Iljimae – Episode 09

Ryung terbangun, terkejut melihat seorang gadis tiba-tiba berada di sampingnya. Ryung tersenyum, teringat gadis cantik yang ditemuinya saat pertandingan di ring.
“Siapa kau? Dan kenapa kau berbaring di tembok rumah orang lain?” tanya Eun Chae, turun dari pohon Mae Hwa.
“Aku… Aku mendengar burung hitam memanggil, karena itu aku…”
Eun Chae menoleh. “Apa kau tahu tentang burung itu?”
“Nona, apa kau tahu tentang burung itu juga?” tanya Ryung.
“Ketika aku masih kecil, ada anak laki-laki yang memberi tahu aku tentang burung itu.” jawab Eun Chae.
“Nona, apa kau mau duduk di sini dan melihat burung itu?” tanya Ryung. Ia membantu Eun Chae naik.
“Aku pernah mendengar bahwa burung itu memiliki sebuah kisah sedih.” Eun Chae bercerita. “Tapi pada akhirnya, aku tidak pernah bisa mendengar cerita itu.”
“Apa kau mau aku menceritakan kisah itu?”
Eun Chae sedikit terkejut, menatap Ryung. Ryung memandang ke arah burung hitam berada, persis sama seperti yang dilakukannya saat masih kecil. “Pada zaman dahulu, ada seorang koki yang memiliki tunangan yang sangat cantik. Tapi mendekati hari pernikahan, tunangannya meninggal dunia. Koki itu duduk di depan makam tunangannya setiap hari. Menangisi kematian tunangannya.”

Eun Chae mendengarkan cerita Ryung dengan penuh perhatian. Secara tidak sadar, mereka seperti kembali ke masa lalu saat mereka masih kecil. Duduk di pohon yang sama dan meneruskan cerita yang dulu tidak sempat dilanjutkan.
“Suatu ketika, pohon Mae Hwa tumbuh di sebelah makam itu. Si koki menganggap pohon tersebut sebagai jiwa tunangannya yang sudah meninggal, karena itulah ia menjaga pohon Mae Hwa dengan segenap hatinya. Ketika pohon tersebut tumbuh tinggi, umur koki itu juga semakin menua seiring dengan bertambahnya waktu. Ia mulai merasa khawatir, ‘Jika aku mati, siapa yang akan menjaga pohon Mae Hwa ini?’. Suatu hari secara tiba-tiba koki itu menghilang.”
“Kemana dia pergi?” tanya Eun Chae.
“Semua orang di desa cemas dan mencari koki tua itu ke makan tunangannya.” lanjut Ryung. “Namun koki itu tidak ada di sana. Yang ada hanya sebuah vas porselin cantik. Dari dalam vas tersebut, seekor burung hitam kecil terbang. Burung itu terbang dan hinggap di pohon Mae Hwa.”
“Koki tua itu meninggal dan bereinkarnasi menjadi burung hitam.” kata Eun Chae.
“Bahkan ketika dia sudah meninggal, dia tidak bisa meninggalkan pohon Mae Hwa. Itulah takdirnya.”
“Takdir…” Eun Chae menatap Ryung. “Apa kau percaya pada takdir?”
Ryung menoleh, menatap Eun Chae. Belum sempat Ryung menjawab, tiba-tiba Seung Seung memanggilnya.
“Nona!” panggil Seung Seung. “Masuklah ke dalam rumah.”
“Aku akan kesana sebentar lagi. Masuklah terlebih dulu.” kata Eun Chae. Ia menoleh lagi mencari Ryung, namun Ryung sudah tidak ada.

Di pihak lain, Bong Soon mengunjungi tempat kematian kakaknya. Kong He melihatnya dari jauh.
Bong Soon seakan berbincang dengan kakaknya, menunjukkan perhiasan milik Ryung. “Kau ingat ini, kakak?” tanya Bong Soon. “Ternyata dia masih hidup. Aku harap dia selamat dan hidup dengan baik. Aku.. ingin membayar hutangku padanya.”

Shi Hoo masih penasaran dengan trik yang dilakukan oleh si pencuri. Ia teringat pedagang sayuran berkata, “Beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda yang datang dan membeli semua sayuran.” Shi Hoo menyadari sesuatu. Ia bergegas pergi ke kebun tempat gerobak menghilang. Saat itu sedang hujan cukup deras. Sesampainya di kebun, ia mencabut salah satu sayur dari tanah, ternyata sayur itu hanya diletakkan di sana, bukan benar-benar sayuran hidup. Ia mengangguk-angguk, mulai mengerti.
Shi Hoo berjalan perlahan, mencoba mencari sesuatu lagi. Tiba-tiba ia melihat aliran air hujan turun ke sebuah celah di dalam tanah. Ternyata itu adalah sebuah lubang besar yang ditutup dengan papan. Shi Hoo mendorong papan hingga memperlihatkan sebuah lubang besar.
Shi Hoo mencoba menarik kesimpulan dari bukti-bukti yang ia dapat.


Pertama, si pencuri menyalakan api dengan bubuk mesiu untuk membuat ledakan.
Benar. Ryung membuat bahan peledak (bom)-nya sendiri. Si pencuri sengaja mencari keributan agar ledakan vom asap bisa terjadi sebelum para penarik gerobak pergi.

Kedua, setelah bom asap meledak, si pencuri naik ke atas gerobak dengan membawa kapak. Kapak tersebut digunakan untuk melepaskan ikatan gerobak dengan kuda, kemudian kapak itu dilemparkan untuk memutus tali penahan papan yang diikatkan ke pohon. Papan yang menutupi lubang terbuka. Gerobak jatuh ke dalam lubang.

Shi Hoo memperagakan trik tersebut. Katika papan didorong, mereka memang melihat gerobak di dalam lubang tersebut, namun sudah tidak ditemukan harta milik Lee Myung lagi. Benda yang ditinggalkan pencuri di atas gerobak adalah sebuah kertas yang berlukiskan bunga Mae Hwa dan satu keping uang. (Kena mereka!) Kepala penjara menatap Shi Hoo dengan bangga.

Para prajurit meminta kedua pedagang sayur untuk menjelaskan ciri-ciri si pembeli sayur dan mencoba melukisnya. “Aku tidak yakin… Ia memiliki dua buah mata yang panjang dan sipit.” kata pedagang laki-laki.
“Tidak! Tidak sepanjang itu!” protes pedagang wanita ketika melihat si pelukis menggambar mata yang salah. “Matanya bercahaya seperti cahaya rembulan. Hidungnya sangat mancung. Hatiku sampai berdebar melihatnya. ” katanya dengan kagum.
“Kenapa kau menggambar hidunya seperti pisau begitu?” protes pedagang pria. Si pelukis mengganti kertas lagi. “Di pipi sebelah kanan, ada tahi lalat besar.”
Selesailah gambar wajah di pencuri. Para polisi menyebarkan gambar tersebut ke masyarakat.

“Iljimae?” gumam Swe Dol ketika melihat gambar wajah si pencuri yang ditempel di dinding kota.
“Dia meninggalkan lukisan bunga Hwa Hwa setelah melakukan pencurian.” ujar Ayah Heung Kyun dengan antusias dan penuh kekaguman. “Karena itulah orang-orang memanggilnya Iljimae. Ranting bunga Mae Hwa, Iljimae.”
“Orang itu luar biasa.” kata Swe Dol. “Mencuri barang saja sudah butuh banyak waktu, dan dia masih sempat menggambar. Tapi, kenapa harus Iljimae?” Maksud Swe Dol adalah kenapa pencuri itu harus menggabar bunga Mae Hwa) dan bukan yang lain. Tapi Ayah Heung Kyun salah mengartikan.
“Bukankah tadi aku sudah bilang?” protes Heung Kyun. “Kenapa kau lebih bodoh dari aku? Artinya ranting bunga Mae Hwa.”
“Aku bertanya padamu, kenapa harus Iljimae?” Swe Dol bertanya kesal. Sebelum Heung Kyun sempat menjawab, Ryung datang.
“Bukankah pencuri itu mirip denganku, Ayah?” tanya Ryung.
“Mirip apanya?” tanya Swe Dol. “Nak, hanya dengan sekali lihat saja, kau akan tahu bahwa orang itu dilahirkan untuk menjadi orang jahat. Lihat matanya, panjang sekali.”
“Mataku juga panjang. Lihat, Ayah!” Ryung bersikeras. Swe Dol mengatakan padanya agar jangan bicara lagi.

Swe Dol pergi ke pasar, menunjukkan pada Ryung sebuah tempat kecil di sana. “Aku memutuskan akan membuka toko kunci di sini.” katanya.
“Dari mana Ayah dapat modal?” tanya Ryung.
“Aku banyak bekerja pada orang-orang dan menabung pendapatanku.” kata Swe Dol.
“Siapa orang yang akan mencari pencuri makanan untuk membuat gembok dan kunci untuk mereka?”
“Apa kau tidak tahu kalau gembok rahasia Tuan Lee Myung dibuat oleh ayahmu?” tanya Swe Dol dengan bangga.
“Kau yang membuatnya?” Ryung berkata kaget. “Gembok yang tidak memiliki lubang?”
“Wah, berita cepat sekali menyebar.” kata Swe Dol senang. “Mau ada satu atau dua Iljimae, kita harus punya rencana. Jika ia adalah Dewa Kunci, maka aku akan menjadi Dewa Gembok.”
Ryung kelihatan tidak senang.

Lee Myung menemui Byun Shik. “Tidak apa-apa jika uang itu hilang. Tapi aku ingin kau menemukan Mutiara Hitam untukku. Nama mutiara itu adalah Air Mata Laut.” kata Lee Myung. “Aku hendak memberikan mutiara itu pada seorang Jenderal Istana.”
“Ah, mutiara.” Byun Shik bergumam. “Berapa harga mutiara itu?”

Ryung mencari sebuah mutiara hitam yang sedang dicari-cari orang-orang dari istana. Ia mengambil mutiara itu dan datang ke seorang ahli untuk bertanya harga mutiara tersebut.
“Aku belum pernah melihat benda yang begitu tidak berharga seperti ini.” kata orang itu. Ryung mengambil mutiara itu kembali dan berjalan pergi. “Tu..tunggu sebentar.” panggil orang itu.

Eun Chae melihat pohon bunga Mae Hwa di tempat lain dan mendongak ke atas. Di ranting pohon tersebut tidak ada Burung Hitam. Hanya di pohon Mae Hwa besar di rumah Lee Won Ho-lah yang Burung Hitam mau bersarang. “Burung itu tidak ada di sini.” pikir Eun Chae.
Ryung berjalan, masih memikirkan soal Mutiara Hitam. Dari kejauhan ia melihat para prajurit sedang melakukan inspeksi mencari Iljimae. Secara naluriah, Ryung langsung berbalik dan berlari ka arah berlawanan. Kepala polisi menlihatnya dan menyuruh Shi Hoo mengejar.
Di sisi, lain, setelah melihat pohon Mae Hwa, Eun Chae berjalan dengan Seung Seung menuju tempat pembangunan. Namun di tengah jalan ia bertemu seorang pria mata keranjang yang menggodanya. Pengawal pria itu menghentikan Eun Chae.
“Apa kau tidak tahu siapa nona ini?” seru Seung Seung marah.
“Apa kau tidak tahu siapa tuan muda ini?” pengawal pria itu menantang. “Tuan Muda ini adalah Putra Duta Besar Cing, Jung Myung Seo, Tuan Muda Jung Ji Yong.”
“Aku berpikir dimanakah letak kecantikan gadis-gadis di Nanyang.” kata Jung Ji Yong. “Ternyata kecantikan mereka semuanya ada di sini. Aku belum alam berada di Nanyang. Kau harus menemaniku berkeliling.”
Eun Chae tidak memedulikannya dan berjalan pergi. Jung Ji Yong menarik tangannya. “Tuan Muda, ini sangat tidak sopan.” kata Eun Chae marah.
Di saat yang sama, Ryung sedang berlari menghindari pengawal. Ia melihat Eun Chae sedang diganggu seorang pria dan berjalan ke arah mereka. Ketika Jung Ji Yong ingin menampar Eun Chae, Ryung menahan tangan pria itu. Diam-diam, Ryung meletakkan Mutiara Hitam di dalam mantel Eun Chae.
“Bukankah dia sudah bilang kalau dia tidak mau?” tanya Ryung. Eun Chae kelihatan sangat senang bertemu lagi dengan Ryung.
“Siapa kau?” tanya Jung Myung Seo.
Ryung membisiki pria itu. “Kenapa mata Tuan Muda tidak bisa menilai? Aku akan membawamu ke rumah bordir. Disana ada banyak sekali gadis cantik. Sebut saja namaku dan Tuan Muda akan diberi potongan harga.”
Jung Ji Yong marah dan memukul wajah Ryung. Pengawal-pengawalnya menendangi Ryung hingga babak belur. Eun Chae menangis hendak menolong, namun Seung Seung menahannya. Shi Hoo dan prajurit lain datang.
“Orang itu… karena menolongku…” Eun Chae menangis. “Kakak, tolonglah dia!”
Shi Hoo bicara pada Jung Ji Yong. “Tuan. Laki-laki ini dituduh melakukan pencurian di rumah seorang bangsawan.” katanya. “Kami ingin membawanya untuk diinterogasi. Tolong serahkan dia pada kami. Kami juga akan menghukumnya karena bersikap tidak sopan pada Anda.”
“Aku akan menghukumnya sendiri!” kata Jung Ji Yong.
“Lalu bagaimana dengan putri Tuan Byun Shik?” Shi Hoo mengancam dengan halus. Setelah mendengar nama Byun Shik, akhirnya Jung Ji Yong setuju dan berjalan pergi.
“Kakak, pria ini tidak ada sangkut pautnya dengan…” Eun Chae hendak membela Ryung, namun Shi Hoo menyuruhnya jangan ikut campur.
Para prajurit memeriksa tubuh Ryung dan menyamakan wajah Ryung dengan gambar Iljimae. Sama sekali tidak mirip. Mereka meninggalkan Ryung dan pergi begitu saja.
“Aku akan mengantarmu pulang. Ayo.” ajak Shi Hoo pada Eun Chae. Sebelum pergi, Eun Chae memberikan sebuah sapu tangan pada Ryung. Ia tersenyum lembut pada Ryung.

Hari sudah malam. Shi Hoo mendatangi kamar Eun Chae. “Apa kau baik-baik saja?”
Eun Chae cemas. “Orang itu akan baik-baik saja, kan?”

Ryung pulang ke rumah. Ia menatap sapu tangan Eun Chae dan teringat masa kecilnya bersama seorang gadis kecil, pertemuan pertamanya dengan Eun Chae di arena pertandingan serta pertemuan mereka lagi di dahan pohon Mae Hwa. Ryung hendak membuang saputangan itu, namun berubah pikiran dan menyimpannya.

Byun Shik menampar Shi Hoo karena Shi Wan menceritakan padanya kalau Eun Chae diganggu oleh seorang pria. Eun Chae datang untuk membela Shi Hoo. “Dia adalah putra Duta Besar China. Bagaimana bisa Kakak menangkapnya?” ujar Eun Chae.
Byun Shik berbalik ke arah Shi Wan. “Kenapa kau tidak mengatakannya?” Ia menoleh lagi pada Shi Hoo, terlalu malu untuk meminta maaf. “Apa pukulanku sakit? Ehm.. Kau melakukan hal yang benar.”
Shi Hoo kemudian menemui Nyonya Han di rumah bordir. “Bisakah aku meminta untuk dibuatkan sup ikan?” tanya Shi Hoo.
Wanita itu sedang bekerja di dapur, namun langsung berdiri begitu melihat Shi Hoo. “Tuan Muda, apa kau belum makan malam?” tanyanya keibuan. “Tolong tunggu sebentar, Tuan Muda.”
Shi Hoo tersenyum dan Nyonya Han menyiapkan pesanannya. Shi Hoo makan dengan lahap. “Saat aku masih kecil, ayahku sering mabuk. Karena itu ibuku sering memasak sup ikan. Rasanya sama persis dengan masakanmu.”
“Sepertinya Tuan Muda memiliki ibu yang sangat baik hati.” kata Nyonya Han. “Tuan Muda tumbuh menjadi pria yang baik seperti ini, pasti karena kasih sayang dan perhatian ibumu.”
Shi Hoo hanya bisa tersenyum. “Apa kau punya anak?”
“Aku punya seorang putra yang seumuran denganmu. Dan juga seorang putri.” Nyonya Han menjawab dengan sedih.
“Kalian tidak hidup bersama?”
Nyonya Han tidak menjawab dan tersenyum. “Kapan saja kau ingin makan sup ikan, Tuan Muda bisa datang kemari.”

Ryung menunggu di depan pintu gerbang rumah lamanya untuk mencari Eun Chae. Namun penjaga berkata bahwa di rumah tersebut tidak memiliki seorang nona. Ryung bersikeras, menunjukkan saputangan yang dipegangnya. Si penjaga kesal. “Baik, tunggu sebentar!”
Tidak lama kemudian keluar seorang wanita tua. “Kau mencariku? Ada apa?” tanya wanita itu.
“Aku datang mencari putrimu.”
“Putri apa? Aku tidak punya anak.” kata wanita itu, mulai marah. “Anak ingusan ini! Apa kau mau membodohi aku?!” Wanita itu menyuruh penjaganya mengusir Ryung. Ryung berpura-pura pergi, namun ternyata bersembunyi.
Penjaga tersebut kemudian pergi menemui Shi Wan untuk melaporkan bahwa ada seorang pria yang mencari Eun Chae. Ryung membuntutinya. “Oh, ternyata gadis itu adalah adiknya!”

Shi Hoo putus asa. “Kita harus menangkapnya.”
“Maksudmu Iljimae?” tanya kepala polisi. “Bagaimana kita bisa menangkapnya kalau kita tidak punya petunjuk. Peti, koin, lukisan bunga Mae Hwa. Kita tidak punya petunjuk lain selain itu.”
Shi Hoo melihat peti dengan seksama dan membaliknya. Ia terkejut melihat sesuatu.
Shi Hoo dan beberapa pengawal mendatangi pedagang sayuran. Saat itu putri pedagang sayur-lah yang sedang menjaga barang dagangan. (Inget kan, anak kecil yang mau menikah sama Ryung?)
“Namamu Nyang Soon kan?” tanya Shi Hoo pada gadis kecil itu. Gadis itu tidak menjawab. “Aku diperintahkan istana untuk mengadakan penyelidikan.”
Tiba-tiba ayah Nyang Soon datang. Shi Hoo bertanya soal peti kayu yang dibawanya.
“Di kota ini bukan hanya aku yang menjual sayuran, Tuan.” kata pria itu, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
“Aku menemukan kertas ini di balik peti yang ada di dalam geronak.” kata Shi Hoo. Ia menyimpulkan bahwa pedagang tersebut adalah teman si pencuri dan kemudian menangkapnya.
Pedagang itu diinterogasi dan menyatakan bahwa dialah yang memberikan peti apel tersebut pada Lee Myung. “Apa yang bisa kulakukan? Pria itu bukan manusia. Jika kami pedagang tidak memberinya peti (berisi uang) padanya, maka kami tidak akan bisa berdagang dengan tenang.”

Laporan ini sampai pada para pejabat. Beberapa pejabat meminta agar Lee Myung dihukum karena telah menyimpan kekayaan pribadi dan mengirim ke luar negeri. Namun Byun Shik tidak setuju. “Lee Myung pernah menjadi pahlawan. Jika Yang Mulia menghukum seorang pahlawan, maka pemerintahanmu akan goyah.”
Yang Mulia memutuskan untuk tetap menghukum Lee Myung sesuai dengan hukum yang berlaku.
Setelah itu, Byun Shik menemui kepala polisi dan memarahinya. “Kenapa kau menyebarkan hal ini keluar?” tanyanya marah. “Seharusnya kau bisa mencegah hal seperti ini terjadi. Apa kau tahu, hanya karena satu orang pencuri, bisa menyebabkan masalah yang begitu besar seperti ini!”
Ryung datang bersama istri si pedagang dan memohon-mohon agar istri pedagang diizinkan menjenguk suaminya. Ryung berlutut di kaki Byun Shik. “Apa aku pernah melihatmu sebelumnya?” tanya Byun Shik, mencoba mengingat. Ia menolak permohonan Ryung. “Tidak! Pergi sana!”
“Kalau begitu, aku akan datang ke istana dan menemui Raja.” ancam Ryung.
Byun Shik menoleh. “Ah, aku ingat. Kau adalah orang yang… Ah, kau membuat kepalaku pusing. Baiklah. Biarkan istri pedagang itu masuk!”

Byun Shik melakukan protes di depan istana untuk membela Lee Myung. Melihat itu, para pejabat lain ikut-ikutan. Byun Shik melirik sekelilingnya, ini semua hanya sebuah skenario. Raja akhirnya menarik kembali hukuman Lee Myung dan meminta Iljimae segera di tangkap.
Pedagang ayah Nyang Soon di bebaskan, namun semua uang dan barang dagangan diambil oleh para polisi. Ryung bingung memikirkan semua masalah ini.
Nyang Soon menunjukkan sekeping uang pada Ryung dan menaruh uang tersebut di tangan Ryung. “Apa ini?” tanya Ryung.
“Ini bayaran untukmu.” kata Nyang Soon. “Kau harus membantu ayahku memberi pelajaran pada para bajingan itu. Kau anggota geng Ajik yang baik. Aku tahu itu. Jika kau bersedia, aku akan menikah denganmu jika sudah besar nanti.”

Ryung membereskan peti hasil curiannya. Dari belakang masing-masing peti, ia menemukan kertas dengan nama-nama toko. Ia berpikir sesuatu. Peti berisi uang ini adalah milik toko yang namanya tercantum di belakang peti.

Keesokkan harinya, di depan rumah ayah Nyang Soon ada sebuah bungkusan berisi banyak kepingan uang. “Semua uangnya kembali!” seru istri pedagang senang.
Ayah Heung Kyun datang dan berkata bahwa uang milik semua toko yang lain juga sudah dikembalikan.

Swe Dol mulai membuka sebuah toko kunci kecil di pasar. Ia dan teman-temannya membuat selamatan agar toko tersebut sukses dan bisnisnya lancar. Namun Ryung dan Bong Soon tidak datang.

Bong Soon sedang mondar-mandir di depan gerbang istana untuk mencari orang yang memiliki perhiasan Lee Won Ho. Sayang usahanya tidak membuahkan hasil.

Ryung berkeliaran lagi dengan geng Ajik, bertanya kapan mereka akan pergi ke rumah para bangsawan lagi. Namun Hee Bong belum tahu. Tiba-tiba ia melihat sebuah toko baru dan mendatangi mereka. Ryung kabur dan bersembunyi karena toko itu adalah milik Swe Dol dan Dan Ee.
Hee Bong meminta Swe Dol memberi uang perlindungan padanya. Jelas saja Swe Dol dan Ee menolak dan mengusir mereka. Hee Bong memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan toko Swe Dol, namun Shi Hoo tiba-tiba muncul dan mencegah mereka. Hee Bong terpaksa pergi. “Sepertinya aku pernah melihat orang itu.” pikir Hee Bong. “Dia adalah…”
“Ja Dol…” Swe Dol tersenyum.
“Aku adalah pengawal kerajaan. Itu adalah tugasku.” kata Shi Hoo dingin. “Jika tidak ada lagi yang kau butuhkan, aku mohon diri.” Shi Hoo berbalik dan berjalan pergi, bersikap seolah tidak mengenal Dan Ee. Dan Ee menangis.

Hee Bong menunggu Shi Hoo di jembatan.
“Enyah dari hadapanku!” kata Shi Hoo angkuh. Hee Bong menatap Shi Hoo tajam dan mengepalkan tangannya. Ryung melihat mereka, lalu berusaha membawa Hee Bong pergi. Hee Bong tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. “Maafkan kami.” kata Ryung mewakili Hee Bong.
“Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Shi Hoo pada Hee Bong.
“Mana mungkin kami ingin mengatakan sesuatu.” kata Ryung. “Silahkan lewat. Ah! Kau adalah orang yang di arena waktu itu. Apa kau ingat aku?”
Tanpa menjawab, Shi Hoo berjalan melewati mereka.
“Kakak, apa yang lakukan?” tanya Ryung. “Dia orang baik.”
“Dia adalah bajingan yang waktu itu.” kata Hee Bong. “Dia adalah orang yang melaporkan kakakmu pada polisi!”
Ryung sangat terkejut dan marah. Ia hendak berlari mengejar Shi Hoo, namun kali ini Hee Bong menahannya. “Apa yang mau kau lakukan?”
“Lepaskan aku!” teriak Ryung. “Lepaskan aku!”
“Kendalikan dirimu! Apa kau ingin mati?”
Kemarahan benar-benar sudah meledak dalam diri Ryung. “Lepaskan aku!”

Setelah Ryung agak tenang, Hee Bong mengajak Ryung minum di sebuah restoran. “Jika dipikirkan baik-baik, dia tidak terlalu bersalah juga. Ia berpikir bahwa kakakmu adalah budak yang melukai penjaga.”
Ryung hanya diam. Tiba-tiba terdengar keributan dari arah belakang mereka. Shi Wan sedang dalam keadaan mabuk dan bertengkar dengan seseorang pria jalanan. Shi Wan tidak menerima kekalahannya dalam berjudi. “Baik.” kata pria jalanan itu. “Aku akan melawanmu lagi. Tapi kali ini taruhannya bukan uang, aku ingin hal yang lain.” Pria jalanan itu ingin bertaruh jari tangan. Orang yang kalah akan kehilangan jarinya.
Shi Wan setuju.
Hee Bong bercerita bahwa Shi Wan adalah saudara Shi Hoo. Shi Hoo berasal dari hasil hubungan Byun Shik dengan seorang pelayan. “Benarkah?” tanya Ryung. Sepertinya ia sedang memikirkan sebuah rencana di kepalanya.

Shi Wan kalah dalam perjudian. Pria jalanan dan anak buahnya hendak memotong jari Shi Wan, namun Ryung datang menolongnya. “Berjudi adalah untun bersenang-senang.” kata Ryung. “Kenapa kau ingin memotong tangannya?”
“Siapa kau?”
“Kalau kau tidak pernah mendengar nama Ryung, si raja judi, maka aku yakin kau pasti bukan orang sini.”
“Jadi aku Ryung?” tanya pria itu.
“Kau sudah pernah mendengar tentangku?” tanya Ryung. “Ayo bermain denganku. Jika aku menang, tolong ampuni Tuan Muda itu. Jika aku kalah, kau bisa mendapatkan tangannya dan tanganku juga.” Ryung mengeluarkan pisau dari sakunya dan menusuk pisau tersebut di meja, dekat tangannya.
Hee Bong cemas. “Apa yang kau lakukan, bodoh?”
“Benar.” kata pria jalanan. “Aku dengar kau sangat berani. Baiklah kalau begitu, aku ingin melihat sampai dimana tingkat keberanianmu.”
Perjudian antara Ryung dan pria jalanan dimulai.
Pria itu menetakkan sebuah kartu tertutup di depan Ryung. “Tebaklah.” tantang pria itu. “Jika kau bisa menebak dengan benar, maka kau memang pantas mendapatkan gelar penjudi terbaik di NamMun.”
Ryung berpikir. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam dan menggeleng putus asa pada Hee Bong. Hee Bong panik bukan main. Shi Wan ketakutan.
“Baik, tangan siapa yang mau dipotong terlebih dahulu?” tanya si pria jalanan, mengambil pisau Ryung. “Kurasa tangan Tuan Muda lebih berharga.”
Ryung mengambil pisaunya. “Ini pisauku. Kalau kau mau, pakai pisaumu sendiri.”
Shi Wan berteriak marah padanya. “Beraninya kau menggunakan cara ini untuk menyiksaku!”
“Karena kau, ayahku memohon sebuah gigi pada tikus.” ujar Ryung acuh.
Pria jalanan mengangkat pisaunya untuk menebas tangan Shi Wan. Tiba-tiba Ryung berkata, “Soo Joo nomor 7.”
Hee Bong membuka kartu tertutup dan melihatnya takut-takut. “Soo Joo nomor 7!” teriaknya senang. Inilah awal pertemanan Shi Wan dengan Ryung.

Shi Wan bertanya bagaimana cara Ryung menebak kartu dengan benar. Triknya adalah dengan menggunakan pisau yang ditusukkan Ryung ke meja.

Shi Wan mengajak Ryung makan di sebuah restoran mewah di rumah bordir. Ia berubah menjadi orang yang teramat sangat baik pada Ryung. “Jika ada masalah apapun, jangan segan mengatakannya padaku.” kata Shi Wan.
“Bolehkah aku mengunjungi rumahmu?” tanya Ryung. “Aku mendengar ada 99 kamar di rumahmu, yang lebih mewah dibandingkan istana. Impianku adalah untuk melihatnya sendiri dengan mataku, dengan begitu aku bisa mati dengan tenang.”
“Tidak masalah!” kata Shi Wan. “Ayo berkunjung ke rumahku!”
“Bagaimana jika besok?”
Shi Wan merasa bersalah. “Aku harus bekerja besok dan lusa.” katanya. “Seorang bangsawan di Yong Jong tiba-tiba harus pergi ke Cing untuk menjadi duta besar. Jadi akan ada pesta perpisahan dari para anggota Jeonwoohoe di rumahnya. Ayahku juga termasuk anggota Jeonwoohoe. Aku heran, dirumahnya sudah ada tiga pengawal, tapi kenapa harus memanggil prajurit istana. Dia juga bisa menggunakan pedang kalau mau.”
“Pedang?” tanya Ryung penasaran. Ia memakan sup ikan dengan lahap. “Apa nama makanan ini? Ini enak sekali. Kupikir makanan yang dimasak ibuku adalah makanan paling enak di dunia. Tapi koki disini juga tidak buruk. Aku ingin tahu siapa yang memasaknya.”
“Kau ingin memesan ini lagi?” Shi Wan memanggil seorang wanita untuk membawakan sup ikan lagi.
Wanita itu meminta Nyonya Han memasakkan lagi sup ikan untuk Shi Wan. “Akhir-akhir ini banyak sekali pelanggan yang memesan sup itu. Kenapa kau begitu pandai memasak?”
Nyonya Han tertawa. “Ini adalah sup yang sangat disukai putraku.”
“Jika sudah jadi, antar sup itu ke kamar tamu, ya!”
Nyonya Han mengantarkan sup itu ke kamar, namun Ryung dan Shi Wan sudah pergi. Nyonya Han membereskan makanan.
Ryung ternyata pergi ke toiler dan Shi Wan berjalan-jalan di luar. Ketika Ryung hendak masuk ke dalam kamar, Shi Wan memanggilnya. “Aku harus pergi sekarang, Ryung!”
Padahal pertemuan Ryung dengan ibunya tinggal selangkah lagi.

Dan Ee murung. Swe Dol memberi tahu kalau Hee Bong adalah anggota geng Ajik. Dan Ee meminjam pisau dari pedagang lain dan pergi bersama Swe Dol untuk menemui Hee Bong.
Swe Dol langsung menyerang Hee Bong begitu melihatnya. Hee Bong marah dan berganti menyerang Swe Dol.
“Hah, jadi kau orang yang kehilangan gigi?” tanya Hee Bong.
Dan Ee melempar pisau di depan Hee Bong. “Gunakan pisau itu untuk memotong jari tanganku.” katanya. “Aku akan memberi semua jariku padamu. Tolong ampuni putraku.”
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Hee Bong. “Hari ini kalian menunjukkan sifat asli kalian? Kenapa juga aku ingin mengambil jarimu, Bibi?”
Swe Dol juga berkata pada Hee Bong, “Bagaimana jika aku memberikan gigiku padamu? Aku masih punya banyak. Kau boleh memilih satu.”
Dan Ee menangis dan berteriak, “Jika kau ingin, aku akan memotong tanganku untukmu. Tapi tolong biarkan putraku pulang ke rumah!”
“Ya sudah, berikan tanganku. Aku tidak tahu siapa kalian, tapi aku bisa membebaskan orang itu.”
Dan Ee mengambil pisau, namun Swe Dol melarangnya. “Lebih baik potong tanganku saja!” Ia menerjang Hee Bong dan menarik kerah bajunya.
“Siapa pula putramu?” tanya Hee Bong kesal.
“Tolong, tolong ampuni putraku, Ryung!” kata Dan Ee. “Asal kau membebaskannya, aku akan memberikan jantungku padamu!”
“Ryung?!” seru Hee Bong terkejut. Ia mendadak berubah baik pada Swe Dol dan Dan Ee, bahkan mengajak mereka minum bersama. “Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Aku membiarkannya masuk ke geng karena ia bersikeras. Tapi aku benar-benar tidak ingin dia menjadi orang sepertiku.”
“Apakah kami bisa mempercayaimu?” tanya Dan Ee.
“Tentu saja!”
Dan Ee menuangkan minum untuk Hee Bong. “Tolonglah kami.”
“Jangan khawatir, Bibi.”

Pejabat istana yang menemukan surat Kwon Do Hyun bicara pada Raja. “Kenapa Yang Mulia bertindak seperti itu?” tanyanya. “Inilah kesempatan Yang Mulia untuk melenyapkan pejabat yang berbuat korupsi.”
“Aku tidak punya pilihan lain.” kata Raja.
“Yang Mulia! Apa alasan kita menurunkan Raja sebelumnya, Gwang Hae? Itu karena para pejabat yang ada dibawahnya melakukan korupsi. Tapi Gwang Hae malah melindungi pelaku korupsi itu dan mendorong negara ini pada jurang tanpa harapan. Yang Mulia! Kenapa kau mengulangi kesalahan Gwang Hae?”
“Jadi, kau berpikir bahwa Gwang Hae lebih baik daripada aku?”
Pejabat itu tidak menjawab. (tidak menjawab adalah jawaban ‘iya’ secara tidak langsung).

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s