Painter Of The Wind – Episode 13

HIDUP DAN MATI

Dengan susah payah Kim Hong Do berdiri dan berjalan menuju obor terdekat.
Hong Do: “Jika tangan seorang pelukis lebih penting dari nyawanya, aku kan mengorbankan tanganku untuk menyelamatkan Yoon Bok.”
Ia pun membakar tangannya sambil berteriak memohon pengampunan untuk Yoon Bok.

Hong Do dengan tangan kanan dibalut sedang berlutut dihadapan Jeongjo. Jeongjo heran mengapa ia melakukan itu. Hong Do bercerita bahwa pewarna Chu Sal yang akan mereka gunakan telah dirusak oleh seseorang, maka Yoon Bok meminta pada kakaknya untuk membuatkan warna yang sama. Hal itu membuatnya meninggal karena efek samping dari pembuatan warna. Oleh karena itu ketika para menteri menghina warna tersebut, Yoon Bok tidak dapat menahan kemarahan dan sakit hatinya.
Jeongjo masih belum bisa memaafkan Yoon Bok. Hong Do berkata bahwa bagi Yoon Bok, lukisan itu adalah untuk mempercayakan kelangsungan semangat dan jiwa seseorang, oleh karena itu ia menghancurkannya, ketika orang-orang mencelanya. Jeongjo pun memikirkan perkataan Hong Do.
Di Uigembu, seorang penjaga memberikan makanan terakhir bagi Yoon Bok. Ia hanya memandanginya dan teringat ketika melukis tempat minum, ia menggunakan kecap untuk menjelaskan teorinya.
Di saat yang sama Jeong Hyang sedang melihat burung dalam sangkar, ia teringat kata-kata Kim Jo Nyeon
Jo Nyeon (v/o): “Jika kamu akhirnya mau menerima hal yang sudah aku persiapkan, kamu hanya perlu melepaskan salah satu burung dalam sangkar itu.”
Jeong Hyang pun melepaskan salah satu burung itu.
Sasuke melaporkan pada Kim Jo Nyeon kalau Jeong Hyang melepaskan salah satu burung yang ada dalam sangkar.
Kim Hong Do datang ke Uigembu, ia menjenguk Yoon Bok. Yoon Bok senang melihat gurunya. Hong Do mengelus kepala Yoon Bok seperti anak kecil. Ketika melihat tangan Hong Do yang diperban, Yoon Bok bertanya apa yang telah terjadi. Hong Do hanya menjawab bahwa tidak terjadi apa-apa. Yoon Bok menangis, karena semua pasti karena dirinya.
Yoon Bok berkata bahwa ia sangat senang menjadi murid Hong Do, karena ia selalu disampingnya, selalu membelanya. Ia bertanya apakah  ia murid yang baik baginya. Hong Do mulai menangis, ia menjawab bahwa Yoon Bok bukan hanya sekedar murid baginya. Yoon Bok berterima kasih. Hong Do menyandarkan kepala Yoon Bok ke bahunya.
Hong Do: “Aku berharap bisa melukis lagi denganmu……Aku minta maaf. Aku tidak bisa menjagamu…..Aku benar-benar minta maaf!”
Hong Do memeluk Yoon Bok, mereka menangis bersama.
Kim Jo Nyeon sedang mendengarkan permainan gayageum Jeong Hyang. Ia bertanya kenapa Jeong Hyang melepaskan burung itu? Apakah ia sudah melupakan cinta pertamanya? Jeong Hyang berkata, seiring dengan permainan gayageumnya ini cintanya akan menghilang.
Jeong Hyang memuji Jo Nyeon pandai menilai seseorang, ia pasti mampu menilai kemampuan seorang pelukis. Jo Nyeon hanya tertawa, ia akan memberi hadiah bila Jeong Hyang bisa memberi contoh. Jeong Hyang menyebut Yoon Bok. Jo Nyeon mengakui bahwa Yoon Bok mempunyai bakat yang besar. Jeong Hyang menyarankan agar Yoon Bok direkrut di Chawaseo (galeri seni) miliknya, tapi sekarang mungkin terlambat. Jo Nyeon tertawa.
Jeongjo sedang berada dikamarnya, ia sedang berpikir.
Jeongjo: “Ini bukan hanya sekedar lukisan potret, tetapi untuk mempercayakan kelangsungan semangat dan jiwa seseorang.”
Para menteri berjalan menuju pavilion Shi Kang untuk bertemu dengan Jeongjo dan membicarakan masalah negara.
Kim Jo Nyeon sedang melihat lukisan festival dano karya Yoon Bok. Sasuke memberitahunya bahwa Yoon Bok adalah putra Shin Han Pyeong. Tiba-tiba Jo Nyeon mengenali gaya lukisan, goresan kuas dan pemilihan warnanya, ini seperti lukisan Yoon Bok yang pernah dijual padanya dengan nama pena Il Wyol San Nim.
Penjaga Uigembu membuka pintu penjara, ia menyuruh Yoon Bok keluar karena ia akan dieksekusi.
Di Paviliun Shi Kang, para menteri berkumpul di pintu masuk, mereka melihat lukisan potret Jeongjo tergeletak menutupi pintu, jika mereka ingin masuk, maka mereka harus menginjaknya. Mereka bingung dan takut kalau harus menginjak lukisan Jeongjo.
Jo Young Jung berpendapat bahwa Jeongjo sedang mengetes mereka, jika mereka tidak menginjak lukisan itu berarti mereka mengakui bahwa lukisan itu layak menjadi lukisan kerajaan. Dengan sombong ia segera masuk ke dalam paviliun dan menginjak lukisan itu. Menteri yang lain mengikutinya. Hong Guk Young melaporkan perbuatan para menteri ini kepada Jeongjo.

Yoon Bok dibawa ke tempat eksekusi, teman-temannya datang, mereka memanggil-manggil namanya. Yoon Bok melihat Hong Do berada diantara kerumunan. Mi Nyeon juga ada disana sedangkan Jo Nyeon dan Sasuke melihat dari jauh. Shin Yoon Bok berlutut di tempat eksekusi, ia menunggu takdirnya.
Di saat yang sama Jeong Hyang melihat hiasan kupu-kupu pemberian Yoon Bok, ia berdoa semoga ada keajaiban.

Jeongjo memasuki paviliun itu, ia bertanya siapa yang menginjak lukisannya. Jo Young Jung menjawab bahwa semua menteri yang hadir menginjaknya. Jeongjo bertanya kenapa mereka perlu menginjaknya. Jo Young Jung menjawab bahwa  Jeongjo pasti sedang mengetes mereka, apakah pendapat mereka ketika Pong Shi akan berubah. Mereka tetap tidak mengakui bahwa itu adalah lukisan kerajaan. Jeongjo bertanya sekali lagi memastikan bahwa lukisan itu bukan lukisan potret kerajaan. Jo Young Jung memastikannya.
Di tempat eksekusi, para petugas sudah datang, Pandangan Yoon Bok terlihat kosong, drum pun dibunyikan.
Di Shi Kang Paviliun, Jeongjo berkata bahwa 4 hari yang lalu ia menghukum seorang pelukis karena telah menghancurkan lukisan kerajaan, padahal sekarang mereka berkata bahwa lukisan itu bukan lukisan kerajaan, berarti keputusannya 4 hari yang lalu salah. Mereka tidak perlu menghukum pelukis itu. Jo Young Gung termakan omongannya sendiri dan tidak bisa berkata apapun.
Di tempat eksekusi, seorang petugas membacakan hukuman Yoon Bok, sedangkan seorang algojo mempersiapkan pedangnya. Orang-orang yang berkerumun mengasihani Yoon Bok, Hong Do mendesah, sedangkan Yoon Bok menangis.
Di Paviliun Shi Kang, Jeongjo menegaskan bahwa pelukis yang akan dieksekusi hari ini tidak bersalah, ia menekan Jo Young Gung untuk mengakui hal itu. Ia pun menyuruhnya untuk menghentikan eksekusi, jika ia terlambat, nyawanya ikut melayang.

Di tempat eksekusi, Hong Do tidak berani melihat, Yoon Bok memejamkan matanya, sedangkan algojo bersiap memenggalnya. Tiba-tiba seorang petugas datang ia membawa perintah kerajaan. Semua orang berlutut sambil mendengarkan perintah itu.
Menteri Uigembu: “Karena kemurahan hati Chusan Chona, eksekusi untuk pelukis Shin Yoon Bok di batalkan.”

Hong Do merasa lega, Yoon Bok menangis karena lega. Yoon Bok berterimakasih kepada Jeongjo. Petugas melepaskan tali pengikatnya, Yoon Bok terus meratap, berterimakasih. Hong Do pun memeluknya, menenangkannya, sedangkan teman-temannya melihatnya dengan iba. Jo Nyeon dan Sasuke meninggalkan tempat eksekusi.
Ibu Suri Jeong Sun marah mendengar laporan Jo Young Jung. Jo Young Jung pun minta maaf.
Yi Yin Moon memberitahu Shin Han Pyeong bahwa Yoon Bok telah diampuni, Han Pyeong hanya melihat ke suatu tempat.

Mi Nyeon memberitahu Jeong Hyang bahwa Yoon Bok masih hidup. Jeong Hyang sangat lega, ia mendekap hiasan kupu-kupunya dengan penuh rasa sayang.
Hong Do kembali ke Dohwaseo, semua jabatannya di Dohwaseo telah dikembalikan. Yoon Bok juga ada disana, ia mengumpulkan barang-barangnya, ia telah dipecat dari Dohwaseo. Ia berada dalam kamarnya, ia teringat kenangan dengan kakaknya. Yoon Bok meminta maaf pada kakaknya.

Jo Nyeon mengunjungi rumah Shin Han Pyeong, ia ingin mempekerjakan Yoon Bok di Chawaseonya. Ia menawarkan sejumlah uang sebagai kompensasi. Awalnya Han Pyeong menolak, Jo Nyeon terus merayunya.

Yoon Bok selesai berkemas. Ia pergi menemui Kim Hong Do. Hong Do menyesal, ia merasa belum mengajari Yoon Bok apapun. Yoon Bok berterimakasih atas semua kebaikan Hong Do, ia melihat tangan Hong Do dan meminta maaf. Hong Do bertanya kemana ia akan pergi. Yoon Bok menjawab bahwa ia kan pulang. Sebelum pergi, Hong Do menghadiahkan sesuatu kepada Yoon Bok sepasang segel yang di ukir. Yoon Bok menyegel lukisannya dengan Hong Do “A Story of The Route By The Stream”. Hong Do memberinya nama pena Hye Won
Hong Do: “Hye adalah sebuah spesies anggrek, Won artinya suatu tempat untuk menanam. Anggrek itu tidak begitu indah tapi mempunya wangi yang bisa tahan dalam perjalanan sampai 100 mil. Pergi dan ciptakan lukisan seni yang dapat diakui dunia.”
Yoon Bok berterimakasih.

Yoon Bok pulang ke rumahnya, ia teringat kenangannya dengan Young Bok ketika masih kecil. Ia pun pergi menemui ayahnya. Ayahnya berkata bahwa ia telah mempermalukan nama keluarga dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Ia memberikan sebuah alamat kepada Yoon Bok dan menyuruhnya pergi kesana dan bekerja di studio itu. Yoon Bok pun mengemasi barangnya dan pergi kesana.

Ia pergi ke Chawaseo milik Kim Jo Nyeon, disana ia dipermainkan oleh pelukis yang lain, tapi ia diselamatkan oleh seorang pembantu. Yoon Bok bertemu dengan Jo Nyeon. Jo Nyeon bertanya kenapa ia selalu melukis dengan penuh kontroversi, Yoon Bok hanya menjawab bahwa ia melukis apa yang ia suka dan ia ingin lukis. Jo Nyeon memuji keberanian Yoon Bok. Ia berkata lukisannya selalu menarik perhatian banyak orang, dan sekarang ia adalah salah satu pelukis di Chawaseo miliknya. Ia ingin menunjukkan sesuatu padanya.
Ia mengajak Yoon Bok ke tempat lelang barang seni miliknya. Jo Nyeon berkata bahwa orang-orang sekarang sangat jeli dan suka keindahan, Joseon membutuhkan pelukis berbakat untuk memenuhi permintaan mereka. Ia menganggap Yoon Bok pasti bisa melukis sesuatu yang dapat menarik perhatian banyak orang.
Jo Nyeon menunjukkan tempat tinggal Yoon Bok yang mewah. Jo Nyeon memintanya untuk membuat lukisan yang terbaik. Yoon Bok bertanya apa yang dimaksud dengan lukisan yang terbaik menurutnya. Jo Nyeon menjawab bahwa lukisan yang dapat membut orang mau membayar mahal untuknya.

Jo Nyeon pun mengajaknya pergi berjalan-jalan ke pasar. Sambil berjalan, ia menjelaskan kepada Yoon Bok
Jo Nyeon: “Apakah kau tahu kenapa orang mau mengeluarkan banyak uang?  Ini karena hati. Hati adalah sesuatu yang paling susah di taklukkan. Di dalam lukisan yang kau buat, kekuatannya dapat menggerakkan hati seseorang. Setelah ini lupakan semua masa lalumu. Aku akan membuatmu menjadi pelukis paling terkenal di Joseon.”
Jo Nyeon menanyakan nama pena Yoon Bok, Yoon bok menjawab bahwa nama penanya adalah Hye Won. Jo Nyeon memberinya sebuah tanda pengenal, dengan tanda itu ia bisa memperoleh apapun yang dibutuhkannya dan masuk kemanapun ia inginkan.

Jeongjo mengadakan pertemuan dengan menteri-menteri kepercayaannya. Mereka sedang membicarakan keinginan Jeongjo untuk membersihkan nama ayahnya. Tapi jika mereka salah langkah, maka bisa menimbulkan kekisruhan politik. Jeongjo berkata kalau sebelum meninggal, kakeknya berkata bahwa ia telah menyuruh 2 orang pelukis untuk melukis potret ayahnya, sebagai tanda penyesalan karena telah menghukum putranya yang tidak bersalah, tapi sayangnya, lukisan itu hilang.

Menteri yang mendukung Ibu Suri Jeong Sun pun mengadakan pertemuan. Mereka sedang mengamati langkah-langkah yang dibuat Jeongjo. Mereka merasa terancam karena Jeongjo mengampuni Yoon Bok dan Hong Do.

Jeongjo sedang minum teh bersama Ibu Suri Jeong Sun. Ibu Suri bertanya kenapa ia mengampuni Yoon Bok. Padahal pemerintahannya belum stabil, ia harus memperkuat dirinya sehingga banyak yang akan mengikutinya. Ia harus memperlihatkan apa yang ada dalam hatinya dan menjadi raja yang baik. Jeongjo berterimaksih atas nasehat Ibu Suri, tapi ia memandangnya seperti ia siap bertarung dengannya.
Ketika dalam perjalanan pulang bersama Hong Guk young, Jeongjo berkata padanya bahwa ini saat yang tepat untuk mencari lukisan ayahnya. Ia menyuruh Hong Guk Young untuk mencari Hong Do serta Yoon Bok dan menyuruh mereka berdua untuk menemuinya.

Jo Nyeon datang ketempat Jeong Hyang. Ia memberitahunya bahwa ia telah mempekerjakan Yoon Bok di Chawaseonya. Jeong Hyang terlihat  tidak peduli. Jo Nyeon juga memberitahunya bahwa ia akan mengadakan pameran seni, jadi Jeong Hyang harus berdandan yang cantik, ia pun pergi. Mi Nyeon bertanya kenapa Jeong Hyang begitu dingin. Jeong Hyang memberitahunya kalau ia terlihat senang, maka Jo Nyeon akan curiga dan hubungannya dengan Yoon Bok bisa ketahuan, nyawa mereka bisa dalam bahaya.
Yoon Bok sedang berjalan di jembatan, ia teringat kenangannya bersama Hong Do.
Hong Do (v/o): “Lukislah apa yang bisa kau lihat, bukan yang tidak bisa kau lihat.”
Tiba-tiba ia melihat Hong Do, tapi ternyata ia salah orang. Seorang kasim mendekatinya dan memberitahunya bahwa Jeongjo ingin bertemu dengannya.
Hong Do sedang berada di Dohwaseo, ia menemukan surat yang aneh, ternyata surat itu dari Jeongjo yang ingin bertemu dengannya.

Yoon Bok dan Hong Do bertemu di istana. Mereka terlihat senang setelah sekian lama tidak bertemu.
Hong Do dan Yoon Bok berlutut di depan Jeongjo. Mereka berterima kasih karena telah diberi pengampunan. Jeongjo memuji Hong Do yang telah begitu keras berusaha menyelamatkan Yoon Bok. Ia begitu terkesan dengan kekuatan persahabatan mereka. Ia menyuruh mereka berdua mendekat. Jeongjo meminta bantuan mereka berdua untuk menemukan lukisan ayahnya yang hilang. Hong Do dan Yoon Bok terkejut.

sumber: http://www.benwnseoul.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s