Iljimae – Episode 02

Tiga orang prajurit utusan Raja tiba di rumah keluarga Lee.
Setelah menyembunyikan putranya, Geom, di dalam lemari, Lee Woh Ho menghadapi ketiga prajurit itu.
Ilmu pedang Won Ho sangat hebat, namun tetap saja tidak bisa mengimbangi ketiga prajurit yang mengepungnya. Geom bisa melihat pertarungan itu dari sebuah lubang di lemari. Won Ho terluka, namun ia tetap tidak menyerah dan bertarung mati-matian. Ia melihat pintu kamar tempat lemari Geom berada terbuka. Ia langsung berlari menutup, namun ia ditebas dari belakang. Lee Won Ho kalah. “Siapa yang menyuruh kalian?” tanyanya.
Raja datang.
“Kenapa kau lakukan ini padaku, Yang Mulia?” Won Ho melihat Raja, sangat terkejut.
“Apa yang dikatakan Gwang Hae benar.” kata Raja, mengeluarkan pedangnya. “Dua matahari tidak bisa berada di langit yang sama.”
Raja membunuh Won Ho dengan pedangnya. Geom melihat mereka dari dalam lemari, dan melihat lambang di pedang yang digunakan Raja. Geom menangis.
Para pembunuh itu sudah mau pergi, namun Chun tiba-tiba berbalik, seperti mendengar sesuatu. Geom menutup mulutnya dengan tangan agar tangis dan nafasnya tidak terdengar. Chun mengguncang-guncang lemari dan Kong He (prajurit yang lain) mengintip lewat lubang lemari. “Tak ada apapun di sana.” kata Kong He. Namun Chun masih curiga. Mereka semua kemudian pergi.
Di saat yang sama, Swe Dol manyelinap ke rumah keluarga Lee. Ia sangat terkejut dan takut melihat Woh Ho sudah dibunuh.
“Tolong aku…” terdengar suara seseorang. “Seseorang.. tolong aku…”
Swe Dol berjalan mencari arah suara. Ia mencoba membuka kunci lemari, namun terdengar suara polisi dari luar, yang berteriak meminta Pemberontak Lee Won Ho menyerah dan ditangkap. Swe Dol panik. Ia kemudian mengangkat lemari itu dan pulang ke rumahnya.
Para polisi berkesimpulan bahwa Lee Won Ho mati bunuh diri karena gagal melakukan pemberontakan. Mereka menemukan secarik kertas yang ditulis dengan darah dibawah rumah keluarga Lee. “Dia benar-benar otak dari rencana pemberontakan ini.” kata kepala polisi.

Geom jatuh sakit dan pingsan di rumah Swe Dol.
Dan Ee, istri Swe Dol, pergi untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ia akhirnya mengetahui bahwa anak yang dibawa Swe Dol adalah putra Won Ho. Ia pulang dan ingin mengusir Geom. “Saat anakku dituduh mencuri, kau hidup tenang sebagai bangsawan!” teriak Dan Ee seraya menarik Geom. Swe Dol menghalanginya. Dan Ee mengatakan bahwa anak itu adalah anak Lee Won Ho dan ia ingin membalaskan dendam pada Lee Won Ho.
“Jika ia adalah anak Lee Won Ho, maka ia dan Ja Dol adalah saudara sedarah. Jadi ia adalah adik Ja Dol.” kata Swe Dol. Dan Ee menangis.

Swe Dol teringat masa lalunya 10 tahun yang lalu ketika ia masuk ke rumah keluarga Lee. Seseorang membayarnya untuk menculik Dan Ee, yang saat itu masih menjadi pelayan keluarga Lee. Agar Dan Ee tidak berteriak, Swe Dol memukulnya hingga pingsan. Swe Dol berlari membopong Dan Ee, namun tiba-tiba Won Ho mumcul di hadapannya. “Aku.. aku hanya melaksanakan perintah.” kata Swe Dol. “Aku hanya ingin melihatmu.” kata Won Ho. “Sekarang aku tenang. Sepertinya kau adalah orang yang baik dan jujur.” Won Ho memberinya sekantung uang. “Aku bergantung padamu. Tolong buat dia bahagia. Dia wanita yang sangat cantik dan sangat berharga untukku.” Swe Dol menyerahkan Dan Ee pada seorang pria, yang ternyata ingin membunuh Dan Ee. “Jangan salahkan aku.” ujar pria itu. “Salahmu sendiri kenapa kau mengandung anak Tuanku.” Ia mengangkat batu dan hendak membunuh Dan Ee, namun Swe Dol menghalanginya dan membawa Dan Ee pergi.

Swe Dol bertemu dengan pelayan dari rumah keluarga Byun Shik. Ia bertanya tentang kabar Ja Dol. Pelayan itu bilang, sekarang nama anak itu adalah Shi Hoo. Pelayan itu juga bercerita bahwa ditemukan secarik kertas di rumah keluarga Lee, yang merupakan bukti bahwa Lee Won Ho adalah otak pemberontakan.
“Jadi begitu.” kata Swe Dol shock. “Ja Dol telah menyebabkan kematian ayahnya kandungnya sendiri. Semua karma ini adalah karena aku.” Swe Dol menangis.

Geom pergi dari rumah Swe Dol. Ia berjalan di pasar dan mendengar para polisi mencari-cari dia. Geom melihat orang-orang berkumpul melihat sesuatu, ia berjalan melewati mereka.
“Pergi!” ujar seorang pria. “Anak kecil tidak boleh melihat ini.” Geom, yang linglung, berjalan pergi. Namun ia mendengar pria itu berkata lagi, “Aku dengar mereka akan memotong-motong tubuh pemberontak itu.” Geom berbalik. Pria itu melanjutkan, “Empat ekor kuda akan menarik mayat pemberontak itu sampai terpotong.”
Geom melihat kedua kaki dan tangan ayahnya diikat dengan tali yang disambungkan ke empat kuda.
Eksekusi dimulai. Geom terjatuh, menangis dan ketakutan. Geom mundur dan berlari pergi.

Geom berjalan menuju rumahnya yang sudah hancur berantakan. Ia menangis dan berlutut di depan sebuah pohon Mae Hwa. Dengan sebuah besi kecil yang ditemukannya, ia menggambar sebuah lambang. Lambang yang dilihatnya di pedang orang yang telah membunuh ayahnya. “Aku tidak akan lupa.” ujarnya. “Tidak akan pernah lupa.”
Tiba-tiba dua orang prajurit datang dan mengejar Geom. Geom melarikan diri dan bersembunyi. Ia bertemu dengan Bong Soon dan kakaknya.
Kakak Bong Soon hendak memberi tahu prajurit bahwa Geom bersembunyi di situ, tapi Geom melarangnya. Geom memberikan perhiasan ayahnya pada kakak Bong Soon. “Aku bisa menjualnya dan dapat uang.” kata kakak Bong Soon. Mereka akhirnya membawa Geom ke perkemahan kumuh.
Geom jatuh sakit karena memakan makanan yang kotor. Ia tidak biasa memakan makanan seperti itu. Kakak Bong Soon pergi untuk menjual perhiasan milik ayah Geom dan membeli obat. Pembeli perhiasan itu kemudian melapor pada Chun.
Chun dan Kong He mengejar kakak Bong Soon, mengira ia adalah Geom.

Geom sadar dan takut akan terjadi sesuatu pada kakak Bong Soon. Ia ingin pergi, namun tiba-tiba melihat kakak Bong Soon datang. Geom menjadi tenang, namun Chun muncul di belakang kakak Bong Soon dan membunuhnya. Bong Soon menangis.
Chun dan Kong He mengejar Geom dan Bong Soon yang melarikan diri. Mereka berpencar karena tidak yakin arah Geom dan Bong Son lari.
Geom dan Bong Soon menemui jalan buntu. Di depan mereka adalah tebing tinggi yang menjurus ke sungai.
“Aku takut.” kata Bong Soon, menangis ketakutan.
“Tenanglah, aku akan melindungimu.” kata Geom, berniat melompat. Ia menggandeng tangan Bong Soon. “Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Satu, dua, tiga.”
Geom melompat ke sungai, namun Kong He tiba-tiba muncul dan menangkap Bong Soon.
Kong He mengeluarkan pedangnya untuk membunuh Bong Soon.

“Anak laki-laki itu melompat ke sungai dan mati.” kata Kong He. “Aku juga sudah membunuh anak perempuan itu.”
“Benarkah?” tanya Chun. “Akhirnya kau kembali ke dirimu yang sebenarnya.”
Beberapa pengawal datang dan membawa mayat seseorang.
“Kenapa kau mengumpulkan mayat?” tanya Kong He pada Moo Yi, satu dari tiga prajurit yang datang ke rumah keluarga Lee.
“Mungkin matahari yang dikatakan oleh peramal buta itu bukanlah Lee Won Ho, namun putranya.” kata Moo Yi.

Geom kembali ke desa. Ia melihat beberapa polisi lewat dan menunduk, berpura-pura mengemis. Salah satu polisi adalah orang yang dulu pernah bertemu dengan Geom dan ayahnya saat kasus pencurian Shi Wan. Ia kemudian menangkap Geom.

Eun Chae sangat sedih mendengar Lee Won Ho telah dibunuh. Ia pergi keluar memandang pohon Mae Hwa dan teringat Geom.

Kong He meninggalkan sebuah surat pada Chun.
“Chun, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak mau lagi membunuh wanita dan anak-anak. Aku lebih memilih membunuh babi untuk hidup.”
Kong He pergi.

Shi Wan mengambil sebuah cangkir berharga dan tanpa sengaja memecahkannya.
Byun Shik melihat pecahan itu dan memukuli Shi Hoo karena mengira ia yang melakukannya.
Chun, yang saat itu sedang berkunjung. melihat ada darah dipecahan keramik. Ia menyerahkan keramik itu pada Shi Hoo.
“Pelakunya pasti terluka tangannya.” kata Shi Hoo pada Byun Shik.
Byun Shik melihat tangan Shi Hoo tidak terluka. Ia kemudian menyuruhnya pergi.
Moo Yi datang dan melaporkan pada Chun bahwa polisi telah menangkap anak yang mungkin adalah Geom. Namun mereka tidak yakin.
Shi Hoo mendengar hal itu dan berlari mendekati mereka. “Aku pernah bertemu dengan anak itu.” kata Shi Hoo.
“Jadi kau bisa mengenalinya?” tanya Moo Yi.
“Ya.”

Ibu Geom ditangkap. Polisi membawa Geom menemui ibunya agar ibunya bisa mengenali Geom.
Chun tiba. Ia bertanya pada Geom. “Dia ibumu, bukan?”
Ibu Geom menggeleng pelan, mengisyaratkan Geom agar tidak berkata apapun.
Untuk melindungi Geom, ibunya berpura-pura bahwa kakak Bong Soon yang mati adalah anaknya. “Apa kau membunuh anakku?” teriaknya pada Chun. Chun mendorong ibu Geom sampai terjatuh. Ibu Geom berpaling pada Geom. Ia mengguncang-guncang tubuh Geom dengan keras. “Siapa kau? Pergi kau! Mati kau!” teriaknya pada Geom.
Geom diam, ketakutan dan menangis. “Wanita itu sudah gila.”
Chun masih ragu. Ia kemudian memberi sebongkah batu pada Geom. “Wanita itu adalah istri pemberontak. Lempar dia dengan batu.”
Geom menerima batu itu dan menatap ibunya.
Dan Ee melihat kejadian itu dari jauh dan merasa sedih.
“Geom, lempar batu itu padaku.” ujar ibu Geom dalam hati. “Aku akan baik-baik saja.”
Moo Yi dan Shi Hoo melihat Geom dan ibunya dari jauh. “Apa memang dia orangnya?” tanya Moo Yi.
“Anak itu…” Shi Hoo menjawab. “Anak itu… Anak Lee WonHo bukan dia. Aku yakin, itu bukan dia.”
Geom ragu, dan dengan terpaksa melempar ibunya dengan batu.
Kepala ibu Geom berdarah.
Moo Yi memberi isyarat pada Chun bahwa anak itu bukanlah anak Lee Won Ho.
“Aku sudah bilang…” ujar Shi Hoo. “Aku pasti akan membayar hutang budiku padamu.”
Chun melepaskan Geom. Ia membawa mayat kakak Bong Soon, dan ibu Geom berpura-pura menangisi kematian putranya.
Geom berjalan pergi perlahan. Dan Ee mengikutinya. Geom pingsan.
Polisi yang menangkap Geom itu, dipecat dari jabatannya.

Geom sakit demam. Tabib bilang, Geom mengalami shock yang luar biasa sehingga ia kehilangan ingatannya.
“Ia masih kecil.” kata Swe Dol. “Sangat sulit baginya untuk menerima semua itu. Kita harus menjaganya. Izinkan aku merawatnya. Dia menjadi seperti ini karena aku. Aku mohon padamu, izinkan aku merawatnya.”
“Tidak!” seru Dan Ee menolak. “Kenapa kau mau merawat anak Lee Won Ho?”
“Dengarkan aku kali ini saja.” ujar Swe Dol. “Aku sudah menyelamatkan nyawamu, dan sudah menjaga Ja Dil seperti darah dagingku sendiri. Karena itu.. kau harus mendengarkan aku kali ini saja. Tunggu… Kita akan menamai dia apa ya? Ah, kita panggil dia Ryung. Ryung!”
Ryung kemudian menjadi putra Swe Dol dan Dan Ee.

Ternyata Kong He tidak membunuh Bong Soon. Ia memberi uang pada sepasang suami istri untuk menjaga Bong Soon. Namun pasangan suami istri itu malah berniat menjualnya.
Bong Soon kabur dan mengikuti Kong He kemana-mana.
“Pergi!” usir Kong He. “Turuti bibi itu!”
“Aku takut.” kata Bong Soon, menangis. “Aku tidak mau dijual.”

13 tahun kemudian.
Ryung sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa. Ia menjadi bulan-bulanan para anak bangsawan dibawah pimpinan Shi Wan. Mereka memukuli Ryung habis-habisan dan mengikatnya di pohon hingga Ryung tidak sadarkan diri.
“Geom, apapun yang terjadi pada ayah, kau harus tetap hidup.” terdengar sebuah suara di kepalanya. “Berjanjilah pada ayah. Katakan bahwa kau akan terus hidup.”
Ryung, yang tidak sadarkan diri, ditolong oleh seorang pemburu. Ia membawa Ryung ke rumahnya dan mengobatinya.
Ryung menggumam dalam tidurnya. “Ayah… Ibu… Geom… Geom tidak akan mati… Ayah!”
“Geom? Jadi dia masih hidup.” ujar si Pemburu pada dirinya sendiri.
“Ayah!!!” Geom berteriak dan tersadar dari tidurnya.
“Kalau aku tidak datang, kau pasti sudah mati membeku.” kata si Pemburu. “Siapa dan hidup dimana kau? Kenapa kau pergi ke gunung ini?”
“Namaku Ryung. Aku tinggal di NamMun.” jawab Ryung, meminum air hangat yang diberikan pemburu. “Aku berterima kasih. Tapi…”
“Aku adalah seorang pemburu.” kata si Pemburu. “Aku datang kemari untuk melihat apa ada binatang yang terkena perangkapku. Dan aku berhasil menangkap binatang yang sangat besar.”
Ryung tertawa. “Apa yang kau tangkap? Badak? Harimau? Biarkan aku lihat!”
Si pemburu keluar. “Ryung? Hahaha.. Kau yang bilang sendiri padaku bahwa kau adalah Geom. Geom adalah putra pemberontak Lee Won Ho. Hahaha…”
Si pemburu adalah polisi yang dulu menangkap Geom kecil, yang kemudian dipecat dari pekerjaannya.

Ryung kembali ke rumah. Hari sudah siang pagi namun Ryung tidak juga bangun. Swe Dol memukulinya dengan sapu. “Aku tidak mau pergi! Aku tidak mau belajar ke tempat itu!” seru Ryung. Namun ayahnya bersikeras menyuruhnya pergi.
Ryung berjalan pergi. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang pendeta, yang tidak lain adalah Kong He.
“Manusia adalah makhluk yang sangat menyedihkan.” kata Kong He, menghentikan jalan Ryung. Ryung menatapnya kesal, dan hendak berjalan pergi. “Aku punya sesuatu yang menarik untukmu.”
Ryung berhenti berjalan. “Menarik?”
Kong He membisikkan di telinga Ryung, “Baru diterbitkan. Tidak di edit. Sangat menggairahkan.”
“Menggairahkan?” tanya Ryung antusias.
Kong He mengajaknya menemui seorang gadis dan meninggalkannya di sana. Gadis itu memanggil ‘Ayah’ pada Kong He. Ia tidak lain adalah Bong Soon, yang dibesarkan dan dirawat oleh Kong He.
“Kau mau karya Chunnah? Itu adalah buku kami yang paling laris.” kata Bong Soon.
“Yang penting menggairahkan.” kata Ryung.
Bong Soon mulai mengeluarkan bukunya satu demi satu dan mempromosikannya pada Ryung. Ryung membeli satu buku yang paling erotis. Ia memamerkan buku itu pada temannya, Dae Shi.
“Kupikir kau membawa sesuatu yang bisa dimakan.” kata Dae Shi acuh.
Ryung membuka halaman pertama buku itu, ternyata buku itu hanya terlukis gambar bunga dan bukan sesuatu yang erotis. Ryung merasa tertipu dan kesal.

Kong He dan Bong Soon bekerja sebagai pedagang. Ryung mencari mereka ke toko tempat mereka berjualan dan mengusir semua pembeli yang ada disana. Ryung meminta uangnya di kembalikan. Bong Soon pergi keluar untuk kabur. Ryung mengikutinya.
Tiba-tiba ada seseorang yang memukul kepala Ryung dari belakang. Ternyata itu adalah Swe Dol, ayahnya. Swe Dol menarik Ryung, menyuruh ia pergi belajar.
“Aku membelikanmu ini, Ayah!” kata Ryung, merebut sebuah botol obat dari Bong Soon. Obat itu adalah obat yang bisa membuat meningkatkan nafsu seseorang (kacau banget nih).
“Apa ini?” tanya Swe Dol.

Chun dan Moo Yi mendapat laporan dari si pemburu bahwa ia telah menemukan Geom, putra Lee Won Ho yang telah meninggalkan 13 tahun yang lalu. Chun menyuruh Moo Yi untuk menemui si pemburu.

Swe Dol menarik Ryung ke sekolah untuk belajar. “Duduk!” teriaknya, mendorong Ryung.
Semua pelajar bangsawan menatap ke arahnya dengan pandangan marah.
Shi Wan menggebrak meja. Ia dan temannya kemudian menyeret Ryung dan mengikatnya di atas sumur. Ryung di celup ke dalam sumur, kemudian diangkat lagi.
“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menunjukkan wajahmu lagi!” seru Shi Wan. “Kau! Kau berani menatapku!”
Shi Wan mengambil kayu dan memukul kepala Ryung dengan sangat keras hingga pingsan.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

One comment on “Iljimae – Episode 02

  1. saya jadi tetap bisa mngikuti drama-drama Saeguk meski kadang-kadang harus keluar kota and ndak sempat melihatnya berkat sinopsis Mas Andy. Saya sudah langganan baca sejak Song of Prince…tk berat untuk usahanya….

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s