The Return Of Iljimae – Episode 14

Setelah pengakuan di episode sebelumnya, ketika Iljimae menjelaskan pada Wol-hee kalau Dal-yi sangat berarti baginya, suasana menjadi tegang diantara mereka. Wol-hee berkata pada Iljimae dengan nada dingin jika mereka bisa membatalkan pernikahan mereka, sebab, “Aku tidak ingin menjadi bayangan bulan. Aku ingin menjadi bulan yang dipandangi oleh seseorang.” Iljimae sangat kaget. Keol-chi, tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka, meminta Iljimae untuk tidak menunda rencana pernikahan.

 

 

Pemanah misterius yang sebelumnya menolong Iljimae kini muncul lagi. Dia tidak menyebutkan siapa namanya tapi dari episode sebelumnya dia menyebut dirinya Yang-po. Dia menuntun polisi ke rumah Wol-hee dan mengatakan pada mereka untuk mencari bukti keberadaan Iljimae disana. Bertindak sesuai perintah, polisi masuk meski Wol-hee protes, dan mencari-cari ke seluruh sudut rumah sampai menemukan alat2 pembuatan metal yang Iljimae gunakan untuk membuat bunga plum emas. Mereka menyita bukti itu dan menyeret Wol-hee ke markas polisi. Ketika Cha-dol melihat Wol-hee ditarik di jalan desa, Wol-hee membisikkan pesan pada Cha-dol untuk disampaikan pada Iljimae.

 

 

Wol-hee dibawa kehadapan Petugas Gu Ja-myung, yang kaget pada kemiripan Wol-hee dengan Dal-yi. Faktanya, petugas lain juga kaget sebab dia tahu bila Dal-yi sudah meninggal. Wol-hee bersikeras kalau dia bukan Dal-yi; dia Wol-hee. Meski begitu, Wol-hee melindungi Iljimae dengan mengatakan kalau dia sama sekali tidak ada hubungan apa2 dengan Iljimae. Akan tetapi, Gu Ja-myung menyadari kalau ini bukan hanya sekedar kebetulan kalau gadis yang mirip sekali dengan Dal-yi berhubungan dengan Iljimae. Gu menyimpulkan kalau Wol-hee adalah kekasih Iljimae dank arena itulah berbohong untuk melindungi Iljimae.

 

 

Ketika Iljimae tiba di rumah, Cha-dol memberitahunya apa yang terjadi dan mengatakan peringatakan Wol-hee untuk kabur. Iljimae mengambil beberapa benda dan kabur dengan Keol-chi, sedangkan Cha-dol menutupi pelarian mereka dengan memberitahukan arah yang berlawanan pada polisi. Sedangkan, Perdana Menteri Kim mendengar berita terbaru, dan berlawanan dengan harapan sebelumnya, dia tidak senang bila Iljimae segera ditangkap. Meski Iljimae senang Iljimae ditangkap dan mengembalikan emasnya yang dicuri, dia menyadari bahaya melibatkan pemerintah – jika Iljimae ditangkap dan mengakui kebenarannya, banyak bangsawan akan mendapat kesulitan karena korupsi.

 

Saat Wol-hee dibawa kehadapan hakim untuk ditanyai lebih lanjut, dia tetap pada pengakuannya kalau dia tidak kenal Iljimae. Ini pernyataan yang tidak meyakinkan dan Wol-hee akan disiksa, tapi Gu menjadi perantara. Dia membuat pernyataan sah sebab mereka tidak punya bukti nyata hubungan Wol-hee dengan Iljimae. Petugas yang lain mengiyakan keraguan urusan Iljimae – semua orang tahu apa yang dia lakukan tapi tidak ada yang punya bukti sebab semua korbannya adalah bangsawan yang menyangkal segalanya sedangkan sifat deramawan Iljimae melindunginya. Untuk itu, mereka harus memprioritaskan untuk menangkap Iljimae.

 

 

Gu bicara dengan Wol-hee secara pribadi, menyebutkan kemungkin Iljimae akan menyelamatkannya. Karena Wol-hee masih waspada pada Gu, maka Gu percaya pada Wol-hee untuk memperoleh kepercayaan Wol-hee: Gu telah berjanji pada ibu Iljimae untuk membuat Iljimae dan ibunya bersatu kembali. Untuk itu, Gu harus menemukan Iljimae terlebih dahulu – sebab kalau orang lain yang bisa menangkap Iljimae terlebih dahulu, Gu tidak akan bisa melakukan apa2.

 

Wol-hee berkata dengan sedih, “Tidak ada alasan baginya untuk tertangkap. Dia sudah kabur.” Seolah-olah dia sudah bisa menerima bila Iljimae meninggalkannya. Gu tidak berpikir demikian, “Iljimae yang aku kenal bukanlah orang yang seperti itu. Dia mungkin akan datang kesini untuk menyelamatkanmu.” Sambil menangis, Wol-hee mengatakan kalau Iljimae tidak akan datang kesini untuk menyelamatkannya sebab dia bukan kekasih Iljimae. Wol-hee berkata, “Aku bukan satu2nya orang dalam hati Iljimae.”

 

 

Iljimae mengintai di sekitar desa untuk mencari informasi, dimana Yang-po sang pemanah menemuinya dan bertanya, “Apa kau mencari informasi tentang Wol-hee?” Iljimae berbicara pada Yang-po dengan campuran rasa frustasi pada ketidakmampuannya melakukan apa2 dan keharusan untuk menemukan cara menyelamatkan Wol-hee. Yang-po tetap tutup mulut soal identitasnya yang sebenarnya, berkata kalau dia hanya membantu. Dia memberitahu Iljimae tentang rencana polisi untuk memindahkan Wol-hee dari penjara ke divisi lain yang menangani kejahatan yang lebih tinggi.

 

Saat Yang-po menyinggung kalau ada ‘orang lain’ yang sedang menunggunya, Iljimae langsung setuju untuk bertemu orang itu, tapi Yang-po merasa kalau Iljimae berkata begitu karena rasa depresinya dan tidak mempercayai kebohongan itu. Yang-po menambahkan, “Ada wanita selain Wol-hee yang juga menangis, sejak dulu.”

 

Iljimae semakin kesal dengan perbincangan tidak jelas ini (Yang-po menyuruh Iljimae untuk menunggu) tapi dia tidak bisa menyangkal kebenaran peringatan Yang-po kalau akan sangat bodoh untuk masuk dan menyelamatkan Wol-hee sendirian. Tanpa menghiraukan peringatan itu, Iljimae membuat keputusannya untuk bertindak. Malam itu, dia mengeluarka penyamarannya dan bersiap-siap untuk mengeluarkan Wol-hee dari penjara. Keputusan itu tidak muncul dengan mudah – Iljimae menangis saat berkata, “Aku akan menyelamatkannya dan mati sendiri.”

 

Gu Ja-myung mengharapkan Iljimae datang untuk menyelamatkan Wol-hee, tapi dua bawahannya menentang hal ini. Soo-ryun khusunya menghentikan Gu – Gu harus menyerahkan penangkapan Iljimae kepada mereka yang berwenang, sebab meski Gu menemukan Iljimae, takdirnya sudah ditutup. Soo-ryun mengatakan pada Gu, “Yang bisa anda lakukan sekarang adalah menunggu.” Ketika Wol-hee diarak dalam kurungannya, Bae dan Cha-dol juga muncul, bertanya-tanya apakah Iljimae akan muncul. Mereka tahu kalau Iljimae punya hubungan dengan Wol-hee tapi tidak tahu seberapa dalam hubungan itu. Bae berkata, “Kita akan tahu seberapa dalam hubungan mereka ketika kita melihat Iljimae datang atau tidak.”

 

Iljimae benar-benar muncul dan menggunakan shuriken-nya untuk menyerang tentara di garis depan dan menakuti sisanya. Wol-hee mendengar suara Iljimae dari bawah penutup kepalanya, yang kemudian dipindahkan ketika Iljimae membuka kurungan itu dan membebaskannya. Iljimae berkata, “Sekarang sudah tidak apa-apa.” Iljimae menuntun Wol-hee ke seekor kuda dan benar2 melakukan hal yang manis ketika Iljimae mengatakan pada Wol-hee kalau dia memutuskan untuk mengejar bulan yang masih hidup ketimbang bayangan bulan, mengulangi perkataan Wol-hee sebelumnya.

 

 

Iljimae meminta Wol-hee untuk segera ke gua dimana Keol-chi menunggu dan membuat kuda itu menderap menjauh. Iljimae lalu beralih ke sisa tentara yang ada dan dengan gaya khasnya dia menjatuhkan mereka untuk dapat dengan mudah melarikan diri. Tapi sesuatu yang aneh terjadi kali ini. Setelah mendengar suara drum, Iljimae tersandung. Kelihatannya suara drum itu membuat Iljimae sakit. Suara itu membuatnya mengingat kenangan akan Dal-yi.

 

 

Penjaga yang terlukan menyadari kalau Iljimae sedang lemah dan berkumpul untuk menangkapnya ketika Iljimae jatuh. Mereka akan menangkapnya ketika Yang-po muncul, memanahkan anak panahnya ke panjaga yang paling dekat. Dia mengangkap Iljimae yang tidak sadar ke pundaknya dan memperingatkan petugas kalau mereka mengikuti, mereka akan menemui takdir yang bahkan lebih buruk. Ketika Iljimae sadar, dia menjelaskan apa yang terjadi setelah mendengar bunyi drum, dan bagaimana kilas balik akan eksekusi Dal-yi menyedot tenaganya. Yang-po telah melihat ini terjadi di medan perang, dimana ingatan yang menyakitkan bisa memberikan efek fisik pada seseorang setelah bertahun-tahun.

 

 

Iljimae sudah dua kali ditolong oleh Yang-po tapi dia masih tetap curiga. Kecurigaan Iljimae bertambah waktu mendengar Yang-po bergumam, “Negara ini mungkin akan segera dipenuhi oleh orang seperti itu.” Iljimae bertanya dengan kaget, “Apa kau berkata kita akan segera berperang?” Yang-po sadar dia mungkin sudah berkata terlalu banyak dan mulai pergi. Iljimae menghentikannya dengan marah sebab dia sudah lelah penasaran seperti ini dan menginginkan jawaban nyata. Tapi Yang-po sama sekali tidak peduli pada ancaman Iljimae dan hanya berkata, “Meski kau tidak berusaha mencari tahu, kau akan tahu pada saatnya nanti.”

 

 

Baek-mae akhirnya tiba di kota dan bersiap-siap untuk masuk ke gerbang. Dia melihat seorang pria muda diinterogasi oleh pihak berwenang dan mendengar dari wanita terdekat kegiatan terbaru Iljimae – seperti mengeluarkan kekasihnya dari penjara – telah membuat petugas pemerintah waspada tinggi. Untuk itulah waktu Baek-mae berjalan ke pasar, dia melihat Iljimae lewat, dan memberikannya peringatan ramah agar dia mengambil jalan yang lain – semua pemuda dicurigai dan dia harus berbuat yang terbaik agar tidak diperiksa. Baek-mae sama sekali tidak tahu kalau pemuda yang ada dihadapannya adalah putra kandungnya sendiri.

 

 

Baik Wol-hee dan Keol-shi benar2 merana sebab telah menunggu Iljimae semalaman dengan gelisah untuk bergabung dengan mereka. Wol-hee ingin mendapatkan lebih banyak informasi tapi Keol-chi menolak untuk membiarkannya pergi – terlalu berbahaya baginya untuk muncul. Keol-chi menawarkan diri untuk keluar, tapi detik berikutnya, Iljimae tiba. Wol-hee bergegas ke arah  Iljimae dan memeluknya, menangis saat dia meminta maaf kalau semua ini adalah salahnya. Iljimae memandang Wol-hee untuk beberapa saat lalu menciumnya dengan hangat.

 

 

Sekarang semuanya sudah selamat, Iljimae dan Wol-hee menikmati waktu bersantai bersama, dan Wol-hee memberitahukan Iljimae tentang pertemuannya dengan Gu Ja-myung. Mendengar ibunya disebut tidak membuat Iljimae kaget. Dia tahuu ibunya tinggal di suatu tempat tapi sekarang sudah tidak lagi. Mendengar kalau mengatakan Baek-mae sedang dalam perjalanan kemari, Iljimae baru tertarik perhatiannya. Dengan segera, dia ingin keluar untuk bicara dengan Gu, mengabaikan permohonan Wol-hee dan Keol-chi agar dia tinggal disini, sebab dia sedang menuju bahaya. Tapi Iljimae tidak bisa diam; tahu ibunya sedang berada dalam jarak yang dekat, dia harus tahu lebih banyak lagi.

 

 

Ketika Baek-mae tiba di markas polisi, dia kembali lagi sebab Gu sedang pergi keluar dan sangat kaget waktu mendengar dari salah satu petugas kalau Gu keluar untuk menangkap Iljimae. Gu dan Soo-ryun tiba saat Baek-mae akan pergi, tapi kegembiraan Gu melihat Baek-mae dibayangi sebab Baek-mae melihat ke tempat orang yang dibawa Gu dan Soo-ryun. Baek-mae melewati Gu dan bertanya pada pria itu, “Apa kau Iljimae?”

 

 

Baek-mae bertanya-tanya seperti apa Iljimae sekarang. Dia mungkin sudah menebak, sebab dia tidak terlalu kaget pada jawaban Gu bahwa karena Iljimae sekarang seorang penjahat, penangkapannya bisa mengarah ke kematian. Baek-mae menyelesaikan pikiran itu, “Dan menangkap Iljimae adalah tugasmu.” Akan tetapi, Gu masih memegang janjinya untuk menyatukan mereka berdua. Baek-mae bertanya dengan pahit, “Jika dia tidak bisa hidup, apa artinya bertemu dengannya?” Tapi Gu menjamin kalau dia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa Iljimae dan meminta Baek-mae untuk mempercayainya.

 

Soo-ryun mengajak Baek-mae ke rumah Gu untuk beristirahat dan memberitahu Baek-mae bagaimana Gu sudah mempersiapkan segalanya untuk menunggu kedatangannya. Soo-ryun berkata, “Ini untuk pertama kalinya aku melihat dia begitu bahagia.” Baek-mae memikirkan kata2 Gu dan bertanya apa maksud Gu tentang akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa Iljimae. Baek-mae mengatakan kekhawtirannya, “Jika satu hidup, maka yang lain harus mati, apa begitu?”

 

Soo-ryun mengatakan iya, tahu karakter Gu, mungkin itu yang dia maksud. Akan tetapi, Soo-ryun memperingatkan Baek-mae kalau sesuatu terjadi pada Gu maka dia tidak akan memaafkan Iljimae. Sambil menjelaskan, Soo-ryun menghubungkan cerita tentang hidupnya sendiri: dia belajar seni bela diri dari ayahnya bersama dengan kakaknya, yang dibunuh tanpa tahu kesalahannya apa. Tidak hanya itu, sang pembunuh malah lulus ujian negara dan diangkat menjadi pegawai negeri yang dihormati.

 

 

“Tapi aku membunuhnya!” Soo-ryun menjelaskan. Gu maju dan membelanya sebagai korban dari ketidakadilan dan dengan begitu menyelamatkan nyawanya. Dia telah melayani Gu sejak saat itu. Untuk itu, Soo-ryun berkata, “ Jika sesuatu terjadi pada Gu, aku tidak akan memaafkan Iljimae!” Baek-mae mengerti dan bertanya pada Soo-ryun putranya mirip siapa. Soo-ryun menjawab, “Dia mirip dengan ibunya.” Selagi Baek-mae menunggu, dia melihat-lihat dan memutuskan untuk menyiapkan makan malam. Demikianlah, ketika Gu memeriksa kembali markas, Soo-ryun memberitahunya kalau Baek-mae sedang menunggu di rumah dan membuatkannya makan malam – dan kalimat sederhana ini membuat Gu begitu girang. Gu berujar, “Apa kau bilang makan malam? Un-untukku? Makan malam?”

 

 

Reaksi Soo-ryun cukup lucu sebab dia bergumam setangah hati, “Ya.” Gu segera pulang ke rumah dan tiba dengan harapan membuncah, tapi ketika dia melihat kalau tidak ada sepatu di luar, dia mulai kecewa. Dia melihat ke seluruh rumahnya dan sama sekali tidak ada aktivitas apapun. Dan ketika dia melihat makan malam sudah tersaji, dia terpukul – Baek-mae telah pergi. Gu berlari untuk menemukan Baek-mae, untuk sekali saja bersikap tidak setenang biasanya dan meneriakkan nama Baek-mae. Setelah mencari dengan tidak sukses, dia harus mengakui kekalahannya.

 

 

Sedangkan, Wang Hweng-bo dan mantan bos gang Bongsuni sudah kembali. Berita bagusnya, karena Iljimae menciptakan banyak keributan, tidak ada yang peduli pada mereka lagi. Wang sendiri lelah berada di dalam ruangan dan bos Bongsuni berpikir sudah waktunya membuat gang baru. Mereka kekurangan anggota tapi ada satu tempat yang menyediakan banyak anggota bagi mereka: penjara. Sekarang penjara sedang penuh dengan pencuri yang ditangkap saat penyerangan terakhir, yang ternasuk di dalamnya Sung-kae.

 

 

Dan malam itu, Iljimae terlihat lagi. Petugas membunyikan alarm karena bandit berbaju dan bertopeng hitam muncul lagi dan mereka menyiapkan penyerangan. Hanya saja, orang ini terlihat sedikit berbeda…

sumber: meylaniaryanti.wordpress.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s