Painter Of The Wind – Episode 16

LUKISAN POTRET TANPA WAJAH
 

Di sebuah choga (rumah beratapkan jerami), pelayan Jang Byeok Soo memukuli Kim Hong Do, Yoon Bok melihatnya dengan ngeri.
Byeok Soo: “Apakah lukisan lebih penting dari tanganmu?”
Seorang pelayan meletakkan tangan Hong Do ke sebuah meja, sedangkan pelayan yang lain mengangkat sebuat benda dari besi yang berat untuk dipukulkan ke tangan Hong Do.
Yoon Bok berlari menahan mereka . ia melemparkan kelima gulungan lukisan itu ke lantai. Hong Do berusaha mencegahnya, tapi Yoon Bok lebih mementingkan tangan gurunya dari pada lukisan. Jang Byeok Soo heran melihat Yoon Bok yang berdandan begitu cantik, pantas saja Hong Do begitu memanjakannya. Mereka mengambil lukisan itu dan pergi.

Yoon Bok bertanya apakah ia baik-baik saja. Hong Do memarahinya karena keluar dari tempat persembunyiannya. Yoon Bok berteriak kalau tangan Hong Do lebih penting daripada semua lukisan itu. Hong Do merasa sedih, karena mereka gagal melaksanakan tugas dari Jeongjo. Yoon Bok menghiburnya, pasti ada cara lain untuk menyelesaikan lukisan ini.
Jang Byeok Soo mempersembahkan lukisan itu pada Jo Young Jung. Jo Young Jung merasa senang, ia bertanya sebenarnya dalam semua lukisan itu ada hal penting apa? Kim Gui Joo memberitahunya kalau Kim Hong Do ditugaskan untuk mencari lukisan Putra Mahkota Sado yang hilang 10 tahun yang lalu. Dalam kelima lukisan itu terdapat petunjuk tentang lukisan Yejin yang hilang. Untung saja mereka bisa mendapatkannya, mereka pun merasa puas.
Sudah tengah malam, Yoon Bok sedang membuat outline dari draft pertama lukisan Putra Mahkota Sado. Hong Do melihatnya, kemudian ia melepaskan doponya dan menyelimutkannya ke atas tubuh Yoon Bok (dopo: baju luar pada pakaian pria), Yoon Bok pun tersenyum. Yoon Bok menyelesaikan pekerjaannya, mereka pun berjanji untuk meneruskan lukisan itu keesokan harinya.
Yoon Bok melepaskan dopo yang menyelimuti badannya dan memakaikannya pada tubuh Hong Do yang membuat mereka begitu dekat dan menimbulkan perasaan berbeda pada keduanya.
Hong Do: “Ini terasa aneh….Ini seperti….Kita seperti pasangan suami istri.”
Yoon Bok menatapnya dengan penuh perasaan.
Yoon Bok: “Bagaimana jika….aku seorang wanita. Apa yang akan terjadi?”
Hong Do bingung dan kehilangan kata-kata.
Hong Do: “Jika kau seorang wanita……..”
Hong Do mencium kening Yoon Bok, Yoon Bok menangis dan memegang dopo Hong Do dengan erat.
Yoon Bok sedang merenung, ia teringat kenangannya bersama Hong Do ketika ia menggendongnya untuk mengikuti ujian negara, berdiskusi dengannya dan ketika Hong Do sedang membimbing tangannya yang terluka untuk melukis.
Hong Do juga sedang merenung, ia mengingat ketika mereka berganti pakaian setelah melukis festival dano, Yoon Bok berteriak ketakutan ketika mandi dan bayangan wajah Yoon Bok ketika mereka melukis Oh Ji Hwa Sa.
Jun Suk masuk dan membawakan makam malam Hong Do. Jun Suk ingin membantunya untuk mengganti perbannya, tapi Hong Do menolak dan menyuruhnya pergi beristirahat. Ia menambahkan, jika Jun Suk sudah menemukan pria yang baik, sebaiknya ia menikah. Jun Suk tersipu malu, ia hanya bergumam, “Orrabunim, kamu benar-benar……..orang yang ingin aku nikahi.”
Di Chawaseo, seorang pelayan mencari Yoon Bok, pelukis yang lain berkata kalau ia tidak melihatnya seharian ini. Mi Nyeon yang memata-matai mereka segera pulang ke kediaman Jeong Hyang.
Di kamarnya, Jeong Hyang terlihat sangat khawatir. Ia bertanya pada Mi Nyeon apakah Yoon Bok sudah kembali. Mi Nyeon menjawab bahwa Yoon Bok belum kembali dan Jo Nyeon mencarinya. Jeong Hyang menyuruh Mi Nyeon untuk menunggu kedatangan Yoon Bok di luar dan memberinya sebuah jangot (tutup kepala) dan membisikkan sesuatu ke telinga Mi Nyeon.
Jo Nyeon sedang bersama dengan seorang pelanggannya ketika seorang pelayan melaporkan padanya kalau Yoon Bok sedang pergi.
Jeong Hyang mondar-mandir di kamarnya, ia sangat cemas. Yoon Bok datang dan menyapanya. Jeong Hyang segera memberitahunya kalau Jo Nyeon mencarinya dan menyuruhnya untuk segera menyelesaikan lukisannya. Yoon Bok meminta maaf, ia teringat ketika pertama kali melihat Jeong Hyang mengendarai kuda di jembatan, ia meminta Jeong Hyang untuk berpakaian seperti itu untuk di lukisnya.
Yoon Bok: “Aku melihat wanita yang paling cantik dan elegan mengenakan Chonmo sambil mengendarai kuda menyeberangi jembatan.”
Jeong Hyang berganti pakaian dan berpose, sementara Yoon Bok melukisnya.
Setelah selesai, Jeong Hyang melihat lukisan itu dan berkata bahwa lukisan itu terlihat seperti dilukis selama seharian, sehingga Yoon Bok bisa menutupi kepergiannya. Yoon Bok bertanya apakah Jeong Hyang menyukai lukisannya, Jeong Hyang mengiyakan.
Jeong Hyang: “Bisakah kita bersama seperti ini. Aku ingin kembali ketika ke masa yang menyenangkan dulu, ketika kau menjadi kupu-kupu dan aku menjadi bunga. Walaupun sekarang aku hanya hiasan, tapi untukmu hatiku sangat tulus. Perasaan ini tidak akan hilang.”
Yoon Bok tersentuh dengan perkataan Jeong Hyang, ia memintanya untuk mengadakan pertemuan rahasia malam ini di gerbang timur. Ia pun pergi menemui Jo Nyeon bersama Mi Nyeon.
Jo Nyeon menyambutnya. Yoon Bok berkata bahwa ia mengikuti perintahnya untuk melukis Jeong Hyang. Mi Nyeon pun membenarkan bahwa Yoon Bok mulai melukis pukul 11 siang dan baru selesai sekarang. Mi Nyeon menyerahkan lukisan Yoon Bok. Jo Nyeon dan pelanggannya melihat lukisan itu. Mereka sangat puas.
Hong Do menunggu Yoon Bok di choga, Yoon Bok datang dan berkata kalau semuanya selesai ia ingin mengatakan sesuatu padanya. Hong Do bertanya apa yang ingin dikatakannya, Yoon Bok hanya tersenyum.
Hong Do dan Yoon Bok menghadap Jeongjo. Jeongjo bertanya apakah mereka telah melaksanakan perintahnya. Hong Do melaporkan bahwa sebelum meninggal, gurunya memberikan 5 lukisan pada perkumpulan 5 bambu dan dari setiap lukisan itu ia bisa memperoleh gambar mata, hidung, bibir dan telinga yang merupakan bagian dari lukisan Yejin. Yoon Bok menambahkan bahwa ia telah menirunya di kertas lain. Kim Soo Han membagi bagian lukisan untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu padanya.
Jeongjo ingin melihat lukisan tersebut. Yoon Bok memberikannya. Jengjo membuka kotak dan membuka sketsa lukisan. Ini pertama kalinya Jeongjo melihat lukisan potret ayahnya. Ia sangat rindu setelah ayahnya meninggal berpuluh tahun yang lalu. Jeongjo terbawa perasaannya, ia menangis dan menyentuh lukisan itu dengan lembut.
Hong Do dan Yoon Bok menatap Jeongjo yang menangis kemudian melaporkan kalau mereka tidak berhasil mendapatkan lukisan yang terakhir. Jeongjo bertanya apakah mereka mempunyai solusinya.
Yoon Bok menjawab bahwa ia akan melukis bentuk wajah Putra Mahkota Sado sesuai ingatan Jeongjo. Mereka pun memulainya, setelah beberapa kali salah, akhirnya mereka dapat menyelesaikan sketsa lukisan itu. Jeongjo merasa sangat puas.
Kim Gui Joo dan Jo Young Jung sedang berjalan di koridor, tiba-tiba seorang kasim datang dan memberitahu mereka kalau Jeongjo bertemu dengan Hong Do serta Yoon Bok. Jo Young Jung terlihat sangat kaget.
Jeongjo berterimakasih pada keduanya, karena telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Hong Do berkata pada Jeongjo bahwa ia ingin menunjukkan sesuatu. Ia berkata bahwa 10 tahun yang lalu, guru dan temannya mengalami nasib yang mengenaskan, tapi sebelum meninggal, temannya meninggalkan sebuah lukisan. Tapi lukisan itu sangat aneh, karena lukisan potret tanpa wajah. Ia menduga kalau lukisan itu adalah lukisan orang yang membunuh guru dan temannya.
Jeongjo melihat lukisan itu. Yoon Bok yang melihatnya, sadar kalau itu adalah lukisan terakhir ayahnya. Hong Do meminta persetujuan Jeongjo untuk menyelidiki masalah ini. Ia ingin mengungkap kematian guru dan sahabatnya. Jeongjo memberikan ijin dan berkata bahwa musuh mereka juga musuhnya. Yoon Bok berterimakasih dalam hati.
Kim Gui Joo dan Jo Young Jung melaporkan pada Ibu Suri Jeong Sun kalau Jeongjo bertemu dengan Hong Do dan Yoon Bok. Mereka memberitahunya kalau Jeongjo sedang mencari lukisan Yejin yang hilang 10 tahun yang lalu. Tapi cuma ada dua kemungkinan untuk mereka. Pertama, mereka berhasil menyelesaikannya dan yang kedua mereka gagal melaksanakannya. Tapi karena semua lukisan sudah di rampas Jang Byeok Soo, mereka tidak mungkin menyelesaikannya. Ibu Suri Jeong Sun merasa tidak yakin, ia akan mencari tahu.
Ibu Suri sedang makan buah peach dengan Jeongjo. Ia berkata kalau buah itu adalah buah kesukaan Putra Mahkota Sado. Ia menjadi sedih bila teringat tentang dirinya. Jeongjo menjawab bahwa orang yang telah meninggal pasti akan meninggalkan kenangan. Ibu Suri  memberitahunya bahwa ayahnya suka mempermainkan orang lain dan Yeongjo sudah menghukumnya. Ia meminta agar Jeongjo tidak membalas dendam atas kematian ayahnya pada para menteri. Jeongjo marah, tapi ia menyembunyikan emosinya, ia hanya berkata kalau seorang anak wajib mengingat orangtuanya yang telah meninggal. Ibu Suri berkomentar kalau kenangan itu hanya indah bila dikenang. Jeongjo tersenyum dan menahan kemarahannya.
Ibu Suri mengira bahwa Jeongjo tidak berhasil menemukan potret ayahnya.
Jeongjo yang sangat marah bertemu dengan Hong Guk Young. Ia menenangkan Jeongjo dan berkata bahwa mereka telah menemukan lukisan Yejin, jadi mereka bisa mengonfrontasi grup Ibu Suri.Tapi Jeongjo berkata bahwa jalan mereka masih panjang. Ia tidak mau gegabah dan juga, ia harus menemukan pembunuh Kang Soo Han serta Seo Jing. Setelah ditemukan, mereka bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi 10 tahun yang lalu serta menegakkan kebenaran.
Hong Do dan Yoon Bok sedang minum makgulli. Hong Do bertanya apa yang ingin ia katakan tadi pagi. Tapi Yoon Bok tidak mau mengatakannya. Ia meminta Hong Do untuk menceritakan tentang temannya Seo Jing.
Hong Do: “Ia adalah sahabat yang terbaik. Tegas, orang yang baik, hatinya luas seperti langit dan laut.”
Yoon Bok senang mendengar penjelasan Hong Do.
Hong Do: “Ia 8 tahun lebih tua dariku, tapi mau menerima perbedaan kami. Sifatnya sangat terbuka dan berterus terang.”
Yoon Bok ingin melihat lukisan terakhir ayahnya. Hong Do memberikannya. Yoon Bok bertanya, jika itu lukisan potret, kenapa wajahnya tidak dilukis dulu? Hong Do menjelaskan, jika bagian pakaiannya dilukis sedemikian detil, maka wajahnya pasti sudah dilukis, tapi mungkin disembunyikan seperti lukisan Yejin kemarin. Jadi mereka harus mencari tahu di bagian mana wajahnya tersembunyi.
Hong Do melihat ketebalan kertasnya, ia belum pernah melihat kertas yang begitu tebal, mereka harus mencari tempat kertas itu diproduksi. Yoon Bok teringat kenangan dengan ayahnya. Ia pun berteriak, “daun maple.”
Hong Do bingung apa maksudnya. Yoon Bok menjelaskan bahwa dulu ia pernah diajak ayahnya pergi ke tempat pembuatan kertas yang menggunakan cara yang berbeda. Hong Do bertanya dimana tempat itu. Yoon Bok mencoba mengingat dan berkata bahwa tempatnya di Bimal Gorge. Tiba-tiba Yoon Bok teringat sesuatu, ia pun pamit pada Hong Do dan segera pergi.
Jeong Hyang sedang melihat burung dalam sangkar, Mi Nyeon mendekatinya. Jeong Hyang bercerita bahwa Yoon Bok mengajaknya bertemu secara rahasia. Mi Nyeon bertanya apakah ia senang. Jeong Hyang merasa senang, tapi ia ingin tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Yoon Bok.
Tiba-tiba Jo Nyeon datang dan melihat bahwa mood Jeong Hyang sedang bagus. Jeong Hyang hanya menjawab bahwa setiap hari moodnya selalu sama. Jo Nyeon bertanya kapan ia akan melepaskan burung yang satunya. Jeong Hyang tidak menjawab.
Jeong Hyang mempersiapkan dirinya, kemudian pergi ke sebelah timur jembatan. Yoon Bok sudah menunggunya dengan membawa lentera. Mereka berjalan-jalan sejenak. Kemudian Jeong Hyang bertanya apa yang ingin dikatakankannya. Yoon Bok berhenti dan meminta maaf pada Jeong Hyang.
Yoon Bok: “Aku…. supaya bisa melukis…”
Jeong Hyang: “Lukisanmu benar-benar bagus.”
Yoon Bok: “Aku harus masuk ke Dohwaseo supaya bisa jadi pelukis resmi kerajaan.”
Jeong Hyang: “Kau sudah melakukannya bukan.”
Yoon Bok: “Dan juga….aku hanya bisa melakukan ini untuk mewujudkannya.”
Jeong Hyang: “Apa maksudmu?”
Yoon Bok: “Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf.”
Yoon Bok memegang tangan Jeong Hyang dan meletakkannya ke dadanya. Jeong Hyang akhirnya sadar bahwa Yoon Bok adalah seorang perempuan. Jeong Hyang merasa tidak percaya. Yoon Bok terus meminta maaf.
Yoon Bok: “Sebagai seorang wanita, aku sangat berdosa karena telah menyimpan hatimu dalam hatiku.”
Jeong Hyang: “Kau ingin aku melakukan apa? Setelah ini apa yang akan aku lakukan?”
Jeong Hyang begitu sedih. Yoon Bok terus meminta maaf. Mereka telah sampai di pintu gerbang Chawaseo. Jeong Hyang berkata bahwa ini akhir dari segalanya, mulai besok Yoon Bok bukan lagi pelukis yang dicintainya. Mereka pun berpisah.
Yoon Bok: “Ketika aku menutup mataku, aku masih bisa melihatmu dengan jelas. Aku bisa melihat posturmu. Aku benar-benar minta maaf. Bagiku…kamu adalah orang tercantik.”
Jo Nyeon sedang memeriksa gudang penyimpanan. Salah seorang pegawainya melapor kalau Kim Myung Nyung belum memberikan dokumen pembelian. Jo Nyeon akan menyogoknya dengan lukisan Yoon Bok serta hiburan dari Jeong Hyang.
Hong Do pergi ke pabrik kertas Hanshi di Bimal Gorge. Ia bertemu dengan pengrajin yang sudah tua. Ia memberikan sampel kertas dan bertanya apakah kertas ini dibuat disini. Ia melihat sekeliling . Ada sebuah mesin press yang besar. Hong Do tahu bahwa mesin itu milik Seo Jing. Ia pura-pura bertanya tentang mesin itu. Pengrajin tua itu menjelaskan bahwa mesin itu dibuat oleh Il Wyol Dan (Seo Jing), bahkan ia sering datang bersama putrinya.
Mata-mata yang dikirim Byeok Soo melaporkan hasil pekerjaannya pada Byeok Soo. Byeok Soo bingung kenapa Hong Do pergi ke pabrik kertas, ia pun menyuruh mata-matanya untuk terus mengamatinya.
Yoon Bok keluar dari kamarnya, ia disambut oleh dua pelukis yang lain, mereka melihat  Jeong Hyang. Ia terlihat sangat sedih. Yoon Bok merasa bersalah. Jo Nyeon datang dan menyuruh pelukis yang lain pergi. Ia menyuruh Yoon Bok untuk melaksanakan perintahnya kemarin dengan baik.
Kim Myung Nyung datang ke pesta yang dibuat Jo Nyeon untuknya. Ia duduk ditemani oleh Jeong Hyang. Yoon Bok melukis “Amusing Spring Day”. Myung Nyung terlihat penasaran terhadap apa yang dilukis Yoon Bok.
Jo Nyeon bertanya tentang dokumen pembelian untuk istana, Myung Nyung berkata bahwa ia masih mempertimbangkannya. Ia menambahkan dalam pesta sebaiknya mereka tidak membicarakan bisnis. Jo Nyeon memberi isyarat pada Yoon Bok, ia pun pergi untuk mengambil bubuk pewarna. Myung Nyung terlihat kecewa.
Yoon Bok kembali sambil membawa nampan pewarna. Ia meneruskan lukisannya.  Myung Nyung terlihat senang. Jo Nyeon bertanya apakah grup dagang yang lain yang akan memperoleh dokumen itu. Myung Nyung menjawab bahwa ia belum membuat keputusan. Jo Nyeon memberi isyarat dan Yoon Bok pergi mengambil air, Myung Nyung terlihat kecewa.
Ini taktik yang digunakan Jo Nyeon untuk mengulur waktu. Yoon Bok kembali dan wajah Myung Nyung cerah lagi. Ia bertanya kapan Yoon Bok akan menyelesaikannya. Jo Nyeon berkata bahwa semua ada waktunya, ia berkata bahwa grup dagang Sandang memberikan syarat-syarat untuk memasok barang ke istana. Myung Nyung bertanya apakah ini taktiknya. Ia menyerah, ia akan ke istana dan membuat keputusan tentang dokumen pembelian. Jo Nyeon merasa senang dan memberi tanda pada Yoon Bok. Yoon Bok pun menyelesaikan lukisannya.
Yoon Bok sedang melihat lukisannya di kamarnya, ia melihat gambar Jeong Hyang yang terlihat sedih. Tiba-tiba Jo Nyeon masuk. Ia berterimakasih pada Yoon Bok karena telah melakukan pekerjannya dengan baik dan menyuruhnya beristirahat.

Setelah Jo Nyeon pergi, Yoon Bok berganti pakaian dan pergi menemui Hong Do. Mereka berjalan menuju pabrik kertas. Hong Do berteriak, “apakah ada orang disini?” Pabrik itu sepi, tidak ada orang. Yoon Bok teringat kalau ayahnya pernah membawanya kesini.

sumber: http://www.bengawanseoul.com

4 comments on “Painter Of The Wind – Episode 16

  1. i like u acting???? realy>>> yoon bok>>> u the bas artis?? i like your acting<< and u very<<< pretyyyyy<<<<<<<<<??? q senang banget flim ini????? q mersasa seperti kisah nyta,<<<<<<< q salut dan kagum??? sampai tak bisa ku ungkapkan<<<< sarang hai<<< u flim

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s