Jumong – Episode 41

“Apa katamu?!” seru Mo Pal Mo pada Ma Ri dan Hyeopbo. “Pangeran Jumong akan dibawa ke Han sebagai jaminan perdamaian?! Tidak ! Dia tidak boleh pergi!”
“Alasan kenapa Pangeran Jumong melakukan semua yang Pangeran Dae So minta adalah demi keselamatan Yang Mulia dan Lady Yoo Hwa.” kata Ma Ri. “Pangeran Jumong menahan penghinaan ini.”
“Tidak, tidak tidak.” gumam Mo Pal Mo.

Pangeran Jumong tidak sengaja bertemu Ye Soya. “Kenapa kau di luar?”
“Aku ingin mencari udara segar.” jawab Ye Soya.
“Apakah ada sesuatu yang membuatmu cemas?” tanya Jumong khawatir.
“Kudengar Pangeran akan pergi ke Han sebagai jaminan perdamaian.” jawab Ye Soya. “Apa itu benar?”
Jumong tersenyum. “Benar. Aku baru saja bertemu dengan Dae Si dan ia memintaku. Tapi kedengarannya seperti perintah.”
Ye Soya sedih.
“Jika aku tidak pergi, maka Raja, ibuku dan kau akan berada dalam bahaya.” Jumong menjelaskan.
“Tolong jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan.” ujar Ye Soya.
“Maafkan aku karena tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.”

Paman Dae So mengabarkan para para pejabat yang lain bahwa Jumong-lah yang akan pergi ke Han.
“Pangeran Jumong tidak bisa pergi.” kata Perdana Menteri.
“Apa maksudmu?” tanya Paman Dae So. “Jika bukan Pangeran Jumong yang pergi, lalu siapa lagi?”
“Kita tidak boleh mengirim Pangeran Jumong.” kata Perdana Menteri lagi.
Perdana Menteri kemudian menemui Dae So untuk mengutarakan pendapatnya. “Kau harus membuat Jumong tetap berada di dekatmu.” katanya pada Dae So.
“Aku tidak berpikir tentang itu.” kata Dae So. “Lalu siapakah yang harus ku kirim?”
“Pangeran Young Po.” jawab Perdana Menteri cepat. “Pangeran Young Po tidak bisa melakukan apa-apa. Jika kau mengirimnya, maka kau bisa mengurangi satu masalah.”
“Apa kau pikir Permaisuri akan mengizinkan?” tanya Dae So ragu.
“Pangeran, jika kau ingin menjadi Raja di masa depan, maka kau harus menghancurkan dinding Permaisuri.” kata Perdana Menteri.

Dae So setuju untuk mengirimkan Young Po.
“Kakak!” seru Young Po. “Apakah kau benar-benar ingin mengirimku kesana?!” seru Young Po pada Dae So.
“Young Po, ini kesempatan yang sangat baik.” kata Dae So membujuk. “Kau pikir aku akan memberikan kesempatan baik ini pada Jumong? Jika kau pergi, aku akan memberikan jabatan apapun yang kau mau.”
“Jika ini memang kesempatan yang baik, kenapa bukan kau saja yang pergi?” tanya Young Po kesal. “Aku sudah tidak takut apa-apa lagi. Aku juga sudah pernah dikurung dalam penjara. Aku tidak mau pergi!”
“Kau!” Dae So mencengkeram kerah pakaian Young Po.
“Berhenti kalian berdua!” seru Wan Ho, masuk ke dalam ruangan. “Pada saat seperti sekarang ini, kalian harus saling membantu! Bukan selalu bertengkar untuk setiap masalah kecil!”
Young Po mengadu. “Ibu, Kak Dae So ingin mengirimku sebagai jaminan perdamaian.”
“Dae So, aku tahu kau punya rencana. Tapi jangan kirim Young Po.” kata Wan Ho.
“Ibu…” Dae So hendak membujuk.
“Aku tidak ingin bicara lagi. Jika kau mengirim Young Po pergi, maka itu bisa membunuhku.”

Young Po marah besar. Ia mengambil sebuah pedang dan menemui Perdana Menteri.
“Perdana Menteri, apakah kau yang menyarankan agar aku menjadi jaminan perdamaian?” tanya Young Po marah.
“Benar.” jawab Perdana Menteri tenang.
Young Po mengangkat pedang dan mengarahkannya ke leher Perdana Menteri.
“Ini semua kulakukan untukmu.” kata Perdana Menteri. “Jika kau pergi ke Chang An untuk merasakan dan belajar hal-hal baru, kau akan menjadi lebih dewasa.”
“Diam! Apa aku terlihat bodoh?! Pengalamanku sama dengan Kak Dae So!”
Perdana Menteri hanya diam dan tersenyum tipis.
“Berhati-hatilah kalian. Jika kalian meremehkan aku, maka kalian akan membayarnya!”

Yoo Hwa sangat mencemaskan Jumong. Ia menceritakan pada Geum Wa bahwa Pangeran Dae So ingin menjadikan Jumong jaminan perdamaian.
Ia kemudian meminta Song Ju memanggil Dae So agar menemuinya.
“Apa kau tidak punya kehormatan sama sekali?” tanya Geum Wa ketika mengetahui bahwa Dae So ingin mengirim seseorang untuk Han.
“Tentu saja aku punya.” jawab Dae So. “Tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan kehormatan. Sejak perang terakhir itu, Han berencana untuk berperang lagi melawan kita. Untuk mencegah itu, aku menikahi seseorang yang tidak kucintai. Yang Mulia, kehormatan tidak bisa menghentikan perang. Kita tidak mendapat apapun dari perang.”
“Lalu jika mereka meminta kita menyerahkan BuYeo, apakah kau mau?” tanya Geum Wa. “Jika mereka meminta nyawamu, apakah kau mau?”
Dae So tidak menjawab.
“Tidak bisakah kau melihat pedang tersembunyi dibalik ucapan manis mereka?” tanya Geum Wa.
“Jangan pandang aku sebagai orang yang bodoh.” kata Dae So. “Aku akan membuat pedang yang hebat dan melindungi BuYeo dari segala ancaman. Pada akhirnya tidak akan ada lagi orang yang berani mengancam BuYeo.”
“Siapa yang akan kau kirim?”
“Aku akan mengirim Jumong.” jawab Dae So. “Jika Jumong menolak, aku akan menghukumnya.”
Geum Wa tertawa pahit melihat sikap anaknya.

Do Chi datang ke istana untuk membicarakan rencana pembunuhan Dae So dengan Young Po. Oyi memata-matai mereka dan curiga.
Malamnya, Oyi, Ma Ri dan Hyeobpo mengintai rumah Do Chi. Young Po masuk ke sana.
Young Po ingin melihat petarung-petarung yang akan mereka gunakan untuk menyerang Dae So. Do Chi mengatakan bahwa mereka adalah petarung terbaik.

Seol Ran menyarankan pada Dae So bahwa sebelum dikirim ke Han, ada baiknya Jumong dinikahkan.
“Apa kau mengenal Ye Soya?” tanya Seol Ran. “Sebelum kau mengirim Jumong ke Chang An, kenapa kau tidak mengadakan upacara pernikahan antara Jumong dan Ye Soya? Aku yakin Pangeran Jumong masih menyimpan perasaan pada So Seo No. Bukankah itu sangat menarik?”
Dae So tidak mengatakan apapun.
“Jika Pangeran Jumong menikah, aku penasaran bagaimana perasaan So Seo No.” Seol Ran tersenyum.

Geum Wa dan Yoo Hwa meminta Song Ju membawa Jumong ke kamarnya.
“Jumong, aku tahu Dae So ingin mengirimmu ke Chang An.” kata Geum Wa. “Aku ingin kau meninggalkan BuYeo dan tidak pergi ke Han. Walaupun aku memintamu mengalah dan mengindari konfrontasi dengan Dae So, tapi pergi ke Han bukanlah keputusan yang tepat.”
“Yang Mulia, aku sudah memutuskan untuk pergi.” kata Jumong.
“Apa maksudmu?” tanya Yoo Hwa cemas. “Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padamu.”
“Tapi jika aku tidak pergi, Yang Mulia dan ibu mungkin akan berada dalam bahaya.” kata Jumong. “Han adalah musuh BuYeo. Aku akan pergi ke tempat musuh, jadi aku bisa mempelajari segalanya mengenai mereka. Aku berjanji aku akan kembali.”
Yoo Hwa dan Geum Wa tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Jumong memberi jawaban pada Dae So. Ia bersedia dikirim ke Chang An dengan syarat Dae So harus melindungi Yang Mulia dan ibunya. Selain itu, Dae So harus mengizinkan Ye Soya tetap tinggal di istana.
Dae So tersenyum. “Jumong, kenapa kau tidak menikahi Ye Soya sebelum pergi?” tanya Dae So. “Aku merasa tidak tenang karena kau harus pergi ke tempat yang sangat jauh. Jika Ye Soya ikut denganmu ke Han, kau tidak akan merasa kesepian dan kau akan terbantu dengan ini.”
Jumong tidak berkata apa-apa.
“Aku tahu kau masih belum bisa melupakan So Seo No. Lupakan dia dan menikahlah dengan seorang wanita yang bisa membantumu.” kata Dae So menyarankan.

Ketika Jumong sedang berpikir, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo datang untuk memberikan kabar mengenai kegiatan Young Po dan Do Chi yang sangat mencurigakan.
“Mereka melatih pasukan dengan kemampuan yang hebat.” kata Oyi.
Jumong berpikir, teringat percakapan terakhirnya dengan Young Po. Ia curiga bahwa Young Po akan melakukan sesuatu yang besar.

Di Hyeon To, Yang Jung mencari-cari masalah dengan pedagang bawahan Yeon Ta Bal yang bertugas di Hyeon To.
“Saat perang yang lalu, kau memberi bantuan pada BuYeo, tapi sekarang, beraninya kau berdagang di Han!” seru Yang Jung.
“Kami sebagai pedagang hanya berdagang untuk mendapatkan keuntungan.” kata si Pedagang. “Kami tidak mengerti mengenai urusan kedua negara. Gubernur, tolong izinkan kami berdagang di sini.”
“Diam kau!”bentak Yang Jung. “Dong Sun! Bawa orang ini ke penjara dan pukuli anak buahnya!”

Mendengar kabar mengenai pedagangnya di Hyeon To, So Seo No menjadi sangat marah.
“Aku sudah tidak bisa lagi menahan penghinaan dari Song Yang.” katanya. “Aku akan menyerang BiRyu dan membunuh Song Yang.”
“Nona, menyerang BiRyu hanya akan membuat kita hancur.” kata Yang Tak.
“Aku tidak bisa membiarkannya. Aku harus merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita.” kata So Seo No.
“Aku setuju pada Nona.” kata Sayong. “Tapi bagaimana kita melakukannya? Kita tidak cukup kuat. Kita harus menemukan cara lain untuk membunuh Song Yang tanpa peperangan. Kita harus mengambil alih Jolbon.”
“Aku akan memanggil pembunuh bayaran untuk membunuh Song Yang.” kata Oo Tae. “Kita tidak punya cara lain.”

Chae Ryeong meminta putranya, Chan Soo, untuk mengantarkan pesan pada Song Yang. Bagaimanapun juga, ia harus menjadikan Chan Soo kepala klan.

So Seo No merasa tertekan pada masalah yang menimpa klannya, terlebih lagi karena ia adalah kepala klan. Namun Yeon Ta Bal menguatkannya, mengatakan bahwa So Seo No pasti bisa melakukan yang terbaik.

Yeo Mi Eul menasehati So Seo No agar tidak melakukan sesuatu yang gegabah.
“Bencana baru saja di mulai” katanya. “Tidak lama lagi, Pangeran Jumong akan meninggalkan BuYeo. Hubunganmu dengan Pangeran Jumong mungkin tidak akan membaik, tapi sudah menjadi takdir kalian untuk bertemu kembali. Kalian berdua akan bergabung dan mewujudkan sesuatu yang hebat. Sampai saat itu tiba, kau harus menahan semua kesulitan yang kau alami dan menunggu.”

“Young Po akan mencoba membunuh Dae So.” kata Jumong.
“Petarung-petarung itu memang tangguh, tapi mereka tidak akan bisa menghadapi prajurit Dae So.” kata Oyi.
“Jika ia berencana menyerang saat Dae So meninggalkan istana, maka itu mungkin.” kata Jumong.
“Pangeran, itu bagus untuk kita.” kata Hyeopbo. “Ini bisa menjadi kesempatan untukmu.”
“Kalian bertiga, awasi gerak-gerik Young Po dan lihat kapan jadwal Dae So keluar istana.” kata Jumong.

Saat pertemuan pejabat istana, Paman Dae So mengatakan bahwa Song Yang ingin Dae So berkunjung ke negaranya.
“Kekuatan Song Yang belum sebesar Yeon Ta Bal.” kata Perdana Menteri. “Pangeran harus membantu Song Yang agar bisa lebih kuat.”
Dae So mengangguk. “Jolbon adalah negara yang sangat kecil. Aku ingin membantu Song Yang karena dia telah membantuku membawa Mo Pal Mo. Aku juga berencana menarik pajak dari mereka untuk membantu BuYeo.”
“Itu keputusan yang sangat bijaksana, Pangeran.” kata Perdana Menteri.
Dae So menyuruh Perdana Menteri menyiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya.

Young Po berpikir. Ia ingin membunuh Dae So, namun jika gagal maka nyawanyalah sendiri yang akan berada dalam bahaya. Ia akhirnya terpikir sebuah ide.
“Pakaikan seragam militer Jolbon pada petarung-petarung kita.” kata Young Po. “Dan serang Dae So di dekat Jolbon. Dengan begitu, jika kita gagal, maka Dae So akan mengira bahwa pasukan Jolbon-lah yang telah menyerangnya.”

Keesokkan harinya, Do Chi menyuruh petarungnya menggunakan seragam prajurit GyehRu.
Oyi memata-matai mereka dan melaporkan hal tersebut pada Jumong.
“Jika mereka gagal, mereka akan menyalahkan pasukan GyehRu.” kata Jumong. “Cepat panggil Ma Ri dan Hyeopbo!”

Dae So berkunjung ke Jolbon. Di sana, ia bertemu dengan Song Yang dan kepala klan Jolbon yang lain, termasuk So Seo No.
“Mulai saat ini, BuYeo dan Jolbon akan membina hubungan baik.” kata Dae So. “Jika ada yang menyerang Jolbon, maka mereka harus berhadapan dengan kami.”
“Kami sangat berterima kasih.” kata Song Yang.
“Jika kami membantumu, kau juga harus melakukan sesuatu untuk kami.” kata Dae So. “Kami ingin memintamu agar membayar pajak pada BuYeo.”
So Seo No dan kepala klan lain terkejut. Namun Song Yang menyetujui. “Kami akan melaksanakan permintaanmu, Pangeran.”

Setelah pertemuan dengan kepala klan, Dae So bicara dengan So Seo No.
“Aku punya berita baik tentang Jumong.” kata Dae So.
“Aku tidak punya alasan untuk mendengarkan berita itu.” tanggap So Seo No.
Dae So tertawa. “Kau sangat menyedihkan ketika berusaha melupakan Jumong.” katanya.
“Aku akan pergi.” So Seo No berbalik.
“Jumong, akan pergi ke Chang An sebagai jaminan perdamaian.” kata Dae So. “Tapi sebelumnya, ia akan menikahi Ye Soya. Aku penasaran tentang perasaanmu. Sekarang kau mengerti bagaimana rasanya ketika kau menolakku.”
So Seo No tidak mengatakan apapun dan berjalan pergi.

Dae So dan rombongannya dalam perjalanan kembali ke BuYeo.
Han Dang memerintahkan pasukannya menyerang rombongan Dae So. Terjadi pertarungan yang sengit.
Para prajurit BuYeo mati-matian melindungi Dae So.
Pasukan BuYeo terjepit.
“Pangeran, cepat pergi dari sini!” seru Na Ru pada Dae So.
Tiba-tiba, Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo datang dan menolong Dae So. Mereka menghabisi para prajurit yang menyerang Dae So dengan cepat.
Jumong menggunakan kemampuan memanahnya yang luar biasa untuk menyelamatkan Dae So.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jumong pada Dae So.
“Aku baik baik saja.” Dae So berpaling pada Na Ru. “Siapa mereka?”
“Mereka adalah pasukan GyehRu.” jawab Na Ru.
“So Seo No..” gumam Dae So. “Aku tidak akan melepaskan So Seo No dan GyehRu!”
“Tolong dipikirkan lagi.” kata Jumong. “Jika GyehRu yang melakukan ini, mereka pasti tidak akan menggunakan seragam perangnya. Mungkin ini jebakan.”
“Aku setuju dengan pendapat Pangeran Jumong.” ujar Na Ru. “Mereka pasti menyamar menjadi prajurit GyehRu.”
“Temukan yang masih hidup!” perintah Dae So.

Young Po cemas. Ia bertanya pada Han Dang apakah rencana mereka berhasil.
Han Dang mengatakan bahwa Jumong membantu Dae So, sehingga menggagalkan rencana mereka.
Young Po marah besar, kemudian kembali ke istana.

Do Chi dan Han Dang berniat melarikan diri, namun tiba-tiba Na Ru dan pasukannya datang.
Na Ru memukuli Do Chi dan Han Dang, kemudian memerintahkan prajuritnya menangkap mereka.

Young Po cemas bukan main. Ia dan Ibunya menyambut kepulangan Dae So.
“Dae So, aku sudah mendengar.” kata Wan Ho. “Apakah kau terluka?”
“Tidak, ibu.” jawab Dae So. “Jumong menyelamatkan aku.”
“Kakak, aku lega kau tidak terluka.” kata Young Po.
Dae So menoleh ke arah Young Po dan menatapnya dengan pandangan tajam. Ia berjalan mendekati Young Po. Beberapa saat kemudian, Na Ru datang bersama Do Chi dan Han Dang.
Dae So mengeluarkan pedangnya, dan mengarahkan ke leher Young Po.
“Kakak!” seru Young Po ketakutan.
“Dae So, apa yang kau lakukan?!” tanya Wan Ho.
“Bajingan ini mencoba membunuhku!” kata Dae So marah. “Semua itu adalah konspirasi yang dibuatnya!”

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s