Jumong – Episode 45

Jumong memerintahkan para prajurit mengumpulkan para pengungsi dengan cepat dengan alasan membawa mereka ke Han.
“Sang Chun, Je Soo, Myungil!” panggil Ma Ri. Ketiga pengawal itu adalah pengawal yang berpihak pada Jumong. “Kalian harus membawa orang tua dan anak-anak ke sungai BiRyu. Sebuah perahu sudah tersedia untuk kelian di sana. Pasukan yang mungkin akan mengejar kalian tidak akan bisa menebak bahwa kalian akan kesana.”
“Mengambil jalur ini memang memakan waktu yang lama, tapi lebih aman.” kata Hyeopbo menambahkan. “Seberangi sungai BiRyu untuk menuju ke Gunung Bong Gye.”
“Baik!”
Oyi mendekati Jumong. “Kita siap berangkat.”
Jumong mengangguk dan bicara pada para pengungsi. “Sekarang kita akan berangkat ke Chang An. Kita akan berjalan secepat yang kita bisa. Jika ada yang melawan atau mencoba kabur, dia akan dihukum.” Jumong berpaling pada para prajurit. “Pisahkan orang tua dan anak-anak.”
Para pengungsi ketakutan, Mereka berusaha menahan anak-anak mereka agar tidak dibawa pergi.
“Mereka akan melalui rute yang lebih aman.” kata Hyeopbo. “Jangan khawatir.”
Jumong dan para pengungsi pergi. Dari jauh, Song Ju menatap kepergian mereka dan tersenyum lega.

Song Ju mengendarai kudanya menuju tempat Geum Wa dan Yoo Hwa berkemah. Ia mengatakan bahwa Pangeran Jumong dan para pengungsi sudah berjalan meninggalkan BuYeo.
Untuk mengulur waktu agar Jumong bisa pergi lebih jauh, maka Geum Wa meminta Na Ru mengantar mereka ke kolam air panas yang letaknya jauh. Na Ru protes, namun Geum Wa mengancamnya dengan pedang. Na Ru terpaksa memenuhi permintaan Geum Wa.

Malam sudah tiba, waktunya Ye Soya pergi menyusul Jumong. Belum sempat keluar dari istana, Hao Chen mengadang jalannya.
“Mau apa kau keluar malam-malam?” tanya Hao Chen.
“Ada urusan yang harus kuselesaikan.” jawab Ye Soya. “Beri aku jalan.”
“Aku akan memberimu jalan jika kau memberitahu aku, urusan apa yang harus kau selesaikan.”
“Itu bukan urusanmu.” kata Ye Soya dingin
“Tangkap dia!” perintah Hao Chen.

Di pihak lain, Mo Pal Mo menunggu Ye Soya di tempat yang telah dijanjikan, tapi Ye Soya tidak juga datang.
“Aku akan masuk ke dalam.” kata Mo Pal Mo.
Mo Pal Mo dan Mu Song menyusup diam-diam ke istana.

Hao Chen membawa Ye Soya pada Seol Ran.
“Siapa yang ingin kau temui di luar istana?” tanya Seol Ran.
“Aku hanya ingin berjalan-jalan karena merasa bosan di sini.” jawab Ye Soya, memalingkan muka dari Seol Ran.
“Buka tasnya.” perintah Seol Ran pada Hao Chen. “Kau berjalan-jalan dengan membawa pakaianmu? Katakan yang sebenarnya.”
“Tidak ada hal yang perlu kukatakan padamu.” kata Ye Soya.
“Apa?! Kau berani melangkahi peringkat keluarga kerajaan?” tanya Seol Ran.
“Jika kau sangat peduli pada peringkat keluarga kerajaan, kenapa kau bersikap sangat kasar?” Ye Soya berkata berani. “Jika kau tidak melepaskan aku, aku akan mengatakan pada Yang Mulia.”
“Yang Mulia?” Seol Ran merendahkan. “Walaupun ia tahu, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa. Tidakkah kau tahu siapa yang memegang kekuasaan di sini?” Seol Ran berpaling pada pengawalnya. “Hao Chen! Kurung Ye Soya dikamarnya dan awasi dia! Jangan katakan apa-apa pada Pangeran Dae So sebelum kuperintahkan.”
Ye Soya dipaksa kembali ke kamarnnya. Hao Chen menjaganya di depan pintu.

Mo Pal Mo dan Mu Song mengintip ke arah kamar Ye Soya. Para pengawal berjaga ketat di sekitar kamarnya.
“Apa?!” seru Mo Pal Mo.
“Jika pengawal menjaganya, kita tidak akan bisa membawanya keluar.” kata Mu Song. “Kita tidak bisa terus disini.”
“Bagaimana aku bisa menghadapi Pangeran Jumong jika kita tidak membawanya? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Mo Pal Mo cemas.

Saat Dae So sedang mengadakan rapat dengan para pejabat, seorang pengawal masuk.
“Pangeran, Pangeran Jumong pergi bersama dengan para pengungsi.” lapor pengawal itu.
“Apa?!” seru Dae So terkejut. “Cepat cari tahu apa yang terjadi.”
Dae So keluar dari ruangan itu dengan wajah kalut.
“Ada apa, Pangeran?” tanya Seol Ran.
“Aku akan mencari tahu.” jawab Dae So.
“Aku memergoki Ye Soya mencoba keluar dari istana. Ia bahkan membawa barang-barangnya. Aku yakin Pangeran Jumong sudah merencanakan ini sebelumnya.”
Dae So sangat marah dan terpukul. “Pergi dan bawa Mo Pal Mo kehadapanku!”
Para prajurit pergi ke bengkel pandai besi dan ke rumah Mo Pal Mo, namun gagal menemukannya.
Mo Pal Mo mengintip, dan mengetuhi bahwa dirinya sedang dicari-cari.
“Ayo cepat kita pergi!” ajak Mu Song.
“Tapi bagaimana dengan Putri Ye Soya?” tanya Mo Pal Mo panik.
Dae So benar-benar marah besar. Ia memerintahkan orang untuk menyiapkan pasukan. “Aku akan mengejar mereka sendiri!” serunya.

Sampai malam, Jumong tetap meminta para pengungsi dan para pengawal untuk berjalan, tidak beristirahat sama sekali.

Keesokkan harinya, Jumong telah tiba di sebuah tempat di tengah hutan. Ia memberi isyarat pada Ma Ri, Oyi an Hyeopbo untuk berhenti. Ini saatnya.
“Kita akan beristirahat!”
Jumong turun dari kudanya. “Kumpulkan para prajurit.” perintahnya pada Oyi.
Setelah para prajurit berkumpul, Jumong, Ma Ri, Oyi, Hyeopbo dan beberapa para pengawal istana yang mendukung Jumong mengepung mereka.
“Jatuhkan senjata kalian.” perintah Jumong pada para prajurit.
“Pangeran, apa yang kau lakukan?” tanya kepala prajurit.
“Aku tidak ingin membunuh kalian. Kubilang, jatuhkan senjatamu!” teriak Jumong.
Oyi menjatuhkan senjata kepala prajurit dan menyuruhnya berlutut. “Berlutut!”
Kepala prajurit berlutut, diikuti oleh anak buahnya.
Jumong berjalan agar bisa berhadapan dengan para pengungsi. “Aku adalah Jumong, Pangeran BuYeo.” katanya. “Tapi mulai saat ini, aku bukan lagi Pangeran BuYeo. Aku akan menjadi penerus Jenderal Hae Mo Su sebagai pemimpin Pasukan Da Mul. Aku tidak akan menjadikan kalian budak. Tapi aku akan membangun sebuah negara baru bersama kalian.”
“Hidup!” teriak para pengungsi. “Hidup! Hidup! Hidup!”
Jumong tersenyum. Ia menghadapi kepala prajurit lagi, kemudian menyuruh para prajurit kembali ke BuYeo.

Dae So dan pasukannya mencoba mengejar Jumong. Ia melihat peta untuk memperkirakan ke arah mana Jumong membawa para pengungsi.
“Jumong tidak akan bisa melewati Sungai Hwi Bal tanpa perahu.” kata Dae So. “Kita akan melewati lembah Ju Ak.”

Di pihak lain, ternyata Jumong sudah mempersiapkan perahu di sungai Hwi Bal.
Untuk mengulur waktu selama para pengungsi menyeberang, Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo akan menghadang Pasukan BuYeo. Sedangkan seorang pengawal akan memimpin para pengungsi menyebrangi sungai Hwi Bal.

Saat hari sudah gelap, Jumong, ketiga kawannya dan para pengawal menyerang Pasukan BuYeo.
Jumong memasang target panah ke arah Dae So. Dae So menghindar hingga terjatuh dari kudanya.
“Ayo!” kata Jumong, mengajak anak buahnya pergi.
Mereka bersembunyi di di dalam hutan. Pasukan BuYeo mengejar. Begitu Pasukan BuYeo tiba di hutan itu, Jumong dan yang lainnya menyerang.
Dae So turun dari kudanya dan menghadapi Jumong satu lawan satu. Terjadi pertarungan yang sengit. Jumong berhasil melukai lengan Dae So.

Hari sudah terang. Para pengungsi berbondong-bondong naik ke dalam perahu.
Jumong dan pengawalnya menyusul.
Semua pengungsi sudah menyeberangi sungai. Yang tertinggal hanyalah Jumong dan para pengawal istana.
Dae So dan pasukannya mencoba mengejar dengan sekuat tenaga, namun Jumong sudah naik ke atas perahu.
“Tembak!” kepala prajurit memerintahkan anak buahnya untuk menembak ke arah perahu yang ditumpangi Jumong dkk. Namun tidak ada satu panah pun yang bisa mengenai perahu karena letaknya sudah sangat jauh.
Jumong mengeluarkan busurnya dan menusukkan beberapa panah ke kayu perahu. Ia mengarahkan target ke pasukan BuYeo dan menembakkan panahnya satu per satu dengan cepat. Tidak seperti prajurit BuYeo, panah yang ditembakkan Jumong bisa mengenai para prajurit yang ada di seberang sungai.
Dae So merasa sangat marah dan terpukul. “Bawakan perahu untukku!” teriak Dae So.
“Pangeran, sudah terlambat untuk mengejar mereka! Pangeran juga terluka! Kita harus kembali ke BuYeo untuk mengobati luka Pangeran!”
“KUBILANG BAWAKAN AKU PERAHU!”
“Pangeran, semua perahu sudah ada diseberang sungai.”
Dae So benar-benar SANGAT marah.

Jumong sampai ke seberang sungai.
“Hyeopbo, pergilah ke Gunung Bong Gye bersama para pengawal dan pengungsi.” kata Jumong. “Aku akan menjemput Mo Pal Mo.”
Jumong, Ma Ri dan Oyi mengendarai kudanya pergi ke tempat mereka dan Mo Pal Mo berjanji untuk bertemu.
“Ketua!”
“Pangeran.” Mo Pal Mo menunduk sedih.
Jumong, Oyi dan Ma Ri mencari Ye Soya.
“Dimana Putri Ye Soya?” tanya Ma Ri.
“Dimana dia?” tanya Oyi cemas.
“Kami tiddak bisa membawanya.” kata Mo Pal Mo.
Jumong sangat terkejut.
“Katakan apa yang terjadi.” kata Ma Ri.
“Kami masuk ke dalam istana BuYeo karena dia tidak juga datang.” kata Mu Song. “TKamarnya dijaga oleh banyak prajurit. Selain itu, para prajurit juga mencari Mo Pal Mo ke semua tempat. Kami tidak bisa melakukan apa-apa.”
“Pangeran, bunuh saja aku.” kata Mo Pal Mo sedih.
“Bagaimana bisa kalian meninggalkan dia?!” seru Oyi khawatir. “Pangeran, aku akan menjemputnya.”
Jumong terdiam sangat lama.
“Jumong.” suara Hae Mo Su terngiang di telinganya. “Ketika aku masih muda, aku mencoba mewujudkan sebuah impian besar. Tapi aku gagal memenuhi janji yang kubuat pada seorang wanita, untuk menjaganya seumur hidup. Kau tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Bagaimana kau akan melindungi ratusan ribu rakyat jika kau tidak bisa melindungi seseorang yang ada disisimu?”
Suara Yoo Hwa kini terngiang di telinganya. “Ketika Hae Mo Su pergi berperang dengan Han, ia tidak pernah kembali. Aku menunggunya selama bertahun-tahun. Jangan buat aku menunggumu.”
Jumong merasa sangat sedih. Ia menarik napas dalam-dalam dan memutuskan, “Ayo kita pergi ke Gunung Bong Gye.”
“Pangeran.” Ma Ri ikut merasa sangat sedih.
“Aku berharap bahwa aku bisa membawa istriku bersamaku, tapi untuk saat ini para pengungsi adalah prioritas utamaku.”
“Aku yang akan menjemputnya.” kata Oyi. “Tolong izinkan aku.”
”Selama kami berdua masih hidup, aku yakin kami akan mendapat kesempatan untuk bertemu kembali.” kata Jumong. “Ayo pergi.”

Dae So kembali ke BuYeo dalam keadaan terluka. Begitu sampai di istana, Dae So langsung menyeret Ye Soya kehadapannya (Dimulailah penyiksaan dan penderitaan Ye Soya di istana).
“Apa kau tahu rencana Jumong untuk membawa pergi para pengungsi?” tanya Dae So.
“Ya.” jawab Ye Soya tanpa rasa takut.
“Dimana seharusnya kau akan bertemu dengannya?” tanya Dae So, dipenuhi kemarahan.
Ye Soya tidak menjawab.
“Aku tanya sekali lagi. Dimana seharusnya kau akan bertemu dengannya?!”
Ye Soya tetap diam.
Dae So maju dan menampar wajah Ye Soya. “Katakan! Jika tidak, aku akan membunuhmu! KEMANA DIA PERGI?!”
“Bunuh saja aku.” kata Ye Soya.
Dae So mengeluarkan dan mengangkat pedangnya untuk membunuh Ye Soya.
“Pangeran!” Seol Ran datang mencegah. “Jangan bunuh tawanan kita. Kau bisa membunuhnya setelah kau menangkap Jumong.”
Dae So membuang pedangnya. “Kurung dia dalam penjara!”

Perdana Menteri menyarankan Dae So agar mengirimkan utusan ke semua daerah untuk mencari keberadaan Jumong dan para pengungsi.
Dae So juga mengirimkan pesan kepada Na Ru.
Na Ru masuk tenda Geum Wa dan Yoo Hwa.
“Pangeran Dae So pergi meninggalkan BuYeo bersama para oengungsi.” kata Na Ru pada Geum Wa dan Yoo Hwa.
Yoo Hwa menarik napas lega.
“Dia meninggalkan BuYeo?” tanya Geum Wa berpura-pura tidak tahu. “Apakah ia pergi ke Chang An?”
“Dia tidak pergi ke Chang An. Dia melarikan diri bersama para pengungsi.” jawab Na Ru. “Yang Mulia, kita harus kembali ke istana sekarang juga.”
“Bukankah Dae So yang memerintah BuYeo?” tanya Geum Wa. “Tidak akan ada yang bisa aku lakukan disana. Aku akan tinggal disini bersama Lady Yoo Hwa.”
“Yang Mulia, kita harus kembali.” kata Na Ru memaksa.
Geum Wa marah dan memerintahkan Na Ru keluar.

So Seo No dan rombongan berkunjung ke istana BuYeo untuk menemui Dae So.
“Aku merasakan kesuraman di istana ini.” bisik Sayong.
“Mungkin istana ini diselimuti oleh kemarahan Pangeran Dae So.” kata So Seo No menanggapi.
So Seo No, Oo Tae dan Sayong masuk ke ruangan Dae So.
“Ada keperluan apa kalian ke BuYeo?” tanya Dae So.
“Aku datang kemari untuk membayar pajak yang kau minta dari Jolbon.” jawab So Seo No.
“Itu jumlah yang cukup banyak. Aku tidak tahu apakah kalian bisa membayarnya.” kata Dae So meremehkan.
“Aku membawa garam sebagai ganti barang-barang yang kau minta.” kata So Seo No. “Aku tahu BuYeo kekurangan garam karena tidak ada garam yang datang dari Go San. Aku yakin garam akan lebih berguna dibandingkan sutera dan biji-bijian.”
Dae So terdiam.
“Pangeran, suply garam BuYeo berasal dari perjalanan rombongan kami ke Go San.” tambah So Seo No. “Mulai saat ini, pengiriman garam ke BuYeo akan melalui kami dengan harga yang wajar.”
“Apa maksudmu?” tanya Dae So. “Jumonglah yang memiliki garam di Go San. Itu adalah hal milik BuYeo.”
“Jika Go San mengetahui bahwa Pangeran Jumong sudah meninggalkan BuYeo, mereka tidak akan lagi memberikan garam padamu. Jika BuYeo ingin terus mendapatkan garam, maka kalian harus menyerahkan perihal itu pada kami.”
Dae So tidak bisa berkata-kata lagi.

Geum Wa dan Yoo Hwa telah kembali ke istana.
“Apa yang terjadi di BuYeo?” tanya Geum Wa.
“Yang Mulia tahu apa yang terjadi pada BuYeo.” kata Dae So tajam. “Jumong melarikan diri bersama para pengungsi. Dia mengkhianati aku dengan bantuan Yang Mulia.”
“Apa maksudmu?” tanya Geum Wa.
“Bukankah kau pergi untuk membantu Jumong melarikan diri?” tanya Dae So.
Geum Wa tertawa. “Aku tidak mengerti perkataanmu. Jika kau merasa begitu yakin, kenapa kau memerintahkan Komandan Na Ru untuk mengantarku? Aku tidak pernah memintanya.”
Dae So menatap Geum Wa dengan pandangan marah. “Tunggu dan lihat saja. Aku pasti akan menemukan dia. Aku akan memenggal kepalanya di hadapan Yang Mulia.”

Ketika Yoo Hwa mengetahui bahwa Ye Soya dikurung dalam penjara, ia bergegas menjenguknya. Yoo Hwa sangat panik dan sedih melihat Ye Soya terbaring tak berdaya di penjara.
“Ye Soya!” panggil Yoo Hwa cemas. Ye Soya tidak menjawab. Ia memerintahkan Mu Duk untuk pergi memanggil tabib.
Tabib memeriksa Ye Soya.
“Apa yang terjadi?” tanya Yoo Hwa, cemas bukan main.
“Lady Yoo Hwa, Putri Ye Soya sedang mengandung.” kata tabib.
Ye Soya tersadar. Yoo Hwa bergegas meraihnya.
“Kenapa? Kenapa kau dikurung disini?” tanya Yoo Hwa. “Kenapa?”
“Ibu…” Ye Soya berkata lemah. Ya ampun, sedih banget sih…

Jumong dan para pengungsi telah sampai ke sebuah daratan luas yang akan mereka tempati sebagai markas Pasukan Da Mul.
Jumong mengeluarkan sebuah kain. “Oyi, pasang bendera ini.”
“Baik.” kata Oyi.
Bendera Burung Berkaki Tiga dikibarkan di atas sebuah tombak.
“Ini adalah tanah Pasukan Da Mul!” seru Jumong.
Para pengawal istana dan para pengungsi bersorak.

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s