Jumong – Episode 19

Keberhasilan Jumong menemukan gunung garam ini telah menyelesaikan masalah terbesar BuYeo juga mencegah perang dengan Ok Jo. Geum Wa bangga sekali padanya.

Young Po dan Dae So menatap Jumong dan So Seo No dengan pandangan terkejut dan marah sekaligus. Jasa Jumong kali ini akan membawa ‘peperangan’ yaang lebih sengit dengan Dae So.

Adik Yeon Ta Bal, Yeon Chae Ryeong, datang me BuYeo untuk membawa garam. Saat ini belum diceritakan secara detail tentang Yeon Chae Ryeong, namun wanita ini akan memegang peran penting (secara negatif) terhadap So Seo No.

Permaisuri Wan Ho, Dae So dan Young Po merasa dibodohi dan diserang dari belakang. Pangeran Young Po berhasil memberi BuYeo 1000 karung garam, Pangeran Dae So berhasil memberi BuYeo 10.000 karung garam, sedangkan Pangeran Jumong berhasil memberi BuYeo jumlah garam yang tidak akan habis sepanjang generasi. Kekalahan yang cukup telak ternyata.

Ditambah lagi, setelah perjalanan, hubungan Jumong dan So Seo No semakin dekat. Hal tersebut membuat Dae So merasa cemburu dan bertambah marah.

Jumong mengajak So Seo No bertemu Yoo Hwa. So Seo No merasa tidak enak karena tidak bersiap-siap terlebih dahulu, namun Jumong mengatakan padanya agar tidak perlu khawatir.

So Seo No menyapa dan berbincang dengan Yoo Hwa sebentar, setelah itu memohon diri untuk pamit.

Yoo Hwa menatap Jumong dengan pandangan penuh arti. “Apakah ada hubungan spesial antara kalian berdua?”

Jumong tersenyum dan menunduk malu, tidak menjawab.

“Apakah cincin yang kuberikan padamu masih ada?” tanya Yoo Hwa.

“Ya.” jawab Jumong.

“Apa kau tidak ingin memberikan cincin itu padanya?”

Jumong tertawa. “Belum…”

“Aku mengerti. Pikirkan baik-baik.”

Young Po melampiaskan kekesalannya pada Do Chi. Ia memotong rambut Do Chi sebagai tanda bahwa ia telah memutuskan segala ikatannya dengan Do Chi.
Do Chi melampiaskan kekesalannya pada Han Dong. Ia memukul Han Dong dengan kursi hingga pingsan.

Oyi jatuh cinta pada Bu Young dan sering memandang gadis itu diam-diam dari jauh. Tidak sengaja Bu Young melihat Oyi. Oyi malu dan berjalan pergi. Bu Young mengejarnya. Hal pertama yang ditanyakan Bu Young adalah tentang Pangeran Jumong.

Oyi sedikit kecewa, namun menjawab bahwa Jumong baik-baik saja. “Kami akan segera membebaskanmu.” janji Oyi.

Bu Young hanya bisa tersenyum.

Oyi memberikan sekantung uang pada Bu Young dan berjalan pergi.
Oyi menjadi murung seharian itu.

Geum Wa mengadakan perjamuan makan untuk merayakan keberhasilan Jumong menemukan gunung garam.

Yeon Chae Ryeong membantu So Seo No berdandan.

“Kudengar kau telah meluluhkan hati pangerah BuYeo.” kata Chae Ryeong.

“Siapapun yang kau pilih, orang itu harus menguntungkan bagi klan kita.”

“Bibi, saat aku melakukan perjalanan dengan Pangeran Jumong, aku merasakan perasaan aneh.” kata So Seo No. Sepanjang hidupku, aku selalu menjalin hubungan dengan seseorang demi keuntungan belaka. Tapi, saat ini berbeda. Ketika aku datang ke markas para bandit, aku tidak memikirkan hal itu sebagai bisnis atau transaksi. Aku hanya ingin menyelamatkan nyawa Pangeran Jumong, itu saja.”

Yeo Mi Eul menolak hadir pada acara perjamuan. Hubungannya dengan Geum Wa masih terus memburuk.

Ketidakhadiran Yeo Mi Eul membawa kontroversi diantara para peramal. Banyak dari mereka yang berharap peramal Ma Oo Ryeong menggantikan kedudukan Yeo Mi Eul sebagai peramal tertinggi.

Sebagaimana peperangan antara Dae So dan Jumong, terjadi pula perang tersembunyi antara Yoo Hwa dan Wan Ho. Dengan kata-kata pedas, Wan Ho selalu berusaha menyakiti hati Yoo Hwa.

Young Po frustasi dan mabuk-mabukan. Dae So menyuruhnya datang ke perjamuan.

“Perjamuan hampir dimulai.” kata Dae So. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku tidak datang. Aku tidak tahan melihat wajah Jumong.”

“Kau sangat bodoh!” seru Dae So.

“Jangan selalu mengatakan aku bodoh!” protes Young Po, mengeluarkan hal yang selama ini dipendamnya. “Aku juga berusaha semampuku. Kapan kau akan berhenti mengatakan aku bodoh? Walaupun aku tidak sebaik kau, tapi aku tidak pantas disebut bodoh!”

“Benar. Maafkan aku.” kata Dae So. “Tapi kau harus tetap datang ke perjamuan. Aku juga sama sepertimu, merasa frustasi karena Jumong. Tapi jika kita memperlihatkan itu, berarti dia telah mengalahkan kita dua kali.”

Perjamuan makan malam di mulai. Mereka dihibur dengan pertunjukkan akrobat pedang dan tarian.

Dae So terus menerus melihat ke arah So Seo No dan Jumong dengan perasaan cemburu.

Geum Wa memanggil Jumong, So Seo No dan Yeon Ta Bal untuk menyatakan apresiasinya. Ia memberi hadiah pada Jumong berupa satu permintaan.
Jumong tersenyum. Ia merasa tidak pantas menerima hadiah itu dan melemparnya pada So Seo No.

“Yang Mulia.” So Seo No memulai. “Aku senang perjalananku bisa membantu BuYeo. Permintaanku adalah agar kerajaan BuYeo dan klan GyehRu dapat terus membina hubungan yang baik seperti hari ini.”

Geum Wa tersenyum. “Kau lebih mementingkan klanmu dibandingkan dengan keinginanmu sendiri.” katanya. “Aku akan memenuhi perintahmu dan berjanji bahwa GyehRu dan BuYeo akan terus membina hubungan baik.”

Setelah selesai perjamuan, Na Ru menjemput So Seo No karena Dae So ingin bertemu dengannya.

“Saat aku mendengar bahwa kau berada dalam bahaya, aku ingin segera pergi menolongmu.” kata Dae So. “Tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku harus menyiapkan perang dengan Ok Jo. Aku sangat mengkhawatirkanmu hingga tidak bisa tidur. Aku sangat bersyukur melihatmu kembali dengan selamat.”

“Maafkan aku sudah menyusahkanmu.” ujar So Seo No sopan.

Dae So maju beberapa langkah untuk mendekati So Seo No.

“So Seo No, aku akan melakukan apapun agar menjadi Putra Mahkota dan penerus tahta. Dan aku akan membuatmu menjadi permaisuriku.”

So Seo No terkejut, menatap Dae So.

Jumong kebetulan lewat dan melihat mereka berdua.

Dae So memutuskan untuk menemui Yang Jung di kota Hyeon To. Ia pergi diam-diam untuk berunding dengan Yang Jung tentang perjanjian mereka sebelumnya, yakni membantu Dae So menjadi Putra Mahkota dan menduduki tahta.

Di pihak lain, Geum Wa memanggil Jumong dan memberinya sebuah tugas penting. Ia menyerahkan sebuah perkamen.

“Sebagai utusan khusus, kau akan pergi ke kota Hyeon To dan menyampaikan pesanku pada Yang Jung.” ujar Geum Wa.

Jumong terkejut. Kedudukan sebagai utusan khusus biasanya hanya diberikan pada Putra Mahkota atau seseorang yang sangat dipercayai oleh Raja.

“Walaupun hanya sementara, tapi sebelum kau kembali dari kota Hyeon To, kau akan mewakili aku.” klanjut Geum Wa. “Temuilah Yang Jung dengan sikap agung dan tanpa rasa takut.”

“Yang Mulia, tugas semacam ini seharusnya diberikan pada Kak Dae So..” ujar Jumong protes, namun Geum Wa memotong kata-katanya. “Kau yang akan melakukannya. Aku ingin kau yang melakukannya.”

Geum Wa kemudian memanggil Jenderal Heuk Chi dan memerintahkannya menemani Jumong pergi ke kota Hyeon To.

Jenderal Heuk Chi terkejut dan sedikit ragu, namun ia diam saja dan mematuhi perintah Geum Wa.

Berita tentang Jumong menjadi utusan khusus menyebar dengan cepat dan menyebabkan kontroversi di berbagai kalangan pihak istana. Mulai dari permaisuri Wan Ho, Pangeran Young Po, Perdana Menteri, dan para pejabat. Mereka tidak percaya pada kemampuan Jumong dan berniat meminta Geum Wa agar menarik kembali perintah tersebut.

Jenderal Heuk Chi berusaha meyakinkan mereka. “Apa kalian pernah melihat Yang Mulia menarik kembali keputusannya? Kalian hanya perlu duduk dan melihat apa yang akan terjadi.”

Perdana Menteri membujuk Geum Wa agar tidak lagi bersiteru dengan Yeo Mi Eul karena dapat berdampak buruk bagi masyarakat. Namun Geum Wa tidak mendengarkan. Kemarahannya pada Yeo Mi Eul terlalu besar sehingga Geum Wa tidak bisa memaafkannya.

Perdana Menteri kemudian menemui Yeo Mi Eul.

Yeo Mi Eul mengatakan padanya bahwa Pangeran Jumong telah mematahkan Busur Da Mul. “Ada kemungkinan dia adalah darah daging Hae Mo Su.” katanya curiga.

Keesokkan harinya, Jumong dan Jenderal Heuk Chi pergi ke kota Hyeon To.
So Seo No melihat kepergiannya dan tersenyum. Jumong membalas senyumannya.

Dae So tiba di kota Hyeon To. Yang Jung menyambutnya dengan hangat. Dae So memulai perundingannya.

Dae So menceritakan bahwa Jumong telah menemukan sebuah gunung garam di Go San. “Jika Jumong menjadi Putra Mahkota, hubungan BuYeo dan Han akan lebih memburuk.” kata Dae So.

Yang Jung berpikir.

Pengawal mengatakan pada Yang Jung bahwa Pangeran Jumong, sebagai utusan khusus, ingin bertemu dengannya.

“Suruh dia masuk.” kata Yang Jung.

Jumong dan Jenderal Heuk Chi memasuki ruangan, dan tanpa rasa takut sama sekali, ia menatap lurus ke mata Yang Jung. Ia menyerahkan surat dari Geum Wa.

Yang Jung membaca surat tersebut, kemudian marah besar.

“Kami tidak ingin mengembalikan hubungan perdagangan kami dengan Han, jadi berhentilah mencampuri urusan negara kami.” Yang Jung mengulang isi surat yang dibacanya, lalu menatap Jumong. “Raja BuYeo sangat kasar, tidak tahu terima kasih dan tidak tahu malu! Jika dulu BuYeo tidak melakukan perdagangan dengan Han, apakah BuYeo bisa menjadi negara yang seperti sekarang?!”

“Kau sangat tidak sopan!” seru Jumong. “Negara Han tidak pernah membantu BuYeo dalam hal apapun. Mereka selalu ikut campur dalam urusan negara kami. Jika sesuatu tidak berjalan seperti yang mereka inginkan, mereka akan mengancam dengan memutus perdagangan atau memulai perang. Sama seperti kami, kau juga penerus kerajaan dan Pangeran dari Gyeh Ma. Han menggunakan kau sebagai tawanan dan menghinamu. Bagaimana bisa berkata seperti itu pada kami?”

Yang Jung terperanjat mendengar kata-kata Jumong.

“Gubernur kota Hyeon To, bersikaplah cerdas dan dengar baik-baik.” Jumong melanjutkan. “Mulai saat ini, BuYeo tidak akan membiarkan campur tangan dan ancaman dari negara manapun. Jika Han melakukan hal itu, maka BuYeo akan mengerahkan pasukan kami lebih dulu. Ini adalah peringatan.”

Jenderal Heuk Chi terkejut dan kagum mendengar ucapan Jumong.

Yang Jung diselimuti perasaan marah. “Brengsek!” teriaknya, melihat Jumong berjalan pergi.

Jumong dan Jenderal Heuk Chi keluar dari ruangan Yang Jung. Dae So mendadak muncul dihadapan mereka.

“Apa yang lakukan disini, Pangeran?” tanya Jenderal Heuk Chi pada Dae So.

Dae So menatap Jumong. “Aku ingin bicara denganmu.”

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jumong ketika ia dan Dae So sudah bicara empat mata.

“Kau tidak perlu tahu.” jawab Dae So. “Apa yang kau katakan pada Yang Jung?”

“Kau juga tidak perlu tahu hal itu.” jawab Jumong tenang. “Disini, aku bukan adikmu. Yang berdiri di hadapanmu adalah utusan khusus yang mewakili Raja. Aku ingin tahu apa yang dilakukan Pangeran sulung BuYeo di negara musuh.”

“Beraninya kau! Kau pikir dirimu adalah Putra Mahkota hanya karena berhasil menyelesaikan masalah kecil? Bersiaplah. Ini belum berakhir.”

Dae So berjalan pergi meninggalkan Jumong.

Oyi mendapat kabar bahwa Bu Young dijual sebagai budak ke negara Han. Ia segera memberi tahu Ma Ri dan Hyeopbo, kemudian berlari ke rumah Do Chi,
“Bu Young memiliki wajah yang cantik, jadi kami menjualnya dengan harga tinggi.” kata Han Dong.

Oyi hendak menerjang marah, namun Hyeopbo menahannya.

“Saat Pangeran Jumong kembali dari kota Hyeon To, dia akan membayarmu dengan harga yang lebih tinggi.” kata Ma Ri, mencoba berunding.

“Sayang sekali, kami sudah menjualnya.” kata Han Dong. “Pergi!”

Ternyata ini adalah sebuah pancingan. Han Dong dan Do Chi sedang merencanakan sesuatu untuk mendapatkan kepercayaan Young Po kembali

Oyi berteriak marah dan menyalahkan Jumong karena tidak segera membebaskan Bu Young setelah mereka kembali dari Go San. Ia menemui Yeon Ta Bal untuk meminjam uang, namun Yeon Ta Bal menolaknya mentah-mentah.
Merasa putus asa, Oyi menyerbu masuk ke rumah Do Chi. Ia berlutut di hadapan Do Chi dan berkata, “Tolong jangan jual Bu Young!”

“Terlambat.” kata Do Chi. “Aku sudah menjualnya.”

“Jika kau mencoba, kau bisa mendapatkannya kembali, kan?” tanya Oyi. “Aku akan melakukan apapun untukmu! Tolong jangan jual dia!”

Do Chi tersenyum licik dan bertukar pandang dengan Han Dong. Target mereka telah masuk ke perangkap.

“Kau akan melakukan apapun yang kukatakan?” tanya Do Chi.

“Ya!”

Do Chi membawa Oyi menemui Young Po dan Dae So.

“Kau bekerja untuk Jumong?” tanya Dae So pada Oyi.

“Ya.”

“Apa kau tahu pekerjaan apa yang sedang dilakukan Jumong saat ini?” tanya Dae So lagi.

“Katakan pada kami apa yang dia lakukan untuk kompetisi Putra Mahkota!” perintah Young Po.

Oyi ragu sesaat, namun demi gadis yang dicintainya, ia menjawab, “Pangeran Jumong akan mengerahkan segala upaya untuk mengembangkan senjata dari baja. Bersama dengan ketua pandai besi, Mo Pal Mo, dia mencoba untuk menemukan rahasia Metode Pencampuran Baja.”

“Metode Pencampuran Baja?!” seru Dae So.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s