Jumong – Episode 24

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo berpapasan dengan Do Chi dan kroni-kroninya. Oyi dan yang lainnya tidak bisa menahan kemaran ketika melihat Do Chi. Oleh karena itu, mereka melampiaskan semua kekesalan yang terpendam selama ini dengan memukuli Do Chi sampai kepala Do Chi berdarah dan pingsan.

Paman Dae So dan Wan Ho mengucapkan selamat pada Dae So karena sekarang sudah bisa dipastikan bahwa Dae So-lah yang akan menjadi Putra Mahkota. Young Po kesal sekali. Dia sama sekali tidak mendapat pujian atas apa yang dia lakukan padahal karena usahanya-lah Yeo Mi Eul dan Jumong bisa disingkirkan.
Dia marah pada pamannya dan berkata bahwa dia juga seorang pangeran, kenapa semua orang tidak menganggapnya?
Dae So mendengar ucapannya. “Ayo kita tetap bersaing.” katanya, tersenyum.”Lakukan yang terbaik.”
Dae So berkata begitu karena tahu bahwa Young Po tidak akan bisa mengalahkannya.

So Seo No termenung di kamarnya seraya memandangi cincin pemberian Jumong.
“Nona,” ia teringat Jumong berkata. “Saat ini, semua yang aku percayai sedang tergoncang, dan aku ingin mencoba untuk menetapkan hatiku kembali. Hal ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan bantuan orang lain. Aku hanya butuh sedikit waktu. Hanya dengan mengetahui bahwa kau sedang memikirkan dan memperhatikan aku, perasaanku menjadi lebih baik.”
So Seo No mengenakan cincin pemberian Jumong.

Jumong menemui Yeon Ta Bal dan mengatakan bahwa ia ingin pergi dari BuYeo untuk melihat dunia. Jumong juga bertanya, pria seperti apa Hae Mo Su saat Yeon Ta Bal bertemu dengannya dulu.
Yeon Ta Bal dan Gye Pil menceritakan pertemuan mereka dengan Hae Mo Su dulu.
“Jenderal Hae Mo Su adalah sebuah harapan.” kata Yeon Ta Bal. “Jika saat itu aku menyerahkan dia pada Han, maka aku akan diingat oleh sejarah sebagai seseorang yang sangat berdosa.”

Ma Ri dan Hyeopbo menghibur Oyi dengan minum bersama di kedai. Jumong berjalan mendekati.
“Maafkan aku.” kata Oyi. “Karena Bu Young dan aku, Pangeran terpaksa mundur dari kompetisi.”
“Akulah yang harus minta maaf.” kata Jumong.
“Tidak. Kau sudah melakukan semua yang kau bisa. Akulah yang gagal melindunginya.” kata Oyi sedih.
Ma Ri menyuruh Oyi melupakan Bu Young dan jangan bersedih lagi.
“Apa yang ingin Pangeran lakukan setelah ini?” tanya Hyeopbo. “Apa kau akan kembali ke kelompok pedagang GyehRu?”
“Jika kalian setuju untuk ikut denganku, ada tempat yang harus kita kunjungi.” kata Jumong.

Keesokkan harinya, Jumong menitipkan sebuah surat untuk Yoo Hwa. Ia mengatakan pada suratnya bahwa ia akan meninggalkan BuYeo. Walaupun ia belum tahu ingin pergi kemana, tapi ia harus meninggalkan BuYeo untuk menetapkan hatinya kembali.
“Ayah membuang keselamatannya sendiri dan memilih hidup dalam penderitaan.” Jumong melanjutkan dalam suratnya. “Aku ingin tahu kenapa ia memilih jalan itu. Aku ingin berpikir tentang semua itu. Jaga diri ibu baik-baik.”

Sebelum pergi, Jumong dan ketiga temannya berkunjung ke padang rumput tempat dulu Jumong dan Hae Mo Su tinggal dan berlatih bersama. Jumong memandang sedih ke padang rumput itu.

Saat hari sudah gelap, Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo berkemah di padang rumput.
“Hyeopbo, bukankah kau pernah bilang bahwa ayahmu adalah prajurit Da Mul?” tanya Jumong.
“Ya.” ajwan Hyeopbo.
“Apakah ada cara untuk menemukan seseorang dari pasukan itu?”
“Kenapa tiba-tiba kau tertarik pada Pasukan Da Mul? Apakah karena gurumu?” tanya Ma Ri.
Jumong tersenyum dan mengangguk. “Selain itu, aku juga ingin tahu lebih banyak tentang pasukan Da Mul.”
“Ah, aku tahu, Pangeran!” seru Hyeopbo, teringat sesuatu. “Aku mengenal seorang teman ayah dari pasukan Da Mul, tapi aku tidak tahu apakah ia masih hidup atau tidak.”

Malam itu, Geum Wa memimpikan Hae Mo Su. Ia bermimpi saat Hae Mo Su dipanah oleh Iron Army. Geum Wa kemudian menemui Yoo Hwa dikamarnya.
“Apakah alasan Jumong mundur dari kompetisi adalah karena Hae Mo Su?” tanya Geum Wa.
Yoo Hwa menatap Geum Wa dengan terkejut.
“Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa ia sudah tahu?” tanya Geum Wa. “Jika Jumong tahu kebenaran ini, pasti akan terasa berat untuknya. Aku malah berkata hal yang buruk padanya.”
“Dia memang sangat tertekan dan bingung.” kata Yoo Hwa.
“Aku harus bertemu dengan Jumong.” kata Geum Wa. “Aku harus bertemu dengannya dan menceritakan tentang Hae Mo Su.”
“Yang Mulia, Jumong sudah meninggalkan BuYeo.” ujar Yoo Hwa. “Ia ingin menetapkan kembali hatinya yang sedang bimbang.”
“Apa yang Jumong pikirkan tentang aku? Aku telah berkata buruk padanya.” ujar Geum Wa cemas. “Bagaimana ia akan menerima aku?”

Karena Jumong sudah mundur dari kompetisi, para pejabat meminta Geum Wa untuk segera mengakhiri kompetisi Putra Mahkota. Namun Geum Wa ingin melanjutkan kompetisi ini sedikit lebih lama agar calon Putra Mahkota bisa menunjukkan semua kemampuan mereka.
Young Po tersenyum senang. Ia mulai memikirkan cara untuk memperoleh dukungan.
Young Po memanggil dua orang pejabat, yakni We Sa Ja dan Jebu Jo Ui, untuk minum bersama di ruangannya. Ia mencoba menjilat mereka dengan pujian dan berusaha membeli mereka dengan janji-janji. Selain itu, Young Po juga memberi mereka sekotak perhiasan dan batu mulia.

Oo Tae menyerahkan sebuah laporan dari orang mereka di kota Hyeon To. Laporan itu mengatakan bahwa ahli persenjataan Han akan datang ke kota Hyeon To. Selain itu, ia juga akan mengunjung Imdun, Jimbun dan Nan Nak.
Tiba-tiba Gye Pil masuk dan memberitahu So Seo No bahwa Na Ru datang.
Dae So meminta Na Ru agar menjemput So Seo No menemuinya.
“Aku bertanya padamu, antara aku dan Jumong, siapa yang akan menjadi Putra Mahkota?” tanya Dae So. “Aku. Aku, dan bukan Jumong. Klan pedagangmu hanya akan bertahan dengan bantuan BuYeo. Pikirkan kembali keputusan yang bisa menguntungkan untuk usahamu dan untuk dirimu sendiri.”
So Seo No diam.
“Hatiku hanya untukmu, dan hatimu mungkin hanya untuk Jumong.” Dae So melanjutkan. “Tapi, sampai kau bisa memutuskan keputusan yang tepat, aku akan menunggu. Aku akan menunggu sampai hanya ada aku di dalam hatimu.”

Jumong dan kawan-kawannya sampai ke sebuah desa. Ketika mereka ingin minum dan mengambil air dari sumur, seorang wanita menghentikan mereka. Ternyata air di dalam sumur itu adalah darah.
“Kenapa air ini bercampur dengan darah?”tanya Jumong. “Apakah ada orang yang jatuh ke dalam dan mati?”
Wanita itu menggeleng. “Sumur ini selalu menghasilkan air yang bersih.” katanya. “Tapi beberapahari belakangan, secara tiba-tiba sumur ini menghasilkan air darah. Semua ini karena Yeo Mi Eul meninggalkan BuYeo. Ini hukuman untuk BuYeo.”

Setelah itu, Jumong dan kawan-kawan mendatangi sebuah pondok kecil di pinggir hutan. Mereka mengetuk pintu, namun tidak ada yang menjawab.
Tidak jauh dari rumah tersebut, ada seorang pria tua yang sedang bekerja mencangkul tanah.
“Paman!” panggil Hyeopbo. “Paman! Apa kau masih ingat aku? Aku pernah bertemu denganmu ketika masih kecil. Aku Hyeopbo.”
Pria itu menatap Hyeopbo, mencoba mengingat.
“Ingat baik-baik.” kata Hyeopbo. “Ayahku adalah prajurit Da Mul, sama sepertimu.”
“Apa kau putra Jang Gi Ri?” tanya pria itu.
“Ya, Paman!”
Jumong dan yang lainnya membungkuk memberi hormat.
“Aku kemari karena ingin bertanya sesuatu padamu.” kata Hyeopbo.
Jumong maju dan bicara, “Aku ingin mendengar tentang Pasukan Da Mul dan Jenderal Hae Mo Su.”
Pria itu ragu-ragu sejenak, namun Hyeopbo meyakinkan dia bahwa mereka adalah temannya, jadi tidak perlu cemas.

Pria tua itu membawa Jumong dan yang lainnya ke rumahnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak yang berisi beberapa papan kecil. Papan-papan tersebut adalah milik prajurit Da Mul yang pernah bertarung bersama pria itu.
Ia mengambil satu papan dan menunjukkannya pada Hyeopbo. “Ini milik ayahmu.” katanya. “Kami bertarung dengan kekuatan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan Han. Tapi karena Jenderal Hae Mo Su bertarung dengan sangat hebat, kami bisa berada di atas angin. Pasukan Da Mul adalah cahaya dan harapan bagi rakyat Chosun. Sama halnya dengan Jenderal Hae Mo Su. Ia adalah cahaya bagi kami.” Pria itu menangis.
Jumong dan yang lainnya mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Jika ia masih hidup, mungkin dia sudah membebaskan semua pengungsi dan membangun sebuah negara.” ujar pria itu melanjutkan. “Tidak, ia sudah membangun sebuah negara baru di hati kami. Karena dia berkata, sebuah negara bukan mengenai wilayah melainkan hati seseorang yang berada disana.”
Hyeopbo dan Jumong meneteskan air mata.
“Aku harus melihat para pengungsi dengan mataku sendiri.” kata Jumong.

Kuil Ramalan dibuat cemas karena laporan berdatangan tentang peristiwa-peristiwa aneh seperti sumur dengan air darah di Sa Chul Do dan patung yang menangis saat malam di Su Mil Sun. Ini adalah hukuman untuk BuYeo, pikir mereka.
Ma Oo Ryeong melaporkan hal ini pada Geum Wa. Para pejabat meminta Geum Wa agar menyelidiki masalah ini.
Tiba-tiba Jenderal Heuk Chi masuk dan melaporkan bahwa ahli persenjataan Han datang ke kota Hyeon To.
“Jika ahli persenjataan datang, maka artinya mereka sedang memperbanyak produksi persenjataan.” kata Perdana Menteri. “Jika ini terjadi, maka mungkin akan terjadi perang.”

Kedatangan ahli persenjataan Han membuat berbagai pihak menjadi cemas dan curiga.
Dae So memutuskan pergi sendiri ke Hyeon To untuk melihat apa yang terjadi.
Pihak Yeon Ta Bal dan So Seo No juga pergi ke Hyeon To untuk mencoba melakukan transaksi dengan ahli persenjataan Han.

Jumong dan ketiga kawannya melakukan perjalanan ke Hyeon To untuk melihat para pengungsi. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa orang yang mengawasi mereka diam-diam.
Jumong dan yang lainnya mengambil senjata masing-masing dan bersiap-siap menerima serangan para pengintai itu.
“Bunuh saja kami. Sama saja bagi kami jika mati di sini atau di tempat lain.” kata seorang pengintai.
Jumong melihat mereka baik-baik, kemudian menurunkan senjatanya.
“Letakkan senjata kalian.” kata Jumong pada teman-temannya. “Mereka bukan bandit.”
“Kakak, tidak penting mereka bandit atau bukan. Mereka ingin membunuh kita.” kata Ma Ri.
“Tidak.” kata Jumong lagi. “Mereka ketakutan. Letakkan senjata kalian.”
Dengan sangat terpaksa, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo meletakkan senjata mereka.
Para pengintai mengikat Jumong dan yang lainnya, kemudian membawa mereka ke pengungsian kecil. Di sana, mereka hanya tinggal dibawah kayu-kayu kecil yang diikatkan menjadi satu.
“Selain kalian, apa ada orang lain yang ingin membunuh kami?” tanya pengungsi.
“Kami tidak mengejar kalian.” kata Jumong.
“Kalian lebih kejam daripada Han! Mengikuti pengungsi yang telah berhasil meloloskan diri, kemudian melaporkan pada Han agar mendapat hadiah! Banjingan kotor!” teriak pengungsi. “Apa kalian tahu berapa banyak pengungsi yang mati karena kalian?? Aku akan membunuh kalian semua!”
“Kami punya hubungan dengan Pasukan Da Mul.” ujar Jumong tenang.
“Pembohong! Aku adalah prajurit Da Mul. Kau ingin mencoba berbohong di depanku?!”
“Kami tidak bohong.” kata Jumong tenang.
Jumong meminta pengungsi itu untuk melihat benda yang dikalungkan Hyeopbo. Ada tanda Pasukan Da Mul di sana.
“Ini milik ayahku.” kata Hyeopbo.

Para pengungsi melepaskan ikatan Jumong dan yang lainnya. Pengungsi itu menceritakan penderitaan mereka.
“Aku hidup 15 tahun sebagai budak Han di perkemahan budak di Hyeon To. Aku memiliki istri dan anak, tapi mereka sudah tewas. Banyak pengungsi yang mati ketika menjadi budak atau ketika mencoba melarikan diri. Para pengungsi lebih banyak yang dijadikan budak di Jumbun dan Imdun dibandingkan dengan di Hyeon To.”
“Lalu kemana kalian akan pergi?” tanya Jumong.
“Han adalah ancaman. Tidak ada negara yang mau menerima kami.”
“Pergilah ke BuYeo. Raja Geum Wa pasti akan menerima para pengungsi.” ujar Jumong menyarankan. “Kudengar Raja Geum Wa pernah berada di Pasukan Da Mul bersama Jenderal Hae Mo Su.”
“Geum Wa sudah membuang Pasukan Da Mul dan para pengungsi!” teriak pengungsi emosi. “Setelah Jenderal Hae Mo Su meninggal, kami percaya bahwa Geum Wa akan menyelamatkan kami. Kami selalu menunggunya. Tapi, 10 tahun, 20 tahun sudah berlalu dan dia tidak pernah datang untuk menyelamatkan kami. Sudah tidak ada pengungsi yang percaya pada apa yang kau katakan.”
Jumong berniat membantu para pengungsi keluar dari Hyeon To, namun pengungsi menolak. Akhirnya, Jumong menyerahkan keempat kudanya pada para pengungsi agar bisa meringankan perjalanan mereka.

Dae So telah tiba di Hyeon To. Ia menemui Yang Jung dan mengatakan bahwa ia akan menikahi putri Yang Jung jika sudah menjadi Putra Mahkota. Yang terpenting bagi Dae So saat ini adalah mengetahui metode pembuatan senjata baja sehingga bisa membuatnya menjadi Putra Mahkota.
Yang Jung tersenyum.

Saat dalam perjalanan menuju Hyeon To, Jumong melihat beberapa prajurit Han.
“Para pengungsi dalam bahaya!” seru Oyi cemas.
Mereka bergegas berlari untuk menyelamatkan para pengungsi. Prajurit Han membunuh beberapa pengungsi tanpa ampun dan membawa sisanya ke Hyeon To.
“Kita harus menyelamatkan mereka!” kata Jumong.

Jumong mengintai para prajurit Han dari belakang. Ia melepaskan anak panah ke arah prajurit, namun tidak mempan. Semua panah yang ditembakkannya patah setelah mengenai baju perang prajurit Han.
Oyi maju dan menyerang dengan pedangnya. Namun ketika pedang tersebut beradu dengan pedang prajurit Han, pedang Oyi patah.
Senjata mereka sama sekali tidak mempan.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

3 comments on “Jumong – Episode 24

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s