Jumong – Episode 50

Jumong menerima dan membuka peta yang diberikan Sayong.
“Ketika kelompok kami pertama kami datang ke BuYeo, kami mempelajari segalanya tentang BuYeo.” kata Sayong. “Kami bertemu dengan seorang pria tua yang memberi tahu kami tentang jalan rahasia yang dibuat pada masa pemerintahan Raja Bu Ru.”

Dae So putus asa. Cara apa lagi yang bisa dilakukannya untuk menangkap Jumong? Perdana Menteri menyarankan agar Dae So bersabar dan menunggu peluang yang tepat untuk menangkap Jumong dan melenyapkan Pasukan Da Mul.
“Semakin lama Jumong akan tumbuh semakin kuat.” kata Dae So. “Jika kita terus menunggu, mereka bisa saja melakukan sesuatu pada kita.”
“Pangeran, selama kita memiliki Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya, Jumong tidak akan berani menyerang BuYeo.” kata Perdana Menteri. “Jangan khawatir.”

Jumong dan kawan-kawannya berunding di Gunung Chun Ma.
“Sekarang kita sudah mengetahui jalan rahasia, ayo kita pergi untuk menyelamatkan Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya.” kata Ma Ri.
“Tidak secepat itu.” kata Jae Sa. “Kita harus memeriksa terlebih dahulu mengenai situasi di dalam istana dan dimana para pengawal dialokasikan.”
“Kita tidak punya waktu untuk itu!” seru Hyeopbo tidak setuju.
“Semakin kita terburu-buru, maka kita akan semakin lambat.” kata Moo Gul. “Kenapa kalian begitu tidak sabar?”
“Jaga mulutmu!” seru Oyi. “Kau tidak tahu sifat Pangeran Dae So! Kalian hanyalah bandit di Mo Dun! Apa yang kalian tahu?”
Moo Gul menggebrak meja. “Apa?!”
“Apa yang kalian lakukan?” Jumong menengahi.
“Kita harus mencari tahu mengenai keadaan kedua Lady.” kata Muk Guh.
“Baiklah.” ujar Jumong setuju. “Kita harus mencari tahu keadaan istana dan memastikan lokasi jalan rahasia.”
Jumong meminta Ma Ri dan Jae Sa tinggal sementara yang lain keluar dari ruangan tersebut.
“Aku ingin kalian menjadi dasar kekuatan Pasukan Da Mul, bukan untuk saling bertengkar satu sama lain.” kata Jumong.
“Maafkan kami.” kata Ma Ri dan Jae Sa.
“Untuk menguatkan Pasukan Da Mul, aku akan memberikan tugas pada kalian sesuai dengan kemampuan kalian masing-masing.” lanjut Jumong. “Aku akan menyusun Pasukan Da Mul secara sistematis segera setelah kita kembali ke Gunung Bong Gye.”
“Ya.”

Ye Soya merawat Yoo Hwa yang masih juga belum bisa bangkit dari tempat tidurnya.
“Ibu, aku tidak memiliki siapa-siapa untukku bersandar jika ibu sakit seperti ini.” ujar Ye Soya, menangis sedih.
Geum Wa sangat mencemaskan keadaan Yoo Hwa yang masih juga terbaring di ranjang.

Na Ru memberikan laporan mengenai Yoo Hwa pada Dae So.
“Kita tidak boleh membiarkan dia mati sebelum menangkap Jumong.” kata Dae So. “Katakan pada tabib agar melakukan segala cara untuk menyembuhkannya.”
“Baik.” kata Na Ru. “Pangeran, Yang Mulia ingin menjenguk Lady Yoo Hwa. Apa yang harus aku lakukan?”
“Bubarkan pengawal istana dari kamar Yang Mulia.” kata Dae So.
“Baik.”

Geum Wa menjenguk Yoo Hwa. Yoo Hwa membuka matanya.
“Jangan tinggalkan aku.” kata Geum Wa sedih. “Apa yang akan kulakukan jika kau pergi? Cepatlah sembuh.”
Yoo Hwa menoleh, namun tidak mengatakan apa-apa.

Ma Ri dan Hyeopbo sudah memeriksa dan menemukan lokasi jalan rahasia. Mereka akan menyusup ke istana malam ini juga.

Dae So mengalami masalah. Karena Dae So dikalahkan oleh Pasukan Da Mul yang tidak berpengalaman, maka negara dan klan tetangga memandang rendah pada BuYeo.
Perdana Menteri mengatakan pada Dae So bahwa rombongan pedagang So Seo No meminta izin untuk berdagang di BuYeo.
Dae So bertemu langsung dengan So Seo No.
“Lama tidak berjumpa.” kata Dae So. “Aku menyesal mendengar bahwa kau harus memimpin perjalanan dagang ditengah kehamilanmu.”
“Aku lahir dan dibesarkan dalam perjalanan dagang.” kata So Seo No. “Aku sudah ditakdirkan seperti ini. Jangan khawatir.”
“Jika kau mendengarkan aku, kau dan klanmu akan berada dalam perlindungan BuYeo.” kata Dae So. “Tidakkah kau merasa menyesal?”
So Seo No tersenyum. “Tidak ada gunanya penyesalan.” katanya. “Satu-satunya yang kumiliki saat ini hanyalah kelompok pedagangku. Pangeran, tolong bantulah aku.”
Dae So tersenyum. “Kemana perginya keangkuhanmu?” tanyanya. “Baiklah. Aku memberimu izin untuk berdagang di BuYeo.”
“Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Pangeran.” ujar So Seo No, kemudian keluar dari ruangan.

Setelah mengetahui letak jalan rahasia, Hyeopbo dkk mencari tahu mengenai keadaan Lady Ye Soya dan Lady Yoo Hwa. Di kota, secara tidak sengaja, pengawal istana melihat mereka. Ia segera melapor pada Na Ru, Na Ru lalu melapor pada Dae So.
“Mungkin mereka akan mencoba untuk membawa Lady Yoo Hwa dan Ye Soya keluar.” kata Dae So. “Perketat penjagaan istana dan tambahkan jumlah pengawal yang berjaga.”

Ma Ri dkk melaporkan informasi yang mereka dapatkan pada Jumong. Jumong tersenyum lega mendengar istri dan ibunya masih hidup.

Malamnya, Jumong dan keenam kawannya menyusup ke dalam istana melewati jalan rahasia.
“Aku akan memeriksa kamar ibuku bersama Jae Sa, Moo Gul dan Muk Guh.” kata Jumong pada Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo. “Kalian pergilah ke kamar Ye Soya. Jika penjagaan tidak terlalu ketat, bawa mereka keluar.”
“Aku mengerti.” kata Ma Ri.

Pihak BuYeo memperketat penjagaan. Na Ru memerintahkan pada para pengawalnya untuk meniup peluit terlebih dahulu ketika melihat Jumong, setelah itu barulah mereka boleh bertarung.

Jumong hendak menuju kamar ibunya, namun penjaga terlalu banyak. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk membawa Yoo Hwa keluar. Kelompok Ma Ri mengalami keadaan yang sama. Mereka memutuskan untuk kembali bertemu di tempat semula.
“Terlalu banyak pengawal istana yang berjaga.” kata Ma Ri pada Jumong.
“Begitu juga di kamar Lady Yoo Hwa.” kata Jae Sa.
“Bahkan Dae So pun ikut berpatroli.” ujar Jumong, berpikir. “Mungkin mereka sudah tahu bahwa kita datang.”
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Hyeopbo.
Jumong terdiam, mencoba memikirkan suatu cara. “Ayo pergi ke kuil.”

Jumong dan keenam kawannya memingsankan para penjaga kuil Peramal. Jumong memerintahkan Jae Sa, Moo Gul dan Muk Guh untuk menyamar menjadi penjaga, sementara ia, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo masuk ke dalam kuil.

Di luar, Na Ru memeriksa keamanan kuil. “Apakah semua baik-baik saja?” tanyanya pada Jae Sa yang menyamar.
“Ya.” jawab Jae Sa.
Na Ru hendak berjalan pergi, namun tiba-tiba berbalik lagi, menatap Jae Sa tajam.
Jae Sa cemas dan menegakkan cara berdirinya.
Na Ru mendekati Jae Sa. “Jika sesuatu terjadi, tiup peluit terlebih dahulu, baru kemudian bertarung.” katanya.
“Ya.” jawab Jae Sa lega.

Di dalam Kuil, Jumong mencari Ma Oo Ryeong dan mengancamnya.
“Jika kau melakukan apa yang kuperintahkan, maka aku tidak akan menyakitimu.” kata Jumong.
“Katakanlah.” ujar Ma Oo Ryeong.
“Kirim pelayan kuil untuk memanggil ibuku dan Ye Soya kemari.” perintah Jumong.
“Lady Yoo Hwa dan Putri Ye Soya sedang berada dalam pengawasan.” kata Ma Oo Ryeong.
“Aku tahu.” kata Jumong. “Tapi aku tahu kau bisa melakukannya.”
Oyi mengarahkan pedangnya ke leher Ma Oo Ryeong.
Ma Oo Ryeong ketakutan. “Aku tidak bisa memanggil Lady Yoo Hwa.” katanya.
“Kenapa?”
“Ia sedang berada dalam kondisi kritis.” jawab Ma Oo Ryeong.
“Kalau begitu, panggil Putri Ye Soya kemari.” perintah Ma Ri. “Jika kau melakukan kesalahan, maka kami tidak akan segan-segan menyakitimu.”
“Aku akan memanggil pelayan kuil.” kata Ma Oo Ryeong.
Ma Oo Ryeong memanggil pelayan dan menyuruhnya untuk memanggil Ye Soya.

Di tempat lain di istana, Seol Ran terus-menerus menekan Dae So.
“Kenapa kau tidak membunuh Lady Yoo Hwa dan Ye Soya?” tanya Seol Ran. “Kau telah berjanji akan membunuh mereka jika Jumong tidak datang, tapi kau malah mengampuni mereka. Para pejabat tidak akan takut padamu lagi. Kau harus menciptakan kekuasaan dan kekuatanmu sendiri.”
Dae So terlihat sangat tidak senang karena Seol Ran mengajari apa yang harus dilakukannya. “Aku mengerti.” katanya dingin. “Kau boleh pergi.”

Seol Ran keluar dari ruangan Dae So. Di jalan, ia bertemu dengan Ye Soya dan pelayan kuil.
“Ia sedang dalam pengawasan.” kata Seol Ran.
“Peramal Ma Oo Ryeong ingin bertemu dengannya.” ujar pelayan kuil.
“Peramal Ma Oo Ryeong?” tanya Seol Ran. “Kenapa?”
“Aku tidak tahu.” jawab pelayan.
“Pergilah.” kata Seol Ran mengizinkan.

Ye Soya tiba di kuil, menemui Ma Oo Ryeong. “Kenapa kau ingin bertemu denganku?” tanya Ye Soya.
Ma Oo Ryeong bangkit dari duduknya dan memandang ke belakang. Ye Soya menoleh. Jumong keluar dari persembunyiannya.
“Pangeran…” ujar Ye Soya ketika melihat Jumong, tidak bisa menahan air matanya.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo mengajak Ma Oo Ryeong keluar dan membiarkan Jumong dan Ye Soya bicara berdua.
“Istriku…” Jumong meneteskan air matanya. Ia mendekati Ye Soya dan memeluknya.

Seol Ran tidak bisa tenang memikirkan Ye Soya, Ia kemudian memerintahkan Hao Chen untuk mencari tahu alasan Ma Oo Ryeong memanggil Ye Soya.

Di kuil peramal.
“Apakah kau mendapatkan surat dari ibu?” tanya Ye Soya.
“Ya.” jawab Jumong.
“Lalu kenapa kau ada disini?”
“Aku tidak bisa meninggalkan kalian berdua.” jawab Jumong sedih.
“Kembalilah.” pinta Ye Soya, cemas. “Semua orang sedang berusaha menangkapmu.”
“Apakah ibuku sakit?” tanya Jumong.
“Benar, tapi jangan khawatir. Aku dan tabib akan melakukan segala cara untuk mengobatinya.” ujar Ye Soya menenangkan. “Ia akan segera sembuh.”
Jumong tersenyum. “Aku datang untuk membawamu dan ibu keluar dari sini.”
“Aku tahu, tapi ibu sedang sakit.” ujar Ye Soya. ” Aku juga tidak bisa pergi. Siapa yang akan menjaga ibu jika aku tidak ada? Aku harus tinggal disini dan menjaganya.”
“Istriku…” Jumong mencoba membujuk.
“Jangan khawatirkan aku. Pergilah.” ujar Ye Soya. “Ingatlah apa yang dikatakan ibu. Kau hanya bisa menyelamatkan kami dengan mewujudkan cita-citamu. Aku akan menjaga ibumu. Jangan kembali lagi ke BuYeo.”
Jumong ragu. “Kudengar, kau sedang mengandung.” katanya.
Ye Soya tersenyum. “Benar. Aku akan melahirkan dan membesarkan anak ini dengan kuat.”
Jumong menangis dan menarik Ye Soya ke pelukannya.

Hao Chen sedang berjalan menuju kuil.
“Kau harus pergi!” kata Ye Soya cemas. “Pangeran Dae So tahu bahwa kau sedang berada di BuYeo.”
Jumong mengeluarkan sebilah belati dan mematahkannya. Ujung belati tersebut diberikan pada Ye Soya. “Berikan ini pada anakku. Ini akan menjadi tanda janji bahwa kita akan bertemu lagi.”
Ye Soya menerima ujung belati tersebut. Jumong menatap Ye Soya, dengan berat hati meninggalkannya.

Hao Chen tiba di kuil. Jae Sa melarangnya masuk dengan alasan Ma Oo Ryeong sedang melakukan upacara ritual dan tidak mengizinkan siapapun masuk. Hao Chen bersikeras.
Beberapa saat kemudian Ma Oo Ryeong keluar. “Aku memanggil Putri Ye Soya untuk melihat masa dengannya agar bisa menangkap Pangeran Jumong.” katanya.
Hao Chen mengangguk dan pergi.
Ma Ri keluar dari persembunyiannya. “Jika Pangeran Dae So tahu bahwa kami datang ke kuil, maka nyawamu akan berada dalam bahaya.” ancamnya.
Jumong keluar. “Kita pergi.”
“Bagaimana dengan Putri Ye Soya?” tanya Ma Ri.
“Dia harus menjaga ibuku.” jawab Jumong.
Ma Ri dan yang lainnya menarik napas sedih.
“Maafkan aku karena mengganggumu.” kata Jumong pada Ma Oo Ryeong.
“Bagiku, tidak terjadi apapun malam ini.”
Jumong menunduk untuk memberi hormat, kemudian pergi bersama kawan-kawannya.

Jumong menoleh kembali ke arah istana. Matanya berkaca-kaca. Ia kemudian bersujud pada ibunya dari jauh.
Dalam perjalanan kembali ke kamarnya, Ye Soya menangis.

Jumong kembali ke Gunung Bong Gye.
Mo Pal Mo dan para pengungsi menyambut kedatangannya. Mu Song terkejut ketika melihat Mu Duk ikut kembali bersama mereka.
“Bagaimana?” tanya Mo Pal Mo pada Ma Ri, cemas bukan main. “Dimana Lady Yoo Hwa dan Putri Ye Soya?”
“Kami tidak bisa membawa mereka.” jawab Ma Ri.
Mo Pal Mo menangis sedih. “Jenderal…”
“Apakah keadaan disini baik-baik saja?” tanya Jumong.
Mo Pal Mo mengangguk. “Ya.”

So Seo No kembali ke GyehRu. Keuntungan yang diperoleh So Seo No sangat besar.
Chae Ryeong mengatakan bahwa GyehRu harus membagi keuntungan tersebut dengan Song Yang. Gye Pil dan Oo Tae menolak. Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi kecuali dengan terpaksa menerima semua permintaan Song Yang.
So Seo No juga berniat melakukan perjalanan dagang lagi begitu karavan mereka siap. Ia punya rencana khusus dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, yakni melatih pasukan untuk menyerang BiRyu.

Young Po telah kembali ke BuYeo, ditemani dengan Tuan Chin.
“Berkat kesalahan Pangeran Dae So dan Gubernur Yang Jung, masa tinggalku di Chang An menjadi sangat berat.” kata Young Po menyindir. “Pihak istana Han berencana akan mengirimkan Pasukan Yo Dong ke BuYeo dengan tujuan untuk menangkap Jumong. Hal tersebut bisa saja memancing peperangan, tapi aku berhasil menghentikannya.” Young Po berkata itu dengan sikap angkuh dan bangga.
Dae So mengernyit kesal.
“Tapi Kaisar Han masih sangat marah.” Tuan Chin menambahkan. “Ia kehilangan budak, dan ia tidak bisa lagi menerima perampokan barang-barangnya.”
“Lalu apa yang diinginkan Han?” tanya Perdana Menteri.
“Bawa Jumong sebagai hadiah untuk Kaisar!” jawab Tuan Chin tajam. “BuYeo juga harus mengganti semua barang-barang Han yang dirampok.”
Pihak BuYeo sangat terkejut. Young Po tersenyum-senyum melihat mereka.

Jumong masih bersedih dan tidak bisa berhenti memikirkan istri dan ibunya.
Yeo Mi Eul, bersama dengan So Ryeong mendekatinya.
“Inilah saat yang tepat untuk menyerang Changchun.” kata Yeo Mi Eul.
“Kudengar Yang Jung sedang mengunjungi Changchun.” ujar So Ryeong menambahkan.
“Ini kesempatan yang baik untuk melenyapkan Yang Jung.” kata Yeo Mi Eul.
Jumong menerima saran Yeo Mi Eul. Ia memimpin pasukan Da Mul untuk pergi berperang.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s