The Kingdom Of The Winds – Episode 04

Muhyul membuka matanya sedikit dan dengan samar-samar melihat seorang gadis sedang mengobati lukanya. Gadis tersebut bernama Yeon.

Di pihak lain, Hae Myeong dan beberapa pengawalnya termasuk Gwi Yoo mengendarai kuda mereka menuju perbatasan.
“Jika kita melewati perbatasan, maka kita tidak akan bisa kembali.” kata pengawal Hae Myeong memperingatkan. “Tidakkah kau tahu bahwa semua Kepala Klan di ibu kota tidak akan mendengar menjelasanmu terlebih dahulu sebelum menjatuhkanmu? Ini bisa menjadi senjata mereka untuk merencanakan hal buruk.”
“Cukup.” ujar Hae Myeong, menyuruh pengawalnya diam.
“Pangeran, kau sudah memutus ikatanmu dengannya sejak lama!”
“Kita akan mengambil jalan pintas melewati Gunung Cheonma.” kata Hae Myeong, seakan tidak mendengar peringatan pengawalnya.

Muhyul dan yang lainnya diseret keluar dari tenda.
“Penggal mereka!” perintah kepala prajurit.
Para prajurit mengeluarkan pedang mereka.
“Berhenti!” teriak Muhyul lantang. “Aku adalah mata-mata. Orang-orang ini tidak ada hubungannya denganku. Ampuni mereka. Membunuh warga tidak berdosa tidak pantas dilakukan oleh kerajaan seperti BuYeo.”
“Aku tidak peduli.” kata prajurit. “Fakta yang paling penting adalah bahwa kalian telah melewati perbatasan. Kalian adalah alasan yang cukup bagi BuYeo untuk menyerang Goguryeo. Penggal mereka!”
Mendadak seorang prajurit datang dan melapor bahwa pasukan musuh menyerang. Muhyul, Chu Bal So dan yang lainnya memanfaatkan kesempatan ini untuk membebaskan diri.
“Ini.” kata Chu Bal So seraya menyerahkan kalung pemberian Seryu, kemudian melarikan diri bersama teman-temannya.

Muhyul berlari ke medan perang. Hae Myeong, Gwi Yoo, Maro dan beberapa prajurit Goguryeo menyerang perkemahan perbatasan itu.
Hae Myeong bertarung melawan prajurit BuYeo. Ketika seorang prajurit hendak menusuknya dari belakang, Muhyul melempar tombak para prajurit tersebut dan menyelamatkan nyawa Hae Myeong.

Di istana BuYeo, Dae So mengumumkan bahwa Yuri kini telah menjadi keponakannya. BuYeo dan Goguryeo akan menjadi negara saudara. Dae So menantang Yuri untuk berduel. Yuri setuju.
Pertarungan berlangsung dan diakhiri dengan kemenangan di pihak Dae So.
Dae So tertawa. “Kau telah mengalah pada pria tua ini.” katanya.
Beberapa saat kemudian, Sa Goo, orang kepercayaan Dae So, membisikkan sesuatu. Dae So lalu menoleh marah pada Yuri.
“Kurung Raja Yuri dan semua pengikutnya!” perintah Dae So pada prajuritnya.
Yuri terkejut dan bingung.

Sa Goo menyarankan agar BuYeo menghukum dan menyatakan perang pada Goguryeo sementara Tak Rok, Ketua Bayangan Hitam, menyarankan agar Dae So mengusut kebenaran dibalik masalah ini.
“Kenapa Raja Yuri melakukan tindakan seperti itu selagi ia berada di BuYeo?” tanya Tak Rok. “Pasti ada alasan yang bahkan Raja Yuri tidak mengetahuinya.”
“Yang perlu kita lakukan hanyalah membunuh Raja Yuri dan membuat perhitungan dengan Pangeran Hae Myeong.” kata Sa Goo. “Yang Mulia, kita harus membunuh Raja Yuri dan memulai perang.”
Dae So diam, belum mengambil keputusan.

Muhyul dibawa kembali ke Benteng Jolbon. Ia dan Maro berlutut di tengah lapangan, dihukum oleh Gwi Yoo.
“Bawa mereka kembali ke gua.” perintah Hae Myeong pada Gwi Yoo. “Rahasiakan kejadian kemarin dari pasukan.”

Atas perintah Hae Myeong, Gwi Yoo membawa Muhyul kembali ke gua.
“Aku akan menerima hukuman apapun, tapi tolong biarkan kami tetap di Jolbon!” kata Muhyul. “Aku tidak ingin kembali ke gua.”
Gwi Yoo menampar wajah Muhyul hingga terhempas ke tahah. “Kau masih tidak sadar masalah apa yang kalian sebabkan? Karena kalian, BuYeo dan Goguryeo terancam berperang. Kami bahkan tidak bisa melindungi Yang Mulia. Ia sedang berada di istana BuYeo, tapi kami menyerang perbatasan BuYeo! Kau pikir Raja Dae So akan membiarkan Yang Mulia hidup?! Aku tidak mengerti kenapa Pangeran mengampuni nyawamu, tapi jika kau ingin hidup, kembalilah ke gua dengan tenang.”
Muhyul merasa sangat bersalah.

Dae So memanggil Yuri.
“Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan kepercayaanmu?” tanya Yuri.
“Aku percaya padamu.” kata Dae So pelan.
“Lalu, apa alasan kau mengurungku?” tanya Yuri. “Apa aku melakukan kesalahan?”
“Kau tidak mendidik putramu dengan baik.” kata Dae So. “Pangeran Hae Myoeng menyerang kemah pertahanan di perbatasan kami.”
Yuri terkejut. “Itu tidak mungkin.” katanya.
“Aku juga tidak percaya.” ujar Dae So. “Tapi aku sudah memeriksanya lebih dari sekali dan itu benar. Kenapa putramu melakukan itu sementara ayahnya berada di BuYeo? Apa ia menginginkan kau mati? Apa anak itu mengincar tahtamu?”
Dae So memutuskan untuk mengampuni Yuri, tapi Yuri harus memperingatkan Hae Myeong. Jika Hae Myeong melakukan kesalahan sesperti itu lagi, maka ia akan membunuh Hae Myeong di depan mata ayahnya sendiri.

Muhyul sangat bingung dan penasaran kenapa Hae Myeong mau menyelamatkan orang biasa seperti dirinya dan menyebabkan resiko terjadi perang. Ia bertanya pada Hye Ap.
“Pangeran Hae Myeong yang kutahu sanggup melakukan itu.” jawab Hye Ap. “Ia akan melakukan melakukan apapun, termasuk menyelamatkan tumbuhan yang tidak berakar. Ia tidak akan membiarkan prajuritnya mati.”
Muhyul tidak percaya. Ia telah melanggar aturan dengan melewati perbatasan, tapi kenepa Hae Myeong tetap menyelamatkannya? “Kenapa aku mendapatkan perlakukan khusus?” tanyanya.
“Jika saatnya tepat, tanyakan sendiri padanya.” jawab Hye Ap.

Yuri datang ke Jolbon untuk menemui Hae Myeong. Tanpa berkata apa-apa, Yuri menampar wajah Hae Myeong di depan seluruh prajurit berkali-kali.
“Apapun hukumanku, aku akan menerimanya.” kata Hae Myeong, menolak menjelaskan alasannya menyerang perbatasan BuYeo.
Bagaimanapun Yuri bertanya, Hae Myeong tetap tutup mulut. Yuri marah dan mengeluarkan pedangnya. “Katakan padaku!” teriaknya emosi.
Hae Myeong tetap diam, tidak gentar sama sekali. Yuri menjatuhkan pedangnya.

Sebagai hukuman atas kesalahan Hae Myeong, Yuri menarik semua kekuasaan Hae Myeong atas Jolbon dan menarik semua kekuasaan Hae Myeong sebagai Putra Mahkota.
Semua orang terkejut dan memohon Yuri memaafkan Hae Myeong. Hae Myeong tetap diam, tidak bereaksi sama sekali.
“Aku akan melaksanakan perintahmu, Yang Mulia.” ujar Hae Myeong.
Yuri kemudian menyerahkan kekuasaan Jolbon pada Bae Geuk. Sebelum kembali ke Gungnae, ia ingin mengunjungi makam ayahnya, Jumong.
Tidak masalah bagi Hae Myeong apapun hukuman yang diperolehnya asalkan ia sudah menyelamatkan nyawa adiknya.

Muhyul melukis di gua. Ia melukis gadis yang telah mengobati lukanya di perkemahan perbatasan BuYeo.
Maro datang. Muhyul buru-buru menyembunyikan hasil lukisannya. “Yang Mulia datang ke gua.” katanya.

Yuri melihat lukisan di dinding makam Jumong dengan seksama.
Setelah itu, Yuri keluar untuk menemui para pelukis. “Siapa yang melukis gambar di dinding makam?” tanyanya pada Hye Ap.
Hye Ap meminta Muhyul maju.
“Kau mampu menggambar lukisan dinding yang menakjubkan pada umur semuda ini.” kata Yuri. “Kemampuanmu sangat luar biasa.”
Hae Myeong mendongak menatap ayahnya.

Setelah itu, Yuri pergi. Goo Chul bertanya apakah Yuri ingin mengunjungi makam Ratu juga. Tapi Yuri menolak. “Jika aku mengunjunginya lagi, bukankah akan membuka luka lama?” tanyanya sedih.
Yuri meminta pengawalnya meninggalkan ia dan Hae Myeong.
“Apakah kau tahu mengenai anak itu?” tanya Yuri.
“Maksudmu, Muhyul?” tanya Hae Myeong. “Saat itu, aku meninggalkannya pada sepasang petani.”
“Kau tidak mencarinya lagi setelah itu?” tanya Yuri.
“Ketika aku kembali ke sana, aku tidak bisa menemukan siapapun.” jawab Hae Myeong berbohong. “Jika kau ingin bertemu dengannya, aku akan mencarinya.”
“Tidak perlu.” jawab Yuri sedih. “Jika aku bertemu dengannya, apa yang akan kulakukan? Ini adalah takdir, aku harus melupakannya.”
Yuri berbalik memang Hae Myeong. “Aku ingin membuatmu menjadi penerus Goguryeo yang hebat.” katanya. “Alasanku melepaskan semua kekuasanmu adalah untuk melindungimu. Jaga dirimu baik-baik.”

Hae Myeong dan Baek Geuk berkeliling Jolbon. Yuri meminta putranya untuk membantu Baek Geuk mengenal Jolbon.
“Apa keberadaanku di Jolbon mengganggumu?” tanya Hae Myeong. “Aku suka tinggal disini. Aku lahir disini dan kenangan masa kecilku ada disini.”
“Kau harus mengingat satu hal.” kata Baek Geuk. “Kekuasaan benteng Jolbon ada padaku. Kau tidak bisa melewati perbatasan dan menyebabkan keributan lagi seperti yang kau lakukan kemarin.”
“Aku mengerti.” kata Hae Myeong. “Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku ingin melakukan perjalanan ke negara tetangga dan mempelajari keadaan mereka.”

Gwi Yoo dan Hae Myeong datang ke gua untuk menemui Muhyul dan Maro.
“Ikuti aku.” perintah Hae Myeong, berjalan mendahului.
“Karena kalian, ia kehilangan semua kekuasaannya di Jolbon dan kekuasannya sebagai Putra Mahkota.” kata Gwi Yoo. “Apa lagi yang akan kalian dapatkan selain hukuman? Ikut aku!”
Maro ketakutan.

“Tidakkah mengajaknya hanya akan menyusahkanmu?” tanya Hye Ap cemas. “Ia telah menyebabkan banyak masalah untukmu.”
“Ia telah membuatku bebas dari tugas sebagai Putra Mahkota.” kata Hae Myeong. “Ini bukanlah hukuman, tapi hadiah.”
Hye Ap terdiam.
“Aku ingin mengajak Muhyul melihat dunia.” kata Hae Myeong pada Hye Ap. “Sejak lahir, ia hanya bisa melihat gua. Melakukan perjalanan keluar akan menjadi hadiah yang besar untuknya.”

Hae Myeong, Muhyul, Maro dan Gwi Yoo melakukan perjalanan dan bermalam di tengah hutan. Hae Myeong ingin mengajak mereka ke BuYeo.
“Aku ingin melihat negara musuh dari dalam.” kata Hae Myeong. Ia menatap Muhyul, yang kelihatan sangat terkejut. “Apa kau takut?”
“Tidak.” jawab Muhyul. “Aku juga ingin melihatnya sendiri.”
“Karena kita berkeliling dengan menyamar, maka kalian tidak perlu memanggilku Pangeran.” kata Hae Hyeong. “Panggil aku kakak. Cobalah.”
“Kami tidak pantas menyebut Pangeran ‘kakak’.” kata Maro.
Hae Myeong tersenyum. “Tidak apa-apa. ” katanya. “Coba katakan.”
“Ka… Kakak.” ujar Muhyul ragu.
Hae Myeong tersenyum. “Kedengarannya sangat bagus.” katanya sedih.

Muhyul dan Hae Myeong tidak bisa tidur. Mereka berbincang.
“Kenapa kau menyelamatkan orang sepertiku?” tanya Muhyul. “Aku sungguh tidak mengerti.”
“Aku adalah Putra Mahkota.” kata Hae Myeong. “Semua rakyatku seperti anakku sendiri. Jika ayah menyelamatkan anaknya, apakah butuh alasan? Apakah kau tahu wilayah moyang?”
“Tidak.” jawab Muhyul.
“Seperti yang kau gambar di dinding. Itu adalah negara dimana ayah Raja Jumong (Hae Mo Su), hidup.” kata Hae Myeong. “Impian Raja Jumong adalah merebut kembali wilayah moyang yang hilang (GoJoSeon). Saat ini Goguryeo mengalami masalah dengan BuYeo, tapi impianku adalah… suatu saat nanti aku ingin mengembalikan wilayah moyang kita.”
Hae Myeong menatap Muhyul. “Aku berharap, kau dan aku bisa mewujudkan mimpi itu bersama.”
Muhyul berlutut di hadapan Hae Myeong, “Pangeran, kau telah menyelamatkan nyawaku. Aku berharap bisa membantumu mewujudkan impianmu.”
Hae Myeong menyentuh pundak Muhyuk. “Ingatlah ini baik-baik. Apa yang ingin kita ambil, adalah wilayah moyang kita.” katanya.

Hae Myeong dan yang lainnya tiba di BuYeo. Tanpa sengaja, Muhyul melihat Yeon dan berlari mengejarnya. Namun sayang ia kehilangan jejak Yeon.
Gwi Yoo memarahi Muhyul. “Jangan mengundang perhatian!” omelnya.

Hae Myeong menemui Mahwang yang sedang menjadi peserta lelang budak. Ia meminta bantuan Mahwang agar bisa menyusup ke markas Bayangan Hitam.
“Lebih baik bunuh aku saja.” kata Mahwang.
“Ketika aku jadi raja, semua hak pasar akan dipegang oleh Klan Biryu.” kata Hae Myeong. “Aku akan memindahkannya ke tanganmu. Bagaimana?”
Dengan sogokan itu, akhirnya Mahwang setuju.

Mahwang membantu Hae Myeong dan Gwi Yoo menyusup ke markas Bayangan Hitam dengan menyamar sebagai pedagang.

Ketika Muhyul dan Maro sedang berlatih, tanpa sengaja Mahwang melihat kalung Muhyul.
“Bagaimana ini bisa ada padamu?” tanyanya.
“Ini diberikan oleh orang tuaku.” jawab Muhyul.

Gwi Yoo dan Hae Myeong berhasil masuk ke markas Bayangan Hitam. Para prajurit Bayangan hitam dilatih dengan sangat keras. Untuk menguji efek racun yang mereka buat, mereka menggunakan para tawanan sebagai kelinci percobaan.
Hae Myeong mengintip. Ada salah seorang anggota Bayangan Hitam yang sangat pandai dan mencolok. Orang itu bernama Do Jin.

Tiba-tiba, budak yang dibeli Mahwang mencoba bunuh diri dengan menggunakan racun Seorang tabib datang bersama Yeon untuk mengobati si budak. Muhyul mengintip dari pintu.
Ketika Yeon berjalan pergi, Muhyul mengikutinya.

Yeon bekerja sebagai perawat disebuah klinik pengobatan.
“Selanjutnya.” ujar Yeon, memanggil pasiennya.
Muhyul datang berlari-lari.
Yeon melihatnya. “Apa yang sakit?” tanyanya.
Muhyul menunjuk dadanya. “Disini sakit.” katanya.
Mendadak beberapa orang prajurit datang untuk menjemput Yeon. “Nona, kami akan mengantarmu pulang. Kami diperintahkan untuk memaksamu jika kau menolak.”
“Aku mengerti.” kata Yeon. “Aku akan ikut denganmu.”

Para prajurit itu mengawal Yeon pulang. Muhyul mengikuti mereka dari belakang.
Dengan tiba-tiba, Muhyul menyerang para prajurit dan menggandeng Yeon melarikan diri.
Muhyul mengajak Yeon bersembunyi. Tanpa berkata apa-apa, Yeon menampar wajah Muhyul , kemudian berjalan pergi dengan marah. Muhyul bingung.

Yeon adalah putri Tak Rok, pemimpin Bayangan Hitam. Ia dan ayahnya berkunjung ke istana untuk bertemu dengan Dae So. Karena Dae So tidak memiliki keturunan, maka BuYeo menganggap Yeon sebagai seorang Putri.

Muhyul berjalan di kota. Para prajurit yang tadi mengantar Yeon mengejar dan mengepungnya.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s