The Kingdom Of The Winds – Episode 03

Hye Ap dan Muhyul terkepung oleh para penyusup.
Seorang penyusup memukul perut Muhyul dengan keras hingga Muhyul berteriak kesakitan dan berlutut di tanah.
“Jika kau tidak menjawab pertanyaanku, maka aku akan membunuhnya.” ancam pemimpin para penyusup pada Hye Ap. “Dimana makam Jumong?”
“Makan Raja Jumong adalah tempat yang suci.” kata Hye Ap. “Jika kau masuk kesana dengan kekerasan, maka kalian semua akan mati.”
“Kau hanya perlu mengantarku kesana.” kata pemimpin.

Hye Ap terpaksa mengantar para penyusup menuju makan Jumong.
“Setelah kalian memasuki makam, kalian akan menemukan pedang milik Jumong.” kata pemimpin penyusup pada anak buahnya. “Bawa pedang itu padaku.”
“Ya.” Beberapa orang penyusup masuk ke makam Jumong.
Setelah beberapa lama menunggu, penyusup tersebut tidak juga keluar. Dari dalam makam terdengar suara-suara seseorang kesakitan.
“Apa yang terjadi?” tanya pemimpin pada Hye Ap.
“Bukankah aku sudah memperingatkanmu?” tanya Hye Ap. “Jika kau masuk dengan paksa, maka kau akan mati.”
Tiba-tiba seorang penyusup keluar dari makam dalam keadaan sekarat. “Benda aneh… ada di semua tempat…” gumamnya lemah, lalu tewas.
Pemimpin memerintahkan Hye Ap masuk, namun Hye Ap menolak. “Jika kau tidak mau, aku akan memenggalmu.” Ia mengangkat pedang untuk membunuh Hye Ap.
“Tunggu!” seru Muhyul. “Aku akan masuk. Aku akan mengambil pedang itu.”
“Muhyul!” larang Hye Ap. “Jangan melakukan tindakan bodoh.”
“Ketua, aku akan melakukannya.” kata Muhyul bersikeras. “Aku telah menghabiskan hidupku dalam gua ini. Aku tidak mau hidupku sia-sia. Aku harus hidup. Aku harus bertahan hidup dan juga menyelamatkan nyawamu.”

Muhyul masuk ke dalam makam. Ia teringat masa kecilnya dulu saat ia dan Maro masuk ke makam. Di dalam makam itu, Muhyul dan Maro bertemu dengan seorang pria tua penjaga makam. Dialah orang yang memasang jebakan di makam itu untuk melindungi barang keramat peninggalan Raja Jumong.
Perlahan-lahan Muhyul berjalan memasuki makam. Ia memeriksa langkah demi langkah dengan hati-hati. Jika ia salah langkah sedikit, maka jebakan berupa panah akan tertembak ke arahnya.

Di luar, para penyusul menunggu, namun Muhyul tidak juga keluar.
“Sepertinya ia mati.” ujar pemimpin. Ia menarik Hye Ap.
Tiba-tiba beberapa buah anak panah tertembak dan menusuk para penyusup hingga tewas. Hae Myeong dan pasukannya tiba bersama Maro.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hae Myeong pada Hye Ap.
“Ya.” jawab Hye Ap, kelihatan merasa sangat sedih dan terpukul. Ia mengira Muhyul tewas.
“Dimana Muhyul?” tanya Maro.
“Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?” tanya Hae Myeong cemas.
Hye Ap hanya menunduk diam.

Di dalam makam, Muhyul kelelahan, mencoba menghindari jebakan disana-sini. Akhirnya Muhyul tiba di pinggir sebuah jurang. Disana, ada sebuah jembatan kecil yang sudah rapuh, yang menghubungakan kedua tepi jurang.
Dengan perlahan dan hati-hati, Muhyul menapakkan kakinya di atas jembatan tersebut. Ketika Muhyul sampai di tengah jembatan, tiba-tiba sebatang kayu jembatan patah dan tali jembatan terputus. Muhyul berpegangan erat pada tali dan menabrak dinding jurang.
Di seberang dinding, Muhyul bisa melihat lukisan pahatan mengenai sejarah Raja Jumong.
Di mata pahatan seekor kura-kura, ada sebuah tonjolan berwarna hijau.
Dengan susah payah, Muhyul berusaha meraih tonjolan hijau itu.

Muhyul akhirnya berhasil meraih tonjolan itu dan menyentuhnya. Tonjolan itu mengeluarkan cahaya. Benda tersebut jatuh ke dasar jurang, kemudian muncul sebuah jalur batu yang menuju ke ruangan tempat tersimpannya peti dan pedang legendaris milik Raja Jumong.
Muhyul berusaha membuka peti, tapi tidak kuat. Ia melihat pedang legendaris milik Jumong di tengah ruangan, kemudian menyentuhnya.
Pedang tersebut mengeluarkan sebuah cahaya yang sangat terang, menerangi seisi ruangan dan menerangi lukisan sejarah perjuangan Jumong membangun Goguryeo.

Hae Myeong sangat mencemaskan adiknya dan ingin menyusul masuk ke makam. Tapi, Muhyul tiba-tiba muncul dengan membawa pedang Jumong. Hae Myeong menarik napas lega.
Setelah itu, Hae Myeong dan prajuritnya mengindentifikasi para penyusup, Mereka berhasil mengetahui bahwa penyusup tersebut adalah orang-orang BuYeo.

Di BuYeo, Raja Dae So ingin menguji kemampuan prajuritnya dengan melakukan pertarungan. “Jika kau berhasil mengalahkan aku, maka aku akan mengangkatmu menjadi Ketua Pasukan..” katanya pada salah seorang prajurit. “Tapi jika kau kalah, maka aku akan memenggal kepalamu.”
Dae So bertarung dengan prajurit itu. Pertarungan seperti sumo (entah apa namanya). Prajurit berhasil menjatuhkan Dae So di tanah. Dae So tertawa.
Beberapa saat kemudian, seorang pengawal melapor pada Dae So bahwa pemimpin Bayangan Hitam yang dikirim ke Goguryeo telah kembali.

“Bagaimana?” tanya Dae So pada pemimpin.
“Kami gagal.” jawab pemimpin.
“Dan prajuritmu?”
“Mereka semua tewas.”
Dae So marah besar. Ia menarik pedang kemudian membunuh si pemimpin.
“Butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukan makam Jumong.” kata Dae So emosi. “Semua usaha yang kulakukan demi mendapatkan pedang Jumong, apakah hanya kegagalan yang kuhasilkan?! Seberapa besar usaha yang telah kita lakukan untuk menciptakan Bayangan Hitam?! Bagaimana mereka bisa tewas dengan begitu mudah?! Jika kita tidak bisa mendapatkan pedang Jumong, maka aku akan berperang dengan Goguryeo!”

Yuri memiliki seorang Ratu baru bernama Ratu Mi Yoo dan seorang putra bernama Yeo Jin.
“Yeo Jin, ambil pedangmu.” perintah Yuri. “Aku ingin menguji sejauh apa perkembangan kemampuan bela dirimu. Ambil pedang yang kuberikan padamu.”
Yeo Jin terlihat terkejut.
“Apa lagi yang kau tunggu?” tanya Ratu Mi Yoo. “Cepat ambil pedangmu.”
“Pedang yang Yang Mulia berikan tidak ada lagi padaku.” kata Yeo Jin.
“Tidak ada padamu?” tanya Yuri. “Apa kau menghilangkannya?”
“Aku tidak punya bakat dalam bela diri.” kata Yeo Jin takut-takut. “Latihan seperti apapun tidak akan membuatku pandai bela diri. Jadi, aku memberikan pedang itu pada ketua pandai besi, kemudian membuat sesuatu yang kuinginkan.”
“Bagaimana bisa seorang Pangeran Goguryeo meremehkan pedangnya sendiri?!” tanya Yuri marah. “Aku sudah mengatakan padamu bahwa kau harus menjaga pedang itu dengan nyawamu!”
Yeo Jin mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya. Sebuah perhiasan. “Aku membuatnya sendiri, Yang Mulia.” katanya. “Aku memberikan pedang pada ketua pandai besi, lalu belajar bagaimana caranya membuat perhiasan.”
Yuri diam sejenak, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Dengan kemampuan seperti ini, kau bisa menjadi ketua pandai besi.” katanya memuji.
“Jika Yang Mulia mengizinkan, aku akan masuk ke bengkel sebagai penerus.” kata Yeo Jin bersemangat. “Aku akan membuat alat-alat untuk ritual.”
“Omong kosong!” Mi Yoo memarahi putranya. “Yang Mulia, berilah Yeo Jin kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.”
Yuri tersenyum. “Jika kau mau, kau bisa masuk ke bengkel dan membuat alat-alat ritual kita. Itu juga pekerjaan yang sangat berharga.”
Yeo Jin sangat senang. “Aku akan berusaha sekuat tenaga.” katanya.
Ketika Mi Yoo dan Yeo Jin berjalan pergi, Mi Yoo memarahi putranya. Ia memerintahkan putranya untuk menunjukkan kemampuan agar bisa menjadi Putra Mahkota jika Hae Myeong mati.

Seorang prajurit Jolbon bernama Gwi Yoo, memerintahkan anak buahnya agar berjaga di sekitar gua.
“Apa hubungan Kepala Dekorator dengan Pangeran Hae Myeong?” tanya Gwi Yoo penasaran pada pengawal kepercayaan Hae Myeong.
“Kepala Dekorator Hye Ap adalah pendamping Pangeran Dojeol.” jawab pengawal. Pangeran Dojeol adalah putra pertama Yuri dan kakak Hae Myeong yang sudah meninggal. “Setelah Pangeran Dojeol meninggal, ia akan dikuburkan bersamanya, tapi Pangeran menyelamatkannya. Karena itulah Pangeran dituduh mencintai kekasih kakaknya sendiri.”
Gwi Yoo tersenyum. “Bukankah mereka saling menyukai?”

Walaupun Hye Ap dan Hae Myeong saling mencintai, namun Hye Ap berusaha menjauh dari Hae Myeong. Ia merasa bersalah karena telah menyebabkan Hae Myeong mendapat penghinaan. Hye Ap tidak mau lagi menyusahkan Hae Myeong.
“Ada yang ingin kutanyakan.” kata Hye Ap. “Siapa sebenarnya Muhyul? Dia berhasil melewati jebakan di makam dan membawa pedang legendaris. Aku tahu ia bukan orang biasa. Siapa muhyul? Apa hubungannya denganmu?”
“Aku tidak bisa memberitahu apapun padamu.” jawab Hae Myeong.
“Kurasa aku tidak bisa lagi menahan Muhyul.” kata Hye Ap. “Dia ingin melihat dunia. Aku tidak bisa lagi mengentikannya. Mulai saat ini, aku akan menyerahkan dia padamu.”

Hye Ap menyuruh Muhyul dan Maro pergi dari gua dan menuju ke markas pasukan Jolbon.
“Mulai sekarang, mereka akan menjadi prajurit Jolbon.” kata Hae Myeong pada Gwi Yoo. “Aku akan mempercayakan mereka padamu. Buatlah mereka menjadi prajurit yang kuat.”

Dengan sikap semena-mena, Gwe Yoo memerintahkan Maro dan Muhyul menyerangnya dengan pedang sungguhan.
“Kau harus bisa membunuhku.” kata Gwe Yoo. “Jika tidak, aku yang akan membunuh kalian. Mulai.”
Maro dan Muhyul ragu.
Gwe Yoo menarik napas dalam-dalam. “Jika kalian tidak maju, maka aku yang akan maju lebih dulu.”
Gwe Yoo menyerang Maro dan Muhyul. Dengan beberapa gerakan saja, Gwe Yoo sudah berhasil menjatuhkan mereka.
“Bawa mereka ke kandang kuda.” perintah Gwe Yoo pada anak buahnya.

Muhyul dan Maro bekerja di kandang kuda, setelah itu mereka disuruh mencuci pakaian di sungai.
Maro mengeluh dan marah-marah. Ia mengajak Muhyul kembali ke gua, namun Muhyul menolak.
“Ada sesuatu yang harus kulakukan disini.” kata Muhyul. “Pertama-tama, aku ingin mengalahkan Gwe Yoo. Hanya itu yang kupikirkan saat ini.”

Ketika Muhyul dan Maro berjalan di kota, mereka melihat Chu Bal So dan anak buahnya masuk ke rumah judi. Muhyul bertekad mendapatkan kalungnya kembali.
Maro ketakutan. Tapi disisi lain rumah judi, Muhyul melihat Gwe Yoo. Gwe Yoo melambaikan tangan dan tersenyum pada mereka.
“Ayo!” ujar Maro, berjalan mendatangi Chu Bal So dan anak buahnya.
“Kembalikan kalungku.” kata Muhyul.
“Ini?” tanya Chul Bal So. “Datang dan ambillah.”
Muhyul dan Maro bertarung melawan anak buah Chu Bal So. Mereka berdua dikeroyok habis-habisan. Gwe Yoo sama sekali tidak membantu.

Malamnya, dalam kondisi babak-belur, Muhyul dan Maro mendatangi kamar Gwe Yoo.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Muhyul. “Bukankah kau berjanji akan membantu kami?”
“Benar, tapi aku tidak tahu bahwa mereka adalah preman jalanan.” kata Gwe Yoo acuh. “Aku tidak akan menjatuhkan harga diriku dengan melawan mereka.”
Muhyul sangat marah. Ia mengalbil sebuah tombak dan ingin menusuk Gwe Yoo. Namun tetap saja Muhyul tidak bisa menandingi Gwe Yoo.
Gwe Yoo mencekik leher Muhyul. “Benar, pandangan itulah yang kucari.” katanya. “Karena aku sudah melihat apa yang ingin kulihat, maka aku akan memulai latihanmu besok.”

Ketika Hae Myeong tiba di ibukota, ia melihat adiknya, Seryu, sedang membeli sebuah busur di kota. Mereka kembali ke istana bersama-sama.

Setelah Hae Myeong menceritakan segalanya pada Yuri, Yuri memanggil seseorang bernama Bae Geuk. Bae Geuk adalah putra angkat Sangga dari klan Biryu. Yuri sangat mempercayai pria itu dan mengangkatnya menjadi Ubo, orang tertinggi yang mengontrol militer kerajaan.
“Yang Mulia bahkan membicarakan masalah penting negara dengan Bae Geuk.” kata Goo Chul pada Hae Myeong.
Hae Myeong terkejut dan khawatir.

Ketika Yuri dan Bae Geuk sedang berunding, Tae Cheon masuk dan melapor bahwa seorang utusan dari BuYeo tiba. Utusan tersebut adalah Sa Goo, orang kepercayaan Dae So.
Sa Goo menyerahkan sebuah surat dari Dae So pada Yuri.
“Yang Mulia Dae So ingin memperkuat ikatan persahabatan diantara negara kita.” kata Sa Goo. “Ia mengundang Raja Goguryeo untuk datang ke BuYeo.”
“Lancang!” teriak Goo Chun. “Memanggil Yang Mulia Raja?!”
“Hanya ada satu penguasa di wilayah utara dan itu adalah Yang Mulia Dae So!” seru Sa Goo. “Temui Yang Mulia dan terima BuYeo sebagai negara sekutu. Demi Goguryeo.”

Perdebatan intern terjadi. Antara pendapat yang setuju Yuri pergi ke BuYeo dan pendapat tidak setuju. Bae Geuk setuju, sementara Hae Myeong dan Goo Chul tidak setuju.
Yuri memutuskan untuk pergi memenuhi panggilan Dae So.
Hae Myeong menoleh tajam pada Bae Geuk.

Yuri memenuhi undangan Dae So agar datang ke BuYeo. Yuri datang bersama Goo Chul, Tae Cheon dan Bae Geuk.
Yuri dan Dae So berbincang berdua.
“Aku tumbuh bersama Jumong dan menganggapnya saudara.” kata Dae So. “Kau boleh memanggilku paman mulai saat ini. Aku seperti berhasil menemukan keponakanku yang hilang.”
Yuri tersenyum tipis.
“Kudengar, saat Jumong meninggal, seekor naga kuning muncul.” kata Dae So. “Apakah itu benar?”
“Itu hanya cerita yang dikarang oleh rakyat.” jawab Yuri.
Percakapan berlangsung. Yuri mengatakan bahwa Goguryeo akan menerima BuYeo sebagai negara sekutu.
“Bagaimana aku bisa mempercayai ucapan putra Jumong?” tanya Dae So.
Untuk membuktikan kata-katanya, Yuri bersujud di hadapan Dae So. Dae So tersenyum licik.

Gwi Yoo menantang para prajuritnya untuk bertarung. Semuanya diam, tidak ada yang bersedia.
Muhyul berdiri, menerima tantangan Gwe Yoo. “Apakah pertarungan kita sungguh-sungguh?” tanya Muhyul.
“Ya.” jawab Gwe Yoo. “Pilihlah senjatamu. Pedang, tombak, apapun boleh.”
Mendadak, Muhyul melempar segenggam bubuk ke wajah Gwe Yoo. Gwe Yoo terkejut, menutupi matanya.
Dengan cepat, Muhyul menyerang Gwe Yoo dan memukulinya habis-habisan.
Muhyul berteriak senang. Semua prajurit bersorak.
Dari jauh, Hae Myeong menonton dan tertawa.

Gwe Yoo mengirim Maro dan Muhyul ke benteng depan, perbatasan antara BuYeo dan Goguryeo untuk membawa beberapa barang.
“Mana lemak babinya?” tanya Gwe Yoo, memeriksa barang-barang yang dibawa Muhyul dan Maro. “Bagaimana kalian bisa menyalakan api hanya dengan kayu bakar?”
“Kami hanya membawa apa yang mereka beri pada kami.” kata Maro membela diri.
Gwe Yoo tidak mau mendengar alasan. Ia memerintahkan Maro dan Muhyul kembali untuk mengambil lemak babi.

Di tengah perjalanan, secara tidak sengaja Muhyul melihat Chu Bal So dan anak buahnya berjalan menuju ke luar perbatasan. Muhyul mengikuti mereka.
Rupanya Chu Bal So dan anak buahnya melakukan perdagangan gelap. Muhyul berjalan perlahan-lahan mendekati mereka.
“Muhyul!” panggil Maro ketakutan, tidak mengikuti Muhyul.
“Kalungku!” Muhyul meminta kalungnya lagi pada Chu Bal So.
Karena Muhyul telah melihat Chu Bal So melakukan perdagangan gelap, ia memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Muhyul.
Ketika Muhyul dan anak buah Chu Bal So sedang bertarung, beberapa orang prajurit BuYeo muncul dan mengepung mereka.
Maro ketakutan dan melapor pada Gwe Yoo.

“Siapkan pasukan!” perintah Hae Myeong cemas. “Mereka akan dituduh sebagai mata-mata dan dihukum mati.”

Muhyul disiksa habis-habisan oleh prajurit BuYeo.
Setelah para prajurit pergi, seorang gadis masuk ke tenda tawanan. Gadis itu melihat para tawanan yang terluka satu per satu.
“Hei.” panggil gadis itu pada Muhyul. “Bangun.”
Muhyul membuka matanya dan terkejut melihat ada seorang gadis cantik dihadapannya.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com
Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s