Dae Jang Geum – Episode 18

Saat sampai disana, rupanya pria eksentrik itu sedang mencoba pengobatan baru lewat sengatan lebah. Jang-geum dengan semangat meminta dirinya dijadikan kelinci percobaan namun ditolak, obrolan keduanya terdengar oleh Jeong-ho yang juga ada disana.

Bersimpati dengan penderitaan gadis itu, saat menemani berjalan pulang Jeong-ho menceritakan tentang legenda seorang tuli yang malah mampu menciptakan musik terindah. Saat kembali ke istana, Jang-geum kembali dipinjamkan buku pengobatan, gadis itu menerimanya sambil tersipu-sipu. Ia tidak sadar bahwa setiap buku yang dibacanya dimata-matai oleh Yong-ro untuk kemudian dilaporkan ke Geum-young.

Namun, Geum-young mengetahui soal Dayang Han yang berusaha mempertajam perasaan Jang-geum dalam meramu makanan. Penuturan Yong-ro bahwa Jang-geum tidak boleh mencicipi makanan yang diberikan membuat Dayang Choi, yang telah menanyakan pada dokter istana, curiga kalau indra perasa Jang-geum belum pulih sepenuhnya. Obrolan dengan Yeon-seng yang polos membuat kecurigaannya semakin terbukti.

Menjelang kontes berikutnya, para dayang ditugaskan untuk meramu masakan hasil kreasi sendiri. Geum-young memanfaatkan pengetahuan yang didapat rivalnya dengan menggunakan kubis, namun Jang-geu tetap selangkah lebih maju dengan nasi bambu. Begitu mencoba, wajah Dayang Choi langsung berubah. Namun, siasat berikutnya membuat Jang-geum mati kutu ketika ia salah menafsirkan rasa makanan Yong-ro.

Saat diuji di depan Dayang Jung, rahasia yang berusaha ditutupinya terbongkar. Namun, ia masih mendapat satu kesempatan lagi berkat ‘peluang’ yang diberikan Dayang Choi meski dengan syarat kalau gagal, baik dirinya dan Dayang Han harus dihukum berat. Kini, satu-satunya harapan baginya adalah pengobatan lewat sengatan lebah.

Meski begitu, indra perasa Jang-geum tidak serta-merta langsung sembuh. Bahkan, sang ayah angkat Duk-gu menyuruhnya mencicipi limpa binatang. Masalah bertambah ketika ia diminta Dayang Choi menyiapkan masakan dengan bahan utama daging ikan paus.

sumber: http://www.indosiar.com

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s