Iljimae – Episode 18

Eun Chae mengarahkan pedangnya pada Iljimae.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu.” kata Eun Chae. “Aku akan membunuhmu!”
“Eun Chae, apa yang kau lakukan?” tanya Byun Shik cemas. “Cepat berikan pedang itu padaku.”
Eun Chae memejamkan mata dan hendak menusuk Iljimae. Iljimae mengelak dan menangkap Eun Chae. Ia mengarahkan pedang ke leher Eun Chae.
“Jangan, jangan!” seru Byun Shik ketakutan. “Tolong lepaskan putriku. Aku mohon.”
“Jika kau tidak ingin putrimu mati, jawab pertanyaanku!” kata Ryung mengancam. “Siapa yang memerintahkanmu?!”
“Itu… itu…” Byun Shik ragu sejenak. Bila ia bicara, maka Raja-lah yang akan membunuhnya. Maka ia berbohong, “Lee Kyung Sub… Yang memerintahkan aku adalah Lee Kyung Sub.”
“Lee Kyung Sub? Pria yang baru saja mati?”
“Benar, benar. Le Won Ho adalah anggota pusat Jeonwoohoe. Lee Won Ho, Shim Ki Yoon, Kwon Do Hyun, Kim Ik Hee, Lee Kyung Sub, dan Suh Young Soo… Mereka semua adalah anggota pusat Jeonwoohoe.”
“Tapi kenapa Lee Kyung Sub menusuk Lee Won Ho dari belakang?” tanya Ryung.
“Mereka semua adalah pejabat tingkat atas.” kata Byun Shik mengarang cerita. “Dan Lee Won Ho mendapat kepercayaan dari Yang Mulia. Lee Kyung Sub merasa cemburu dan menfitnah Lee Won Ho sehingga menyebabkan kematiannya.”
“Tapi kenapa kalian membunuh pencuri yang masuk ke rumah Suh Young Soo?”
“Mungkin karena pencuri itu mendengar percakapan antara Lee Kyung Sub dan Suh Young Soo.” jawab Byun Shik, mengarang cerita yang lain dan berbohong. “Lee Kyung Sub mengejar pencuri itu ke istana terlarang. Ketika aku sampai ke sana, pencuri itu sudah tidak bernafas.”
“Lalu kenapa kau membunuh Lee Kyung Sub?!” tuntut Iljimae.
“Bukan aku.. bukan aku… Aku tidak membunuhnya. Untuk apa aku membunuhnya? Percayalah padaku. Aku berkata jujur. Bunuh saja aku. Putriku… tolong ampuni nyawanya.”
Iljimae merobek baju Byun Shik dengan pedangnya untuk melihat dada kiri Byun Shik. Tidak ada lambang Jeonwoohoe di sana.
Eun Chae terjatuh lemas.
“Siapa lagi? Siapa lagi anggota pusat organisasi itu?” tanya Iljimae.
“Selain keenam orang itu, aku tidak tahu lagi. Aku sungguh tidak tahu.” jawab Byun Shik. “Apa kau… putra Lee Won Ho… Lee Geom?”
Eun Chae terkejut dan menatap Iljimae.
“Beraninya kau mengubur surat palsu dan menyalahkan orang itu atas pemberontakan yang tidak pernah ia lakukan!” teriak Ryung penuh emosi.
“Aku tidak punya pilihan lain…” kata Byun Shik, menangis. “Jika aku tidak mengubur surat itu, aku dan keluargaku akan dibunuh. Aku tidak punya pilihan lain. Tolong ampuni nyawaku.”
Eun Chae menangis dan berlutut di kaki Iljimae. “Tolong ampuni nyawa kami. Aku mohon padamu tolong lepaskan kami kali ini.”
Iljimae mengarahkan pedang lagi ke leher Eun Chae.
“Jangan! Jangan… Eun Chae!” teriak Byun Shik panik.
“Jika kau berani menyebarkan hal ini, kepala putrimu akan hilang.” ancam Iljimae.
“Jangan khawatir, jangan khawatir! Aku tidak melihat apapun. Aku tidak tahu apapun. Aku…” Byun Shik menutup mulutnya dengan tangan. Pertanda bahwa ia akan tutup mulut.
Iljimae pergi. Eun Chae dan Byun Shik menangis ketakutan.

“Aku ingin membawanya kemari agar ia berlutut padamu, Ayah…” ujar Ryung sedih ketika ia sudah berada di markas persembunyiannya. “Tapi aku tidak bisa melakukannya. Ayah…”
Ryung membakar buku daftar anggota Jeonwoohoe, kemudian memasukkan baju Iljimaenya ke dalam sebuah peti.
Ryung menatap lukisan kedua keluarganya, keluarganya bersama Swe Dol dan keluarganya bersama Lee Won Ho, kemudian melipat dan memasukkan lukisan tersebut ke dalam peti yang sama dengan pakaian Iljimae.
Ia pergi ke tengah hutan dan mengubur peti tersebut.

Bong Soon menangis sendiran dibawah pohon Mae Hwa yang dibelinya. Ia melihat Ryung datang, dan bersembunyi di balik batang pohon itu.
Ryung berlutut di depan pohon Mae Hwa, tempat ia mengukir lambang utuh Jeonwoohoe milik Raja. Ia tidak mengatakan apapun. Hanya berlutut dan menangis di sana.
Ryung kemudian berjalan mendekati pohon Mae Hwa besar. Di pohon itu, ada sebuah papan bertuliskan, “Pohon Mae Hwa ini milik Ryung. Tidak boleh masuk.”
Ryung menoleh, memandang sekeliling untuk mencari seseorang. Lalu ia melihat baju Bong Soon dan mengintip.
“Bagaimana kau tahu tempat ini?” tanya Ryung.
“Aku tahu secara tidak sengaja.” jawab Bong Soon.
“Tidak sengaja?” tanya Ryung curiga. “Lalu papan apa itu?”
“Aku membeli pohon ini sebagai hadiah untukmu.” kata Bong Soon. “Sebenarnya, aku ingin membeli rumah ini, tapi uangku tidak cukup. Rumah ini sangat mahal. Tapi aku berjanji, aku akan mengumpulkan uang untuk membeli rumah ini.”
“Bagaimana kau tahu tempat ini?”
“Aku mengikutimu kemari.” jawab Bong Soon, tersenyum. “Aku membeli pohon ini karena aku tahu bahwa pohon ini sangat berharga untukmu. Aku pernah melihatmu menyentuh pohon ini dengan sayang.”
“Aku tidak pernah melakukannya.” kata Ryung berbohong. “Kenapa kau begitu baik padaku?”
Bong Soon mengenggam tangan Ryung. “Jangan pernah melepas tanganku.” katanya. “Aku akan melindungimu.”
Ryung bingung dan berpikir.
“Apa kau ingat?” tanya Bong Soon. “Ketika aku melihat perhiasan milikmu, aku tahu bahwa anak itu kau.”
Ryung tiba-tiba teringat. “Kau adalah…”
Bong Soon tersenyum, memandang Ryung.

Karena Bong Soon tidak bisa pulang, maka Ryung membawanya ke rumah pandai besi.
Ryung meletakkan sebuah tikar di lantai untuk Bong Soon tidur. “Tinggallah disini malam ini sampai kau berbaikan dengan ayahmu.” kata Ryung. “Aku akan meminta ibuku datang dan membawakanmu baju dan makanan.”
Bong Soon tersenyu. “Ryung-ku memang yang paling baik.” ujarnya senang seraya tidur di tikar.
Ryung dudu di sampingnya. “Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Ryung. “Bukankah kau bilang ingin balas dendam?”
“Belum.” jawab Bong Soon sedih. “Aku akan membalaskan dendamku nanti.”
Setelah itu, Bong Soon merapikan tempat itu. Ia membawa bantal, meja, mangkuk, tungku, bahkan vas bunga. Ryung tertawa. “Apa kau akan tinggal di sini selamanya?” tanyanya heran.

Kong He kelabakan mencari Bong Soon. Ia bahkan mencari Bong Soon sampai ke desa tempat tinggal Bong Soon dulu, namun tidak menemukannya dimana pun.

Byun Shik mengalami dilema. Ia bingung bagaimana harus bertindak. Jika ia melaporkan hal itu pada Raja, maka nyawa Eun Chae dalam bahaya.
Tiba-tiba utusan Raja datang dan mengirimkan sebuah pesan padanya. Shi Hoo dan Shi Wan dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi dan ditempatkan di dalam istana Byun Shik senang sekali.

Jung Myung Seo datang mengunjungi Raja untuk menghadiri pemakaman putra mahkota. Ia menngancam dengan halus perihal kematian putra mahkota. “Kaisar Cing sangat sedih mendengar kematian Putra Mahkota.” katanya. “Aku heran, ketika Putra Mahkota ada di Cing, ia sangat sehat. Tapi kenapa setelah 2 bulan pulang tiba-tiba ia…”
Raja terdiam. Ia dan para pejabatnya mengadakan rapat, bagaimana cara agar mereka bisa bersekutu dengan Cing.
“Kudengar Cing sedang berusaha keras menyatukan daerahnya.” kata Byun Shik. “Jika kita bisa membantu Cing dengan tenaga dan makanan, maka kita dapat mengambil keuntungan.”
Raja segera memerintahkan orang membuat pengumuman pada warga. Barang siapa yang mau dengan sukarela menjadi tameng yang dikirimkan ke Cing, maka mereka akan diberi 10 karung beras dan 10 gulung sutera.
Warga menertawai pengumam itu dan sedikit sekali yang tertarik, salah satunya adalah Dae Shi. Ia berniat ikut berpartisipasi.
Karena sedikit sekali orang yang mau ikut serta sebagai tameng, maka Raja menculik banyak pemuda miskin untuk dijadikan tameng secara paksa.
Dae Shi sudah mendaftar. Deok menangis histeris karenanya. “Dia bilang, ia ingin pergi ke Cing agar bisa bertemu dengan ayahnya.” kata Deok menangis.

Heung Kyun melihat Dae Shi di istana, menjadi salah satu sukarelawan. Ia menarik Dae Shi.
“Apa kau tahu bahwa biaya pergi ke Cing sangat mahal?” tanya Dae Shi marah. “Aku tidak bisa membayarnya walaupun aku menjual diriku. Ini adalah kesempatan yang baik agar aku bisa pergi ke Cing secara gratis. 10 karung beras cukup membantuku menemukan ayahku yang dibawa ke Cing!”
“Dae Shi!”
“Jangan khawatir.” kata Dae Shi. “Sebelum aku bertemu dengan ayahku, aku tidak akan mati. Pergilah!”
Heung Kyun menyerah. Ia keluar istana dan bertemu dengan Ryung, yang saat itu sedang membujuk para penjaga agar membiarkannya bertamu Dae Shi.
“Dia ingin sekali pergi ke Cing dan mencari ayahnya.” kata Heung Kyun. “Tidak ada gunanya membujuknya.”
Seorang pria tua mendekati mereka berdua dan menceritakan bahwa putranya dipaksa ikut sebagai sukarelawan. “Jika terjadi sesuatu dengan anakku, aku tidak bisa hidup lagi!” tangis pria tua itu.
Keadaan menjadi kacau. Para prajurit ingin mengirimkan bantuan makanan ke Cing, namun para warga menentang.
“Kalian membiarkan anak-anak kami menjadi tameng dan sekarang kalian juga ingin kami mati kelaparan disini?” tanya seorang pria, menahan para prajurit.
“Saat ini sedang masa-masa kelaparan.” seru pria yang lain, menangis histeris. “Sangat sulit bagi kami menemukan makanan. Bunuh aku dulu sebelum kau membawa pergi makanan itu!”

Bong Soon menikmati masa-masa pelariannya dan tinggal di rumah pandai besi milik Ryung. Ia pergi ke tengah hutan untuk menanam sayuran. Ketika ia sedang menggali, ia menemukan sebuah peti yang berisi baju Iljimae, juga lukisan keluarga Ryung.
Ryung pulang, sangat terkejut karena Bong Soon sedang membuka petinya.
Bong Soon berjalan keluar, Ryung menahannya.
“Lepaskan aku.” kata Bong Soon. “Saat aku membawa peti itu, aku tidak sengaja menjatuhkan lukisan bunga Mae Hwa. Aku ingin mengambilnya.”
Bong Soon membantu Ryung merapikan lagi barang-barangnya di markas persembunyian Ryung di bawah tanah rumah pandai besi.
“Bong Soon, pergilah.” kata Ryung.
“Kenapa?” tanya Bong Soon kecewa. “Aku tidak akan bilang siapa-siapa.”
“Ayahmu sangat mengkhawatirkanmu. Cepatlah pulang. Aku ingin sendirian.”
“Aku mengerti.” kata Bong Soon sedih. “Aku pergi sekarang.”
Ryung memandang lukisan Swe Dol. “Ayah, masih ada satu hal lagi yang harus kulakukan, kan?”
Ryung menulis sesuatu di kertas. Target selanjutnya, Istana.

Ryung mengirimkan lukisan bunga Mae Hwa ke istana dan memperingatkan pihak istana bahwa ia akan datang setengah bulan lagi.

Hee Bong menjadikan Iljimae sebagai objek untuk berbisnis.
“Jika kalian merasa Iljimae akan berhasil menyusup ke istana, kalian ambil bunga berwarna merah.” kata Hee Bong. “Jika kalian merasa Iljimae akan gagal, kalian ambil bunga putih.”
Semua orang mengambil bunga berwarna merah.
Ryung datang dan mengambil bunga putih. “Gunakan otak kalian untuk berpikir.” katanya. “Kalian pikir, istana itu tempat apa? Apa mereka akan menyambutmu saat kau datang dan mengantarmu saat kau pergi? Jangan menganggap remeh istana.”
Ayah Heung Kyun memukul kepala Ryung memarahinya. “Kaulah yang harus menggunakan otakmu!” katanya. “Jangan menganggap remeh Iljimae kami!”
“Hidup Iljimae! Hidup Iljimae!” teriak orang-orang bersamaan.

Chun menyelidiki awal mula munculnya Iljimae sampai akhir kemunculannya. Hal menarik yang ia dapatkan adalah bahwa Iljimae memiliki hubungan khusus dengan Eun Chae.
Ia melaporkan hal tersebut pada Raja.
Raja mengirimkan perintah pada Byun Shik agar Byun Shik dimutasi ke daerah lain. Ia menemui Chun dan marah-marah.
“Kenapa ia melakukan semua ini padaku?” omel Byun Shik. “Aku selalu membantu Yang Mulia. Mulai dari kasus pemberontakan Lee Won Ho sampai kasus kematian Putra Mahkota! Ia telah memanfaatkan aku, sekarang ia mau membuangku?!”
Chun menjadi tidak sabar. “Salahmu sendiri kenapa kau tidak membesarkan putrimu dengan baik.”
Byun Shik tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Heung Kyun berpikir dan mulai curiga pada Ryung. Ia teringat saat Swe Dol memintanya membacakan kertas, dan malamnya rumah bangsawan yang ada dikertas tersebut kecurian.
“Apa kau adalah pencuri itu?” tanya Heung Kyun langsung pada Ryung.
“Kakak…” Ryung tidak bisa menjawab.
“Benarkah? Jadi kau… Kau adalah Iljimae?” seru Heung Kyun kaget.

Ryung pulang ke markas persembunyiannya. Di sana, dilihatnya Bong Soon sedang mengerjakan sesuatu.
“Lihat ini!” Bong Soon menunjukkan sebuah papan. “Ini adalah papan tanda masuk. Sangat mirip dengan aslinya, kan? Tembok pagar istana tidak sama dengan tembok pagar rumah bangsawan. Kau tidak akan bisa masuk dengan melompatinya. Gunakan papan tanda masuk ini dan masuk dengan benar.”
Ryung tersenyum, berterima kasih. “Bagaimana kau bisa membuat ini?”
“Ini adalah salah satu keahlian khusus seorang pedagang.” jawab Bong Soon tersenyum licik.
Bong Soon membuat beberapa papan tanda masuk ke istana sementara Ryung menyiapkan persiapan yang lain.

Bong Soon kelelahan dan tertidur. Ryung mendekati dan menatapnya.
“Bong Soon, maafkan aku.” kata Ryung sedih. “Karena aku, kakakmu… Aku kan melindungimu.” Ryung meraih tangan Bong Soon dan menggenggamnya. “Aku tidak akan melepaskan tanganmu.”

Hari sudah malam. Ryung membangunkan Bong Soon. Ia ternyata sudah menyiapkan sebuah kain putih besar yang hendak dipergunakannya sebagai layar.
Ryung mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi enam. Benda itu terbuat dari kaca dengan lukisan di masing-masing sisi. Di tengahnya terdapat lilin.
Benda tersebut berputar dan memperlihatkan gambar besar di layar kain putih, menceritakan kisah Bong Soon dan Ryung. Saat Bong Soon menyuapi Ryung. Saat Bong Soon dan Ryung memandang langit. Saat Bong Soon merawat Ryung yang terluka. Saat Ryung menggendong Bong Soon. Saat Geom kecil menggenggam tangan Bong Soon kecil.
“Apa kau menyukainya?” tanya Ryung.
Bong Soon terharu. Ia tertawa dan menangis sekaligus. Bong Soon mengangguk.
“Setelah aku masuk ke istana dan membebaskan Dae Shi serta warga yang lain, dan setelah aku menemukan ibu kandungku… Bersama dengan Dan Ee… Kami akan meninggalkan Hanyang.”
“Benarkah?” tanya Bong Soon, tersenyum pahit.
“Apa kau mau… ikut bersama kami?” tanya Ryung. Ia menundukkan kepalanya. “Aku… masih belum bisa melupakan gadis itu dari dalam hatiku. Mungkin membutuhkan waktu yang lama.. atau bahkan aku tidak akan bisa melupakan dan tetap menyimpannya dalam hatiku. Apa kau masih setuju ikut denganku setelah mengetahui ini?”
Bong Soon tersenyum dan mengangguk dengan pasti.

Heung Kyun membawakan Ryung peta istana yang dicurinya dari perpustakaan. Bong Soon membawa makanan dan meneteskan kotoran di atas peta tersebut.
“Apa kau tahu bahwa sulit sekali mencuri peta ini?” omel Heung Kyun.
Ryung melihat peta itu baik-baik. Di bagian yang terkena tetesan air, muncul salah satu lambang Jeonwoohoe.
Ryung mencoba metode tersebut di bagian yang lain. Lambang Jeonwoohoe muncul satu per satu di peta tersebut. Jika digabungkan maka membentuk lambang utuh yang dilihat Ryung di pedang orang yang membunuh ayahnya.
“Lambang itu…” gumam Ryung. “Lambang yang terukir di pedang orang yang membunuh ayah. Itu adalah gabungan lambang para anggota pusat Jeonwoohoe. Benar. Pasti masih ada satu orang lagi.”

Chun memerintahkan Shi Hoo untuk menculik Eun Chae dan ingin memotong salah satu jari Eun Chae sebagai ancaman untuk Iljimae.
“Biar aku saja yang melakukannya.” kata Shi Hoo.
“Tapi dia adalah adikmu.” ujar Chun.
“Dia tidak berarti apa-apa bagiku.” Shi Hoo mendekati dan memegang tangan Eun Chae.
“Aku tanya sekali lagi. Dimana Iljimae?” tanya Chun pada Eun Chae.
“Aku tidak tahu.” jawab Eun Chae. “Aku tidak punya urusan dengan pencuri itu.”
Chun mengangguk, memberi isyarat pada Shi Hoo untuk memotong jari Eun Chae. Eun Chae menangis.

Bong Soon bersembunyi di belakang Kong He untuk membunuhnya, namun Bong Soon merasa ragu. Kong He mengetahui keberadaan Bong Soon dan pura-pura tidak tahu. Deok berteriak-teriak memanggilnya. “Untuk menangkap Iljimae… istana… menculik putri Tuan Byun Shik.” kata Deok cemas.

Gosip bahwa Eun Chae adalah kekasih Iljimae menyebar di masyarakat. Eun Chae bahkan diculik untuk memancing Iljimae.
Ryung bergegas berlari ke kandang kuda milik Eun Chae. Di sana, ia menemukan sebuah jari dan surat. Surat tersebut berisi, jika Iljimae ingin menyelamatkan Eun Chae, maka Iljimae harus datang ke sebuah rumah di belakang Pagoda Won Eun di Gunung Moon Yeo.
Ryung berlari ingin menyelamatkan Eun Chae, namun Bong Soon menghalangi.
“Jangan pergi.” katanya. “Mereka akan membunuhmu.”
“Jika tidak pergi, ia akan mati.”
“Ia tidak akan mati. Itu hanya pancingan agar kau ke sana.”
Ryung menunjukkan jari Eun Chae pada Bong Soon. “Maaf, Bong Soon. Aku tidak bisa membiarkan dia mati karena aku.”
“Jika kau pergi, mereka akan membunuhmu. Baik. Aku akan ikut denganmu. Jika bersamamu, aku tidak takut bahkan jika kehilangan nyawaku.”
“Bong Soon, tetaplah hidup.. Demi aku.” bujuk Ryung.
“Apa nona itu begitu berarti untukmu?” tanya Bong Soon, menangis.
Ryung menunjuk dada kiri dengan tangannya, seakan berkata, dia adalah jantungku.
Bong Soon menangis dan mengangguk. “Baik. Pergi dan temukan jantungmu!”
Ryung berlari pergi.
“Tapi… bagaimana dengan jantungku?” bisik Bong Soon seorang diri.

Ryung, sebagai Iljimae, datang ke tempat yang ditunjukkan dalam surat. Di sana, sudah ada banyak prajurit yang berjaga, termasuk Chun dan Shi Hoo. Mereka mengepung Iljimae.
Iljimae tidak bisa melakukan apa-apa karena Eun Chae ada ditangan mereka. Eun Chae pingsan, digantung di atas sebuah bak besar berisi air panas.
Chun membuka topeng Iljimae. “Ikat dia!” perintah Chun pada Shi Hoo.
“Aku tidak ingin ia melihat wajahku.” kata Ryung pada Shi Hoo. Shi Hoo kemudian memasang kembali topeng Ryung.
Eun Chae sadar dan melihat Iljimae.
“Apa yang kau inginkan saat mencuri di rumah bangsawan?” tanya Chun.
“Warga tidak bersalah hidup menderita. Bahan makanan dicuri.” jawab Iljimae.
“Apa tujuanmu yang sebenarnya ingin menyusup ke istana?” tanya Chun lagi. “Apa yang ingin kau curi?”
“Aku ingin mencari tahu kebenaran.”
“Kebenaran apa?”
“Kebenaran yang sedang kucari dan aku tahu kalau kau tahu.” kata Iljimae tanpa rasa takut.
“Sepertinya satu jari tidak cukup.” Chun tersenyum. “Apa kau ingin aku mencabut nyawanya?”

Bong Soon mencari Kong He dan memintanya menolong Ryung. “Tolong selamatkan Ryung-ku.”
Kong He berpikir sejenak dan segera berlari pergi.

Ryung digantung dengan tali dan diberikan tiga beban. Tali tersebut disambungkan dengan tali yang mengikat Eun Chae.
“Katakan hal yang sebenarnya.” kata Chun. “Aku hitung sampai tiga. Satu.”
Salah satu anak buah Chun melepaskan satu beban yang terikat ke badan Ryung. Eun Chae turun mendekati bak air panas.
“Siksa saja aku.” teriak Ryung.
“Dua.” Satu lagi beban dibadan Ryung diambil. Eun Chae merosot lagi.
“Turunkan dia dulu dan aku akan menjawab pertanyaanmu!” teriak Ryung.
“Tiga.”
“Tidak, tidak!” seru Ryung panik.
Anak buah Chun menahan Ryung. Eun Chae selamat.
“Aku beri kau satu kesempatan lagi.” kata Chun. “Apa yang ingin kau curi?”
Ryung diam.
“Sepertinya gadis ini tidak penting untukmu. Bagus sekali. Aku akan membunuhnya.”
“Baik!” Akhirnya Ryung berkata. “Hal yang ingin aku temukan… ada disini… di dadaku. Aku tidak berbohong!”
Chun mengangguk pada anak buahnya, mengisyaratkan agar mereka menurunkan Ryung dan mencari benda tersebut di dalam baju Ryung.
Ryung memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang anak buah Chun dan mengikat tali itu ke badan salah satu prajurit, namun ia tidak bisa berbuat banyak karena ia dikepung. Chun berjalan mendekati dan mengeluarkan pedangnya untuk memotong tali. Shi Hoo menghempaskan pedang Chun.
“Jangan bunuh dia.” kata Chun pada pasukannya. “Kita butuh dia hidup-hidup.” Ia kemudian berpaling pada Shi Hoo. “Apa yang kau lakukan?”
Shi Hoo mengarahkan pedang ke leher Chun.
Dengan secepat kilat, Ryung menghajar pasukan Chun dan mengalahkan mereka satu per satu.
Tali yang menggantung Eun Chae makin menurun dan Eun Chae makin mendekati bak. Shi Hoo menahan tali itu. Ryung melompat dan menangkap Eun Chae, kemudian menariknya pergi.
Kong He datang terlambat. Ketika sampai di tempat itu, Ryung dan Eun Chae sudah tidak ada.

Ryung menggandeng Eun Chae, melarikan diri. Shi Hoo mendadak menyerang Ryung.
“Kenapa kau menolongku?” tanya Ryung.
“Aku tidak menolongmu.” jawab Shi Hoo dingin. “Aku ingin menangkapmu.”
“Ada hal yang harus kucari. Sebelum aku menemukannya, aku tidak akan membiarkan siapapun menangkapku. Tidak akan pernah.”
Ryung bertarung melawan Shi Hoo. Shi Hoo kalah. “Bunuh aku!”
“Jangan!” teriak Eun Chae. “Tolong ampuni nyawa kakakku!”
Ryung terdiam. “Aku tidak akan membunuh siapapun.” katanya. “Aku ingin menggunakan pedangku untuk menyelamatkan orang. Ayahku yang mengajarkan itu padaku.”
Ryung mengajak Eun Chae pergi.
“Jangan pernah kau menunjukkan punggungmu lagi padaku seperti itu!” seru Shi Hoo. “Jika tidak, aku akan membunuhmu walaupun itu berarti aku harus menyerangmu dari belakang! Aku akan menghabisi siapapun yang berdiri di jalanku!”

Ryung membawa Eun Chae ke markas persembunyiannya dan mengobati lukanya.
“Mungkin luka itu akan membekas.” kata Ryung. Ia mengeluarkan potongan jari Eun Chae yang disimpannya. Namun jari Eun Chae masih utuh.
Ternyata itu adalah jari kelingking Shi Hoo. Ia memotong jarinya sendiri.

“Beraninya kau lakukan itu padaku!” ujar Chun pada Shi Hoo. “Kau mencintai gadis itu, bukan?”
Chun mengangkat pedangnya, hendak menebas Shi Hoo.

Rumah pandai besi Ryung dikepung oleh Moo Yi dan pasukannya.
Bong Soon, yang menyamar menjadi Iljimae, mengintip mereka. Ia kemudian keluar, agar para pasukan itu melihat dan mengejarnya.
Moo Yi dan pasukannya mengejar Bong Soon. Kong He melihat hal itu dan berlari mengikuti.

“Di sini aman. Tetaplah tinggal.” kata Ryung, bangkit dari duduknya. “Aku akan memanggil seseorang untuk menemanimu.”
“Jangan pergi!” seru Eun Chae. “Diluar sangat berbahaya.”
“Aku harus pergi. Aku harus mencari sesuatu. Saat ini, aku hampir menemukannya.”
Ryung berbalik dan hendak berjalan pergi. Eun Chae memeluknya dari belakang.
“Kau adalah cinta pertamaku.” ujar Eun Chae. “Juga cinta terakhirku. Sekali… Hanya sekali ini saja… Izinkan aku melihat wajahmu. Walaupun aku hanya bisa merindukan dan mencintaimu dalam hati sepanjang hidupku… Izinkan aku untuk hidup seperti itu.”
Ryung berbalik menghadap Eun Chae.
Eun Chae mengulurkan tangan, menyentuh topeng yang dikenakan Iljimae..

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s