Jumong – Episode 10

Perdana Menteri: Kita tidak boleh membiarkan orang lain tahu bahwa Pangeran Dae So lah yang menyerang penjara. Apa yang harus kita katakan pada Yang Mulia?

Yeo Mi Eul berpikir sejenak. “Aku yang akan bicara pada Yang Mulia.” katanya.

Yoo Hwa menjenguk Dae So. Wan Hoo membiarkannya masuk.

Yoo Hwa: Maaf aku menjenguk agak terlambat

Wan Hoo: Apa kau tahu kabar Jumong?

Yoo Hwa: Walaupun Jumong sudah diusir dari istana, bagaimana aku sebagai ibunya tidak khawatir? Tapi, untuk menebus kesalahanku karena membesarkan anak dengan buruk, aku menahannya.

Wan Hoo berkata dengan sinis. “Yang Mulia tidak akan berlama-lama membiarkan dia di luar. Yang Mulia akan memanggilnya ke istana. Jangan terlalu khawatir.”

Yeo Mi Eul dan Perdana Menteri datang menemui Geum Wa. Yeo Mi Eul mengatakan bahwa penjara rahasia di gua itu adalah miliki Divisi Ramalan dari generasi ke generasi.

Geum Wa: Kenapa Divisi Ramalan mendirikan penjara semacam itu? Semua penjahat bisa diatasi oleh pihak berwajib BuYeo.

Yeo Mi Eul: Ada orang yang kejahatannya tidak bisa diadili secara hukum. Penjara rahasia bukan untuk penjahat biasa. Tempat itu adalah untuk orang yang akan menyebabkan malapetaka bagi BuYeo. Kami melakukan itu untuk BuYeo.

Geum Wa: Siapa yang dipenjarakan di sana?

Yeo Mi Eul: Aku tidak tahu. Tapi, ada seseorang yang dikenal Yang Mulia. Dia adalah Jenderal Hae Mo Su.

Geum Wo terkejut. “Apa katamu?”

Yeo Mi Eul: Dia adalah Jenderal Hae Mo Su.

Geum Wa bnagkit dari duduknya. “Hae Mo Su? Hae Mo Su… masih hidup?” tanyanya.”Kau tahu aku bersedia menukar hidupku untuk sahabatku, Hae Mo Su. Walaupun kau bilang ini adalah demi aku dan BuYeo, tapi bagaimana kau bisa melakukan hal sekeji ini!”

Yeo Mi Eul: Tidak. Aku tidak bisa mengingkari keinginan Langit.

Geum Wa: Apa yang terjadi pada Hae Mo Su? Apa dia tewas bersama tahanan lain?

Yeo Mi Eul: Kami tidak menemukan mayatnya. Ia pasti telah melarikan diri.

Geum Wa: Aku harus bertemu dengannya. Temukan dia!

Geum Wa memanggil Yoo Hwa ke ruangannya. Ia bertanya apakah Yoo Hwa bahagia bersamanya. Ia berkata, apabila dulu kemalangan tidak menimpa Hae Mo Su, Yoo Hwa pasti masih bersama Hae Mo Su dan hidup bahagia.

Yoo Hwa berkata bahwa sosok Hae Mo Su masih berukir jelas di hatinya seakan Hae Mo Su masih hidup. Geum Wa tersenyum. “Kau bukan satu-satunya orang yang merasa begitu. Kehadiran Hae Mo Su di hatiku, Hae Mo Su akan selalu sama.”

Jumong pamit pada Hae Mo Su untuk pergi ke kota mencari pedang agar mereka bisa melindungi diri. Hae Mo Su bertanya, “Apa ayah yang menngusirmu dari istana tahu kalau hidupmu dalam bahaya? Bagaimana seorang ayah membiarkan putra-putranya saling membunuh? Lebih baik aku meminta bantuannya.”

Jumong hanya bisa terdiam.

Jumong pergi ke kota. Di sana, ia bersembunyi ketika melihat Young Po dan beberapa prajurit mencari-carinya. Ia berjalan cepat menghindari mereka, namun bertemu dengan tiga orang yang ingin menangkapnya. Jumong bisa mengatasi mereka.

Gye Pil masih melakukan pendekatan pada Mo Pal Mo. Gye Pil membawakan Mo Pal Po satu guci arak yang sangat enak. Jelas saja itu membuat hati Mo Pal Mo melembek.

Mo Pal Mo berjalan pulang. Jumong menemuinya.

Mo Pal Po: Aku dengar Pangeran diusir dari istana dan aku tidak bisa menghubungimu. Aku sangat frustasi!

Jumong: Kesalahanku di bengkel membuat kau dan para pekerjamu mendapat kesulitan. Bagaimana aku bisa menemuimu? Maafkan aku.

Mo Pal Po: Kau tidak melakukannya dengan sengaja Pangeran. Aku sangat khawatir. Aku bersyukur kau baik-baik saja.

Jumong: Terima kasih, Ketua.

Mo Pal Mo: Apa yang harus kita lakukan? Yang Mulia memberikan izin pada Pangeran Dae So dan Pangeran Young Po untuk masuk ke bengkel dan mengurus urusan negara. Mereka mendapat kepercayaan, tapi Pangeran Jumong….

Jumong: Akan datang waktu kapan aku mendapatkan kepercayaan Yang Mulia. Jangan mengkhawatirkan aku. Ketua, aku tahu aku tidak pantas memintanya, namun aku butuh bantuanmu.

Mo Pal Mo: Apapun, Pangeran.

Jumong: Tolong beri aku beberapa pedang. Aku sungguh membutuhkannya. Kumohon, Ketua.

Young Po mengatakan pada Dae So bahwa ia telah menceritakan segalanya pada Perdana Menteri dan Yeo Mi Eul. Dae So marah padanya dan bergegas menemui mereka.

Perdana Menteri: Kami tidak mengatakannya pada Yang Mulia. Jangan khawatir.

Yeo Mi Eul: Kami tidak melakukannya untukmu. Kami hanya tidak ingin ada mencegah keributan di istana. Tolong jangan melakukan tindakan bodoh lagi.

Dae So: Di penjara rahasia, ada seorang tahanan yang menolong Jumong. Mereka terlihat sangat dekat. Apa kau tahu siapa dia?

Yeo Mi Eul dan Perdana Menteri hanya bisa terdiam.

Young Po: Walaupun pria itu buta, kemampuan bela dirinya jauh lebih tinggi dibandingkan prajurit manapun. Jika bukan karena dia, Jumong pasti sudah…

Dae So memelototi Young Po agar menjaga ucapannya. “Apa kalian tahu siapa dia?

Yeo Mi Eul berbohong. “Kami tidak tahu.”

Bu Young datang lagi malam hari untuk memeriksa Hae Mo Su. Hae Mo Su memintanya mencarikan bambu dan pena untuk menulis surat.

Mu Song berjudi. Ia menang, tapi pihak yang kalah menyuruh anak buahnya untuk menghajar Mu Song. Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo datang mencari Mu Song dan menolongnya. Mereka membawa Mu Song menemui Jumong.

Mu Song: Aku tidak tahu apa yang terjadi di penjara itu. Apa kau tahu?

Jumong: Aku tidak yakin.

Jumong dan yang lainnya segera pergi dari kota. Ia menunggu Mo Pal Mo datang untuk memberikan dua buah pedang. “Terima kasih, Ketua. Saat aku kembali ke istana, aku akan memberikan berember-ember arak.”

Hae Mo Su meminta Jumong untuk mengirimkan surat yang ditulisnya ke Geum Wa. “Kita harus berusaha mengubah takdirmu yang gelap.”

So Seo No masih terus memikirkan Jumong. “Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.”

Sayong: Orang yang bernama Jumong? Yang mengaku sebagai Pangeran?

So Seo No: Ya. Aku berpikir mungkin saja ia berkata jujur. Tolong cari tahu apakah ia benar-benar Pangeran. Mungkin saja ini akan menguntungkan kita.

Sayong tersenyum, menatap So Seo No dengan pandangan curiga. “Atau Mungkin… kau punya perasaan khusus untuknya?”

So Seo No menjawab kesal. “Pada si bodoh itu?” Lalu berjalan meninggalkan Sayong.

Yeon Ta Bal berkata pada So Seo No bahwa Dae So sakit. Ia meminta So Seo No menjenguk Dae So. Tapi So Seo No menjawab, “Kenapa aku harus menjenguknya? Dia memang seorang Pangeran, tapi dia sangat sombong.”

Yeon Ta Bal: Kau pikir aku menyukainya? Tapi bukankah lebih baik kalau kita membina hubungan dekat dengan BuYeo agar klan GyehRu kita bisa bertahan hidup? Tidak penting apakah kau menyukainya atau tidak. Jangan terbawa oleh perasaanmu.

So Seo No memutuskan untuk menjenguk Dae So bersama Oo Tae, Sayong dan Hye Pil. Ia masuk bersama Sayong ke kamar Dae So. Dae So sangat senang melihat kedatangannya.

So Seo No: Apakah Pangeran sudah lebih baik?

Dae So: Aku sudah lebih baik.

So Seo No: Aku membawa sedikit rempah-rempah untuk memulihkan kesehatanmu. Kuharap Pangeran segera pulih.

Dae So: Terima kasih. Karena kau datang menjengukku, aku pasti akan cepat pulih.

Tiba-tiba Permaisuri Wan Hoo datang. So Seo No berkenalan dengan Wan Hoo kemudian pamit untuk pulang.

Wan Hoo menatap kepergian So Seo No. “Apakah dia? Dia gadis yang kau sukai?”

Dae So: Aku juga belum tahu, Ibu.

Wan Hoo: Kau menolak putri Jenderal Heuk Chi dan melihat sinar di wajahmu, kau pasti sangat menyukainya.

Oo Tae menyelidiki apakah Jumong memang benar-benar Pangeran. “Kelihatannya dia tidak berbohong.” katanya pada So Seo No. “Jumong… adalah putra ketiga Raja Geum Wa. Dia diusir dari istana karena melakukan kesalahan. Dan saat kita bertemu dia di perjalanan menuju Heng In, ia sedang melakukan jiarah kerajaan.”

So Seo No sangat terkejut, tapi menganggap hal ini sangat menarik.

Jumong memanggil Mu Duk dan memberikan surat dari Hae Mo Su padanya. “Berikan ini pada Yang Mulia. Tapi jangan sampai ada yang tahu bahwa surat ini kau yang mengantarkannya. Juga jangan sampai ada yang tahu bahwa surat ini dariku.”

Seorang pengawal membawakan laporan dari Yeon Ta Bal untuk Geom Wa. Geum Wa membaca salah satu laporan. Ia lalu memerintahkan Jenderal untuk mencari tahu apa yang dijanjikan Yang Jung pada klan Heng In dan mengadakan perjanjian yang lebih baik dengan mereka.

Geum Wa membaca laporan yang lain. Begitu membacanya, Geum Wa menjadi terkejut.

Perdana Menteri: Ada apa, Yang Mulia?

Geum Wa: Siapa yang mengirim surat ini?

Pengawal: Yang mengirim semua laporan ini adalah Yeon Ta Bal.

Perdana Menteri menyadari ada sesuatu yang terjadi.

Geum Wa membaca surat itu di kamarnya.

“Aku dikurung dalam sebuah penjara, dimana satu tetes air hujan pun tidak bisa masuk. Tapi setelah bertahun-tahun terkurung, aku sadar bahwa ini adalah takdir dari langit. Aku tidak menyalahkanmu walaupun mungkin kau tahu tentang keberadaanku. Aku harus bertemu denganmu. Jika ada orang yang menghalangi pertemuan kita, hindari mereka. Saat bulan purnama, datanglah ke tempat dimana dulu kita sering bertemu, di Gunung Su Mi.”

Geum Wa berpikir, kemudian keluar dari kamarnya. Seorang pengawal masuk dan dengan diam-diam mengambil surat itu dan menyerahkannya pada Perdana Menteri. Perdana Menteri membaca surat itu.

Hae Mo Su mengajak Jumong pergi ke suatu tempat. Hae Mo Su bilang, ia ingin menemui seseorang dan ingin Jumong mengantarnya. Di lain pihak, Geum Wa juga akan pergi. Perdana Menteri pergi lebih awal dari Geum Wa.

Jumong: Kita akan menemui siapa, Guru?

Hae Mo Su: Kita akan menemui Geum Wa. Geum Wa dan aku adalah teman seperjuangan dalam memimpin Pasukan Da Mul. Aku harus bicara dengannya dan menyelamatkanmu dari pintu kematian. Aku juga harus bertanya kenapa ia mengurungku dalam penjara itu selama bertahun-tahun.

Jumong: Apa kau pikir Yang Mulia yang mengurungmu? Itu tidak mungkin. Kalian adalah teman.

Hae Mo Su tidak menjawab dan berjalan lagi.

Di perjalanan, Hae Mo Su dan Jumong di serang oleh beberapa prajurit suruhan Perdana Menteri. Mereka berdua melawan para prajurit itu. Walaupun tidak banyak mengalami kesulitan untuk melawan para prajurit itu, namun membuat mereka menghabiskan banyak waktu. Hae Mok Su dan Jumong berlari pergi.

Hae Mo Su berpikir dalam hati. “Geum Wa… Apakah kau yang mengurungku begitu lama?”

Jumong menatap gurunya itu sambil terengah-engah.

Geum Wa menunggu Hae Mo Su di tempat yang sudah dijanjikan, namun Hae Mo Su tak kunjung datang.

Hari sudah pagi. Jumong terus berpikir apakah Geum Wa-lah orang yang telah mengurung Hae Mo Su. Ia bertanya, “Guru, apakah Yang Mulia yang ingin membunuhmu? Itu tidak mungkin. Aku pernah melihat Perdana Menteri dan Peramal datang ke gua. Jika bukan mereka, mungkin kedua kakakku… Itu sungguh tidak mungkin bila Yang Mulia yang melakukannya.

Hae Mo Su: Tidak penting siapa yang melakukannya. Aku hanya sedih karena nasibmu sama denganku. Sekarang, hal yang bisa kulakukan adalah melatihmu bela diri agar kau bisa melindungi diri.

Saat senja, Hae Mo Su mengajak Jumong keluar. “Fokuskan energimu dan lihat matahari terbenam di gunung selatan. Saat matahari terbenam dan bulan terbit. Lihat bulan. Ketika bulan dan matahari terpisah di antara pedangmu, titik penting akan terbuka.”

Geum Wa menunjukkan surat dari Hae Mo Su pada Perdana Menteri. “Ada orang yang menghalangi kami untuk bertemu. Siapa?! Siapa yang melakukannya?!”

Perdana Menteri: Aku tidak tahu.

Geum Wa: Aku akan mengerahkan pasukan untuk mencari Hae Mo Su!

Mo Pal Mo diundang oleh Yeon Ta Bal ke rumahnya untuk minum arak bersama. Kalau soal arak, tentu saja Mo Pal Mo setuju. Yeon Ta Bal berusaha mendekati Mo Pal Mo. “Aku sangat menyukai orang yang sangat berbakat dan pandai sepertimu, Ketua.” ujar Yeon Ta Bal.

Mo Pal Mo tersenyum malu. “Aku telah mengalami kegagalan selama bertahun-tahun.”

Yeon Ta Bal: Kegagalan? Apa maksudmu?

Mo Pal Mo: Yaa.. begitu lah. (Mo Pal Mo enggan menjelaskan)

Yeon Ta Bal berkata dengan hati-hati, “Aku berencana untuk mendirikan bengkel pandai besi untuk klan kami dan aku berharap kau bersedia membantu kami.”

Mo Pal Mo: Membantu? Bagaimana?

Yeon Ta Bal: Pinjamkan kami pengetahuanmu dalam membuat senjata. Aku akan memberikan apapun yang kau minta.

Mo Pal Mo langsung cemberut dan curiga. Ia membanting gelas di meja. “Jadi untuk itu kalian mengundangku kemari? Bahkan jika kau memberiku segudang emas dan perak, aku tidak akan pernah memberi tahu rahasia bengkelku padamu!” seru Mo Pal Mo marah seraya pergi dari ruangan itu.

Sayong: Mo Pal Mo sangat setia kepada BuYeo. Kau salah perhitungan.

Yeon Ta Bal: Ya. Aku terlalu meremehkannya.

Do Chi meminta tolong pada Pangeran Young Po dan Utusan Istana (Paman Dae So) untuk bicara pada Yang Mulia. Ia mengatakan padanya untuk mencabut hak transaksi BuYeo dengan Han yang dipegang oleh Yeon Ta Bal dan menyerahkan hak itu padanya.

Jumong dan Hae Mo Su berlatih pedang. Hae Mo Su menyuruh Jumong menyerangnya. Serangan-serangan Jumong dengan mudah mampu dihindari oleh Hae Mo Su dan dalam sekejap, Jumong kalah.

Hae Mo Su: Aku memang tidak bisa melihat, tapi kebutaanku tidak membuat aku lemah dalam peperangan. Kau tahu kenapa?

Jumong terdiam. Hae Mo Su melanjutkan, “Orang biasa melihat dunia dengan mata, tapi seorang ahli pedang merasakan pedang dengan seluruh tubuhnya. Karena itu, seorang ahli pedang mampu melawan musuh dihadapannya dan mampu menangkis serangan musuh lain dari belakang. Kau harus mengubah sebuah pedang, dari sebuah besi dingin menjadi bagian tubuhmu sendiri. Bukan hanya pedang, tapi tombak dan panah harus dianggap seperti itu.”

Jumong menggenggam pedangnya dan memejamkan mata untuk berkonsentrasi. Ia kemudian menyerang Hae Mo Su. Jumong mampu membuat baju Hae Mo Su tersobek sedikit. Jumong terkejut dan senang.

Hae Mo Su menepuk pundaknya,seakan berkata, “Kerja yang bagus !”

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s