Tamra The Island – Episode 10

Park Kyu tersenyum melihat William yang berada di tiang pancungan.
“Tidak, aku tidak boleh mati… Yan…. Park Kyu jangan biarkan mereka membunuhku, aku tidak boleh mati seperti ini”pinta William ketakutan.
“Aturan negara sangat penting”ucap Park Kyu.
“Aku akan meninggalkan Hanyang dan kembali ke kampung halamanku”tambah William.
“Park Kyu”panggil William karena Park Kyu malah berjalan pergi meninggalkannya. “Argggggghhhhhh”teriak William saat melihat pisau di tiang pancungan meluncur turun ke arahnya.

William terbangun dengan wajah ketakutan.William kemudian memegang lehernya (hehehehe, William takut jika kepalanya benar-benar dipenggal). Ternyata, William hanya bermimpi buruk. Dua orang penjaga tiba-tiba masuk dan mengikat tangan William.
“Ini tidak apa-apa?”tanya penjaga pertama.
“Benar, tidak apa-apa. Aku sudah memastikan ketua sudah keluar, ayo cepat”jawab penjaga kedua.

“Kalian ingin membawaku ke mana?”tanya William heran melihat kedua tangannya diikat.
Kedua penjaga sontak terkejut, “astaga benar-benar ajaib, darimana dia belajar bahasa kita”ucap salah satu penjaga.
William bertanya kepada penjaga keberadaan Park Kyu,“Park Kyu,di mana dia,di mana?”. Salah satu penjaga tiba-tiba memukulnya, “kamu berani sekali memanggil Tuan. Tuan adalah temanmu ya, ayo kita bawa dia keluar, ayo bangun”.

Kedua penjaga membawa William ke pintu belakang. Mereka mulai memanggil para warga agar mendekat dan melihat William yang sangat berbeda dari mereka.
“Ayo cepat kemari, kalian mungkin hanya bisa melihatnya sekali dalam seumur hidup. Tapi di dunia ini tidak ada yang gratis, ayo cepat kumpul tael (nama mata uang pada zaman ini chingu)”teriak salah satu penjaga.

Penjaga yang kedua mulai menusuk-nusuk badan William dengan tongkat dan menyuruhnya berbicara.

“Sudah makan belum”ucap William. Semua warga semakin takjub dengan William, apalagi William memiliki warna rambut dan mata yang berbeda dari mereka. Mereka kemudian melempari William dengan tomat dan mulai mendekati William. William hanya terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa melihat dirinya sekarang dijadikan bahan tontonan.

Kedua penjaga mulai menghitung uang yang mereka dapatkan. Park Kyu tiba-tiba datang dan menjatuhkan semua uang yang mereka dapat.
“Siapa yang berani melakukannya”teriak penjaga marah.
“Tuan pelaksana”teriak penjaga ketakutan dan segera memberi hormat begitupun dengan warga yang mengerumuni William.
William hanya terduduk di sudut ruangan seperti yang biasa dilakukannya. Makanan yang sengaja disediakan untuknya sama sekali tidak tersentuh. Park Kyu berdiri di depan pintu lalu duduk.
“Mereka tidak sengaja melakukannya, mereka hanya heran melihat orang asing sepertimu jadi jangan membenci mereka. Lain kali pakailah ini dan orang tidak akan mengenalmu sebagai orang barat”ucap Park Kyu dan meletakkan sebuah topi capit di depan pintu kamar William.
“Tidak menyesalkah? Kalau saja waktu itu kamu menuruti perintahku untuk pergi, kejadian seperti ini tidak akan terjadi”tambah Park Kyu dan berniat pergi.
“Beo Jin…. Beo Jin sekarang sedang melakukan apa?”tanya William tiba-tiba dan menghentikan langkah Park Kyu
“Hari ini, pasti turun ke laut, besok juga, setiap hari dia akan melakukan hal yang sama”jawab Park Kyu
“Selalu bisa mendengar tangisan Beo Jin di tepi laut. Park Kyu suatu hari nanti pasti bisa bertemu Beo Jin kan?”.

Sementara itu, orang yang sedang dibicarakan William dan Park Kyu sedang memandangi indahnya bulan di malam hari. Kakek Tua tiba-tiba datang dan ikut duduk di sebelah Beo Jin.
“Beo Jin, kamu sedang memikirkan apa?”
“Dari sini ke daratan berapa jauh? Sehari bisa sampai kan?”tanya Beo Jin dengan mata berkaca-kaca. Kakek Tua mengangguk.
“Hatiku sangat kosong dan murung seperti akan mati. Aku harus pergi menemui William, aku sudah janji dengannya”ucap Beo Jin.
Kakek Tua berusaha menyabarkan Beo Jin, “Beo Jin, alasanmu ke daratan sepertinya bertambah satu lagi. Daratan belum tentu lebih baik seperti disini, yang penting adalah hatimu. Kalau masalah dalam hati tidak terselesaikan, sampai manapun sama saja”.
“Tapi aku ingin ke daratan karena William, asalkan sudah bertemu dengan William aku sudah lega”ucap Beo Jin.
“Cuma demi si bocah bermata biru itu ya, tidak ada alasan lain ya?”tanya Kakek Tua yang sengaja bertanya kepada Beo Jin.

Beo Jin tiba-tiba berdiri dan merasa disudutkan dengan pertanyaan kakek tua,“aku demi William baru begini, tidak mungkin demi Yandari, ah tidak, tidak mungkin demi Tuan Pelaksana hatiku seperti ini”ucap Beo Jin dan memanyunkan bibirnya.
Beo Jin kesal dengan ucapan Kakek Tua dan segera pergi setelah sebelumnya memukul pundak kakek Tua. Kakek Tua hanya tersenyum dan bergumam,“kalau Beo Jin sampai pergi, Tamra pasti akan sangat membosankan”.
Beberapa orang pria berkumpul di rumah Beo Jin dan minum bersama. Mereka mulai membicarakan tentang Park Kyu. Tanpa kehadiran Park Kyu desa menjadi sangat sepi. Ayah Beo Jin setuju dengan ucapan mereka dan merasakan hal yang sama. Ayah Beo Jin juga berkata kalau dia dan Park Kyu sering membuat sandal rumput bersama.
Ibu Beo Jin sedang membereskan barang-barang Park Kyu. Beo Jin yang baru saja pulang heran melihatnya. Ibu Beo Jin mengatakan kalau kamar Park Kyu akan digunakan sebagai tempat penyimpanan makanan untuk musim dingin.
“Bagaimana boleh begitu, Yandari baru pergi sebentar saja dan ibu sudah ingin membuang barang-barangnya”ucap Beo Jin sedih.
Ibu Beo Jin membuang barang Park Kyu yang sedang dipegangnya ke lantai,“jika tidak dibereskan kamu pikir Tuan Pelaksana akan kembali. Beo Jin kamu dengar baik-baik, jika terus mengungkit daratan dan pria bermata biru itu jangan harap kamu bisa makan. Ayo bereskan ini dan bantu ayahmu memperbaiki atap yang bocor”.
“Ibu, cukup sampai di sini. Jika bertemu denganku pasti selalu menyuruhku bekerja, tidak lelahkah? Ibu, kamu tidak tahukah hatiku yang sangat ingin pergi ke daratan”.
“Bisa apa dengan hati yang serakah” ucap Ibu Beo Jin
“Aku tidak ingin seperti ibu yang hanya tahu menyelam dan bertani, benar-benar sangat membosankan. Aku lebih baik mati daripada hidup membosankan seperti ibu”teriak Beo Jin
Ibu Beo Jin tiba-tiba menampar pipi Beo Jin. Beo Jin hanya bisa menangis dan memegangi pipinya. Ibu Beo Jin terlihat merasa bersalah.
”Cepat bereskan tempat ini”ucap Ibu Beo Jin dan buru-buru keluar. Para Pria merasa heran dengan raut wajah Ibu Beo Jin, namun ayah Beo Jin hanya menghela nafas melihat istrinya. Ayah Beo Jin sepertinya tahu kalau istrinya habis memarahi Beo Jin.
Beo Jin mulai membereskan barang-barang Park Kyu. Tanpa sengaja Beo Jin menemukan sebuah buku Park Kyu. Beo Jin tersenyum melihatnya dan tiba-tiba merasa rindu dengan suara Park Kyu.
Yan masih tinggal di tempat Phillip. Yan mulai menghitung uang yang akan digunakannya ke daratan. Beo Jin tiba-tiba datang, “kapan kamu akan ke daratan?”tanya Beo Jin dan berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari .
“Kamu sedang berkata apa?”tanya Yan pura-pura tidak mengerti.
“Kamu tidak ingin menolong William ya? Kita sama-sama pergi, kamu dan aku. Kalau kita sama-sama pergi, William pasti akan sangat senang”ucap Beo Jin senang.
“Kamu sadar sedikit, kamu sama sekali tidak bisa keluar dari Tamra. Kalaupun bisa, aku sama sekali tidak ingin membantumu”ucap Yan sinis.
“Kenapa tidak?William sangat ingin bertemu denganku?”tanya Beo Jin dengan suaranya yang khas.
“Kalau bukan karena kamu, William sudah pergi dari sini”jawab Yan dan mulai mengemasi barang-barangnya.
“Apa maksudmu?”tanya Beo Jin tidak mengerti.
Phillip tiba-tiba datang dan memotong percakapan mereka, “kakak, aku dengar kamu baru saja dilepaskan, memang cuma istriku saja yang rindu pada suaminya. Jangan cemaskan aku, kesusahan akan membuat pria menjadi lebih kuat”ucap Phillip dan melihat ke arah Yan.
“Apakah sudah berpamitan dengan abang?”tanya Phillip pada Beo Jin.
“Berpamitan?”tanya Beo Jin tidak mengerti dengan ucaan Phillip.
“Katanya dia besok akan ke daratan, ini mungkin adalah nasib menjadi anggota kapal”ucap Phillip.
Yan memakai tasnya dan bersiap-siap pergi,“jangan harap bisa keluar dari sini, sadarlah dan lebih baik bekerja lebih keras”ucap Yan dan berlalu pergi. Beo Jin menjadi sedih mendengarnya. Phillip memanggil Yan namun Yan sama sekali tidak berbalik.
“Dasar, sudah susah payah. Kapal kami sudah tidak ada dan tidak bisa turun ke laut, jadi awalnya ingin mengikutinya”gumam Phillip kesal. Beo Jin yang mendengarnya tiba-tiba tersenyum, muncul sebuah ide hebat di pikirannya. Beo Jin memanggil Phillip dan memegang topi capit Phillip. Phillip menjadi sedikit takut melihat sikap Beo Jin.

Keesokan harinya, Yan menemui seorang pria. Mereka saling bertukar uang dan tanda pengenal. Untuk naik ke atas kapal yang menuju ke Hanyang, Yan harus memiliki tanda pengenal (kalau disini lebih familiar dengan istilah KTP Chingudeul).

Sementara itu di rumah Beo Jin, Beo Jin sudah bersiap-siap dan menggunakan sebuah topi capit milik Phillip. Beo Jin melihat adiknya,Beo Seol yang masih tertidur pulas.
Kali ini langkah Beo Jin sudah bulat menuju daratan. Beo Jin berlari keluar pagar dan tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Beo Jin”.
“Ayah”ucap Beo Jin terkejut. Rupanya Ayah Beo Jin sudah memiliki firasat kalau Beo Jin akan pergi, makanya dia menunggu Beo Jin semalaman.
“Harus beginikah”ucap ayah Beo Jin mendekati putrinya.
Beo Jin mulai menangis,“maaf ayah. Aku tidak bisa bersabar lagi, tidak bisa berpikir tidak terjadi masalah, tiap hari turun ke laut. Semakin hari, hatiku semakin sakit. Aku harus bagaimana? Di dalam sini seperti ada yang mengganjal dan membuatku tidak bisa bernafas. Izinkan aku pergi Ayah”.
Ayah Beo Jin tak kalah sedihnya dengan Beo Jin. Ayah Beo Jin juga tidak ingin jika Beo Jin setiap hari hanya turun ke laut dan bersedih. Ayah Beo Jin mengeluarkan sebuah kantong uang dan memberikannya kepada Beo Jin,“ambillah ini. Hidup lebih lama baru bisa mengerti apa yang sedang terjadi, dengarlah apa yang dinasehatkan orang kepadamu dan jangan menyimpan dendam di dalam hatimu”.
“Ayah, aku benar-benar minta maaf”.
“Kamu harus ingat, kami akan selalu menunggumu, jika sudah merasa lelah pulanglah kembali ke Tamra”.
Beo Jin semakin sedih mendengar pesan ayahnya. Beo Jin memeluk ayahnya untuk terakhir kali sebelum dirinya pergi ke Hanyang.
“Waktu tidak banyak lagi, cepatlah pergi, cepat pergi sebelum ada yang melihatmu”ucap ayah Beo Jin. Beo Jin melihat wajah ayahnya, Beo Jin merasa enggan untuk beranjak namun ayahnya menyuruh Beo Jin untuk segera pergi.
Ayah Beo Jin memandang Beo Jin yang mulai menjauh, berat baginya melepaskan Beo Jin (jadi ingat dengan drama korea Cruel Temptation kalau liat ayahnya Beo Jin).

Beo Jin mulai mengantri bersama para pria yang ingin pergi ke Hanyang. Di barisan depan terlihat Yan yang menunjukkan tanda pengenalnya dan dipersilahkan naik ke atas kapal. Beo Jin berusaha menyembunyikan rasa takutnya dan tiba gilirannya untuk pemeriksaan tanda pengenal.
“Kelihatannya begitu kecil sudah mau pergi ke daratan”ucap petugas pada Beo Jin. Beo Jin hanya tersenyum tipis dan dengan cepat mengambil tanda pengenalnya.
Kapal yang membawa Beo Jin dan Yan ke Hanyang akhirnya berangkat. Beo Jin memilih duduk di salah satu sudut kapal dan tersenyum senang karena akhirnya bisa pergi ke Hanyang. Petugas yang sempat memeriksa tanda pengenal Beo Jin datang menghampirinya.
“Apakah kamu Beo Jin?”tanya petugas dan berusaha melihat wajah Beo Jin lebih dekat. Beo Jin sontak terkejut dan menyembunyikan wajahnya di bawah topi capit.
“Ya, memang Beo Jin”ucap petugas kapal namun Beo Jin hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu seorang wanita, mana bisa pergi ke daratan, wanita ini jangan-jangan sudah gila sendirian pergi ke daratan, benar-benar tidak tahu luasnya Hanyang itu seperti apa. Hei, Beo Jin ayo cepat kembali”paksa petugas kapal. Para penumpang lainnya mulai berkumpul untuk melihat sumber kegaduhan.
“Ingin bicara apa pada saudaraku”ucap Yan tiba-tiba.
“Kamu bilang dia saudaramu?”tanya petugas kapal tak percaya begitupun dengan Beo Jin yang tak percaya jika Yan datang menolongnya.
“Kesehatannya sedang tidak baik, makanya kami pergi ke daratan untuk mengobatinya”jawab Yan tegas.
“Tapi dia mirip sekali dengan wanita laut, Beo Jin di desa San Fang”ucap petugas.
Yan mendekati Beo Jin, “jadi maksudmu saudaraku adalah gadis ya? Kalian tahu dari kecil dia sudah sakit-sakitan makanya tubuhnya tidak bisa bertambah tinggi, ditambah tidak bisa bicara dan hanya dijadikan olok-olokan orang lain”.
Beo Jin yang mendengar penjelasan Yan sontak menunduk agar terlihat lebih pendek dan menutup rapat mulutnya.
“Apa aku harus membuka celananya baru kalian bisa percaya”teriak Yan. Beo Jin sontak terkejut dan melihat Yan.
“Kalau dia benar bukan gadis, paman bagaimana ingin membalasnya, paling tidak harus membayar biaya kapal 3 x lipat baru bisa”ucap Yan dan memegangi celana Beo Jin “Tidak, tidak, aku mungkin salah kenal orang”ucap petugas kapal ketakutan dan segera pergi.
Yan menarik Beo Jin menjauh dari keramaian.
“Terima kasih”ucap Beo Jin.
“Jangan harap lain kali aku membantumu”ucap Yan.
“Tadi benar-benar mau melepaskan celanaku ya?”tanya Beo Jin. Yan tidak menjawab dan malah berkata kepada Beo Jin untuk tidak mengikutinya. Yan kemudian pergi dan meninggalkan Beo Jin yang memandangi pulau Tamra yang perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangannya.
Ibu Beo Jin sedang menjemur hasil laut. Wajahnya terlihat sangat sedih ketika mengingat ucapan suaminya yang mengatakan kalau Beo Jin sudah pergi ke daratan. Tiba-tiba dua orang pengganggu datang, Kkeut BOon dan Ibunya. Mereka mulai berkomentar tentang desa San Fang yang sangat sepi tanpa kehadiran Yandari. Mereka juga bahkan ingin menjenguk Beo Jin yang dikiranya masih terbaring sakit. Ibu Beo Jin sontak terkejut dan segera mengusir mereka pergi.
Yan dan Beo Jin akhirnya sampai di daratan. Beo Jin melihat ke kanan dan kiri dan membandingkan desanya dengan daratan yang tidak berbeda jauh. Beo Jin memanggil Yan yang hampir menghilang karena dirinya terlalu keasyikan melihat ke kanan dan ke kiri.
“Yan…. Kita bersama-sama saja mencari William, bukankah lebih baik jika kita bersama”ucap Beo Jin.
“Lebih baik aku sendiri daripada bersamamu”ucap Yan dan kembali berjalan.
Beo Jin kembali mengejar Yan dan mengajak Yan makan. Beo Jin bahkan mengatakan kalau dia yang akan mentraktir Yan, semua itu dilakukannya agar hati Yan luluh dan mau mengajaknya mencari William.
Saat makan, Beo Jin terus berbicara. Yan merasa kesal dengan nada bicara Beo Jin. “Lebih baik ubah nada bicaramu, apa kamu ingin semua orang tahu kamu adalah wanita laut ya?”ucap Yan. Beo Jin kemudian mencoba berbicara seperti orang Hanyang.
Pemilik warung makan tidak sengaja melintas di depan mereka. Hal itu dimanfaatkan Yan untuk mencari tahu informasi mengenai William.
“Katanya di sini muncul orang barat ya?”. Pemilik warung makan membenarkan hal tersebut dan mengatakan kalau hari ini William akan dibawa pergi ke Hanyang.
Park Kyu, William dan beberapa orang pengawal mengendarai kuda menuju Hanyang. Mereka melewati hutan yang lebat agar bisa sampai dengan cepat ke Hanyang. Tanpa mereka sadari Chi Young (Orabunni Seo Rin) dan antek-anteknya mengawasi mereka.
Sebuah panah tiba-tiba meluncur ke arah Park Kyu. Beruntung Park Kyu berhasil menghindar. Segerombolan pasukan berkuda tiba-tiba datang dan mulai menyerang mereka. Hujan panah kembali terjadi.
Park Kyu turun dari kuda dan ikut dalam pertarungan. William yang masih berada di atas kuda tiba-tiba didorong hingga terjatuh. William berusaha bangun namun orang yang mendorong William malah menendangnya dan bersiap-siap menusukkan pedang ke tubuh William. Park Kyu yang melihatnya dengan cepat melemparkan kapak ke arah orang tersebut dan tidak menyadari sebuah sabetan pedang di bahunya.
“Park Kyu”teriak William dan naik ke atas kuda. William menarik tangan Park Kyu ke atas kuda setelah sebelumnya membunuh orang yang melukai Park Kyu. William kemudian pergi membawa Park Kyu menghindari keramaian. Chi Young yang melihatnya dengan cepat mengejar mereka bersama beberapa nak buahnya.

Sementara itu di dalam hutan yang sama, Yan dan Beo Jin berjalan.
“Yan….. Yan…. Yan…..”panggil Beo Jin. Beo Jin terduduk di tanah dan mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
“Istirahat dulu baru kita lanjutkan”pinta Beo Jin. Yan hanya berbalik sesaat dan kembali berjalan. Bagi Yan nyawa William lebih penting daripada harus mengikuti permintaan Beo Jin.
“Bocah jahat”gumam Beo Jin kesal dan kembali berjalan.
Samar-samar terdengar suara gerobak mendekat. Beo Jin berbalik dan melihat seorang pria tua sedang menjalankan gerobak yang ditarik sapi. Senyum Beo Jin seketika mengembang.
Gerobak mulai berjalan melewati Yan. Beo Jin yang duduk dibelakang tertawa dan meledek Yan yang berjalan kaki. Pada akhirnya, Yan ikut naik ke atas gerobak namun mereka berdua saling dorong mendorong karena kesempitan….. (wkwkwkwkwk, ada-ada aja ulah Yan dan Beo Jin, dewi Rf).

Chi Young masih mengejar William dan Park Kyu. Sayang mereka kehilangan jejak dan hanya menemukan kuda yang dikendarai William dan Park Kyu. Chi Young akhirnya memutuskan mundur sejenak dan melanjutkan pencarian di lain waktu.
William membopong Park Kyu dan menyandarkannya di sebuah pohon. Park Kyu mengerang kesakitan, luka di bahunya semakin bertambah parah dan mengeluarkan banyak darah. William mengambil sebuah kain dan menaruhnya di bahu Park Kyu agar darah berhenti mengalir. Park Kyu memandang William sekilas dan pingsan.
“Park Kyu, bertahanlah”ucap William.

Baru saja Chi Young pergi, gerobak yang ditumpangi Yan dan Beo Jin melintas.
William menggendong Park Kyu di punggungnya hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah. Pemilik rumah sedang sibuk membuat guci dari tanah liat dan tiba-tiba terhenti saat menyadari kehadiran seseorang. William menjatuhkan Park Kyu ke tanah karena kelelahan sementara pak tua si pemilik rumah terlihat ketakutan melihat Park Kyu yang terluka dan tentu saja William yang memiliki rambut berwarna emas dan mata biru.
Yan dan Beo Jin sampai di sebuah penginapan. Waktu sudah malam dan mereka harus beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Pemilik penginapan sangat senang melihat Yan dan Beo Jin.
“Apa ada kamar kosong?”tanya Yan,
“Oh ya, pas tinggal satu”jawab pemilik penginapan dan mengantar mereka menuju kamar.
Beo Jin bingung dengan apa yang harus dilakukannya, akhirnya dia memilih untuk masuk ke dalam kamar daripada harus tidur di luar.
“Sangat memaksa, meskipun tahu kalau kau adalah orang yang bodoh tapi ternyata memiliki nyali yang sangat besar. Di sini bukan Tamra dan disini tidak ada seorangpun yang kau kenal. Di kamar ini cuma ada kau dan aku saja, hanya berdua”ucap Yan sedikit emosi dan menakut-nakuti Beo Jin.
“Benar, cuma ada kita berdua dan kita tidak akan kesepian, bersama denganku juga kita bisa saling tolong menolong, bukankah itu sangat baik”ucap Beo Jin berusaha membela diri.
“William di mana kamu,akiu sangat ingin bertemu denganmu”gumam Beo Jin. Yan yang mendengarnya bertanya pada Beo Jin, “setelah bertemu William apa yang akan kamu lakukan? Apa akan bersembunyi di gua lagi seperti waktu di Tamra?”. Beo Jin kesal mendengar pertanyaan Yan,“kenapa kamu harus begini, William sangat senang bertemu denganku”.
Yan tertawa, “mana boleh begitu gampang percaya pada perkataan orang yang terhanyut dalam cinta, Yandari begitu perduli padamu juga”. Beo Jin menjadi tambah kesal. “Kenapa tiba-tiba mengungkit Yandari, jangan bicara omong kosong lagi dan cepat tidur. Besok masih harus melakukan perjalanan panjang”ucap Beo Jin pada Yan yang nyata-nyata sudah tertidur lebih dahulu (mungkin bagi Yan, ocehan Beo Jin sebagai lagu pengantar tidur).
Park Kyu masih tidak sadarkan diri. Pak tua berusaha mengobati luka Park Kyu. “Sementara tidak apa-apa, meskipun pakai obat penahan darah untuk menahan darahnya, lukanya disebabkan oleh panah. Jadi setelah bangun nanti, lebih baik bawa ke tabib”. William mengucapkan terima kasih dan hal itu membuat pak tua semakin terkejut,“kami bukan orang jahat, dalam perjalanan saya ke Nagazaki, saya berlabuh di Tamra dan Park Kyu ingin melakukan perjalanan ke Hanyang, makanya kami memutuskan berjalan bersama-sama. Tapi tiba-tiba muncul orang jahat”ucap William berusaha menjelaskan. “Aku sudah mendengarnya, tetapi aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di utan seperti ini” ucap pak tua sambil tertawa.
Pak tua kemudian menyuruh William untuk beristirahat.
Keesokan harinya, Yan bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Beo Jin masih tertidur dan Yan tidak berniat untuk membangunkannya (Yan ingin meninggalkan Beo Jin). Baru beberapa meter Yan berjalan, Yan tidak sengaja bertemu dengan penjaga.
Mereka merasa heran melihat Yan yang berjalan sendirian di hari yang masih sangat pagi. Yan berusaha menjelaskan kalau dirinya sedang buru-buru ingin naik kapal. “Keadaan sangat tidak aman, Tuan Pelaksana yang melakukan perjalanan ke Hanyang tiba-tiba menghilang dan pengawalnya ditemukan mati”ucap salah satu penjaga. Yan sontak terkejut, “mati, orang barat juga ikut terbunuh?”. Para penjaga merasa heran dengan keterkejutan Yan, mereka juga sama sekali tidak mengungkit-ngungkit tentang orang barat. Yan bukan orang yang bodoh dan mempunyai banyak ide, Yan mengatakan kalau berita tentang penangkapan orang barat sudah tersebar luas.
Yan tidak ingin berlama-lama berdebat dengan para penjaga dan berpamitan pergi. Para penjaga tetap menaruh kecurigaan pada Yan dan meminta Yan untuk menunjukkan tanda pengenalnya. Yan mulai mencari tanda pengenalnya, namun sama sekali tidak dapat menemukannya. Penjaga akhirnya memutuskan membawa Yan ke pejabat.
“Abang”teriak Beo Jin tiba-tiba. Beo Jin sudah mengganti pakaian menjadi Hanbok. “Abang, kenapa kau terus meninggalkan ini, walaupun buru-buru ingin naik kapal tetapi kau tidak boleh melupakan tanda pengenalmu”ucap Beo Jin dan menunjukkan tanda pengenal Yan kepada penjaga. Para penjaga mengangguk-nganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Beo Jin.
“Ayo cepat, ibu….”.
“Tunggu sebentar kenapa nada bicaramu terdengar sangat aneh”ucap salah satu penjaga. Beo Jin tiba-tiba menguap, “oh ini pasti karena terlalu dingin”ucap Beo Jin berkilah “Abang penjaga pagi-pagi sudah merepotkan kalian”tambah Beo Jin dan tersenyum semanis-manisnya.
“Ah, benar-benar cantik. Kalian silahkan teruskan perjalanan”ucap penjaga lainnya ikut tersenyum dan mempersilahkan Beo Jin dan Yan pergi.
Beo Jin menarik Yan ke tempat sepi dan meminta penjelasan tentang ucapan penjaga yang mengatakan kalau Yandari menghilang dan ada beberapa orang yang mati. Yan tidak yakin jika William termasuk salah satu dari mereka, Yan berpendapat kalau William dan Park Kyu pasti bersembunyi di suatu tempat di dalam hutan dan mereka harus kembali ke tempat menghilangnya Park Kyu.
Park Kyu akhirnya sadar. Park Kyu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan heran melihat William tertidur di depannya. Park Kyu berusaha untuk duduk dan pak tua yang mendengar suara dari kamar tiba-tiba masuk.
“Kamu siapa dan ini tempat apa?”tanya Park Kyu curiga.
“Sepertinya kamu sangat penasaran dan sangat ingin tahu ini dimana. Saat aku mengobatimu, aku menemukan ini di tubuhmu”ucap pak tua dan memberikan medali milik Park Kyu.
“Apakah ada orang lain yang melihatnya?”tanya Park Kyu.
Pak tua menggeleng,“mana mungkin, aku meninggalkan kota dan hidup sendirian di sini. Masih ingat dua hari yang lau, kamu bertaruh dengan kematian”.
Park Kyu tiba-tiba mengingat saat dirinya terluka dan ditarik William ke atas kuda. “Kalau begitu…..”
“Dia menggendong dirimu yang pingsan sampai di sini. Kamu mengeluarkan banyak darah, terlambat sedikit saja, nyawamu pasti akan melayang”ucap pak tua dan melihat William yang masih tertidur.
William perlahan-lahan membuka mata dan senang melihat Park Kyu akhirnya sadar. “Aku berhutang nyawa padamu, kita sebaiknya berangkat saja”ucap Park Kyu dan berusaha berdiri.
“Park Kyu kesehatanmu lebih penting, istirahatlah sedikit lagi”ucap William menasehati. Pak tua juga menasehati Park Kyu untuk beristirahat sejenak dan berpamitan ke pasar untuk membeli obat-obatan dari tabib.
Pak tua tidak memiliki uang jadi dia harus menukar obat-obatan dengan sebuah guci kesayangannya. Baru saja pak tua pergi, Chi Young tiba-tiba datang dan bertanya kepada tabib apa ada orang yang membeli obat untuk mengobati luka panah. Tabib terlihat ketakutan dan dengan terbata-bata memberitahukan jika orang yang dimaksud baru saja pergi.
Park Kyu memutuskan duduk di luar dan menghirup udara bebas. Sedangkan William terlihat antusias mengeluarkan guci dari tempat pembakaran. (pada tahu kan chingu, hobby William yang senang mengumpulkan benda-benda unik).
“Kenapa kamu tidak lari, kamu sebenarnya bisa meninggalkanku sendirian dan lari”tanya Park Kyu
William tertawa, “kalau begitu setelah kamu sadar, kamu berharap aku tidak ada ya?”.
“Kamu tidak membenciku karena membawamu ke Hanyang?”tanya Park Kyu lagi.
“Membawaku ke Hanyang bukan tanggung jawab Park Kyu. Aku tidak akan membencimu hanya karena masalah ini, aku akan membencimu mungkin karena masalah lain”ucap William.
“Sekarang masih memikirkan Beo Jin ya?”tanya Park Kyu namun William hanya terdiam
Pak tua kembali dari kota. Saat melewati sebuah batu besar, pak tua menambahkan sebuah batu berukuran kecil diatas tumpukan batu kecil.
Tidak lama kemudian terlihat Yan dan Beo Jin yang akhirnya sampai di dekat kediaman pak tua. Beo Jin lagi-lagi membuat ulah dengan mendorong Yan tanpa sengaja. Yan menjadi kesal melihat tingkah Beo Jin. Samar-samar Yan mendengar langkah kaki. Yan dengan cepat menggendong Beo Jin untuk bersembunyi.
Dan benar saja, Chi Young dan antek-anteknya sedang menuju ke kediaman pak tua sekaligus tempat persembunyian Park Kyu dan William. Pak tua menyadari kehadiran orang asing dan mempercepat langkahnya. Dari balik pohon Yan dan Beo Jin terus memperhatikan mereka.
“Apa benar di sana William dan Park Kyu bersembunyi?”tanya Beo Jin khawatir.
“Kalau tidak, kenapa mereka bisa mencari ke tempat yang begitu sepi”jawab Yan dan tetap siaga.
Beo Jin kembali mengingat ucapan penjaga tadi pagi tentang mengilangnya Park Kyu dan adanya perampok hutan.
“Kalau begitu mereka adalah perampok hutan, kita harus memberitahukan William dan Park Kyu”ucap Beo Jin panik dan berlari menuju persembunyian Park Kyu dan William.
Chi Young dan antek-anteknya mulai memporakpandakan seisi rumah pak tua. Mereka bahkan memecahkan guci-guci yang baru saja selesai dikerjakan pak tua.
“Kalian siapa, kenapa masuk rumah orang sembarangan”teriak pak tua dan mencoba menghalangi Chi Young.
Chi Young tetap masuk dan tidak mengindahkan pak tua. Chi Young tiba-tiba berhenti dan merasa aneh dengan susunan batu di dekatnya. Baru saja Chi Young ingin mendekat dan memeriksanya, Pak Tua tiba-tiba berbicara, “katanya pejabat akan datang memeriksa, kenapa begitu cepat sudah sampai. Saya dengar kalian akan segera kemari tapi tidak menyangka akan secepat ini, kalian bergerak sangat cepat. Saya tinggal sendirian di sini dan takut jika perampok hutan tiba-tiba muncul. Tiap kali saya melapor kalian selalu bilang akan datang,…. Tapi akhirnya tidak datang juga, tetapi tidak menyangka baru melapor sudah datang. Kalian menghancurkan barang-barangku, kalian tahu ini sangat penting bagiku, kamu harus ganti rugi baru pergi”ucap pak tua. Pak tua sengaja melakukannya dan berkomentar panjang lebar agar Chi Young segera pergi begitu mendengar jika pejabat akan datang.
Tidak menemukan apa-apa, Chi Young memutuskan pergi meskipun nalurinya mengatakan kalau Park Kyu dan William pasti sedang bersembunyi di tempat pak tua. Sementara itu Beo Jin dan William terus mnegamati tindak tanduk mereka.
Pak tua mengetuk batu yang sempat dilihat Chi Young tadi.
“Sekarang sudah bisa keluar”ucap pak tua. Tiba-tiba Beo Jin dan Yan muncul, “kalian siapa?”tanya pak tua terkejut.
“Tunggu dulu”ucap Beo Jin sedih dan melihat ke sekeliling. Beo Jin terduduk di tanah,ternyata William dan Park Kyu tidak ada.
Tiba-tiba batu yang diketuk pak tua tadi hancur berantakan. Dari dalam batu keluar William dan disusul Park Kyu.
“William”panggil Beo Jin sedih.
“Beo Jin”ucap William terkejut.
“Yandari”panggil Beo Jin lagi.

Written by Dewi Rf and Pictures By Iis Rf @PelangiDrama

sumber: pelangidrama.net

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s