The Kingdom Of The Winds – Episode 06

Tak Rok sangat cemas karena kedua prajurit yang dia tugaskan memeriksa wilayah sekitar tidak juga kembali. “Sampai kita bisa menemukan keberadaan mereka, kita harus menghentikan perjalanan.” katanya pada Dae So.

“Sebentar lagi kita akan tiba.” tolak Dae So. “Jika aku berhenti untuk menghindari para pengganggu itu, apa yang akan dipikirkan orang tentangku?”
“Jika kita berhenti sekarang, kita tidak akan bisa menghadiri acara di Jipaehyeol sesuai jadwal.” tambah Sa Goo.
“Apakah jadwal acara lebih penting dibanding keselamatan Yang Mulia?” tanya Tak Rok.
“Aku akan bertanggung jawab untuk perlindungan Yang Mulia.” kata Sa Goo.

Pasukan Hae Myeong bergerak dan bersiap melakukan penyergapan. Mereka dibagi dua kelompok.
Ma Ro dan Chu Bal So melihat keadaan.
Chu Bal So mengernyit ketika melihat jumlah pasukan yang mengawal Dae So. Jauh lebih banyak dibanding jumlah pasukan mereka.

“Mereka datang.” kata Chu Bal So melapor pada Gwi Yoo.
Perlahan-lahan, pasukan Gwi Yoo berjalan mendekat sampai batas bukit, kemudian menembakkan anak panah ke arah rombongan Dae So.
“Penyergapan!” teriak Tak Rok. “Lindungi Yang Mulia!”
Sementara pertarungan berlangsung, Tak Rok memerintahkan para prajuritnya untuk membawa tandu Dae So pergi. Ma Ro bergegas menembakkan panah api untuk memberi isyarat pada kelompok Hae Myeong dan Muhyul.
Melihat isyarat api tersebut, Hae Myeong bergegas menyerang.
Terjadi pertarungan yang sengit antara pihak BuYeo dan pihak Goguryeo. Kerja sama antara Muhyul dan Hae Myeong sangat solid. Mereka saling melindungi satu sama lain.

Muhyul dan Hae Myeong berlari mendekati tandu Dae So dan menusukkan tombak dan pedang dari arah berlawanan. Dae So terkejut ketika dua buah senjata melejit lewat sisi kanan dan kirinya. Untuk menyelamatkan diri, Dae So melompat keluar tandu lewat belakang. Dae So melarikan diri bersama seorang prajurit.
Seorang prajurit menembakkan anah panah ke arah Hae Myeong dan berhasil mengenai lengannya. Hae Myeong terluka. Ia memberikan sebuah tombak pada Muhyul.
Muhyul menerima tombak itu, kemudian melemparnya jauh ke arah Dae So.
Tombak tersebut tepat mengenai punggung Dae So.

Tidak lama kemudian, Pasukan BuYeo lain dibawah pimpinan Sa Goo datang. Muhyul terkejut dan langsung menolong Hae Myeong melarikan diri.
“Yang Mulia!” seru Gwi Yoo panik, melihat luka di lengan Hae Myeong yang parah.
“Mereka mengejar kita. Cepat pergi!” kata Hae Myeong. Tapi luka Hae Myeong terlalu parah dan tidak akan mungkin bisa bergerak jauh.
“Kami akan menangani pasukan itu.” kata Gwi Yoo. “Pergilah bersembunyi, Pangeran! Muhyul, Ma Ro, Chu Bal So! Kalian lindungi Pangeran!”

Muhyul berhasil membawa Hae Myeong ke gua. Kondisi Hae Myeong sangat sekarat. Begitu sampai di gua, Hae Myeong langsung pingsan tak sadarkan diri.
Hye Ap mengobati Hae Myeong di rumahnya. “Pangeran, kau tidak apa-apa?” tanyanya begitu Hae Myeong terbangun.
Hae Myeong bangkit dari tidurnya. “Muhyul, pergilah ke ibukota sekarang.” katanya. “Katakan pada Yang Mulia bahwa Raja Dae So sudah mati.” Ia menyerahkan sebuah benda. “Jika kau menggunakan ini, kau bisa bertemu dengan Yang Mulia. Apapun yang terjadi, kau harus memberitahunya.”
Muhyul menerima benda itu. “Jangan cemas.” katanya menenangkan. “Aku akan menyampaikan pesan itu apapun yang terjadi.”

Muhyul mengendarai kudanya dan pergi ke Benteng Gungnae.
Setelah sebelumnya diusir, akhirnya Muhyul bisa bertemu dengan Yuri.
“Raja Dae So sudah mati, YangMulia.” kata Muhyul.
“Apa katamu?” tanya Yuri, tidak percaya.
“Pangeran membunuhnya ketika ia dalam perjalanan ke Hwangnyong.” Muhyul menjelaskan.
“Apa ucapanmu benar?”
“Ya, aku melihatnya sendiri.” kata Muhyul.
Yuri terlihat senang, namun masih ragu.

Yuri mengumpulkan para perwiranya secara rahasia dan memberitahukan kabar tersebut. Ia meminta mereka agar tidak memberitahu pada para Kepala Klan.
Yuri memerintahkan salah seorang perwiranya untuk berjaga di perbatasan. “Jika sesuatu benar-benar terjadi pada Raja Dae So, BuYeo-lah yang pertama kali akan menyerang.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Daebo.” panggilnya pada Goo Chu. “Peringatkan mata-mata kita di BuYeo dan perintahkan mereka untuk menyelidiki kebenaran mengenai kematian Raja Dae So.”

Salah satu perwira Yuri ternyata mata-mata Sangga. Ia melapor pada Sangga mengenai kematian Dae So.
Sangga berpikir. “Jika Raja Dae So memang mati, tanpa dukungan para Kepala Klan, Raja Yuri hanya bisa menangani BuYeo dengan menggunakan prajurit pusat.” katanya. Ia kemudian memerintahkan orang untuk mengirim pesan pada Bae Geuk agar Bae Geuk menyelidiki reaksi BuYeo.

BuYeo akan menyatakan perang pada Goguryeo. Bayangan Hitam disiagakan untuk perang tersebut.

“Apa belum ada kabar dari Muhyul?” tanya Hae Myeong.
Hye Ap menggeleng. “Ada yang ingin kutanyakan padamu, Pangeran.” katanya. “Hubungan antara Pangeran dan Muhyul. Aku ingin kau menjelaskan padaku. Aku ingin tahu kenapa Pangeran selalu memberikan perhatian khusus padanya.”
Hae Myeong diam sejenak. “Muhyul adalah seorang Pangeran Goguryeo.” katanya. “Muhyul adalah adikku.” Hae Myeong menceritakan mengenai takdir Muhyul yang menakutkan.
Hye Ap terkejut. “Lalu, apakah Muhyul harus hidup seperti ini sepanjang sisa hidupnya?”
“Tidak.” jawab Hae Myeong. “Jika waktunya tiba, aku akan mengembalikan statusnya sebagai Pangeran.”

Sudah lima hari semenjak kedatangan Muhyul di Gungnae, namun kelihatannya pihak Goguryeo tidak melakukan apapun. Muhyul menemui Yuri untuk menanyakan hal tersebut.
“Aku masih belum bisa percaya bahwa Raja Dae So sudah terbunuh.” kata Yuri, menjawab pertanyaan Muhyul.
“Tapi, aku melihatnya mati, Yang Mulia.” bantah Muhyul.
“Aku adalah seorang Raja yang dipercaya Langit untuk melindungi nyawa rakyatku.” kata Yuri. “Aku tidak akan mempertaruhkan nyawa mereka karena sebuah kesalahan.”
Dengan kesal, Muhyul berjalan pergi.
Goo Chu tertawa. “Melihat pembawaan anak itu yang berani dan perkasa mengingatkanku pada masa remaja Yang Mulia.”
Yuri tersenyum. “Sangat melegakan melihat Putra Mahkota memiliki pengikut yang setia seperti itu.”
Mendadak Tae cheon datang. “Yang Mulia, kita mendapat kabar dari mata-mata di BuYeo. Pasukan BuYeo sedang bergerak ke perbatasan.”
Yuri terkejut mendengar informasi tersebut. Dengan ini, ia yakin sesuatu pasti sudah terjadi pada Dae So. “Cepat panggil para anggota dewan.” perintahnya pada Goo Chu.

“Aku akan menyatakan perang pada BuYeo.” kata Yuri di depan para anggota dewan.
“Bagaimana kau bisa pergi berperang tanpa peluang menang?” tanya salah satu dewan.
“Kita bisa menang.” kata Yuri. “Putra Mahkota sudah membunuh Raja Dae So. Aku sudah memeriksa beberapa kali.”
Sangga diam saja. Yuri menanyakan pendapatnya.
“Aku juga sudah menerima laporan mengenai situasi Raja Dae So.” kata Sangga. “Aku tidak akan menolak perang jika kita memiliki peluang menang. Aku akan mengirim 30.000 pasukan termasuk supply perang.”

Bae Geuk dan seorang anak buahnya memeriksa perbatasan. Disana, pasukan BuYeo sudah mendirikan perkemahan mereka.
“Itu bendera Pengawal Istana.” kata Bae Geuk. “Bukankah aneh jika mereka ada disini saat Raja Dae So sudah mati?”
“Itu Raja Dae So! Raja Dae So masih hidup.” kata anak buah Bae Geuk.

“Kirimkan pesanku pada Raja Yuri.” kata Dae So pada Sa Goo. “Jika ia tidak membunuh Pangeran Hae Myeong di depan mataku, aku akan membunuh setiap orang di Goguryeo.”
Dojin dan Yeon datang untuk melihat keadaan Dae So. Rupanya yang dibunuh oleh Muhyul dan Hae Myeong bukanlah Dae So asli melainkan hanya ‘bayangan’nya. ‘Bayangan’ tersebut artinya adalah orang yang menyamar menjadi Dae So.

Di BuYeo, Yeojin mendapat izin dari Yuri untuk ikut berperang. Ia meminta Seryu mengajarinya bela diri.
“Ambilkan kami tongkat.” perintah Seryu pada Muhyul.
Muhyul mengambilkan dua buah tongkat untuk mereka. Seryu kemudian memerintahkan Muhyul bertarung melawan Yeojin.
“Kau ingin aku belajar darinya?” tanya Yeojin. “Aku ingin kau yang mengajariku, Kak.”
“Kau pikir musuhmu di medan perang akan berpikir mengenai gelar kebangsawananmu?” tanya Seryu pada adiknya. “Ingatlah baik-baik. Bahkan seorang budak bisa saja membunuhmu.” Ia berpaling pada Muhyul. “Tidak perlu mengalah hanya karena ia seorang Pangeran.”
Akhirnya Yeojin dan Muhyul bersedia bertarung. Mulanya Muhyul mengalah dan hanya menangkis serangan-serangan Yeojin.
Seryu marah. “Latihan macam apa ini?!” serunya. “Serang dia!”
Kini, Muhyul mulai serius dan menyerang Yeojin. Dengan mudah, Muhyul bisa mengalahkan Yeojin.
“Berhenti!” teriak Ratu Mi Yoo, berjalan mendekati mereka dengan marah lalu menampar Muhyul.
“Ibu!” seru Yeojin. “Akulah yang memintanya!”

Bae Geuk datang langsung ke Gungnae untuk memberi kabar bahwa Raja Dae So masih hidup.

Sa Goo tiba di Gungnae.
“Apa kau percaya bahwa Pangeran Hae Myeong membunuh Yang Mulia?” tanya Sa Goo dengan nada merendahkan. “Orang yang dibunuh Pangeran Hae Myeong hanyalah seseorang yang menyamar. Demi keselamatan Yang Mulia, kami menggunakan penyamar untuk melakukan perjalanan ke Hwangnyong. Kami menyebutnya Bayangan Raja.”
Yuri memejamkan matanya, perasaannya bercampur-baur.
“Yang Mulia sudah melewati perbatasan Goguryeo.” tambah Sa Goo. “Yang Mulia memerintahkanmu untuk membawa Pangeran Hae Myeong dan memenggalnya sendiri di di hadapannya. Jika permintaannya tidak dipenuhi, maka setiap orang di Gogurye akan dibunuh.”

Yuri sangat sedih dan terpukul. Lagi-lagi ia dihadapkan dengan masalah yang menyangkut nyawa darah dagingnya sendiri. Lagi-lagi ia dipaksa untuk membunuh putranya dengan tangannya sendiri.

Mahwang dan rombongannya mencoba pergi dari BuYeo dan kembali ke Goguryeo. Namun di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan pasukan BuYeo yang sedang mengejar-ngejar warga. Pasukan BuYeo telah menghancurkan sebuah desa di wilayah Goguryeo sebagai bentuk ancaman untuk Raja Yuri.
Mahwang terpaksa melarikan diri dengan meninggalkan semua hartanya.

Pihak Goguryeo (bukan atas perintah Yuri, melainkan atas perintah Bae Geuk) mengejar-ngejar Muhyul dan ingin menangkapnya karena hanya Muhyul-lah yang tahu mengenai keberadaan Hae Myeong.
Muhyul berusaha melarikan diri, namun gagal.
Mendadak, seseorang wanita misterius datang menyelamatkan Muhyul. Seryu.

“Katakan padanya agar melarikan diri.” pesan Seryu pada Muhyul.
Muhyul bingung. “Melarikan diri? Kenapa ia harus melarikan diri?” tanyanya.
“Mereka akan melimpahkan semua kesalahan pada Pangeran Hae Myeong.” kata Seryu. “Jika para Kepala Klan tahu keberadaannya, ia berada dalam bahaya. Pergi sekarang!”

Muhyul pergi dari Gungnae. Ia membunuh prajurit Goguryeo yang mengejarnya dan berhasil melarikan diri.

“Kita harus menyembunyikan Pangeran di tempat yang aman.” kata Tae Cheon pada Yuri.
“Apakah ada tempat yang aman di Goguryeo saat ini?” tanya Yuri dengan putus asa.
“Anak itu tidak mau memberitahukan apapun pada Kepala Keamanan.” ujar Goo Chu, membicarakan Muhyul. “Ia sangat berhati-hati dan pintar. Jangan cemas.”

Dengan panik, Muhyul berlari mencari Hae Myeong di rumah Hye Ap.
“Raja Dae So masih hidup.” kata Muhyul. “Yang kita bunuh hanyalah orang yang menyamar menjadi Raja Dae So.”
Hae Myeong sangat terpukul. “Aku harus pergi ke ibukota.” katanya.
“Kau tidak boleh pergi!” seru Muhyul melarang. “Kau harus melarikan diri!”
“Bagaimana aku bisa lari dalam situasi seperti ini?!” teriak Hae Myeong emosi.
Muhyul berusaha menjelaskan. “Raja Dae So sudah mengerahkan pasukannya di perbatasan. Kepala Klan melimpahkan kesalahan pada Pangeran. Jika sesuatu terjadi pada Pangeran, aku akan dihantui rasa bersalah seumur hidup. Akulah orang yang tahu mengenai perjalanan Raja Dae So ke Hwangnyong. Karena aku, Pangeran… mengalami masalah ini.”
“Ini semua salahku karena jatuh dalam jebakan mereka.” kata Hae Myeong.
“Pangeran, aku akan membawa Jenderal kemari.” kata Muhyul. “Tolong pikirkan mengenai keselamatanmu.”
Hae Myeong diam.

Muhyul, Ma Ro dan Chu Bal So pergi lagi ke Gungnae.

Mahwang sangat putus asa karena kehilangan semua hartanya. Ia membawa satu-satunya budak wanita yang berhasil diselamatkan dan menjualnya pada Sangga.
“5000 nyang.” kata Sangga. “Dan kau tidak perlu memberiku wanita itu. Gunakan dia untuk bisnismu.”
“Lalu, apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Mahwang.
“Aku menginginkan Hae Myeong.” ujar sangga. “Raja Dae So sudah melewati perbatasan dan sedang berjalan melewati padang Pyeongsan. Jika kita ingin menyelesaikan krisis ini, kita harus menyerahkan Pangeran Hae Myeong pda Raja Dae So.”
Mahwang diam, tidak tahu harus bicara dan berbuat apa.
“Jika kau bisa membawa Pangeran Hae Myeong padaku, aku akan memulihkan harta dan bisnismu.”

Di Gungnae, seluruh kota dipenuhi oleh prajurit, membuat Muhyul, Ma Ro dan Chu Bal So sulit bergerak. Mendadak, Gwi Yoo datang dan mengajak mereka bersembunyi.
“Dimana Pangeran?” tanya Gwi Yoo.

Hae Myeong merapikan tempat tidur Hye Ap dan pergi diam-diam.

Hye Ap berjalan di luar dan bertemu dengan Mahwang.
“Ada urusan apa?” tanya Hye Ap dingin.
“Aku datang untuk bertemu Pangeran.” jawab Mahwang.
“Kenapa kau ingin menemuinya?” tanya Hye Ap curiga.
“Kau sedang bicara dengan Mahwang.” kata Mahwang. “Apakah aku butuh alasan jika ingin bertemu Pangeran?”
Hye Ap diam.
Mahwang menoleh ke belakang. “Aku tidak diikuti. Kau tidak perlu takut.” katanya. “Aku harus bicara dengan Pangeran mengenai hal yang penting. Antar aku padanya!”

Hye Ap kembali ke rumahnya dan menemukan rumah itu sudah rapi dan kosong. Ia ketakutan. “Pangeran…”
Hye Ap menemukan sebuah surat bambu di atas tempat tidur. Dengan takut-takut, ia membukanya.
“Aku tidak bisa meninggalkan masalah berat ini di bahu Yang Mulia dan bersembunyi seperti seorang pengecut.” kata Hae Myeong dalam suratnya. “Aku akan bertanggung jawab untuk semua masalah yang sudah kusebabkan. Jika sesuatu terjadi padaku, aku menitipkan Muhyul padamu. Jika suatu saat nanti ia bisa lolos dari ketidakberuntungan, maka Muhyul akan memimpin negeri ini.”
Hye Ap menangis.
“Satu-satunya hal yang membakar hatiku adalah cintaku padamu, Hye Ap.”

Malamnya, Muhyul dan yang lainnya kembali ke rumah Hye Ap.
“Dimana Pangeran?” tanya Muhyul.
Hye Ap hanya duduk diam, tidak berkata apapun.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Ma Ro.
“Pangeran… pergi ke Benteng Gungnae.” jawab Hye Ap lemah.

Hae Myeong kembali ke Gungnae dan menemui ayahnya.
“Apakah kau tahu kalau Kepala Klan siap mengorbankanmu?” tanya Yuri. “Kenapa kau kembali?”
“Aku membuat Yang Mulia dan Goguryeo berada dalam bahaya.” kata Hae Myeong. “Jadi aku siap mengorbankan nyawaku sebagai gantinya.”
“Ayah seperti apa yang akan mengorbankan darah dagingnya sendiri hanya untuk mempertahankan tahtanya?” tanya Yuri. What a wonderful father! “Ayah seperti apa yang akan mencelakai putranya demi melindungi dirinya sendiri?”
“Korbankan aku dan lindungi rakyat kita!” seru Hae Myeong.
Yuri terdiam sesaat. “Kau mengatakan pada orang yang pernah mengorbankan saudaramu sendiri untuk mengorbankanmu juga? Aku tidak bisa.”
Dulu, putra pertama Yuri, Dojeol, akan dikirim ke BuYeo sebagai tawanan namun menolak dan mati.
“Jika kau tidak mengorbankan aku, semua rakyatmu akan mati!” seru Hae Myeong, berusaha meyakinkan ayahnya.
“Bagaimana bisa seorang Putra Mahkota dengan mudah meminta mati?” tanya Yuri. “Kau harus tetap hidup. Aku yang akan membayar semua kesalahan ini. Aku akan membayar ini dengan nyawaku.”
“Ayah!” Hae Myeong berlutut dihadapan Yuri dan menangis.
Yuri mendekati Hae Myeong dan menyentuh bahu putranya itu.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s