The Kingdom Of The Winds – Episode 02

Bagaimanapun seorang ayah tidak akan mungkin bisa membunuh putranya sendiri. Yuri menjatuhkan belatinya dan menggendong putranya ke luar dari kuil itu.
Melihat darah yang mengotori baju Yuri, Hae Myeong menjadi cemas. “Dimana peramal?” tanyanya. “Kenapa ia membunuh pengikutnya dan membawa Pangeran?”
“Peramal sudah meninggal.” jawab Yuri dengan ekspresi terpukul. Ia memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan pemakaman yang layak untuk peramal.

Berita kematian peramal dengan cepat menyebar dan sampai ke telinga Sangga.
“Mungkin saja ia tidak bunuh diri, melainkan Raja Yuri-lah yang telah membunuhnya.” kata pengawal Sangga.
“Tidak masalah apakah ia bunuh diri atau Raja Yuri yang membunuhnya.” ujar Sangga. “Mungkin saja masalah ini bisa kita gunakan untuk mewujudkan tujuan kita. Kumpulkan orang-orang kita sekarang. Jangan sampai menteri di istana mengetahui.”
“Ya, Sangga.”
Sangga akan merencanakan sesuatu untuk menyusahkan pihak istana. “Akan kutunjukkan bagaimana pengaruh pendapat rakyat.”

Hae Myeong membujuk ayahnya untuk menceritakan apa yang diinginkan peramal. Tapi Yuri bersikeras diam dan tidak ingin memberitahu siapapun.
“Tinggalkan aku sendiri!” perintah Yuri.
Hae Myeong dan Goo Chul takut bahwa masalah ini akan dimanfaatkan oleh para kepala klan. Hae Myeong memerintahkan pada Goo Chul untuk memperingatkan para Menteri agar mengawasi Kepala Klan lebih ketat.

Tengah malam, Yuri tidur tidak tenang dan terbangun karena sebuah firasat buruk. Goo Chul memanggil Yuri dari luar dan mengatakan ada sesuatu yang aneh sedang terjadi di istana.
Yuri bergegas keluar untuk melihat keadaan.
Di halaman istana, burung-burung gagak hitam mati bergelimpangan. Yuri sangat terkejut melihatnya.
Keesokkan harinya, muncul fenomena aneh lain. Di desa, sumur yang biasa digunakan warga sebagai sumber air berubah menjadi darah. Selain itu, hewan-hewan ternak mati.

Semua fenomena aneh tersebut menyebabkan rakyat mengetahui masalah di kuil.
“Mereka berpendapat bahwa Yang Mulia ada sangkut pautnya dengan masalah ini.” ujar Goo Chul. “Jika rakyat tidak mendukungmu, maka Kepala Klan akan memberontak lagi. Tolong beritahu kami mengenai kejadian di kuil.”
Yuri tetap diam.

Di tempat lain, Hae Myeong dan Mahwang dan pelayan Mahwang, Gong Chan, melakukan autopsi terhadap burung-burung gagak yang mati di istana.
Gong Chan menemukan sesuatu di tubuh burung gagak kemudian memakannya. “Ini jelai.” katanya.
“Jelai?” tanya Hae Myeong berpikir.
Beberapa saat kemudian Gong Chan pingsan.
Hae Myeong dan Mahwang membawa Gong Chan ke Tabib.
“Ini adalah racun serangga yang dicampurkan dengan jelai.” kata Tabib, memeriksa jelai.
“Bagaimana dengan Gong Chan?” tanya Mahwang cemas.
“Ini tidak akan membunuh manusia.” kata Tabib. “Dia akan segera sadar. Jangan khawatir.”
“Dimana kita bisa menemukan racun serangga seperti ini?” tanya Hae Myeong.
“Di Goguryeo, hanya ada satu tempat. Klan Biryu.” jawab Tabib.

Rencana Sangga berhasil. Keributan besar terjadi di masyarakat. Rakyat percaya bahwa Raja Yuri yang telah membunuh Peramal. Hal tersebut akan membawa kemarahan Langit pada Goguryeo.
“Pemberontakan rakyat akan segera dimulai.” kata pelayan Sangga.
Sangga tertawa menang. “Pasti.” katanya.

Sangga menemui Yuri di istana. Ia meminta penjelasan pada Yuri mengenai kematian Peramal.
“Apakah karena ia mengatakan mengenai kutukan mengerikan yang dimiliki oleh Pangeran yang baru lahir, maka kau mengarahkan pedang padanya?” tanya Sangga.
“Peramal tidak dibunuh.” kata Yuri. “Ia mengakhiri hidupnya sendiri.”
“Apa yang dikatakan Peramal?” tanya Sangga. “Begitu mengerikankah nasib Pangeran sehingga Peramal membuat keputusan seperti itu?”
Yuri tidak menjawab.
Tae Cheon masuk dan melaporkan bahwa Ratu tiba-tiba pingsan.

Yuri bergegas menuju kamar Ratu. Sampai disana, Ratu sudah meninggal.
“Apa yang terjadi?” tanya Yuri.
“Yang Mulia, demam Ratu terlalu tinggi, jadi Ratu….” kata Tabib, menangis.
Yuri menarik kerah pakaian tabib. “Kau harus menyelamatkannya!” teriak Yuri. “Kau harus menyelamatkannya bagaimanapun caranya!”
“Maafkan aku, Yang Mulia..”
“Istriku…” Yuri berjalan gontai ke arah istrinya. “Ratu…” Yuri melihat Pangeran kecil terbaring di samping Ratu.

Tiga hari telah berlalu, Yuri tidak juga keluar dari ruangan pemakaman Ratu.
Hae Myeong mendengar para Kepala Klan mengadakan pertemuan lagi. Ia bergegas mengerahkan pasukan mengepung tempat itu.
“Ada apa, Pangeran?” tanya Sangga.
Hae Myeong menumpahkan biji-bijian ditanah. Ia kemudian memerintahkan pengawalnya membawa dua ekor ayam agar memakan biji-bijian itu. Ayam-ayam tersebut mati.
“Apa yang ditakutkan rakyat akan hukuman dari Langit, ternyata berasal dari biji-bijian beracun.” kata Hae Myeong tajam. “Semua ini pasti hanya rekayasa seseorang. Aku tahu, matinya hewan ternak, air darah disumur adalah sesuatu yang dilakukan oleh satu diantara kalian.”
“Lancang sekali kau!” seru salah seorang Kepala Klan.
“Kalian menyebarkan desas-desus kutukan untuk membahayakan masa depan Goguryeo!” seru Hae Myoeng.
Sangga tertawa. “Semua yag kudengar sepertinya sangat berlebihan.” katanya. “Kami berkumpul untuk berdoa atas kematian Ratu.”
“Apakah kau sudah lupa pada janji yang kau buat?” tanya Hae Myeong. “Sebelum upacara pemakaman Ratu selesai, kalian para Kepala Klan tidak bisa keluar dari penjagaan.”
“Jika itu keinginanmu, kami akan menuruti.” ujar Sangga. “Tapi jangan lupa, bahwa kami juga berduka atas kematian Ratu.”
Hae Myeong pergi.

Sangga tahu persis siapa orang yang bisa menjatuhkan Kerajaan, yakni rakyat. Jika rakyat memberontak, maka sudah pasti pihak kerajaan akan jatuh.
Keesokkan harinya, di dinding kota muncul lukisan-lukisan misterius. Lukisan itu diantaranya bergambar seseorang dengan pedang yang bermandikan darah, membunuh semua orang. Gagak-gagak mati, air sumur berganti air darah, rakyat mulai memberontak pada pihak kerajaan.

Yuri berpikir keras sembari berlutut di hadapan jenazah istrinya. Ucapan Goo Chul dan Peramal terus terngiang di telinganya. Perihal pemberontakan rakyat dan nasib jahat Pangeran kecil. Yuri akhirnya keluar dari ruangan pemakaman Ratu dan mengadakan pertemuan anggota dewan.

“Sangga, kau bertanya mengenai pertanda yang diperoleh Peramal, bukan?” tanya Yuri. “Sekarang, aku akan memberi jawaban. Ia mengatakan bahwa Pangeran baru telah lahir di bawah kutukan yang akan membawa Goguryeo pada kehancuran. Agar kutukan tersebut dapat dicegah, maka putra langit harus membunuh Pangeran baru dengan tangannya sendiri. Jadi, akulah yang harus membunuhnya.”
“Yang Mulia!” seru Hae Myeong. “Apakah pantas langit meminta seorang ayah membunuh putranya sendiri?! Hanya karena nasibnya buruk, bukan berarti kau harus membunuhnya!”
“Sesuatu yang harus kuakhiri bukanlah nyawa putraku, melainkan api kutukan yang mengancam negeri ini!” seru Yuri. “Buka gerbang kuil dan siapkan upacara!”
“Yang Mulia! Kau tidak boleh melakukannya!” teriak Hae Myeong.
“Kurung Pangeran dalam penjara!” perintah Yuri.
“Ayah!” teriak Hae Myeong, ditarik pergi oleh pengawal. “Ayah, kau tidak bisa melakukannya!”

Sangga keluar dengan ekspresi kekalahan.
“Jika Raja Yuri melakukan itu, tidak akan ada orang yang akan berpihak pada kita.” kata Sangga. “Aku kalah dari Raja Yuri.”

“Aku ingin melihat adikku. Bolehkah?” tanya Seryu, masuk ke kamar Pangeran kecil.
“Tentu saja.” kata pengasuh. “Masuklah.”
“Siapa namanya?” tanya Seryu.
“Ia belum punya nama.” jawab pengasuh.
“Bayi, aku adalah kakakmu, Seryu.” kata Seryu pada adiknya. “Mulai sekarang, aku ingin menjadi seperti ibu. Aku akan melindungimu.”
Yuri masuk ke dalam ruangan. “Ayah, aku berjanji pada adikku bahwa aku akan melindunginya sebagai pengganti ibu.”
“Itu pemikiran yang baik, tapi bayi ini akan pergi ke tempat yang jauh.” kata Yuri. “Sebentar lagi ia akan pergi, ucapkan selamat tinggal.”
Seryu menangis. Ia melepas kalungnya dan memberikan pada adiknya. “Ini hadiah untukmu. Kelak.. jika.. aku lupa wajahmu, aku akan mengenalimu dengan kalung ini.” katanya sedih.

Upacara pengorbanan Pangeran kecil dimulai. Yuri menggendong putranya dan meletakkannya di sebuah peti, kemudian menutup peti tersebut.
“Disini, terbaring seorang putra langit.” seru Yuri pada rakyatnya yang menonton. “Dengan darahnya, aku akan menghentikan kutukan yang mencekik kehidupan kita. Para pengikut kuil, majulah dan laksanakan tugas kalian.”
Para pengikut kuil ragu.
“Apa lagi yang kalian tunggu?!” seru Yuri. “Apakah kalian ingin melawan kehendak langit?!”
Masih tidak ada yang bergerak.
“Jika kalian tidak bisa melakukannya, maka aku yang akan melakukannya!” seru Yuri. Ia meminta Goo Chul memberinya pedang.
Goo Chul diam.
“Lakukan!” teriak Yuri.
Goo Chul terpaksa maju dan membawakan pedang itu pada Yuri.
“Aku akan melaksanakan kehendak langit dengan tanganku sendiri!” teriak Yuri. Yuri memejamkan mata, kemudian menusuk peti tersebut. Darah mengalir dari dalam peti.
Semua orang terkejut. Mereka tidak menyangka Yuri tega melakukan itu pada putra kandungnya sendiri.

Setelah rakyat di tempat persembahan sepi, dua orang penyusup dengan menggunakan penutup wajah menjatuhkan dan membuat pinngsan semua orang kuil.
Yuri keluar. Kedua orang penyusup tersebut tidak lain adalah Goo Chun dan Tae Cheon, yang menyusup atas perintah Yuri.
“Mereka bilang ia tidak akan sadar sampai senja.” kata Tae Cheon. “Tapi, jika ia belum juga sadar sampai senja, kita mungkin tidak akan bisa membuatnya bangun lagi.”
Yuri menarik pedang yang menusuk peti, kemudian dengan takut dan cemas membuka tutup peti itu.
Yuri tersenyum lega melihat putranya masih hidup dan membuka matanya. Yuri menangis.

Di tengah hutan, Yuri memerintahkan Goo Chun membawa Hae Cheon menemuinya.
“Bawa ia kemari.” ujar Yuri.
Tae Cheon muncul dan membawa Pangeran kecil dalam keadaan hidup. Hae Myeong menggendong adiknya.
“Mulai saat ini, anak itu bukan lagi putraku atau adikmu.” kata Yuri. “Bawa anak ini ke Jolbon. Biarkan ia tumbuh menjadi orang biasa. Anak itu tidak lagi menjadi bagian dunia, karena itulah aku akan memberinya nama… Muhyul. Ia tidak memiliki detak jantung pun darah di pembuluh darahnya. Karena itu adalah satiu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawanya.”
“Ayah…” Hae Myeong menangis.
“Pergilah.”
Setelah sampai di istana, Yuri menangis.

Hae Myeong membawa Muhyul pergi dengan menaiki perahu menuju ke sebuah gua.
“Hye Ap!” panggil Hae Myeong. “Hye Ap, dimana kau?”
“Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak ingin melihatmu lagi, Pangeran.” terdengar suara seorang gadis.
“Aku ingin meminta bantuanmu.” kata Hae Myeong seraya meletakkan adiknya dengan hati-hati di lantai gua. “Aku akan meninggalkan anak ini disini. Tolong besarkan dan lindungi dia.”
“Siapa anak itu?” tanya Hye Ap, tanpa menunjukkan dirinya.
“Aku tidak bisa memberitahukan padamu. Tapi, nama anak ini adalah Muhyul.” jawab Hae Myeong.
“Jika akan itu menciptakan ikatan antara aku dan kau, aku tidak bisa membantu. Bawa ia pergi.”
“Tidak akan.” ujar Hae Myeong. “Mulai saat ini, aku akan memutuskan segala ikatanku dengan anak ini. Aku tidak akan pernah kembali untuknya. Karena itu, tolong jaga dia.”
Hae Myeong pergi.
Seorang gadis keluar dari dalam gua mendekati Muhyul.

Beberapa tahun kemudian.
Secara tidak sengaja, Mahwang dan Hae Myeong bertemu di Jolbon. . Mahwang memberitahu Hae Myeong mengenai Bayangan Hitam. Bayangan Hitam adalah pasukan rahasia milik Raja Dae So. Pekerjaan mereka adalah membunuh anggota kerajaan negara lain.
“Mungkin ia mereka ada di Jolbon.” ujar Mahwang. “Berhati-hatilah.”
Hae Myeong diam.
Mahwang tersenyum. “Sudah lama sejak Putri Mahkota meninggal.” katanya. “Kenapa kau masih juga lajang? Apakah kau masih belum bisa melupakan Hye Ap?”
Hae Myeong hanya tersenyum.

Hye Ap adalah seorang gadis yang bekerja sebagai kepala pelukis di sebuah gua makam Raja Jumong.
“Muhyul!” teriak salah seorang pekerja. “Maro!”
Tapi orang yang mereka cari tidak bisa ditemukan dimanapun.

Muhyul dan Maro saat itu sedang berada di rumah judi. Mereka melihat perlombaan kura-kura dan berniat ikut bertaruh.
“Apa kau yakin akan melakukannya?” tanya Maro ragu.
“Jangan takut dan ikuti saja perintahku.” kata Muhyul.
Maro dan Muhyul ikut taruhan lomba kura-kura. Muhyul melakukan sedikit kecurangan sehingga kura-kura yang lain lemas sedangkan kura-kura yang ia pertaruhkan selalu menang.
Tanpa sepengetahuan mereka, seorang pria mengawasi gerak-gerik mereka.
“Mereka sudah menang lima kali berturut-turut.” kata anak buah pria itu. “Kita sudah rugi 50 nyang.”
Pria itu tersenyum. “Biarkan saja mereka.”

Dalam perjalanan pulang, Muhyul dan Maro diikuti dan dikejar-kejar oleh seorang pria.
Ketika Muhyul berhasil menangkap pengintai itu, beberapa orang lain datang. Pemimpin mereka adalah pria yang mengawasi Muhyul di rumah judi.
“Berikan itu kembali.” kata pria itu. “Haruskah aku memotong tangan kalian?!”
Muhyul dan Maro menyerahkan kantong uang tersebut.
“Ini tidak cukup.” kata si pemimpin. “Geledah mereka!”
Anak buahnya menggeledah tubuh Muhyul dan Maro. Mereka menemukan sebuah kalung di leher Muhyul. Kalung yang diberikan oleh Seryu. Si pemimpin hendak mengambilnya.
“Tidak, jangan yang ini.” larang Muhyul.
Si pemimpin memukul perut Muhyul hingga Muhyul terjatuh. Muhyul tidak mau menerima begitu saja. Ia berlari dan menerjang si pemimpin, ingin merebut kalungnya kembali. “Berikan!” teriaknya.
Pada akhirnya, Muhyul-lah yang menjadi bahan keroyokan anak buah si pemimpin.
Mendadak Hye Ap datang dan menyelamatkan Muhyul. Dengan mudah, ia berhasil mengalahkan pria-pria itu hingga mereka lari terbirit-birit.

Muhyul dan Maro dibawa kembali ke gua dan dihukum pukul habis-habisan.
“Orang seperti kalian tidak pantas menggambar dinding makan Raja Jumong.” ujar Hye Ap. “Orang yang melakukan kesalahan seperti kalian harus dihukum. Kalian akan dikurung disini sampai pikiran kalian jernih.” Hye Ap berpaling pada para pekerjanya. “Kurung mereka.”
“Jika aku tidak pantas menggambar dinding, bukankah aku hanya perlu berhenti?” tanya Muhyul. “Biarkan kami keluar dari tempat ini.”
“Muhyul! Apa yang kau katakan?!” seru asisten Hye Ap. “Tunggu apa lagi? Cepat bawa mereka!”
“Lepaskan kami!” seru Muhyul. “Aku lebih memilih hidup dengan nasib yang mengerikan diluar dibandingkan dikurung di tempat ini. Aku tidak ingin lagi hidup di sini.”

Muhyul dan Maro dikurung dalam penjara. Muhyul kesal, kemudian mencari cara melarikan diri. Mereka berjalan melewati sungai perlahan-lahan untuk menuju keluar.
Ketika mereka sedang berada dalam perjalanan kabur, mendadak mereka melihat beberapa orang penyusup membunuh para penjaga makam.
“Mmmm… Muhyul…” gumam Maro ketakutan.Muhyul menutup mulutnya agar tidak berisik.
Setelah para penyusup membunuh semua penjaga, mereka masuk ke gua.
“Muhyul, kita harus memperingatkan Kepala Dekorator.” kata Maro.
“Jika kita melakukannya, mereka akan tahu kalau kita mencoba kabur.” ujar Muhyul menolak. “Aku yakin mereka akan mengatasinya. Kita tidak melihat apapun. Mengerti?”
Maro mengangguk dengan berat hati.
“Muhyul, tapi bagaimana jika mereka tidak bisa mengatasinya?” tanya Maro cemas. “Semua orang di gua akan mati!”
Muhyul hendak berjalan pergi.
“Paling tidak kita memberitaku Kepala Dekorator.” bujuk Maro. “Muhyul!”

Akhirnya Muhyul setuju untuk memberi tahu Hye Ap. Mereka segera berlari sekuat tenaga menuju ke rumah Hye Ap.
Setelah menceritakan segalanya, Hye Ap memerintahkan Maro agar mengirimkan pesan ke Benteng Jolbon dan memberikannya pada Pangeran Hae Myeong. “Tunjukkan ini dan mereka akan mengizinkanmu bertemu dengannya.” Hye Ap menyerahkan sebuah papan.
Maro pergi.
Hye Ap mengambil pedangnya dan pergi menuju gua. “Kau, jangan pergi dari sini.” katanya pada Muhyul.

Ketika Hye Ap sampai di gua, semua penjaga depan sudah tewas. Di dalam, terjadi pertarungan. Hye Ap bergegas membantu membunuh pada penyusup itu.
Dengan diam-diam, Muhyul ikut menyusul ke gua. Ia mengintip ketika Hye Ap melawan seorang penyusup dan kalah.
Penyusup itu mengarahkan pedangnya ke leher Hye Ap. “Dimanamakam Jumong?” tanya penyusup itu.
Hye Ap diam.
Dengan perlahan-lahan, Muhyul mengambil sebatang kayu dan memukul penyusup yang mengancam Hye Ap. Tapi, banyak penyusup lain yang datang dan mengarahkan pedang mereka pada Muhyul.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

One comment on “The Kingdom Of The Winds – Episode 02

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s