Jumong – Episode 49

“Tentu saja ia akan datang, karena aku akan membunuh ibu, istri dan anaknya.” kata Dae So yakin.
“Kenapa kau tidak mengambil alih tahta?” tanya Seol Ran. “Aku tidak tahan melihat Yang Mulia mengarahkan pedang padamu untuk menyelamatkan Yoo Hwa dan Ye Soya. Tidak ada alasan bagimu untuk menahan dan menunggu.”
“Apa kau ingin agar aku membunuh ayahku sendiri?” tanya Dae So.
“Tidak.”
“Lalu apa?” tanya Dae So, tajam. “Apakah ada cara lain untuk merebut tahta?”
“Kau bisa menurunkan Yang Mulia.” saran Seol Ran.
“Walaupun aku merebut tahta Yang Mulia, tapi aku melakukannya untuk melindungi diriku sendiri.” kata Dae So. “Dia adalah ayah mertuamu. Bagaimana bisa kau melakukan hal yang tidak bermoral seperti itu?!”
“Aku mengatakan itu karena aku merasa iba melihat…”
“Cukup!” bentak Dae So.
“Aku tidak tahu kenapa kau marah padaku.” ujar Seol Ran kesal. “Apa kau marah karena aku mengutarakan keinginan dalam hatimu? Aku tahu kau berpikiran sama denganku. Apakah aku salah?”
“Diam!” bentak Dae So lagi, kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Seol Ran kesal pada Dae So. Ia memerintahkan Hao Chen agar mengirimkan pesan ke Hyeon To.

Jumong, Jae Sa, Moo Gul dan Muk Guh memeriksa Changchun. Mereka memutuskan kembali ke markas dan mempersiapkan penyerangan. Di tengah perjalanan, mereka melihat seorang pembawa pesan dari BuYeo menuju ke Hyeon To. Moo Gul mengejarnya karena ingin mengetahui apa yang akan dikirimkan.
Pembawa pesan itu bukan tandingan Moo Gul. Moo Gul bisa mengalahkannya dengan mudah.
“Kemana kau akan pergi?” tanya Jumong ketika Moo Gul membawa pembawa pesan ke hadapannya.
“Ke Hyeon To.” jawab pembawa pesan.
Jumong mengambil surat yang dibawa oleh si pembawa pesan. “Surat siapa ini?” tanyanya.
Pembawa pesan menolak untuk bicara. Moo Gul mengancamnya dengan pedang.
“Surat ini dari Putri Seol Ran untuk Gubernur Hyeon To.” jawabnya dengan terpaksa.
Jumong membaca surat tersebut. Eksperesinya berubah menjadi sangat terkejut dan marah.
“Ada apa?” tanya Jae Sa.
Jumong menatap pembawa pesan tajam. “Apa yang terjadi apda Lady Yoo Hwa dan Ye Soya?” tanyanya cemas.
“Pangeran Dae So mengirimkan pesan ke Gunung Bong Gye untuk Pangeran Jumong.” kata pembawa pesan. “Mereka akan dibunuh jika Pangeran Jumong tidak muncul di istana BuYeo sampai bulan purnama.”
Jumong sangat khawatir. Tiba-tiba ia teringat Ma Ri.

Kelompok Jumong kembali ke markas persembunyian Da Mul.
“Kemana Oyi, Ma Ri dan Hyeopbo?” tanya Jumong pada Mo Pal Mo.
“Aku belum melihat mereka.” jawab Mu Song berpura-pura tidak tahu.
“Apa mereka pergi ke BuYeo?” tanya Jumong cemas.
“Jenderal..” Mo pal Mo ragu.
“Aku bertanya padamu, apakah mereka pergi ke BuYeo?!” seru Jumong.
“Ya.” jawab Mo Pal Mo.
“Apa mereka membawa pasukan?”
“Ya, mereka membawa beberapa prajurit terbaik.” jawab Mu Song.
Jumong kemudian menemui Yeo Mi Eul. “BuYeo bukan negara kecil.” kata Jumong. “Banyak pasukan yang menjaga di sana. Aku tidak bisa membiarkan ibu dan istriku mati!”
Jumong ditemani oleh Jae Sa, Moo Gul, Muk Guh mengendarai kuda mereka menuju BuYeo.

Tabib istana datang ke penjara untuk memeriksa Ye Soya. Dengan diam-diam, ia memberikan ‘pil kematian’ pada Ye Soya untuk Mu Duk.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo telah tiba di BuYeo. Mereka memeriksa keadaan sekitar.
“Pengawal istana menjaga di tempat yang biasa kita gunakan untuk masuk ke istana.” kata Oyi. “Kita tidak bisa masuk ke istana BuYeo saat ini.”
“Kalau begitu, ayo kita pergi ke Gunung Chun Ma untuk saat ini.” ujar Hyeopbo.
“Ayo!”

Mu Duk menatap Yoo Hwa dengan takut.
“Jangan khawatir.” ujar Yoo Hwa menenangkan. “Kau akan bangun sebelum kau sadari.”
Mu Duk memejamkan mata dan menelan pil tersebut.
“Mu Duk!” teriak Yoo Hwa.
Para penjaga masuk ke penjara untuk melihat keadaan. Mereka bergegas memanggil Na Ru tabib istana untuk memeriksa.
“Dia sudah meninggal.” kata Tabib.
Na Ru memeriksa napas dan nadi Mu Duk.
“Kenapa kalian semua tidak punya hati?!” seru Yoo Hwa marah. “Mu Duk…”

Na Ru melaporkan kematian Mu Duk pada Dae So.
Na Ru dan para pengawal lalu membuang Mu Duk di pinggir hutan.
Beberapa waktu kemudian, Mu Duk terbangun. Ia berjalan pergi dengan gontai.

Di tempat lain, So Seo No telah mengetahui kesulitan yang menimpa Jumong. Ia lalu meminta Sayong agar mengirim sebuah surat pada ayahnya di GyehRu.

Tuan Chin dan Young Po tiba di Hyeon To. Tuan Chin datang sebagai utusan dari Chang An untuk meminta pertanggungjawaban Yang Jung karena tidak mengirimkan para pengungsi ke Chang An sebagai budak.
“Dong Sun, pergi dan kabarkan hal ini ke BuYeo.” perintah Yang Jung.
Yang Jung menyambut kedatangan Tuan Chin.
“Sepertinya Hyeon To belum mendengar mengenai kemarahan Kaisar.” kata Tuan Chin menyindir.
Young Po tersenyum. “Sudah lama tidak bertemu.” sapanya dingin pada Yang Jung.

Sayong telah tiba di GyehRu. Ia menyerahkan surat dari So Seo No pada Yeon Ta Bal.
“Apa isi surat itu?”tanya Gye Pil.
“Ingat saat kita pergi ke istana BuYeo ketika rombongan kita pertama kali tiba di BuYeo?” tanya Yeon Ta Bal.
“Aku tahu istana BuYeo seperti telapak tanganku sendiri.” jawab Gye Pil tertawa.
“So Seo No ingin mengetahui mengenai rahasia jalan masuk rahasia ke istana BuYeo.” kata Yeon Ta Bal. Ia berpaling pada Sayong. “Apa yang terjadi?” tanyanya.
Sayong berpikir. “Kurasa ia ingin mencoba membantu Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya keluar dari istana.” jawab Sayong.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo berjalan menuju Gunung Chun Mu. Di tengah perjalanan, Oyi merasakan sesuatu. “Aku merasakan sesuatu yang ganjal.” kata Oyi.
Mereka bertiga memasang kuda-kuda pertahanan.
Tiba-tiba Jumong, Moo Gul, Jae Sa dan Muk Guh berjalan mendekati mereka.
Oyi terlonjak kaget.
“Jenderal!” seru Ma Ri.
Dengan pandangan marah dan tanpa mengatakan apa-apa, Jumong memukul Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo sampai terjatuh.
“Bangun!” perintah Jumong.
Mereka bertiga bangun dan berdiri.
“Kenapa kalian melakukan ini padaku?” tanya Jumong.
“Kami merasa bahwa ini adalah keputusan yang benar.” jawab Ma Ri.
“Keputusan yang benar?” ulang Jumong. “Menuju kematian tanpa memberitahukan apapun padaku, adalah sebuah keputusan yang benar?” tanya Jumong.
“Apa lagi yang bisa kami lakukan?” tanya Oyi. “Kau akan terbunuh bila pergi ke BuYeo! Kami tidak bisa membiarkan itu terjadi!”
“Benar.” ujar Hyeopbo setuju. “Pasukan Da Mul akan lenyap bila kau mati! Kami tidak bisa membiarkan kau mati!”
“Nyawa ibu dan istriku dipertaruhkan disini.” ujar Jumong. “Hal seperti ini tidak bisa kalian putuskan dengan gegabah.”
Oyi menundukkan kepalanya.
“Kalian adalah sosok pemimpin bagi Pasukan Da Mul, juga saudaraku.” kata Jumong. “Bagaimana aku bisa membangun sebuah negara baru tanpa kalian? Jika kita memang harus mati, kita akan mati bersama.”
Oyi meneteskan air matanya. Ma Ri dan Hyeopbo menundukkan kepalanya. Jae Sa dan kawan-kawannya tersenyum.

Dae So dan seluruh pihak istana BuYeo menunggu kedatangan Jumong. Yoo Hwa dan Ye Soya dipaksa berlutut di hadapan Dae So.
“Jika Jumong tidak datang sampai matahari tenggelam, maka kalian berdua akan mati.” kata Dae So mengancam.
“Kau sangat bodoh.” ujar Yoo Hwa. “Jika Jumong mau, maka ia pasti sudah membawaku ketika ia pergi dari BuYeo. Dia tidak akan datang. Bunuh saja aku.”
Dae So tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatap Yoo Hwa dengan marah.
Di kamarnya, Geum Wa sangat cemas.

Di pihak lain, Jumong dan kawan-kawannya menuju ke suatu tempat yang tidak jauh dari kota BuYeo.
“Kalian tunggu saja disini.” ujar Jumong. “Aku akan pergi ke istana BuYeo dan menyelesaikan segala sesuatunya dengan Dae So.”
Mereka sangat terkejut.
“Kau tidak boleh pergi!” larang Ma Ri. “Kalaupun kau memberikan nyawamu, aku ragu mereka akan membebaskan Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya.”
“Ma Ri benar.” kata Hyeopbo. “Kita harus mencari cara lain agar bisa menyelamatkan mereka.”
“Ibu dan istriku akan mati ketika kita sibuk mencari cara.” kata Jumong cemas. “Tunggu aku.”
Saat Jumong mau berjalan menuju kota, Mu Duk muncul di hadapan mereka.
“Aku sudah menunggumu selama tiga hari tiga malam disini.” kata Mu Duk. Ia mengeluarkan sebuah surat. “Ini adalah surat dari Lady Yoo Hwa untukmu.”
Jumong terkejut dan menerima surat itu. Sebuah surat kain yang dituliskan dengan menggunakan darah.
Jumong membaca surat itu. “Jumong, aku sangat berharap kau tidak datang ke BuYeo sehingga tidak menerima surat ini. Tapi walaupun kau sudah ada di BuYeo, kau tidak boleh datang ke istana. Ingatlah kata-kataku ketika aku memintamu untuk tidak berpaling lagi ke belakang. Sebelum kau berpikir mengenai Soya dan aku, pikirlah dulu mengenai ratusan pengungsi yang bergantung padamu. Itu adalah impian Hae Mo Su dan tugasmu adalah membuat sebuah rumah dan negara baru untuk para pengungsi. Jika aku bisa mengorbankan nyawaku demi negara barumu, maka Soya dan aku akan rela menerima tebasan pedang. Jika kau tetap datang ke istana setelah mendapat surat ini, maka Soya dan aku akan mai di depan matamu. Jangan kecewakan ibumu.”
Jumong menggenggam surat itu erat dan menangis.

Dae So dan pihak BuYeo menunggu kedatangan Jumong hingga malam, namun Jumong tidak juga muncul.
“Ibu dan istrinya akan mati, tapi dia lebih memilih untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.” kata Seol Ran sinis. “Aku baru tahu kalau Jumong adalah orang yang kejam. Pangeran, bunuh mereka.”
“Kita tunggu sebentar lagi.” kata Dae So.
“Dia tidak akan datang.” ujar Ye Soya, “Jangan menunggu sia-sia. Dia bukan orang yang bodoh sehingga akan menoleh ke belakang demi perasaan pribadi.”
“Ye Soya dan aku rela mati demu membantu Jumong mewujudkan mimpinya.” tambah Yoo Hwa. Kau boleh membunuh kami sekarang.”
Seol Ran meledak marah. “Apa yang kau tunggu?! Mereka meminta mati! Bunuh mereka!” teriaknya penuh emosi.
Dae So menarik pedang Na Ru dan mengangkatnya. Yoo Hwa dan Ye Soya menatap Dae So tanpa rasa takut.
“Bunuh mereka sekarang!” teriak Seol Ran.
Para pejabat cemas dan takut.
Dae So menggenggam pedangnya dengan gemetar, dipenuhi kemarahan. Ia berteriak, namun kemudian melempar pedangnya ke tanah dan berjalan pergi.
“Pangeran!” teriak Seol Ran memanggil. Namun Dae So tidak berpaling.

Yoo Hwa dan Ye Soya diantar kembali ke kamar. Sesampainya di sana, Yoo Hwa pingsan.
“Ibu!” seru Ye Soya khawatir. “Ibu!”
Ia memanggil tabib istana untuk memeriksa Yoo Hwa.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Ye Soya.
“Aku akan membawakan obat.” kata tabib.
Ye Soya merawat Yoo Hwa, menatap ibunya itu dengan sedih.

Jumong khawatir. Ia hanya berdiri diam di tengah padang rumput.
Jumong dan kawan-kawannya masih berada di hutan di luar kota BuYeo. Teman-temannya melihat Jumong dari jauh.
“Kita harus segara kembali ke Gunung Bong Gye.” kata Jae Sa.
“Kita bahkan tidak tahu apakah Lady Yoo Hwa dan Putri Ye Soya masih hidup.” kata Ma Ri cemas.
Beberapa saat kemudian Sayong tiba. Ia ingin bicara dengan Jumong.
Hyeopbo sangat senang melihat Sayong, kemudian mengantarkannya untuk menemui Jumong.
Sayong menunduk untuk memberi hormat, kemudian memberikan sesuatu pada Jumong.
“Apa ini?” tanya Jumong.
“Ini adalah sebuah peta jalan rahasia menuju istana BuYeo.” jawab Sayong.
Jumong menerima peta tersebut dan membukanya.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s