Jumong – Episode 42

“Semua ini adalah konspirasinya!” seru Dae So.
“Kakak, ini kesalahpahaman.” kata Young Po. “Bagaimana mungkin aku melakukan tindakan seperti itu?”
“Diam!” bentar Dae So. “Prajurit yang menyerangku menyamar sebagai prajurit GyehRu. Kau ingin lepas dari tanggung jawab ini!”
“Apakah itu benar?” tanya Wan Ho pada Young Po.
Young Po tidak menjawab.
“Katakan padaku, Young Po!” kata Wan Ho.
“Ibu..” Young Po tidak bisa lagi berbohong. Do Chi juga sudah mengaku bahwa Young Po-lah orang yang telah memerintahkan mereka.
Dae So marah besar, kemudian membunuh Do Chi dan Han Dang. Ia kembali mengarahkan pedang ke leher Young Po. “Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja!”
“Kakak…”
“Kau adalah orang yang ingin membunuhku!” bentak Dae So. “Bagaimana mungkin kau menyebutku kakak?”
“Bunuh saja aku.” kata Young Po pasrah.
“Baik! Kau pikir aku tidak berani?!” Dae So mengangkat pedangnya, tapi Wan Ho melindungi Young Po.
“Jangan bunuh dia! Demi aku, jangan bunuh dia!” jerit Wan Ho. “Dae So, ibu mohon kepadamu.”
Dae So menurunkan pedangnya. “Kurung dia dalam penjara!”
Jumong hanya bisa diam. Demi GyehRu, tidak ada pilihan lain baginya selain menyelamatkan Pangeran Dae So.

Dae So memanggil Jumong agar menemuinya.
“Walaupun Young Po telah melakukan kesalahan, tolong ampuni nyawanya.” pinta Jumong pada Dae So.
“Dia selalu mengacaukan segalanya. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya.” kata Dae So. Ia berpaling pada Jumong. “Para prajurit dan pejabat yang akan menjemputmu akan segera tiba. Sangat disayangkan bahwa aku harus mengirim pergi orang yang telah menyelamatkan aku, tapi tidak punya cara lain. Aku akan mencari cara dan melakukan segalanya untuk memastikan kau kembali dengan cepat.”

Malam itu, Geum Wa banyak minum arak. “Karena kekuasaan, putra-putraku saling menyakiti anggota keluarganya.” Geum Wa berkata pada Yoo Hwa seraya tertawa pahit. “Akulah yang harus disalahkan. Dae So sudah mencampakkan aku. Putra-putraku tersesat dalam kekuasan. Semua itu… semua itu adalah salahku.”

Wan Ho menangis, sangat mencemaskan Young Po karena Dae So mungkin akan membunuh Young Po. “Bagaimana cara meredam kemarahan Dae So?” pikirnya.

Dae So sedang frustasi. Seol Ran menemuinya.
“Aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang.” kata Seol Ran.
“Jika kau memang mengerti, tolong tinggalkan aku sendiri.” ujar Dae So.
“Pangeran, tidak ada hal yang harus dipusingkan.” Seol Ran menyarankan. “Pangeran Young Po…. bunuh saja dia.”
Dae So menoleh ke arah Seol Ran dengan terkejut.
Dengan tenang, Seol Ran menambahkan, “Sebagai seorang pangeran, ia bekerja sama dengan pedagang untuk membunuhmu. Rakyat akan menertawakan tindakannya itu. Maka untuk memulihkan kekuasaanmu lagi, kau harus melenyapkan Young Po.”
“Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri.” kata Dae So acuh. “Kau boleh pergi.”
“Pangeran, aku hanya…”
“Kubilang pergi!” bentak Dae So. Seol Ran terdiam. “Dalam kata-katamu, sepertinya kau merendahkan aku dan BuYeo. Lain kali, jaga ucapanmu di depanku.”
Seol Wan tersenyum. “Jika aku membuatmu marah, aku minta maaf.”

Walaupun berusaha keras untuk tidak memikirkan Jumong, namun Seok Ran masih belum bisa melupakannya. Kata-kata Dae So tentang pernikahan Jumong masih terngiang di telinganya. Di tambah lagi, Sayong mengatakan bahwa Jumong menolong Dae So untuk melindungi GyehRu.
Oo Tae menemui So Seo No dan berkata bahwa gerak-gerik Yeon Chae Ryeong sangat mencurigakan. Ada seseorang yang melihat Chae Ryeong menemui Song Yang. Bisa jadi, Chae Ryeong adalah mata-mata Song Yang.
Pihak GyehRu sengaja mengirimkan sekelompok pembunuh bayaran untuk membunuh Song Yang.
Chae Ryeong kemudian meminta pelayannya agar mengirim pesan untuk Song Yang melalui seorang mata-mata. Ia ingin memberitahu bahwa Song Yang bahwa So Seo No mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhnya.
Setelah pesan tersebut diberikan oleh pelayan pada si pembawa pesan, mereka dihadang oleh Oo Tae. Oo Tae membunuh si pembawa pesan, sementara pelayan tersebut dibiarkan hidup. “Jangan muncul di hadapan Chae Ryeong sebelum kuperintahkan!” kata Oo Tae.
Oo Tae memberikan surat Chae Ryeong ke So Seo No. So Seo No membaca surat itu, dan meminta Oo Tae merahasiakannya. “Aku akan mengatasi masalah ini.” kata So Seo No.

So Seo No berkunjung ke ruangan Chae Ryeong dan menunjukkan surat tersebut.
“Aku hanya takut GyehRu akan hancur, karena itulah aku ingin menghentikannya.” kata Chae Ryeong memberi alasan.
So Seo No kelihatan marah. “Sebagai pemimpin GyehRu, aku bisa menghukummu karena bekerjasama dengan musuh, Bibi. Tapi, untuk saat ini aku tidak akan menghukummu, demi ayahku. Tapi jika kejadian seperti ini terulang lagi, maka aku tidak akan mengampunimu.”
Begitu keluar dari kamar Chae Ryeong, perut So Seo No sakit lagi. Pelayan bergegas memanggil Yeo Mi Eul untuk memeriksa So Seo No.
Yeo Mi Eul datang ke kamar So Seo No dan memeriksa denyut nadinya.
“Apa yang terjadi apda putriku?” tanya Yeon Ta Bal cemas.
“Selamat. So Seo No sedang mengandung.” kata Yeo Mi Eul.

Yang Jung sudah mengirim orang untuk menjemput Jumong.
Jumong mengucapkan selamat tinggal pada Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo. Namun mereka bertiga tetap ingin berada di sisi Jumong kemanapun Jumong pergi.
Setelah itu, Jumong menemui Mo Pal Mo untuk mengucapkan selamat tinggal. Mo Pal Mo menangis dan sangat sedih, mengatakan bahwa ia ingin ikut dengan Jumong. Tapi tentu saja Jumong menolak. Jumong yakin bahwa semua kesulitan dan masalah ini pasti akan membuat mereka lebih kuat. Demi mewujudkan apa yang menjadi tujuan mereka, maka pengorbanan diperlukan dan kesulitan harus dilalui.
Mereka minum bersama.
“Kalian harus menjaga Pangeran.” kata Mo Pal Mo pada tiga serangkai. “Jika terjadi sesuatu pada Pangeran, aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri.”

Jumong menemui ibunya.
“Aku tidak akan mengomentari keputusanmu.” kata Yoo Hwa. “Tapi, sebagai ibumu, terima saranku. Sebelum pergi ke Chang An, menikahlah terlebih dahulu dengan Ye Soya.”
Jumong terdiam.
“Dia adalah orang yang telah menyelamatkan nyawamu.” kata Yoo Hwa. “Sekarang dia sebatang kara. Kau akan berada di Chang An dalam jangka waktu yang lama. Jika kalian pergi bersama, kalian bisa saling mendukung dan menghibur satu sama lain. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu pada gadis itu, tapi ia sangat pantas menjadi istrimu.”

Ye Soya berjalan-jalan di kota bersama pelayannya. Di sana, seorang pria melihatnya, kemudian melapor pada Sul Tak.
Sul Tak dan para prajuritnya mengepung Ye Soya, kemudian menangkapnya dan hendak membawanya kembali ke HanBaek.
Pelayan yang ingin melindungi Ye Soya dibunuh oleh prajurit Sul Tak.

Mendengar kabar tersebut, Jumong, Ma Ri, Oyi, dan Hyeopbo bergegas mengejar.
Terjadi pertarungan antara antara pihak Jumong dengan para prajurit Sul Tak.
Pihak Jumong menang. Sul Tak memerintahkan para prajuritnya untuk mundur.
“Nona…” Jumong mendekati Ye Soya dan membuka ikatannya. “Aku tidak pernah mengira Sul Tak akan datang ke BuYeo. Semua ini salahku. Tolong maafkan aku.”
Ye Soya meneteskan air mata karena merasa terpukul. “Maafkan aku karena membuatmu khawatir.”
Jumong melihat Ye Soya dengan tidak tenang. Melihatnya menangis seperti itu, membuat Jumong merasa ingin melindunginya.

Malamnya, Jumong berkunjung ke kamar Ye Soya.
“Kudengar kau akan segera berangkat ke Chang An.” ujar Ye Soya. “Tolong jangan mencemaskan aku.”
“Nona, jika kau berkenan, aku ingin membawamu ke Chang An setelah kita menikah.” kata Jumong.
Ye Soya tersenyum. “Mungkin ini terdengar lancang, tapi aku tidak memiliki kemampuan yang pantas untuk menjadi istrimu. Aku merasa terhormat karena kau meminangku, tapi aku tidak ingin menjadi beban bagimu.”
“Nona, kau telah menyelamatkan nyawaku, dan aku tidak akan pernah bisa membalasnya. Bagaimana mungkin kau menjadi beban untukku?” tanya Jumong. “Sebelum aku bertemu denganmu, aku berbagi takdir bersama Nona So Seo No. Namun, ternyata takdir tidak mengizinkan. Walaupun aku belum bisa menghapus Nona So Seo No dari dalam hatiku, aku akan berusaha melupakannya.”
Mata Ye Soya berkaca-kaca, namun tidak mengatakan apa-apa.

Wan Ho mencari cara bagaimana menyelamatkan Young Po. Ia meminta Ma Oo Ryeong membujuk Dae So, namun Dae So menolak untuk bertemu dengannya.
Wan Ho marah dan menghina Ma Oo Ryeong. Kini, Ma Oo Ryeong telah kehabisan kesabarannya dan mengatakan bahwa ia tidak akan mau menerima penghinaan dari Wan Ho lagi.

Paman Dae So mencari dukungan pejabat untuk menyelamatkan Young Po. Namun tidak ada pejabat yang mau membantu Young Po.
Mendadak Song Ju masuk dan mengatakan bahwa Geum Wa ingin bertemu dengan Perdana Menteri.
Perdana Menteri menemui Geum Wa. Setelah perbincangan mengenai kekuasaan yang dimiliki Perdana Menteri di BuYeo, Geum Wa meminta Perdana Menteri mengampuni nyawa putranya.
“Putra-putraku saling menyakiti satu sama lain.” kata Geum Wa. “Aku ingin menghentikan itu. Bisakah kau mengampuni nyawa Young Po?”
Perdana Menteri terdiam.
“Walaupun tidak ada seorang pun yang bisa mencegah keputusan Dae So, tapi aku yakin kau akan menemukan suatu cara.” kata Geum Wa.

Setelah keluar dari kamar Geum Wa, Perdana Menteri berpikir. Ia kemudian mengunjungi ruangan Permaisuri Wan Ho.
“Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan Pangeran Young Po.” kata Perdana Menteri.
“Apa itu?” tanya Wan Ho berharap.
“Biarkan dia pergi ke negara Han sebagai pengganti Pangeran Jumong.” kata Perdana Menteri menyarankan. “Hal ini tidak hanya bisa memberi kekuasaan lebih pada Pangeran Dae So, tetapi juga bisa menyelamatkan nyawa Pangeran Young Po. Hanya Permaisuri yang bisa melakukan ini. Gunakan air matamu, maka Pangeran Dae So akan mengubah pikirannya.”

Wan Ho melaksanakan saran Perdana Menteri. Walaupun berat hati, namun tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Young Po.
“Dae So, apakah kau benar-benar ingin membunuh Young Po?” tanya Wan Ho. “Demi aku, tolong maafkan dia.”
“Dia ingin membunuhku! Jika aku membiarkannya, ia pasti akan mengulanginya lagi.”
Wan Ho bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Dae So. “Aku memohon padamu. Karena kau tidak bisa memaafkan Young Po, biarkan ia pergi ke Han. Ini bukan hanya bisa mengembalikan kekuasaanmu lagi, tapi juga bisa menyelamatkan nyawa Young Po. Dae So, aku mohon padamu. Jika Young Po mati, maka aku akan ikut dengannya.”

Dae So berpikir. Ia memerintahkan Na Ru agar membawa Young Po ke hadapannya.
“Kakak, aku bersalah. Tolong ampuni nyawaku.” Young Po berlutut dan memohon-mohon pada Dae So.
“Kau tidak berguna!”seru Dae So. “Apa kau sudah tidak punya rasa malu lagi karena meminta pengampunanku setelah melakukan hal seperti itu? Kau seharusnya memohon agar aku membunuhmu.”
“Kakak, aku bersalah.” ujar Young Po ketakutan.
“Karena kau adalah orang yang bodoh dan tidak berguna, juga demi ibu, aku akan mengampuni nyawamu.” kata Dae So.
“Terima kasih, Kakak! Aku akan mengabdikan sisa hidupku untukmu.”
“Aku akan mengampuni nyawamu, tapi kau harus pergi ke Chang An.” kata Dae So. Young Po terkejut dan hendak protes. “Kenapa?” tanya Dae So. “Kau tidak mau pergi? Jika kau mengatakan tidak mau pergi, maka aku akan memenggal kepalamu!”
Young Po tidak bisa berbuat apa-apa. “Aku akan melaksanakan perintahmu.” katanya dengan berat hati.
Wan Ho menangis dan memeluk Young Po.

Dae So memanggil Jumong.
“Aku sudah memutuskan akan mengirimkan Young Po ke Chang An.” kata Dae So. “Kau tidak hanya telah menyelamatkan nyawaku, tapi juga menyetujui permintaanku untuk pergi ke Chang An dengan cepat. Mulai saat ini, kau mendapat kepercayaanku. Dan karena aku percaya padamu, maka aku akan memberimu tanggung jawab untuk memimpin pasukan BuYeo.”
Jumong terkejut.
“Para tamu yang akan datang ke pesta pernikahanmu akan melingkupi para pemimpin negara tetangga dan para kepala klan dari beberapa klan. Pernikahanmu akan menjadi acara yang besar.” kata Dae So. “Jumong, kau adalah tangan kananku. Pimpin BuYeo bersamaku.”

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s