Jumong – Episode 22

“Pasti Do Chi yang melakukannya.” kata Oyi cemas. “Aku akan pergi membunuh Do Chi dan membebaskan Bu Young!”
“Jangan gegabah, Oyi!” kata Hyeopbo. “Kita tidak punya saksi mata.”
“Do Chi bermaksud untuk memanfaatkan Bu Young, jadi dia pasti tidak akan berbuat macam-macam pada Bu Young.” kata Jumong menenangkan. “Kita harus memata-matai Do Chi, tapi kita tidak boleh bertindak gegabah. Pertama-tama, kita harus menemukan dimana Bu Young.”

Bu Young disekap di sebuah ruangan seperti gudang.
“Aku tidak ingin memperlakukanmu seperti ini, tapi aku tidak punya pilihan karena Pangeran Young Po.” kata Do Chi pada Bu Young.
“Jika kau ingin menggunakan aku untuk memancing Pangeran Jumong, kurasa lebih baik kau menyerah.” kata Bu Young. “Jika kau tetap memaksa, aku akan mati.”
Do Chi tertawa. Ia memerintahkan Han Dang agar menjaga Bu Young baik-baik.

Di tempat yang berbeda, prajurit suruhan Young Po menyerang Kuil Ramalan. Mereka mencoba membunuh Yeo Mi Eul.
Prajurit wanita Kuil Ramalan melawan mereka dan membantu Yeo Mi Eul melarikan diri.

Perdana Menteri masuk ke ruangan Geum Wa dan melaporkan bahwa beberapa pembunuh menyusup masuk dan menyerang kuil ramalan. Ia juga berkata bahwa Yeo Mi Eul tidak diketahui keberadaannya.
Geum Wa sangat terkejut.

Di sisi lain, Wan Ho juga kaget mendengar berita penyerangan ini. Ia khawatir bahwa orang-orang akan menuduhnya melakukan semua itu, karena dialah yang orang yang paling ingin Yeo Mi Eul turun dari jabatannya.

Jumong datang berkunjung ke istana. Ia heran melihat para pengawal yang berlarian kesana kemari.
“Ada apa, ibu?” tanya Jumong pada Yoo Hwa.
“Pembunuh menyerang Kuil Ramalan.” kata Yoo Hwa cemas. “Kita tidak tahu apakah Yeo Mi Eul masih hidup atau tidak.”
Yoo Hwa curiga bahwa Permaisuri Wan Ho-lah yang mengirim pada pembunuh itu.

Geum Wa memerintahkan Jenderal Heuk Chi untuk mencari Yeo Mi Eul, namun mereka belum mendapatkan informasi apapun perihal keberadaannya.
“Kenapa keamanan penjagaan di Kuil Ramalan begitu buruk?” tanya Geum Wa marah. “Bagaimana jika para pembunuh itu masuk ke ruanganku?”
“Maafkan aku, Yang Mulia.” kata Jenderal Heun Chi.
“Segera temukan Yeo Mi Eul dan selidiki siapa para pembunuh ini.” perintah Geum Wa.

Permaisuri Wan Ho dan peramal Ma Oo Ryeong sangat khawatir kalau-kalau masyarakat salah paham pada mereka perihal masalah ini. Wan Ho mulai mencurigai Young Po.

Young Po cukup ketakutan dan tidak tenang. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa selama Yeo Mi Eul dinyatakan mati, maka bukan hanya Wan Ho dan Dae So yang akan berterima kasih padanya, bahkan Yang Mulia pun akan senang dengan perbuatannya ini. Dialah orang yang berhasil meringankan masalah Yang Mulia. “Tidak perlu khawatir.” katanya dalam hati.

Yeon Ta Bal yakin bahwa cepat atau lambat Yeo Mi Eul akan menghubunginya, dan jika hal itu terjadi, Yeon Ta Bal akan menerima uluran tangan Yeo Mi Eul. Keberadaan Yeo Mi Eul di pihak GyehRu bisa sangat menguntungkan mereka.

So Seo No berpapasan dengan Jumong. Ia berkata bahwa kejadian menghilangnya Yeo Mi Eul ini pasti akan sangat menguntungkan bagi Jumong.
Jumong menggeleng. “Justru sebaliknya.” kata Jumong. “Menghilangnya Peramal Yeo Mi Eul akan menguntungkan bagi permaisuri dan pangeran Dae So.”
So Seo No menarik napas dan pura-pura kesal. “Menyedihkan sekali…” katanya. “Sepertinya, aku adalah satu-satunya orang yang bisa membantumu, Pangeran.”
Jumong tertawa.

Wan Ho mengatakan kecurigaannya pada Dae So, bahwa Young Po-lah yang telah mengirim pembunuh ke Kuil Ramalan.
Mulanya Dae So tidak percaya, karena itu ia bertanya langsung pada Young Po.
“Kaulah orang yang mengirim para pembunuh itu?” tanya Dae So.
“Siapa yang bilang? Aku tidak pernah melakukan itu.” Young Po berbohong dengan tidak meyakinkan.
“Wajahmu tidak bisa berbohong.” kata Dae So.
“Bukan aku!” seru Young Po bersikeras.”
“Young Po.” ujar Wan Ho. “Jika kau memang melakukannya, katakan pada kami. Bila Yeo Mi Eul mati, itu adalah hal yang bagus.Tapi bila Yeo Mi Eul masih hidup, kita harus memikirkan sesuatu.” Wan Ho membujuk Young Po agar mengaku.
Akhirnya Young Po menyerah dan mengakui semuanya pada Wan Ho dan Dae So.
Wan Ho sangat terkejut, sementara Dae So tidak bisa menahan kemarahannya. Ia memukul Young Po hingga terjatuh ke lantai. Dae So marah dan menyalahkan kebodohan Young Po, namun semua sudah terjadi, jadi mereka hanya bisa terus berjalan ke depan.

Dae So hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kebodohan (dan kepolosan) Young Po. Adiknya itu terus saja membuat masalah, sehingga Dae So-lah yang terpaksa menyelesaikan masalah yang dibuat adiknya itu.
“Na Ru, apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Dae So putus asa. “Dibandingkan denganku, Young Po selalu selangkah lebih maju. Karena masalah ini sudah terjadi, maka kita tidak boleh membiarkan ini.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Na Ru.
“Temukan keberadaan Yeo Mi Eul dan bunuh dia.”

Yeo Mi Eul bersembunyi di sebuah gua di tengah hutan bersama beberapa pengawalnya.
Di sana, ia menangis. Sepertinya ia sudah tahu siapa orang yang menginginkan kematiannya.

Geum Wa cukup tertekan karena masalah ini. Perselisihan antara dia dan Yeo Mi Eul sudah tersebar. Ia mendengar bahwa masyarakat mengira bahwa Yeo Mi Eul sudah mati dan Geum Wa-lah yang bertanggung jawab atas kematiannya.
Geum Wa menenangkan hatinya dengan minum bersama Yoo Hwa.
“Perselisihanku dengan Yeo Mi Eul sangat lucu.” kata Geum Wa, ia terlihat sedih. “Dia mengurung Hae Mo Su selama 20 tahun, dan aku melemparkan semua kesalahan padanya. Sebenarnya, aku bersikap begini karena aku tidak bisa melakukan dan memberikan apapun pada Hae Mo Su. Aku tidak bisa memaafkan Yeo Mi Eul karena hal ini.”
Geum Wa tertawa pahit.
“Yang Mulia…” Yoo Hwa melihat kesedihan yang mendalam di mata Geum Wa.
“Yeo Mi Eul sangat pengertian lebih dari orang lain.” kata Geum Wa. “Satu-satunya orang yang bisa melihat apa yang ada didalam diriku adalah Yeo Mi Eul.”

Utusan Yang Jung menagih jawaban Dae So atas permintaan Yang Jung. “Apakah Pangeran bersedia memenuhi permintaan Gubernur?” tanya mereka.
“Aku ingin menerimanya, tapi aku masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” kata Dae So. “Ini bukanlah hal yang bisa diputuskan hanya berdasarkan pendapatku seorang. Tolong sampaikan padanya bahwa aku butuh sedikit waktu lagi. Jika masalah di BuYeo sudah mereda, aku akan mengunjungi Gubernur.”

Ketika Jumong sedang bekerja di rumah GyehRu, ia melihat seorang wanita datang membawa surat dan ingin betemu dengan Yeon Ta Bal. Jumong curiga.
Setelah wanita tersebut menyampaikan suratnya pada Yeon Ta Bal, beberapa saat kemudian, Yeon Ta Bal dan Oo Tae keluar, ingin pergi ke suatu tempat. Jumong memanggil mereka.
“Apakah kau ingin bertemu dengan Peramal Yeo Mi Eul?” tanya Jumong.
“Darimana kau tahu?” tanya Yeon Ta Bal terkejut.
“Aku melihat salah seorang wanita dari Kuil Ramalan.” jawab Jumong. “Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting pada Peramal Yeo Mi Eul.”

Na Ru mengerahkan pasukannya untuk mencari Yeo Mi Eul. Mereka berhasil mengetahui keberadaan Yeo Mi Eul dan bergegas menuju tempat tersebut.
Yeo Mi Eul mendapat firasat bahwa akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
Ia hendak pergi bersama para pengawalnya, namun terlambat. Na Ru dan pasukannya sudah ada di depan pintu gua, menghadang mereka.
Di saat yang sama, Jumong, Yeon Ta Bal dan Oo Tae tiba. Melihat Yeo Mi Eul diserang, mereka segera menolongnya.
Pasukan Na Ru melarikan diri.

“Ada apa?” tanya Yeo Mi Eul pada Jumong.
“Aku ingin kau menjelaskan sesuatu.” kata Jumong. “Seperti yang kau tahu, akulah orang yang telah mematahkan Busur Da Mul. Setelah itu, kau merasa bahwa aku akan membawa kehancuran bagi BuYeo?”
Yeo Mi Eul terdiam sejenak. “Pangeran…” Yeo Mi Eul berkata seraya berlutut di hadapan Jumong. “Aku telah melakukan sebuah dosa besar padamu. Jika waktunya sudah tepat, aku akan memberi tahu segalanya padamu.”

Yeo Mi Eul mengatakan bahwa ia akan kembali ke Kuil Ramalan. Ia bertanya apakah Yeon Ta Bal sudah membuat keputusan akan membantu Yeo Mi Eul atau tidak.
Yeon Ta Bal berkata bahwa ia akan membantu Yeo Mi Eul.

Keesokkan harinya, Yeo Mi Eul kembali ke istana. Ketika berpapasan dengan Dae So dan Young Po, ia hanya melirik sedikit, kemudian berjalan melewati mereka dengan sikap dingin.
Yeo Mi Eul bicara empat mata dengan Geum Wa.
“Alasanku kembali bukan untuk mengadili orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini.” kata Yeo Mi Eul tenang. “Yang Mulia, mengenai permasalahan Jenderal Hae Mo Su, sampai saat ini aku masih beranggapan bahwa semua keputusan yang kubuat adalah benar. Jika aku ingin membunuh Jenderal Hae Mo Su, aku pasti sudah melakukannya 20 tahun yang lalu. Tapi, aku melindunginya dan membiarkan takdir yang mencabut nyawanya.”
“Melindungi?” tanya Geum Wa. “Mengurungnya di penjara gua tanpa sinar matahari kau sebut melindungi?”
“Jika Jenderal Hae Mo Su tidak dilindungi olehku, apa yang akan terjadi padanya?” tanya Yeo Mi Eul. “Kau tidak pernah bisa melindungi Jenderal Hae Mo Su sampai akhir. Apa yang pernah kau lakukan untuknya? Hukuman apa yang kau berikan pada Pangeran Dae So dan Pangeran Young Po yang telah membunuh Jenderal Hae Mo Su? Kau tidak melakukan apapun! Lalu kenapa? Kenapa kau menyalahkan semua padaku?”
Geum Wa terdiam.
“Yang Mulia, yang menyukai Nyonya Yoo Hwa, jauh di dalam hatimu, kau berharap bahwa Jenderal Hae Mo Su sudah mati bertahun-tahun yang lalu!” seru Yeo Mi Eul.
“Diam kau!” Geum Wa berteriak marah seraya mencabut pedangnya.
“Bunuh saja aku.” Yeo Mi Eul berkata, meneteskan air matanya.

Geum Wa melepaskan Yeo Mi Eul.
Yeo Mi Eul memutuskan untuk meninggalkan istana.
Young Po tertawa senang, semua yang dilakukannya membuahkan hasil yang memuaskan. Dae So dan Wan Ho melihatnya dengan kesal.

Yeo Mi Eul memanggil So Ryeong dan Putri Bintang.
So Ryeong menangis.
“So Ryeong, kau harus mengingat kata-kataku dengan baik.” kata Yeo Mi Eul, tersenyum. “Aku akan meninggalkan Kuil. Kau harus menjaga Bei Er (Putri Bintang) baik-baik.”
“Aku juga ingin pergi bersama Yeo Mi Eul.” kata So Ryeong sedih.
“Perjalanan yang kulakui akan sangat berbahaya dan melelahkan.” Yeo Mi Eul berkata. “Jika waktunya sudah tepat, aku akan memanggil kalian. Jadi sampai saat itu tiba, tetaplah berada di BuYeo. Jangan menangis.”

Setelah itu, Yeo Mi Eul menemui Yoo Hwa. Ia berkata pada Yoo Hwa bahwa saat Yeo Mi Eul melakukan upacara ritual langit, ia melihat burung berkaki tiga yang berada di matahari BuYeo.
“Aku merasa bahwa burung itu akan membawa malapetaka bagi BuYeo.” katanya. “Karena itu menyarankan pada Raja BuYeo sebelumnya agar membunuh burung tersebut. Burung berkaki tiga itu adalah Jenderal Hae Mo Su. Namun, walaupun Jenderal Hae Mo Su saat ini sudah meninggal, burung berkaki tiga itu masih ada di sana. Nyonya Yoo Hwa, kaulah yang telah membawa burung itu. Burung itu masih muda dan sangat lemah, kau harus menjaganya baik-baik sampai ia tumbuh menjadi kuat.”
Yoo Hwa memandang Yeo Mi Eul, terkejut dengan apa yang ia katakan.
“Karena BuYeo sudah meninggalkanku, maka aku akan pergi dari BuYeo.” kata Yeo Mi Eul melanjutkan. “Aku akan mengikuti burung berkaki tiga dan mendukungnya.”

Keesokkan harinya, Yeo Mi Eul pergi. Geum Wa menatap kepergiannya dari jauh.

Peramal Ma Oo Ryeong, dengan bantuan Permaisuri Wan Ho, diangkat menjadi Peramal Suci tertinggi yang baru.
“Selamat atas penobatanmu.” kata Wan Ho. Ia kemudian meminta Ma Oo Ryeong membantunya. “Akhiri segera kompetisi Putra Mahkota ini. Kau harus menjadi bagian dari kekuatan Pangeran Dae So.”
“Aku akan melakukannya.” kata Ma Oo Ryeong, tersenyum. “Aku akan setia pada Pangeran Dae So dan Permaisuri.”

Yeo Mi Eul memutuskan bahwa ia akan melakukan perjalanan selama beberapa waktu, namun sebelum pergi, ia ingin bertemu dengan Jumong.
“Aku telah salah mengartikan pertanda dari surga dan melakukan sebuah kesalahan besar.” ujar Yeo Mi Eul. “Aku seharusnya dihukum.”
Jumong diam.
“Pangeran, sebelumnya aku pernah berkata bahwa aku melakukan sebuah dosa besar padamu. Sebelum meninggalkan BuYeo, aku ingin mengakui kesalahanku dan memohon maafmu.”
Yeo Mi Eul terdiam sejenak, kemudian melanjutkan, “Pangeran, kau selalu berpikir bahwa Raja Geum Wa adalah ayah kandungmu. Tapi, ayah kandung Pangeran adalah orang lain.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iklan

One comment on “Jumong – Episode 22

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s