Jumong – Episode 39

Jumong menyusup dalam istana dan menemui ibunya, Yoo Hwa. Sebelumnya, Jumong menjatuhkan satu pengawal yang tidak sengaja melihatnya.
“Ibu…” panggil Jumong.
“Jumong? Apakah ini mimpi?” tanya Yoo Hwa.
“Tidak ibu. Ini aku, Jumong.”
Yoo Hwa menangis dan memeluk putranya.

Di lain pihak, para pengawal melihat pengawal yang telah dijatuhkan Jumong, kemudian melaporkan hal tersebut pada Na Ru.
Na Ru memerintahkan para pengawal menjaga setiap tempat dan menangkap si penyusup.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo melihat gerakan para pengawal BuYeo. Oyi bergegas masuk ke istana untuk menjemput Jumong karena takut terjadi sesuatu pada Jumong.

Na Ru mencurigai bahwa si penyusup tersebut adalah Jumong. Ia dan beberapa anak buahnya berjalan menuju kamar Yoo Hwa. Mereka masuk dengan paksa.
Jumong sudah tidak berada di kamar Yoo Hwa.
“Geledah kamar ini!” perintah Na Ru.
Yoo Hwa menampar Na Ru. “Apa kau tidak tahu tempat apa ini? Beraninya kau!”
Na Ru marah dan hendak mencabut pedangnya.
“Kau telah mempermalukan aku! Lebih baik aku mati!” seru Yoo Hwa. “Bunuh aku!”
Na Ru terdiam.
“Antar aku pada Dae So!” seru Yoo Hwa. “Aku ingin bertanya apakah semua ini perintahnya!”
“Tolong maafkan aku.” kata Na Ru, mengurungkan niatnya untuk mencabut pedang. Ia dan anak buahnya keluar.

Oyi berhasil menemukan Jumong.
“Kurasa mereka tahu aku menyusup.” kata Jumong. “Kita harus segera pergi dari sini.”
Jumong dan Oyi berjalan, namun tiba-tiba para pengawal mengepung dan mengarahkan pedang pada mereka.
“Berikan kami jalan.” kata Jumong. “Aku dan kalian tidak punya alasan untuk bertarung.”
“Kami dan kalian sudah berjuang bersama, berbagi hidup dan mati.” kata Oyi menambahkan. “Kita semua dan Komandan adalah teman. Kenapa kita harus saling bertarung? Berikan jalan pada kami.”
“Walaupun kalian melawanku, aku tidak akan membunuh kalian.” kata Jumong.
Para pengawal saling berpandangan dan menurunkan pedang mereka. Mereka berlutut di hadapan Jumong.
“Komandan!” seru mereka.
“Aku bersembunyi untuk menghindari keributan.” kata Jumong. “Tapi, itu tidak akan lama. Aku akan segera kembali.”
Oyi dan Jumong pergi, kemudian bertemu dengan Ma Ri dan Hyeopbo.
Ketika Jumong dkk sedang berjalan di kota, Do Chi dan Han Dang melihat mereka.
Do Chi memerintahkan Han Dang untuk mengikuti Jumong dkk.

Yoo Hwa mengabarkan pada Geum Wa bahwa Jumong masih hidup. Geum Wa tersenyum senang.

Han Dang mengikuti Jumong. Secara tidak sengaja, Mu Song melihat Han Dang.
keributan antara Mu Song dan Han Dang membuat Jumong menoleh. Han Dang kabur.
“Ada apa?” tanya Jumong pada Mu Song.
“Peramal Yeo Mi Eul yang mengirimku.” kata Mu Song. “Ia mengatakan, jangan pergi ke BuYeo. Lebih baik kau meninggalkan BuYeo.”
“Meninggalkan BuYeo?” tanya Oyi. “Kemana?”
“Aku juga tidak tahu!” jawab Mu Song. “Tapi dia berkata, jika Pangeran tidak meninggalkan BuYeo, maka akan ada hal buruk yang terjadi.”
“Walaupun begitu, kami tidak bisa pergi saat ini.” kata Jumong.

Rombongan pedagang Yeon Ta Bal telah tiba di BuYeo.
Setibanya disana, Yeon Ta Bal memutuskan untuk mundur dari posisinya sebagai Kepala Klan GyehRu dan mengangkat So Seo No sebagai gantinya.
“Ayah, aku tidak memiliki kemampuan.” ujar So Seo No menolak. “Karena kesalahanku, kelompok pedagang kita mengalami bahaya. Aku tidak punya kemampuan dan pengalaman untuk menerima ini. Aku tahu Ayah lelah, tapi Ayah harus tetap memimpin GyehRu.”
Yeon Ta Bal tersenyum. “Justru karena kau yang telah menyebabkan bahaya, maka kau harus menyelesaikannya. Bukan hanya aku, Oo Tae dan Sayong akan selalu mendukungmu. Cobalah.”
Chae Ryeong keberatan dengan keputusan Yeon Ta Bal dan meminta Yeon Ta Bal berpikir kembali. Namun keputusan Yeon Ta Bal sudah bulat.

Chae Ryeong marah-marah di depan Yang Tak. “Bagaimana bisa orang yang telah membuat klan kita jatuh, justru diangkat menjadi Kepala Klan?”serunya. “Aku tidak bisa menerima semua ini.”
“Walaupun begitu, kita tidak bisa menentang perintahnya.” kata Yang Tak.
“Kenapa tidak?” tanya Chae Ryeong. “Jika perlu, aku akan bersekutu dengan Song Yang! Jika ini terus berlanjut, maka GyehRu akan hancur!”
“Kita tidak boleh bersekutu dengan Song Yang!” tolak Yang Tak.
“Apakah kau akan mengizinkan dia mengambil segalanya?” tanya Chae Ryeong. “Jika So Seo No menjadi Kepala Klan, kau tidak akan punya kekuasaan dan pengaruh lagi!”

Mo Pal Mo mengucapkan selamat karena So Seo No telah diangkat menjadi Kepala Klan. Ia juga bertanya apakah So Seo No sudah bertemu dengan Pangeran Jumong.
So Seo No bingung.
Mo Pal Mo mengatakan bahwa Pangeran Jumong masih hidup. Kabar tersebut membuat So Seo No sangat terkejut.
So Seo No menangis diam-diam. Yeo Mi Eul berjalan mendekatinya.
“Semuanya sudah terjadi.” kata Yeo Mi Eul. “Apa gunanya penyesalan?”
“Aku berpikir, apa kesalahan yang kuperbuat hingga aku pantas mendapatkan semua ini.” kata So Seo No, menangis.
Yeo Mi Eul mengenggam tangan So Seo No untuk menenangkan.
“Aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan pada Pangeran Jumong dan Kak Oo Tae. Apa yang harus kulakukan?”
“Bersikaplah seolah, semua ini adalah bagian dari takdir.” jawab Yeo Mi Eul. “Takdir yang tidak akan dapat dihindari ataupun diubah.”
So Seo No menangis. Oo Tae melihatnya dari jauh dengan sedih.

Semalaman, Sayong menemani Oo Tae.
“Berhentilah minum.” kata Sayong.
“Wanita yang kucintai seumur hidupku sedang sedih.” ujar Oo Tae sedih. “Tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuknya.”

Song Ju datang menemui Jumong untuk menyampaikan pesan dari Geum Wa.
“Komandan!” seru Song Ju ketika melihat Jumong. “Yang Mulia memintaku menyerahkan ini padamu.”
Jumong menerima surat dari Geum Wa, lalu membacanya.

Geum Wa meminta para pejabat berkumpul di ruang pertemuan.
“Aku mendengar kabar bahwa Jumong sudah kembali hidup-hidup.” kata Geum Wa. “Apakah kalian juga mendengarnya?”
Paman Dae So mengatakan bahwa itu hanyalah gosip.
“Aku juga berharap ia masih hidup.” Dae So menanggapi. “Tapi, jika Jumong memang masih hidup, kenapa ia tidak kembali ke istana?”
“Apa mungkin ada seseorang yang membuatnya sulit untuk kembali?” tanya Geum Wa menusuk.
“Yang Mulia, Jumong adalah Jenderal yang berperang dan menang melawan Jinbun dan Imdun,” ujar Dae So. “Jika ia masih hidup, siapa yang tidak mau menyambutnya? Jika ada orang yang menghalangi Jumong kembali, aku tidak akan memaafkannya.”
Geum Wa tertawa. “Bagus sekali.” ujar Geum Wa. “Kabar mengenai Jumong adalah kebenaran.”
Para pejabat terkejut dan salah tingkah.
“Song Ju.” panggil Geum Wa. “Bawa Jumong kemari.”
“Ya, Yang Mulia.” ujar Song Ju.

Song Ju menjemput Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo, kemudian membawa mereka ke istana. Geum Wa dan para pejabat istana menyambut kedatangan Jumong.
Dae So sangat terpukul melihat Jumong, sementara Young Po tersenyum-senyum senang.
Jumong berlutut di hadapan Geum Wa.
“Yang Mulia, aku, Jumong, kembali ke istana tanpa menyelesaikan tugas yang diberikan padaku. Aku gagal memenangkan peperangan melawan Han. Aku tidak Tolong, hukumlah aku.”
“Kau telah kembali dengan selamat.” Geum Wa tersenyum. “Aku tidak akan membahas lagi masalah itu.”

Di saat yang bersamaan, Peramal Ma Oo Ryeong memberitahu Wan Ho bahwa Wan Ho tidak perlu khawatir lagi mengenai Jumong karena Ma Oo Ryeong tidak bisa merasakan aura Jumong. Mereka berpikir bahwa Jumong tidak akan lagi kembali ke BuYeo.
Wan Ho lega.
Mendadak pelayan Wan Ho masuk dan mengatakan bahwa Pangeran Jumong telah kembali.
Wan Ho terkejut dan menatap Ma Oo Ryeong tajam.

Geum Wa bicara empat mata dengan Jumong. Geum Wa mewanti-wanti Jumong.
“Dae So telah mengikat tangan dan kakiku.” ujar Geum Wa. “Jika ia ingin membunuh kita, akan sangat mudah baginya. Kita harus merendahkan dulu diri kita dan mencari kesempatan yang tepat. Untuk saat ini, mempertahankan hidup kita adalah prioritas utama.”
Jumong berpikir.

Young Po mulai mendekati Jumong lagi.
“Komandan Jumong.” panggilnya. “Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Silahkan bicara.” ujar Jumong.
Young Po mengajak Jumong bicara di tempat yang sepi.
“Kau harus menghentikan Dae So.” kata Young Po. “Hanya kaulah yang bisa melakukannya. Aku akan membantumu.”
Jumong tidak mengatakan apapun.
“Kenapa kau tidak mengatakan apapun?” tanya Young Po.
“Aku baru saja kembali ke istana. Apa kekuasaan yang kumiliki?” tanya Jumong. “Keadaan BuYeo menjadi stabil karena Pangeran Dae So.”
“Apa katamu?!”
“Saat ini, kondisi Yang Mulia masih belum pulih benar. Dalam kondisinya yang sekarang, akan sangat berbahaya jika ia harus mengurus pemerintahan. Menurut pendapatku, pemerintahan yang dijalankan Dae So tidak salah.”
“Jumong!” protes Young Po.
“Aku harap, kau juga akan membantu Dae So.” kata Jumong mengakhiri pembicaraan.
Young Po tidak habis pikir.

Jumong kemudian menemui Dae So diruangannya. Ia menawarkan bantuannya pada Dae So.
“Kau bilang, kau akan membantuku?” tanya Dae So curiga. “Aiapa ang akan percaya pada apa yang kau katakan?”
“Ada saatnya ketika kita jatuh, tapi aku bukan orang bodoh yang tidak mengerti situasi yang sedang terjadi.” kata Jumong. “Kau telah memegang kekuasaan. Bagaimana bisa aku tetap menentangmu? Kau sudah membuat keadaan BuYeo stabil saat BuYeo berada dalam kekacauan. Aku tidak ingin menghancurkan semua itu. Tolong percayalah padaku.”

Jumong mengajak Ye Soya menemui Yoo Hwa.
“Ini ibuku.” kata Jumong. mengenalkan Yoo Hwa pada Ye Soya.
Ye Soya menunduk memberi hormat. “Namaku Ye Soya.”
Yoo Hwa tersenyum melihat Ye Soya.
“Ia adalah gadis yang menolongku.” ujar Jumong. “Ia adalah putri Kepala Klan HanBaek. Jika ia tidak merawatku, maka aku tidak akan bisa melihat ibu lagi.”
“Terima kasih.” kata Yoo Hwa. Ia kemudian menyuruh mereka duduk.
“Ibu, kau harus menjaga Soya.” kata Jumong. “Soya sudah kehilangan ayah dan klannya.”
“Kau pasti sangat terluka.” kata Yoo Hwa, merasakan dirinya yang dulu. “Orang yang tidak pernah mengalaminya, tidak akan mengerti. Kuatkan dirimu. Waktu untuk membalas dendam akan segera datang.”
Diluar, Yoo Hwa bicara berdua dengan Jumong, membicarakan pernikahan So Seo No. Yoo Hwa meminta Jumong melupakan So Seo No.

Jumong ingin pergi diam-diam ke GyehRu untuk menemui So Seo No.
Ma Ri dan Hyeopbo mencoba melarang, namun Oyi tidak. Ia berpendapat, jika memang hubungan berakhir, maka harus diakhiri dengan baik-baik.

Di Hyeon To, Song Yang meminta senjata baja dari Yang Jung agar bisa sepadan melawan senjata baja GyehRu. Yang Jung setuju.

Secara diam-diam, Chae Ryeong dan putranya, Chan Soo, datang menemui Song Yang di kediaman BiRyu. Mereka menawarkan kerja sama untuk menjatuhkan So Seo No, dan membuat Chan Soo menjadi kepala klan GyehRu. Jika Chan Soo menjadi kepala klan GyehRu, maka GyehRu akan membantu dan bersekutu dengan BiRyu.
Song Yang setuju.

Para kepala klan Jolbon datang ke GyehRu. Mereka melakukan pemungutan suara untuk menurunkan Yeon Ta Bal sebagai Kepala Jolbon. Jika Yeon Ta Bal menolak, maka Hwanna, BiRyu, Yeonna dan Gwanna akan menyatakan perang dengan GyehRu.
“Kami sudah memutuskan untuk menunjuk Song Yang sebagai kepala Jolbon.” kata salah seorang kepala klan.
Yeon Ta Bal berpikir. Akhirnya ia menyetujui penurunan dirinya. GyehRu benar-benar sedang dipojokkan.
So Seo No protes. “Kenapa ayah mau menyerahkan posisi tanpa berperang?” tanyanya.
“Kita memiliki persenjataan baja.” kata Oo Tae menambahkan.
“Dibelakang Song Yang, ada Dae So dan Yang Jung.” ujar Yeon Ta Bal menjelaskan. “Kata ‘perang’ hanya akan dilontarkan apabila seseorang memiliki rasa percaya diri. Jika terjadi perang, maka rakyat akan menderita. Aku… tidak akan mau berperang.”

So Seo No sangat sedih dan merasa bersalah atas segala yang menimpa BuYeo. Tiba-tiba ia merasakan perutnya sakit, kemudian jatuh pingsan.

Chae Ryeong membawa sebuah pedang pada Song Yang. Mereka sedang merencanakan sesuatu.
Di bengkel pandai besi GyehRu, beberapa orang berpakaian hitam dan memakai penutup wajah muncul dan menangkap Mo pal Mo.

Pangeran Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo tiba di GyehRu.
So Seo No melihat kedatangan Jumong dari jauh dan meneteskan air mata.
“Aku datang ingin meminta maaf padamu dan So Seo No.” kata Jumong pada Yeon Ta Bal.

So Seo No pergi, tidak bisa melihat Jumong lebih lama lagi.
Oo Tae mendatanginya. “Pangeran Jumong ada disini. Temui dia.”
“Tidak perlu.” tolak So Seo No. “Dia adalah orang yang harus kulupakan.”

Jumong menemui Yeo Mi Eul, So Ryeong dan Putri Bintang.
So Ryeong meminta Jumong segera meninggalkan BuYeo. Jika tidak, akan ada hal buruk yang terjadi. Yeo Mi Eul membenarkan.
“Aku tidak bisa meninggalkan Yang Mulia dan ibuku.” kata Jumong.
“Walaupunn Pangeran Dae So memiliki kekuasaan, namun ia masih harus berhadapan dengan para menteri dan rakyat. Ia tidak akan berani menyakiti Yang Mulia dan Nyonya Yoo Hwa.” kata Yeo Mi Eul. “Jika kau tetap disana, Dae So akan mengikat sayapmu. Ada dunia yang lebih besar di luar BuYeo. Kau harus mewujudkan sebuah tugas besar.”

“Komandan!” teriak Oyi, datang berlari bersama Ma Ri dan Hyeopbo.
“Ada apa?”
“Mo Pal Mo dan Mu Song ditangkap oleh Song Yang!” kata Ma Ri.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s