Painter Of The Wind – Episode 07

ANGIN YANG BERHARGA.
Hong Do ragu-ragu diluar kamar, menguatkan hatinya untuk membuka pintu kamar. Saat ia merubah pikirannya dan memegang gagang pintu, Byeok Soo dan tetua yang lain datang.
Byeok Soo mengejeknya seperti biasa dan membuka pintu, memergoki Yoon Bok dan Jeong Hyang hanya memakai pakaian dalam saja.
Semua berteriak melihat pemandangan ini. Yoon Bok meminta sedikit waktu lagi, tapi tidak ada yang mendengarkannya, tapi pemilik gisaeng datang. Sebenarnya ia adalah ibu Jeong Hyang. Ia menyuruh semuanya pergi.
Tidak ada yang mendengarkan dan mereka terus berteriak. Jeong Hyang muak, ia mengeluarkan sebilah pisau, mengagetkan semua orang yang kemudia diam. Jeong Hyang memotong sebagian rambutnya dan memberikannya kepada Yoon  Bok sebagai tanda kasih sayang dan memberikan penghormatan terakhirnya kepada Yoon Bok.
Byeok Soo pergi menemui kroninya dan berbicara bahwa ini kesempatan yang bagus untuk mereka, tapi mereka menyanggah semua pendapatnya, karena menurut mereka kasus ini tidak cukup besar untuk membuat Hong Do pergi. Mereka harus menemukan kasus yang lebih besar.
Seorang pria dikirim oleh Raja Jeongjo untuk memberitahu Han Pyeong untuk melepaskan Yoon Bok. Saat ini ia sedang dikurung oleh ayahnya sebagai hukuman. Raja menyuruh Yoon Bok dibebaskan supaya ia bisa melukis sesuatu yang rahasia untuknya (lukisan yang seharusnya ia kerjakan bersama Hong Do). Han Pyeong pun melepaskan Yoon Bok dengan gembira, setelah tahu ia mendapat tugas dari raja.
Saat itu Hong Do sedang sendirian di rumah yang ada di gunung, melukis sendirian. Tapi yang ia pikirkan adalah Yoon Bok. Mengingat pendapatnya untuk melukis lingkungan di sekitar seseorang untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang itu dan bagaimana perasaannya. Hong Do mulai melukis  hal itu dalam lukisannya. Jadi sebenarnya Hong Do mengakui bahwa pendapat Yoon Bok benar. Wah mereka saling berbagi pengetahuan.
Momen berikutnya sangat bagus. Hong Do melihat tempat kosong disebelahnya dan membayangkan bahwa Yoon Bok ada disana, melukis bersamanya . Ini cara yang bagus untuk menunjukkan seberapa penting Yoon Bok bagi Hong Do dan bagaimana kesepiannya ia saat ini.
Yoon Bok tiba di rumah itu, tapi Hong Do marah padanya. Ia mengabaikan perasaan Yoon Bok untuk Jeong Hyang (karena cemburu tentu saja) dan Yoon Bok pun jadi marah. Keduanya saling berteriak satu sama lain untuk beberapa saat, Hong Do mengambil lukisannya dan pergi. Ia bertingkah seperti pacar yang cemburu. Sebenarnya keduanya saling memperhatikan, tapi mereka tidak dapat mengungkapkan  karena gengsi. Mereka pun menghabiskan malam merenung sendirian.
Paginya, hubungan antara keduanya masih agak kaku, Mereka ingin berdamai, tapi tidak ada satupun yang mau memulai. Mereka berbicara dengan campuran ketidakacuhan dan perhatian. Akhirnya keduanya sepakat pergi menghadap Jeongjo bersama-sama.

Di istana, Jeongjo memperlihatkan hadiah yang akan diterima oleh pemenangnya, Sebuah bola dari batu yang indah yang dapat bersinar dalam gelap. Bila keduanya seri, Jeongjo akan menyimpan hadiahnya.
Mereka memperlihatkan lukisannya, Jeongjo melihatnya dan merasa puas (lukisan-lukisan itu adalah “Holding a Drinking Party” oleh Shin Yoon Bok dan “The Tavern” oleh Kim Hong Do). Hong Do dan Yoon Bok melihat lukisan satu sama lain, memikirkan pendapat mereka atas lukisan itu dalam diam. Yoon Bok dengan geli memikirkan bahwa Hong Do mengikuti pendapatnya dengan melukis keadaan sekitar orang yang dilukis, sedangkan Hong Do memikirkan hal yang lebih serius. Ia heran dengan kemampuannya menyelesaikan lukisan dalam waktu yang sesingkat itu sekaligus khawatir:” Aku berpikir bahwa, jika kamu bukan jenius, berarti kamu bodoh. Bagaimana kamu melukis sesuatu persis seperti yang kau lihat? Apa yang sebenarnya coba kau lakukan?”
Jeongjo menilai lukisan keduanya, bingung siapa yang seharusnya menang, lukisan keduanya begitu bagus. Tapi ia melihat ada bunga di lukisan Yoon Bok, ia mengumumkan bahwa pemenangnya adalah Yoon Bok.

Ketika berjalan pulang, suasana antara Hong Do dan Yoon Bok menjadi lebih santai, persahabatan mereka telah kembali dan Hong Do berkata:” Aku minta maaf”. Yoon bok mengatakan padanya bahwa malam ini adalah malam pertama Jeong Hyang dengan tuannya yang baru dan Hong Do memutuskan untuk mentraktirnya minum.
Malam itu Yoon Bok dan Hong Do minum bersama. Hong Do bertanya padanya apa arti Jeong Hyang baginya. Yoon Bok menjawab,” Ia adalah wanita pertama yang kuberikan hatiku. Yoon Bok menceritakan tentang dirinya dan Jeong Hyang. Di saat yang sama, Jeong Hyang sedang mempersiapkan diri untuk malam pertamanya dengan Jo Nyeon dan bernarasi dalam versinya tentang cerita antara dirinya dengan Yoon Bok.
Yoon bok:” Pada awalnya hanyalah pandangan.”
Jeong Hyang:”Kemudian aku bisa melihat hati si pelukis.”
Yoon Bok:”Ia menangis untukku ketika aku terluka.”
Jeong Hyang:” Dan aku memperlihatkan semua milikku untuknya.”
Yoon bok:” Aku dapat melihat diriku yang hilang. Ketika aku melihatnya…….aku merasa bahwa aku melihat diriku sendiri. Ia sangat penting bagiku daripada oranglain. Ia satu-satunya milikku. Aku merindukannya.”
Jeong Hyang:” Bagaimanapun, semuanya sudah berakhir sekarang. Mulai saat ini aku akan menjadi obyek.”
Jo Nyeon dan Jeong Hyang akan melakukan malam pertama mereka. Jo Nyeon menundukkan kepalanya untuk menciumnya, Jeong Hyang memalingkan mukanya.
Jo Nyeon:”Apakah kau menghinaku?”
Jeong Hyang:” Rasa jijikku lebih besar.”
Jo Nyeon:” Apakah kamu sedang jatuh cinta pada seseorang? Aku akan mendapatkan cintamu. Setelah itu akau akan mendapatkan tubuhmu.”
Jo Nyeon keluar kamar. Ia memilih untuk tidak memperkosanya.
Yoon Bok pingsan karena mabuk, membuat kekacauan. Dan Hong Do membawanya pulang. Ia menidurkannya dengan nyaman di kasur, bola yang di menangkannya terjatuh, bersinar dalam gelapnya kamar. Sinar itu jatuh ke wajah Yoon Bok yang cantik, Hong Do tertegun, terpesona oleh kecantikan seorang wanita. Tak mampu menahan, ia menyentuh wajah Yoon Bok dengan lembut, teringat wajahnya ketika ia berpakaian wanita (saat melukis festival dano). Tiba-tiba mata Yoon Bok terbuka, Hong Do kaget. Tapi ia tidak benar-benar sadar dan ia berpindah posisi dan tertidur lagi. Hong Do gemetar, bingung dengan perasaannya.
Paginya, Yoon Bok bangun, ia sendirian, Hong Do telah pergi. Saat itu Hong Do sedang berbicara dengan Yin Moon dan adiknya, Jung Sook. Ia mendengar rumor tentang seorang bangsawan yang membayar begitu banyak uang untuk mendapatkan badut yang feminin yang akhirnya menjadi budak seksnya. Bangsawan yang lebih tinggi mengetahuinya dan mencambuk mereka berdua dan menjadi lumpuh. Jung Sook heran bagaimana seorang pria dapat melabuhkan perasaan seksualnya kepada seseorang yang pantas jadi anaknya.
Hong Do terganggu dengan pendapat Jung Sook, terganggu dengan “homoseksualitasnya” ditambah perasaannya kepada orang yang jauh lebih muda.
Takut berbuat sesuatu karena mabuk kemarin, Yoon Bok menemui Hong Do dan bertanya padanya apakah ia melakukan hal yang aneh. Hong Do yang masih merasa tidak nyaman tentang apa yang terjadi semalam berusaha menghindari topik itu. Ia hanya mengatakan bahwa Yoon Bok mendengkur dengan keras. Yoon Bok merasa lega dan pergi. Mantan teman sekelasnya melihatnya pergi dari “kantornya” dan bertanya-tanya kenapa keduanya sering menghabiskan waktu bersama.
Jeongjo mengumpulkan semua penasehatnya dan meminta mereka untuk memberitahunya apa yang mereka lihat dari lukisan Yoon Bok dan Hong Do. Ketika mereka tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan, ia mengarahkan perhatian mereka pada bunga yang dilukis oleh Yoon Bok. Bunga itu hanya mekar di siang hari, yang berarti adegan dalam lukisan itu terjadi pada siang hari. Hal itu menunjukkan bahwa pejabat pemerintah,dll minum-minum pada siang hari dan tidak mengerjakan pekerjaan mereka. Pelukisnya menunjukkan ketidaksukaan atas perbuataan mereka dengan melukis orang-orang tersebut dengan muka yang yang suram dan tanpa senyum.
Jeongjo kemudian menyuruh untuk menangkap semua pejabat yang malas dan meghentikan kegiatan yang melanggar hukum ini.

Yoon Bok dan Hong Do masih mencari subyek-subyek lain yang bisa dilukis untuk Jeongjo, tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Mereka tidak sengaja melihat ritual dukun ilegal dan Yoon Bok memutuskan untuk melukisnya (yang akan menghasilkan lukisan terkenal Shin Yoon Bok “Dance of a Shaman”). Hong Do memperingatkan kesembronoannya. Lukisan itu akan menimbulkan banyak masalah. Tapi Yoon Bok dengan kepolosannya berpikir bahwa itu cukup melukis sesuai dengan kenyataan. Dia melihat keputusasaan pada orang-orang yang berdoa kepada dukun ini, dan ingin melukis perasaan mereka  dengan jujur.

 

Yoon Bok pun melukisnya dan ketika Jeongjo melihatnya, ia bertanya apakah peristiwa ini ia saksikan sendiri. Yoon Bok menjawab bahwa ia melihatnya sendiri. Jeongjo pun melakukan suatu tindakan.
Sedikit menyedihkan melihat penderitaan yang disebabkan oleh lukisan Yoon Bok. Yoon Bok merasa sangat bersalah pada perempuan yang sedang hamil (yang mempunyai hubungan keluarga dengan salah satu dari trio jahat, mungkin istrinya atau menantunya) yang ada pada ritual dukun ilegal tersebut. Karena luisannya, ia dan semua orang yang terlibat ritual itu ditangkap. Jeongjo melakukan ini untuk kebaikan negerinya, tidak ada seorangpun yang dapat melakukan perubahan tanpa membuat beberapa orang terluka dalam prosesnya.

Para bangsawan dan penasehat kerajaan  kesal dengan kejadian ini dan mereka membuat plot untuk menghentikan Jeongjo.Dengan cara mereka yang berkelas dan khas, mereka menembakkan panah ke pilar istana dengan pesan untuk Jeongjo:” Putra seorang kriminal tidak dapat menjadi raja”. Mereka juga menyebarkan pesan dengan cara yang sama untuk masyarakat umum yang menyuruh pejabat kerajaan untuk turun.

Dan yang terakhir, mereka menangkap semua pelukis di Dohwaseo untuk mencari orang yang melukis untuk Jeongjo dan menghentikan mereka untuk melukis lagi, termasuk Yoon Bok dan Hong Do.

sumber: http://www.bengawanseoul.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s