The Kingdom Of The Winds – Episode 05

Muhyul terkepung, kemudian dikurung dalam penjara.

Setelah berbincang dengan Dae So, Yeon berkata pada ayahnya bahwa ia melihat bayangan awan di mata Dae So. “Mungkin ada sesuatu yang menganggunya.”
“Para tabib sangat berhati-hati terhadap apapun yang dimakan dan diminum Raja.” kata Tak Rok. “Dan ia memiliki ratusan pengawal yang melindunginya. Jangan cemas.”
Tapi Yeon kelihatan ragu.

Untuk menjaga kesehatan dan memperpanjang umurnya, Dae So setiap kali berendam dengan ramuan-ramuan tertentu. Namun ada seorang pelayan wanita Dae So yang kelihatan mencurigakan.

Muhyul duduk diam di penjara. Ia melihat seorang tahanan merintih kesakitan, kemudian mendekatinya. Tahanan itu mendadak mencekik leher Muhyul.
Pria tahanan itu menyerahkan sebuah kain bertuliskan sesuatu. “Di pasar BuYeo, temukan seorang pria bernama Seong Baek dan berikan ini padanya.”
“Bagaimana aku memberikan ini padanya?” tanya Muhyul.
Belum sempat menjawab pertanyaan Muhyul, pria itu tewas.

“Bagaimana?” tanya Tak Rok pada anak buahnya. “Apa ia mengaku?”
“Ia tewas.”
“Kau membunuhnya sebelum ia memberi kita informasi?!” Tak Rok berkata marah, kemudian berjalan pergi.
Pria yang tewas tersebut merupakan mata-mata yang berhasil ditangkap di Hwangnyong.

Muhyul dibawa untuk menghadap Yeon. Yeon meminta para pengawalnya pergi agar ia bisa bicara berdua dengan Muhyul.
“Saat itu, kau mengenakan seragam Goguryeo.” ujar Yeon. “Kenapa seorang prajurit Goguryeo ada di BuYeo? Apa kau mata-mata?”
“Bukan.” jawab Muhyul. “Saat kau pertama melihatku, aku memang prajurit Goguryeo. Tapi mereka mengejarku karena melewati perbatasan, jadi aku lari ke BuYeo. Aku tanpa sengaja melihatmu. Kupikir mereka menangkapmu. Maafkan atas kelancanganku.”
“Apa kau tinggal di suatu tempat di BuYeo?” tanya Yeon. “Disini adalah kediaman Tuan Tak Rok. Aku bertanggung jawab untuk mengobatinya, jadi hubungan kami dekat.” Yeon berbohong. “Jika aku bicara dengannya, ia akan membantumu menetap di BuYeo.”
“Tidak perlu.” jawab Muhyul. “Aku tinggal bersama seorang pedagang yang kukenal dari Goguryeo. Aku hanya meminta agar kau mengizinkanku pergi dari sini.”
“Baiklah.” ujar Yeon setuju. “Jika kau butuh bantuanku, datanglah ke balai pengobatan.”

Akhirnya Hae Myeong dan Gwi Yoo kembali ke kediaman Mahwang.
“Mereka menangkap orang dan menguji racun mematikan padanya.” kata Hae Myeong iba.
“Aku mendengar desas-desus bahwa Raja Hwangnyong juga dibunuh oleh Bayangan Hitam.” kata Mahwang.
“Aku harus menemukan kemana Raja Dae So akan pergi.” kata Hae Myeong. “Aku butuh kau untuk mencari tahu kapan ia pergi dan kemana tujuannya.”
“Melakukan apa?!” seru Mahwang shock. “Apa?!”
“Ya, tebakanmu benar.” kata Hae Myeong. “Jika kita tidak bisa membunuh Raja Dae So sekarang, maka Goguryeo akan selalu berada dalam tekanan mereka.”
“Jumlah pengawal yang melindungi Raja Dae So sangat banyak.” kata Mahwang. “Bagaimana kau bisa membunuhnya?”
“Jika kita melihat jadwal kegiatannya, kita pasti bisa menemukan titik kelemahannya.” kata Hae Myeong yakin.

Muhyul berpikir di kamarnya, mengingat tahanan yang ditemuinya di penjara.
“Aku datang dari Hwangnyong untuk membunuh Raja Dae So.” kata tahanan itu.
“Bukankah Hwangnyong dan BuYeo bersekutu?” tanya Muhyul.
“Raja kami saat ini menduduki tahta karena konspirasi Raja Dae So.” jawab tahanan itu, mencoba bicara dalam keadaan sekarat. “Aku mengabdi pada Yang Mulia sebelumnya sampai kematiannya sebagai Kepala Keamanan.”
Muhyul membuka surat pemberian tahanan. Disana tertulis sesuatu dengan menggunakan kalimat yang maknanya sama sekali tidak dimengerti oleh Muhyul.
“Seseorang dengan kaki yang berada di bawah mulut, seseorang dengan kaki yang berada di bawah mata, seseorang dengan kaki yang berada dibawah mahkota sedang bergerak secara rahasia.”

Keesokkan harinya, Muhyul, dengan bantuan Ma Ro, mencari seorang pedagang bernama Seong Baek. Muhyul mendekatinya dan hendak memberikan surat tersebut, namun mendadak prajurit BuYeo dibawah pimpinan Tak Rok datang dan menangkap Seong Baek.
Muhyul mencoba kabur diam-diam, namun salah seorang prajurit melihatnya. “Tangkap orang itu!”
Para prajurit BuYeo mengejar Muhyul dan Maro. Dalam pelarian mereka, Hae Myeong dan Gwo Yoo melihat. Mereka berdua bergegas membantu dan bertarung melawan prajurit.

Pelayan wanita yang bertugas menuangkan ramuan obat pada bak mandi Dae So memasukkan racun. Sayang sekali usahanya tersebut diketahui oleh Tak Rok. Tanpa pikir panjang, wanita tersebut meminum racun untuk bunuh diri. Wanita itu tewas.
Sama seperti Seong Baek, Wanita tersebut juga berasal dari Hwangnyong.
Karena kejadian tersebut, Dae So memerintahkan semua prajuritnya untuk memeriksa pedagang dan barang-barang yang diperdagangkan.

“Pangeran, kau harus segera pergi dari sini!” seru Mahwang pada Hae Myeong. “Jika kau tertangkap disini, aku juga akan terkena imbasnya.”
Tidak lama kemudian, para prajurit BuYeo tiba di kediaman Mahwang. Hae Myeong dan yang lainnya mencoba kabur secepat mungkin dan meninggalkan kota.

Ketika Hae Myeong dan yang lainnya beristirahat di pinggir hutan, mereka melihat para prajurit BuYeo membawa dan memukuli warga Goguryeo dengan sadis. Warga itu adalah upeti prosesi yang diserahkan Goguryeo untuk BuYeo.
Muhyul bangkit hendak menyerang, namun Gwi Yoo menahannya. “Jika mereka tidak diselamatkan, mereka akan mati!” seru Muhyul.
“Ini wilayah BuYeo.” ujar Gwi Yoo. “Walaupun mereka warga Goguryeo, kau tidak boleh bertindak sembarangan.” Gwi Yoo menatap Hae Myeong, meminta dukungan.
Hae Myeong diam sesaat. “Aku akan menyelamatkan orang-orang itu.” katanya. “Jika seorang putra mahkota tidak peduli, tidakkah hal itu sangat memalukan?”
Muhyul menatap Hae Myeong dengan kagum.

Malamnya, Hae Myeong, Muhyul, Ma Ro dan Gwi Yoo menyerang perkemahan pasukan BuYeo dan menyelamatkan tawanan.
“Aku adalah Putra Mahkota Goguryeo, Hae Myeong.” ujar Hae Myeong pada para tawanan.
“Kami berterima kasih, Pangeran!” seru para tawanan seraya bersujud di hadapan Hae Myeong.
“Aku tidak pantas dihormati.” kata Hae Myeong. “Aku tidak bisa membawa kalian kembali ke Goguryeo bersamaku dan tidak bisa menjamin keselamatan kalian. Sebagai Putra Mahkota, hanya ini yang bisa kulakukan. Tapi, aku berjanji akan membuat mereka mambayar penghinaan ini dan membawa kalian kembali pada keluarga kalian.”
Para tawanan menangis.
“Pasukan BuYeo akan segera datang kemari. Pergilah sekarang juga.” Hae Myeong merasa tidak tega, tapi tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.

Hae Myeong dan yang lainnya kembali ke Benteng Gungnae.
“Ikut aku.” ajak Hae Myeong pada Muhyul. Mereka berdua berjalan pergi.
Ma Ro memandang istana dengan kagum.
Gwi Yoo berdecak mengejek. “Lihat wajahmu!” serunya pada Ma Ro.
“Apa kau sering datang kemari?” tanya Maro.
“Tentu saja.” jawab Gwi Yoo. “Aku mengenal tempat ini seperti telapak tanganku sendiri. Aku akan mengajakmu berkeliling. Ikut aku.”

Hae Myeong makan malam bersama Yuri, Seryu, Yeojin dan Mi Yoo.
“Penguasa Jolbon berkata bahwa kau pergi ke wilayah Han.” kata Yuri pada Hae Myeong.
“Aku tidak pergi ke sana.” kata Hae Myeong seraya memerintahkan Muhyul masuk ke ruangan.
“Anak itu… Bukankah ia orang yang menggambar dinding makam Raja Jumong?” tanya Yuri.
“Ya.” jawab Hae Myeong. “Sekarang ia mengabdi padaku.”
Muhyul membawakan sebuah kotak berisi perkamen. Hae Myeong menyerahkan perkamen tersebut pada ayahnnya. “Ini adalah catatan penempatan pasukan Benteng BuYeo dan jadwal perjalanan Raja Dae So.” kata Hae Myeong.
Yuri sangat terkejut.

“Apa benar kau menyusup ke perkemahan Bayangan Hitam?!” tanya Yuri marah, bicara empat mata dengan Hae Myeong.
“Ya.” jawab Hae Myeong. “Aku memastikannya sendiri. Kelompok Bayangan Hitam menguji racun mematikan pada manusia. Ada kemungkinan kuat bahwa kudeta di Hwangnyong beberapa tahun yang lalu disebabkan oleh beberapa orang Bayangan Hitam yang dikirim oleh Raja Dae So. Cepat atau lambat, ia akan melakukan hal yang sama pada kita. Yang Mulia, izinkan aku memimpin sejumlah pasukan untuk membunuh Raja Dae So.”
Yuri terkejut mendengarnya. “Bagaimana caramu membunuh Raja Dae So?”
“Setiap satu bulan sekali, Raja Dae So melakukan inspeksi pasukan di luar Benteng BuYeo.” kata Hae Myeong. “Jika kita menyergapnya, ada kesempatan kita akan menang.”
“Mereka akan membunuh semua pasukanmu.” kata Yuri. “Aku tidak mengizinkanmu. Kau pikir untuk apa aku bersujud di depan Raja Dae So dan menelan semua penghinaan itu? Itu untuk mengulur waktu! Buang semua rencana itu.”
Ratu Mi Yoo mencuri dengar pembicaraan mereka.

Ratu Mi Yoo memanggil Sangga untuk memberitahukan apa yang di dengarnya. Jika Hae Myeong berhasil membunuh Raja Dae So, maka kedudukan Hae Myeong sebagai Putra Mahkota akan semakin kuat. “Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi.”

Yuri sangat mencemaskan putranya, Hae Myeong. Kata-kata ancaman Dae So terus terngiang di telinganya.
“Kau tidak mendidik putramu dengan benar.” kata Dae So. “Katakan padanya, jika ia berani mengulang kesalahan seperti itu lagi, aku akan membunuhnya di depan ayahnya sendiri.”

Muhyul masih penasaran dan berpikir mengenai surat yang dititipkan padanya. Ma Ro datang dan melihat surat tersebut. “Oh? Bukankah ini Hyeon Mu?” tanyanya. Hyeon Mu adalah satu dari empat pelindung bumi kuno.
Ma Ro berpikir dan bisa menyelesaikan teka-teki itu dengan mudah.
“Raja Dae So, pada hari kesepuluh pada bulan kesepuluh, dengan rahasia akan menuju ke Jipaehyeol.” ujar Muhyul, membaca surat tersebut. Namun Muhyul masih tidak mengerti apa itu Jipaehyeol.

Yuri tidak menyetujui keputusan yang dibuat oleh Hae Myeong. Ia tidak mengizinkan Hae Myeong menyerang Raja Dae So.

Dengan diam-diam, Gwi Yoo mengintip Seryu berlatih bela diri. Ma Ro ikut mengintip bersamanya.
Seryu melihat dan memanggil mereka.
“Sepertinya kalian adalah pengawal istana yang baru.” kata Seryu. “Jika kalian bisa mengalahkan aku, aku membantu kalian.”
Gwi Yoo menerima tantangan Seryu. Ia tidak mengetahui bahwa Seryu adalah seorang putri. Dengan sikap seenaknya, ia mengalahkan dan menjatuhkan Seryu ke tanah.
“Sepertinya akulah yang akan membantumu.” kata Gwi Yoo dengan sikap sok hebat.
Tidak lama kemudian Muhyul datang. Ia terkejut melihat Seryu terduduk di tanah.
“Putri!” seru Muhyul seraya membantu Seryu berdiri. “Tolong maafkan sikapnya yang kurang ajar. Ia tidak mengetahui siapa kau, Putri.”
Gwi Yoo dan Ma Ro langsung bersujud dan meminta maaf pada Seryu.
Seryu tertawa kecil dan berjalan pergi.
“Kau bilang, kau tahu tempat ini seperti telapak tanganmu sendiri!” protes Ma Ro.

Ma Ro mengajak Muhyul berjalan-jalan di kota dan membelikan oleh-oleh untuk Hye Ap.
“Ini bagus.” kata Muhyul ketika melihat-lihat di toko aksesoris.
“Ya, itu benda asli dari Hwangnyong.” kata penjual. “Aku berasal dari sana.”
“Apa kau tahu apa itu Jipaehyeol?” tanya Muhyul.
“Jipaehyeol adalah tempat dimana istana kami berada.” jawab penjual. “Pendiri kami menyebutnya Jipaehyeol ketika Hwangnyong baru terbentuk. Tapi sekarang banyak orang Hwangnyong yang tidak mengingat itu.”
Muhyul sangat senang mendengarnya. Ia bergegas berlari menemui Hae Myeong dan menceritakan segalanya.

“Kita akan berangkat ke Jolbon.” kata Hae Myeong pada Gwi Yoo.
“Apa yang terjadi?” tanya Gwi Yoo.
“Aku akan membunuh Raja Dae So.”

Pihak BuYeo menyangka bahwa upeti prosesi yang dikirim Goguryeo disergap oleh orang-orang Hwangnyong. Tak Rok menyarankan agar Dae So menunda perjalanannya ke Hwangnyong sementara Sa Goo menyarankan sebaliknya. Dae So menyetujui saran Sa Goo.

“Bolehkah aku pergi ke tempat pelatihan Bayangan Hitam?” tanya Yeon pada ayahnya. “Dojin mengirim surat dan mengatakan bahwa banyak Bayangan Hitam yang terluka selama pelatihan. Aku ingin mlihat.”
“Lakukan apa yang kau inginkan.” kata Tak Rok setuju. “Tapi banyak hal yang berbahaya disana, kau harus berhati-hati.”

Walaupun banyak pihak yang menentang dan tidak memiliki pasukan, Hae Myeong tetap bersikeras untuk menyerang Dae So.
“Kita akan menggunakan prajurit dari hutan Myeongnim.” kata Hae Myeong. “Orang-orang yang kehilangan keluarga mereka karena pedang Dae So akan bergabung dengan kita.”
“Tapi jumlah mereka hanya sedikit.” ujar Gwi Yoo. “Jika ingin menghentikan Raja Dae So, bukankah kita membutuhkan lebih banyak?”
“Jika mereka siap mempertaruhkan nyawa, maka kita akan menang.”

Muhyul punya ide bagaimana agar mereka mendapat tambahan orang, yakni dengan mengajak Chu Bal So.
“Kau gila?!” seru Chu Bal So. “Untuk apa aku harus membahayakan nyawaku?”
“Jika kau bersedia bergabung dengan kami, kau akan mendapatkan kepercayaan Pangeran.” bujuk Muhyul. “Pangeran akan menjadi Raja kita berikutnya. Dengan begitu, hidup kalian akan berubah.”
“Kau tidak mengenalku.” kata Chu Bal So. “Aku tidak memiliki ambisi seperti itu. Aku bisa terus hidup seperti ini.”
Muhyul tersenyum dan berkata tenang. “Jika kau berubah pikiran, datanglah besok di Gunung Changcheon.”

Keesokkan harinya, Hae Myeong melatih pasukannya secara rahasia di Gunung Changcheon. Seorang mata-mata utusan Bae Geuk melihat mereka dan melapor pada Bae Geuk.

Bae Geuk datang langsung ke Gunung Changcheon untuk memeriksa. Saat itu, Ma Ro dan Muhyul tanpa sengaja melihat mereka.
“Pergi ke tempat pelatihan dan beritahu Pangeran.” perintah Muhyul pada Ma Ro. “Cepat! Aku akan memancing mereka ke tempat lain.”
Ma Ro berlari untuk memperingatkan Hae Myeong sementara Muhyul berusaha memancing perhatian prajurit Bae Geuk dan membiarkan mereka mengejarnya.

Begitu mendengar informasi dari Ma Ro, Hae Myeong memerintahkan pasukannya untuk pindah.
Di tempat lain, Muhyul seorang diri melawan para prajurit Bae Geuk. Muhyul terpojok. Tiba-tiba, beberapa orang tidak dikenal datang menyelamatkan. Rupanya mereka adalah adalah orang-orang Chu Bal So.

Ketika tiba di tempat pelatihan, Bae Geuk menemukan tempat tersebut sudah kosong. Bae Geuk curiga Hae Myeong merencanakan sesuatu.

Yeon tiba di markas pelatihan Bayangan Hitam dan mengobati orang-orang disana.
“Bagaimana kabar ayahmu?”tanya Dojin pada Yeon.
“Ia mengikuti Yang Mulia ke Hwangnyong.” jawab Yeon pelan. “Ini rahasia. Hanya sedikit orang di Benteng BuYeo yang tahu.”

Hae Myeong dan pasukannya bergerak ke medan perang.
Hae Myeong mengajak beberapa prajuritnya termasuk Muhyul untuk melihat keadaan sekitar. Ada dua orang prajurit BuYeo yang sedang melakukan inspeksi datang mendekat. Hae Myeong memberi isyarat pada Muhyul untuk membunuh mereka.

Chu Bal So menuntut penjelasan pada Muhyul. Ia bersedia ikut perang tanpa tahu perang apa itu. Muhyul hanya tersenyum. “Lihat saja besok.” katanya.
“Kau penasaran?” bisik Ma Ro. “Kita akan membunuh Raja Dae So.”
“Apa?!” seru Chu Bal So shock.

“Apa kau takut?” tanya Hae Myeong ketika Muhyul berjalan mendekatinya malam itu.
“Ya, sedikit takut.” jawab Muhyul jujur.
“Kau bisa pulang kapan saja.” kata Hae Myeong.
“Tidak. AKu takut, tapi aku bisa bertarung.” kata Muhyul. “Pangeran telah memberiku sebuah mimpi. Dulu, aku ingin sekali keluar dari gua. Aku tidak tahu kenapa dan untuk apa aku ingin keluar. Aku hanya ingin melarikan diri dari tempat itu. Tapi sejak bertemu Pangeran, aku menjadi tahu apa yang ingin kulakukan dan untuk apa aku hidup. Kau mengajarkan bahwa aku memiliki sebuah negara yang harus dicintai.”
Hae Myeong tersenyum.
“Melihat warga Goguryeo diseret ke BuYeo membuatku sangat marah.” kata Muhyul. “Kemarahanku itu berubah menjadi keberanian.”
“Kemarahan bisa menjadi sebuah keinginan untuk bertarung dan membuatmu kuat.” kata Hae Myeong. “Tapi manusia tidak bisa hidup hanya dengan kemarahan. Ada sesuatu yang lebih kuat daripada amarah.”
“Apa itu?”
“Kau akan menemukan jawabannya sendiri.” kata Hae Myeong. Ia mengeluarkan sebuah peluit panah. “Ambil ini. Jika kau menembakkan panah dengan ini, seperti mendengar seekor singa mengaum, pasukan akan mendengar perintahmu di medan perang. Raja memberikan peluit itu padaku saat pertama kali aku ikut erperang.”
“Ini terlalu berharga.” tolak Muhyul.
“Kau pantas mendapatkannya.” kata Hae Myeong. “Mungkin ini pertarungan yang sulit, tapi kau harus tetap bertahan hidup. Jika kau bisa melewati ini, aku akan mengajarkan bagaimana cara menggunakan peluit itu.”

sumber: princess-chocolates.blogspot.com
Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s