Jumong – Episode 40

Mu Song dan Mo Pal Mo dikurung dalam penjara. Song Yang menangkap mereka agar bisa diserahkan pada Pangeran Dae So.
Mu Song ketakutan setegah mati.
Mo Pal Mo hanya berkata, “Mu Song, ini takdirmu. Jika kita ditakdirkan mati, maka kita akan mati. Jika kita ditakdirkan hidup, maka kita akan hidup.”

Oyi, seorang diri, menyusup ke dalam kediaman BiRyu untuk melihat keadaan.
Ia kemudian melaporkannya pada Jumong dan yang lainnya. “Benar. Mereka memang dikurung di kediaman Song Yang.” kata Oyi. “Song Yang akan mengirim mereka pada Dae So. Jika mereka ada di tangan Dae So, maka Ketua akan dipaksa membuat senjata khusus lagi. Dan Jika Ketua menolak, maka ia akan dibunuh.”
Jumong berpikir. Sulit bagi mereka bertarung sendirian melawan Pasukan BiRyu.

Di pihak lain, GyehRu juga sedang mengadakan rapat.
“Jika persenjataan khusus jatuh ke tangan Dae So, maka BiRyu akan mendapatkan stok persenjataan dari BuYeo.” kata Yeon Ta Bal. Hal ini akan lebih menyulitkan lagi bagi mereka.
“Song Yang sudah mendapatkan senjata dari Han, ditambah lagi kini ia didukung oleh Pangeran Dae So. Jika keadaan seperti ini terus, mereka akan mencoba menyerang GyehRu.” kata Sayong cemas.
“Jika kita mengerahkan pasukan, maka kita bisa menyelamatkan Mo Pal Mo.” So Seo No menyarankan.
“Aku ingin membantu Pangeran Jumong.” kata Oo Tae.
Sang Tak dan Chae Ryeong menolak. Mereka berkata bahwa biarkan saja Jumong yang menyelesaikan masalah ini sendirian. Jika tidak, maka bisa memancing peperangan dengan BiRyu.
So SeoNo berpikir. “Pinjamkan saja pasukan pada Pangeran Jumong, namun tidak membantunya lebih jauh.” saran So Seo No.
“So Seo No benar.” kata Yeon Ta Bal setuju. “Jika Pangeran Jumong meminta pasukan, berikan pasukan padanya.”

Chae Ryeong dan Yang Tak cemas. Jika Jumong berhasil menyelamatkan Mo Pal Mo, maka Song Yang tidak akan menepati janjinya pada mereka. Mereka akan mencari cara untuk mencegah hal itu.

Yeon Ta Bal dan So Seo No menemui Jumong.
Jumong menoleh ke arah So Seo No sedikit, namun tidak mengatakan apa-apa.
“Apakah Anda bersedia mambantu kami?” tanyanya pada Yeon Ta Bal.
“Kami akan menyelamatkannya.” kata Yeon Ta Bal. “Mo Pal Mo adalah orang yang sangat berharga untuk kita. Kami bisa meminjamkan pasukan, tapi kami tidak bisa ikut campur secara langsung.”
“Aku mengerti.” kata Jumong.
Yeon Ta Bal berjalan pergi. So Seo No tetap di tempat.
“Jadi kau selamat. Aku sangat bersyukur.” kata So Seo No dengan mata berkaca-kaca. “Aku pernah berjanji bahwa takdirku adalah berdampingan denganmu, tapi karena kurangnya keyakinanku maka aku tidak menunggumu. Tolong maafkan aku.”
“Akulah yang seharusnya minta maaf.” ujar Jumong. “Aku tidak berhati-hati dan tidak bisa melindungimu. Tolong maafkan aku.”
“Apa pentingnya hal itu sekarang? GyehRu sedang berada dalam posisi yang sulit. Saat ini bukan waktunya untuk menyesali hal telah berlalu.” So Seo No berkata dengan sedih. “Walaupun akan sulit melupakan kenangan bersamamu, tapi aku akan berusaha melupakan segalanya. Jangan pikirkan aku lagi.”
So Seo No membungkuk memberi hormat.” Jaga dirimu.” Kemudian berbalik pergi. Saat itulah So Seo No meneteskan air matanya.

Yang Tak dan Chae Ryeong melaporkan pada Song Yang bahwa Pangeran Jumong akan meminjam pasukan Yeon Ta Bal. Song Yang akan menambah jumlah pasukannya.

Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo membicarakan strategi penyelamatan mereka.
Tiba-tiba Yang Tak masuk. “Pangeran, aku tahu rute mana yang akan diambil Song Yang untuk Mo Pal Mo.”
“Benarkah?” tanya Oyi. “Rute yang mana?”
Yang Tak menunjuk ke peta. “Yang ini.”
“Itu adalah rute pengunungan.” kata Ma Ri.
Jumong berpikir. “Kita harus menyiapkan penyergapan terlebih dahulu.” katanya.
Ia dan pasukannya pergi.

Jumong dan pasukannya bersiap menyergap di rute yang ditunjuk Yang Tak. Tapi, setelah lama menunggu, tidak ada juga tanda-tanda kemunculan pasukan Song Yang.
Tiba-tiba seseorang mengendarai kuda, dan mendekati mereka. Itu adalah Sayong.
“Ada kabar buruk.” kata Sayong. “Kurasa Song Yang membodohi kita. Rute yang diambil pasukannya adalah melewati hulu sungai BiRyu dan mereka sudah melewatinya. Jika mereka sudah melewatinya, maka mungkin saat ini mereka sudah berada di wilayah BuYeo.”
“Orang yang memberi tahu rute ini pada kami adalah Yang Tak.” kata Oyi. “Apakah ia membantu Song Yang?”
“Aku belum yakin.” jawab Sayong.
Jumong bergegas mengajak Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo menuju BuYeo. Sebelum pergi, Hyeopbo mengatakan pada Sayong untuk menjaga dirinya. Cara mereka memandang satu sama lain sepertinya aneh. Hehe..
Sayong memerintahkan pasukan GyehRu untuk kembali.

Lady Yoo Hwa memanggil Ye Soya ke kamarnya. Yoo Hwa mengatakan pada Ye Soya, jika ia menemukan kesulitan hidup di istana, ia boleh menemui Yoo Hwa.
“Yang Mulia ingin menemuimu.” kata Yoo Hwa, mengajak Ye So Ya ke kamar Geum Wa.
Si perjalanan, Seol Ran melihat Ye Soya. Ia memerintahkan Hao Chen agar mencari tahu mengenai Ye Soya.

Yoo Hwa dan Ye Soya tiba di kamar Geum Wa. Geum Wa menyambut mereka dengan hangat.
Geum Wa menceritakan pada Ye Soya mengenai Ye Chun, ayah Ye Soya, kemudian meminta Yoo Hwa menjaga Ye Soya.
Setelah percakapan singkat, Ye Soya keluar dari ruangan tersebut.
Yoo Hwa dan Geum Wa berbincang.
“Aku ingin Ye Soya menjadi istri Jumong.” kata Yoo Hwa mengutarakan keinginannya. “Bagaimana menurutmu, Yang Mulia?”
“Dia putri Ye Chun.” kata Geum Wa. “Dia pasti memiliki sikap dan hati yang baik. Aku setuju denganmu.”

Hao Chen sudah mendapat informasi mengenai Ye Soya dan melaporkan pada Seol Ran.
Seol Ran meminta Hao Chen membawa Ye Soya menemuinya.
“Perkenalkan dirimu!” ujar Hao Chen pada Ye Soya. “Wanita ini adalah istri Pangeran Dae So.”
Ye Soya memberi hormat. “Namaku Ye Soya.”
“Apa kau tidak sadar, berapa banyak orang yang tidak suka karena kau menyelamatkan Jumong?” tanya Seol Ran sinis. “Kudengar, klanmu menjual kuda pada Hyeon To, tapi kenapa kau menolong Pangeran Jumong?”
“Alasanku sama denganmu.” jawab Ye Soya. “Bukankah kau menikahi Pangeran dari negara musuh? ”
“Apa?!” Seol Ran mulai marah. “Apa kau menertawakan aku?”
“Klan HanBaek kami, menderita dibawah tekanan Han selama bertahun-tahun. Jadi bagaimana mungkin aku berani menertawakan putri Gubernur Hyeon To? Aku… merasa sangat takut menghadapimu seperti ini.”
“Karena kau telah menyelamatkan Jumong, kurasa kita berada di pihak yang berlawanan.” kata Seol Ran, mengancam. “Aku tidak suka jika ada orang yang menghalangi jalan Pangeran Dae So. Berhati-hatilah.”
Ye Soya berjalan pergi.
“Sepertinya dia bukan orang biasa.” kata Seol Ran pada Hao Chen.
“Lady Yoo Hwa melindunginya.” kata Hao Chen. “Akan sangat berbahaya jika kita melakukan sesuatu padanya.”
“Kenapa aku harus takut pada Lady Yoo Hwa?” Seol Ran berkata sinis. “Aku ingin menggunakan gadis itu untuk kepentingan kita. Aku ingin membuat sesuatu yang menarik.”

Jumong dan ketiga temannya melihat pasukan Song Yang dari jauh. Ia dan Oyi berniat akan menyerang mereka langsung, sementara Hyeopbo dan Ma Ri harus menggunakan kesempatan itu untuk menyelamatkan Mo Pal Mo.
Ketika Jumong hendak menyerang, mendadak Na Ru dan pasukannya datang untuk membawa Mo Pal Mo. Jumong gagal.

Mo Pal Mo dan Mu Song dibawa ke istana BuYeo untuk menemui Dae So.
Di bengkel pandai besi, Dae So melihat pedang buatan Mo Pal Mo dan memukulkannya pada besi. Pedang tersebut tetap utuh. Dae So terkesan.
“Kau membuat pedang seperti ini dan masih saja berbohong padaku?!” seru Dae So pada Mo Pal Mo. “Kau ingin mati, bukan?”
“Aku tidak tahu apapun mengenai pedang itu.” kata Mo Pal Mo bersikeras.
Dae So kehilangan kesabaran dan mengangkat pedangnya ke arah Mo Pal Mo.

Di tempat yang lain, Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo sangat mencemaskan Mo Pal Mo. Jika Mo Pal Mo terus berbohong, maka Dae So akan membunuhnya.
Jumong berpikir.

Dae So meminta Na Ru mencari Jumong.
“Ada hal yang harus kau lakukan.” kata Dae So pada Jumong. “Mo Pal Mo membuat pedang yang lebih kuat daripada pedang Han, tapi ia tidak mau bicara. Kau sangat dekat dengan Mo Pal Mo. Jadi hanya kaulah yang bisa membujuk Mo Pal Mo untuk membuat pedang itu. Jika Mo Pal Mo jika tidak mendengarkanmu, kau harus membunuh Mo Pal Mo dengan tanganmu sendiri.”

Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyepbo pergi ke bengkel pandai besi untuk menemui Mo Pal Mo. Jumong melepas ikatan Mo Pal Mo.
Mo Pal Mo menangis. “Pangeran, Pangeran Dae So ingin aku membuat pedang. Tapi.. aku lebih baik mati daripada melakukannya.”
“Mo Pal Mo, buatkan pedang untuknya.” pinta Jumong.
Ma Ri dan yang lainnya terkejut.
“Kau ingin aku membuat pedang khusus untuk Pangeran Dae So?” tanya Mo Pal Mo terkejut.
“Kau harus membuat pedang baja.” kata Jumong.
“Kenapa Pangeran mengatakan hal seperti ini padaku?” tanya Mo Pal Mo sedih. “Aku tidak bisa… tidak… Pangeran Dae So akan memberikan rahasia ini pada Han. Aku tidak bisa melakukannya. Tidak.. tidak…”
“Kau harus membuatnya, jika tidak maka aku harus membunuhmu dengan tanganku sendiri.” kata Jumong sedih.

Jumong berjalan pergi.
“Pangeran!” panggil Oyi. “Kenapa bisa menjadi seperti ini? Mo Pal Mo menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengembangkan senjata baja untukmu. Apakah kau benar-benar ingin menyerahkan pedang itu pada Pangeran Dae So?”
“Mo Pal Mo bahkan rela memberikan hidupnya untukmu, Pangeran!” tambah Hyeopbo. “Dengan bersikap seperti ini, berarti sama dengan mengkhianatinya!”
“Apakah kau sudah memutuskan akan tunduk pada Pangeran Dae So?” tanya Ma Ri.
Jumong terdiam sejenak, kemudian berkata tanpa menjawab pertanyaan mereka, “Jangan biarkan Mo Pal Mo melakukan hal lain. Awasi dia.” Kemudian pergi.

Di penjara, Mo Pal Mo menangis. “Kenapa Pangeran Jumong memperlakukan aku seperti ini? Kalau begitu, untuk apa aku hidup lagi?”

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo marah.
“Tunduk pada Pangeran Dae So?! Untuk apa semua ini?!” seru Ma Ri marah-marah.
“Apa kau masih ingat apa yang dikatakan Pangeran setelah meninggalkan Jinbun dan Imdun?” tanya Oyi. “Bukankah dia bilang bahwa dia akan melanjutkan impian Jenderal Hae Mo Su? Untuk menyelamatkan rakyat GoJoSeon! Untuk merebut kembali wilayah kita! Tapi kenapa ini? Apa dia sudah melupakan semuanya?”
“Kau benar Oyi.” kata Hyeopbo, kecewa pada Jumong. “Jika hidup seperti ini, lebih baik kita meninggalkan BuYeo.”
Ma Ri menarik napas dalam-dalam.
Tanpa mereka ketahui, Jumong ada di dekat situ dan mendengar pembicaraan mereka.

Malamnya, secara langsung, Jumong meminta Mo Pal Mo membuat pedang.
“Pangeran, ada apa denganmu?’ tanya Mo Pal Mo. “Lebih baik kau bunuh saja aku.”
“Aku sungguk.. akan membunuhmu.” kata Jumong dingin. “Cepat kerjakan.”
“Baiklah.” kata Mo Pal Mo, akhirnya setuju. “Aku sungguh tidak mengerti kenapa Pangeran menjadi berubah seperti ini. Tapi aku, tetap mempercayai Pangeran. Aku mempercayai pangeran, jadi aku akan menuruti perintahmu.”
Mo Pal Mo menangis, kemudian membuat pedang.

Jumong menemui Dae So dan mengatakan bahwa Mo Pal Mo sudah mulai membuat pedang.
“Terima kasih untuk kerja kerasmu.” kata Dae So senang. Ia menyuruh Na Ru menyiapkan jamuan karena ia ingin minumbersama Jumong.

Young Po merencanakan sesuatu bersama Do Chi. “Tidak boleh ada seorang pun yang tahu!” Young Po memperingatkan.
Do Chi kemudian membisiki Han Dang.
Han Dang berseru kaget, “Membunuh Pangeran Dae So?!”
Do Chi memukul kepala Han Dang. “Pelankan suaramu! Jika rencana ini sukses, kita akan mendapatkan segalanya!”
“Ini gila!” seru Han Dang protes. “Jika kita gagal, maka kita semua akan mati!”

Young Po kembali ke istana. Di sana, ia berpapasan dengan Dae So.
“Young Po, bagaimana jika kau membantu Menteri Paja. Belajarlah sesuatu mengenai perpajakkan.” kata Dae So pada Young Po.
Young Po memasang tampang malas. “Aku tidak pandai dalam angka. Kau juga tahu hal ini kan, Pangeran. Apa kau ingin memberiku masalah lagi? Menginginkanku melakukan sesuatu yang aku tidak bisa?” tanyanya sinis.
“Karena itulah aku ingin kau belajar.” kata Dae So.
Young Po melawan kata-kata Dae So, kemudian berjalan pergi.
Young Po menemui Jumong dan mengatakan bahwa tidak tahan lagi pada sikap Dae So yang ingin menjadi pengganti sementara Yang Mulia padahal kesehatan Yang Mulia sudah membaik. Ia ingin Yang Mulia kembali ke tahta.
Jumong malah berkata, “Suatu saat nanti, Yang Mulia akan mau mengakui Pangeran Dae So.”
Young Po menggembrak meja dengan marah. “Aku tidak percaya kau menjadi seperti ini! Baiklah, bertekuk lututlah dibawah kaki Dae Su. Kuharap kau mendapatkan kehidupan yang baik!”

Di bengkel pandai besi, Mo Pal Mo tidak ingin ada seorangpun yang tahu mengenai rahasia pembuatan pedang. Oleh karena itu, ia menyuruh semua pekerja keluar.
Keesokkan harinya, Mo Pal Mo selesai membuat pedang. Jumong menunjukkannya pada Dae So di bengkel pandai besi.
Dae So tertawa senang.

Dong Sun dan Wang So Mun datang ke BuYeo atas perintah Yang Jung. Mereka menyampaikan pesan Yang Jung untuk membuat BuYeo memberi jaminan agar tidak lagi terjadi perang seperti yang lalu.
“Apa yang diinginkannya?” tanya Dae So.
“Ia meminta seseorang yang penting dari BuYeo dikirimkan ke Chang An.”
“Sebagai tawanan?” tanya Dae So tajam.
“Berpikirlah bahwa hal tersebut sebagai hubungan persahabatan diantara kedua negara.” kata Wang So Mun. “Gubernur tidak ingin merusak hubungan kalian dengan Han.”
“Seseorang yang penting? Orang dengan posisi apa yang ia inginkan?” tanya Dae So.
“Paling tidak, ia adalah seorang Pangeran.”

Para pejabat protes dan tidak suka dengan permintaan yang diajukan Han.
“Kita tidak boleh mengirim siapa-siapa!” kata seorang pejabat.
“Tapi, jika kita menolak, akan terjadi perang lagi!” kata Paman Dae So.
“Bahkan jika hal ini akan menyebabkan perang, kita harus tetap menolak!” kata Heuk Chi.

Wan Ho menyarankan pada Dae So untuk mengirim Jumong. Tentu saja, siapa lagi? Mereka beranggapan, karena Jumong-lah yang telah memulai perang, maka Jumong juga yang harus bertanggung jawab.
Yoo Hwa, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo menjadi cemas.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo bertanya pada Jumong mengenai informasi tersebut.
“Aku belum mendengarnya langsung.” kata Jumong.
“Itu sudah pasti, Pangeran.” kata Ma Ri. “Jika aku adalah Pangeran Dae So, pasti aku akan mengirimmu.”
“Pangeran, untuk apa hidup seperti ini?” tanya Ma Ri. “Lebih baik kita meninggalkan BuYeo.”
Jumong tidak mengatakan apapun.
Tiba-tiba Na Ru datang. Ia mengatakan bahwa Dae So ingin bertemu dengan Jumong.

Jumong menuju ke ruangan Dae So. Di sana, sudah tersedia minuman dan makanan.
“Segala masalah yang datang membuatku merasa sangat lelah.” kata Dae So. “Tapi, aku merasa lebih nyaman dibanding sebelumnya. Ini semua berkat kau.”
“Maafkan aku, karena tidak bisa banyak membantumu.” kata Jumong.
“Hubungan yang buruk antara kau dan aku, bukan hanya para pejabat yang tahu, rakyat pun tahu. Tapi, karena kau telah membujuk Mo Pal Mo dan membuat BuYeo lebih kuat, kau sudah membantuku. Jika saja Young Po bisa belajar darimu.”
Dae So terdiam sejenak. “Jumong, aku ingin meminta sebuah hal yang sulit.”
“Katakanlah.” kata Jumong.
“Han ingin BuYeo mengirimkan seseorang yang penting, kau pasti sudah tahu.” ujar Dae So. “Akan sangat baik jika kau pergi. Negara Han jauh lebih luas dibandingkan BuYeo. Jika kau pergi kesana, kau bisa belajar banyak hal. Setelah selesai belajar, aku akan menempatkanmu pada jabatan penting.”
Jumong tidak mengatakan apapun.
“Sebenarnya, aku belum bisa mempercayaimu sepenuhnya. Tapi jika kau menerima tugas ini, aku akan mempercayaimu. Jika kau pergi ke Chang An, maka bukan hanya Lady Yoo Hwa, tapi semua orang yang berhubungan denganmu akan kulindungi. Maukah kau menerima tugas ini?

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s