-baik saja bila naik dengan pelan-pelan. Sejak kau merasa baik akhir-akhir ini, kau melupakan aturan keselamatan dan berenang terlalu cepat.
Han Soon: “Ketika menyelam sangat dalam kau akan berenang ke permukaan dengan cepat dan itu merupakan hal yang wajar. Untuk kalian mungkin akan merasa mual dan pusing dengan hal itu.”

Penyelam A: “Oleh karena itu kau harus berhati-hati. Bukan hanya satu atau dua orang penyelam yang meninggal karena hal tersebut.

Penyelam B: “Ibu Beo Jin pasti sudah mengetahui semua resikonya dan akan berenang secara perlahan saat naik ke permukaan. Sementara itu, ibu Kkeut Boon hanya sibuk memikirkan diri sendiri dibanding menjaga para penyelam lainnya.”


Ban Soon: “Apa yang kalian katakan padaku? Ka.. Kapan aku melakukannya? Kalian menyalahkan orang yang tidak bersalah. Kang Jae bisa beristirahat di sini. Sisanya ikut aku ke tempat berikutnya. Ayo, cepat!
Kkeut Boon dan ibunya pun pergi meninggalkan para penyelam tersebut. Mereka tidak habis pikir dengan kelakuan pimpinan barunya itu (hmm, sudah tahu salah tetep aja ngeles si ibu).

Sementara itu Phi Lip terus bertanya kepada Park Kyu mengenai nasib Beo Jin. Phi Lip beranggapan kalau polisi hanya salah paham karena telah mengira Beo Jin menyembunyikan para pencuri yang mencuri hasil pajak, sedang yang dia tahu Beo Jin tidak ada hubunganya dengan hal tersebut dan dia hanya seorang penyelam. Park Kyu lalu menjelaskan alasan kenapa Beo Jin ditahan.

Phi Lip: “Apa menurutmu polisi salah paham karena menuduh Beo Jin menyembunyikan pencuri yang mencuri hasil pajak? Bukankah Beo Jin hanya seorang penyelam?
Park Kyu: “Aku dengar bahwa pakaian orang-orang asing dan barang-barang milik mereka ditemukan di dalam gua.”
Phi Lip: “Tidak mungkin, itu semua milikku! Itu adalah pakaian dan selimut yang kupungut saat berlayar. Aku memberikan semuanya kepada mereka.”

 

Mendengar pengakuan Phi Lip, Park Kyu teringat dengan kejadian di gua dimana pada saat itu Phi Lip memang membawa pakaian untuk orang asing tersebut. Bagi Park Kyu, hal ini bisa menjadi bukti untuk membebaskan Beo Jin yang tidak bersalah. Kemudian dia pun bergegas menuju kantor pemerintah.

William yang sedang bersembunyi hanya bisa melihat Park Kyu dari kejauhan dan dia pun merasa bersalah karena mengira telah menyebabkan gadis itu ditahan.

Beo Jin lagi-lagi tengah diintrogasi dan kembali dicecar berbagai pertanyaan, tapi Beo Jin hanya diam.

Petinggi Yi Bang: “Aku Tanya sekali lagi. Siapa orang-orang yang kau tampung di tempat itu?”
Kim Yi Bang: “Sekarang katakan!”
Para penjaga merasa kasihan dengan Beo Jin dan tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat Beo Jin yang tidak kunjung mengaku, akhirnya sang petinggi memutuskan untuk menghukum gadis itu dengan 30 kali pukulan (aigooo, pasti sakit banget tuh).

Namun keberuntungan rupanya masih memihak Beo Jin, karena Park Kyu datang tepat waktu. Park Kyu kemudian menyuruh Phi Lip untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


Akibatnya yang kena hukuman adalah si Phi Lip, bukan Beo Jin (wkwkwk, kasian si Phi Lip). Ibu Beo Jin tidak habis pikir kenapa Phi Lip bisa melakukan hal tersebut.

Jang Myeo: “Dasar anak nakal! Jangan pernah membuat sebuah kehebohan tentang hal-hal yang sepele. Kau tahu Beo Jin mengalami kondisi yang sulit gara-gara kau!?”
Walau pun Phi Lip habis dimarahi, tapi dia bahagia melihat Beo Jin berterima kasih padanya. Ibu Beo Jin yang masih kesal lalu kembali memukul kepala Phi Lip yang dilihatnya bermain mata dengan Beo Jin.

Secara tidak terduga, Beo Seol meyuapi Phi Lip (kakakak, cinta monyet).
Sebagai gantinya, Philip memberikan Beo Seol sebuah pena bulu (kayaknya siy gitu) dan dia pun senang dengan pemberian Phi Lip.

Sayang, hal tersebut tidak berlangsung lama. Saat para tetangga datang menjenguk, mereka menganggap kalau Beo Jin dan Phi Lip mempunyai hubungan dekat. Phi Lip tentu saja senang, tapi tidak dengan Beo Seol yang kesal dan langsung pergi dari hadapannya (wkwkwk, lucu). Hal tersebut juga dibantah oleh ibu Beo Jin.

Jang Myeo: “Tidak ada apa-apa di antara mereka. Beo Jin hanya melindunginya karena merasa kasihan pada seorang anak laki-laki yang selalu tinggal sendirian.”

Setelah mendengar penjelasan ibu Beo Jin, para tetangga lalu beralih membicarakan Park Kyu. Mereka berkata Beo Jin bisa saja nanti menikah dengan Park Kyu setelah tinggal bersama seperti ini. Tidak lama kemudian Park Kyu pun keluar dari kamarnya dan pergi (kayaknya dia denger tuh obrolan ibu-ibu, hehehe).

Beo Jin pun bergegas mengejar Park Kyu. Rupanya dia ingin menanyakan tentang William.

Beo Jin: “Yandari. Dimana William bersembunyi?”
Park Kyu hanya diam dan menatap apa yang dibawa oleh Beo Jin. Beo Jin lalu bilang kalau itu adalah pakaian yang dijahit dengan kesemek (maksudnya buat warnain tuh baju) dan beruntung pegawai pemerintah mengembalikan pakaian itu padanya. Beo Jin sekali lagi bertanya pada Park Kyu tentang William, tapi hal ini malah bikin Park Kyu marah.

Beo Jin pun menduga kalau Park Kyu cemburu pada William (yang langsung dibantah oleh Park Kyu, hehehe).

Park Kyu: “Aku telah melepaskanmu dari kantor polisi. Aku rasa aku telah membuat kesalahan. Bagaimana kau bisa berbuat sembarang setelah apa yang terjadi?”
Beo Jin: “Yandari, apa kau cemburu kepadanya?”
Park Kyu: “Cemburu? Apa kau menjadi gila setelah berada selama beberapa hari di penjara ? Bagaimana bisa kau membandingkan diriku dengan orang asing? Kau sepertinya tidak tahu tentang diriku lagi pula kau hanya seorang gadis biasa. Aku adalah Park Kyu.”
Beo Jin: “Benar. Kau Park Kyu. Yandari. Terus kenapa?”

Park Kyu tampak kesal dengan sikap Beo Jin yang kelewat polos (alias telmi). Beo Jin pun pergi meninggalkan Park Kyu dan bergegas menuju tempat Phi Lip yang dia anggap William pasti ada di sana. Kkeut Boon secara tidak sengaja lewat situ juga kesal melihat pujaan hatinya sedang berduaan dengan Beo Jin. Bisa ditebak dia pun patah hati, wkwkwk.

Ibu Kkeut Boon yang malu karena telah menuduh keluarga Jang yang tidak-tidak merasa sungkan untuk menjenguk. Melihatnya datang, ibu Beo Jin lantas menawarkannya untuk minum-minum bersama dirinya. Dia juga menanyakan kabar ibu Kkeut Boon mengenai jabatan barunya.

Jang Myeo: “Kau mau minum? Teguk ini. Apa kau bahagia menjadi kepala penyelam?”
Han Soon: “Iya. Mari minum.”
Lalu mereka pun menjadi akrab kembali. Di tempat Phi Lip, William sedang diikat tangannya (kayaknya sama si Yan). Beo Jin pun segera melepaskan ikatan tersebut. Willian rupanya merasa bersalah terhadap Beo Jin karena gara-gara dia Beo Jin harus masuk penjara.
Beo Jin: “William. Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?”
William: “Aku baik-baik saja. Beo Jin… Gara-gara aku…”
Beo Jin: “Tidak, itu tidak masalah untukku. Aku dapat makan gratis dan tidak harus mengerjakan apapun. Aku malah punya waktu untuk beristirahat di sana.”

Mendengar penjelasan Beo Jin, William menjadi tenang. Lalu Beo Jin menunjukkan pakaian yang dibuat untuk William dan menyuruh William mencobanya. Sayang, mereka tidak menyadari keberadaan Park Kyu yang memperhatikan dari luar (dengan pandangan penuh kecemburuan, hahay)…

sumber: pelangidrama.net

 

 

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s