Jumong – Episode 04

Geum Wa: Berikan Pedang! Cepat berikan pedang.

Geum Wa mengacungkan pedang ke arah Jumong. “Beraninya seorang pangeran bermain dengan pelayan dari Divisi Ramalan?! Aku akan memancung kepalamu!”

Jumong: Aku tahu aku salah. Maafkan aku, Ayah!

Geum Wa menjatuhkan pedangnya dan berkata dengan nada kecewa, “Jumong, apa kau tidak kasihan pada ibumu?”

Tiba-tiba Yoo Hwa datang dan berlutut di samping Jumong: Jangan biarkan kami membuatmu malu, Yang Mulia. Izinkan kami untuk meninggalkan istana. Sikap anak ini tidak pantas untuk seorang pangeran. Sebagai ibunya, aku malu menghadapi Yang Mulia. Tolong kirim kami keluar dari istana.

Geum Wa: Cukup. Sebagai hukuman karena tidak hadir dalam upacara, Jumong akan diberi 20 pukulan.

Jumong terkejut. Dae So maju dan bicara. “Yang Mulia, 20 pukulan akan membuat dia tidak bisa berdiri berhari-hari. Jumong harus pergi denganku untuk melihat Busur Da Mul. Tolong berikan hukuman itu lain waktu.

Geum Wa setuju. Jumong berterima kasih pada Dae So dan Young Po sangat kesal.

Perdana Menteri dan Yeo Mi Eul melihat kejadian itu. “Apa kau masih curiga bahwa ia adalah anak Hae Mo Su?” tanya Yeo Mi Eul.

Perdana Menteri menjawab, “Kalau memang dia adalah anak Hae Mo Su, tidak mungkin ia menjadi sangat tidak berguna seperti itu. Mungkin kecurigaanku salah.”<

Young Po protes pada Dae So. “Kenapa kakak menolongnya?”

Dae So: Jika dia diberi 20 pukulan, dia tidak akan bisa berjalan. Jika ia meninggalkan istana, dia tidak akan bisa kembali.

Permaisuri: Apa maksudmu?

Dae So: Kita harus membawa Jumong keluar agar lepas dari perlindungan Yang Mulia. Jika ia pergi, ia tidak akan pernah kembali.

Jumong bertanya pada ibunya: Apa yang terjadi pada Bu Young?

Yoo Hwa: Dia diberi 10 pukulan dan dikeluarkan dari istana.

Jumong sangat terkejut dan merasa bersalah. “Apa dia bisa bertahan?”

Yoo Hwa: Sekarang kau tahu

onsekwensi dari tindakanmu. Besok kau harus melakukan perjalanan untuk melihat Busur Da Mul. Pergilah tidur.

Jumong: Apa itu Busur Da Mul? Kenapa aku harus menempuh perjalanan jauh untuk sebuah panah bodoh?

Yoo Hwa: Busur Da Mul adalah senjata keramat yang digunakan oleh leluhur BuYeo untuk mendirikan negara ini. Pangeran BuYeo harus melihat Busur Da Mul dan menerima energinya. Jika kau tahu kesalahanmu, pergi ke Busur Da Mul dan perbarui lagi hatimu.

Jumong diam. Yoo Hwa berkata agak keras, “Kenapa kau diam? Apa kau takut meninggalkan istana?”

Jumong: Tidak. Tunggu dan lihat saja. Aku tidak akan mengecewakan ibu dan ayah.

Jumong, Dae So dan Young Po bersiap-siap melakukan perjalanan. Mereka dilarang mengungkap identitas asli mereka sebagai pangeran.

Dalam perjalanan, mereka bergiliran memimpin dan menunjukkan jalan. Dae So memimpin, Young Po dan kemudian Jumong. Di tengah hutan, Jumong kesulitan menemukan arah jalan yang benar. Ia berjalan di depan.

Dae So: Apa kau kesulitan menemukan arah?

Jumong: Tidak. Ikuti saja aku. (Jumong berbohong)

Dae So dan Young Po berbalik dan meninggalkan Jumong yang ada di depan. Jumong berjalan beberapa saat. Ketika ia menoleh, kedua kakaknya ternyata sudah tidak ada. Jumong hendak berbalik, namun tiba-tiba ia terjatuh dari kudanya ke kubangan lumpur hisap.

Jumong terhisap ke dalam lumpur itu. “Tolong! Tolong! Ibu!” teriak Jumong. Namun tidak ada yang mendengarnya. Tiba-tiba dua orang datang dan menyelamatkan Jumong. Orang itu tidak lain adalah So Seo No dan Oo Tae, anak buahnya.

Jumong dibawa ke perkemahan pedagang GyehRu. Bukannya berterima kasih, Jumong malah bertingkah sok kuasa ala pangeran. Jumong diikat dan terpaksa ikut rombongan itu untuk berdagang. Jumong meminta dirinya dilepaskan.

So Seo No: Apa yang bisa kau beri untuk membalas budi?

Jumong: Aku tidak punya apapun saat ini .

Se Seo No: Kalau begitu, aku akan menggunakan tubuhmu sebagai bayarannya. Aku berniat menjualmu sebagai budak.

Jumong: Jangan jual aku. Aku lebih baik menjadi pelayanmu.

So Seo No: Akan kupikirkan.

Rombongan pedagang itu menjual pedang pada prajurit Heng In. Pedang yang dijual adalah pedang baja, yang bisa mematahkan pedang besi milik prajurit Heng In. Prajurit Heng In bertanya harga pedang itu, namun So Seo No memberikan harga yang kelewat mahal. Pemimpin prajurit itu memerintahkan anak buahnya untuk menyerang So Seo No dan rombongannya, namun pihak Heng In mengalami kekalahan. So Seok No meminta Oo Tae untuk membunuh pemimpin itu, namun Oo Tae menolak. “Kurasa lebih baik kau melepas mereka.”

So Seo No: Kehormatan lebih penting daripada nyawa. Bunuh mereka. Ini perintah!

Oo Tae: Jika kau mau membunuh mereka, bunuh dengan tanganmu sendiri.

So Seo No: Aku tidak akan menjual barang pada Heng In lagi. Pedang ini akan kami jual ke musuh Heng In, Ok Jo. Pergi!

So Seo No menyuruh Jumong bertarung dengan salah satu anak buahnya. Kalau Jumong menang, ia akan dilepaskan. Jumong bertarung sebisanya. Oo Tae memperhatikan tangan Jumong, yang menurut pandangannya sangat kuat. Sekali tonjok, lawan Jumong langsung pingsan. Walaupun babak belur, Jumong berhasil menang. Ia diantarkan oleh rombongan GyehRu ke Gunung Shijo. Sebelum pergi, Jumong berkata pada So Seo No, “Karena kau mau menyebutkan namamu, maka aku akan memberi tahu namaku. Namaku Jumong. Aku harus menyembunyikan identitasku karena suatu alasan, tapi aku adalah pangeran BuYeo. Ingat aku. Aku menyukaimu. Jika kau singgah di BuYeo, cari aku.”

Dae So dan Young Po sempat kesulitan untuk menemukan jalan ke goa tempat Busur Da Mul berada, tapi akhirnya mereka bisa menemukannya. Mereka melihat Busur Da Mul dan berusaha untuk memasang tali busurnya. Namun busur itu terlalu kuat dan mereka gagal. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke BuYeo.

Jumong berjalan menuju goa dan beristirahat sejenak. Ia mendengar kedua kakaknya bicara. Jumong mencuri dengar.

Young Po: Apa kita akan dihukum karena tidak melindungi Jumong?

Dae So: Kita tidak membunuhnya. Dialah yang membahayakan hidup kita. Sudahlah, jangan membicarakan orang yang sudah mati.

Young Po: Jika kita kembali nanti, kita bisa beristirahat dengan tenang. Aku ingin melihat wajah Lady Yoo Hwa ketika kita menceritakan kematian anaknya.

Jumong mendengar percakapan mereka dan menjadi shock. Ia menangis, tidak menyangka kalau kedua kakaknya menginginkan kematiannya.

Jumong meneruskan perjalanan ke Busur Da Mul.

Dengan beberapa kesulitan yang menghadang, Jumong akhirnya berhasil mencapai Busur Da Mul. Ia mengambil panah itu dan mencoba memasang tali busurnya. Jumong berhasil memasang tali busur itu dengan sangat mudah. Jumong mencoba untuk meregangkan busur, namun tiba-tiba busur itu patah.

Dae So dan Young Po sudah kembali ke istana. Mereka memberi tahu Geum Wa dan yang lainnya bahwa Jumong sudah mati. Mereka sudah mencari-cari Jumong kemana-mana, namun tidak ketemu. Yoo Hwa tidak percaya Jumong sudah meninggal. Geum Wa memerintahkan Jenderal Perang, Heuk Chi, untuk memimpin pasukan mencari Jumong. Jika Geum Wa tidak melihat sendiri mayat Jumong, ia tidak akan percaya Jumong sudah mati.

Dae So, Young Po dan beberapa pasukan berangkat dari istana BuYeo untuk mencari Jumong. Belum sempat mereka melewati gerbang utama, mereka melihat Jumong berjalan pelan. Dae So dan Young Po terkejut sekaligus kesal. Yoo Hwa segera berlari menyambut anaknya.

Yoo Hwa: Apa kau pergi ke Gunung Shijo dan melihat Busur Da Mul?

Jumong: Ya

Jumong dan Yoo Hwa dipanggil untuk menghadiri jamuan makan malam untuk ketiga pangeran yang sudah kembali. Ketiga pangeran berdiri di depan Geum Wa.

Geum Wa bertanya pada Dae So, “Apa kau melihat Busur Da Mul?”

Dae So: Iya.

Geum Wa: Apa kau hanya melihat saja? Dari sifatmu, kau pasti mencoba untuk memasang tali busurnya. Apa kau memasang tali busur itu?

Dae So: Ya. (Dae So berbohong)

Geum Wa: Bagaimana rasanya?

Dae So: Dalam hidupku aku tidak pernah melihat busur yang sekuat itu. Busur itu adalah legenda.

Geum Wa berkata, “Bagus.” lalu menuang air minum untuk Dae So. Geum Wa berpaling pada Young Po. “Bagaimana denganmu?

Young Po: Kak Dae So bisa memasang tali busur dengan mudah. Aku hampir bisa memasangnya. Aku tidak bisa sekuat kak Dae So.

Geum Wa: Jumong, bagaimana denganmu?

Jumong ragu sejenak. ia teringat saat dirinya mematahkan Busur Da Mul. Jumong kemudian bersujud dan berbohong, “Maafkan aku ayah. Aku tersesat di hutan. Aku merasa takut dan kembali ke istana tanpa mencapai Gunung Shijo.”

Geum Wa merasa kecewa.

Yoo Hwa bertanya marah pada Jumong: Kenapa kau berbohong padaku?

Jumong: Aku tidak berbohong padamu, ibu. Aku melihat Busur Da Mul. Aku bisa memasang tali busur dengan mudah. Tapi ketika aku meregangkan busurnya, busur itu patah.

Yoo hwa terkejut: Busur keramat… patah?

Jumong: Aku sangat takut karenanya. Terlebih aku takut pada kedua kakakku. Aku tidak tersesat, tapi kakak-lah yang meninggalkan aku agar mati.

Jumong meneteskan air mata. “Mematahkan Busur Keramat adalah kejahatan besar. Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu di depan kedua kakak yang menginginkan aku mati? Ibu, apa yang harus aku lakukan?”

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s