Iljimae – Episode 11

Ryung menculik Eun Chae dan membawanya kembali ke pemukiman kumuh untuk menyelesaikan apa yang belum sempat dikerjakan Eun Chae. “Maaf karena aku membuatmu takut.” kata Ryung. “Aku melihatmu dipaksa naik ke tandu, jadi… Apa benar kau masih punya banyak hal yang harus dikerjakan?”

Rombongan pembawa tenda sudah sampai di rumah. Seung Seung memanggil Eun Chae, namun Eun Chae tidak menjawab. Begitu pintu tandu dibuka, mereka menjadi terkejut dan panik melihat Eun Chae sudah tidak ada. Yang ada di dalam tandu tersebut hanyalah sebuah batu besar.
Shi Hoo keluar mendengar keributan itu. “Ada apa?” tanyanya.

Ryung melihat Eun Chae bermain dengan anak-anak miskin dari jauh. Setelah selesai, Eun Chae hendak berjalan pulang sendirian, namun Ryung mendadak muncul di sampingnya dan mengambil lentera yang dipegang Eun Chae. Ryung mengantar Eun Chae pulang, berjalan agak di depan Eun Chae.
Eun Chae tersenyum dan berlari agar bisa berjalan berdampingan dengan Ryung. Ia terus menatap Ryung sepanjang jalan. Ryung menatapnya balik, Eun Chae malu dan menunduk.
“Nona!” terdengar suara seseorang.
Ryung menggandeng tangan Eun Chae dan menariknya untuk bersembunyi. Eun Chae kemudian meniup lentera agar tidak ketahuan oleh orang-orang yang sedang mencarinya.
“Aku dengar kau sangat pandai menggambar bunga Mae Hwa.” kata Eun Chae. Ia menoleh ingin melihat reaksi Ryung. “Kau adalah Iljimae, benar kan?”
“Apa kau tidak takut padaku?” tanya Ryung.
“Aku sudah dengar semua. Kau mengembalikan semua uang pada pemilik yang sebenarnya. Sebenarnya, aku sangat senang.” Eun Chae tertawa. “Aku dengar kau mencuri Kura-kura Emas kemarin. Jadi, kau sedang ingin menolong mereka ketika bertemu denganku, kan? Mereka orang-orang yang malang.”
Ryung hanya mendengarkan tanpa berkata apapun.
“Mereka menjadi pencuri pada umur yang begitu muda.” kata Eun Chae melanjutkan. “Banyak dari mereka yang terserang penyakit. Walau sekarang musim semi, namun cuaca sangat dingin. Aku khawatir pada mereka. Walau akumengizinkan mereka tinggal di penginapan, tapi itu bukanlag solusi jangka panjang.” Eun Chae menoleh ke arah Ryung dan tertawa. “Apa aku bicara terlalu banyak? Bisakah kita pergi sekarang?”
Ryung mengantar Eun Chae pulang sampai ke depan gerbang rumahnya.

Ketika Shi Hoo dan yang lainnya tidak berhasil menemukan Eun Chae, mereka kembali ke rumah. Pelayan Shi Hoo mengatakan kalau Eun Chae sudah pulang.
Seung Seung panik bukan main, namun Eun Chae malah tersenyum-senyum sendiri.
“Apa yang terjadi?” tanya Shi Hoo.
“Itu… Ayah menyuruh orang untuk memaksaku pulang, jadi aku menyelinap pergi.” kata Eun Chae berbohong.
“Kau membuka sendiri atap tandu, lalu meletakkan batu di dalamnya?” tanya Shi Hoo tidak percaya. Eun Chae tidak bisa menjawab. “Aku mengerti.” kata Shi Hoo pengertian. “Aku bersyukur kau baik-baik saja. Kau harus beristirahat.”

Ryung kembali ke markas rahasianya. Ia masih terngiang-ngiang percakapannya dengan Eun Chae. Diambilnya Kura-kura Emas dan Mutiara Hitam.

Keesokkan harinya, beberapa kotak uang dan barang lain muncul dengan ajaib di pemukiman kumuh. Penghuni di sana senang setengah mati.

Dan Ee mengetahui kalau Ryung membuat keributan di pemukiman kumuh dan memukul seorang anak. Ia memukuli Ryung dengan sapu tanpa ampun. Bong Soon, yang saat itu datang, berusaha menghentikan Dan Ee malah terkena pukul juga. Ryung menarik Bong Soon ke belakangnya agar tidak kena pukul dan menggenggam tangannya. Bong Soon diam, teringat masa kecil ketika Ryung melindunginya.
Swe Dol, yang berusaha menghentikan Dan Ee, juga terlempar dan jatuh.
Dan Ee masih sangat marah, kemudian masuk ke dalam rumah.
Ryung tersadar dia sedang menggenggam tangan Bong Soon dan langsung melepas dengan kasar.
“Aku sudah cukup punya banyak masalah.” kata Ryung, menarik Bong Soon keluar. “Pergi dari sini! Kenapa kau datang pagi-pagi sekali?”
Bong Soon tertawa. “Aku membawakanmu berapa makanan. Akhir-akhir ini aku sering melihat wajahmu pucat dan kurus.”
“Tunggu!” ujar Ryung. “Kemarin kau membantuku di pemukiman kumuh, sekarang kau membawakan aku makanan. Apakah kau…” Ryung menatap Bong Soon, jahil.
“Apa?”
“Jangan pikir dengan bersikap seperti itu aku akan melepasmu!” kata Ryung kesal. “Berhenti melakukan ini dan itu. Cepat kembali bekerja!” Ryung mengambil ikan yang dibawa Bong Soon lalu berjalan masuk ke rumah.

Orang-orang di pemukiman kumuh mendadak berkata pada Eun Chae bahwa mereka akan pergi. “Tadi malam Iljimae memberikan kami uang, makanan dan obat-obatan.” kata salah satu dari mereka. “Kami menggunakan uang itu untuk membeli sebuah rumah. Kami ingin hidup dengan baik.”
“Tentu saja. Sangat baik jika kalian melakukan itu.” kata Eun Chae.
“Kami tidak akan pernah melupakan kebaikan Nona sepanjang hidup kami.”
“Dimanapun kalian menetap, jangan lupa memberi kabar.” kata Eun Chae, tersenyum. Orang-orang tersebut kemudian memohon pamit dan pergi.
“Nona! Kita bertemu lagi!” seru Ryung. “Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersama. Wah, udara disini sangat segar. Akan jauh lebih baik jika orang-orang di pemukiman kumuh itu pergi. Apa kau butuh bantuanku untuk mengusir mereka?”
Eun Chae menatap Ryung dengan marah. “Apa yang lakukan di penginapan milik orang lain?”
“Aku sudah tahu kalau kau adalah pemilik yang sebenarnya dari penginapan ini. Kau bisa menghasilkan banyak uang dari penginapan ini. Kau sangat beruntung, Nona!” kata Ryung seenaknya. Ia berbaring. “Wah, dingin sekali!” Ryung bangkit dan berjongkok, melihat Eun Chae. “Tuan Song, tabib di desaku, pernah berkata bahwa orang yang sedang sakit seharusnya tinggal di ruangan yang hangat, jadi mereka akan lebih cepat sembuh. Tidur di sini pasti akan membuat sakit mereka lebih parah.” Ryung berdiri dan berkata dengan nada meremehkan. “Aku rasa aku lebih baik pergi ke rumah para bangsawan untuk tidur.” Ryung melompat dan berbisik pelan pada Eun Chae. “Di sana bahkan ada tempat tidur penghangat.”
Ryung tertawa dan berjalan pergi. Secara tidak langsung, Ryung mencoba memberi saran pada Eun Chae dengan cara yang tidak wajar agar maksud baiknya tidak diketahui.

Eun Chae pulang ke rumah dan menemui ayahnya. “Aku ingin menempatkan tempat tidur penghangat di penginapan.” katanya. “Sejarahwan pernah menyebutkan bahwa di Penginapan Sungkun ada tempat tidur penghangat, mengubahnya menjadi tempat yang nyaman untuk pasien.”
“Hanya istana dan rumah para bangsawan yang memiliki tempat tidur seperti itu.” kata Byun Shik.
“Tidak ada hukum yang menuliskan bahwa hanya istana dan para bangsawan yang boleh memiliki tempat tidur itu.” bujuk Eun Chae.
Byun Shik berpikir dan menimban-nimbang. “Di penginapan ada banyak sekali kamar, bila menempatkan tempat tidur penghangat di semua kamar, apakah supply kayu bakar tersedia?”
“Area pegunungan di luar kota dipenuhi oleh pohon pinus.” kata Eun Chae. “Kadang-kadang di area tersebut muncul api. Aku dengar Yang Mulia diricuhkan oleh masalah ini.”
“Benar.”
“Karena itu, kita tidak hanya bisa membuat tempat tidur penghangat untuk penginapan kita, tapi juga bisa mencegah terjadi kebakaran di hutan pinus.”

Byun Shik menyampaikan saran pada Raja, sama persis dengan yang dikatakan Eun Chae padanya. “Dengan tempat tidur penghangat, kita bisa mencegah kebakaran hutan, melindungi masyarakat saat musim dingin sekaligus mendapat respek dari masyarakat. Kita bisa mendapat 3 burung dengan satu batu.”
Raja menanyakan pendapat para pejabatnya, dan mereka semua setuju. Raja memberi tanggung jawab ini pada Byun Shik.
“Seluruh pikiranku selalu bersama masyarakat dan untuk mengabdi pada Yang Mulia dengan kesetiaanku.” ujar Byun Shik, mulai menjilat. “Itulah alasan kenapa aku bisa mendapatkan pemecahan masalah seperti ini, Yang Mulia.” (Padahal ide awalnya kan dari Ryung)

Malam harinya, Ryung (sebagai Iljimae) sengaja melukai lengannya sendiri dengan pisau. Eun Chae menemukannya terluka dan menolongnya dengan mengobati Ryung di kamarnya. Ryung mencoba mencari tahu dimana Eun Chae menyimpan buku yang dibutuhkannya, yaitu data tentang keamanan (jumlah prajurit dll) yang ada di rumah para bangsawan dan pejabat.
Seung Seung datang untuk mengantarkan teh. Ryung mematikan lilin agar Seung Seung tidak masuk. Ketika Eun Chae menyalakan lilin itu kembali, Ryung sudah pergi. Ia tidak sadar bahwa bukunya juga hilang.

“Ayah, tunggulah aku.” kata Ryung di depan pohon Mae Hwa. “Aku akan segera menemukan siapa orang yang telah membunuh Ayah dan Kakak. Aku akan membawanya kesini agar dia memohon maaf pada kalian.” tekad Ryung. “Aku akan membuatnya menderita, seperti halnya penderitaan yang sudah kualami.

Seorang bangsawan sudah menyiapkan jebakan di ruang penyimpanan benda berharganya. Ia memasang banyak besi tajam di lantai ruangan tersebut. “Iljimae, kita lihat bagaimana kau bisa melewati ini!” ujarnya penuh kemenangan.

Sepanjang hari, Ryung duduk di tepi laut untuk memancing. Apa rencananya kali ini?
Malam sudah tiba. Dengan bantuan alat pancingnya, Ryung meletakkan kertas berlukiskan bunga Mae Hwa di atas meja, tempat guci keramik yang sudah dicurinya sebelumnya berada.
Si bangsawan berteriak shock sekaligus marah.

Ryung mengajak Shi Wan memancing. Shi Wan frustasi dan terus menerus berpikir bagaimana cara Iljimae mencuri guci keramik padahal seisi ruangan sudah dipenuhi besi tajam.
“Itu sangat aneh.” kata Ryung tersenyum. Ia kemudian hendak memasak hasil pancingan mereka. Tiba-tiba Ryung berteriak, “Tuan! Tolong selamatkan nyawaku!”
Shi Wan bergegas berlari untuk menolong Ryung. “Ryung! Ryung!”
Ryung sedang diserang oleh sebuah gurita yang ukurannya cukup besar. Ryung bukannya berusaha melepaskan si gurita, malah menarik kaki gurita agar melingkar di leher Shi Wan. Ryung tertawa diam-diam melihat Shi Wan ketakutan dan terus berteriak, “Tolong aku!”
Karena sudah merasa cukup, Ryung membuang gurita itu ke pasir.
“Aku selalu ingin makan sup gurita.” kata Shi Wan merengek. “Tapi kini akulah yang hampir dimakann oleh gurita.”
Wajah Ryung menampakkan bahwa dia sedang merencanakan sesuatu. “Binatang itu memang menyebalkan. Dia memakan segalanya, bahkan memakan ikan hiu dan guci keramik juga.” seru Ryung, memberi petunjuk.
“Guci keramik?”

Shi Hoo dan kepala polisi memeriksa tempat kejadian pencurian. Di sana, mereka menemukan percikan air yang rasanya asin.
Shi Hoo berpikir dan membaca buku untuk mencari petunjuk. “Gurita.” gumamnya, akhirnya bisa mengetahui trik si pencuri.
Ia bergegas keluar untuk melapor, namun sudah didahului oleh Shi Wan. Ryung tersenyum, senang melihat Shi Hoo terkejut.

Malam itu, Iljimae bertindak lagi. Targetnya kali ini adalah Wali Kota Yong Dong bernama Park Jung.
Ryung membuka gembok dengan cepat dan mudah, namun ternyata pintu tersebut diikatkan dengan tali ke lonceng. Jika pintu tersebut terbuka, maka lonceng akan berbunyi. Tiap ruangan memiliki loncengnya sendiri.
Dengan secepat kilat, Ryung menyusup ke ruang penjagaan yang membunyikan semua lonceng sekaligus. Para penjaga menjadi kalang kabut dan bergegas pergi ke semua ruangan yang loncengnya berbunyi.
Iljimae tidak menemukan pedang yang dicarinya di sana.

Target selanjutnya adalah Kapten Pelatih Pasukan, Goo In Hoo.
Goo In Hoo membeli gembok untuk pintu-pintu di rumahnya dari Swe Dol. “Iljimae tidak akan bisa membuka gembok yang aku pasang.” kata Swe Dol, yang berada dalam keadaan mabuk.
“Iljimae! Itu iljimae!” Swe Dol mendengar seseorang berteriak dan menoleh. Ia melihat Iljimae dan dua orang penjaga sedang bertarung dengan menggunakan pedang. Swe Dol mengedipkan matanya untuk memeperjelas pandangannya yang buram karena mabuk. Pertarungan tersebut sangat sengit, namun Iljimae akhirnya terbang di udara dan melompat ke bawah, lalu menghilang.

Keesokkan harinya, Swe Dol menceritakan apa yang dilihatnya pada orang-orang di pasar.
“Ketika aku selesai memasang gembok dan ingin pulang, tiba-tiba… ada hembusan angin.” Swe Dol menceritakan dengan bersemangat. “Aku bisa mendengar suara itu dengan jelas. Ketika aku mendongak, Iljimae menggunakan pedang untuk menebas rembulan seperti menebas semangka.”
“Semangka?” tanya Ayah Heung Kyun kagum.
“Iljimae kemudian melompat dua kali di udara dan lenyap secepat cahaya!” kata Swe Dol melanjutkan.
“Dia bukan manusia.” gumam Kong He berkomentar. “Tadi dia adalah hantu! Bagaimana bisa manusia menebas bulan? Dan melompat dua kali di udara?”

Ryung melihat mereka dari jauh. Teringat peristiwa tadi malam. Pada kenyataannya, Iljimae bertarung dengan kedua penjaga menggunakan pedang, namun malah memukul-mukul penjaga dengan cabang ranting pohon. Iljimae juga tidak melompat dua kali di udara, namun terjatuh dari atap dan melarikan diri dengan terpincang-pincang.
Ryung menata wajahnya agar kelihatan ceria. “Ayah! Dan Ee memanggilmu untuk makan siang.” katanya seraya berjalan pergi.
“Ya!” kata Swe Dol. “Tapi kenapa dengan kakimu? Kau berkelahi lagi?”
“Tidak, tidak!”

Eun Chae hendak menjual perhiasannya demi menolong orang-orang yang terkena penyakit menular di Pyung Ahn Do. Byun Shik melarangnya. Namun Eun Chae memaksa pergi. Ryung melihatnya dari jauh.

Ryung berpikir sejenak di markas persembunyiannya, kemudian mengambil sekarung uang dari beberapa peti hasil curiannya.
Ia kemudian pergi ke wilayah terjadinya penyebaran penyakit menular.
“Aku ingin mengangkut mayat.” kata Ryung pada penjaga.
“Mayat disini sangat bau.” kata Penjaga. “Pakai ini.”
Dari dalam, seorang pria menangis dan memohon-mohon agar diizinkan keluar membeli obat untuk ibunya yang sedang sekarat. Namun penjaga tidak mengizinkan mereka keluar dan mendorong mereka sampai jatuh.
“Tanpa obat, tanpa makanan, bagaimana kami bisa hidup?” seru pria itu. “Kalian tidak ingin informasi yang kami punya tersebar keluar! Karena itulah kalian mengkarantina kami!”
Ryung melihat ketidakadilan itu dengan diam. Di dalam, banyak sekali orang yang tergeletak tidak berdaya dan banyak orang mati. Ryung mengeluarkan makanan dan obat-obatan dari dalam gerobak yang dibawanya.

“Iljimae memberi obat dan makanan, obat-obatan dan pakaian pada lebih dari 5000 orang terinfeksi di Pyung Ahn Do.” ujar Byun Shik melaporkan pada Raja dan para pejabat dalam rapat.
“Yang Mulia, masyarakat di seluruh wilayah sedang membicarakan cerita tentang Iljimae, pencuri yang berbudi.” kata Menteri Kehakiman.
“Julikan pencuri berbudi biasanya digunakan untuk seseorang yang mencuri uang dari pemerintah korupsi, lalu memberikannya pada rakyat miskin.” kata Byun Shik. “Apa mungkin kita semua adalah pemerintah yang korupsi?” tanya Byun Shik, tidak menyadari dirinya sendiri.
“Yang Mulia, kita sedang dituduh dengan tuduhan yang tidak benar.” kata Menteri Kehakiman.
“Jangan salah sangka.” kata Raja. “Semua ini salahku karena tidak mampu mendapat respek masyarakat. Umumkan pada masyarakat, siapapun yang bisa menangkap pencuri itu akan mendapatkan hadial 10.000 batang emas.”

“Jika mereka orang miskin, maka mereka akan menjadi warga sipil. Jika mereka warga sipil, maka mereka akan menajdi bangsawan.” ujar para penjaga, membaca pengumuman yang dibuat pemerintah untuk menangkap Iljimae.
“Ini kesempatanmu.” kata Kepala Polisi pada Shi Hoo. “Jangan sampai kau kehilangan kesempatan ini.”

Ibu angkat Dae Shi menyukai Swe Dol dan hendak membawakan makan siang. Namun ia melihat Dan Ee dan Swe Dol sedang makan siang bersama. Malah Swe Dol menyuapi Dan Ee. Hatinya menjadi sakit dan sedih. Dia pulang kembali ke kedai, lalu minum arak.
Kong He merasa Nyonya kedai tidak bertingkah seperti biasanya, lalu mengajaknya mengobrol. Kong He bertanya kenapa si Nyonya menyukai orang jelek seperti Swe Dol.
“Tapi hatinya baik.” jawab Nyonya. “Swe Dol sangat pemikir dan memiliki rasa belas kasih pada orang lain.”
“Aku memiliki rasa belas kasih pada orang lain lebih banyak.” kata Kong He, merasa cemburu dan tidak mau kalah.
“Benar. Waktu para pengawal istana datang, terima kasih karena sudah menolongku.”
“Tidak perlu berterima kasih.” kata Kong He. “Kekuatan adalah hal yang paling penting bagi laki-laki.” Kong He memamerkan otot-otot di tangannya. Nyonya kedai kagum melihat ototnya itu. “Shim Deok.. karena kita berdua sedang bosan, bagaimana kalau kita bercinta?”
Gosip hubungan Nyonya kedai dan Kong He terbesar dengan cepat seantero kota.

Ryung bertanya pada Bong Soon dimana dia bisa membeli ikat rambut. Bong Soon menjawab di seberang jembatan.
“Mau apa lagi?” tanya Ryung, melihat Bong Soon mengikutinya.
“Kau tidak punya selera kecantikan.” kata Bong Soon. “Aku akan membantumu memilih.”
“Pergi!” usir Ryung, namun Bong Soon tetap mengikuti dia dari belakang.
Bong Soon takut ketinggian, dan menjadi gemetar saat melewati jembatan. Ryung mengulurkan tangannya.
Bong Soon teringat kata-kata Geom kecil. “Jangan takut. Aku akan melindungimu dan tidak akan melepaskan tanganmu. Aku janji.”
Bong Soon menerima uluran tangan Ryung. Ryung menggendongnya melewati jembatan.
Ryung membeli sebuah pita pink, lalu di simpan di dalam bajunya. Bong Soon bingung, ia berpikir bahwa Ryung akan memberikan pita itu padanya.
“Berikan itu padaku!” seru Bong Soon, namun Ryung pergi begitu saja.

Ryung (sebagai Iljimae) mengembalikan buku ke kamar Eun Chae dengan diam-diam suatu malam.
Saat hendak pergi, Ryung mendangar ada seseorang datang dan bersembunyi di atas pohon. Ternyata orang itu adalah Eun Chae. Ryung sengaja membuat dahan pohon berbunyi agar Eun Chae menoleh dan ia berpura-pura hendak pergi.
“Tolong jangan pergi.” kata Eun Chae. Ia dan Ryung berbincang.
Mendadak Shi Hoo muncul dan mengejar Iljimae. Eun Chae berusaha memanggil Shi Hoo namun Shi Hoo mengacuhkannya.
Shi Hoo bertarung melawan Ryung. Dengan pedangnya, Shi Hoo berhasil melukai perut Ryung dan Ryung berhasil melukai tangan Shi Hoo, kemudian meloloskan diri.
Ryung kembali ke markas persembunyiannya dengan keadaan sekarat. Ryung berganti baju di sana dan berniat pulang ke rumah.
Di saat yang sama, Bong Soon sedang menunggu di depan rumah Ryung. Ia terkejut melihat Ryung berjalan dan kemudian terjatuh.
“Ryung!” seru Bong Soon panik ketika melihat darah di tubuh Ryung.

Shi Hoo pulang ke rumah. Eun Chae terkejut melihat tetesan darah di pedang Shi Hoo dan beranjak hendak mencari Iljimae.
“Ia terluka kan?” tanya Eun Chae, berusaha melepaskan diri karena Shi Hoo melarangnya pergi.
“Bagaimana denganku?” tanya Shi Hoo. “Apa aku sama sekali tidak terlihat di matamu?”
Eun Chae memandang Shi Hoo dan kaget melihat darah di tangannya.
Shi Hoo mengobati tangannya sendiri. Ia menolak bertemu dengan Eun Chae.
Eun Chae kemudian berjalan seorang diri di jalan setapak di hutan, mencari Iljimae.

“Bangun! Bangun! Aku belum membayar hutangku padamu!” tangis Bong Soon. “Jangan mati! Jangan mati! Ryung.. Tolong jangan mati!”
Bong Soon membawa Ryung ke Kong He untuk diobati. Bong Soon keluar untuk menggambil pakaian sementara Kong He membersihkan luka dan tubuh Ryung.
Ia membuka baju Ryung dan melihat ukiran lambang di dada kiri Ryung. Lambang yang dimiliki Raja. Kong He terkejut. Kilatan kenanngan masa lalu saat ia membunuh Lee Won Ho kembali terlintas.

sumber: princess-chocolates.blogspot,com

One comment on “Iljimae – Episode 11

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s