Jumong – Episode 48

Jumong dan Pasukan Da Mul berangkat untuk melakukan ekspedisi. Mo Pal Mo dan Mu Song berusaha mengejar mereka.
Ketika Jumong dan pasukannya berhenti untuk merundingkan stretegi penyelamatan, Mo Pal Mo tiba.
“Jenderal, Yei Mi Eul memintamu untuk menghentikan penyerangan.” kata Mo Pal Mo.
“Kenapa ia meminta seperti itu?” tanya Jumong.
“Aku tidak tahu. Ia hanya menyuruhku menyampaikan pesan ini pada Jenderal.” jwab Mo Pal Mo.
“Jika kita menunggu sampai para pengungsi tiba di Hyeon To, maka akan sulit untuk menyelamatkan mereka.” kata Jumong.
“Yeo Mi Eul akan segera tiba disini. Tunggulah sebentar lagi.” kata Mu Song.

Rombongan para pengungsi ‘palsu’ Na Ru hampir tiba di Hyeon To, namun Pasukan Da Mul tidak juga datang. Na Ru memerintahkan rombongan untuk memperlambat jalan mereka, seraya menunggu Pasukan Da Mul datang menyerang.

Di istana BuYeo, posisi Ma Oo Ryeong terjepit. Dae So sudah tidak mempercayai dia lagi. Di pihak lain, Geum Wa menjadi tahanan di kamarnya. Ia tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Geum Wa juga tidak diperbolehkan bertemu siapapun, termasuk Yoo Hwa.
Yoo Hwa menemui Dae So untuk menyatakan protesnya.
“Kau adalah ibu seorang pengkhianat!” seru Wan Ho. “Jika bukan karena Yang Mulia, aku pasti sudah membunuhmu. Jika Yang Mulia meninggal, aku akan menguburmu bersamanya.”

Jumong dan pasukan Da Mul menunggu sampai Yeo Mi Eul datang.
“Kenapa kau memintaku untuk menghentikan penyerangan?” tanya Jumong begitu Yeo Mi Eul tiba.
“Ini mungkin hanya jebakan Pangeran Dae So.” ujar Yeo Mi Eul.
“Apa maksudmu?”
“Jenderal Hae Mo Su ditangkap karena ia jatuh dalam jebakan ini.” Yeo Mi Eul bercerita. “Mereka tahu bahwa Hae Mo Su akan mencoba untuk menyelamatkan para pengungsi. Namun para pengungsi tersebut adalah prajurit Han yang menyamar.”
“Tapi itu terjadi sudah sangat lama. Bagaimana Dae So bisa tahu?” tanya Jumong.
“Perdana Menteri-lah yang mengusulkan rencana tersebut untuk menangkap Hae Mo Su.” jawab Ye Mi Eul.

Jumong berpikir.
“Mengapa kita tidak kembali saja ke Gunung Bong Gye?” tanya Hyeopbo pada Jumong.
“Mengapa kita tidak menggunakan jebakan ini untuk melawan mereka?” ujar Muk Guh mengusulkan.
“Menggunakannya untuk melawan mereka?” tanya Moo Gul.
“Karena kita sudah tahu rencana mereka, maka kita bisa menyerang para prajurit yang menyamar menjadi pengungsi.” kata Jae Sa.
“Bagaimana jika mereka benar-benar pengungsi?” tanya Oyi ragu.
Jumong berpikir. “Pertama-tama, kita harus mencari tahu apakah yang dikatakan Yeo Mi Eul benar atau tidak.” kata Jumong. “Oyi, Ma Ri, Hyeopbo, segera pergi untuk mencari tahu.”

Oyi, Ma Ri, dan Hyeopbo mengintai rombongan Na Ru. Na Ru dan beberapa pengawal menjaga para pengungsi.
“Jika yang dikatakan Yeo Mi Eul benar, maka Iron Army akan mengikuti tidak jauh di belakang mereka.” kata Ma Ri. Maka mereka menunggu sampai rombongan Na Ru lewat. Tidak lama setelah itu, Iron Army dengan jumlah yang cukup banyak mengikuti mereka dari belakang.
Oyi, Ma Ri, dan Hyeopbo sangat terkejut. Berarti benar apa yang dikatakan Yeo Mi Eul. Mereka bergegas memberitahukan informasi tersebut pada Jumong.
“Jika kita menyerang, maka sudah dipastikan kita akan mengalami kekalahan.” kata Hyeopbo. “Ayo kita kembali ke Gunung Bong Gye.”
Jumong berpikir. Ia tetap ingin menyerang, namun dengan strategi khusus.
“Dae So yakin bahwa dia bisa menangkapku dengan jebakan ini.” Jumong menjelaskan. “Tapi, jika aku bisa mengalahkan mereka dan menggagalkan jebakan ini, maka Dae So tidak akan berani lagi menyerang Pasukan Da Mul.”

Rombongan Na Ru dan Iron Army tidak juga melihat tanda-tanda penyerangan Jumong. Mereka berniat mengulang kembali jebakan ini lain waktu.

Di sisi lain, Jumong memberi komando pada pasukannya.
“Jika kita tidak muncul, Iron Army dan para pengungsi akan berpisah di perbatasan Hyeon To.” Jumong menjelaskan. “Ketika mereka lengah, kita akan menyerang Iron Army terlebih dahulu, lalu kemudian kita akan menyerang Pasukan BuYeo yang menyamar menjadi pengungsi.”
“Ya, Jenderal!”

Iron Army beristirahat di sekitar hutan. Saat itulah Pasukan Da Mul mulai menyerang dan melenyapkan mereka (dengan mudah).
Malamnya, rombongan Na Ru yang sedang melewati. Mendadak mereka di serang oleh Pasukan Da Mul.
“Penyergapan!” teriak seorang prajurit.
Pasukan Da Mul membunuh semua prajurit, termasuk para pengungsi yang menyamar. Mereka semua berhasil dikalahkan, dan hanya Na Ru yang tersisa.
“Seharusnya aku membunuhmu karena dendam masa lalu.” kata Jumong pada Na Ru. “Tapi aku butuh seseorang untuk kembali dan melaporkan kekalahanmu ke istana BuYeo. Pergi dan beritahu Dae So bahwa jika ia menyerang Pasukan Da Mul lagi, maka aku akan melenyapkan Pasukan BuYeo. Pergi.”
Na Ru pergi.
“Hidup Jenderal Jumong!” seru Pasukan Da Mul. “Hidup Pasukan Da Mul!”

Na Ru kembali ke istana BuYeo. Dae So sangat terkejut melihat kedatangannya.
“Pangeran…”
“Apa yang terjadi?” tanya Dae So.
“Bunuh saja aku, Pangeran.” kata Na Ru, berlutut di hadapan Dae So. “Jumong sudah mengetahui rencana kita. Ia tidak muncul sampai kami mencapai perbatasan Hyeon To. Kami memutuskan untuk mundur dan melaksanakan jebakan ini di lain waktu. Jumong menghabisi Iron Army dan kembali ke Hyeon To, kemudian melenyapkan Pasukan BuYeo. Kami kehilangan semua orang, termasuk prajurit BuYeo yang menyamar menjadi pengungsi.”
Dae So berteriak frustasi.
Perdana Menteri berpikir. Ia menyadari bahwa Jumong bisa mengetahui jebakan mereka karena Yeo Mi Eul.

Dae So memerintahkan Na Ru untuk membawa Yoo Hwa ke hadapannya. Di ruangan itu juga sudah ada Ye Soya dan Wan Ho.
“Ada apa ini?” tanya Yoo Hwa.
“Aku akan menggunakan kalian sebagai pancingan untuk menangkap Jumong.” kata Wan Ho. “Jika Jumong tidak kembali ke istana BuYeo, maka kalian akan mati.”
“Kenapa tindakan kalian sangat rendah?” tanya Yoo Hwa. “Kalian sudah mendapatkan seluruh kekuasaan di BuYeo. Apa lagi yang kalian takutkan?”
“Diam!” bentak Wan Ho. “Jangan salahkan Dae So! Salahkan Jumong! Cepat kurung mereka dalam penjara!”
Pengawal menarik Yoo Hwa dan Ye Soya pergi.
Dae So akan mengirimkan pesan untuk Jumong. “Jika Jumong tidak datang dalam jangka waktu dua minggu sebelum matahari terbenam, maka Lady Yoo Hwa dan Ye Soya akan mati.” ujarnya licik.
Mengetahui Yoo Hwa dan Ye Soya dikurung dalam penjara, Geum Wa marah dan mendatangi Dae So. Namun tidak ada yang bisa dilakukan Geum Wa. Geum Wa saat ini tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan apapun.
Dae So memerintahkan pengawal untuk mengantar Geum Wa kembali ke kamarnya.

Mendengar kekalahan dan kegagalan pihak BuYeo dan Han untuk menangkap Jumong. Pihak BiRyu dan pihak GyehRu (selain pihak So Seo No) merencanakan untuk menggunakan So Seo No untuk menangkap Jumong.
Chan Soo protes pada ibunya. “Berhentilah bersikap jahat pada So Seo No.” katanya. Namun Chan Soo tidak bisa berbuat apa-apa melawan ibunya.
Rombongan pedagang So Seo No sedang dalam perjalanan dagang ke Hwang Ryeong dari OkJo.

Gye Pil menyerahkan surat dari So Seo No pada Yeon Ta Bal. Setelah membaca surat tersebut, Yeon Ta Bal dan Gye Pil bergegas mengendarai kuda mereka ke sebuah padang rumput luas.
“Kenapa tiba-tiba kita kemari?” tanya Gye Pil.
“Aku ingin membuat sebuah istana di sini.” kata Yeon Ta Bal.
“Istana?” tanya Gye Pil terkejut. “Kita sudah kehilangan pasukan kita. Bagaimana caranya kita membuat istana?”
Yeon Ta Bal tersenyum “Aku harus bersiap-siap menyambut hari saat GyehRu berhasil menyatukan Jolbon dan membuat negara yang hebat. Itulah yang diinginkan So Seo No.”

Di Chang An, Young Po mengenal seseorang bernama Tuan Chin. Tuan Chin akan melakukan perjalanan ke Hyeon To dan BuYeo. Young Po minta untuk mengajaknya serta.
Tuan Chin mengajukan permintaan untuk memulangkan Young Po ke BuYeo dan kaisar menyetujuinya. Young Po tertawa senang.

Di markas pasukan Da Mul, para prajurit diajarkan berbagai keahlian bela diri. Mulai dari melempar pisau, memanah dan lain sebagainya.
Hyeopbo tiba di markas. Ia melaporkan sebuah informasi pada Jumong.
“Aku tahu alasan kenapa Nyonya So Seo No memimpin perjalanan dagang.” kata Hyeopbo. “Song Yang berusaha mengambil alih GyehRu dengan kekerasan. Nyonya So Seo No secara sukarela menyerah untuk menghindari perang. GyehRu tidak diperbolehkan memiliki pasukan militer. Yeon Chae Ryeong-lah yang memerintahkan So Seo No untuk pergi. Aku kasihan padanya. Adakah cara agar kita bisa menolongnya?”
Jumong berpikir. Tiba-tiba Ma Ri berlari mendekati.
“Jenderal, kita mendapat sinyal dari lembah.” ujar Ma Ri melaporkan.
“Pergi dan cari tahu apa yang terjadi.” perintah Jumong.
“Baik.” kata Ma Ri, bergegas pergi.

Ma Ri menemui Oyi di lembah.
“Ada pembawa pesan dari istana BuYeo.” kata Oyi.
Ma Ri dan Oyi mengendarai kudanya mendekati si pembawa pesan.
“Pangeran Dae So mengirimkan sebuah surat untuk Pangeran Jumong.” kata si pembawa pesan seraya menyerahkan pesan tersebut.
Ma Ri membacanya.
“Ada apa?” tanya Oyi cemas, melihat perubahan raut wajah Ma Ri.
“Jika Jenderal tidak datang ke istana BuYeo, maka Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya akan dibunuh.” kata Ma Ri khawatir.
“Apa?!” seru Oyi terkejut.

Mereka berdua kembali ke markas persembunyian.
“Ada masalah apa?” tanya Jumong pada mereka.
Ma Ri tersenyum. “Tidak ada apa-apa.” jawabnya berbohong. “Kami melihat rombongan pedagang, tapi mereka bukan berasal dari Han.”
“Pastikan agar tidak mengganggu rombongan bisnis dari negara lain.” kata Jumong mengingatkan.”
“Baik.” ujar Ma Ri. Jumong berjalan pergi. Ma Ri berpaling pada Oyi. “Oyi, panggil Hyeopbo.”

“Mereka sangat rendah!” seru Hyeopbo marah begitu Ma Ri dan Oyi selesai menceritakan pesan Dae So.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Oyi.
“Jika kita memberitahu pada Jenderal, ia pasti akan pergi ke istana BuYeo.” kata Ma Ri cemas.
“Kita tidak boleh memberitahu Jenderal!” seru Oyi.
“Maksudmu, kita akan membiarkan Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya mati begitu saja?” tanya Hyeopbo.
Oyi berpikir. “Ayo kita pergi dan menyelamatkan Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya.” katanya mengusulkan. “Ayo pergi tanpa memberitahu Jenderal.”
“Apa kau yakin kita bisa menyelamatkan mereka?” tanya Ma Ri ragu. “Jika tidak, maka kita akan mati!”
Ma Ri meminta saran Ye Mi Eul.

Oyi dan Hyeopbo hadir dalam rapat bersama Jumong dan mengatakan bahwa Ma Ri sedang ada keperluan.
Jumong dan rekannya berunding mengenai kota mana yang akan menjadi target selanjutnya.
“Changchun adalah pusat strategi yang sangat penting.” kata Muk Guh.
“Jauhnya hanya sekitar 100 li dari pertambangan besi Joongsan.” kata Jae Sa. “Changchun akan menjadi titik penting strategi ketika kita mengambil alih Joongsan.”
“Aku akan memeriksa tempat itu.” kata Jumong.
“Kami akan mengantarmu.” kata Moo Gul menawarkan.
Jumong berpaling pada Oyi dan Hyeopbo. “Aku akan pergi bersama Jae Sa, Moo Gul, Muk Guh dan Sun In.” katanya. “Kalian tetaplah disini dan menjaga markas.”
“Baik.” kata Oyi dan Hyeopbo bersamaan.

Di penjara BuYeo, Yoo Hwa berusaha mencari cara untuk menghentikan Jumong datang ke BuYeo.
Na Ru menjaga penjara tersebut dengan ketat.
“Untuk apa kau kemari?” tanya Na Ru ketika melihat tabib istana datang ke penjara.
“Aku ingin memeriksa kondisi kehamilan Lady Ye Soya.” jawab Tabib.
“Biarkan dia masuk.” ujar Na Ru mengizinkan.
Tabib memeriksa Ye Soya. Kondisi Ye Soya sudah normal.
“Aku butuh bantuanmu.” ujar Yoo Hwa. “Aku ingin mengirim Mu Duk keluar istana. Katakan apa yang harus kami lakukan.”
“Hanya ada satu jalan.” kata Tabib pelan. “Dia harus mati.”
“Mati?” Yoo Hwa sangat terkejut.
“Jika ia meminum pil yang kuberikan, maka kondisinya akan seperti orang mati.” kata Tabib menjelaskan.
“Kita tidak punta waktu lagi.” kata Yoo Hwa. “Lakukan dengan cepat.”

Jumong dan beberapa prajurit Da Mul berangkat. Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo saling bertukar pandang.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s