Jumong – Episode 37

Pasukan Heuk Chi yang ada di luar istana mendirikan kemah.
Na Ru datang untuk mengirimkan pesan dari Dae So. “Pangeran mengerti kesetiaanmu.” kata Na Ru pada Heuk Chi, menyampaikan pesan Dae Si. “Pangeran mengatakan bahwa belum terlambat jika kau ingin bergabung dengannya.”
“Kembalilah.” kata Heuk Chi. “Aku hanya akan mengabdi pada Yang Mulia dan BuYeo.”
“Ini adalah kesempatan terakhirmu. Jika kau menolak permintaan Pangeran, maka nyawa semua pasukanmu dan keluarga mereka akan berada dalam bahaya. Menyerahlah sekrang.”
Jenderal Heuk Chi menatap para prajuritnya, yang kelihatan cemas memikirkan keluarga mereka.
“Aku tidak akan mau melakukannya!” seru Oyi. “Aku lebih baik mati daripada menyerang.”
“Tidak apa-apa untuk kita, tapi apakah para prajurit ini melakukan kesalahan?” tanya Hyeopbo prihatin. “Keluarga mereka tidak pantas mati.”
Akhirnya, demi pasukannya, Heuk Chi menyerah dan kembali ke istana.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo tidak tahan lagi tinggal di istana. Lagipula, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk Lady Yoo Hwa.
Di kota, mereka bertiga bertemu dengan Mu Song. Mu Song membawa mereka menemui Mo Pal Mo dan Yang Tak, kemudian menceritakan mengenai kemungkinan Jumong masih hidup. Mo Pal Mo meminta tiga serangkai bergabung bersamanya.

Ma Oo Ryeong memberitahukan Wan Ho bahwa ia merasakan ada kekuatan yang menekannya. Ia juga melihat bahwa Dae So ditutupi bayang-bayang kegelapan. Ada kemungkinan Pangeran Jumong masih hidup.
Wan Ho memerintahkan Ma Oo Ryeong agar tidak menceritakan hal ini pada siapapun.
Wan Ho kemudian memberitahukan informasi tersebut pada Dae So.
Dae So berpikir. Ia memerintahkan Na Ru mencari mayat Jumong di sekitar area sungai sampai ketemu. Ia khawatir Jumong benar-benar masih hidup.

Mo Pal Mo, Ma Ri, Oyi, Hyeopbo, Yang Tak dan beberapa prajurit mencari-cari Jumong. Namun belum dapat mengetahui keberadaannya.

Di tempat lain, Ye Soya menemui Sul Tak untuk berunding.
“Jika kau mengembalikan Pangeran Jumong ke BuYeo, mereka pasti akan memberimu hadiah.” kata Ye Soya, mencegah Sul Tak mengirim Jumong ke Hyeon To.
“Sebegitu dekatkan hubunganmu dengannya?” tanya Sul Tak. “Aku akan mengirim dia ke BuYeo, seperti yang kau inginkan. Tapi, karena kau bersikap dingin padaku dan sangat perhatian padanya. Aku tidak akan melakukannya.”
“Menjual Pangeran Jumong ke Han akan merendahkan harga diri klan kita!” Ye Soya berkata dengan agak keras.
“Aku bahkan membunuh ketua klan! Kau pikir aku tidak bisa menjual harga diriku juga?! Aku bersikap seperti ini karena aku menginginkanmu! Semakin kau perhatian padanya, aku akan membuat dia semakin menderita! Memohonlah padaku dan katakan bahwa kau ingin berada di sisiku. Maka paling tidak, aku bisa mengampuni nyawamu.”
Ye Soya menatap Sul Tak dengan marah.

Ye Soya datang ke penjara untuk menemui Jumong. Ia meminta penjaga meninggalkan mereka sebentar.
“Aku sangat malu karena kau telah melihat keburukan klan kami.” kata Ye Soya.
“Setiap klan dan negara memiliki orang-orang yang menginginkan kekuasaan.” kata Jumong memaklumi.
“Tidak ada hal yang bisa kulakukan untuk menolongmu.” ujar Ye Soya menyesal.
“Kau sudah banyak menolongku. Masih ada hal yang harus aku lakukan, jadi aku tidak akan mati semudah itu. Jangan mengkhwatirkan aku.”

Sul Tak mengirimkan pesan pada Yang Jung bahwa ia memiliki Pangeran Jumong dan ingin menjualnya pada Yang Jung.
Yang Jung tertawa. Ia berpikir bahwa Jumong telah meninggal.
“Tapi bagaimana jika ia serius?” tanya anak buah Yang Jung. “Kita ada dalam masalah besar.”
Yang Jung akhirnya memerintahkan Iron Army pergi untuk memastikan.

Hao Chen memberikan informasi pada Seol Ran bahwa dulu Dae So pernah menyukai So Seo No. Dan setelah So Seo No menikah dan Dae So menikahi Seol Ran, Dae So tetap tidak menyerah. Seol Ran merasa marah
“Calon Raja BuYeo bertekuk lutut pada seorang gadis biasa?” gumam Seol Ran sinis. “Aku tidak bisa membiarkan hal ini.”

Seol Ran mencari Dae So.
“Apakah kau sungguh-sungguh bahagia memiliki aku di sisimu?” tanya Seol Ran.
“Tentu saja.” jawab Dae So.
“Melebihi So Seo No?” tanya Seol Ran.
Dae So menoleh dengan terkejut. “Darimana kau tahu tentang So Seo No?”
“Mengetahui kekhawatiranmu adalah bagian dari tugasku sebagai seorang istri.” kata Seol Ran, tersenyum.
“Aku tidak tahu darimana kau tahu, tapi aku tidak akan mengelak. Aku memang menyukai So Seo No.” kata Dae So. “Tapi, itu sebelum aku mengenalmu.”
“Yang aku tahu, kau menyukainya sebelum dan setelah pernikahan kita.” kata Seol Ran tajam. “Pangeran, kau akan menjadi calon Raja BuYeo. Kau bisa memiliki semua wanita yang kau inginkan. Kau bisa datang dan membaritahu padaku jika kau membutuhkan wanita. Aku akan memilihkan selir untukmu.”

Song Yang dan Yang Jung sedang berbincang.
Hao Chen datang ke Hyeon To untuk menyampaikan surat dari Seol Ran. Begitu membaca surat tersebut, Yang Jung marah.
“Dae So! Beraninya kau menyakiti putriku!” seru Yang Jung.

Dae So dan Perdana Menteri membicarakan masalah strategi untuk menghindari kemungkinan pihak Geum Wa dan pihak SaChulDo merebut kekuasaan darinya.
Na Ru masuk, dan memberitahukan Dae So bahwa Song Yang dari BiRyu telah tiba di Istana BuYeo.
Song Yang datang bersama Hao Chen.
“Untuk apa kau datang ke BuYeo” tanya Dae So dingin.
“Pangeran, aku sama sekali tidak punya keinginan untuk melawan BuYeo.” kata Song Yang. “Aku justru ingin menghentikan Yeon Ta Bal untuk membantu perang. Aku membawa surat dari Gubernur Hyeon To.”
Dae So menerima surat dari Yang Jung dan membacanya. “Bagus sekali. Perang sudah berakhir dan aku akan melupakan semua yang sudah terjadi.”
“Aku juga membawa surat dari Gubernur.” kata Hao Chen, menyerahkan surat lain pada Dae So.
Dae So membaca surat tersebut. Raut wajahnya menjadi tegang.

Kedatangan Song Yang ke BuYeo membuat pihak GyehRu cemas. Mereka yakin bahwa Song Yang dan Dae So akan menjadi sekutu.
“Kalau begitu, kita dipojokan oleh BuYeo, Han dan BiRyu.” kata Chae Ryeong khawatir.
“Seharusnya kita sudah kembali ke GyehRu sejak lama.” kata Gye Pil.
Yeon Ta Bal berpikir. Ia memutuskan untuk bicara dengan Dae So sendiri.
Mendadak pelayan masuk dengan panik.
Yeon Ta Bal keluar. Di sana, Na Ru dan pasukannya datang.
“Tangkap Yeon Ta Bal!” seru Na Ru memerintahkan anak buahnya.
So Seo No panik. “Ayah!”
“Bagus.” Yeon Ta Bal berkata dengan tenang. “Aku memang ingin bertemu dengannya. Jangan khawatir.”

Yeon Ta Bal dibawa ke hadapan Dae So.
“Merisaukan masyarakat?” tanya Yeon Ta Bal, mendengar tuduhan yang dilontarkan Dae So padanya. “Aku membantu BuYeo dengan menjadi supplier perang. Bagaimana bisa kau memperlakukan aku seperti ini?”
“Yeon Ta Bal, ketika BuYeo pergi berperang dengan Jinbun dan Imdun, kau telah menjual barang dengan harga 2 kali lipat dari biasanya.” Dae So menunduh Yeon Ta Bal. “Bagaimana bisa kau mengeruk keuntungan ketika masyarakat sedang panik karena perang?”
“Omong kosong apa ini?” seru Yeon Ta Bal. “Aku tidak mengeruk keuntungan! Aku justru memjual barang dengan harga yang rendah pada masyarakat sebelum harga-harga melonjak naik! Kau bisa bertanya pada para pedagang!”
“Bawa pedagang padaku!” perintah Dae So.
Seorang pengawal membawa Do Chi dan Han Dang ke hadapan mereka.
“Ketika perang, barang-barang dari Yeon Ta Bal menjadi sangat mahal.” kata Do Chi berbohong. “Walaupun aku adalah pedagang, tapi aku tidak pernah melihat seseorang yang begitu tidak masuk akal dalam menjual sesuatu.”
“Yeon Ta Bal juga melakukan perdagangan ilegal selama perang.” tambah Han Dang.
“Dengan adanya saksi mata, tidak ada hal yang bisa kulakukan selain menghukummu.” kata Dae So.
Yeon Ta Bal tertawa. Sama seperti saat Geum Wa menertawakan Dae So.
“Sangat memalukan melihat betapa konyolnya seorang pemimpin BuYeo ketika sedang menuduh seseorang.” kata Yeon Ta Bal menyindir. “Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?”
Dae So marah dan berteriak pada pengawalnya untuk mengurung Yeon Ta Bal.

Dae So berpikir, lalu memanggil Song Yang. Dae So mengatakan bahwa ia akan menghukum Yeon Ta Bal atas apa yang telah dilakukan pada rakyat BuYeo, dan meminta Song Yang mengambil alih posisi Yeon Ta Bal di Jolbon.
“Tentu saja, Pangeran.” kata Song Yang. “Rakyat Jolbon sudah tidak lagi menghormati Yeon Ta Bal.”
“BuYeo akan memutuskan segala hubungan dengan GyehRu.” kata Dae So. “Kau bisa mengambil alih posisi itu.”
Song Yang merasa menang dan mengancam Yeon Ta Bal bahwa ia akan menjual orang-orang Yeon Ta Bal sebagai budak.
Yeon Ta Bal hanya tersenyum.

Mendengar tuduhan palsu yang dilemparkan pada ayahnya, So Seo No marah besar. Ia dan Oo Tae bergegas menuju istana untuk menemui Dae So.
Na Ru melaporkan pada Dae So.
“Katakan aku tidak mau menemuinya.” kata Dae So.
“Jangan seperti itu.” bujuk Seol Ran. “Tidakkah kau merasa kasihan pada seorang gadis yang datang untuk menyelamatkan ayahnya?”
Akhirnya Dae So bersedia So Seo No. So Seo No berlutut di hadapannya.
“Tolong ampuni nyawa ayahku.” kata So Seo No.
“Kau tidak pernah melakukan apapun yang kuminta.” kata Dae So. “Sekarang kau memintaku melakukan sesuatu untukmu? Kau tidak punya malu.”
“Jika kau melakukan ini karena amarah, maka bebaskan ayahku dan bunuh saja aku.”
“Ayahmu telah melakukan kejahatan besar.” Dae So berkata agak keras. “Dia akan membayar apa yang telah dia lakukan. Sekarang pergi!”
Seol Ran datang. “Aku pernah melihatmu di Hyeon To.” katanya. “Kau kelihatan sangat sombong. Jadi, kaulah yang bernama So Seo No.” Seol Ran berpaling pada Dae So. “Pangeran, bukankah ia seorang putri yang baik? Dia berharap mati menggantikan ayahnya. Kenapa kau tidak mengabulkan permintaannnya?” Seol Ran berkata begitu dengan lembut dan tenang, namun kata-katanya kejam. Kudengar kau wanita yang cerdas. Tapi melihatmu seperti ini, sepertinya semua itu hanya omong kosong. Aku merasa sedih untukmu juga, Pangeran. Aku tidak percaya kau bisa memiliki perasaan pada seorang gadis bodoh seperti dia.”
“Pergi!” seru Dae So pada So Seo No, kemudian beranjak pergi.
So Seo No hanya diam.

Dae So berpikir sendirian di ruangannya.

So Seo No menjenguk ayahnya di penjara.
Tiba-tiba Dae So datang.
“Hubungan antara BuYeo dan GyehRu sudah berakhir.” kata Dae So tajam. “Mulai saat ini, Yeon Ta Bal, kau dan semua orang GyehRu tidak akan diizinkan menginjakkan kaki di BuYeo lagi.”

Yeon Ta Bal dan yang lainnya kembali ke kediaman GyehRu. Gye Pil menyambut mereka dengan sedih.
“Hapus air matamu dan bersiap-siap meninggalkan BuYeo.” kata So Seo No dingin.

Do Chi senang bukan main mendengar kelompok Yeon Ta Bal akan meninggalkan BuYeo. Setelah semua fitnah yang dilontarkan Do Chi, hasil yang didapatkan sesuai dengan rencananya.

Dae So mengubah susunan beberapa pejabat dan menteri, seusai dengan kebutuhannya a.k.a yang berpihak pada Dae So. Young Po protes karena tidak mendapat kedudukan apapun. Dae So tidak mengacuhkan protesnya.

Geum Wa sudah cukup sehat untuk berjalan-jalan di istana.
Setelah kembali ke kamar, Geum Wa memanggil Dae So. Dae So masuk.
“Yang Mulia, aku ingin melaporkan terlabih dahulu.” kata Dae So. “Aku mengubah susunan dan tugas beberapa menteri. Termasuk ketua klan BiRyu, Song Yang dan…”
“Dae So.” Geum Wa memotong ucapan Dae So. “Aku sudah mengizinkanmu menjadi penggantiku, kau tidak perlu merundingkan masalah negara denganku. Lakukan apapun yang kau suka. Tapi, aku ingin kau berjanji satu hal padaku. Kudengar kau mengurung Lady Yoo Hwa dalam kamarnya. Bersikap kasar pada Lady Yoo Hwa, berarti menghinaku. Aku ingin kau menjaga Lady Yoo Hwa.”
Dae So mendengarkan dengan raut wajah kesal. “Aku akan melaksanakan perintah Yang Mulia.”

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo belum juga menemukan Jumong. Tiba-tiba pasukan Iron Army melewati mereka.
“Jika mereka ada disini, berarti ada sesuatu yang terjadi.” kata Oyi.
“Ada peluang besar bahwa Komandan masih hidup.” kata Ma Ri.
“Kau benar!” ujar Hyeopbo. “Ayo kita cari tahu!”

Di penjara, Sul Tak mengajak Iron Army melihat Jumong.
“Ini memang dia.” kata Iron Army, melihat Jumong dengan seksama.
Sul Tak menyerahkan Jumong pada Iron Army.
Ye Soya, yang juga dikurung dalam penjara yang sama, hanya bisa melihat kepergian mereka dengan cemas. “Pangeran..”
Jumong memandang Ye Soya dengan khawatir. Iron Army mendorong Jumong agar berjalan cepat.

Arak-arakan Iron Army yang membawa Jumong melewati Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo.
“Komandan!” seru Oyi, hendak maju untuk menerjang, tapi Ma Ri dan Hyeopbo menahannya.
Mereka memberitahu informasi tersebut pada Mo Pal Mo dan yang lainnya. Mereka menyusun rencana untuk melakukan penyergapan.
Ma Ri dan yang lainnya bersiap, kemudian serentak menyerang Iron Army.
Pertarungan sengit berlangsung. Mo Pal Mo membebaskan kurungan Jumong.
“Pangeran!” seru Mo Pal Mo, melepaskan ikatan Jumong dan menyerahkan pedang buatannya pada Jumong. “Ini adalah pedang yang lebih kuat dibandingkan pedang Han. Aku membuatnya untukmu.”
Jumong menerima pedang tersebut, dan bertarung dengan Iron Army. Mereka menang.

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s