Jumong – Episode 31

Pesan yang dikirim Dae So melewati Na Ru telah sampai ke tangan Yang Jung.
“Jumong ingin menahan pasukan bantuan Han dan memotong suplier dari Nak Rang.” Yang Jung menjelaskan pada para pejabatnya. “Rute terdekat dari Nak Rang ke Jinbun adalah melewati bukit Akbu. Kirim pembawa pesan ke Nak Nang dan katakan pada meraka untuk mengambil jalan memutar. Setelah itu, ia akan menahan pasukan bantuan kita. Dimanakah titik yang mungkin?”
“Ada tiga tempat yang mungkin.” kata pejabat. “Yang pertama adalah lembah Ekor Ular sangat terjal, namun rute yang paling dekat. Yang kedua adalah bukit Mokpi. Yang terakhir adalah padang rumput SanMook, yang membutuhkan waktu 15 hari lebih lama untuk melewatinya dibandingkan lembah Ekor Ular.”
“Pasukan bantuan akan melewati lembah Ekor Ular menuju Jinbun.” Yang Jung berkata seraya menunjuk peta.
“Gubernur, aku yakin Jumong sudah tahu bahwa kita akan melewati lembah itu.” protes si pejabat.
“Aku ingin melihat Jumong. Lembah Ekor Ular akan menjadi kuburannya.” kata Yang Jung. “Siapkan pasukan dan perintahkan mereka untuk menyiapkan penyergapan di lembah Ekor Ular.”

Selain mengirim pesan pada Yang Jung, Dae So juga mengirim pesan pada Seol Ran.
“Sekarang aku tidak yakin perang antara BuYeo dan Han bisa dihindari.” kata Dae So dalam suratnya. “Hatiku juga merasa berat karena aku terpaksa berperang di luar keinginanku. Jika perang ini menyebabkan konflik yang lebih buruk antara BuYeo dan Han, perasaanku padamu tidak akan berubah. Tolong kau pahami.”
Seol Ran sedih, terkena tipuan Dae So. “Katakan padanya tidak perlu khawatir karena aku mengerti apa yang dia rasakan.” ujar Seol Ran pada Na Ru.

Jumong dan pasukannya mengendarai kuda mereka melewati sebuah padang rumput luas.
“Kenapa kita berhenti, Komandan?” tanya Ma Ri pada Jumong.
“Tika tidak akan pergi ke Bukit Akbu.” kata Jumong.
“Bukankah kau bilang supply Nak Nang akan melewati Bukit Akbu?” tanya Oyi bingung.
“Musuh mungkin sudah tahu kemana kita menuju.” ujar Jumong.
“Apa yang kau maksud adalah Pangeran Dae So?” tanya Ma Ri.
Jumong terdiam. Ia mengeluarkan peta dan memberitahu mereka tentang rencananya yang sebenarnya.
“Mereka akan memanggil jalan memutar.” kata Jumong.
“Jika mereka memutar, mungkin mereka akan lewat sini.” kata Baek San, menunjuk ke peta.
“Aku setuju.” kata Jumong.
“Daratan ini datar. Akan sulit melakukan penyergapan.” kata Man Ho.
“Kita akan melakukan penyergapan di tempat yang tidak mereka perkirakan.” kata Jumong.

Dae So dan Jenderal Heuk Chi mengambil alih pelatihan pasukan di istana. Dae So-lah yang mengajarkan formasi perang pada pasukan BuYeo.
“Kakak!” panggil Young Po ketika Dae So berjalan di istana. “Kenapa kita melakukan ini? Aku benar-benar tidak mengerti. Apa kita akan menolong Jumong? Semua penghargaan pasti akan di dapat olehnya!”
“Perang ini adalah perang BuYeo.” kata Dae So. “Tidak penting kepada siapa penghargaan jatuh. Yang terpenting adalah memenangkan perang.”
Young Po benar-benar tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala kakaknya itu.

Do Chi datang ke istana untuk bertemu Young Po.
“Aku ingin memberitahu sesuatu pada Pangeran.” kata Do Chi. “Perang ini sama sekali tidak menguntungkan untukmu. Kenapa kau tidak mengambil kesempatan ini untuk menghasilkan keuntungan pribadi?”
“Apa itu?” tanya Young Po.
“Yang Mulia, bagi pedagang sepertiku, perang bisa menghasilkan banyak uang. Selama kau menolongku, aku akan memberikan keuntungan untukmu. Di saat perang, hargahaga barang menjadi tidak stabil dan harga akan melonjak naik. Jika kau mengamankan rute dagang untukku, aku akan mengambil barang dari Heng In dan Ok Jo, lalu menjualnya di BuYeo.”

Yeon Ta Bal, So SeoNo, Oo Tae dan Sayong mengadakan rapat.
“Dengan berjalan kaki, pasukan militer akan bergerak lebih cepat dibandingkan dengan rombongan kita.” ujar So Seo No. “Kurasa akan lebih baik bagi kita jika kita berangkat lebih dulu dan membuat perkemahan.”
“Apa yang dikatakan Nona benar.” ujar Sayong. “Jika kita bergerak sebagai rombongan pedagang, kita akan bebas dari observasi Han.”
Mereka melihat peta.
“Kurasa perang akan dilakukan disini.” kata Yeon Ta Bal menunjuk.
“Ya, kita bisa berkemah di sebelah sini.” Oo Tae menyarankan.
Tiba-tiba Gye Pil datang dan melapor bahwa Pangeran Dae So datang untuk menemui So Seo No. Dae So mengamati barang-barang yang telah dipersiapkan So Seo No untuk keperluan perang. Setelah basa-basi tentang keperluan perang, Dae So mulai mengungkapkan maksud sesungguhnya.
“So Seo No, berapa lama kau pikir aku akan menunggumu?” tanya Dae So. “Walaupun saat itu aku dikesampingkan, tapi setelah perang berakhir aku akan berkuasa lagi. Jika saat itu tiba, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan padamu karena sudah menolakku.”
So Seo No tidak menjawab. Dae So pergi sambil tersenyum.
“Ada apa?” tanya Sayong.
“Sekarang dia terang-terangan mengancamku.” jawab So Seo No.
“Selama kau berada di BuYeo, kurasa dia akan semakin buruk.” kata Sayong.
“Mulanya aku berpikir tidak masalah untukku menghadapi sikapnya. Tapi sekarang aku tidak mau melihatnya lagi.” kata So Seo No kesal.

Jumong dan pasukannya bersiaga untuk melakukan penyergapan. Dari jauh, ia melihat Cheon Dong sedang makan. Jumong mendekatinya.
“Cheon Dong, apa kau takut?” tanya Hyeopbo.
“Aku baik-baik saja.” jawab Cheon Dong.
“Jika sudah bersar, aku yakin dia akan menjadi prajurit yang hebat.” kata Ma Ri tertawa.
Jumong duduk di sebelah Cheon Dong. “Aku menempatkanmu di kelompok ini bukan untuk bertarung.” katanya. “Aku ingin kau melihat bagaimana kami mengalahkan Pasukan Han dan membalaskan dendammu.”
Jumong tersenyum dan memegang tangan Cheon Dong. “Dendam bisa membuatmu kuat, juga bisa membuatmu lemah. Balas dendam hanya datang setelah kau merasakan dan menyadari kenapa kita harus mengalahkan Han. Apa kau mengerti?”
“Ya, Komandan.” kata Cheon Dong.
Tiba-tiba Baek San dan beberapa anak buahnya kembali. “Mereka datang.” katanya.

Pembawa supply Han berarak-arak datang.
Jumong memerintahkan pasukannya untuk mengambil posisi. “Jangan menyerang sebelum kuperintahkan. Mengerti?”
Pasukan Jumong bersiap menyerang. Han berarak tepat di hadapan mereka.
Jumong berdiri dan melepaskan panah api, mengenai salah satu prajurit Han.
Terjadi peperangan antara pasukan BuYeo dan pasukan pengawal supplier Han.
Cheon Dong melihat dari jauh, dan mengangkat pedangnya, menyerang salah satu prajurit. Cheon Dong kalah dari prajurit Han, Jumong membantunya.

Yoo Hwa meminta bantuan Mu Song untuk menangkap dukun yang menyebarkan gosip bahwa BuYeo akan kalah perang.
Yoo Hwa bertanya pada dukun itu, siapa yang menyuruhnya.
Mulanya dukun tersebut tidak mau mengaku. Jika ia tetap tidak mau mengaku, Yoo Hwa mengancam akan memenggal kepalanya. Akhirnya dukun tersebut mengaku bahwa Permaisuri Wan Ho dan Peramal Ma Oo Ryeong-lah yang menyuruhnya.
Yoo Hwa memanggil Permaisuri Wan Ho dan Peramal Ma Oo Ryeong. Ia mengancam mereka. Jika mereka melakukan hal seperti ini lagi, Yoo Hwa tidak akan melepaskan mereka.

Rombongan So Seo No berangkat terlebih dahulu.
Tiba-tiba, dalam perjalanan mereka diserang oleh pasukan. Pasukan musuh mengepung mereka.
Sayong terluka dalam pertarungan. So Seo No membantu Sayong naik ke kuda dan menyuruhnya pergi.
So Seo No dan rombongan berhasil dikalahkan, kemudian ditangkap dan dibawa ke perkemahan musuh.
Pasukan yang menyerang So Seo No tersebut ternyata adalah pasukan kiriman kepala klan BiRyu, Song Yang.
“Kita butuh mereka hidup-hidup.” kata Song Yang pada anak buahnya. “Aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk menghabisi Yeon Ta Bal. Kirimkan pesan ke Hyeon To dan katakan bahwa aku sudah mengambil alih supply kebutuhan BuYeo.”

Sayong berhasil kembali ke BuYeo dalam keadaan sekarat. Yeon Ta Bal terkejut dan panik melihatnya.
“Nona dan rombongannya di tangkap oleh kapala kalan BiRyu.” kata Sayong, kemudian pingsan.
Yeon Ta Bal cemas, namun ia tahu bahwa Song Yang tidak akan membunuh So Seo No yang lainnya karena target Song Yang adalah Yeon Ta Bal.

Yeon Ta Bal melaporkan kejadian ini pada Geum Wa, membuat pihak istana kelabakan dan berusaha mencari supplier lain untuk kebutuan perang mereka. Namun menemukan supplier baru membutuhkan waktu. Perdana Menteri menyarankan agar mereka tidak melanjutkan perang karena tidak memiliki supplier.
“Kita masih punya kesempatan jika Jumong berhasil merebut supply dari Nak Nang.” kata Geum Wa, menolak saran Perdana Menteri. “Aku percaya pada Komandan Jumong. Kita tunggu saja dia.”

Dae So khawatir memikirkan So Seo No. Ia memerintahkan Na Ru memimpin sejumlah pasukan untuk menyelamatkan So Seo No dan supply barang.

Jumong dan pasukannya berhasil merebut supply barang Han. Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo memimpin beberapa orang dalam perjalanan kembali ke BuYeo untuk mengantar supply tersebut sementara Jumong bersiap untuk menahan pasukan bantuan Han di tempat lain.
Ketika sudah dekat dengan BuYeo, mereka bertemu dengan beberapa prajurit yang berpatroli, mengatakan bahwa rombongan supplier Yeon Ta Bal yang dipimpin oleh So Seo No, ditangkap oleh Pasukan BiRyu.
Ma Ri dan yang lainnya terkejut. Ia memerintahkan prajurit BuYeo untuk membawa barang-barang yang berhasil mereka rebut dari Han, kemudian berbalik untuk memberitahukan informasi tersebut pada Jumong.

Di tempat lain, pasukan Jumong diserang secara tiba-tiba oleh Iron Army dan pasukan Han.
“Penyergapan! Mundur!” teriak Jumong, memerintahkan pasukannya.
Pasukan Jumong bergegas melarikan diri.

“Di depan ada tebing.” kata Baek San. “Kita dikepung!”
Jumong berpikir sejenak. “Kita akan berkemah di sini dan menyiapkan posisi kita.” katanya. “Kita akan menunggu sampai Pasukan Han menyerang.”

So Seo No merasa sangat bersalah karena semua ini terjadi karena perbuatannya.
“Kita seharusnya tidak melakukan perbuatan itu pada Song Yang.” kata Gye Pil. “Waktu itu kita seharusnya langsung membunuhnya atau membiarkannya saja.”
“Kau benar.” kata So Seo No. “Semua ini terjadi karena kesalahanku. Aku telah menyebabkan masalah pada GyehRu dan Pangeran Jumong.”
So Seo No menangis.

Supply yang direbut pasukan Jumong dari Nak Nang telah tiba di BuYeo. Geum Wa lega mendengarnya.

Jumong dan pasukannya menunggu Pasukan Han menyerang.
Setelah melihat pasukan Han, Jumong dan yang lainnya bergegas menyerang.
Jumong melihat beberapa prajuritnya mati mengenaskan dibunuh oleh prajurit Han.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo tiba di tempat peperangan tersebut. Mereka terkejut dan langsung mambantu pasukan Jumong mengalahkan Iron Army dan Pasukan Han lain.
Iron Army melarikan diri.
“Bagaimana?” tanya Jumong pada Ma Ri dan yang lainnya.
“Kami sudah mengantar supply ke pasukan utama.” kata Oyi.
“Bagus.”
“Tapi ada satu masalah lagi.” kata Hyeopbo.
“Nona So Seo No diserang dan ditangkap oleh pasukan BiRyu dibawah pimpinan Song Yang!” kata Ma Ri.

Di sisi lain, setelah menerima surat peringatan dari Song Yang, Yeon Ta Bal berniat melakukan negosiasi dengannya.
“Aku akan menyerahkan kepalaku jika hal itu bisa menyelamatkan nyawa So Seo No.” kata Yeon Ta Bal. Namun Yeo Mi Eul melarangnya.
“Aku yang akan berunding dengannya.” kata Yeo Mi Eul. “Kau sudah menolongku, maka aku harus memberi sesuatu sebagai gantinya.”

Jumong dangat sedih melihat banyak prajuritnya yang terluka.
Ia memerintahkan Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo agar bersiap berperang.

Kabar dari Yeon Ta Bal tak juga datang.
“Kurasa ayahmu menginginkan kau mati.” kata Song Yang pada So Seo No. “Nyawa putrinya sedang dalam bahaya,tapi dia tidak menanggapi tawaranku.”
“Saat kau sedang menjadikan aku tawanan, mungkin ayahku sudah mengirim pasukan ke untuk menyerang BiRyu.” kata So Seo No mengancam. “Jika aku mati, maka kau juga aka mati.”
“Kita lihat sampai kapan kesombonganmu ini berlanjut.” kata Song Yang seraya berbalik pergi.

Saat hari gelap, Jumong dan pasukannya mengintai perkemahan pasukan Han.
Mula-mula mereka menyerang dengan diam-diam, setelah itu mereka berlari dan menyerang pekemahan secara terang-terangan.
Walaupun pasukan Jumong telah berhasil mengalahkan banyak prajurit Han dan Iron Army, namun kemampuan mereka masih kalah.
Jumong merasa sangat marah melihat Iron Army membunuh pasukannya.
Ia mencengkeram erat pedangnya dan berteriak marah, menyerang Iron Army.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s