Tamra The Island – Episode 06

Chi Yong yang sedang menyelinap di gibang kepergok oleh Park Kyu dan Ae Hyang. Ae Hyang yang panik kemudian berlari memanggil para penjaga. Namun tidak dengan Park Kyu, dia dengan tenang menatap curiga dengan apa yang dipegang oleh pria itu. Selain itu ternyata benar dugaan Park Kyu tentang Chi Yong mengenai identitasnya yang menyamar sebagai seorang inspektur kerajaan.
Park Kyu: “Aku kira kau seorang inspektur kerajaan, tapi ternyata kau tak lebih dari seorang pencuri!”

Mendengar kata-kata Park Kyu, tanpa basa-basi sang orrabun langsung mencabut pedangnya dan menyerang Park Kyu. Pertarungan sengit pun tak terelakkan. Namun karena takut menarik perhatian orang-orang yang ada di sana, Chi Yong mencoba kabur. Sayangnya, Park Kyu tidak semudah itu melepaskan Chi Yong dan terus memburunya. Secara tidak sengaja. Chi Yong menjatuhkan sebuah papan logo (seperti stempel tanda gitu deh). Melihat benda yang dijatuhkan oleh pria tersebut, Park Kyu berupaya untuk mencegah Chi Yong merebutnya kembali. Mereka pun kembali bertarung (Chi Yong pakai pedang, Park Kyu pakai pedang kecil yang dia bawa di lengan bajunya). Park Kyu akhirnya berhasil melukai Chi Yong.
Sementara itu, Yi Bang beserta anak buahnya telah datang di gibang (dipanggil Ae Hyang). Chi Yong pun bergegas kabur meninggalkan Park Kyu. Kemudian Park Kyu mengambil benda curian Chi Yong yang terjatuh tadi dan sambil menenangkan diri dan menemui Yi Bang.
Park Kyu: “Anda rajin sekali, Yi Bang. Anda bahkan mendatangi gibang di sore hari ini.”
Ae Hyang langsung menghampiri Yi Bang saat tahu mereka sudah datang dan melaporkan tentang pencurian yang terjadi.
Ae Hyang: “Tuan, seorang pencuri baru saja memasuki tempat kami.”
Mendengar keluhan sang gisaeng, Yi Bang lalu memerintahkan anak buahnya untuk mencari si pencuri. Ae Hyang juga melaporkan kalau tidak hanya pencuri yang berbuat seperti itu, tetapi juga seorang pelaut juga kabur tanpa membayar kepada si gisaeng (makanya jangan gampang percaya mbak). Seperti biasa, Yi Bang juga mencurigai Park Kyu yang juga sedang berada di gibang.

Yi Bang: “Menjauhlah, aku sedang dalam tugas resmi. Seorang yandari adalah pelanggar hukum dan apakah hukum nasional memungkinkan seorang pendosa bisa mengunjungi rumah gisaeng?”
Park Kyu: “Tidak ada hukum yang seperti itu yang memperbolehkan seorang pendosa untuk pergi ke gibang, tetapi tidak ada hukum yang juga melawannya.”
Perdebatan mereka akhirnya berhenti setelah anak buah Yi Bang melaporkan kalau mereka tidak menemukan apa pun di gibang tersebut. Mendengar hal itu, Park Kyu pun beranjak pergi tapi Yi Bang menghentikannya. Pria itu tetap curiga dengan keberadaan Park Kyu dan kembali menginterogasinya.
Yi Bang: “Berhenti. Apa yang membuat sarjana sepertimu mampir ke ruangan?”
Park Kyu: “Ada begitu banyak ruangan di gibang. Apakah ada masalah dimana ruangan tempat saya minum?”
Lalu Park Kyu pun meninggalkan Yi Bang dan juga Ae Hyang yang kecewa dengan sikap Park Kyu yang telah berjanji padanya untuk menangkap buronan. Mendengar perkataan si gisaeng, membuat Yi Bang tambah mencurigai Park Kyu (awalnya aku benci sama niy ahjusshi, tapi seiring cerita jadi suka, hehehe).
Di sebuah rumah terlihat Chi Yong yang kesakitan sedang mengobati lukanya (wuih, lukanya lumayan tuh), sedangkan Park Kyu tengah menyelidiki papan yang hampir dicuri oleh Chi Yong dengan melapisi papan tersebut dengan tinta dan kemudian mempresnya ke sebuah kertas untuk mengetahui gambar lambang dari papan tersebut yang ternyata… (kita liat nanti, hohoho).

Sementara itu di Hanyang tepatnya di tempat perdagangan milik Seo Rin, terlihat seorang pedagang Cina sedang marah-marah kepada pegawainya dan meminta kembali uangnya.
Pedagang Ching: “Kembalikan uang kami! Berani sekali kau menipu kami? Aku tidak akan memaafkanmu!”
Seo Rin lalu menghampiri salah satu pegawainya untuk menanyakan apa yang terjadi.
Seo Rin: “Ini sudah larut malam, ada apa?
Pegawai: “Pedagang dari Ching mengaku kalau perusahaan kita telah menjual barang-barang yang salah kepada mereka dan meminta untuk menarik kembali dan uang kompensasi.”
Pedagang Cina tersebut juga komplain dengan perusahaan Seo Rin yang dinilainya telah menjual barang berkualitas rendah kepada mereka. Seo Rin lalu mengecek barang-barang tersebut dan menyatakan kalau itu semua bukan barang milik mereka.
Seo Rin: “Ini bukan produk kami.”
Pedagang Ching: “Jadi sekarang kau mengatakan kalau ini bukan barang-barangmu???”
Kemudian Seo Rin menunjukkan sebuah papan lambang kepada mereka (sama dengan apa yang diselidiki Park Kyu) dan menjelaskan lambang tersebut.
Seo Rin: “Kau tahu apa ini? Apakah kau sebelumnya pernah melihatnya?”
Pedagang Ching: “A…apa itu?”
Seo Rin: “Ini lambang dari perusahaan dagang Seo Rin. Jika ini kali pertama kau melihatnya, maka kau telah ditipu oleh pedagang penipu yang telah berbohong dan mengklaim kalau barang-barang ini berasal dari perusahaan dagang Seo Rin.”

Setelah menjelaskan panjang lebar kepada para pedagang Ching, Seo Rin menyuruh pegawainya untuk mengganti kerugian dari barang-barang mereka. Namun salah satu pegawainya memprotes hal tersebut karena dia takut perusahaan Seo Rin akan mengalami kerugian. Namun rupanya Seo Rin mempunyai maksud tertentu dan menyikapi kecemasan pegawainya itu dengan tenang (licik, kekekeke).
Pegawai: “Daehang sunim (nyonya)! Bukan hanya itu semua bukan produk kita, tetapi juga mereka bukan pedagang yang bertransaksi dengan kita. Lalu bagaimana bisa…”
Seo Rin: “Sekali mereka membeli produk kita, mereka tidak akan bisa berbisnis dengan pedagang lainnya.”
Para pedagang Ching tentunya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Seo Rin (makanya bawa kamus, wkwkwkwk). Lalu Seo Rin sekali lagi menunjukkan papan lambang dari perusahaan dagang miliknya kepada mereka.
Seo Rin: “Pastikan untuk mengingat lambang ini! Ini membuktikan jika produk berasal dari Seo Rin Sagdan (perusahaan dagang).”
Yup, sekarang akhirnya bisa diketahui kalau tanda tersebut merupakan lambang dari Seo Rin Sangdan dan lambang yang sama dengan lambang yang diselidiki oleh Park Kyu.

Chi Yong-orrabun tengah menunggang kuda menuju sebuah tempat dimana sang kaki tangan tetua menyambutnya. Namun tiba-tiba Chi Yong teringat dengan perkataan Seo Rin yang menyuruhnya untuk tidak mempercayai pria tersebut.
Seo Rin: “Kau tidak boleh mempercayainya! Pada akhirnya pria itu akan menguasai Jeju.”
Sambil mengingat peringatan dari Seo Rin, Chi Yong datang untuk menemui tetua desa (sudah tua bukannya tobat kek kakek…). Mereka lalu terlibat sebuah percakapan.

Tetua: “Bukankah sudah kubilang kalau kau datang ke sini dengan menyamar sebagai inspektur kerajaan? Akhirnya aku bisa bertemu denganmu.”
Chi Yong: “Sejak saya mengganggu para polisi, tolong jaga hal tersebut dengan baik sehingga sangdan kami tidak perlu telibat dengan urusan ini secara langsung. Saya takut Anda akan mengkhianati kami.”
Tetua: “Urusan Tamra ada di bawah kendaliku. Katakan pada gadis itu untuk secepatnya menyelesaikan pekerjaan yang dia janjikan.”
Mendengar Seo Rin dipanggil secara sembarangan, Chi Yong langsung menegur sang tetua untuk memanggilnya Nyonya Daehaengsu. Namun tetua menolak karena baginya panggilan itu hanya berlaku jika berada di Hanyang dan Seo Rin juga belum pernah menduduki Tamra. Chi Yong hanya diam dengan perkataan sang tetua tentang Seo Rin dan kemudian dia pun pamit untuk undur diri.
Chi Yong: “Saya percaya pada Anda dan sekarang saya pamit undur diri.”
Kepergian Chi Yong hanya disambut dengan tatapan kemarahan sang tetua.

Esoknya, Park Kyu yang sedang berdiri di pantai dihampiri oleh sang tetua yang juga melewati tempat itu.
Tetua: “Ketika aku masih muda, aku juga tinggal di pulau utama selama beberapa tahun tetapi tidak ada tempat seperti Tamra. Orang dari pulau utama berpikir kalau Tamra adalah sebuah tempat yang sulit untuk ditinggali dan tempat untuk para pengasingan. Itu karena mereka tidak tahu banyak tentang Tamra.” (nyindir si Park Kyu niy)
Kemudian sang tetua menunjuk ke arah para penyelam wanita yang sedang mencari tiram di laut Tamra.

Tetua: “Lihat di sana. Tiram-tiram yang diambil dari laut oleh para penyelam merupakan barang-barang berkualitas tinggi yang tidak bisa kau temukan di Chosun. Bagaimana dengan kuda-kuda dari Tamra? Aku dengar bahwa sangat sulit untuk membeli sebuah kuda meski kau menukarnya dengan 8 karung beras.”
Park Kyu yang mendengar penjelasan dari tetua merasa takjub dengannya karena ternyata orang tua itu tahu banyak mengenai pulau Tamra.
Park Kyu: “Anda cukup tahu banyak tentang Tamra.”
Lalu tetua kembali melanjutkan pembicaraannya mengenai pulau tersebut yang mana dia bilang kalau Tamra merupakan harga berharga dari Chosun (pastinya, situ kan mau nguasain). Setelah itu tetua pun pergi meninggalkan Park Kyu.

Di kantor polisi, Yi Bang dan pimpinannya sedang membahas penyelidikan tentang tewasnya salah satu tahanan di penjara yang sangat misterius.
Pimpinan Yi Bang: “Jadi bagaimana? Apakah kau sudah menemukan identifikasi dari orang yang tewas di penjara?”
Yi Bang: “Untuk menemukan jejaknya, saya telah memeriksa gibang dimana dia tinggal. Saya tiba di sana setelah seseorang telah terlebih dahulu mengambil petunjuk.”
Pimpinan Yi Bang: “Lalu, bukankah itu artinya mereka masih tinggal di sana?”
Yi Bang: “Saya telah mengatakan kalau sebuah kapal telah berangkat sebelum fajar esok hari dan para pencuri jinsangpoom (barang-barang pajak) menggunakan kapal tersebut.”
Pimpinan Yi Bang: “Apa???”
Yi Bang: “Inspektur kerajaan telah memerintahkan untuk melakukan penyerangan ke kapal.”
Yi Bang juga mengatakan kepada pimpinannya kalau mereka semua harus waspada dengan Park Kyu yang dicurigai olehnya terkait dengan apa yang mereka selidiki.
Yi Bang: “Kelihatanya ada seseorang yang harus kita amati.”
Pimpinan Yi Bang: “Dan siapa itu?”
Yi Bang: “Seorang yandari bernama Park Kyu.”
Pimpinan Yi Bang: “Park Kyu?”

Tidak lama kemudian Yi Bang beserta anak buahnya mendatangi rumah keluarga Jang. Rupanya dia datang untuk menahan Park Kyu. Tentu saja hal tersebut ditolak mentah-mentah olehnya.
Park Kyu: “Ada apa ini?”
Yi Bang: “Ku pikir kau lebih tahu daripada aku tentang alasannya. Kau ditahan.”
Park Kyu: “Ditahan?!”
Ibu Beo Jin yang bingung dengan apa yang terjadi lalu meminta penjelasan dari Yi Bang mengenai alasan penahanan Park Kyu.
Jang Myeo: “Maaf tuan, apa maksud Anda dengan hal itu?

Yi Bang pun menjelaskan bahwa Park Kyu telah mengganggu moral sosial dari Jeju dengan telah mendatangi gibang dan membuat keributan di tempat tersebut padahal dia masih dalam status pengasingan (wkwkwk, kasian Park Kyu). Beo Jin dan ibunya terkejut mendengarnya. Mereka tidak menyangka Park Kyu bisa berbuat seperti itu dan mereka pun memarahi Park Kyu (sudah jatuh ketiban tangga lagi, aw)
Beo Jin: “Gibang?”
Jang Myeo: “Gibang? Jadi, maksud Anda orang ini telah sering mengunjungi gibang? Bagaimana bisa kau tidak melakukan sebagai mana yang aku minta? Apa yang telah kau lakukan? Alasanmu tidak bekerja dan keluyuran setiap hari adalah untuk bersenang-senang dengan gisaeng?”

Ibu Beo Jin terus saja mengomel tanpa memberi kesempatan Park Kyu untuk membela diri. Sementara itu Yi Bang akhirnya memutuskan untuk menghukum Park Kyu dengan menjadi tahanan rumah.
Yi Bang: “Pendosa! Mulai sekarang kau tidak diperbolehkan untuk pergi dari rumah ini barang selangkah pun. Bila kau meninggalkan rumah tanpa izin dari kantor pemerintah, kalian semua akan dihukum seperti dirinya. Mengerti?!”
Setelah selesai memberikan vonis pada Park Kyu, Yi Bang beserta anak buahnya lalu pergi. Mendengar keputusan sang Yi Bang tentu saja Beo Jin dan ibunya menjadi kesal terhadap Park Kyu dan yang bersangkutan tidak bisa berbuat apa-apa.

Di tempat persembunyian, Phi Lip kembali mengingatkan Yan untuk tidak datang terlambat ke pelabuhan saat fajar. William yang bingung kemudian bertanya kepada Yan. Rupanya dia tidak tahu dengan rencana Yan yang berniat pergi dari Tamra.
William: “Sampai saat fajar? Kenapa ke pelabuhan?”
Yan: “Kita akan pergi besok.”
William: “Besok? Pergi besok?”
Yan: “Kita akan pergi pagi-pagi sekali, lebih baik kau memberesi barang-barangmu dan pergi tidur lebih cepat.”
Namun William hanya mengambil topeng di atas meja. Mengetahui apa yang dipikirkan oleh William, Yan langsung menghampirinya dan melarang William pergi (pastinya dia mau ketemu Beo Jin).
Yan: “Apa yang kau lakukan, William?”
William: “Kita harus pergi dengan Beo Jin!”
Yan: “Tidak, tidak bisa!”
William: “Aku yang akan bertanggung jawab. Beo Jin bilang dia akan pergi denganku juga.”
Yan mulai kesal dengan tingkah laku William yang terus saja memikirkan Beo Jin. Dia lalu menarik kerah baju William dan menasehatinya untuk tidak bertindak macam-macam.
Yan: “Dengar baik-baik, William. Aku kehilangan semuanya. Aku harus kembali ke VOC secepatnya. Aku mempunyai tanggung jawab untuk mengembalikan dirimu ke kampung halamanmu. Jangan hancurkan hal ini untukku.”
Sayangnya William sudah terlanjur jatuh cinta kepada Beo Jin dan dia tidak mau meninggalkan gadis tersebut. Perkataannya pun disambut kemarahan dari Yan dan dia kembali membujuk William.

William: “Yan, jantungku…berdetak. Setiap saat aku memikirkan tentang Beo Jin… Aku tidak akan pergi..tanpa dirinya!”
Yan: “Sadarlah pada dirimu! Pikirkan tentang kenapa kau datang ke sini pertama kali! Nagasaki-lah yang ada di mata kita! Di sana terdapat harta karun yang selalu kau inginkan!”
William lalu melepaskan tangan Yan dari kerah bajunya dan mengambil pot kesayangnya. Tanpa diduga, pot tersebut dibanting oleh William. Yan yang melihatnya pun terkejut dengan sikap William. Kali ini dengan marah William kembali menjelaskan kepada Yan apa yang dia lakukan.
William: “Sudah kukatakan padamu sebelumnya… Itu… berarti ‘bukan apa-apa’ untukku.”
Dan William pun pergi meninggalkan Yan. Di luar dia berlari menuju rumah Beo Jin dengan memakai topeng.

Sedang Beo Jin sendiri tampak gelisah dan tanpa disadarinya Park Kyu memperhatikan gadis itu dari jendela kamarnya. Park Kyu lalu teringat dengan kesepakatannya dengan Yan dimana dia memberikannya uang untuk digunakan Yan pergi dari Tamra.

Dua penjaga yang diperintahkan Yi Bang untuk menjaga rumah Beo Jin heran dengan tingkah laku Beo Jin yang terlihat mencemaskan sesuatu (kayaknya siy nunggu si William).
Penjaga A: “Beo Jin, apa yang kau lakukan?”
Penjaga B: “Apa kau sedang menunggu seseorang?”
Beo Jin: “Tidak… Tidak ada…”

William yang hampir sampai di rumah Beo Jin, mendadak bersembunyi ketika melihat ada dua penjaga sedang berjaga di depan rumah Beo Jin. Agar bisa bertemu dengan Beo Jin, William lalu bersiul sebagai tanda kalau dia datang. Beo Jin mendengar suara siulan tersebut dan langsung menyadari kehadiran William. Dia pun bergegas menuju ke arah siulan itu dan bertemu dengan William.
Beo Jin: “William, kau akan dalam masalah besar jika datang ke sini sekarang.”
Namun William tidak mengidahkan perkataan Beo Jin, baginya sudah cukup asalkan Beo Jin baik-baik saja. Beo Jin pun senang mendengar William mencemaskan dirinya.
William: “Terima kasih Tuhan. Beo Jin, kau baik-baik saja kan?”

Beo Jin: “Apa kau tahu tentang aku? Seorang penyelam membuat semacam kesalahan, aku merasa sangat malu…”
William: “Aku sangat mencemaskan tentang dirimu sampai tidak bisa tidur.”
Beo Jin: “Aku juga merasa senang bisa bertemu denganmu lagi William.”

Dengan ragu, William memberitahu Beo Jin kalau besok dirinya akan pergi pagi-pagi sekali. Tapi Beo Jin tidak mengerti maksud dari perkataan William (bebel amat niy cewek, kekekek). Lalu William mencoba menjelaskan sekali lagi kepada Beo Jin, dia berkata jika Tamra adalah tempat yang sangat berbahaya untuk dirinya dan mengajak Beo Jin untuk pergi bersamanya. Beo Jin tentu aja kaget dengan hal itu (belum siap pergi dari kampung) dan tidak bisa menjawab apa-apa. Lalu William juga memperingatkan gadis itu konsekuensinya jika Beo Jin ikut dengannya.
William: “Jika kita pergi besok, kita mungkin tidak akan pernah kembali ke sini lagi.”
Beo Jin pun terdiam dan mulai menangis. Dia rupanya memikirkan akan nasib keluarganya dan merasa berat jika harus meninggalkan mereka. Namun ternyata Beo Jin malah memilih untuk ikut William (jyah gubrak!)

Beo Jin: “Bila aku berpikir tentang keluargaku…hatiku sakit… Maafkan aku, tetapi…aku sangat… Aku seorang gadis yang tidak berguna di Tamra… Aku akan…mengikutimu, William.”
Mendengar jawaban dari keputusan Beo Jin, William lalu memberikannya sebuah kalung salib miliknya dan memakaikannya kepada Beo Jin.
Beo Jin: “Ini…”
William: “Benda ini telah tersemat sepanjang waktu. Bahkan ketika aku makan dan ketika aku tidur…selalu… Besok kita bertemu di pelabuhan.

Sambil menggenggam kalung pemberian William, Beo Jin pun mengangguk tanda mereka sepakat dengan keputusannya dan berjanji bertemu esok hari. Kemudian Beo Jin memegang tangan William dan membuat isyarat janji tangan khas Korea (bingung ngejelasinnya, kalau di Jepang nyebutnya ‘yubikiri’). William hanya tersenyum dan menggenggam tangan Beo Jin dengan kedua tangannya. Mereka pun saling memandang.

Sesampainya di rumah, Beo Jin langsung disambut oleh Park Kyu yang terlihat menunggu dirinya di luar kamar.

Park Kyu: “Apa kau menemui orang asing?”
Beo Jin terkejut dengan pertanyaan Park Kyu dan hanya menggelengkan kepalanya. Agar Park Kyu tidak curiga, Beo Jin buru-buru menyembunyikan kalung William. Sebelum pergi dari hadapan Park Kyu, Beo Jin kembali memberi nasehat kepada Park Kyu agar tidak lagi melakukan tindakan yang merugikan dirinya.

Beo Jin: “Yandari… Pastikan kau untuk membuka lembaran baru. Jangan berjudi, jangan pergi ke rumah gisaeng… Selalu…pastikan dirimu menjadi orang yang lain dan kembali ke Hanyang.”
Park Kyu tertegun mendengar ucapan Beo Jin yang kemudian meninggalkannya. Park Kyu merasa ada yang tidak beres dengan Beo Jin (seakan mengucapkan selamat tinggal secara tidak langsung ya bang Kyu).

Sementara itu di tempat lain terlihat Phi Lip, Yan dan William tengah mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa. Sedangkan Beo Jin juga tampak akan segera meninggalkan rumahnya secara diam-diam setelah menyelimuti adiknya yang imut. Sebelum pergi, Beo Jin berkata pada dirinya sendiri kalau dia nantinya harus kembali meskipun dia merasa dirinya tidak berguna di Tamra.
Beo Jin: “Pastinya, kau harus kembali. Selain itu aku tidak berguna di sini…”
Lalu Beo Jin kembali menatap halaman rumahnya dan membayangkan aktifitas rutin keluarganya dimana sang ayah sedang sibuk menyiapkan bahan untuk membuat sandal jerami, adiknya Beo Seol sedang menyapu, dan tentu ibunya. Melihat itu semua, Beo Jin kemudian mempersiapkan sarapan untuk keluarganya sebelum dia benar-benar pergi (itu nasi emang enggak jadi beras lagi yak? Kekekek).

Sayangnya Park Kyu memergoki Beo Jin yang akan pergi. Hal itu tentu saja membuatnya terkejut. Dengan dingin Park Kyu bertanya padanya apakah Beo Jin akan pergi bersama orang asing (William maksudnya). Beo Jin mencoba mengelak ketika Park Kyu menghampirinya.

Beo Jin: “Aku tidak pergi kemana-mana. Aku punya sesuatu yang harus kukerjakan…”

Park Kyu terus menatap Beo Jin tajam dan ketika gadis itu akan pergi, Park Kyu menarik tangannya. Meski Beo Jin terus meronta-ronta mencoba melepaskan genggaman tangan Park Kyu, tapi pemuda itu tidak bersedia melepasnya.
Beo Jin: “Lepaskan! Aku harus segera pergi. Sudah kubilang lepaskan aku!!!”
Park Kyu: “Jangan pergi… Aku tidak ingin dirimu pergi!”
Beo Jin terkejut mendengar perkataan Park Kyu yang lantang melarangnya pergi (selain dia juga takut suaranya Park Kyu ngebangunin keluarganya, hehehe). Namun Beo Jin tetap bersikeras untuk pergi, meski Park Kyu bilang dirinya tidak suka Beo Jin pergi bersama orang asing (LOL, pernyataan cinta tak langsung niy, kakakak).
Semua usaha Park Kyu menahan Beo Jin sia-sia karena gBeo Jin terus berusaha memohon agar Park Kyu melepaskannya dan tanpa sadar membuatnya menangis. Dengan wajah sedih dan tidak rela, akhirnya Park Kyu pun membiarkan Beo Jin pergi. Beo Jin berlari meninggalkannya sendiri (bertiga sama penjaga yang lagi tidur).
Beo Jin terus berlari hingga dia berada jauh dari Park Kyu (I love this bgm, so sad…) dan kemudian berhenti. Beo Jin kembali teringat dengan kata-kata sang ayah.
Woo Bin: “Hidupmu bukan hanya untukmu saja. Jika kau pergi ke sana, apa kau pikir kami bertiga tidak akan sedih dengan kematianmu yang tinggal tanpa masalah?”
Pikiran Beo Jin menjadi flashback mengingat kenangan bersama keluarganya yang begitu mencemaskan Beo Jin, bersama William ketika cowok itu memberinya sebuah kacamata renang dan saling mendengarkan dengup jantung mereka masing-masing.

Hingga yang terakhir adalah Park Kyu, yang dengan terus terang menyatakan ketidaksukaannya jika Beo Jin pergi dengan orang asing. Di saat yang sama, Park Kyu akhirnya nekat menerobos menjagaan para pengawal dan berlari untuk mengejar Beo Jin (pengawalnya dudul, wkwkwk).

Beo Jin terus menangis sambil memegang kalung pemberian William yang dia pakai di lehernya yang kemudian kembali melanjutkan perjalanannya. Sesaat di belakangnya terlihat Park Kyu yang berlari untuk menghentikan Beo Jin sambil dikejar oleh dua orang penjaganya. Sayang Beo Jin sudah tidak ada di situ dan Park Kyu menghentikan langkahnya menyadari Beo Jin sudah benar-benar pergi dan dia pun menangis sambil dibawa paksa oleh dua penjaganya.
Keesokkan harinya para ABK (jadi inget berita di tipi, xixixixi) sibuk menyiapkan muatan. Sang pemilik kapal yang tidak menyangka dengan kehadiran William lalu memarahi Phi Lip.
Pemilik kapal: “Yah, kau bocah. Kau pasti sudah gila. Apa yang tengah diperbuat si kepala kuning di sana? Jika mereka melihat kita dengan orang asing, kita semua akan dibunuh. Kau idiot! Kenapa mereka menumpang kapal ini untuk pergi?”
Phi Lip: “Kenapa kau sangat khawatir? Kapal ini kan akan segera berangkat dan mereka bisa pergi ke Nagasaki dengan kapal.”
Mendengar ucapan Phi Lip yang tidak mengerti pokok masalahnya, sang pemilik kapal langsung memukul kepala Phi Lip dan meninggalkannya. Phi Lip kemudian berusaha meyakinkan sang pemilik kapal dan merayunya. Mau tidak mau akhirnya pemilik kapal pun menyuruh Yan dan William untuk segera naik ke kapalnya karena mereka akan segera berangkat.

Mendengar ucapan pemilik kapal, Yan mengajak William yang sedang menunggu Beo Jin untuk bersiap.

Yan: “William, ini sudah terlambat. Beo Jin tidak akan datang.”
William: “Tidak. Dia pasti datang.”
William kembali menunggu Beo Jin yang saat itu tengah lari menuju tempat William, tapi kemudian Beo Jin terjatuh (si Beo Jin lari dari semalem kok gak nyampe-nyampe yak?). Tahu waktunya tidak banyak, Beo Jin berusaha bangkit dan jatuh lagi.
Sementara itu di dermaga tempat kapal yang ditumpangi oleh Yan dan William tiba-tiba kedatangan para polisi. Phi Lip langsung berteriak memberi peringatan kepada yang lainnya dan bergegas menuju Yan dan William.
Phi Lip: “Ada polisi! Kita harus sembunyi sekarang!”
Yan mencoba melihat dan ternyata apa yang dikatakan oleh Phi Lip benar. Dia harus segera membawa William pergi atau mereka akan tertangkap. Karena polisi yang semakin mendekat, mereka tidak punya pilihan lain selain terjun ke laut. Beo Jin yang baru tiba di dermaga terkejut melihat ada banyak polisi di kapal William. Beo Jin lantas bersembunyi dan menyaksikan banyak dari ABK yang ditahan oleh mereka, termasuk Phi Lip. Rupanya operasi tersebut dipimpin oleh Kim Yi bang. Beo Jin hanya bisa menangis menyesali dirinya yang datang terlambat.
Di lain pihak, Park Kyu sedang berusaha merayu para penjaganya agar dirinya tidak dibawa ke kantor polisi.
Park Kyu: “Apa kalian yakin kita harus pergi ke kantor polisi? Jika kalian menutup mata untukku, aku tidak akan pernah menyusahkan kalian lagi.”
Penjaga A: “Kami juga merasa berat. Tolong berhenti memohon. Seseorang harus mengawasimu. Bila Yi Bang mengetahui hal ini, kami akan mendapat masalah besar.”
Mendadak langkah mereka pun terhenti karena melihat rombongan polisi yang membawa para ABK dan lalu Yi Bang yang juga melihat Park Kyu berserta bawahannya menghampiri (what happen aya naon eta?).
Di pantai, William dan Yan berusaha mencapai tepian setelah akhirnya mereka berhasil lolos dari para polisi. Yan tentu saja marah melihat rencananya untuk pergi dari Tamra gagal lagi dan kali ini dia benar-benar menyalahkan Beo Jin. Mendadak secara tiba-tiba mereka bertemu dengan salah seorang penduduk wanita yang sedang berada di sana juga. Dengan spontan dia pun berteriak dan ternyata muncullah teman-temannya yang ternyata mereka merupakan para wanita penyelam yang sedang mencari kerang (wkwkwkwk, apes!). Sudah pasti mereka dikejar oleh para wanita perkasa tersebut. Maka dimulailah adegan kejar-kejaran, kekekeke.

Sayang, pada akhirnya William dan Yan tertangkap. Melihat ada orang asing di depan mata mereka timbul pula banyak pertanyaan.

Ibu Kkeut Bon: “Apa ini? Apakah ini sejenis manusia atau seekor hewan?”
Sapaan William yang ingin menjelaskan kepada mereka malah dibalas dengan teriakan histeris (kaget denger orang bule ngomong hangul, kakakakak).

Sementara itu Beo Jin yang merasa bersalah karena menyangka William telah ditangkap mendatangi tempat persembunyian William yang sekarang telah kosong dan menangis sambil menggenggam kalung pemberian William.

Pindah ke desa, para penduduk yang baru pertama kali melihat ada orang asing (terutama bule) berkumpul untuk menonton Wiliam dan Yan. Pertanyaan datang silih berganti dari mereka. Agar tidak dicurigai terus-terusan (gara-gara disangka dokaebi alias setan jejadian, kekeke), Yan akhirnya angkat bicara dengan mengarang sebuah cerita, namun hal itu diragukan oleh ibu Kkeut Bon.

Yan: “Aku…aku sedang membersihkan diriku di laut dan melepaskan pakaianku. Orang ini kabur dengan membawa pakaianku dan aku mengejarnya untuk menangkapnya. Tiba-tiba para wanita itu berkumpul bersama-sama. Ah, mereka sangat mengintimidasi.”
Ibu Kkeut Bon: “Jika itu benar, kenapa kau tidak mengatakan apapun sampai sekarang?”
Namun mendengar dari cerita Yan, penduduk lain malah lebih percaya kepada perkataan Yan. Mereka menuding ibu Kkeut Boon bersikap sudah keterlaluan. Ibu Kkeut Boon tentu saja marah dengan tuduhan tersebut. Kemudian ibu Beo Jin mengambil keputusan yang cukup mengejutkan dengan menyuruh para penduduk untuk melepaskan Yan (tidak termasuk William).

Yan pun akhirnya dibawa pergi oleh ibu Kkeut Bon meninggalkan William sendiri. Secara tidak diduga Beo Sul yang melihat William menjawab apa yang dipertanyakan oleh para penduduk dan membuat mereka tercengang (ini bocah pinter, beda sama kakaknya yg oon, wkwkwkwk).

Beo Sul: “Aku rasa si mata biru itu merupakan orang.”
Ayah Beo Jin: “Orang?”
Tapi langsung disangkal oleh salah seorang penduduk yang tetap bersikukuh mengatakan bahwa William adalah dokaebi (jd inget sama alat pengocok di Leejel Home Shopping yg namanya juga dokaebi, kakakakak). Debat pun terjadi dan sebelum menjadi tambah runyam, ibu Beo Jin berpendapat kalau sebaiknya mereka melaporkan William kepada polisi yang langsung disetujui oleh penduduk tersebut.
Di kantor polisi, ternyata Park Kyu tengah ditahan oleh Yi Bang atas tuduhan keluar rumah tanpa izin secara dia masih dalam status tahanan rumah.
Yi Bang: “Kau meninggalkan rumah tanpa izin. Kemana kau bersikeras pergi? Para pencuri Jinsangpoom (barang-barang pajak) telah ditangkap di sebuah dermaga kecil pagi ini. Apakah kau dan putri dari Daesanggon (pimpinan penyelam yg enggak lain maksudnya si Beo Jin) mencoba untuk pergi ke tempat tersebut?”

Park Kyu: “Omong kosong apa yang kau bicarakan?”
Yi Bang: “Terakhir kali, putri dari Daesanggoon menjadi tersangka sebagai seseorang yang menyembunyikan para pencuri.”
Park Kyu: “Itu adalah kesalahpahaman!!”
Mendengar perkataan Park Kyu, Yi Bang menjadi semakin marah. Dia terus menuduh Park Kyu memiliki kaitan erat dengan Han Bok Man, salah satu dari tersangka dan juga menudung Park Kyu ada hubungan khusus dengan Beo Jin. Park Kyu terus membantah tuduhan Yi Bang, hingga akhirnya Yi Bang yang murka menyuruh anak buahnya untuk menangkap Beo Jin.

Terpaksa deh Park Kyu buka suara dan bilang kalau alasan dia kabur adalah karna mengikuti Beo Jin dan (pura-pura) mengakui antara dirinya dan Beo Jin memang ada hubungan yang spesial.

Park Kyu: “Sebenarnya… Putri kepala penyelam dan aku adalah… Kau tahu… Berpacaran. Sekali seorang pria dan wanita jatuh cinta, cinta menjadi sangat bergairah.”
Yi Bang: “Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?”
Park Kyu: “Meski aku dalam pengasingan, aku masih seorang yang terhormat. Bagaimana bisa aku terang-terang mengatakan hubungan itu kepada orang biasa?”
Meski sudah mengakui, Park Kyu tetep aja kena hukuman pukul pantat sebanyak 10x dari Yi Bang sebagai ‘hadiah’ karena kelakuan Park Kyu yang dinilainya memalukan karena udah berpacaran tapi tetep main ke Gibang (buah simalakama, kekeke).
Setelah menjalani hukuman Park Kyu pun dibebaskan, namun saat keluar dari kantor polisi, Beo Jin ternyata telah berada di depan pintu gerbang. Para penjaga menyangka Beo Jin datang untuk menjemput Park Kyu dan menyuruhnya membawa Park Kyu pulang. Tidak lupa mereka menjelaskan alasan Park Kyu berada di kantor polisi gara-gara ngikutin si Beo Jin yang langsung membuat Beo Jin takut dan merasa bersalah. Saat akan menanyakan keadaan Park Kyu, mereka kedatangan seorang pria yang bilang kalau para penduduk telah menangkap makhluk liar dengan rambut kuning dan mata biru.

Pria: “Beo Jin! Kami telah menangkap seekor makhluk liar dengan rambut kuning dan mata biru.”
Beo Jin: “Apa katamu?”
Pria: “Aku telah diberitahu kalau kita bisa mendapatkan sebuah vocer untuk barang pajak jika kami melaporkan hal ini ke polisi.”
Beo Jin pun langsung khawatir dan buru-buru mengejar pria tersebut, tapi langkah gadis itu dihalangi oleh Park Kyu. Rupanya Park Kyu tidak ingin Beo Jin terlibat lebih jauh (takut dicurigai gitu) dan lantas berhasil menghentikan langkah pria tersebut yang menuju kantor polisi dengan menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya.

Park Kyu: “Maaf. Apakah makhluk berkepala kuning ini mengatakan sesuatu?”
Pria: “Dia bilang “selamat pagi” sambil menatap kami. Aku sangat terkejut.”
Park Kyu: “Apakah dia mengatakan hal yang lain? Seperti dia melihat seseorang atau tinggal di suatu tempat?”
Pria: “Aku tidak mendengar yang lainnya.”
Park Kyu: “Apa kau telah mendiskusikan hal ini dengan tetua?”
Pria: “Belum.”
Mendengar jawaban dari pria itu, Park Kyu mencoba memberitahunya kalau apa yang dia lakukan nantinya hanya akan membuat tetua mereka merasa kecewa karena para penduduk lebih mengutamakan melapor polisi dibanding tetua mereka sendiri.
Akhirnya pria tersebut kembali dan bilang kepada yang lainnya agar mereka tidak menentukan hal itu tanpa mengatakannya kepada tetua mereka (kemakan bujukkan maut Park Kyu, kekekek). Awalnya mereka terlibat adu pendapat hingga Beo Sul kembali dengan kata-kata bijaknya yang mengatakan kalau mereka lebih baik melaporkannya kepada tetua dan perkataannya pun langsung disetujui oleh yg lainnya (gila, niy anak bakat jadi kepala desa, semua pada tunduk, wkwkwkwk).

William akhirnya dibawa menuju kediaman sang tetua. Park Kyu dan Beo Jin datang terlambat dan Beo Jin yang khawatir dengan William bergegas ke rumah tetua namun dilarang oleh Park Kyu.

Beo Jin: “Aku… akan pergi menemui William.”
Park Kyu: “Kau tidak boleh pergi! Penduduk desa mungkin akan mengetahui bahwa kau telah menyembunyikan orang-orang asing sejauh ini. Kau juga akan terluka.”
Beo Jin: “Aku tahu, aku tahu tetapi… Bagaimana bisa aku hanya tinggal di sini tanpa melakukan apapun? Aku akan pergi memeriksanya dengan hati-hati.”
Beo Jin akhirnya tetap pergi menemui William dan meninggalkan Park Kyu seorang diri (sabar ya bang…).

Di kediaman tetua, William mulai menjelaskan siapa dirinya dengan bahasa hangul yang sangat lancar untuk ukuran orang asing. William berkata bahwa dirinya juga merupakan seorang manusia seperti para penduduk lainnya dan menerangkan bagaimana asalnya dia bisa terdampar di Tamra. Melihat William bisa bahasa mereka, para penduduk pun menjadi takjub.

Kemudian sang tetua menanyakan kepada William tentang siapa yang telah mengajarinya bahasa hangul. Mungkin karena khawatir tentang Beo Jin, William mengalihkan pembicaraan dengan berkata bahwa dia juga bisa beberapa bahasa asing lainnya seperti bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Sayangnya lagi-lagi William malah dituduh sebagai dokaebi gara-gara hal tersebut.
Beberapa saat kemudian Beo Jin pun tiba ke tempat William ditahan. Namun rupanya sang tetua telah memutuskan untuk melaporkan William kepada polisi karena dirinya merasa tidak mampu menangani masalah ini. Mendengar perkataan tetua, Beo Jin menjadi sangat gelisah dan khawatir akan nasib William. Tiba-tiba Park Kyu datang menyusul Beo Jin dan kembali menolong William demi Beo Jin.
Park Kyu: “Tuan! Kita harus menunjukkannya pengampunan. Beberapa dari pelaut kita telah terdampar ke Daemado atau Vietnam. Aku dengar kalau orang-orang tersebut bisa kembali ke Jeju dengan bantuan dari warga negara itu.”
Tetua: “Itu benar! Dulu kala, beberapa penduduk Tamra terdampar ke Yooguguk karena sebuah badai, namun mereka kembali dengan selamat.”
Park Kyu: “Kita harus menolong para orang asing yang terdampar sebagaimana yang telah mereka lakukan pada orang-orang kita.
Bukan hanya Park Kyu yang berusaha membujuk sang tetua, ayah Beo Jin yang iba juga mencoba menolong William dengan mengatakan meski William aneh, tetapi pastinya dia seorang manusia karena dia juga bisa berbicara bahasa mereka dengan baik. Park Kyu juga menambahkan kalau di Hanyang (Seoul) juga ada orang asing yang menolong tentara Chosun membuat senjata. Hal itu dibenarkan oleh sang tetua dan akhirnya setelah perdebatan panjang, tetua pun memutuskan untuk tidak melaporkan William kepada polisi. Beo Jin lega mendengarnya (thanks to Park Kyu dunks, hehehe), apalagi ibunya sendiri juga bilang kepada semua penduduk untuk merahasiakan William dari polisi. Kemudian para penduduk membubarkan diri. Beo Jin yang berniat segera bertemu William tetap mendapat larangan dari Park Kyu karena menurutnya bukan saat yang tepat dan dengan terpaksa Park Kyu menyeret Beo Jin pergi bersamanya. Sementara itu dikejauhan Yan mengamati William yang sekarang ‘ditahan’ di tempat tetua, dia terlihat sangat khawatir.

Di penjara, Phi Lip terus menyalahkan sang pemilik kapal karena dirinya ditahan oleh polisi. Bocah itu pun menganggap pria tersebut salah seorang dari jingsangpoom. Sang pemilik kapal pun marah dengan tuduhan Phi Lip dan berkata meski dia menyelundupkan sesuatu yang dilarang dari Jepang, namun dia bersumpah tidak pernah menjadi pencuri pajak.
Phi Lip: “Pemilik kapal! Aku sangat kecewa padamu! Aku pikir kau seorang yang terhormat yang mana tahu tentang semua hal mengenai sungai Tamra! Apakah kau mencuri dan menjual semua barang-barang pajak??”
Pemilik kapal: “Apa? Kau anak kurang ajar!!! Walaupun aku mengimpor sesuatu yang buruk dari Jepang, bagaimana bisa aku mencuri produksi yang telah dikerjakan orang-orang di sini dengan hasil keringat mereka? Ini merupakan kejahatan yang salah!!!”
Phi Lip kembali bertanya kenapa dirinya juga ikut tertangkap olehnya dan sang pemilik menjelaskan kalau semua itu dilakukannya untuk melindungi bocah itu juga. Sebab seandainya mereka ketahuan bersembunyi bersama orang asing tentunya mereka akan dibunuh dan Phi Lip pun mengerti.

Sayangnya Yi Bang mendatangi sel mereka dan berkata kalau mereka akan dihukum mati jika terbukti menyelundupkan barang pajak kecuali memberitahu tentang adanya orang lain yang ikut serta dalam kegiatan yang mereka lakukan (mancing info tentang orang asing). Apes, Phi Lip tidak sengaja keceplosan ngomong ada orang lain selain mereka yang ikut gara-gara ketakutan dengan ancaman Yi Bang.

Yi Bang: “Jika kau mengatakan padaku yang sebenarnya, aku bisa mengurangi hukumanmu. Apa kau pernah membuat kontak dengan seseorang yang mencurigakan?”
Phi Li: “Ada! Dia bukan seseorang yang mencurigakan tetapi seseorang yang berasal dari kota lain.”
Orang yang dimaksud oleh Phi Lip adalah Bong Man, pembantu Park Kyu yang baru datang dari Hanyang (kekeke, sial niy orang jadi kambing hitam). Phi Lip lantas menjelaskan lebih lanjut siapa Bong Man kepada Yi Bang yang mulai mengalihkan kecurigaannya kepada Park Kyu beserta pembantunya itu.
Sedangkan Bong Man sendiri saat ini lagi bertanya kepada dua orang penjaga. Dia stress dengan tuannya yang disangkanya masih ditahan di kantor polisi. Kedua penjaga semakin bingung serta kaget dengan identitas Park Kyu karena Bong Man bilang kalau tuannya itu sangat terkenal di Hanyang dengan berhasil menyelamatkan nyawa Raja dan juga menjadi peringkat pertama yang lulus tes kerajaan (ember niy mulut si pembokat, wkwkwk).

Scene pun berganti dengan adegan dimana Park Kyu diceritakan berhasil menggagalkan usaha pembunuhan Raja yang dilakukan oleh seorang utusan yang menyamar sebagai pemusik istana. Rupanya itu semua sia-sia karena kedua penjaga tersebut hanya menganggapnya cerita itu karangan Bong Man aja (lagian ceritanya lebay, kakakak).

Mereka pun mengolok-ngoloknya meski Bong Man bersumpah kalau itu semua kenyataan.

Penjaga A: “Pembohong! Apa kau saat ini sedang menulis novel?”
Penjaga B: “Kenapa kau tidak sekalian menambahkan “dia tidak bisa menyebut ayahnya, “ayah”?!”
Penjaga A: “Lalu, yandari seperti Hong Gil Dong (Robin Hood-nya Korea) di Hanyang?”
Bong Man: “Aku mengatakan kepada kalian yang sebenarnya! Apa kalian selalu seperti ini setiap waktu?!”
Penjaga B: “Aigoo, itu Hong Gil Dong (nyindir Park Kyu) datang kemari!”
Kedua penjaga itu menunjuk ke arah Park Kyu yang datang bersama Beo Jin.

Bong Man langsung menghampiri tuannya itu. Dia mencemaskan Park Kyu yang habis kena hukuman pukul pantat, namun Park Kyu menyuruh Bong Man agar tidak khawatir padanya. Sikap pembantunya yang terlalu over membuat Park Kyu kesal, apa lagi karena ada Beo Jin di sampingnya (malu tapi jaim, kekeke). Beo Jin yang masih terdiam pun meninggalkan Park Kyu setelah melihat pandangan Park Kyu yang mengisyaratkannya agar pergi. Setelah gadis itu berlalu, Park Kyu memberi sebuah tugas kepada Bong Man untuk menyelidiki kasus penangkapan pencuri pajak.

Park Kyu: “Para pencuri barang pajak telah tertangkap pagi tadi. Pergi selidiki apa yang terjadi untuk lengkapnya.
Bong Man: “Mereka tertangkap? Lalu tuan, apakah Anda akan kembali ke Hanyang?”
Pertanyaan Bong Man yang sama terus menerus makin membuat Park Kyu kesal dan langsung menyuruh pembantunya itu segera pergi melaksanakan tugasnya.
Kemudian Park Kyu kembali ke rumah keluarga Jang dan disambut oleh kedua penjaga dan tatapan dari ibu Beo Jin yang rupanya sudah menunggu kedatangan Park Kyu. Salah seorang penjaga hanya berkata kalau mereka telah menjelaskan tentang semuanya. Park Kyu tentu saja bingung dengan maksud perkataan penjaganya itu (ini tentang kebohongan Park Kyu yang bilang dia pacaran sama Beo Jin). Ibu Beo Jin lantas mamaksanya duduk dan menginterograsi Park Kyu guna mendapatkan konfirmasi yang sebenarnya.
Ibu Beo Jin: “Apakah Beo Jin melakukan sesuatu kepadamu yang mengharuskannya bertanggung jawab?”
Parka Kyu: “Hah?”
Ibu Beo Jin: “Apakah Beo Jin melakukan sesuatu kepadamu yang mengharuskannya bertanggung jawab?”
Park Kyu: “Anda lancang sekali! Beraninya berkata omong kosong seperti itu?!”

Ibu Beo Jin hanya diam menatapnya curiga dan kemudian beralih memandangi Beo Jin. Sang ibu hanya berkata dalam hati melihat putrinya yang menurutnya tidak begitu cantik, bukan penyelam yang handal juga mempunyai tubuh yang lemah (ngeremehin anak sendiri, kejamnya, kakakak). Lalu membandingkannya dengan Park Kyu yang dia nilai tidak bisa apa-apa tetapi mempunyai badan yang tinggi juga lumayan ganteng. Lalu ibu Beo Jin pun tersenyum setelah menimbang-nimbang keputusannya yang akhirnya merestui ‘hubungan’ Park Kyu dengan Beo Jin yang membuat keduanya heran sekaligus bingung dengan maksud senyumannya itu (nah lho? Wkwkwkwk)…
sumber: pelangidrama.net

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s