Jumong – Episode 46

Jumong bersama para pengungsi membangun sebuah tempat menetap kecil yang mereka gunakan sebagai markas mereka, markas Pasukan Da Mul yang baru.
Ia membentuk dan melatih prajurit Da Mul dengan tujuan untuk merebut wilayah GoJoSeon mereka kembali.
“Klan HanBaek ada di bawah kekuasaan Han.” kata Jumong pada pasukannya. “Kita akan menyerang mereka terlebih dahulu. Bersiap untuk ekspedisi!”

Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo mempersiapkan pertahanan markas mereka.
“Setelah kita menyerang HanBaek, musuh akan mengetahui letak persembunyian kita.” kata Jumong. “Temukan cara untuk mempertahankan tempat persembunyiaan kita dari penyergapan.”
“Ya.” kata Oyi
“Kita harus mencari cara agar bisa saling menghubungi dengan cepat.” kata Jumong.
“Aku akan membuat menara pengawasan dan menara api (mercu suar) tersembunyi.” kata Ma Ri.
Jumong mengangguk. “Ma Ri, perintahkan beberapa orang terlatih untuk mengawasi menara pengawasan dan menara api.”
“Ya.” jawab Ma Ri.
“Bagaimana dengan pembuatan senjata?” tanya Jumong pada Hyeopbo.
“Ada masalah dengan tungku perapian.” kata Ma Ri. “Mereka akan terlambat dua hari dari rencana.”
Mo Pal Mo memarahi pegawainya. Untuk membantu Mo Pal Mo, Jumong mengirimkan beberapa pengungsi ke bengkel pandai besi.

Di BuYeo, Ye Soya masih dikurung dalam penjara. Wajahnya pucat pasi.
“Dia hamil?!” tanya Geum Wa ketika Yoo Hwa menceritakan mengenai Ye Soya.
“Benar.” jawab Yoo Hwa. “Kita harus mengeluarkan Ye Soya. Jika kita membiarkan dia disana, Soya dan bayinya akan berada dalam bahaya.”
Geum Wa kemudian memanggil Dae So dan meminta Dae So membebaskan Ye Soya.
“Aku tidak akan membebaskan dia sebelum aku bisa menangkap Jumong.” kata Dae So kejam.
“Kenapa kau begitu kekanak-kanakan?” tanya Geum Wa.
“Aku juga ingin memenjarakan Lady Yoo Hwa. Yang Mulia seharusnya berterima kasih padaku karena aku melepaskan Lady Yoo Hwa untukmu.”
“Beraninya kau!” bentak Geum Wa seraya menggebrak meja.
“Jumong telah meninggalkanmu. Jumong bahkan bukan putra kandungmu. Kenapa kau begitu peduli padanya?” tanya Dae So. “Dia mengkhianati kepercayaanku. Aku tidak akan melepaskan Ye Soya sebelum berhasil memenggal kepalanya!”
“Jumong mengkhianati kepercayaanmu?” tanya Geum Wa. “Lalu bagaimana dengan perbuatanmu pada Jumong? Kau membunuh ayahnya. Kau memberikan kepala Hae Mo Su pada Han. Apa yang kau harapkan darinya? Kau punya semua kekuasaan di tanganmu. Lalu apa yang takutkan lagi? Jumong dan Young Po sudah pergi. Tidak akan ada seorang pun di BuYeo yang bisa mengancammu. Tunjukkan belas kasihmu.”
“Aku tidak bisa.” ujar Dae So bersikeras.
“Kau mengurung Ye Soya untuk menangkap Jumong. Ye Soya sedang mengandung. Sangat tidak bererikemanusiaan jika kau tetap mengurung Ye Soya.”
Dae So menyerah. Ia memerintahkan Na Ru untuk mengeluarkan Ye Soya dari penjara dan mengurung Ye Soya dalam kamarnya.

Yoo Hwa merawat Ye Soya.
“Kau tidak perlu khawatir lagi.” kata Yoo Hwa, menguatkan Ye Soya.
“Ibu…”
“Kau harus cepat sembuh agar bayimu kuat.” kata Yoo Hwa, menangis. “Bagaimana kau akan bertemu Jumong lagi jika kau menyerah dengan penderitaan kecil ini? Cepatlah sembuh.”
Ye Soya memejamkan matanya. Yoo Hwa menggenggam tangannya.

Sebelum penyerangan ke HanBaek, masing-masing prajurit Da Mul diberikan papan lambang Pasukan Da Mul dan sebuah pedang baja buatan bengkel pandai besi Mo Pal Mo.

Malamnya, pasukan Da Mul memulai penyerangan. Mereka menyusup ke HanBaek dan membunuh semua prajurit di sana.
“Temukan Sul Tak!” teriak Jumong memerintahkan.
Sul Tak dan beberapa anak buahnya keluar. Mereka menyerang Pasukan Da Mul dan membunuh beberapa dari mereka.
“Kau harus pergi dari sini!” kata seorang prajurit HanBaek pada Sul Tak.
Sul Tal melarikan diri.
Jumong mengejar. Sambil mengendarai kuda, Jumong menembakkan anak panah dan membunuh anak buah Sul Tak yang lari bersamanya. Sul Tak turun dari kuda dan melarikan diri.
Jumong memanah kakinya. Ketika Sul Tak mengangkat pedangnya, Jumong berhasil mematahkan pedangnya dengan mudah.
“Tolong jangan bunuh aku.” Sul Tak memohon pada Jumong.
“Kepala Klan Ye Chun menolongmu, tapi kau mengkhianatinya.” kata Jumong penuh kemarahan. “Aku akan memenggalmu untuk membalaskan dendam Ye Soya dan membuat arwah Kepala Klan Ye Chun tenang.”
“Aku akan melakukan apapun yang kau katakan. Tolong jangan bunuh aku.” kata Sul Tak.
Jumong mengangkat pedangnya dan membunuh Sul Tak.

Pasukan Da Mul berhasil menguasai HanBaek. Mereka mengikat prajurit Sul Tak.
Jumong menghadapi warga Han Baek. “Aku adalah Jumong, dan Kepala Klan Ye Chun menyelamatkan nyawaku.” kata Jumong. “Dulu aku adalah Pangeran BuYeo, tapi aku dan para pengungsi GoJoSeon akan berperang melawan Han. Sekarang, aku adalah Jenderal Pasukan Da Mul.”
Warga kelihatan bingung.
“Aku menikahi putri Kepala Klan, Ye Soya.” Jumong melanjutkan. “Aku membunuh Sul Tak untuk membalaskan dendam kematian ayah mertuaku. Kalian boleh memilih untuk masa depan HanBaek. Jika kalian ingin hidup dibawah Han, maka tetaplah disini. Namun bagi siapa yang ingin berperang melawan Han, kalian bisa bergabung dengan Pasukan Da Mul.”
Seorang warga berlutut di hadapan Jumong. “Pangeran Jumong!” katanya. “Han adalah musuh kami! Tidak ada diantara kami yang mau hidup dibawah Han! Izinkan kami bergabung dengan Pasukan Da Mul!”
Warga yang lain ikut berlutut. “Izinkan kami bergabung dengan Pasukan Da Mul!”

Pasukan Da Mul kembali ke markas persembunyian mereka.
Mo Pal Mo dan para pengungsi menyambut mereka. “Hidup Pasukan Da Mul! Hidup Pasukan Da Mul!”
Jumong dan pasukannya tersenyum senang.
“Pangeran, Peramal Yeo Mi Eul ada disini.” kata Mo Pal Mo.
Jumong bergegas menemui Yeo Mi Eul, So Ryeong, Putri Bintang serta beberapa pelayan dan pengawal Yeo Mi Eul.
“Izinkan kami tinggal disini dan membantu Pangeran.” kata Yeo Mi Eul pada Jumong.
“Tempat ini terlalu buruk untuk menjadi tempat tinggal Yeo Mi Eul.” kata Jumong .
“Aku datang kesini bukan untuk diperlakukan sebagai Peramal.” ujar Yeo Mi Eul. “Aku datang kesini untuk menjadi salah satu warga dari negara yang akan dibentuk oleh Pangeran. Membantu Pangeran adalah jalan untukku membayar segala kesalahanku pada Jenderal Hae Mo Su. Tolong izinkan aku.”
Jumong tersenyum. “Mungkin tidak berarti apa-apa, tapi aku akan mencari sebuah tempat tinggal untuk Yeo Mi Eul.”
Yeo Mi Eul mengangguk.

Song Yang mengumpulkan pasukan untuk menyerang GyehRu. Bahkan Kepala Klan Yunna Gwanna dan Hwanna turut menyumbangkan pasukan.
“Mereka mencoba mengambil alih GyehRu dengan paksa.” kata Sayong.
So Seo No sangat terkejut.
Malamnya, Oo Ta mengumpulkan pasukan.
“Bawa beberapa prajurit dan halangi tebing Ma Chun yang menghubungkan GyehRu dengan BiRyu!” kata Oo Tae memerintahkan. “Dong Ha! Pergi ke hulu sungai BiRyu untuk menahan serangan musuh! Cepat laksanakan!”

So Seo No berpikir, mengingat perkataan Yeo Mi Eul bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berperang melawan Song Yang. So Seo No harus bisa menahan semua kesulitan sampai nantinya ia dan Jumong menggabungkan kekuatan.
So Seo No memutuskan untuk pergi ke BiRyu untuk menghentikan perang.
“Untuk apa kau kemari?” tanya Song Yang.
So Seo No berlutut di hadapan Song Yang. “Aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan. Tolong jangan mulai peperangan.”
“Kau tahu apa yang kuinginkan.” kata Song Yang.
“Aku akan mundur dari jabatanku sebagai Kepala Klan BiRyu.” kata So Seo No. “Aku juga akan menyerahkan semua hak yang dimiliki GyehRu atas garam Go San.”
Song Yang tersenyum menang.
Mereka kembali ke GyehRu. Song Yang mengangkat putra Chae Ryeong, Chan Soo, sebagai Kepala Klan GyehRu yang baru.
“Karena Chan Soo masih sangat muda, maka Yeon Chae Ryeong dan Yang Tak akan membantunya.” kata Song Yang. “Mulai sekarang, GyehRu tidak boleh lagi memiliki pasukan militer. Pasukan dari BiRyu, Hwanna, Yunna dan Gwanna akan mengawasi GyehRu. GehRu tidak diizinkan untuk melakukan kegiatan militer apapun, kecuali kegiatan perdagangan.”
Tidak ada yang bisa dilakukan So Seo No kecuali menerima semua itu. “Aku akan melaksanakan perintahmu.” katanya.

Utusan dari Hyeon To melaporkan pada Dae So bahwa Jumong mengambil alih HanBaek dan membunuh Kepala Klan HanBaek. “Tapi kami berhasil mengetahui letak persembunyian mereka.”
“Benarkah?” tanya Dae So.
“Di Gunung Bong Gye.”

Yoo Hwa menjenguk Ye Soya di kamarnya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Yoo Hwa.
“Jauh lebih baik.” jawab Ye Soya
“Baus.” Yoo Hwa tersenyum, merasa lega. “Aku punya kabar baik untukmu. Jumong menyerang HanBaek dan membunuh Sul Tak. Ia mungkin ingin membalaskan dendammu dan ayahmu. Jadi sekarang, kau bisa melupakan kesedihanmu. Jangan menangis lagi. Jika kau menunggu, kau dan Jumong pasti bisa bertemu kembali.”
“Ya, Ibu.”

Setelah mengetahui bahwa Jumong bersembunyi di Gunung Bong Gye, Seol Ran bergegas menemui Dae So.
“Pangeran, apakah kau akan mengerahkan pasukan?” tanya Seol Ran.
“Ya.” jawab Dae So. “Aku akan memimpin pasukan dan membunuh Jumong dengan tanganku sendiri.”
“Pangeran, kenapa kau tidak meminta bantuan Hyeon To?” Seol Ran menyarankan.
“Apa maksudmu?” tanya Wan Ho.
“Gunung Bong Gye lebih dekat dengan Hyeon To dibandingkan dengan BuYeo.” kata Seol Ran menjelaskan. “Pangeran bisa pergi ke Hyeon To dan meminta bantuan Iron Army.”
Dae So menerima saran Seol Ran.

Oyi dan Hyeopbo bersembunyi di jalan masuk persembunyian untuk berjaga-jaga.
Beberapa orang berjalan melewati jalan tersebut sambil membawa barang bawaan.
“Berhenti!” perintah Hyeopbo. “Dari mana kalian?”
“Kami adalah pengungsi dari Yo Ha.” kata salah seorang dari mereka. “Kami mendengar Pangeran Jumong menetap disini bersama para pengungsi, karena itulah kami datang untuk menemuinya.”
“Kami sudah menampung terlalu banyak pengungsi dan tidak ada cukup tempat lagi untuk menampung kalian.” kata Oyi. “Maafkan aku. Tapi tolong kembalilah. Suatu saat nanti jika kami memiliki wilayah yang lebih luas, kami akan mengundang kalian.”
“Kami sudah terlanjut meninggalkan segalanya. Kami tidak bisa kembali.” kata mereka. “Tolong terima kami.”
Jumong dan Ma Ri datang.
Para pengungsi berlutut di hadapan Jumong. “Tolong jangan kirim kami kembali!” kata mereka. “Tolong terima kami.”
Jumong tidak tega. “Hyeopbo, izinkan mereka tinggal.”

Jumong berbincang dengan Yeo Mi Eul mengenai permasalahan lahan.
“Tinggal di wilayah pegunungan sangat sulit.” kata Jumong. “Sangat banyak pengungsi yang datang dan datang lagi. Dan kami tidak bisa menyuruh mereka kembali.”
“Mereka datang kemari untuk bergantung pada Pangeran.” kata Yeo Mi Eul. “Mereka bukan orang-orang bodoh. Perintahkan mereka untuk bertani dan menanam bibit. Rakyat adalah pondasi utama dalam membangun sebuah negara baru. Ini adalah pertanda baik bahwa Pangeran mendapat dukungan. Jangan hanya menunggu yang datang, Kau harus membawa orang-orang dari luar. Kau harus membuat mereka menjadi rakyatmu, kemudian menjadikan beberapa dari mereka sebagai orang kepercayaan yang bisa membantumu.”
“Dimana aku bisa mendapatkan orang seperti itu?” tanya Jumong.
“Pergilah ke suku Dum Guk.” jawab Ye Mi Eul.

Jumong memerintahkan Mu Song agar menyuruh rakyat bertani. Ia kemudian mengajak Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo ke suatu tempat.

Dae So pergi ke Hyeon To untuk meminjam Iron Army. Dae So sendirilah yang akan memimpin mereka.

(Dari kiri ke kanan: Muk Guh, Jae Sa, Moo Gul)

Jumong dan kawan-kawannya tiba. Di sana, mereka langsung dikepung oleh beberapa orang.
“Siapa kalian?” tanya seseorang, yang sepertinya adalah pemimpin disana.
“Aku datang bukan untuk bertarung. Aku mencari orang.” jawab Jumong. “Jika diantara kalian ada yang bernama Jae Sa, Moo Gul, dan Muk Guh, tolong maju.”
Dia orang pria keluar dari tempat persembunyian mereka.
“Untuk apa kalian mencariku? Namaku adalah Jae Sa.”
“Aku adalah Jenderal Jumong dari Pasukan Da Mul.” Jumong memperkenalkan diri.
Orang-orang itu terkejut.
“Aku datang kemari karena mendengar bahwa kalian bersembunyi disini untuk berperang melawan Han.” kata Jumong. “Aku mengumpulkan para pengungsi GoJoSeon dan membentuk Pasukan Da Mul untuk membuat sebuah negara yang bisa menghadapi Han. Aku ingin kalian bergabung denganku dan mengabdi pada negara baru yang akan kubentuk.”
Jae Sa tertawa. “Aku sudah pernah mendengar mengenai Pangeran Jumong sebelumnya. Kau adalah orang yang sangat sombong. Kenapa kami harus mengabdi padamu?”
“Tunjukkan pada kami, kemampuan apa yang kau miliki sehingga pantas menjadi Tuan kami!” seru Moo Gul menantang.
“Jika kalian bisa menang melawan kami, maka kami akan melepaskan kalian.” kata Jumong, menerima tantangan mereka.

Moo Gul bertarung melawan Oyi. Pertarungan hampir seimbang, namun Moo Gul berhasil mengalahkan Oyi.
Hyeopbo maju dan melawan Moo Gul, dengan cepat Hyeopbo berhasil dikalahkan.
“Aku pernah mendengar mengenai saudara angkat Jumong yang ganas. Rupanya itu hanya gosip.” kata Moo Gul menghina.
Ma Ri kesal dan maju, namun Jumong melarangnya.
“Namaku Moo Gul. Jangan suruh anak buahmu bertarung. Majulah sendiri!”
“Kau telah bertarung melawan kedua saudaraku.” kata Jumong. “Tidak akan adil bila kau bertarung melawanku dalam keadaan lelah.”
“Omong kosong!” seru Moo Gul, maju untuk menyerang Jumong. Hanya dengan beberapa detik saja, Jumong berhasil mengalahkan Moo Gul.
Jae Sa maju. “Kudengar Jumong adalah seorang ahli memanah.” katanya. “Aku juga baik dalam memanah. Ayo kita lihat siapa yang lebih hebat!”
“Bagus. Pertandingan seperti apa yang kau inginkan?”
“Menembak sampai salah satu dari kita mati!” kata Jae Sa. Jumong ragu. “Kenapa? Apa kau takut?”

Jumong menyetujui permintaan Jae Sa.
Jumong diam, memandang Jae Sa tajam.
“Pasang panahmu!” seru Jae Sa. “Aku akan menembak!”
Jumong melempar panahnya ke tanah. “Tembak!”
Jae Sa menembak terlebih dulu. Jumong menembak dengan cepat, dua panah sekaligus. Panah yang satu berhasil menjatuhkan panah Jae Sa sementara panah yang satunya lagi melesat lurus mengenai bahu Jae Sa.
Semua orang terkejut.
“Apa kau ingin mencoba lagi?” tanya Jumong. “Aku ingin kau mengabdi padaku.”
Jae Sa berlutut di hadapan Jumong. “Kami akan mengabdi padamu.”
Moo Gul, Muk Guh dan para pengikut mereka ikut berlutut.

Jumong mengajak 2 x 3 serangkai kembali ke Gunung Bong Gye.
Mu Song berlari-lari menyambut. “Ada masalah.” katanya. “Pangeran Dae So membawa pasukan dan sedang menuju kemari untuk menyerang kita! Dia juga membawa Iron Army!”
“Berapa lama lagi mereka akan sampai?”
“Dalam setengah hari, mereka akan tiba di lembah.”
“Ma Ri, Oyi, Hyeopbo, periksa mereka!” Jumong memerintahkan. “Mu Song, bawa pasukan untuk berjaga di lembah!” Jumong berpaling pada Jae Sa, Moo Gul dan Muk Guh. “Segera setelah kita sampai, aku akan memberi kalian tugas.”
“Sungguh keberuntungan.” kata Moo Gul, tersenyum antusias

Jumong dan pasukannya bersembunyi di lembah untuk melakukan penyergapan.
Dae So dan pasukannya telah tiba. Ia menyuruh mereka berhenti.
“Ngarai ini sempit.” kata Dae So. “Akan sangat berbahaya jika mereka melakukan penyergapan.”
Dae So memerintahkan Na Ru dan dua orang prajurit maju terlebih dahulu. Jumong membiarkan mereka.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s