Jumong – Episode 27

Permaisuri Wan Ho dan kroni-kroninya marah-marah pada Geum Wa di belakang karena Geum Wa tidak juga mau mengangkat Dae So.
“Apa yang kau berikan pada BuYeo bahkan lebih dari yang bisa diberikan Raja!” seru Wan Ho marah. “Aku sudah tidak tahan lagi! Jika ia tidak mau memberikan, maka aku yang akan merebutnya!”

Malam itu, Jumong melihat Dae So berjalan bersama Na Ru dari kejauhan. Jika melihat kakaknya, hatinya selalu dipenuhi dengan kemarahan.
Jumong berpikir, “Aku akan menahan dulu rasa dendam dan kemarahanku, sambil menajamkan pedang untuk membalas dendam. Sampai suatu hari nanti, aku akan mengangkat pedangku padamu untuk membalas dendam. Aku akan menahan semua kepahitan yang menghadang jalanku.”

Dilain pihak, Young Po kembali mendatangi Do Chi. Do Chi memberinya saran agar Young Po menjatuhkan Dae So dan Jumong dengan membuat mereka saling bersaing. Ini dinamakan musuh versus musuh. Pada akhirnya, Young Po-lah yang bisa memetik buahnya.

Young Po kembali ke istana dan mengundang Jumong agar berkunjung ke kamarnya.
“Jumong, aku ingin memintamu untuk melupakan semua hal di masa lalu.” kata Young Po memulai. “Aku sering mengorbankan diriku untuk Dae So. Sering kali aku tidak punya pilihan untuk menyiksamu karena Dae So yang memaksaku. Seperti saat aku menculik Bu Young, kak Dae So yang menginginkannya kerena ia ingin mengalahkanmu dalam kompetisi.”
Jumong diam saja, menunduk dengan ekspresi datar.
“Dan, Dae So adalah orang yang memerintahkan pasukan untuk membunuh Hae Mo Su.” Young Po menambahkan. “Aku bahkan tidak tahu kalau dia adalah Hae Mo Su!”
Jumong mendongak, menatap Young Po.
“Young Po, kita berdua sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.” kata Jumong dingin. “Walaupun kau diperintahkan atau dimanfaatkan oleh Dae So, kau harus tetap bertanggung jawab atas apa yang kau perbuat.”
Young Po tertawa pahit. “Ya, kau benar.”
“Aku ingin melupakan semua hal di masa lalu.” Jumong melanjutkan. “Tapi, ada satu hal yang tidak akan pernah aku lupakan.”
“Apa itu?”
“Kau akan mengetahuinya nanti, apa hal yang membuat hatiku begitu sakit.”

Semua orang yang berpihak pada Dae So masih berusaha keras untuk membujuk Geum Wa agar segera mengangkat Dae So.
Namun Geum Wa tetap bersikeras menunda pengangkatan itu dengan alasan, jika ia mengangkat Dae So sekarang, maka kekuatan dan pengaruh di istana akan dikuasai oleh Permaisuri Wan Ho dan orang-orang dari klan Ma Ga, SaChulDo. Dan Geum Wa tidak ingin hal tersebut terjadi.
Perdana Menteri mengatakan jika kedudukan Putra Mahkota belum juga diberikan, maka akan menimbulkan kebingungan di masyarakat juga di pihak istana.
Geum Wa berpikir.

Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo rapat. Mereka membicarakan rencana mencuri bahan-bahan yang digunakan pandai besi dari Han untuk dicampurkan dengan lelehan metal. Meraka harus bisa menemukan bahan-bahan apa saja itu.
Tiba-tiba Song Ju, pengawal pribadi Geum Wa, datang. Ia memanggil Jumong karena Geum Wa ingin menemuinya.
Ternyata, Geum Wa meminta Jumong dan Song Ju untuk menemaninya keluar istana dengan diam-diam.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo menyelinap masuk ke dalam bengkel pandai besi. Ada beberapa prajurit yang menjaga di sana. Dengan hati-hati, mereka mengambil bahan-bahan yang dimiliki para pandai besi Han yang digunakan untuk pencampuran lelehan metal.

Jumong dan Song Ju menemani Geum Wa ke luar istana. Di kota, mereka melihat kerumunan orang. Mereka sedang mengerumuni seorang dukun untuk menghilangkan kesialan dan petaka yang sedang terjadi di BuYeo.
“Air sumur berubah menjadi darah dan batu menangis!” seru dukun. “Ini artinya akan ada pertumpahan darah di BuYeo. Siapa lagi yang mau? Aku akan menyalurkan energiku pada kalian!”
Geum Wa maju. “Apakah kauu pikir aku bisa menghindari petaka?” tanya Geum Wa.
“Raja menginjak-injak Kuil Ramalan dan Peramal Tinggi Yeo Mi Eul meninggalkan BuYeo.” kata dukun. “Tidak ada orang yang bisa menghindari kemarahan langit. Keluarga kerajaan BuYeo yang akan membayar karena membuat langit murka!”
Song Ju maju, hendak mengeluarkan pedang, tapi Jumong menahannya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Geum Wa tenang.
“Kau harus memiliki jimat.” kata dukun itu. “Maka kau bisa menghindari petaka.”
“Aku menginginkan satu.” kata Geum Wa. Jumong menyerahkan sejumlah uang untuk membayar jimat.
Di saat yang sama, Do Chi sedang berjalan di kota dan ingin menemui dukun tersebut. Namun kemudian ia melihat Geum Wa dan Jumong, lalu berlari kabur.

Sekembalinya di istana, Jumong menghibur Geum Wa.
“Dia hanyalah dukun yang ingin mencari uang.” ujar Jumong. “Jangan terlalu dipikirkan.”
“Masyarakat bingung karena aku kurang bijak.” kata Geum Wa. “Bagaimana hatiku tidak berat memikirkan ini?”
“Yang Mulia, kau pasti akan menerima hati rakyat.” kata Jumong. “Tapi ada satu hal yang kau lupakan.”
Geum Wa menoleh dengan pandangan bertanya.
“Pera pengungsi GoJoSeon.” kata Jumong. “Saat aku meninggalkan BuYeo, aku mengunjungi Hyeon To, Jinbun dan Imdun. Di sana, aku menemukan 10.000 pengungsi menderita di bawah tekanan Han. Para pengungsi yang berhasil melarikan diri dari Hyeon To, bahkan enggan datang ke BuYeo. Mereka menunggumu untuk membebaskan mereka. Yang Mulia, apakau kau sungguh telah melupakan pengungsi GoJoSeon?”
Geum Wa terdiam.

Permaisuri Wan Ho mengirimkan sebuah surat pada Ma Ga, pamannya, sehubungan dengan pengangkatan Putra Mahkota. Wan Ho mencoba menekan Geum Wa. Jika Geum Wa terus menunda pengangkatan Putra Mahkota, maka klan SaChulDo akan menolak untuk mematuhi perintah Geum Wa.
“Tanpa dukungan dari mereka, Yang Mulia tidak akan bisa berbuat apa-apa.” kata Wan Ho.
“Tapi bukankan itu akan memancing perang internal?” tanya Dae So.
“Yang Mulia bukanlah orang bodoh yang akan berperang dengan SaChulDo.” kata Wan Ho. “Tunggu dan lihat saja. Aku pasti akan mengubah pikiran Yang Mulia.”

Jumong kembali ke ruangannya. Beberapa saat kemudian, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo datang dengan membawa bahan-bahan dari bengkel pandai besi. Ia memerintahkan mereka agar mengantarkan bahan-bahan tersebut pada Mo Pal Mo di GyehRu.

Yeo Mi Eul berdoa dan bersemedi di pinggir air terjun. Sudah cukup perjalanannya. Kini saatnya ia menuju Jolbon dan memanggil So Ryeong dan Putri Bintang.

Pada saat yang sama, di GyehRu. Sayong sudah menerima informasi mengenai apa yang dijanjikan Dae So pada Yang Jung.
“Menikahi putri Yang Jung?” kata So Seo No, tersenyum.
Sayong tersenyum. “Ia akan menjadi Putra Mahkota BuYeo, tidak ada salahnya jika dia punya banyak wanita.”
So Seo No cemberut. “Maksudmu kau ingin aku menjadi selirnya?!” tanyanya kesal. “Aku penasaran apa yang akan dikatakan Dae So jika aku tahu hal ini. Aku ingin kembali ke BuYeo.”

Di Hyeon To, Yang Jung berniat mengirim mata-mata ke istana BuYeo. Mata-mata tersebut tidak lain adalah para pandai besi Han yang dibawa Dae So.
Yang Jung juga mengatakan pada putrinya, Seol Ran, bahwa ia pasti akan membuat Dae So menjadi Raja.
“Jika Dae So menjadi Raja, maka kaulah yang akan menjadi Raja sebenarnya di BuYeo.” katanya seraya tertawa licik. Seol Ran dan Yang Jung berencana untuk mengambil alih BuYeo.

Kepala klan BiRyu memerintahkan anak buahnya untuk membunuh So Seo No saat ia dalam perjalanan kembali ke BuYeo.
Rombongan So Seo No diserang. Mereka bertarung melawan pada pembunuh dan berhasil menang. Namun tiba-tiba masih ada satu pembunuh yang masih hidup. Ia melemparkan senjata rahasia ke arah So Seo No. Oo Tae melindunginya dan terkena senjata tersebut.
Oo Tae tidak sadarkan diri.
So Seo No dan yang lainnya membawa Oo Tae kembali ke GyehRu.

So Seo No tahu siapa yang melakukan perbuatan ini. Ia kemudian memerintahkan pasukannya untuk menangkap kepala klan BiRyu.
“Beraninya kau melakukan ini padaku!” teriak kepala klan BiRyu. “Apa yang akan kau lakukan padaku?”
“Aku akan memutuskannya setelah melihat apa yang terjadi pada Oo Tae.” kata So Seo No penuh kemarahan. “Jika Oo Tae mati, maka kau juga akan mati. Jika Oo Tae sembuh, maka kau punya kesempatan untuk selamat. Berdoalah pada langit agar Oo Tae selamat. Kurung dia!”

So Seo No menangis melihat kondisi Oo Tae. Sayong masuk dan memberi tahu bahwa Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo datang. Mereka menyerahkan bahan-bahan yang mereka bawa pada Mo Pal Mo.
Mo Pal Mo menggeleng-geleng kecewa. “Aku sudah mencoba mencampurkan semua bahan-bahan ini.” katanya.
Oyi dan yang lainnya kecewa. Mereka memohon diri untuk kembali ke BuYeo.
Mo Pal Mo menyuruh Mu Song untuk membuang bahan-bahan itu. Tapi tiba tiba, “Tunggu! Tunggu!” teriaknya.
Mo Pal Mo melihat bubuk kuning dalam kotak tersebut. “Aku belum pernah mencoba yang ini.” katanya.

Yeo Mi Eul tida di GyehRu. So Seo No meminta bantuannya untuk menyembuhkan Oo Tae.
Yeo Mi Eul berusaha mengobati Oo Tae. Oo Tae akhirnya siuman.
So Seo No memanggil kepala klan BiRyu dan membebaskannya.
“Aku tidak akan pernah melupakan penghinaan yang kau berikan padaku.” kata kepala klan BiRyu.
“Tolong jangan dilupakan. Jika tidak, suatu saat nanti kau akan menerima penghinaan ini lagi.” kata So Seo No dingin.

Keesokkan harinya, Geum Wa mengumumkan pada semua orang bahwa ia akan menerima semua pengungsi GoJoSeon.
Dae So mengemukakan pendapatnya. “Ini akan berdampak buruk pada hubungan BuYeo dan Han.” katanya. “Kita hampir saja berperang dengan Ok Jo karena masalah garam. Jika masalah muncul karena para pengungsi, maka mungkin saja akan terjadi perang dengan Han.”
“Apa yang dikatakan Pangeran Dae So benar.” kata Paman Dae So. “Tidak ada negara yang mau menerima para pengungsi.”
Geum Wa bersikeras. Ia akan menerima para pengungsi GoJoSeon apapun yang terjadi.
“Jenderal!” panggi Geum Wa pada Jenderal Heuk Chi. “Katakan pada semua orang di BuYeo agar melindungi para pengungsi GoJoSeon yang datang ke wilayah BuYeo.”

Geum Wa mendapat pesan dari SaChulDo. Klan SaChulDo berusaha menekan Geum Wa. Geum Wa marah dan berkata bahwa ia tidak akan membiarkan hal tersebut.

Jumong berkunjung ke rumah Yeon Ta Bal untuk meminta informasi mengenai JinBun dan ImDun. Di sana, ia senang melihat So Seo No telah kembali.
Rupanya ia berniat menyerang Jinbun dan Imdun. “Aku ingin mempelajari semua informasi sebelum memberi tahu Yang Mulia.” kata Jumong. “Saat ini, Han sedang melakukan perang dengan Yi. Walaupun BuYeo menyerang Jinbun dan Imdun, mereka tidak akan punya cukup pasukan bantuan untuk dikirim.”
So Seo No cemas. Namun mendengar penjelasan Jumong, ia menjadi sedikit tenang.

Jumong mempelajari informasi yang didapatnya dengan sungguh-sungguh.
Di tempat lain, Mo Pal Mo sedang membuat senjata dengan bubuk kuning yang diperolehnya.

Keesokkan harinya, Mo Pal Mo mencoba memukulkan pedang yang dihasilkannya ke besi. Pedang tersebut utuh.
“Ditemukan.” gumam Mo Pal Mo. Ia mencoba memukulkan pedang tersebut lagi. Utuh. Pedang tersebut tidak tergores sedikitpun. “Ditemukan. Akhirnya ditemukan.” kata Mo Pal Mo terharu. “Aku harus kembali ke BuYeo dan menemui Pangeran Jumong. Sekarang!”

Mo Pal Mo menemui Jumong. “Aku berhasil membuat pedang baja yang tidak patah!” seru Mo Pal Mo.
“Benarkah?” tanya Jumong senang. Ia menerima pedang pemberian Mo Pal Mo. “Oyi, apakah pedang yang kau pakai adalah pedang yang dibuat pandai besi Dae So?”
“Ya.” jawab Oyi.
Jumong mengajak Oyi bertarung dan beradu pedang. Pedang buatan Mo Pal Mo berhasil mematahkan pedang buatan pandai besi Han.
“Komandan!” teriak Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo senang.
Mo Pal Mo menangis terharu.

Malam itu, Jumong menemui Geum Wa dan membawa ringkasan informasi yang dipelajarinya dari laporan milik Yeon Ta Bal.
“Apa alasanmu memberiku informasi ini?” tanya Geum Wa.
“Yang Mulia, tolong berikan aku pasukan.” kata Jumong. “Aku ingin menyerang JinBun dan ImDun untuk membebaskan para pengungsi.”

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s