Jumong – Episode 52

Matahari tertutup oleh bulan dan angin bertiup dengan sangat kencang.
Geum Wa dan semua orang di istana BuYeo terkejut melihat gerhana matahari itu.
“Matahari BuYeo menghilang!” seru Wan Ho cemas.
“Ini pertanda bahwa bencana akan datang!” kata pejabat BuYeo.
Dae So kelihatan sangat panik.
Di tempat lain, pasukan Da Mul juga terkejut melihat kejadian itu.
“Jika matahari menghilang, maka itu tandanya sebuah negara akan hancur atau seorang raja akan mati!” seru Mo Pal Mo.
Rakyat ketakutan setengah mati dan berlutut untuk memohon ampun.
Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai datangnya gerhana itu.

Yeo Mi Eul sadar. Ia berdiri dan mendekati Yeo Mi Eul.
“Kurasa itu bukan pertanda baik.” kata Jumong.
“Itu adalah gerhana matahari.” kata Yeo Mi Eul. “Matahari akan kehilangan cahayanya dan dunia menjadi gelap.”
“Maksudmu, matahari akan menghilang?” tanya Jumong.
“Jangan khawatir.” kata Yeo Mi Eul. “Matahari yang baru akan datang dan melenyapkan kegelapan. Untuk membangun sebuah dunia baru, dunia yang lama harus lenyap. Itu artinya, sebuah negara baru akan dibangun.”
Jumong mendongak menatap matahari yang menghilang. Beberapa saat kemudian, matahari kembali cerah.

Ma Oo Ryeong juga pingsan saat melihat gerhana matahari, kemudian tersadar kembali setelah gerhana berlalu. Wan Ho menemuinya.
“Sangat sulit dikatakan, tapi ini adalah pertanda bencana.” kata Ma Oo Ryeong pada Wan Ho.
“Bencana? Bencana seperti apa?” tanya Wan Ho cemas.
Ma Oo Ryeong terdiam.

Saat orang lain panik dan cemas, Young Po malah sedang nyenyak tertidur. Ma Jin membangunkannya dan mengatakan bahwa terjadi gerhana matahari, yang merupakan pertanda terjadinya bencana.

Jumong dan Yeo Mi Eul kembali ke markas Pasukan Da Mul. Jumong memerintahkan Jae Sa agar mengumpulkan pasukan dan para pengungsi.
“Aku tahu kalian semua terkejut karena kejadian yang tidak disangka-sangka.” kata Jumong pada mereka. “Tapi, kejadian itu bukan pertanda bencana untuk Pasukan Da Mul. Tapi itu adalah simbol dari terbentuknya dunia dan negara baru.”
Para pengungsi kebingungan.
“Matahari lama yang menyinari Han dan BuYeo telah lenyap.” kata Jumong menambahkan. “Dan matahari baru yang menyinari negara baru kita telah terbit. Lihat!” Jumong mendongak menatap matahari.
Para pengungsi ikut mendongak.
“Burung Berkaki Tiga akan terbang melewati matahari yang baru!” seru Jumong.
“Hidup Burung Berkaki Tiga!” seru para pengungsi dan Pasukan Da Mul. “Hidup Burung Berkaki Tiga!”

Dae So benar-benar tertekan karena kejadian gerhana matahari. Semua orang percaya bahwa itu adalah pertanda kejatuhan BuYeo. Rakyat BuYeo banyak yang berbondong-bondong meninggalkan kota.
“Perdana Menteri, kenapa semua orang berpikir bahwa ini adalah pertanda buruk?” tanya Dae So dengan ekspresi wajah menyeramkan. “Jika rakyat terganggu, maka tenangkan mereka.”
“Tapi semua orang berpikir bahwa ini adalah pertanda bencana.” kata seorang pejabat.
“Pertanda bencana?” seru Dae So menggebrak meja. “Siapa yang berani menakut-nakuti rakyat seperti itu?! Aku akan membunuh siapa saja yang berani membohongi rakyat dengan desas-desus salah!”
Para pejabat terdiam.

Jenderal Heuk Chi mencoba mengajak Perdana Menteri untuk mengembalikan kekuasaan Raja Geum Wa. Pangeran Dae So tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang saat ini sedang menimpa BuYeo. Namun Perdana Menteri menolak.

Ma Ri dan Hyeopbo telah kembali dari GyehRu dan melapor pada Jumong bahwa untuk saat ini So Seo No tidak bisa menerima bantuan Pasukan Da Mul. Namun jika suatu saat nanti So Seo No membutuhkan bantuan Pasukan Da Mul, maka ia akan memberitahu mereka.

Di GyehRu, Song Yang mengikat Oo Tae dengan tuduhan melanggar perjanjian karena ia melatih pasukan.
“Dalam melakukan perjalanan dagang, kami butuh pengawal!” kata Oo Tae. So Seo No membantunya bicara.
“Kau melanggar perjanjian yang lain denganku.” kata Song Yang. “Kau menghubungi Jumong, musuh BiRyu. Apa yang sedang kalian rencanakan?!”
So Seo No terdiam sesaat dan berpikir, kemudian menjawab, “Pangeran Jumong meminta bantuanku, tapi aku menolak. Tidak ada rencana apapun.”
“Aku tahu kau sangat dekat dengan Jumong.” kata Song Yang. “Jika Jumong meminta bantuan, aku ragu kau akan menolak. Oo Tae akan ditahan di penjara BiRyu sampai aku tidak curiga lagi pada GyehRu.”
So Seo No kesal dan cemas, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Tolong jangan!” seru Gye Pil memohon.
“Bawa ia pergi!” perintah Song Yang.
Pihak GyehRu berunding. Yeon Ta Bal, So Seo No dan Sayong tidak punya pilihan lain selain menunggu sampai Song Yang tenang. Gye Pil marah pada mereka.
So Seo No keluar seorang diri dan menangis.

Oyi dan Moo Gul kembali dari perjalanan mereka.
“Aku akan melapor pada Jenderal.” kata Oyi pada Moo Gul dengan sikap berkuasa. “Kau boleh beristirahat.”
“Ya, Kakak.” kata Moo Gul.
Ma Ri, Hyeopbo, Jae Sa dan Muk Guh bingung melihat mereka.
“Apa yang terjadi?” tanya Jae Sa pada Moo Gul ketika Oyi, Ma Ri dan Hyeopbo sudah pergi.
“Jangan diungkit lagi.” kata Moo Gul. “Anak itu menyerangku seakan-akan tidak ada hari esok. Aku memutuskan untuk memanggilnya ‘Kakak’ sebelum salah satu dari kami mati.”
Jae Sa tertawa. “Bagus sekali!”

Dilain pihak, Ma Ri danHyeopbo bertanya pada Oyi.
“Tadi dia memanggil ‘Kakak’!” kata Hyeopbo.
“Aku hampir mati saat mencoba membuatnya memanggilku ‘Kakak’.” kata Oyi. “Aku menyerangnya seakan-akan tidak ada hari esok. Kurasa dia lelah dan menyerah.”
Hyeopbo tertawa. “Bagus sekali!”

Oyi melaporkan pada Jumong mengenai keadaan BuYeo. Ia berkata bahwa Pangeran Young Po telah kembali dan BuYeo berniat menyerang Gunung Bong Gye dalam waktu dekat.

Ketika Mu Duk sedang memasak, Moo Gul mendekatinya.
“Permisi,” kata Moo Gul
“Ya?” jawab Mu Duk.
Dengan malu-malu, Moo Gul menyerahkan sebuah dompet cantik pada Mu Duk. “Aku membelinya di Hyeon To.” kata Moo Gul, tersenyum malu.
“Kenapa kau memberiku ini?”
“Karena aku ingin.” kata Moo Gul tersipu-sipu, kemudian memaksa Mu Duk menerimanya.
Mu Song melihat dari jauh dan merasa cemburu.

Jumong, Ma Ri dan Jae Sa merundingkan strategi jika BuYeo menyerang lagi. Jae Sa menyarankan agar mengirim Muk Guh ke BuYeo.
Jae Sa meminta Muk Guh memamerkan kemampuannya. Muh Guk meniup jarum dan tepat mengenai botol minuman tanpa meleset sedikitpun.
“Muk Guh adalah pembunuh yang jenius.” kata Jae Sa. “Siapapun akan mati seketika jika terkena tombak dan jarum beracun Muk Guh. Jika kita mengirimnya untuk membunuh Pangeran Dae So, maka BuYeo tidak akan berani menyerang kita.”
Jumong berpikir. “Selama ibu dan istriku ada di istana BuYeo, kita tidak bisa menyerang mereka.” katanya sedih.

Dae So sangat frustasi. Di pikirannya masih terbayang-bayang gerhana matahari. Ia memerintahkan Na Ru untuk memanggil Ma Oo Ryeong ke ruangannya.
Ma Oo Ryeong cemas. Na Ru menyarankan agar Ma Oo Ryeong tidak mengatakan pada Dae So bahwa gerhana matahari itu adalah pertanda buruk. Dalam kondisi emosi yang tidak stabil seperti itu, Dae So tidak akan segan-segan membunuh Ma Oo Ryeong.
“Peramal Ma Oo Ryeong, menurutmu apakah gerhana matahari itu benar-benar pertanda buruk?” tanya Dae So.
“Pangeran, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun.” kata Ma Oo Ryeong, berbohong. “Apa yang terjadi saat itu adalah pertanda baik bagi Pangeran.”
“Pertanda baik?”
“Energi Yang Mulia akan lenyap bersama matahari BuYeo.” kata Ma Oo Ryeong mengada-ada. “Matahari yang baru menandakan penguasa baru akan muncul di BuYeo. Pangeran akan menduduki tahta secepatnya.”
Dae So senang dan lega mendengar hal itu.

Malam itu, Seol Ran membujuk Dae So lagi untuk membantu ayahnya. Karena perasaan Dae So sedang senang, maka ia berjanji akan mencari cara untuk membantu Yang Jung.
Hao Chen masuk ke kamar Dae So dan Seol Ran.
“Ada apa?” tanya Dae So.
“Desas-desus menyebar di masyarakat dan mengatakan bahwa matahari menghilang karena Pangeran mencuri kekuasaan Yang Mulia.” kata Hao Chen melaporkan.
“Apa?!” seru Dae So marah. “Siapa yang berani mengatakan hal itu?!”
“Para pedagang dan dukun di jalanan.” jawab Hao Chen.
“Pangeran, jika kau membiarkan hal ini, maka desas-desus akan menyebar ke seluruh wilayah!” seru Seol Ran memprovokasi. “Tangkap mereka semua!”
Dae So keluar dari ruangan itu dan memerintahkan pasukannya menangkap semua orang yang berani menyebarkan desas-desus tersebut.

Keesokkan harinya, banyak sekali rakyat, pelayan bahkan juga pejabat yang ditangkap dan dibawa ke hadapan Dae So.
“Jadi kalian yang berani menghinaku?!” teriak Dae So marah.
“Kami tidak bermaksud menghinamu, Pangeran.” kata seorang warga ketakutan. “Kami hanya membicarakan kabar yang sedang menyebar di kota. Tolong maafkan kami!”
“Diam!” bentak Dae So marah. “Kalian berani menghinaku! Kalian adalah musuh BuYeo! Aku akan membunuh musuh BuYeo!”
“Ampuni kami, Pangeran!”
Dae So menarik pedangnya dan membunuh semua orang disana. Na Ru sangat terkejut.
“Aku akan membunuh kalian semua!” teriak Dae So seperti orang gila dan menghabisi semua orang.
Perdana Menteri dan Jenderal Heuk Chi melihat kejadian itu dari jauh, dan berjalan menjauh.
Jenderal Heuk Chi berusaha membujuk Perdana Menteri. Namun Perdana Menteri hanya diam dan berpikir.

Pembunuhan yang dilakukan Dae So menyebar ke seluruh penjuru BuYeo. Rakyat memaksa masuk ke dalam istana dan mendorong-dorong penjaga gerbang istana.
Dae So membuka gerbang dan melihat rakyatnya dengan shock.
“Baiklah! Aku akan membunuh kalian semua! Aku akan membunuh kalian semua!” teriak Dae So seperti orang gila dan stress.
“Pangeran, tenanglah!” seru Na Ru menghalangi. “Mereka adalah rakyat BuYeo!”
“Mereka bukan rakyat BuYeo!” teriak Dae So. “Mereka adalah musuh BuYeo!” Dae So menarik pedang Na Ru dan mengarahkannya ke leher Na Ru. “Apa kau menentang perintahku?! Aku bilang, bunuh mereka semua!”
“Pangeran!” seru Na Ru.
“Ada apa ini?” Wan Ho tiba-tiba datang bersama dengan Young Po.
“Aku senang kau datang, Ibu!” kata Dae So. “Aku baru saja akan membunuh semua orang yang mengatakan bahwa BuYeo akan hancur!”
“Kakak, kenapa kau lakukan ini?” seru Young Po. “Gunakan akal sehatmu!”
“Kau! Apakah kau ingin mati?!” bentak Dae So pada Young Po.
“Dae So, kenapa kau lakukan ini?” tanya Wan Ho. “Sesuatu pasti merasukimu.” Ia berpaling pada Na Ru dan memerintahkan agar menutup pintu gerbang.
“Na Ru.” panggil Dae So. “Bawa seluruh pasukan miiter!”
Wan Ho menjadi cemas. “Apa yang akan kau lakukan?”
“Semua ini terjadi karena Jumong.” kata Dae So stress. “Dia membawa malapetaka bagi BuYeo. Aku harus menangkap dan membunuhnya agar BuYeo menjadi damai kembali. Kenapa kalian diam saja?! Cepat bawa seluruh pasukan militer kemari!”
Young Po menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan kakaknya.

Perdana Menteri berpikir. Ia kemudian memutuskan untuk menemui Geum Wa di kamarnya.
“Yang Mulia, kebodohanku membawa kehancurkan bagi BuYe, maafkan aku.” kata Perdana Menteri.
“Aku tidak punya kekuasaan dan kekuatan untuk memaafkanmu.” jawab Geum Wa.
“Yang Mulia, kau harus kembali menduduki tahta.” ujar Perdana Menteri. “Hanya Yang Mulia yang bisa menyelamatkan BuYeo dari kegelapan.”
Geum Wa terkejut mendengarnya.
“Aku akan membantu Yang Mulia menduduki tahta.” kata Perdana Menteri menawarkan.

Di markas persembunyian Pasukan Da Mul, Oyi datang terburu-buru.
“Jenderal, pasukan BuYeo datang lagi ke Gunung Bon Gye.” kata Oyi.
“Panggil Pasukan Da Mul dan bersiap untuk pertahanan.” perintah Jumong.
Pasukan BuYeo yang datang dipimpin oleh Jenderal Heuk Chi. Ia memerintahkan pasukannya menunggu sementara ia bersama dua orang prajurit melakukan inspeksi melewati lembah.
Jumong dan Pasukan Da Mul besiap menyerang.
“Jenderal, itu Jenderal Heuk Chi.” kata Oyi.
“Aku adalah Jenderal Heuk Chi dari BuYeo.” seru Heuk Chi. “Aku ingin bertemu dengan Jenderal Jumong. Pasukan Da Mul yang bersembunyi, tolong antar aku menemui Jenderal Jumong.”
Jumong dan kawan-kawannya turun untuk menemui Jenderal Heuk Chi.
“Aku datang untuk mengantarkan pesan dari Yang Mulia Geum Wa.” kata Heuk Chi pada Jumong.
Pasukan Da Mul saling bertukar pandang dengan curiga.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s