Tamra The Island – Episode 05

William tampak sangat bahagia memakai pakaian yang dibuat oleh Beo Jin. Begitu juga gadis itu yang kemudian membantu William merapikannya (ohho, mesra sekali). Sementara itu Park Kyu yang juga ada di sana tengah berbicara serius dengan Yan. Park Kyu rupanya menginginkan mereka untuk cepat pergi dari pulau Tamra karena dirinya khawatir mereka akan menyebabkan lebih banyak masalah terutama si William (are you sure? not jealous?) .

Park Kyu: “Kau tidak akan menyerah hanya karena kau gagal sekali bukan?”
Yan: “Tentu saja.”
Park Kyu: “Apa kau punya rencana?”
Yan: “Aneh, kau tampak lebih cemas daripada kami. Padahal kamilah yang sedang dalam bahaya. Harusnya kau tidak perlu khawatir dengan apa yang terjadi pada kami.”
Park Kyu: “Kau tidak tahu apa bahaya apa yang bisa kau sebabkan. Aku hanya tidak ingin melihat orang-orang di sini mendapat masalah lebih lanjut dikarenakan dirimu. Cepatlah, orang asing bodoh itu pastinya akan menyebabkan masalah besar.”
Yan: “Lalu apa kau akan menolong kami?”
Park Kyu hanya diam tidak menjawab pertanyaan Yan dan hanya memandanginya.

Hari sudah malam, Beo Jin dan Park Kyu baru kembali dari tempat William. Di perjalanan Beo Jin mengucapkan terima kasih kepada Park Kyu. Seperti biasa, Park Kyu menanggapi hal itu dengan jaim (padahal mah seneng tuh, hahaha) dan malah menyuruh Beo Jin untuk berjalan hati-hati dikarenakan sudah malam alias gelap. Beo Jin kesal dengan sikap Park Kyu dan sekali lagi dengan berteriak dia pun mengucap terima kasih lalu bergegas pergi. Tidak lama kemudian apa yang dikatakan Park Kyu terbukti. Beo Jin yang mencoba berlari akhirnya terpeleset dan terjatuh.

Sudah tentu Park Kyu langsung membantunya berdiri dan juga memarahinya.

Park Kyu: “Kau ini. Apa yang barusan aku bilang padamu?”
Beo Jin: “Aku tahu kok!”
Beo Jin lalu mengelus-ngelus pantatnya yang sakit. Melihat hal tersebut, Park Kyu dengan malu-malu mengulurkan tangannya (buat pegangan si Beo Jin biar tidak jatuh). Beo Jin yang awalnya ragu akhirnya hanya memegang lengan baju Park Kyu.

Sambil mengucapkan terima kasih (lagi) kepada Park Kyu mereka pun kembali berjalan pulang (aw, so sweet~!).

Sesampainya di rumah, Park Kyu yang sedang berada di kamar menulis surat kepada keluarganya untuk mengabari kalau dirinya baik-baik saja. Bukan hanya itu, dia juga minta dikirimin duit (tetep ya, hehehe).
Park Kyu: “Apa kalian baik-baik saja? Jeju sangat berbeda dari Hanyang. Meski begitu, kabarku baik-baik saja. Tolong jangan khawatir. Maafkan aku, tetapi aku membutuhkan uang. Bisakah kalian mengutus orang untuk mengirimkannya”

Kemudian Park Kyu membuka sedikit jendela kamarnya dan melihat Beo Jin yang sedang berada di luar dengan polosnya mencoba menangkap kunang-kunang (hmm, di sini udah enggak ada…). Park Kyu hanya tersenyum. Beo Jin lalu melepaskan kembali kunang-kunang yang dia tangkap sambil memperhatikan kunang-kunang tersebut terbang tinggi meninggalkan Beo Jin menuju seorang gadis kecil (Seo Rin kecil).

Saat sedang menangkap kunang-kunang seorang pria tua berbicara padanya. Pria tersebut menyuruhnya untuk melepaskan kunang-kunang itu.

Pria tua misterius: “Kau harus mengikuti kunang-kunang itu. Dia akan kehilangan semua sinarnya saat fajar. Kenapa kau tidak melepaskannya, jadi dia bisa terbang dengan bebas.”
Gadis itu pun menuruti kata-katanya.

Adegan beralih saat dirinya yang sedang sembunyi bersama salah satu pengawalnya menyaksikan pembantaian ayahnya oleh sekelompok pria misterius.

Seo Rin pun berteriak, rupanya dia mengalami mimpi buruk tentang masa lalunya yang kelam. Salah seorang pelayannya yang berada di luar lalu menanyakan keadaan Seo Rin. Tapi Seo Rin hanya mencemaskan kakaknya yang tidak kunjung kembali membawa surat dari Jeju.

Pelayan: “Anda baik-baik saja nona?”
Seo Rin: “Tidak apa-apa. Aku hanya bermimpi buruk… Apakah sudah ada kabar dari Jeju?”
Pelayan: “Belum, saya belum mendapat kabar.”
Seo Rin: “Kenapa kakakku lama sekali? Kita memerlukan surat itu secepatnya!!

Merasa tidak tenang, Seo Rin pun beranjak dari tempat tidurnya dan memberi perintah kepada pelayannya untuk menuju jemulpo (pelabuhan). Namun sang pelayan mengingatkan nonanya itu kalau hari belum fajar. Seo Rin hanya diam mendengar hal tersebut dan sepertinya dia teringat perkataan pria misterius waktu dia kecil tentang kunang-kunang.

Sementara itu, Jeon Chi Yong (si pria bercaping hitam) yang merupakan orang suruhan Seo Rin (yang dipanggil kakak oleh Seo Rin) untuk menyelidiki Jeju tidak sengaja bertemu dengan si kakek yang sedang makan. Dia pun terkejut melihat kakek tersebut dan kemudian memanggilnya ‘Yang Mulia’. Mereka lalu terlibat sebuah percakapan serius dimana intinya si kakek sudah tahu perbuatan Seo Rin dan memberinya sebuah peringatan kepada wanita tersebut.
Kakek: “Raja tinggal di Hanyang. Kenapa kau memanggil diriku ‘Yang Mulia’? Kau pasti masih belum sadar.”
Chi Yong: “Nonaku mengirimkan sepucuk surat untuk Anda.”
Kakek: “Katakan padanya apa yang kukatakan. Aku tahu apa yang telah dia lakukan di pulau Tamra dan jangan lagi menyebabkan bahaya apapun.”
Chi Yong: “Yang Mulia, Anda pasti mengerti apa yang nonaku inginkan!? Mohon pertimbangkan aspirasinya.”
Kakek: “Itu semua tidak berguna! Pergilah! Jangan hancurkan kedamaianku yang datang terlambat ini. Aku memutuskan akan meninggal di sini.”

Rahasia pun terkuak, identitas si kakek yang sebenarnya adalah Gwang Hae Gun, raja Chosun (Korea) ke-15 yang digulingkan oleh pemerintah pendukung raja ke-16, In Jo. Meski sudah ditolak, namun Chi Yong tetap memberikan surat tersebut kepada sang ‘Raja’.

Chi Yong yang kali ini memakai topi caping hitam mendatangi sebuah gua yang merupakan tempat persembunyian barang-barang berharga (atau upeti pajak yang digelapin ya?). Dia kemudian memperingati anak buahnya untuk lebih memperketat penjagaan.
Chi Yong: “Sejak para polisi terus mengawasi gerak-gerik kita, campurkan barang-barang penting dengan dengan barang-barang yang akan dikirim ke daratan.”
Penjaga: “Ya.”
Chi Yong: “Itu semua akan dikirim menuju pasar di Hanyang. Pindahkan tanpa ada masalah.”
Penjaga: “Baik, akan saya ingat.”

Selesai memberikan instruksi kepada sang penjaga, dia lalu pergi. Sayang, si penjaga yang dia percaya malah mencuri salah satu barang berharga yaitu sebuah tanduk rusa.


Keesokkan harinya tidak disangka Park Kyu mengunjungi rumah judi. Dengan percaya diri dia mempertaruhkan (hampir?) semua uangnya di atas meja judi (jangan ditiru!).


Sementara itu, Beo Jin mengunjungi ayahnya yang sedang menjual sandal jerami buatan tangannya. Gadis tersebut bermaksud membantu sang ayah. Tidak lama kemudian seorang pria datang dan marah-marah kepada mereka. Rupanya pria tersebut kesal karena kalah berjudi dengan Park Kyu dan menuduh ayah Beo Jin telah mengajarkan sebuah trik kepadanya.

Pria penjudi: “Apa yang telah kau ajarkan kepada Yandari itu?”
Won Bin: “Apa yang kau bicarakan?”
Pria penjudi: “Si brengsek itu memenangkan semua uang kami!”

Beo Jin dan ayahnya pun terkejut mendengarnya. Tentu saja mereka tidak percaya Park Kyu bisa melakukan hal tersebut (judi maksudnya, kekeke).

Park Kyu yang menang besar juga menuai protes dari para penjudi lainnya.

Wanita penjudi: “Apa ini?! Apakah kau ini seorang idiot yang tidak tahu bagaimana caranya menghitung semua uang taruhanmu?”
Park Kyu: “Aku tidak bertaruh dengan menghitung, tetapi aku bertaruh dengan kesadaran.”

Wanita itu pun kesal dan menyuruh salah seorang penjudi untuk membagikan kartunya. Di tengah permainan, perhatian Park Kyu teralihkan kepada seorang penjudi (si penjaga suruhan Chi Yong). Park Kyu lalu mencurigai pria tersebut karena membawa sebuah tanduk rusa sebagai ganti uang taruhan yang telah habis dia gunakan untuk berjudi. Semua orang di tempat itu pasti tahu betapa berharganya barang tersebut.

Kemudian dia pun menukarkannya menjadi sejumlah uang di kasir rumah judi. Park Kyu lalu mendatangi si kasir dan menyuruhnya menjual tanduk itu kepadanya.

Park Kyu: “Jual tanduk itu kepadaku.”
Kasir judi: “Oh, kau punya mata yang jeli. Bagaimana kau tahu ini barang kualitas terbaik?”


Beo Jin yang datang mencari Park Kyu ke tempat itu langsung menghampirinya begitu menemukan cowok itu. Kedatangan Beo Jin yang tiba-tiba kontan aja mengagetkan Park Kyu. Melihat gadis itu datang, Park Kyu lantas menyuruh Beo Jin untuk segera pergi dari rumah judi.
Beo Jin: “Apa yang kau lakukan di sini? Yandari, apa kau telah menyerah dengan hidupmu?”
Park Kyu: “Kau tak seharusnya berada di tempat ini. Pergilah!”
Walau pun diusir oleh Park Kyu, Beo Jin tetap tidak mau pergi. Beo Jin yang menganggap Park Kyu telah menyerah pada hidupnya mencoba memperingatinya.
Beo Jin: “Tidak! Apa kau tidak pernah dengar kalau setiap penjudi pada akhirnya akan hidup menjadi seorang pengemis?”

Di samping itu si kasir kembali bertanya pada Park Kyu, apakah dirinya jadi membeli tanduk tersebut atau tidak. Park Kyu tahu kalau Beo Jin sudah salah paham kepadanya dan kembali menyuruhnya pergi, tapi gadis itu tidak peduli. Dia malah terus saja menasehati Park Kyu.
Park Kyu: “Keluarlah dari sini, aku juga akan pergi secepatnya dari tempat ini.”
Beo Jin: “Yandari, harapan tidak akan sirna. Kau bisa sukses lagi bila dirimu kembali ke Hanyang.”
Park Kyu tampak mulai stress dengan kelakuan Beo Jin dan mendadak suasana di tempat itu pun berubah menjadi kepanikan saat para polisi tiba-tiba datang mengadakan penggeledahan. Beo Jin langsung bergegas membawa Park Kyu yang hanya berdiam diri di hadapannya lalu kabur.

Ternyata Chi Yong lah dalang dari semua itu. Si penjaga penjudi yang melihat dirinya datang pun menjadi ketakutan dengan tatapan maut dari pria tersebut. Para pengawal lantas membawa si penjaga penjudi pergi.

Beo Jin yang sedang bersembunyi bersama Park Kyu juga takut dengan tatapan Chi Yong dan kembali bersembunyi. Lagi-lagi Beo Jin menasehati Park Kyu dengan memberitahu hukuman apa yang akan laki-laki itu dapatkan bila dirinya tertangkap nanti. Kemudian Park Kyu menjelaskan kepada Beo Jin kalau dirinya mempunyai alasan berada di tempat tersebut.

Beo Jin: “Sejak dirimu seorang Yandari, bila kau tertangkap, kau akan dipukuli lebih dari 100x.”
Park Kyu: “Aku punya beberapa alasan berada di tempat ini. Tunggu di sini.”
Setelah menyuruh Beo Jin untuk tenang, Park Kyu menyaksikan Chi Yong membawa kabur tanduk rusa. Hal ini membuat Park Kyu mencurigai pria itu.

Di penjara, si penjaga penjudi kedatangan seorang misterius yang kemudian membunuhnya (kayaknya si Chi Yong).

Keesokan harinya, Kim Yi Bang mendapati tawanannya itu telah tewas. Kim Yi Bang pun memarahi para penjaga yang dianggapnya telah lalai menjalankan tugas.
Kim Yi Bang: “Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana bisa!?”
Penjaga: “Saya layak dihukum, tuan. Pada waktu itu saya sakit perut dan pergi ke toilet.”
Kim Yi Bang: “Bodoh!!! Kalian semua harus menutup mulut kalian. Pastikan hal ini jangan sampai tersebar. Kalian mengerti?”
Para Penjaga: “Baik!”


Di luar, Park Kyu terus menyelidiki kecurigaannya dan menanyai para penjaga yang ketakutan dengan kehadiran Park Kyu.
Penjaga A: “Kenapa kau keluyuran di tempat ini?”
Park Kyu: “Apa kalian yakin tidak ada satu orang pun yang ditahan kemarin?”
Para penjaga yang memang ditugaskan merahasiakan apa yang terjadi pun membantah dan berkata kepada Park Kyu bahwa mereka tidak menahan siapapun kemarin. Mereka lantas menyuruh Park Kyu segera pergi agar tidak diketahui oleh Yi Bang. Meski masih curiga, Park Kyu akhirnya pergi.

Seperti biasa Beo Jin dan para penyelam lainnya sedang menyelam mencari ikan dan kerang di laut. Saat Beo Jin kembali ke darat, sang ibu menghampiri putrinya itu. Namun lagi-lagi si Kkeut Boon pamer dengan hasil kerja kerasnya yang membawa pulang banyak kerang. Tidak ketinggalan ibu Kkeut Boon juga menyindir Beo Jin.


Kkeut Boon: “Aw, berat sekali. Aku kembali karena jalaku sudah terlalu berat. Aku juga belum lelah, wow!!”
Ban Soon: “Walau pun dia putriku, dia sangat brilian!! Dia berbeda sekali dengan putri dari seseorang (maksudnya Beo Jin).”
Mendengar ejekan itu, ibu Beo Jin tidak membalas dan hanya menyuruh Beo Jin memperlihatkan jalanya kepadanya. Melihat putrinya hanya membawa pulang kerang, ibunya pun menanyakan alasannya. Beo Jin lalu berdalih kalau dirinya tidak bisa melihat bila sedang menyelam.


Jang Myeo: “Angkat jalamu dan perlihatkan padaku. Bagaimana kau hanya bisa mengambil kerang-kerang saja?”
Beo Jin: “Ibu, itu karena terlalu sulit buatku untuk membuka mataku di dalam air.”
Ibu Beo Jin pun marah mendengar penjelasan Beo Jin dan menyuruh putrinya itu kembali menyelam. Dengan muka masam Beo Jin menuruti perintah ibunya itu (hahaha, dia manyun).

Pada saat kelompok penyelam Sanbanggol (pimpinan ibunya Beo Jin) sedang beristirahat, kelompok penyelam wanita dari Seomootgol datang menghampiri mereka.
Pemimpin Seomootgol: “Sudah lama tidak bertemu denganmu!”
Han Soon: “Ada apa ini? Apa yang membawa para penyelam dari Semootgol ke sini, Sanbanggol? Oh, kau datang pasti untuk memata-matai kami karena kompetisi penyelam. Apa kau datang untuk memeriksa putriku, Kkeut Boon?”
Ocehan ibu Kkeut Boon hanya menjadi angin lalu. Rupanya mereka ingin memberitahukan tempat kompetisi penyelam diadakan yaitu di selat Boo Reung. Namun kedatangan mereka justru disambut dingin oleh ibu Beo Jin dan malah mengira mereka takut dikalahkan oleh kelompoknya (wah, niy ibu berani amat ya, ngajak perang duluan).
Pemimpin Seomootgol: “Selat Boo Reung akan menjadi tujuan kita tahun ini.”
Jang Myeo: “Kau pasti sangat cemas dengan kemampuan kami. Apa kau begitu takut dengan kami?”

Pemimpin Seomootgol: “Tidak mungkin. Kau lebih baik benar-benar bersiap-siap bila kau tidak ingin malu. Penyelam yang mewakili kami merupakan penyelam terbaik dari yang pernah ada.”
Jang Myeo: “Berani sekali kau membual di sini? Sekarang seekor kura-kura membuat kehebohan dengan menyuruh seekor singa laut untuk berjalan cepat?”
Pemimpin kelompok Seomootgol hanya tersenyum (lebih tepatnya senyum mengejek) mendengar hal itu dan mereka pun pergi.

Lalu ibu Beo Jin berteriak memanggil putrinya.

Jang Myeo: “Jang Beo Jin!”
Beo Jin: “Ya.”
Jang Myeo: “Kau akan menjadi perwakilan kami untuk kompetisi.”
Sudah tentu semuanya kaget mendengar pernyataan ibu Beo Jin (termasuk si Beo Jin, hehehe). Ibu Kkeut Boon pun bereaksi dengan pilihan ibu Beo Jin dan kembali menanyakannya. Apa lagi si KKeut Boon yang langsung marah-marah karena dia kira dirinya lah yang bakalan kepilih. Melihat putrinya seperti itu, ibu Kkeut Boon pun menuduh ibu Beo Jin hanya memikirkan kepentingan pribadi.
Han Soon: “Lagi??? Dia hanya peduli dengan putrinya saja! Tidakkah kau lihat kemampuannya saat ekspedisi??? Dia telah menyebabkan banyak masalah! Kkeut Boon!!!”
Ibu Kkeut Boon lalu mengejar anaknya yang pergi karena kecewa. Meski diprotes, namun ibu Beo Jin tampaknya tetap pada pendiriannya dan menatap Beo Jin yang menolak dicalonkan.

Di padang rumput (waah, keren banget pemandangannya) William menatap Beo Jin yang tertidur di sampingnya. Kemudian laki-laki itu pun mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah kacamata selam. William meletakkan kacamata tersebut pada kedua mata Beo Jin dan Beo Jin pun terbangun, menyadari sesuatu di wajahnya. Dia terkejut kagum melihat benda pemberian William.
Beo Jin: “Ini terlihat sangat menakjubkan.”
William: “Di dalam air, bukankah matamu sakit?” (niy bule sudah mulai pake bahasa Korea, wkwkwk)
Beo Jin: “William, aku… Sungguh berat buatku untuk membuka mata di dalam air. Itulah mengapa aku sangat tidak suka menyelam.”

William tersenyum dan berkata pada Beo Jin bahwa gadis itu baginya adalah ‘dalam air’ yang maksudnya dia seperti seorang ‘mermaid’ alias putri duyung (jago juga niy ngegombalnya, hehehe). Sayang, William kali itu kembali berbicara dengan bahasa Inggris yang Beo Jin sendiri tidak tahu artinya.
Beo Jin: “Mer…ma… Apa? Apa maksudmu?”
William: “Mermaid? Uh… Mermaid adalah seorang penyelam cantik yang tinggal di dalam air.”
Meski William terbata-bata dengan bahasa Korea-nya, Beo Jin akhirnya mengerti dengan maksud perkataannya. Sebagai gantinya, Beo Jin menganggap kalau William merupakan hadiah dari ‘Sulmoondae Halmang’ atau dewi laut (ada gitu yang bule?).
Lalu dengan malu-malu Beo Jin kembali bertanya kepada William tentang arti ‘haeng bok’ (kebahagian maksudnya) bagi dirinya.
Beo Jin: “William, apa kau tahu apa artinya ‘haeng bok’?”
William: “Haeng bok?” (belum ngerti dia)
Beo Jin: “Aku sangat bahagia ketika bersama dengan dirimu, William.”
Sambil berpikir, William akhirnya mengerti dengan maksud Beo Jin dan berkata kepadanya kalau dirinya juga senang ketika berada di dekat Beo Jin dan kemudian William menaruh tangan kanan Beo Jin ke dada kirinya untuk merasakan detak jantung laki-laki itu.
William: “Lihat, jantungku berdetak sangat cepat. Itu artinya aku sangat bahagia. Ketika aku bersama Beo Jin, jantungku selalu berdetak seperti ini.”
Beo Jin lalu melakukan hal yang sama, dia pun merasakan detak jantungnya juga berdetak kencang.
Beo Jin: “Jantungku juga berdetak sangat cepat.”
Mereka berdua hanya tersenyum. Beo Jin takjub dengan apa yang dia rasakan, sementara William memandangi gadis tersebut.

Hari kompetisi pun tiba antara kelompok Sanbanggol pimpinan ibu Beo Jin melawan kelompok Seomootgol. Kkeut Boon yang masih belum menerima kenyataan dengan diam-diam memasukkan sebuah serbuk putih yang dia beli di pasar (kayaknya siy obat pelangsing) ke mangkok yang berisi minuman. Pertandingan pun dimulai dan babak pertama dimenangkan oleh kelompok Sanbanggol.

Sementara itu, Kkeut Boon berusaha menawarkan minuman kepada Beo Jin. Melihat Beo Jin yang ragu, Kkeut Boon berdalih kalau minuman tersebut merupakan minuman spesial buatannya untuk Beo Jin.

Kkeut Boon: “Ini cobalah. Ambillah! Aku membuatnya dengan mencampurkan berbagai tanaman herbal yang baik untuk kesehatan. Minumlah untuk menambah stamina dan pastikan kau memenangkan kompetisi.”

Beo Jin: “Terima kasih Kkeut Boon.”
Kkeut Boon: “Minum! Minum terus! Cepat! Pelan-pelan!”
Beo Jin yang polos akhirnya meminum minuman tersebut sampai tuntas dan merasakan kalau dirinya bertambah kuat gara-gara minuman Kkeut Boon (ow yeah???). Lalu Beo Jin beranjak menuju tempat kompetisi dan William dengan diam-diam mengamati dari jauh. Di babak selanjut, giliran kelompok Seomootgol yang unggul dan nilai menjadi seri.


Tiba saatnya babak penentuan yang diwakili oleh Beo Jin. Ibu Beo Jin kemudian memberikan sebuah pisau kepadanya sebagai tanda kepercayaannya kepada putrinya itu.

Jang Myeo: “Ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan padamu. Lakukan.”
Beo Jin: “Ibu…”
Jang Myeo: “Pergilah.”
Kompetisi babak akhir akan segera dimulai, Beo Jin mulai merasakan ada yang tidak beres dengan dirinya. Dia terus memegangi perutnya.
Beo Jin: “Oh uh? Apa ini karena aku lapar?”
Di sampingnya sang lawan terlihat 2x lebih besar dari pada Beo Jin dan terlihat sangat percaya diri. Penonton pun terkejut melihatnya. Namun, Phi Lip yang juga sedang menonton memberi semangat kepada Beo Jin agar gadis itu tidak gentar.

Phi Lip: “Apa kita berenang hanya dengan ukuran badan?! Penyelam terbaik di Sanbanggol, Jang Beo Jin!”
Beo Jin pun menjadi sedikit lega dengan dukungan Phi Lip. Selain Phi Lip, Park Kyu rupanya juga menonton kompetisi itu dan terus memperhatikan Beo Jin. Sebelum menyelam, Beo Jin memakai kacamata renang pemberian William. Lawannya yang merasa aneh dengan penampilannya lantas menanyakan benda tersebut.
Penyelam lawan: “Apa itu?”
Beo Jin: “Ini penutup mata!”
Penyelam lawan: “Ha!! Apa ini…”
William tampak senang ketika tahu Beo Jin memakai barang pemberiannya dan pertandingan dimulai! Di lain tempat, Kkeut Boon sedang sibuk melakukan pemanasan (berharap bisa menggatikan Beo Jin) yang lalu ditanyakan oleh teman-temannya.
Teman A: “Kkeut Boon! Apa yang sedang kau lakukan?”
Kkeut Boon: “Ti…tidak ada, aku hanya merenggangkan badan karena merasa tidak enak badan.”
Teman B: “Apa kau bermaksud menggantikan Beo Jin jika dia tidak ikut bertanding?”
Kkeut Boon pun langsung membantah hal tersebut dan berdalih kalau dirinya tidak peduli dengan Beo Jin (aigooo, you’re lying). Kkeut Boon lalu berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Di dalam air, Beo Jin mulai merasakan reaksi dari minuman yang diberikan Kkeut Boon, sedang di darat, para pendukung Sanbanggol mulia khawatir dengan keadaan Beo Jin yang tidak kunjung menampakkan diri. Kesempatan ini pun dimanfaatkan ibu Kkeut Boon untuk menyalahkan ibu Beo Jin yang memilih Beo Jin sebagai wakil mereka.

Han Soon: “Lihat apa yang terjadi! Aku tahu hal ini pasti terjadi. Walau pun kita semua mengerti bagaimana perasaan penyelam Choi (ibu Beo Jin), tidak mungkin menjadikan Beo Jin sebagai perwakilan penyelam tingkat terendah.”
Kekhawatiran juga hinggap dalam pikiran Park Kyu yang juga merasakan ada yang tidak beres dengan Beo Jin. Dia pun menanyakan keganjilan tersebut kepada ibu Beo Jin, tapi ibu Beo Jin meyakinkan kalau putrinya baik-baik saja.
Park Kyu: “Apa kau pikir dia baik-baik saja tidak muncul dari air dengan waktu selama ini?”
Beo Jin: “Jangan khawatir. Beo Jin kami tidak selemah itu.”
Walau demikian, Park Kyu tetap cemas dengan gadis itu. William yang menonton dari kejauhan juga merasakan hal sama seperti Park Kyu.

Pengaruh obat membuat Beo Jin kehilangan konsentrasi dan mual. Tidak lama kemudian dia pun pingsan di dalam air dan menjatuhkan pisaunya. William akhirnya memutuskan untuk mencari Beo Jin.

Provokasi dari ibu Kkeut Boon semakin memperparah keadaan, dia menakut-nakuti ibu Beo Jin dengan perkataannya.
Han Boon: “Apa kau ingat? Salah satu dari para penyelam tidak muncul ke permukaan karena kakinya tersangkut di antara bebatuan!”
Mendengar hal itu, ibu Beo Jin lantas bergegas mencari anaknya.

Sementara itu, William akhirnya berhasil menyelamatkan Beo Jin. Park Kyu yang juga cemas ikut mencari keberadaan Beo Jin di tempat lain dan dia terkejut melihat apa yang telah William lakukan kepada gadis itu (William sedang memberi nafas buatan). Melihat apa yang terjadi di depannya, Park Kyu yang salah paham langsung memukul William yang dia pikir telah bertindak tidak sopan kepada Beo Jin.

Park Kyu: “Apa yang kau lakukan?! Kau tidak menyadari kalau dirimu berhutang kepada Beo Jin, meski dia sangat perhatian padamu.”
Namun William tidak punya waktu untuk meluruskan itu semua, yang dia inginkan hanyalah menyelamatkan Beo Jin. Park Kyu kemudian meminta William untuk tidak menemui Beo Jin lagi sebelum akhirnya dia menyuruh laki-laki itu untuk pergi saat mendengar suara para penduduk yang juga mencari Beo Jin
Park Kyu: “Sekarang pergilah! Meski bila kau tertangkap oleh mereka, aku tidak akan berupaya untuk menyelamatkanmu.”

Park Kyu pun membawa Beo Jin pergi begitu juga dengan William ketika melihat para penduduk.


Beo Jin akhirnya siuman dan mendapati dirinya sudah ada di rumahnya ditemani orang tuanya dan adiknya. Ayahnya yang khawatir menanyakan keadaan Beo Jin.

Won Bin: “Kau sudah sadar sekarang?”
Beo Jin: “Ayah…”
Won Bin: “Jika kau tidak kuat, mestinya kau keluar. Kau tidak harus mempertaruhkan hidupmu untuk sebuah tempat memancing. Hidupmu jauh lebih penting. Bila kau mati, kau pikir kami bertiga bisa hidup di bawah kesedihan?!”
Beo Jin: “Maafkan aku…”
Beo Jin kemudian menatap ibunya yang duduk di sebelahnya. Beo Jin berkata kepada sang ibu kalau dirinya menyesal karena tidak bisa menjadi seorang penyelam hebat seperti ibunya. Mendengar perkataan Beo Jin ibunya hanya diam. Lalu sang ayah menyuruh Beo Jin untuk kembali beristirahat dan dia juga memberitahu kalau Park Kyu lah yang telah menyelamatkannya (padahal mah si William).
Won Bin: “Berhenti berkata yang bukan-bukan, jaga dirimu. Jika bukan karena sarjana (Park Kyu), hal ini bisa menjadi sebuah bencana.”

Ibu Beo Jin tetap diam dan keluar dari kamar putrinya. Rupanya di luar para penduduk juga sedang mengkhawatirkan keadaan Beo Jin. Salah seorang dari mereka menanyakan keadaan Beo Jin. Ibu Beo Jin memberitahu kalau keadaan putrinya baik-baik saja.

Jang Myeo: “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia akan segera sembuh setelah beristirahat selama beberapa hari.”
Kkeut Boon yang merasa bersalah berusaha mengakui perbuatannya kepada Beo Jin. Sayang, belum sempat mengaku, ibu Kkeut Boon malah memotong pembicaraan dan kembali menyalahkan keputusan ibu Beo Jin karena pada akhirnya mereka kalah dan kehilangan tempat mencari ikan.

Han Soon: “Memilih perwakilan yang salah merupakan masalah yang mendasar. Bila Kkeut Boon yang bertanding, dia pasti bisa mengalahkan wanita yang besar itu dengan sekejap. Sejak kita kehilangan selat Poo Reung karena Beo Jin, dimana rencananya kau akan mencari ikan tahun ini?”
Perkataan ibu Kkeut Boon membuat Kkeut Boon makin merasa bersalah dan lalu pergi meninggalkan ibunya itu.
Sementara itu para penduduk pun lega mendengar kondisi Beo Jin dan bertanya kepada Park Kyu bagaimana cara pria itu menolong Beo Jin. Mereka malah menyuruh agar Park Kyu menikahi Beo Jin yang langsung diprotes oleh putri dari mereka masing-masing karena menurut mereka itu mustahil.
Wanita A: “Bagaimana sarjana bisa menolong Beo Jin lagi?”
Wanita B: “Sunbinim, kenapa kau tidak menikahi Beo Jin dan hidup bersama di sini?”
Gadis B: “Oh ibu. Yandari masih punya standar.”
Gadis A: “Benar.”
Gadis B: “Itulah yang aku maksudkan. Bagaimana bisa dia bersama gadis jelek seperti Beo Jin?”

Tidak lama kemudian sang tetua pun datang untuk menjenguk Beo Jin. Melihatnya datang, ibu Beo Jin menjadi tidak enak karena pria itu juga memberikan obat-obatan untuk Beo Jin.
Jang Myeo: “Apa ini?”
Tetua: “Ini obat untuk melindungi tubuh saat merasa lemah. Aku memberikan ini untukmu.”
Jang Myeo: “Anda memberikan kami obat yang berharga ini. Terima kasih tuan.”

Di tempat Phi Lip, William memegang bibirnya yang berdarah akibat dipukul oleh Park Kyu. Dia masih mencemaskan keadaan Beo Jin dan terus menerus menanyakannya kepada Yan (jadi tempat sampah niy abang, hehehe).
William: “Beo Jin. Aku harap dia baik-baik saja, dia pasti baik-baik saja kan? Apa dia baik-baik saja? Pastinya dia tidak seperti akan mati! Aku bahkan tidak melihatnya dia membuka mata.”
Yan: “Kebodohan cenderung akan hidup lebih panjang.” (maksudnya itu si Beo Jin, wkwkwk)
Lalu kekhawatiran William beralih pada Park Kyu. Dia menduga Park Kyu telah salah paham kepadanya dengan apa yang telah dia perbuat kepada Beo Jin. Meski William membela dirinya, tapi Yan mengingatkan William kalau para penduduk sekali pun tidak akan mengerti maksud perbuatan William.
William: “A..aku hanya mencoba untuk menyelamatkan Beo Jin… tapi…”
Yan: “Jangan menyangka kalau para penduduk akan mengerti apa yang kau lakukan. Kau bukan apa-apa, tetapi seorang makhluk asing bagi mereka.”
William pun bingung dan bertanya kenapa penduduk setempat begitu membencinya. Kemudian Yan menjelaskan kepada William kalau Chosun telah menjadi sebuah negara yang tertutup dan para penduduk akan takut dengan orang yang berbeda warna kulit dengan mereka dan mereka akan mencoba membunuh orang-orang asing. Meski dijelaskan oleh Yan, William tetap tidak mengerti karena apa yang dimaksud Yan tidak ada dalam diri Beo Jin.
William: “Aku tidak mengerti. Beo Jin tidak seperti mereka.”
Yan: “Beo Jin, dia seorang gadis yang aneh.”
William: “Tidak. Dia bukan orang aneh.”

Yan: “Pada akhirnya kau akan menetap di sini. Lebih baik untukmu untuk tidak melampirkan dirimu kepada siapa pun yang tidak berkepentingan. Aku akan mencari cara bagaimana kita pergi dari sini secepatnya. Kau lebih baik melupakannya.”
William hanya diam mendengar perkataan Yan.
Lalu Phi Lip muncul untuk menyuruh Yan ikut dengannya. Rupanya Phi Lip mengantar Yan menuju sebuah kapal yang bisa dia tumpangi ke Nagasaki. Yan dan pemilik kapal pun terlibat negosiasi.
Pemilik kapal: “Nagasaki?”
Yan: “Benar. Bila saya menyiapkan uangnya, bisakah Anda membawa kami ke sana?”
Pemilik kapal: “Tentu saja! Pergi ke Nagasaki bukan hal yang sulit. Dengan kapal, jarak perjalanan sama saja dengan Thusima atau Nagasaki.”
Walaupun tidak menjawab, raut muka Yan tampak senang karena akhirnya mereka bisa pergi meninggalkan Tamra.

Di tempat lain, Chi Yong sedang berdiskusi dengan seorang pria yang merupakan kaki tangan si tetua di desa Tamra (ternyata eh ternyata).

Kaki tangan tetua: “Hari ini, saya akan melakukan sebuah aksi penentuan.”
Chi Yong: “Kau harus menanggung beban untuk menarik perhatian para polisi.”
Kaki tangan tetua: “Jangan khawatir, saya telah mempersiapkan orang terpercaya untuk mengerjakan hal ini.”
Chi Yong: “Aku percaya dengan kepercayaan dirimu tetapi bukankah kau yang membuatku datang ke Tamra ini?”
Kaki tangan tetua: “Mohon maaf tuan.”
Laporan dari Chi Yong-orrabuni membuat Seo Rin puas karena pada akhirnya mereka bisa mengalihkan perhatian para polisi dan dengan tenang bisa mengirim barang-barang pajak yang digelapkan.

Di kantor polisi, Kim Yi Bang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Chi Yong. Ya, Chi Yong memberitahu Kim Yi Bang kalau para penyelundup akan membawa barang-barang pajak dari Tamra dan menyuruh Kim Yi Bang beserta anak buahnya untuk menangkapnya (buat ngalihin perhatian polisi dari Seo Rin).
Kim Yi Bang: “Maksudmu saat pagi-pagi sekali pada tanggal 8?”
Chi Yong: “Sebuah kapal dagang akan pergi pagi-pagi sekali. Kau harus menangkap mereka ketika mereka membawa barang. Kau harus membasmi para penyelundup sebelum kapal mereka meninggalkan pelabuhan.”
Kim Yi Bang: “Apa kau yakin mereka merupakan para pencuri barang-barang pajak?”
Chi Yong hanya menatap tajam Kim Yi Bang yang masih ragu dengan kata-katanya (tatapan maut). Kemudian diperlihatkan kalau ternyata yang dimaksud kapal penyelundup oleh Chi Yong adalah kapal yang akan ditumpangi oleh Yan. Dengan licik, mereka mengatur siasat untuk menjadikan kapal tersebut sebagai sebuah umpan alias kambing hitam.

Di rumah keluarga Jang, Ibu Beo Jin menjamu Park Kyu yang dianggap telah menyelamatkan Beo Jin.
Jang Myeo: “Terima kasih.”
Park Kyu: “Bukankan salah memaksanya mengikuti kompetisi, meski dia sendiri tidak menginginkannya.”
Jang Myeo: “Apa kau di sini hanya sebagai seorang yandari sejak kau ingin menjadi salah satunya? Seseorang cenderung hidup menuruti suatu keadaan. Tidak ada pilihan untuk hidup sebagai seorang penyelam bila dia dilahirkan sebagai seorang gadis di pulau Tamra.”

Park Kyu menganggap keputusan ibu Beo Jin menyuruh putrinya berkompetisi adalah hal yang salah, tapi rupanya ibu Beo Jin punya alasan tersendiri kenapa dia memilih putrinya itu.
Park Kyu: “Daesanggoon (pimpinan penyelam), kau tidak bisa membuat seekor kucing menjadi seekor macan meskipun kau mengirimya ke gunung.”
Jang Myeo: “Aku tidak mencoba membuatnya menjadi sehebat macan. Dia bisa mendukung suami dan keluarganya dengan menyelam. Jika aku bisa mendukung dirinya seumur hidup, aku tidak akan pernah mengirim Beo Jin melakukan pekerjaan seperti menyelam.
Penjelasan ibu Beo Jin akhirnya membuat Park Kyu mengerti, ternyata sang ibu juga memikirkan masa depan Beo Jin.
Sementara itu, William rupanya diam-diam datang untuk menjenguk Beo Jin. Sedangkan Beo Jin sendiri tengah tertidur dan mengigau memanggil nama William (awas ngiler, wkwkwk).

Keesokan harinya, William yang sedang memandangi patung batunya terkejut kedatangan si kakek yang memanggilnya dengan ‘si mata biru’. William lalu bertanya kepada sang kakek tentang dirinya.
William: “Apa aku terlihat menakutkan bagi mereka seperti patung ini? Menyedihkan…”
Lalu si kakek mencoba menghibur William yang menurutnya kesepian karena jauh dari negerinya, tapi penjelasannya sulit dipahami oleh William (maksudnya gak nyambung, hehehe).
Kakek: “Apa pun itu, dia pasti merasa kesepian jika dia meninggalkan kampung halamannya.”
William: “Tapi aku punya Beo Jin di sini. Putri duyungku, Beo Jin… Apakan Beo Jin baik-baik saja?”

Kondisi Beo Jin sudah tampak membaik, dia lalu meminum obat pemberian dari tetua untuknya. Setelah habis meminumnya, sang adik menanyakan keadaan Beo Jin.
Beo Seol: “Eonni, apakah kau merasa dirimu seperti mendapatkan kekuatan lebih?”
Beo Jin: “Ya! Aku merasa seperti aku bisa berenang ke sepanjang pulau (hiperbasket niy, wkwkwkwk).”
Merasa kurang adil, Beo Jin menyuruh Beo Seol juga ikut meminum obat tersebut, tapi ditolak oleh Beo Seol karena dia ingin melihat sang kakak cepat sembuh (adik yang baik). Kemudian Beo Seol pergi ke dapur.
Saat sedang beristirahat, Beo Jin terkejut dengan sang adik yang akan pergi mengambil air. Beo Jin pun berusaha membantu Beo Seol, namun Beo Seol malah melarangnya dan menyuruh sang kakak untuk kembali beristirahat.
Beo Jin: “Oh, Beo Seol!”
Beo Seol: “Eonni, kau beristirahat saja. Aku yang akan mengambil air.”
Beo Jin: “Tidak, aku yang akan pergi.”
Beo Seol: “Tidak bisa. Kau perlu banyak istirahat.”
Beo Jin tidak bisa apa-apa dan hanya melihat sang adik berlalu.

Saat menatap kamar Park Kyu, Beo Jin teringat dengan ayahnya yang berkata kalau Park Kyu telah menyelamatkannya. Sebagai ucapan terima kasih, Beo Jin lantas memasakkan sesuatu untuk laki-laki itu (kayaknya enak, ngiler euy). Setelah selesai, Beo Jin memanggil Park Kyu untuk keluar menemuinya.

Beo Jin: “Oi, yandari! Keluarlah sebentar.”
Karena tidak ada respon, Beo Jin akhirnya nekat menerobos kamar Park Kyu dan mendapati kamar itu kosong. Beo Jin lalu dikagetkan oleh Park Kyu yang ternyata ada di belakangnya (dia baru datang).

Park Kyu: “Apa yang sedang kau lakukan di kamarku? Pembuat masalah, apa kau tidak punya sopan santun?”
Beo Jin yang tertunduk hanya menyerahkan kue buatannya kepada Park Kyu.
Beo Jin: “Cobalah, ini bingdduk.” (kue tradisional Jeju yang terbuat dari tepung soba dan campuran lobak)
Park Kyu: “Kau yang membuatnya? Mungkin lebih membantu lagi jika aku tidak jatuh sakit setelah memakannya.”

Meski Park Kyu menyindir bingdduk buatan Beo Jin toh tetap dia memakannya. Sambil menemani Park Kyu menghabiskan kue buatannya, Beo Jin mengajukan beberapa pertanyaan seputar Park Kyu telah menyelamatkannya.
Beo Jin: “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Kata mereka semua kaulah yang telah menyelamatkanku, benarkah?”


Park Kyu kontan aja tersendak mendengar pertanyaan Beo Jin (sampe batuk-batuk saking kagetnya, wkwkwk) dan bingung menjawabnya. Sedangkan Beo Jin mengira Park Kyu seperti itu karena telah memakan kue buatannya. Beo Jin pun mencoba mencicipinya. Gara-gara makannya Beo Jin belepotan, Park Kyu lalu membersihkan mulut gadis itu yang langsung bingung dengan apa yang dilakukan Park Kyu (salting, hahahaha).

Di pelabuhan terlihat seorang pria (namanya Bong Sam) muntah-muntah setelah turun dari kapal (mabok laut dia). Pria itu pergi menuju desa Sanbanggol dan di perjalanan dia bertemu dengan Kkeut Boon berserta kawannya yang habis mengambil air. Pandangan Bong Sam langsung tertuju kepada bagian betis mereka yang lalu menyamakannya dengan lobak.
Bong Sam: “Apakah itu mereka itu betis ataukah tanaman lobak yang tumbuh di kebun?”
Sadar seseorang telah berkomentar di belakang mereka, Kkeut Boon dan kawannya lalu menatap Bong Sam dengan tajam (wkwkwk, serem!).
Kkeut Boon: “Apa yang kau katakan barusan?”
Bong Sam yang ketakutan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan keberadaan Park Kyu kepada mereka. Tapi malah dijawab sinis oleh mereka.
Bong Sam: “Hey kau, dimana tuan muda Kyu?”
Kkeut Boon: “Siapa?”
Bong Sam: “Park Kyu!” (gak tahu kenapa rasanya pengen banget nampar niy orang, kekeke)
Kkeut Boon dkk: “SIAPA???”
Kemudian Bong Sam menjelaskan kepada mereka seperti apa tuan yang dia cari dengan lebay-nya dan tampaknya tidak menyadari kemarahan Kkeut Boon dan teman-temannya.
Bong Sam: “Dia terlihat sangat keren meski dari jauh. Sekali dia tersenyum, semua gadis di kota menjadi terpesona. Apa kalian wanita tidak pernah tahu?”
Ggeut Boon: “Siapa yang memanggil kami biadab?! Seseorang yang tampak bodoh sepertimu!!!”
Bong Sam pun menjadi marah mendengar ejekan Kkeut Boon dan mencoba menampar wanita itu.

Apes, Bong Sam keburu terjatuh dan tanpa sengaja menaruk tali jeogori hanbok Kkuet Boon yang juga juga jatuh menimpanya. Kedua teman Kkeut Boon terkejut dengan apa yang terjadi, begitu juga dengan Ggeut Boon yang langsung menampar Bong Sam karena telah berbuat kurang ajar pada Kkeut Boon juga berusaha menginjak selangkangan Bong Sam yang cepat diantisipasi oleh laki-laki itu (untung cepet, kalau enggak.. aigooo). Kkeut Boon yang murka pun meninggalkan Bong Sam yang kesakitan akibat tamparan Kkeut Boon.

Bong Sam akhirnya sampai ke rumah keluarga Jang dan bertemu dengan Beo Jin yang sedang makan. Beo Jin bertanya lalu bertanya ada keperluan apa pria itu datang ke rumahnya.
Beo Jin: “Apa yang membawamu kemari?”
Melihat Beo Jin yang menurut Bong Sam jorok, pria itupun berasumsi kalau Park Kyu pasti tidak mungkin berada di tempat itu. Saat akan pergi, tidak sengaja Bong Sam mendengar suara Park Kyu yang sedang memuji gambar Beo Seol yang lalu dia sebut sebagai ‘manhwa’ alias komik (ada gitu? Who know? hahaha).

Bong Sam pun mendatangi sumber suara tersebut dan berteriak memanggil Park Kyu yang terkejut dengan kedatangan pria itu.

Bong Sam: “Tuan muda! Ini saya! Bong Sam!”
Park Kyu: “Kau… Bong Sam!”
Bong Sam: “Tuan Muda! Anda pasti hidup susah di sini.”
Lalu mereka pun berbicara di kamar Park Kyu. Bong Sam memberikan Park Kyu buku-buku, dia juga bilang kalau ibu Park Kyu juga menyiapkan banyak barang untuk diberikan kepada Park Kyu.
Bong Sam: “Nyonya menyiapkan banyak barang untuk Anda. Ibumu membungkuskan rusa muda, ginseng liar, wine ular dan sebagainya untuk dibawa, tetapi semuanya disita oleh tuan (ayah Park Kyu). Walau bagaimana pun, pada akhirnya saya tetap membawakan ini, gingseng liar yang berumur ratusan tahun!!!”
Park Kyu: “Pastinya ada sesuatu yang lainnya dari ini bukan!?”
Rupanya bukan benda tersebut yang diinginkan oleh Park Kyu, tetapi yang lain dan Bong Sam paham dengan apa yang dimaksud oleh tuan mudanya itu (duit, hehehe). Bong Sam lalu berusaha mengeluarkan uang yang dia bawa di dalam celananya (ye????).

Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan kedatangan ibu Beo Jin. Bong Sam yang tidak tahu siapa wanita itu kemudian mengomel dan menuduhnya tidak sopan.

Bong Sam: “Beraninya kau membuka pintu dengan kencang di kamar tuan mudaku?!”
Tanpa mendengar protes Bong Sam, ibu Beo Jin masuk ke kamar dan menanyakan siapa Bong Sam. Park Kyu yang cemas langsung menjelaskan semuanya sebelum identitasnya terbongkar.
Jang Myeo: “Bagaimana bisa ada muka baru di sini?”
Park Kyu: “Dia datang dari Hanyang (Seoul). Dia pelayanku.”
Jang Myeo: “Itu berarti ada satu orang lagi yang harus diberi makan?!”
Bong Sam yang tidak tahu apa-apa makin memperparah suasana (nyiram minyak ke api) dengan kembali memprotes sikap ibu Beo Jin terhadap Park Kyu.

Bong Sam: “Permisi! Berani sekali kau berbicara tidak sopan kepada tuan muda yang paling terhormat. Kau tahu siapa tuan muda?”
Jang Myeo: “Tentu, aku tahu pasti tentang dirinya. Dia telah melecehan wanita…”
Park Kyu lalu memotong pembicaraan sebelum ibu Beo Jin berkata lebih lanjut dan berkata kalau pembantunya tidak tinggal di rumah keluarga Jang, tetapi dia akan menginap di motel. Mendengar hal tersebut ibu Beo Jin senang karena baginya sudah cukup dengan adanya kehadiran Park Kyu di rumah mereka (intinya nambah orang, nambah juga makannya, wkwkwk).
Jang Myeo: “Itu ide yang bagus. Jangan pernah berpikir tentang memberikannya makanan kami. Sejak kau makan sangat banyak, persediaan beras kami selalu habis. Aku bertanya-tanya jika ada sebuah lubang di tempat persediaan.”
Lagi Bong Sam yang belum sadar dengan posisi Park Kyu di sana kembali memprotes ibu Beo Jin dan menanyakan apa maksud dari perkataan wanita tersebut. Yang dibalas bentakan dari ibu Beo Jin (kakakak, pada kaget).
Bong Sam: Apa? Apa yang kau bicarakan? Tuan mudaku telah kehilangan banyak berat badannya.”
Jang Myeo: “Lalu, maksudmu seekor kucing liar mencuri makanan kami???”

Ibu Beo Jin lalu keluar kamar, sebelum pergi dia berkata kalau Bong Sam adalah orang yang jelek (saking keselnya kali tuh ibu, hehehe) dan Park Kyu hanya terdiam. Beo Jin yang melihat apa yang terjadi bertanya kepada ibunya tentang pelayan Park Kyu.
Beo Jin: “Ibu, apakah pelayan yandari akan tinggal di rumah kita?”
Jang Myeo: “Kenapa dia tinggal di rumah kita? Kau bilang kau akan menyelam mulai hari ini. Cepat bersiap untuk menyelam.”

Ibu Beo Jin pun pergi dan tidak lama Bong Sam keluar dari kamar Park Kyu yang lalu mempersiapkan sepatu tuannya itu sebelum Park Kyu pergi. Melihat hal itu, Beo Jin menanyakan kemana Park Kyu akan pergi. Bong Sam yang mendengar Beo Jin berbicara tidak sopan kepada Park Kyu (karena dipanggil ‘yandari’) langsung memperingati gadis itu untuk menjaga omongannya.
Beo Jin: “Yandari! Apa kau mau pergi ke suatu tempat?”
Bong Sam: “Hey! Kau cewek! Kau panggil apa dia? Yandari?!”
Park Kyu pun menghentikan Bong Sam (wah, kalau aku jadi Park Kyu mah si Bong Sam udah aku pecat, sok tahu siy). Beo Jin lagi-lagi beranggapan kalau Park Kyu akan pergi ke tempat Phi Lip dan meminta Park Kyu membawakan titipannya untuk William. Hal itu tentu aja ditolak Park Kyu yang masih marah gara-gara kejadian kemarin (or jealous ya? Hehehe).
Park Kyu: “Jangan pernah membicarakan tentang orang itu di hadapanku! Pastikan kau tidak pernah menemuinya lagi!”
Melihat Park Kyu yang marah, Beo Jin mengingatkan kalau sikap Park Kyu itu salah karena baginya William hanya sekedar teman saja.
Beo Jin: “Yandari. Aku hargai dirimu telah menyelamatkan hidupku, tapi ini tidak benar. Lagi pula William membutuhkannya, ini biasa dimana aku harus perhatian dan menjaganya seperti seorang teman.”
Saking kesalnya Park Kyu hampir saja memberitahukan Beo Jin apa yang sebenarnya terjadi dan William lakukan pada gadis itu. Hal ini tentu saja membuat Beo Jin penasaran dan terus mendesak Park Kyu untuk menceritakannya.
Beo Jin: “Apa yang kau bicarakan? Katakan padaku! Ada apa dengan William? Apa yang telah dia coba lakukan padaku?!”

Namun Park Kyu hanya terdiam dan pergi meninggalkan Beo Jin. Bong Sam juga bingung dengan sikap Park Kyu kepada gadis itu yang dinilainya aneh.
Bong Sam: “Ini sesuatu yang aneh.”
Park Kyu: “Apa maksudmu?”
Bong Sam: “Maksud saya dirimu. Bagaimana bisa kau berbicara dengan gadis biasa? Ketika Anda berada di Hanyang, Anda bahkan tidak melihat gadis-gadis cantik itu, membiarkan sendiri berbicara dengan mereka. Tuan muda, jangan katakana pada saya kalau Anda mempunyai perasaan kepada gadis penyelam itu.”
Mendengar perkataan pelayannya itu Park Kyu pun langsung menatap tajam Bong Sam. Bong Sam tentu saja tahu arti tatapan tuannya itu dan mengoreksi kembali kata-katanya. Kemudian Park Kyu menyuruh Bong Sam untuk pergi, tapi Bong Sam menolak dan memaksa untuk bersama Park Kyu.Meski demikian akhirnya ong Sam pun menurut dan membiarkan tuannya itu pergi.

Rupanya tujuan Park Kyu adalah tempat William, dia datang untuk menyerah sejumlah uang kepada Yan dengan maksud membantu mereka agar segera pergi secepatnya dari Tamra.
Park Kyu: “Pergi menjauh dari sini!”
Yan: “Ini mengejutkan dimana kau begitu mengingin kami untuk pergi.”
Park Kyu: “Bukankah sudah kubilang sebelumnya, Aku hanya ingin menyingkirkan para pembuat masalah.”
Yan: “Jangan khawatir aku pun telah menemukan kapal untuk pergi dari tempat ini besok.”
Park Kyu: “Ini terakhir kalinya aku membantu kalian.”
Mengakhiri penjelasannya, Park Kyu pun pergi dari tempat tersebut.

Ternyata tujuan Park Kyu selanjutnya adalah rumah judi. Tampaknya Park Kyu masih penasaran dengan seseorang (Chi Yong) yang telah mengambil tanduk rusa dari tempat itu beberapa hari yang lalu. Park Kyu datang kembali untuk menyelidikinya dengan berpura-pura berjudi, dia menanyai para penjudi di sana.

Park Kyu: “Saat aku datang terakhir kali ke sini, aku teringat dengan tanduk rusa muda yang berkualitas tinggi.”
Penjudi A: “Aku juga melihatnya dan benda itu sangat bagus.”
Park Kyu: “Kalian tahu siapa yang telah mengambil tanduk itu?”
Penjudi A: “Aku dengar dia adalah seorang pedagang dari pulau utama.”
Park Kyu: “Bila dia seorang pedagang, dia pasti tinggal di motel.”
Penjudi A: “Dia tinggal di gibang.” (rumah gisaeng)
Park Kyu: “gibang?”
Penjudi B: “Haewol Gwan merupakan gibang yang bagus untuk dikunjungi. Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku bertemu dengan Ae Hyang.”
Penjudi C: “Aku dengar beberapa hari ini Ae Hyang melayani seseorang secara khusus.”
Penjudi A: “Aku rasa pria itu adalah pedagang dari pulau utama! Dia melarikan diri tanpa membayar sepeser uang pun dan Ae Hyang menjadi sangat marah.”
Penjudi B: “Jahat sekali orang itu!”


Dari percakapan tersebut, Park Kyu akhirnya mendapat petunjuk. Dia lalu menanyakan letak Haewol Gwang kepada mereka dan bergegas pergi ke gibang itu untuk bertemu Ae Hyang (jadi inget Jeong Hyang, tidak!!!). Kemudian Park Kyu mencoba memancing Ae Hyang dengan berbagai pertanyaan.
Ae Hyang: “Saya telah menantikan kunjungan Anda. Saya dengar Anda terkenal dengan bakat bercinta Anda yang sangat hebat di Hanyang. Saya merasa terhormat untuk melayani orang seperti Anda.”
Park Kyu: “Aku dengar Ae Hyang itu sudah milik seseorang.”
Ae Hyang: “Apa Anda mengirim telah orang? Saya kira dia akan kembali seperti halnya dia meninggalkan barang bawaannya di sini, tetapi dia tidak juga muncul dalam waktu yang lama.”
Park Kyu: “Oh hoh, maksudmu…dia kabur dengan meninggalkan barang bawaannya di sini?”
Ae Hyang: “Dia berhutang banyak uang pada saya seperti sewa kamar, minuman dan sebagainya.”
Mendengar keterangan Ae Hyang, Park Kyu lantas berdiri dan meminta sang gisaeng untuk menemaninya memeriksa barang-barang orang tersebut agar mereka bisa mendapatkan petunjuk dengan dalih untuk menangkapnya.
Park Kyu: “Ayo pergi.”
Ae Hyang: “Kemana?”
Park Kyu: “Jika kita memeriksa barang bawaannya, kita mungkin akan mendapatkan sebuah petunjuk. Kita harus pastikan untuk menangkap orang ini sebagai bentuk kedisiplinan di gibang.


Sementara itu, Chi Yong-orrabun juga berada di gibang tersebut dan sedang menyusup masuk ke sebuah kamar untuk mencari sesuatu. Namun sayang, Chi Yong kepergok oleh Park Kyu dan Ae Hyang saat akan pergi. Ae Hyang pun langsung berteriak menyangka Chi Yong seorang pencuri dan berlari memberitahu penjaga. Park Kyu lalu curiga melihat benda yang disembunyikan Chi Yong dan dugaannya ternyata benar.
Park Kyu: “Aku kira kau seorang inspektur kerajaan, tapi ternyata kau tak lebih dari seorang pencuri!”

Kata-kata Park Kyu tidak dijawab oleh Chi Yong. Kemudian tanpa basa-basi sang orrabun pun menyerang Park Kyu dengan pedangnya…

Writen By Aru RF feat Support Piku Dee
sumber: pelangidrama.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s