Jumong – Episode 51

Kembalinya Young Po ke BuYeo membawa kembali permusuhan lama. Young Po merasa dendam dan ingin menjatuhkan Dae So.

Yang Jung tiba di Changchun. Para petinggi disana menyambutnya dengan terpaksa. Yang Jung meminta agar Changchun menyediakan baja dua kali lipat dari biasanya.
“Semua warga kami, kecuali wanita dan anak-anak, sudah bekerja di pertambangan.” kata petinggi mencoba menjelaskan. “Tolong mengertilah kondisi kami.”
“Cukup!” ujar Yang Jung, tidak mau mendengan penjelasan. “Kalau begitu, mereka bisa bekerja lebih keras. rang tua dan anak muda harus bekerja juga.”
Para petinggi saling berpandangan, namun tidak bisa melakukan apapun.

Saat hari gelap, Jumong dan pasukan Da Mul menunggu Oyi dan Moo Gul yang sedang memata-matai Changchun.
“Bagaimana?” tanya Jumong ketika Oyi dan Moo Gul datang.
“Yang Jung tidak banyak dikawal.” kata Oyi. “Hanya sekitar 50 prajuri.” tambah Moo Gul.
“Tujuan terakhir Yang Jung adalah Joongsan.” kata Jumong. “Kita akan menyergap dia di lembah Changchun. Malam ini kita berkemah disini.”
Jumong dan keenam perwira tingginya mengadakan rapat.
“Para pekerja pertambangan sudah lama harus bekerja paksa di pertambangan untuk Han.” kata Jae Sa. “Jika kita menyelamatkan mereka, mereka pasti akan menerima kita.”
Tapi mereka tidak tahu apakah Kepala Klan Changchun berpihak pada Han atau tidak. Muk Guh menyarankan agar mereka menculik Kepala Klan Changchun terlebih dahulu untuk mencari tahu.
Jumong akhirnya memutuskan bahwa ia dan Pasukan Da Mul akan menyerang Yang Jung, sementara Hyeopbo, Oyi dan Moo Gul bertugas untuk menculik Kepala Klan Changchun.

Keesokkan harinya, Yang Jung pergi dari Changchun.
Di tengah perjalanan, ia diserang secara tiba-tiba oleh Pasukan Da Mul. Yang Jung sangat terkejut. Ia mencoba untuk kabur.
Jumong melihatnya mencoba kabur, kemudian menembakkan sebuah panah ke arah Yang Jung. Panah tersebut mengenai lengan Yang Jung.
“Ma Ri!” panggil Jumong. “Kita kejar Yang Jung!”
Jumong dan ketiga temannya mencoba mengejar Yang Jung. Setelah berhasil membunuh Iron Army dengan panahnya, Jumong menembakkan panah pada Yang Jung.
Yang Jung terjatuh dari kudanya. Ma Ri berlari dan melihat Yang Jung, tapi ternyata itu bukan Yang Jung, melainkan hanya seorang prajurit yang menyamar.

Jumong kembali ke Changchun. Di sana, rakyat Changchun menyambut Pasukan Da Mul dengan seruan, “Hidup Pasukan Da Mul! Hidup Pasukan Da Mul!”
Hyeopbo, Oyi dan Moo Gul datang bersama Kepala Klan Chungchan. Hyeopbo mengatakan bahwa Kepala Klan bersedia bergabung dengan Pasukan Da Mul.
Jumong mengangguk kepada Kepala Klan, lalu bicara di depan warga.
“Aku adalah Jenderal Jumong dari Pasukan Da Mul. Aku tahu bahwa Changchun sudah berada dibawah tekanan Han selama bertahun-tahun dan dipaksa bekerja di pertambangan. Mulai sekarang kalian bergabung dengan Pasukan Da Mul. Pasukan Da Mul dan aku akan melindungi kalian.”
“Hidup Pasukan Da Mul! Hidup Pasukan Da Mul!” seru warga.

Jumong, Ma Ri dan Jae Sa berunding dengan Kepala Klan Changchun. Jumong memintanya agar merahasiakan bahwa Changchun telah bergabung dengan Pasukan Da Mul. Kepala Klan mengerti dan akan melaksanakan perintah Jumong.
“Apakah kau tahu mengenai Yeon Ta Bal dari GyehRu?” tanya Kepala Klan.
“Aku tahu dengan baik.” kata Jumong.
“Belakangan ini, aku melakukan kesepakatan dengannya.” kata Kepala Klan. “GyehRu ada dibawah BiRyu. Prajurit GyehRu tidak diperbolehkan memiliki senjata. Yeon Ta Bal meminta kami untuk membantunya dalam militer. Kami setuju untuk mengirimkan beberapa orang ke GyehRu.”
“Aku berpikir, kenapa mereka butuh pasukan?” kata Ma Ri.

Di saat yang sama, rombongan So Seo No tiba di Chungchan, namun So Seo No meminta Sayong pergi ke kota untuk melihat keadaan. Di sana, ia melihat Jumong dan kawan-kawannya sedang diantar pergi oleh Kepala Klan. Sayong bergegas melaporkan hal ini pada So Seo No.
“Pangeran Jumong dan Pasukan Da Mul sudah mengambil alih Chungchan.” kata Sayong.
Oo Tae dan So Seo No sangat terkejut.
“Pangeran Jumong mengambil alih Changchun karena ia butuh besi dari pertambangan.” kata Sayong.
“Itu pasti akan memancing peperangan dengan Han.” kata Oo Tae.
So Seo No berpikir. “Kita akan kembali ke GyehRu.” katanya. “Jika Changchun dan Pasukan Da Mul akan berperang melawan Han, maka mereka tidak akan punya pasukan yang lebih untuk kita. Walaupun mereka sudah berjanji, tapi aku tidak mau membebani mereka.”

Yang Jung sudah kembali ke Hyeon To dalam keadaan terluka. Ia sangat marah pada Jumong. Di tambah lagi Dong Sun, pengawal Yang Jung, mengatakan bahwa pasukan Han di Joongsan sudah dilenyapkan oleh Pasukan Da Mul.
“Jika berita ini sampai ke Chang An, maka kau akan disalahkan!” kata pengawalnya.
Yang Jung menggebrak meja dengan marah.

Seol Ran mendapat kabar mengenai ayahnya yang terluka oleh Jumong. Ia menemui Dae So untuk meminta bantuannya.
“Aku butuh bantuan Pangeran.” ujar Seol Ran. “Ayahku terluka oleh Jumong dan Pasukan Da Mul. Iron Army menjadi lemah setelah peperangan dengan Pasukan Da Mul. Aku ingin meminta bantuan Pangeran agar mengirimkan Pasukan untuk merebut Joongsan kembali.”
Dae So ragu.
“Pangeran, ayahku selalu menolongmu.” bujuk Seol Ran. “Kini saatnya Pangeran menolongnya.”
“Aku ingin menolongnya, tapi aku tidak bisa.” kata Dae So.
“Apa maksudmu kau tidak bisa?”
“Saat ini BuYeo sedang mengalami masalah finansial karena barang-barang yang diminta oleh Tuan Chin.” kata Dae So. “Mengirim pasukan pada saat seperti ini akan sangat membebani negara. Aku menyesal mengatakan ini, tapi aku tidak bisa membantu ayahmu.”
Seol Ran marah. “Bagaimana bisa kau tidak membantu saat ayahku sedang dalam bahaya? Ayahku harus kuat jika kau ingin BuYeo kuat. Atau kau menghindari Pasukan Da Mul karena kau takut pada Jumong?”
“Jaga ucapanmu!” seru Dae So.
“BuYeo akan hancur tanpa ayahku!” teriak Seol Ran.
WanHo tiba-tiba datang dan berteriak marah. “Beraninya kau bicara seperti itu didepan Dae So! Ikut aku!”

Wan Ho mengajak Seol Ran ke kamarnya. “Kau warga Han atau warga BuYeo?” tanya Wan Ho. “Jika kau menikah dengan Dae So, maka kau akan menjadi warga BuYeo sampai mati!”
“Maafkan aku.” ujar Seol Ran. “Aku hanya mengkhawatirkan…”
“Diam!” bentak Wan Ho. “Kau lebih mengkhawatirkan Hyeon To dan ayahmu dibandingkan BuYeo dan Dae So!”
“Ibu…”
“Kau belum memiliki bayi sampai saat ini karena sikapmu yang buruk pada Dae So.” kata Wan Ho.
“Ibu…”
“Apakah aku salah?” tanya Wan Ho sinis. “Lalu kenapa Ye Soya hamil sebelum kau padahal ia menikah setelah kau? Itu semua karena kau tidak mencintai suamimu.”
Seol Ran terdiam, kesal.
“Aku tidak akan memaafkanmu jika kau bersikap kasar lagi pada Dae So. Ingat itu baik-baik.”
Seol Ran keluar dari ruangan Wan Ho dengan meneteskan air mata. Ia meminta Hao Chen mengantarnya ke kamar Ye Soya.

Ye Soya dipanggil keluar.
“Ikuti aku.” perintah Seol Ran.
Seol Ran membawa Ye Soya ke tempat pada pelayan yang sedang menjemur pakaian. Ia meminta pelayan-pelayan itu agar menyerahkan tugas mereka pada Ye Soya.
“Mulai saat ini, kau akan melakukan tugas pelayan.” kata Seol Ran pada Ye Soya.
“Aku akan melakukan perintahmu.” kata Ye Soya tenang.
“Aku mendapat hinaan karena kau sedang mengandung. Aku bisa membalasmu dengan melenyapkan bayimu.”
“Aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan, tapi jika terjadi sesuatu dengan bayiku, maka aku tidak akan memaafkanmu walaupun aku mati.” Ye Soya mengancam tanpa rasa takut.
Seok Ran hendak menampar Ye Soya, namun Ye Soya menahan tangannya.
“Tolong jaga sikapmu.” kata Ye Soya sinis. “Apa kau tidak malu bersikap seperti ini di depan semua pelayanmu?”
Seol Ran menghenpaskan tangannya dari pegangan Ye Soya. “Kita lihat saja, apakah kau bisa melahirkan bayi yang sehat atau tidak.”
Seol Ran pergi.

Ye Soya mencuci pakaian di sungai bersama dengan pelayan lain.
“Aku akan melindungi bayi ini.” pikir Ye Soya dalam hatinya. “Bayiku akan tumbuh menjadi kuat seperti suamiku.”

Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Ye Soya menjenguk Yoo Hwa. Kesehatan Yoo Hwa sudah lebih baik.
“Ibu, aku merasa aman karena ada ibu di sisiku.” ujar Ye Soya. “Terima kasih karena ibu sudah sembuh.”

Pihak BuYeo sedang kebingungan menyelesaikan masalah yang sedang menimpa negara mereka. Young Po masuk ke ruangan mereka berunding.
“Sewaktu di Chang An, aku belajar banyak hal.” katanya. “Seorang pria yang bersikap jahat pada ayahnya sendiri karena kekuasaan dan para pejabat yang tidak memiliki nasehat yang baik untuk diberikan, maka tidak heran bahwa negaranya sangat miskin.”
Perdana Menteri mendengar Young Po dengan pandangan sinis.
“Perdana Menteri, aku ingin mengatakan satu hal padamu.” kata Young Po. “Jika kau bersikap tidak sopan, maka kau akan membayar akibatnya.” Young Po berkata itu dengan bahasa China, kemudian mengulangnya dengan bahasa Korea.
Para pejabat kesal dengan sikapnya yang sok.

Jumong memanggil orang-orang kepercayaannya untuk mengadakan rapat.
“Kita sudah memiliki tanah pertanian.” kata Jumong. “Sekarang kita juga sudah memiliki pertambangan Joongsan. Jalan untuk membentuk sebuah negara baru sudah terbuka untuk kita. Aku akan mengumumkan tugas-tugas (jabatan) untuk memperkuat Pasukan Da Mul.”
“Membangun sebuah negara adalah perjalanan yang sangat berat.” kata Yeo Mi Eul. “Kami butuh usaha dan pengorbanan kalian.”
“Pertama, aku akan menunjuk Yeo Mi Eul sebagai Peramal Pasukan Da Mul.” kata Jumong. “Perwira Sayap Kanan adalah Ma Ri dan Perwira Sayap Kiri adalah Jae Sa. Hyeopbo akan bertugas sebagai Penanggung Jawab Militer Chugwan. Oyi sebagai Penanggung Jawab Disiplin Militer Chugwan”
Oyi tidak kelihatan senang.
Jumong melanjutkan, “Moo Gul sebagai Penanggung Jawab Pertahanan Jigwan. Muk Guh sebagai Penanggung Jawab Finansial Jigwan. Mo Pal Mo sebagai supervisor bengkel pandai besi dan Mu Song ditugaskan untuk melatih Pasukan Da Mul. Kalian harus melaksanakan tugas masing-masing dengan baik.”

Oyi dan Hyeopbo marah karena Jae Sa, Moo Gul dan Muk Guh memiliki posisi yang penting di Pasukan Da Mul padahal mereka baru saja bergabung.
“Memang apa hebatnya Jae Sa, Moo Gul dan Muk Guh?!” omel Hyeopbo.
“Kita sudah bersama Jenderal sejak lama!” seru Oyi.
“Hentikan itu!” kata Ma Ri.
“Baik, Perwira Sayap Kanan!” kata Oyi dan Hyeopbo bersamaan. Mereka berdua kemudian berjalan mendekati Moo Gul dan Muk Guh yang sedang berunding.
“Apa yang kau bisa, Penanggung Jawab Jigwan?” tanya Oyi pada Muk Guh.
Muk Guh tersenyum.
“Apakah kau sangat hebat dalam tersenyum?” tanya Oyi.
“Benar.” jawab Muk Guh. “Tersenyum lebih baik daripada menangis, bukan?”
Oyi merasa tersingung dan menarik baju Muk Guh dengan marah. Moo Gul membela Muk Guh. Hyeopbo membela Oyi. Terjadi perkelahian disana, antara Oyi dan Moo Gul.
“Hentikan!” seru Jumong, melihat mereka. “Kurasa kalian tidak sedang berlatih.”
“Maafkan kami.” kata Oyi dan Moo Gul bersamaan.
“Kalian berdua, keluarlah dari markas persembunyian.” perintah Jumong. “Pergi 100 mil dari markas dan lihat keadaan klan yang akan kita ambil alih. Jika kalian tidak bisa melaksanakan tugas ini, maka aku akan menghukum kalian. Cepat pergi.”

“Ini semua salahmu!” seru Moo Gul marah.
“Terserah apa katamu!” seru Oyi. “Bagaimana jika kita selesaikan ini sekarang? Yang kalah akan menjadi adik!”
“Baik!” seru Moo Gul menerima tantangan Oyi.
Oyi dan Moo Gul berkelahi dengan sengit. Tidak ada yang mau mengalah.

Jumong berpikir mengenai GyehRu. So Seo No membantunya dalam melarikan diri dari BuYeo dan Jumong berniat menolong GyehRu.
Jumong memerintahkan Ma Ri dan Hyeopbo pergi ke GyehRu dan mengatakan pada mereka bahwa Pasukan Da Mul ingin menolong mereka.
Ma Ri dan Hyeopbo mengunjungi GyehRu diam-diam.
“Jenderal meminta kami untuk bertanya pada kalian, apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu dan GyehRu.” kata Ma Ri.
“Terima kasih, tapi ini bukan waktu yang tepat.” kata So Seo No. “Jika pasukan Da Mul membantu GyehRu saat ini, maka kami akan diserang oleh Han dan BuYeo. Tolong beritahu Jenderal agar tidak mencemaskan GyehRu. Katakan padanya untuk menfokuskan diri dalam memperkuat Pasukan Da Mul.”
Pihak Chae Ryeong mengetahui kedatangan Ma Ri dan Hyeopbo. Chae Ryeong meminta Yang Tak untuk mengawasi So Seo No.

Di markas Pasukan Da Mul, Yeo Mi Eul mengajak Jumong pergi ke sebuah air terjun.
“Kita harus melakukan upacara ritual untuk membersihkan dirimu di air terjun.” kata Yeo Mi Eul pada Jumong.
Jumong menuruti perintah Yeo Mi Eul dan berdoa di air terjun. Setelah itu, Yeo Mi Eul membawa Jumong ke atas sebuah bukit.
“Berdoalah dengan sepenuh hatimu.” kata Yeo Mi Eul. “Langit akan memberikan petunjuk mengenai negara yang akan kau bentuk.”
Jumong berdoa di atas bukit. Yeo Mi Eul dan para pangwalnya menemani Jumong.
Jumong berdoa siang dan malam.
Tiba-tiba, terdengar suara petir di langit ditambah dengan kilat-kilat yang menyambar.
Jumong membuka matanya. Di langit, matahari sedikit demi sedikit tertutup bulan.
Peristiwa tersebut membuat kepanikan dan keterkejutan bagi semua orang, termasuk di BuYeo.
“Yeo Mu Eil, apa yang terjadi?!” seru Jumong. “Kenapa matahari menghilang?”
Yeo Mi Eul tiba-tiba pingsan.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s