The Kingdom Of The Winds – Episode 01

Tahun ke-23 Masa Pemerintahan Raja Yuri dari Gogyuro

Raja Yuri berdiri sendiri di atas tebing. Ia melihat sekelompok kecil bunga yang tumbuh disana. Disentuhnya bunga itu perlahan.
“Yang Mulia!” seorang Jenderal datang. Jenderal tersebut bernama Goo Chu.
“Diantara bau darah yang menyengat, beberapa bunga mekar.” gumam Yuri.
“Kita ada di dekat wilayah musuh.” ujar Goo Chu. “Tidak seharusnya kau berada disini sendirian.”
“Bagaimana pergerakan musuh?” tanya Yuri.
“Kami sudah mengirim pasukan pengintai.” kata Goo Chu. “Jadi kita akan tahu pergerakan mereka secepatnya.”
“Untuk perang kali ini, aku ingin memimpin pasukan berkuda.” kata Yuri.
“Itu… terlalu berbahaya, Yang Mulia.” ujar Goo Chu.
“Aku ingin mempersembahkan kemenangan ini untuk Ratu.” kata Yuri, pandangannya menerawang jauh pada tebing-tebing dihadapannya. “Dan juga untuk anakku yang akan segera lahir.”

Di istana Goguryeo, Seryu mengintip proses kelahiran adiknya. Ia ketakutan mendengar jeritan ibunya yang kesakitan. Tiba-tiba, kakak Seryu, Hae Myeong, datang dan menyuruhnya kembali ke kamar.
“Kakak, kapan adikku akan lahir?” tanyanya.
“Kita belum tahu.” jawab Hae Myeong, tersenyum pada adiknya.
“Kenapa ibu sangat kesakitan?”
“Ketika bayi akan lahir, semua ibu di dunia akan mengalami rasa sakit yang sama.” kata Hae Myeong.
“Apa itu akan terjadi padaku juga?”
Hae Myeong tertawa. “Tentu saja.” jawabnya. “Semakin cantik bayi yang akan lahir, maka kau akan merasa semakin sakit.”
“Melihat sakitnya ibu, adikku pasti sangat cantik.” kata Seryu.

Di medan perang, Yuri dan pasukannya sudah siap berperang.
“Sudah satu tahun berlalu sejak kita meninggalkan benteng Gungnae.” seru Yuri. Benteng Gungnae adalah ibukota Goguryeo saat itu. “Setelah perang ini, kita akan kembali ke Gungnae. Tidak akan ada lagi tidur di medan perang dan teriris angin. Kita juga tidak akan lagi menghilangkan lapar dengan nasi dingin!”
Para prajurit bersorak.
“Kiat semua harus hidup!” seru Yuri. “Dan kembali ke pelukan hangat keluarga kita yang menunggu di Benteng Gungnae!”


Pasukannya berangkat ke medan perang di sebuah lembah melawan suku Gi San. Mereka tidak dipimpin oleh Yuri, melainkan dipimpin oleh Jenderal kepercayaan Yuri, Goo Chu. Di hadapan mereka, suku Gi San mengendarai kuda menuju ke arah mereka.

Suku Gi San melempar batu ke arah Pasukan Goguryeo, dan berhasil menjatuhkan beberapa prajurit. Setelah itu, suku Gi San mengendarai kuda mereka menyerang secara langsung.
“Formasi!” perintah Jenderal. Pasukan membentuk formasi, kemudian mengarahkan anak panah pada suku Gi San. Suku Gi San berjatuhan terkena tembakan panah.
Pemimpin suku Gi San memerintahkan pasukannya untuk mundur.
“Ayo!” teriak Goo Chu, memerintahkan pasukannya mengejar mereka.

Ketika pasukan Goguryeo mengejar dan sampai di tengah tebing, suku Gi San tiba-tiba menghilang.
Mendadak, pasukan barbar yang lebih banyak lagi datang, muncul dengan tali dari berbagai sisi tebing. Mereka berteriak-teriak ‘Auuuu’ dan berlari membawa sabit.
Pasukan Goguryeo terkepung. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk bertarung dengan kaum barbar itu.
Di tengah kesulitan melawan pasukan barbar, pasukan berkuda Goguryeo yang dipimpin oleh Yuri tiba.
Pemimpin suku Gi San marah melihat Yuri. Ia berteriak dan menyerang Yuri. Yuri menangkis pedangnya, kemudian menebas tubuh pemimpin suku Gi San. Pemimpin suku Gi San tewas.
Pasukan Goguryeo bersorak. Mereka memenangkan pertarungan itu.

Di perkemahan Pasukan Goguryeo, para prajurit mengobati luka mereka. Jenderal masuk ke tenda Yuri.
“Yang Mulia, utusan dewan istana tiba dari Benteng Gungnae.” lapor Goo Chu.
Yuri keluar untuk menyambut utusan itu.
“Aku datang untuk mendukung usahamu atas nama anggota dewan.” ujar Utusan. “Aku membawa cukup kebutuhan untuk pasukanmu.”
“Kupikir dewan sudah melupakan kami.” kata Yuri tenang, namun tajam.
Utusan tertawa. “Perang terjadi sejak tahun lalu dan berlangsung sangat lama. Dewan meminta kami mengirimkan kebutuhan untuk pasukan.”
Yuri berpaling pada Goo Chu. “Siapkan jamuan untuk merayakan kemenangan kita.” katanya. “Katakan pada pasukan agar minum dan makan sampai mereka puas.”
Utusan kelihatan tidak senang.

Malamnya, pasukan Goguryeo berpesta untuk merayakan kemenangan mereka.
Yuri masuk ke dalam tendanya untuk beristirahat.
Utusan dewan masuk ke dalam tenda Yuri.
“Apa kau baik-baik saja, Yang Mulia?” tanya Utusan. “Aku akan memanggil Tabib.”
“Kau ingin mengatakan sesuatu padakku?” tanya Yuri tanpa basa-basi.
“Anggota dewan ingin tahu kapan kau akan kembali ke ibu kota.” kata Utusan.
“Karena kami berhasil menaklukkan suku Gi San, aku berencana untuk kembali ke ibukota.” jawab Yuri.
“Maaf?”
“Kenapa?” tanya Yuri. “Apakah para Kepala Klan berharap aku lebih lama berada di medan perang? Kami mendapatkan sedikit keuntungan dari perang ini. Aku ingin kembali ke ibukota untuk menunjukkan pada para anggota dewan apa yang berhasil kami dapatkan.”
“Apa maksudmu?”
“Alasan kenapa Goguryeo tidak bisa melawan BuYeo adalah karena para Kepala Klan tidak menghormati kedudukanku dan mereka terlalu sibuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan untuk diri mereka sendiri.” kata Yuri tajam. “Aku tidak akan menerima sikap kalian yang sewenang-wenang lagi.”
“Jika kau berani melawan anggota dewan, maka nyawamu dan dan istrimu akan berada dalam bahaya.” ancam Utusan.
Yuri merasa sangat marah karena utusan tersebut berani mengancamnya. Ia berlari mendekati Utusan dan menarik kerahnya. “Jika kau barani mengancamku lagi, maka kau adalah orang pertama yang akan kupenggal.”
“Biarkan aku menjadi yang pertama…” Dengan diam-diam, utusan mengeluarkan pisau dari balik bajunya, kemudian menusuk perut Yuri. “Maafkan aku, Yang Mulia.” katanya.
Yuri terjatuh.

Sangga menemui Mahwang di Benteng Gungnae.
Sangga adalah Kepala Klan dan tetua anggota dewan Goguryeo. Sedangkan Mahwang adalah seorang pedagang.
“Jadi kau baru saja kembali dari BuYeo?” tanya Sangga.
“Ya, aku mengunjungi BuYeo dan Chang An.” jawab Mahwang.
“Bagaimana keadaan di BuYeo?” tanya Sangga.
“Biarpun mereka tidak ingin memulai perang, tapi negara dan klan-klan sekitarnya gemetar ketakutan.” kata Mahwang. “Aku cemas Goguryeo mungkin akan ditelan oleh kekuasaan mereka. Raja Dae So itu… Saat Raja Jumong masih hidup dia tidak bisa bergerak, bukan?”
“Benar.” jawab Sangga.
“Tapi sekarang, ini kenyataan yang harus kita terima.”
Empat orang wanita masuk ke dalam ruangan. Sangga melihat keempat wanita tersebut, tapi malah memilih pelayan Mahwang.
“Ah!” Mahwang terkejut. “Tapi dia hanyalah pelayan rendahan.”
“Apakah kau berniat mengirimnya pada orang lain?” tanya Sangga.
“Bu… bukan begitu.”
“Kalau begitu, aku akan membelinya 200 koin perak.” kata Sangga.
“Ti.. tidak bisa.” larang Mahwang.
“250, dan aku tidak ingin berunding lagi.” kata Sangga.
Seorang anak buah sangga masuk dan membisikkan sesuatu. Sangga kemudian keluar bersamanya.
Mahwang memukul kepala pelayan laki-lakinya. “Kenapa kau menunjukkan dia pada pria tua itu?” omelnya. “Dia milik orang lain!”

Sangga datang menemui para anggota dewan yang sedang berkumpul. Para anggota dewan itu menyarankan agar mereka melakukan pemberontakan.
“Raja Yuri memegang kendali seluruh pasukan di medan perang.” kata Sangga. “Kalian memberontak saat ia tidak ada, tapi apa yang akan kalian lakukan jika ia kembali?”
“Raja Yuri… tidak akan pernah kembali ke Benteng Gungnae.” kata seorang anggota dewan. “Dia sudah mati.”
“Apa itu benar?” tanya Sangga ragu.
“Aku mengirim utusan untuk membunuhnya.” kata anggota dewan. “Pasukan Pangeran Hae Myeong yang melindungi Benteng Gungnae hanya ada ratusan prajurit. Semua Kepala Klan setuju untuk bergabung. Kita akan mengumpulkan pasukan di Mangparyeong, lalu menyerang ibukota. Apakah kau akan bergabung? Apakah klan BiRyu akan bergabung?”
Sangga terdiam. Ia tidak yakin bahwa Yuri benar-benar telah mati.

Ratu tidak juga bisa melahirkan. Hae Myeong sangat mengkhawatirkan ibunya yang sangat menderita.
“Lakukan segala cara untuk menolong kelahirannya.” pinta Hae Myeong pada Tabib.
Tiba-tiba pengawal Hae Myeong datang dan melaporkan bahwa para anggota dewan bertemu dengan diam-diam. Hae Myeong merasakan ada sesuatu yang mencurigakan.

Untuk mencari tahu, Hae Myeong menemui Mahwang.
“Semua orang sedang cemas, tapi sepertinya hanya kau yang bisa bernapas dengan tenang.” kata Hae Myeong ketika ia melihat Mahwang sedang menghitung uangnya.
“Pangeran!” seru Mahwang terkejut, buru-buru menyimpan uangnya ke dalam peti.
“Aku harus bicara denganmu.” kata Hae Myeong. “Para Kepala Klan melakukan pertemuan rahasia. Cobalah cari tahu alaan kenapa mereka melakukan itu.”
“Pertemuan rahasia?” tanya Mahwang. “Aku akan berpura-pura tidak pernah mendengar itu. Bagaimana jika kau minum? Aku akan membawakan beberapa gadis cantik.” Mahwang tertawa.
Hae Myeong menatap Mahwang tajam.
“Pangeran, kita sedang membicarakan para anggota dewan.” kata Mahwang, berhenti tertawa. “Bagaimana aku bisa terus hidup di Goguryeo? Aku akan melakukan segalanya untukmu, kecuali…”
“Kau takut pada mereka, tapi tidak merasa takut di depan calon raja?” tanya Hae Myeong.
Mahwang menarik napas. Ia tidak punya pilihan lain.

Keesokkan harinya, Mahwang mengantarkan gadis yang dibeli Sangga ke kediamannya.
“Sangat cantik.” kata Sangga. Ia berpaling pada Mahwang. “Mulanya, kepada siapa kau akan mengirim gadis ini?”
“Pangeran Hae Myeong.” jawan Mahwang. “Ia akan menjadi Raja kita kelak.”
“Bagaimana kau tahu dia akan jadi raja atau tidak?” tanya Sangga marah.
Mahwang kesal.

Mahwang mencoba mencari tahu dari seorang anggota dewan lain. Agar punya kesempatan bicara dengan pria itu, Mahwang membawakan kain yang sangat mahal dari Chang An.
Mahwang membawa pria itu ke sebuah rumah. Disana, Hae Myeong sudah menunggu.
“Katakan padaku, apa yang kau rencanakan?!” seru Hae Myeong, memukuli pria itu habis-habisan.
“Aku tidak tahu.” kata pria itu.
Hae Myeong menyuruh Mahwang memegangi si pria. “Kau punya 10 jari. Aku akan memberimu 10 kesempatan.” Ia memberi isyarat pada Mahwang agar mematahkan satu jari pria itu.
Pria itu tidak juga bicara. Mahwang hendak mematahkan satu jari yang lain.
“Hentikan!” teriak pria itu. “Hentikan!”
“Bukan itu yang ingin kudengar.” kata Hae Myeong. Mahwang mematahkan satu jari lagi.
“Di Mangparyeong…” kata si pria. “Kepala Klan menyiapkan penyerangan. Mereka akan segera menyerang ibukota.”
“Pemberontakan!” seru Mahwang.

Hae Myeong bergegas datang melihat ke Mangparyeong. Kepala Klan memiliki lebih dari 3000 pasukan sementera pihak istana hanya memiliki kurang dari 300 prajurit.
“Kita tidak akan bisa menghentikan mereka.” kata pengawal Hae Myeong, Tae Cheon.
“Perintahkan pengawal untuk menutup semua gerbang istana dan kirim pesan pada Yang Mulia.” perintah Hae Myeong. “Kita harus mengulur waktu sampai Yang Mulia kembali.”

Sangga tidak ikut bergabung dengan para Kepala Klan dengan alasan ia sedang memimpin pasukan untuk menaklukkan benteng di Utara. Padahal kenyataannya, Sangga sedang mandi di kolam air panas bersama para pelayan wanitanya.
Seorang Kepala Klan mengirimkan seorang prajurit untuk memberi ultimatum pada Hae Myeong.
“Kepala Klan Gwanna, Hwanna, Yunna dan Biryu sudah mengumpulkan pasukan di Mangparyeong.” kata prajurit pada Hae Hyeong. “Sebelum matahari terbenam besok, buka semua gerbang dan biarkan pasukan masuk tanpa pertumpahan darah. Jika kau menuruti perintah kami, maka kami akan mengampuni nyawamu.”
“Tutup mulutmu!” bentak pengawal Hae Myeong. “Beraninya kau mengancam Pangeran!”
“Hanya dengan beberapa ratus pasukan, bagaimana kalian bisa melawan anggota dewan?” tanya prajurit utusan.
“Pangeran, biarkan aku memenggal pemberontak itu!” seru pengawal Hae Myeong.
Hae Myeong melarang. “Walaupun hanya dengan sedikit pasukan, kami akan berusaha melawan. Kalian tidak akan pernah bisa melewati kami. Dan jika Yang Mulia kembali, yang akan jatuh bukan kami, tapi kepalamu!”
“Hilangkan harapan untuk melihat Yang Mulia lagi.” kata prajurit utusan. “Yang Mulia sudah mati. Kau punya waktu sampai besok. Jika kau tidak membuka gerbang, akan terjadi pertumpahan darah di istana dan Ratu bersama bayinya tidak akan selamat.”
Hae Myeong terpukul mendengar kematian ayahnya.

Hae Myeong berpikir dan menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan. Ditambah lagi, beberapa prajurit istana melarikan diri. Hae Myeong justru mengizinkan para prajurit yang masih ada di istana untuk pergi menyelamatkan diri.
Hae Myeong duduk sendirian di kamarnya, merasa putus asa. Ia mengambil sebuah belati kecil dan berniat mengakhiri hidupnya. Ketika ia ingin menusuk tubuhnya dengan belati tersebut, Seryu datang sambil menangis.
“Kakak!” tangisnya. “Semua orang pergi. Aku takut.”
Hae Myeong memeluk Seryu, menenangkannya. “Semua akan baik-baik saja.” katanya menenangkan. Jangan khawatir, Seryu.”

Akhirnya Hae Myeong mengambil keputusan. Untuk menyelamatkan semua orang, termasuk Ratu, Seryu dan adik barunya yang belum lahir, Hae Myeong memerintahkan semua orang pergi meninggalkan istana.
Di tengah perjalanan pergi, ia melihat sekelompok pasukan berarak-arak menuju ke arah berlawanan. Hae Myeong berhenti.

Keesokkan harinya, Pasukan dibawah pimpinan kepala klan menemukan istana telah kosong. Tidak ada seorang pun disana.
Ketika mereka sudah berada di tengah bangunan istana, mendadak beberapa pasukan pemanah muncul dan mengepung mereka. Pasukan tersebut menembakkan panah pada pasukan pemberontak. Banyak pemberontak yang tewas.
Yuri muncul bersama Hae Myeong, Goo Chu dan Tae Cheon. Ia dan Hae Myeong berjalan mendekati Kepala Klan. “Lama tidak bertemu.” katanya.
“Yang Mulia.” Kepala Klan menunduk.
“Turunkan senjata kalian.” perintah Yuri. Karena Kepala Klan ragu untuk menurunkan senjatanya, Yuri membunuh Kepala Klan tersebut hingga tewas.
“Yang Mulia!” seru prajurit utusan ketakutan. “Turunkan senjata kalian!”
Semua pasukan menurunkan senjatanya dan bersujud pada Yuri.

Yuri mengumpulkan semua anggota dewan di ruangan pertemuan. Ia juga memanggil Sangga.
“Aku berencana menghukum semua tindakan pemberontakan dengan nyawa mereka.” kata Yuri. “Katakan padaku, Sangga. Bagaimana aku harus menyelesaikan masalah ini?”
“Yang Mulia, umur negara ini belum terlalu tua.” kata Sangga. “Melenyapkan semua orang yang merupakan dasar negara ini bukan merupakan hal yang baik. Dimasa lalu, Heng In dan OkJo melakukan pemberontakan melawan Raja Jumong, tapi ia memaafkan mereka. Setelah itu, dua negara tersebut menjadi pilar Goguryeo yang setia. Jadi, belajarlah dari Raja sebelumnya dan maafkan Para Kepala Klan agar mereka setia padamu.”
“Ini tidak bisa diterima, Yang Mulia!” seru Hae Myeong. “Bagaimana kita bisa menutup mata pada pemberontakan yang mereka lakukan? Sangga, kau seharusnya tahu bahwa kau juga bersalah sama seperti mereka. Bagaimana tetua anggota dewan tidak mengetahui rencana pemberontakan itu?!”
Sangga terdiam.
“Yang Mulia, pengal semua orang yang memberontak!” seru Hae Myeong. “Dan tunjukkan hukummu pada semua orang!”
“Diamlah, Pangeran.” ujar Yuri. “Aku akan mengambil pelajaran dari Raja sebelumnya dan memaafkan Kepala Klan. Tapi, aku akan mengirim menteri di tiap klan dan mengawasi tindak-tanduk kalian. Selain itu, kalian juga harus mengirim putra sulung kalian. Aku akan mengawasi mereka dan mengajari mereka agar hal seperti ini tidak terjadi lagi. Sangga, apa kau menerima keputusanku?”
Sangga terdiam. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain setuju. Demikian pula dengan Kepala Klan lain.

Akhirnya Ratu berhasil melahirkan bayinya. Bayi tersebut laki-laki.
Raja Yuri sangat senang dan membagikan biji-bijian untuk merayakan kelahiran Pangeran Goguryeo yang baru.

Tanpa sepengetahuan Yuri, Peramal datang ke istana dan meminta pelayan menyerahkan Pangeran kecil padanya untuk didoakan. Pelayan yang menjaga Pangeran ragu dan takut karena ia melihat darah di baju si peramal.
“Darah ini berasal dari kambing yang dijadikan persembahan.” kata peramal menjelaskan.
Peramal menggendong Pangeran kecil. “Katakan pada mereka bahwa kami membawa Pangeran ke kuil.” Ia kemudain pergi.

Di sisi lain, Yuri, Goo Chu dan Tae Cheon tiba di kuil istana. Ia melihat orang-orang di kuil tersebut tewas. Yuri menjadi curiga dan cemas. Ia memerintahkan Goo Chu untuk menutup jalan ke kuil dan melarang siapapun masuk. Selain itu, ia juga meminta Tae Cheon untuk mencari sang peramal.
Akhirnya Yuri berhasil mengetahui kalau Peramal pergi meninggalkan istana bersama Pangeran kecil.
“Dengarkan kata-kataku baik-baik.” ujar Yuri. “Cari dimana keberadaan peramal, tapi jangan sampai Kepala Klan tahu dan menyadari masalah ini. Setelah kalian berhasil mengetahui, segera beritahu aku.”

Setelah beberapa saat berlalu, Tae Cheon, mendapat kabar dari Hae Myeong bahwa ia berhasil menemukan Peramal di sebuah kuil di Gunung Cheon Ryeong.
Yuri bergegas pergi.
“Yang Mulia, biarkan aku ikut denganmu.” pinta Ratu. Namun Yuri menolak.

Yuri bergegas pergi ke kuil. Pasukan sudah mengepung kuil tersebut.
Ketika Yuri memaksa masuk ke kuil, terjadi pertarungan antara pihak Peramal dan pihak Yuri. Dengan kemenangan di pihak Yuri.
Peramal membaringkan Pangeran kecil di atas batu persembahan, kemudian mengambil sebuah belati kecil.
Di luar, Yuri masuk sendirian ke dalam kuil. Hae Myeong, Goo Chu dan Tae Cheon sangat mencemaskannya.

“Apakah aku yang kau inginkan?” tanya Yuri pada Peramal ketika ia melihat peramal memegang sebuah belati. “Jika itu yang diinginkan langit, maka bunuh aku. Apa kesalahan yang dilakukan seorang bayi? Aku akan membawa bayi itu.”
“Langit memberiku perintah, tapi aku tidak bisa melakukannya dengan tanganku sendiri.” kata peramal.
“Apa maksudmu?” tanya Yuri. “Kenapa langit memerintahkan hal yang kejam?”
“Pangeran ini lahir dibawah nasib jahat yang akan membawa kehancurkan bagi Goguryeo.” kata peramal. “Dia akan menyebabkan kematian saudara-saudaranya, ibunya dan ayahnya sendiri. Pada akhirnya, ia bahkan ditakdirkan untuk membunuh putranya sendiri.”
“Diam!” teriak Yuri. “Bagaimana mungkin seorang bayi bisa membawa sekian banyak kutukan?!”
“Aku hanya menyampaikan pesan langit padamu.” kata peramal. “Yang Mulia, hanya kau yang bisa menghentikan kutukan ini. Demi Goguryeo. Demi masa depan negeri ini. Kau harus membunuh Pangeran sekarang juga.”
“Aku tidak bisa.” ujar Yuri.
Peramal terus menerus berteriak dan memojokkan Yuri. “Kau harus melaksanakan tugasmu. Hanya karena rasa cintamu pada Pangeran ini, apakah kau ingin duduk saja dan melihat kehancuran negeri ini?!”
Peramal berbalik dan mengangkat belatinya. Ia kemudian menusuk dirinya sendiri. “Maafkan aku karena aku telah mengatakan kata-kata yang mengerikan padamu.” katanya pada Yuri. “Tolong laksanakan perintah langit.”
Yuri merasa sangat terpukul. Ia mengambil belati di tubuh peramal, kemudian mengangkatnya ke arah Pangeran kecil.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s