The Kingdom Of The Winds – Episode 07

Yuri terdiam. Goo Chu dan Tae Cheon cemas melihatnya.
“Pastikan agar Hae Myeong tidak menginjakkan kaki keluar dari istana ini.” kata Yuri memerintahkan mereka.
Yuri masuk ke dalam dan mengambil pedangnya.

“Apa belum ada kabar dari Yuri?” tanya Dae So pada Tak Rok.
“Belum, Yang Mulia.” jawab Tak Rok.
“Berapa jumlah tawanan yang kita miliki?” tanya Dae So. “Bunuh mereka semua!”
“Yang Mulia, ada warga biasa diantara pada tawanan.” protes Yeon. “Apa kau ingin membunuh warga tidak bersalah?”
“Mereka adalah musuh bagi kita.” kata Dae So.
“Yang Mulia, semua negara di utara menyaksikan setiap gerap-gerikmu.” kata Yeon. “Tolong dipikirkan kembali. Paling tidak, ampuni warga biasa. Jika kau ingin membuat negara yang kuat melebihi Han, kau harus mendapat simpati dari warga Goguryeo juga.”
Dae So terdiam beberapa saat, kemudian menyetujui permintaan Yeon.

Sa Goo memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Dojin. “Jika ia tidak mau bergabung denganku, maka ia akan menjadi masalah.” katanya.

Di pihak lain, Pasukan BuYeo membunuh para prajurit Goguryeo yang tertangkap.

Yuri sangat marah setelah mengetahui bahwa para prajurit yang menjadi tawanan BuYeo dihabisi.
“Aku akan memimpin para pengawal pusat menuju Padang Pyeongcheon.” kata Yuri. “Sampaikan keinginanku ini pada dewan.”
Goo Chu sangat terkejut mendengarnya.

“Apa katamu?! Yang Mulia akan pergi ke medan perang?!” seru Hae Myeong terkejut begitu Goo Chu melapor padanya.
“Yang Mulia tidak akan pernah menyetujui permintaan Raja Dae So.” kata Goo Chu. “Ia akan bertarung dengan BuYeo sampai mati.”
“Aku akan bertanggung jawab atas semua masalah ini.” kata Hae Myeong. “Jadi tolong hentikan Yang Mulia!”
“Tidak ada yang bisa mengubah keputusan Yang Mulia.” kata Goo Chu.

Sangga menyarankan agar Yuri memenuhi permintaan Dae So dengan menyerahkan Pangeran Hae Myeong, namun Yuri menolak. “Kau memintaku mengorbankan putraku sendiri?!” seru Yuri.
“Bagaimana kau bisa menghentikan Pasukan BuYeo yang sudah mencapai Padang Pyeongcheon?!” seru Sangga.
“Aku akan menghentikannya!” teriak Yuri bertekad. “Aku akan menghentikan Pasukan BuYeo!”

“Pangeran dikurung dalam kamarnya.” kata Chu Bal So. “Para Kepala Klan sangat menekannya. Dia pasti akan mengirim Pangeran pada Raja Dae So.”
Muhyul menarik Chu Bal So marah. “Bagaimana mungkin ia akan mengirim putranya sendiri untuk mati?! Yang Mulia bukan orang seperti itu!”

Muhyul, Hye Ap dan yang lainnya merundingkan cara untuk masuk ke istana menemui Hae Myeong.
Seryu juga datang kesana. “Kakak menolak untuk bertemu denganku.” katanya. “Bagaimanapun caranya, kalian harus mengeluarkannya dari istana.”

Malam itu, Seryu, Muhyul dan yang lainnya menyusup ke dalam istana.
Mereka mencoba masuk dengan diam-diam, namun pengawal memergoki mereka sehingga mereka terpaksa bertarung.
“Pergi cari kakakku.” kata Seryu pada Muhyul. “Kau harus menemukannya!”
Muhyul mengangguk dan pergi bersama Hye Ap.

“Dimana Pangeran?” tanya Muhyul, mengancam seorang pengawal dengan pedangnya.
“Ia sudah dipindahkan ke markas BuYeo.” jawab pengawal.

Yuri duduk diam di ruangannya, berpikir.
Mendadak Goo Chu datang dengan panik. “Yang Mulia, Pangeran sedang menuju ke markas Pasukan BuYeo!” serunya.
Yuri terperanjat kaget.

Hae Myeong mengendarai kudanya menjauh dari Gungnae. Di pinggir hutan, ia turun dan bersujud pada ayahnya dari kejauhan.
“Ayah, walaupun semua darah di tubuhku mengalir di kaki Raja Dae So, aku akan tetap menjaga Goguryeo dengan jiwaku dan mewujudkan harapanmu.” kata Hae Myeong dalam hatinya, kemudian mengendarai kudanya lagi menuju Padang Pyeongcheon.

Muhyul dan yang lainnya berusaha mengejar Hae Myeong.
Disisi lain, Yuri memerintahkan pasukannya untuk menutup semua jalan. “Bagaimanapun caranya, kita harus menghentikan Pangeran!” serunya.

Hae Myeong melewati perbatasan Jolbon.
Bae Geuk terkejut melihatnya.
“Aku ingin menuju ke perkemahan BuYeo, jadi biarkan aku lewat.” kata Hae Myeong.
Bae Geuk ragu dan bingung.
“Apa lagi yang kau pikirkan?” tanya Hae Myeong. “Bukankah kau ingin aku menyerah pada BuYeo? Biarkan aku lewat.”
“Aku akan mengantarmu.” kata Bae Geuk.
Diam-diam, Bae Geuk memerintahkan anak buahnya untuk membunuh siapa saja yang berniat menghentikan Hae Myeong.

Ketika malam berlalu, Muhyul dan yang lainnya tiba di Jolbon. Dari kejauhan, mereka melihat arak-arakan pasukan Jolbon yang mengantarkan Hae Myeong menuju perkemahan BuYeo.
Mereka maju untuk menyelamatkan Hae Myeong, namun mendadak beberapa anak panah melejit ke arah mereka. Muhyul terkena panah tepat di dadanya. Ia terjatuh dari kuda.
“Muhyul!” teriak Ma Ro.
Muhyul meraung kesakitan.
Pasukan Jolbon menyerang mereka. Terjadi pertarungan sengit.
Muhyul mencoba bangkit untuk ikut berperang, namun lama kelamaan pandangannya buram dan ia pingsan.

Hae Myeong memandang langit. Mungkin inilah terakhir kalinya ia bisa memandang langit dan merasakan hembusan angin.
Yuri dan para prajuritnya berusaha mengejar Hae Myeong secepat mungkin.

“Yang Mulia, Pangeran Hae Myeong ada disini.” ujar Sa Goo, melapor pada Dae So.
“Apa Yuri yang membawanya?” tanya Dae So.
“Dia diantar oleh Pemimpin Benteng Jolbon, Bae Geuk.” jawab Sa Goo.
Dae So keluar untuk menemui Hae Myeong. Yeon dan Dojin juga ada disana.
“Aku tidak pernah menyangka Yuri akan mengirim putranya sendiri.” ujar Dae So. “Kupikir ia akan melindungi putranya sampai akhir walaupun ia harus menghadapi kematian. Jika kau berjanji untuk bersekutu dengan BuYeo, mungkin aku akan mengasihani nyawamu.”
“Bukan aku yang harus dikasihani.” kata Hae Myeong tanpa rasa takut. “Tapi kau.”
Dae So tertawa. “Aku perlu dikasihani?”
“Jika kau pernah merasakan ikatan antara ayah dan anak, kau pasti akan tahu bahwa aku tidak akan pernah membenci ayahku, walau aku mati.” kata Hae Myeong. “Tapi lihat! Kau bahkan tidak tahu ikatan kuat yang terjadi antara ayah dan anak. Bagaimana mungkin aku tidak merasa kasihan padamu.”
“Beraninya kau bersikap lancang!” seru Sa Goo.
“Kau menyinggung sesuatu yang sangat menyakitkan untukku, Nak.” ujar Dae So. “Kau benar. Seseorang yang tidak pernah memiliki anak sepertiku, tidak akan pernah tahu bagaimana cinta orang tua pada anaknya. Tapi, sebegai seorang ayah, aku tidak akan pernah mengorbankan darah dagingku sendiri demi bertahan hidup. Aku akan memberimu kesempatan terakhir. Tunjukkan kesetiaanmu padaku, maka aku akan mengampuni nyawamu. Aku akan menyerahkan tahta Goguryeo padamu.”
“Berhenti menyakiti ayahku dan rakyatku, dan bunuh aku sekarang!” seru Hae Myeong lantang. “Kau berjanji akan membayar pengorbananku dengan menarik mundur pasukanmu.”
Dae So kemudian memerintahkan Sa Goo untuk memberikan belati pada Hae Myeong dan berjanji akan meninggalkan Goguryeo begitu Hae Myeong mati.

Hae Myeong membuka baju perangnya dan mengambil belati yang diletakkan Sa Goo di tanah. Ia lalu menusukkan belati itu di dada kirinya perlahan.
“Berhenti!” teriak Yuri, muncul bersama para prajuritnya. Pasukan BuYeo menghalanginya. “Minggir!” teriak Yuri.
Hae Myeong menoleh.
Dae So tersenyum. “Aku pernah menyuruhmu untuk memperingatkan putramu yang bodoh atau dia akan menemui ajalnya di hadapan ayahnya sendiri.” katanya. “Aku tidak pernah menarik ucapanku.” Dae So memandang Hae Myeong. “Apa lagi yang kau tunggu?! Sebelum aku mengotori tanganku dengan darahmu, bunuh dirimu sendiri!”
“Tidak.” ujar Yuri. “Hae Myeong, kau tidak bisa melakukan itu!”
Hae Myeong menutup matanya, kemudian mendorong pisau masuk menembus jantungnya.

Yuri sangat terpukul dan berlari mendekati putranya. “Hae Myeong!” teriaknya.
“Pangeran!” teriak Goo Chu dan Tae Cheon.
“A… ayah…” Hae Myeong berkata lemah.
“Bukankah aku sudah berkata bahwa aku akan melindungimu?” ujar Yuri.
“Tolong… maafkan.. aku…” kata Hae Myeong. Ia jatuh dan tewas.
“Hae Myeong!” teriak Yuri, menangis. “Hae Myeong!!!”
Yeon melihat mereka dengan sedih. Bae Geuk membuang muka.

Seryu dan Hye Ap menangisi kematian Hae Myeong.

Muhyul tersadar.
Ma Ro memberikan peluit panah yang diberikan Hae Myeong padanya. “Jika bukan karena ini, panah itu pasti sudah menembus jantungmu.”
Muhyul menerima peluit panah itu dari Ma Ro. Ia diam sejenak, kemudian teringat. “Pa… pangeran.. Apa yang terjadi pada Pangeran.”
Ma Ro menangis. “Pangeran… Pangeran… membunuh dirinya sendiri di depan Raja Dae So kemudian Pasukan BuYeo mundur.” jawabnya.
Hye Ap menangis
Muhyul diam dan meneteskan air mata. “Bagaimana ini bisa terjadi?” tanyanya pada Gwi Yoo. “Apakah Pangeran melakukan kesalahan? Ia mencoba untuk membunuh pemimpin musuh, apakah itu sebuah kesalahan? Kepala dekorator, katakan padaku, kenapa seorang ayah tega membiarkan darah dagingnya sendiri mati seperti itu? Itu tidak masuk akal. Apakah seperti ini ikatan antara seorang ayah dan anaknya? Katakan sesuatu!”
Hye Ap hanya diam dan menangis.
“Yang membunuh Pangeran adalah Goguryeo, bukan BuYeo.” kata Muhyul, hatinya dipenuhi kemarahan pada Yuri. “Orang yang membunuh Pangeran bukan Raja Dae So, tapi Raja Yuri. Aku akan membalaskan dendamnya.”

Yuri duduk dengan sedih di sebelah jenazah putranya di kuil. Ia hanya duduk, diam.

Ratu Mi Yoo sangat senang dengan kematian Hae Myeong. Itu artinya Yeojin-lah yang akan menjadi putra mahkota.
“Putra Mahkota, kemarilah.” kata Ratu Mi Yoo.
Yeojin kelihatan tidak senang. “Yang Mulia masih berada bersama kakakku di kuil.katanya. “Tapi.. Putra Mahkota? Siapa yang kau panggil Putra Mahkota?”
“Apa kau tahu berapa lama aku menunggu saat ini?” tanya Ratu Mi Yoo. “Satu-satunya hal yang memenuhi pikiranku adalah kau yang menjadi Putra Mahkota dan akan memimpin negara ini. Dengan kematian Hae Myeong, keinginan ibumu ini sudah terwujud.”
“Aku tidak menginginkan gelar itu.” kata Yeojin. “Aku tidak pantas menjadi Raja!”
“Aku akan memastikan kau menduduki tahta!” seru Ratu Mi Yoo. “Yang perlu kau lakukan hanya mengikuti perintahku!”

Muhyul duduk diam, memegang peluit panah yang diberikan Hae Myeong. Kenangan-kenangan bersama Hae Myeong masih terus terbayang dipikirannya.
Hye Ap menatap Muhyul dengan sedih. “Jika terjadi sesuatu padaku.” Hye Ap teringat pesan Hae Myeong padanya. “Aku titipkan Muhyul padamu.”

Hye Ap bicara dengan Jenderal kepercayaan Hae Myeong, Yeonbi, mengenai Muhyul.
“Jadi kau tahu?” tanya Jenderal.
“Ya, Pangeran yang memberitahuku.” kata Hye Ap. “Tidakkah kita harus memberitahu orang lain bahwa Muhyul seorang Pangeran?”
“Itu tidak akan bisa mengembalikan statusnya.” jawab Yeonbi. “Dan kurasa sekarang bukan saat yang tepat.”
“Aku takut melihat kebencian Muhyul pada Yang Mulia akan membuatnya tersesat.” kata Hye Ap. ”
“Melindungi Pangeran adalah tugas kita.” kata Yeonbi. “Kita akan mulai dengan meninggalkan ibu kota.”

Mahwang meminta hal yang dijanjikan Sangga padanya. Ia berkata bahwa dialah yang membuat Hae Myeong kembali ke ibu kota. Sangga hanya tersenyum dan menyetujui permintaan Mahwang. Yah, moodnya sedang bagus karena Hae Myeong tewas.
“Sebelum itu, aku ingin kau melakukan satu hal lagi.” ujar Bae Geuk. “Pengikut Hae Myeong. Kau harus melenyapkan mereka semua.”

Baek Geuk pergi bersama pasukannya.
Mahwang hanya bisa melihat mereka dengan sedih. “Pangeran, maafkan hambamu yang menyedihkan ini.” katanya. “Kau sudah tidak ada lagi di dunia ini tapi segala sesuatunya menjadi lebih buruk bagi kami.”

Gwi Yoo berlari-lari panik. “Jenderal! Pemimpin Jolbon, Bae Geuk, ada disini!” serunya.
Di sisi lain, Chu Bal So mengatakan pada Muhyul hal yang sama.
“Sangat disayangkan Pangeran sudah tewas.” kata Baek Geuk, berpura-pura. “Tapi Yang Mulia menginginkan kalian mengabdi lagi padanya.”
Yeonbi dan yang lainnya diam.
“Jenderal!” Muhyul datang. “Jenderal, kau tidak boleh pergi.” Ia berpaling pada Bae Geuk dan menunjukkan lukanya. “Kau lihat darah ini? Ini adalah darah yang kami tumpahkan demi melindungi Pangeran. Ini adalah darah yang Pangeran tumpahkan demi Goguryeo. Tapi, bagaimana reaksi Yang Mulia? Apa yang Yang Mulia lakukan pada orang yang telah mengorbankan dirinya sendiri demi negeri ini? Sampaikan pada Yang Mulia. Katakan padanya, bahwa darahku ini akan tertumpah lagi demi membalaskan dendam Pangeran.”
“Diam!” teriak Yeonbi pada Muhyul. “Aku mengerti maksudmu, tapi aku punya alasan untuk menemui Yang Mulia.” Ia berpaling pada Bae Geuk. “Baiklah, kami akan ikut denganmu.”

Baek Geuk membawa Yeonbi, Hye Ap, Muhyul dan yang lainnya melewati hutan.
Di tengah perjalanan, mendadak Bae Geuk menyuruh mereka berhenti. “Ini waktunya menunjukkan padamu keinginan Yang Mulia.” ujarnya berbohong.
“Apa maksudmu?” tanya Yeonbi. Tiba-tiba sebuah panah melejit dan mengenai tepat di dada kiri Yeonbi.
“Jenderal!” teriak Muhyul.
Yeonbi terjatuh dari kudanya.
Pasukan dibawah pimpinan Bae Geuk muncul dan menyerang mereka.
Anak buah Bae Geuk menyerang Muhyul, namun keadaan Muhyul tidak memungkinkan baginya untuk bertarung. Ketika anak buah Bae Geuk hendak menebas Muhyul, Yeonbi melemparkan sebuah pisau dan berhasil membunuh orang itu. Beberapa prajurit menyerang Yeonbi.
Muhyul hendak bertarung menolong Yeonbi, namun tubuhnya tidak bisa digerakkan. Yeonbi ditusuk dan tewas di depan mata Muhyul.
“Jenderal!” teriak Muhyul.
Bae Geuk tertawa.
“Ma Ro!” panggil Hye Ap. “Bawa Muhyul dan pergi dari sini!”
“Aku tidak bisa pergi!” kata Muhyul. “Kita akan bertarung bersama!”
Seorang prajurit melukai Hye Ap. “Kuperintahkan kau untuk pergi!” teriaknya. “Pergi!”

Ma Ro membawa Muhyul pergi dengan kuda. Beberapa prajurit Bae Geuk mengejar mereka, namun Muhyul dan Ma Ro bersembunyi.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Ma Ro.
Muhyul diam, meneteskan air matanya. “Aku akan membunuh Raja Yuri dan membalaskan dendam Pangeran.” ujarnya seraya mengepalkan tangannya erat.

Setelah merasa keadaan aman, Ma Ro dan Muhyul keluar dari persembunyian.
“Itu mereka!” seru para prajurit, mengejar Muhyul dan Maro memasuki hutan. Di tengah hutan, mendadak panah melejit menembak para prajurit itu. Setelah itu, beberapa orang berpakaian hitam mengepung Muhyul dan Ma Ro. Mereka adalah kelompok Bayangan Hitam. Dojin ada diantara mereka.
“Bawa mereka!” perintah si pemimpin. “Kita akan kembali ke BuYeo.”

Satu tahun kemudian.
Dae So mendapat laporan bahwa pemberintah Hwangnyong masih terus menekan dan mengalahkan pasukan BuYeo. Hal tersebut membuat Dae So meledak marah.
“Yang Mulia, aku akan mencari tahu siapa yang mendukung pemberontakan itu.” kata Tak Rok.

Di suatu tempat di Goguryeo, Yuri dan Mahwang bertemu. Mahwang menyerahkan sebuah pesan dari pemimpin pemberontakan Hwangnyong.
Yuri membaca pesan itu. “Pemimpin pemberontak membutuhkan persediaan dan tunggangan.” katanya. “Kau harus pergi ke Hwangnyong untuk memenuhi permintaannya.”

“Apa kau sudah menemukan siapa orang yang mendukung mereka?” tanya Dae So.
“Ya, Yang Mulia.” jawab Tak Rok. “Orang itu adalah Raja Yuri. Ia mengirim utusan ke Xin untuk merundingkan persekutuan antara kedua negara.”
“Aku akan datang ke Goguryeo sekarang dan meminta pertanggungjawaban Yuri!” seru Dae So marah.
“Kita tidak bisa menyebar pasukan sekarang.” tolak Tak Rok. Karena keadaan BuYeo yang sedang tidak memungkinkan.
Akhirnya, Dae So memerintahkan Tak Rak untuk pergi ke markas Bayangan Hitam. “Kirim Bayangan Hitam untuk membunuh Yuri!”

Tak Rok datang ke camp Bayangan Hitam bersama Yeon.
Disana, mereka melihat seorang tawanan yang sedang diseret oleh prajurit Bayangan Hitam.
“Ia adalah bahan percobaan paling kuat.” kata pemimpin Bayangan Hitam pada Tak Rok. “Dia berhasil bertahan hidup setelah diberi lebih dari 10 racun. Hanya dialah satu-satunya orang yang bertahan hidup sampai sejauh ini.”
Yeon melihat tawanan itu dan terkejut. Tawanan itu adalah Muhyul.

Muhyul dibawa kembali ke penjara. Muhyul pingsan. Ma Ro sangat cemas dan ketakutan. “Muhyul!” panggilnya. “Muhyul! Bangun!”

Muhyul tidak bernapas. Para prajurit Bayangan Hitam memeriksanya.
“Cepat cari tahu racun apa yang terakhir kita berikan padanya.” kata pemimpin. “Dia mati. Bawa dia keluar!”
“Tidak, dia masih hidup!” seru Ma Ro, menghalangi para prajurit membawa Muhyul. “Tunggu!”
Yeon diam dan menatap Muhyul dengan iba. Tiba-tiba kepala Muhyul bergerak sedikit. “Tunggu!” katanya seraya memeriksa Muhyul. “Ia masih hidup. Bawa dia ke ruang pengobatan.”

Yeon memeriksa tubuh Muhyul. Ada luka-luka teriris disana.
“Kudengar mereka tidak hanya meminumkan racun padanya, tapi juga menyebarnya ke seluruh tubuh.” kata seorang wanita pada Yeon.
Yeon mengikat seluruh tubuh Muhyul dengan tali dan menyumpal mulut Muhyul.
“Yeon.” panggil Dojin, masuk ke ruangan itu.
“Pegang kakinya.” kata Yeon padanya.
Tanpa bertanya, Dojin memegangi kaki Muhyul.
Yeon membuka kulit Muhyul dengan besi panas. Muhyul meronta-ronta kesakitan dan ingin berteriak, tapi karena seluruh tubuhnya diikat dan mulutnya disumpal, Muhyul tidak bisa banyak bergerak. Muhyul pingsan.
Setelah itu, Yeon menghisap dan mengeluarkan racun di tubuh Muhyul.

Setelah Yeon selesai mengobati Muhyul, Dojin memberikan seguci kecil madu padanya.
“Terima kasih, Kak.” kata Yeon. “Ini akan membantunya memulihkan tenaga. Menguji racun pada manusia sangat kejam.”
“Menurut pandanganku, yang kejam adalah keinginanmu untuk menyelamatkannya.” kata Dojin. “Ia ditakdirkan untuk penderita. Jika kau menyelamatkannya, penderitaannya akan lebih panjang.”

Muhyul bermimpi buruk. Di dalam mimpinya, ia melihat Hae Myeong dan Yeonbi tewas. Ia juga melihat Hye Ap dilukai oleh prajurit. Muhyul terbangun dengan kaget.
“Apa kau mengenaliku?” tanya Yeon.
Muhyul membuka matanya dan melihat Yeon dengan bingung.

Mengetahui Muhyul bertahan hidup, Tak Rok memanggilnya.
“Kau bertahan hidup karena darahmu berhenti.” kata Tak Rok. “Kau sangat beruntung. Tapi besok, kami akan mnguji racun itu lagi padamu. Itu artinya kau akan mati.”
“Tidak akan pernah.” kata Muhyul bertekad. “Aku tidak akan mati.”
Tak Rok memandang Muhyul. “Apa ada alasan untuk itu?” tanyanya.
“Karena aku masih harus melakukan sesuatu.” jawab Muhyul. ”
“Melakukan apa?”
“Membalas dendam.” jawab Muhyul.
“Pada siapa?” tanya Tak Rok lagi. Muhyul diam. “Katakan!”
“Raja Yuri.” jawab Muhyul.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s