Hwang Jin Yi – Episode 12

Saat Gae-soo mulai melepas pakaian atas Myeong-wol, siapa sangka gisaeng itu malah balik menawar sang pejabat dengan beberapa kantung uang. Rupanya, cara itu digunakan Myeong-wol untuk membalas perbuatan Gae-soo sekaligus menunjukkan bahwa di dunia ini masih ada hal yang tidak bisa dibeli oleh uang dan kekuasaan.

Melihat Myeong-wol dengan begitu mudahnya jatuh ke pelukan Gae-soo, hati Jeong-han begitu gundah. Tanpa memperdulikan Bu-yong yang siap melayani, ia berkuda ke pinggir sebuah danau sambil bergumam sendirian. Jeong-han tidak sadar bahwa disaat yang sama, Myeong-wol justru telah berjalan kembali ke kelompok Song Do ditemani pengawal setianya Yi Saeng.

Perang siasat antara Myeong-wol dan Baek-moo berlanjut. Didepan para pejabat, Baek-moo mengajukan persayaratan bahwa bila sang murid kalah, maka ia harus menjadi budak sebagai hukuman karena membelot dari kelompok Song Do. Keruan saja, pertaruhan itu membuat Hyeon-geum kuatir, ia tidak ingin putrinya lebih menderita lagi.

Namun, Hyeon-geum hanya bisa membelalakkan matanya yang tidak bisa melihat begitu mendengar niat putrinya : Myeong-wol ingin meraih jabatan puncak demi merayu raja, dan nantinya kekuasaan tersebut akan digunakan untuk menghantam para pejabat yang dulu menghancurkan hidupnya. Setelah meninggalkan ibunya yang cuma bisa putus asa, Myeong-wol alias Ji-ni sempat meneteskan air mata ketika teringat akan ucapan mendiang Eun-ho soal menari.

Sambil memantapkan niatnya untuk membalas dendam, Myeong-wol mulai berlatih tarian pedang bersama Bu-yong dan murid-murid Mae-hyang. Siapa sangka, apa yang hendak dipelajari tidak semudah yang dibayangkan. Saat diminta menari diatas selembar kertas yang telah dibasahi air, gerakan kaki Myeong-wol begitu kaku sehingga kertas yang diinjaknya sobek.

Tidak cuma membuat para gisaeng Song Do melihat dengan pandangan melecehkan, kekakuan Myeong-wol membuat Bu-yong dan murid-murid Mae-hyang menolak untuk meneruskan latihan bersama gisaeng yang dianggap pengkhianat tersebut. Ketika tinggal berlatih sendirian, tak kurang dari Mae-hyang menyebut bahwa biar berlatih selama apapun, Myeong-wol tidak akan mampu berubah.

Melihat Myeong-wol begitu menderita, Baek-moo mendatangi Mae-hyang dan meminta adik seperguruannya itu untuk berhenti. Namun melihat semangat yang begitu membara di mata Myeong-wol, Mae-hyang menolak dan malah memutuskan untuk turun tangan sendiri memberi pelatihan khusus.

Sudah tentu, aksi tersebut langsung mendapat cibiran dari para gisaeng. Satu-satunya yang masih membela aksi Myeong-wol adalah Dan-shim alias Gae-dong, yang sangat yakin mantan sahabat baiknya itu bakal menjadi penari yang paling hebat. Yang membuat wajah Bu-yong pucat, Dan-shim menyebut bahwa tarian bangau yang legendaris hanya akan diturunkan oleh Baek-moo pada Myeong-wol seorang.

Dasar licik, Bu-yong langsung menghadap Baek-moo dan meminta pimpinan Song Do itu untuk melihat caranya menari sekaligus mempertimbangkan sosoknya sebagai pengganti Myeong-wol untuk mewarisi tarian bangau. Namun akal bulus itu telah disadari Baek-moo, yang menyebut bahwa sebelum menentukan siapa pewaris tarian miliknya, Bu-yong harus lebih dulu menyelaraskan gerakan dengan Myeong-wol.

Sementara itu, Gae-soo terus melancarkan akal bulusnya untuk memberi kesan bahwa Myeong-wol benar-benar telah dimilikinya dengan mengirim hadiah berjumlah besar. Tidak cuma itu, ia juga mengatakan pada Jeong-han hal-hal buruk tentang Myeong-wol sambil berharap sang saingan melupakan rasa sukanya yang begitu besar pada gisaeng itu.

Setelah sebulan berlalu, Bu-yong memutuskan untuk mencari Mae-hyang sekaligus membujuk sang guru menyudahi usahanya melatih Myeong-wol yang dianggap sia-sia. Tidak cuma Bu-yong, beberapa gisaeng kelompok Song Do termasuk Dan-shim memutuskan untuk ikut demi menertawakan rekan mereka yang telah berkhianat.

Apa yang dilihat di pinggir sungai benar-benar mengejutkan, Myeong-wol alias Ji-ni mampu menarikan tarian pedang dengan nyaris sempurna. Tidak cuma itu, yang membuat Bu-yong begitu resah adalah ekspresi bahagia yang terlihat di wajah Mae-hyang, ekspresi yang sama sekali belum pernah dilihatnya selama ini saat mengajar tari.

Malamnya, Bu-yong makin kaget setelah mendengar Myeong-wol sedang menggunakan alat pemotong untuk memotong rumput, dan langsung buru-buru melakukan gerakan dasar tarian pisau. Setelah sekian lama ia akhirnya sadar satu hal : Myeong-wol ternyata punya bakat yang begitu menakutkan dan ditambah dengan semangat yang besar.

Begitu kembali ke rumah, Myeong-wol langsung memerintahkan supaya semua barang yang telah diberikan oleh Gae-soo segera dikembalikan. Bisa dibayangkan, bagaimana terhinanya Gae-soo mendapati dirinya kembali ditolak. Tidak cuma itu, niatnya untuk mengelabuhi Jeong-han juga gagal total.

Semangatnya dalam berlatih terus berlanjut hingga larut, dan hal itu dilihat oleh Jeong-han yang kebetulan lewat. Namun, kecepatan Myeong-wol menyerap pelajaran yang diberikan Mae-hyang membuat banyak pihak kuatir sehingga mereka berusaha mencelakainya.

sumber: http://www.indosiar.com

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s