Jumong – Episode 53

Jenderal Heuk Chi menceritakan pada Jumong dan yang lainnya mengenai kegilaan Dae So di BuYeo. Bahwa Dae So tega membunuh orang-orang tidak berdosa dan Yang mulia mencoba untuk merebut tahta kembali.
“Lalu kenapa kau membawa pasukan kemari?” tanya Jumong.
“Pangeran Dae So memerintahkan aku untuk menangkapmu, tapi aku kemari bukan untuk berperang dengan Pasukan Da Mul.” kata Heuk Chi. “Aku ingin mengambil alih SaChulDo.”
“Adakah yang bisa kubantu?” tanya Jumong.
“Jika Yang Mulia kembali menduduki tahta, Hyeon To mungkin akan menyerang.” kata Heuk Chi. “Aku membutuhkan bantuan Pasukan Da Mul untuk menghentikan mereka.”
“Aku ragu Hyeon To punya cukup pasukan untuk berperang.” kata Jae Sa.
“Tapi jika mereka melakukannya, aku akan menghentikan mereka.” ujar Jumong.

“Aku merasa tidak tenang mengirimkan Jenderal Heuk Chi.” kata Paman Dae So cemas. “Jenderal Heuk Chi sangat setia pada Yang Mulia dan berhubungan baik dengan Jumong. Bagaimana jika ia kembali tanpa menyerang Jumong?”
“Jangan khawatir.” kata Dae So. “Para prajurit yang pergi bersama Heuk Chi sangat setia padaku. Jika ia tidak melaksanakan perintahku, maka mereka akan membunuhnya.”

Di perkemahan pasukan BuYeo, Heuk Chi membunuh kepala prajurit yang berpihak pada Dae So. Ia juga memerintahkan para prajuritnya untuk mengepung prajurit yang berpihak pada Dae So.
“Ini pemberontakan!” seru prajurit Dae So.
“Pemberontakan?” anya Heuk Chi. “Kalian dan Pangeran Dae So-lah yang melakukan pemberontakan! Jatuhkan senjata kalian!”
Para prajurit Dae So menjatuhkan senjata mereka.

Geum Wa teringat percakapannya dengan Perdana Menteri.
“Aku akan membantumu menduduki tahta lagi.” kata Perdana Menteri. “Tapi jika kau ingin mengembalikan kekuasaanmu, maka kau harus melakukan sesuatu untukku.”
“Apa itu?” tanya Geum Wa.
“Pertama, kau harus memperbaiki hubungan kita dengan Han.” kata Perdana Menteri, mengemukakan syaratnya. “Lepaskan Hae Mo Su dan utamakan keselamatan BuYeo. Kedua, kau harus menegaskan hubunganmu dengan Jumong. Jumong melarikan diri dari BuYeo bersama para pengungsi. Dia adalah musuh BuYeo. Untuk melepaskan Hae Mo Su, terlebih dahulu kau harus melepaskan Jumong. Bisakah kau melakukan itu?”
Geum Wa terdiam.
“Jika kau berjanji padaku, maka aku akan membantumu menduduki tahhta.” kata Perdana Menteri.

Perdana Menteri memanggil semua pejabat penting untuk mengadakan rapat.
“BuYeo sedang berada dalam situasi sulit.” kata Perdana Menteri. “Jika terus seperti ini, BuYeo akan hancur dan sejarah akan mengingat kita sebagai pendosa.”
“Apakah kau punya cara untuk keluar dari situasi ini?” tanya seorang pejabat.
“Hanya ada satu jalan.” jawab Perdana Menteri. “Mengembalikan tahta Yang Mulia.”
Paar pejabat cemas. “Tapi kekuasaan sekarang berada di tangan Pangeran Dae So.” kata seorang pejabat.
“Yang Mulia tidak memiliki pasukan.” tanggap pejabat yang lain. “Bagaimana dengan SaChulDo yang mendukung Pangeran Dae So?”
“Jenderal Heuk Chi tidak menyerang Gunung Bon Gye, melainkan menyerang SaChulDo.” jawab Perdana Menteri. “Ketika Jenderal Heuk Chi mengambil alih SaChulDo, kita harus menyerang markas pengawal istana dan menangkap orang-orang Pangeran Dae So. Jika diantara kalian ada yang menentang, katakan sekarang.”
Tidak ada pejabat yang bicara.
“Siapapun yang menentangku adalah musuhku dan ia harus mati.” ancam Perdana Menteri.

Saat hari gelap, beberapa orang berpakaian hitam dengan wajah ditutupi cadar menyerang istana BuYeo. Mereka masuk ke penjara dan membebaskan Song Ju.
“Siapa kau?” tanya Song Ju. Mereka adalah pengawal setia Yang Mulia.
Song Ju dibawa ke hadapan Geum Wa. “Yang Mulia.”
“Kau mangalami banyak kesulitan.” kata Geum Wa pada pengawal setianya itu.
“Maafkan aku karena membuat Yang Mulia cemas.” kata Song Ju.
Geum Wa memerintahkan Song Ju untuk mengambil alih markas pengawal istana dan menangkap siapa saja yang berpihak pada Dae So. “Bunuh siapa saja yang mencoba melawan, tapi cobalah untuk menangkap mereka hidup-hidup.” katanya.
“Baik, Yang Mulia!” seru Song Ju.

Peperangan terjadi antara pengawal pro Geum Wa dengan para pengawal pro Dae So.
Setelah mengambil alih markas pengawal istana, Song Ju masuk ke kamar Permaisuri Wan Ho dan mengancam mereka dengan pedang. “Ikutlah denganku.” katanya.
Wan Ho dan paman Dae So ketakutan.

Song Ju memerintahkan anak buahnya untuk mengepung Dae So dan Na Ru.
“Bunuh dia!” perintah Dae So pada Na Ru.
Dae So dan Na Ru berusaha melawan dan membunuh pada pengawal. Dae So berhasil membunuh pada pengawal. Song Ju turun tangan, namun tetap kalah oleh Dae So. Tiba-tiba, pasukan pemanah datang dan berhasil mengepung Dae So dan Na Ru. Mereka berdua tidak bisa melakukan apa-apa. Dae So menjatuhkan pedangnya.

Ma Jin membangunkan Young Po yang sedang tidur.
“Ada penyerangan!” kata Ma Jin panik.
“Siapa yang memulai?” tanya Young Po. Ia bergegas mengenakan pakaiannya.
Di luar, Young Po melihat Dae So dan Na Ru ditangkap. “Kita harus segera pergi dari sini!”

Dae So dan kroni-kroninya diikat dan ditangkap. Dae So berteriak-teriak.”Siapa?!” teriaknya “Siapa yang melakukan konspirasi ini?!”
“Aku.” Geum Wa keluar dan muncul di hadapan Dae So.
Dae So sangat terkejut. “Ayah!”
“Apa maksudmu konspirasi?” tanya Geum Wa. “Aku berusaha mengambil kembali apa yang menjadi hakku.”
“Benar juga!” seru Wan Ho. “Tidak ada orang lain yang berani melakukan hal seperti ini kecuali kau. Tapi kau membuat keputusan yang salah. Kau pikir pemimpin SaChulDo akan membiarkanmu?! Tidak! Mereka akan segera kemari membawa pasukan!”
“Bawa mereka kamari.” ujar Geum Wa.
Pengawal membawa seorang kepala pasukan SaChulDo.
Wan Ho dan kroni-kroninya sangat terkejut.
“Perdana Menteri..” Dae So memanggil.
“Jenderal Heuk Chi mungkin sudah mengambil alih SaChulDo saat ini.” kata Perdana Menteri. “Maafkan aku, tapi hadapi kenyataan.”
“Bagaimana mungkin kau melakukan ini padaku?!” teriak Dae So.
“Aku tidak bisa diam saja melihat BuYeo hancur.” kata Perdana Menteri. “Kaulah orang yang membuat semua kekacauan ini!”

Geum Wa memutuskan untuk mengampuni Dae So dan kroni-kroninya. Ia memerintahkan pengawal untuk mengurung Wan Ho dalam kamarnya.
Di luar ruangan Geum Wa, Wan Ho melihat Yoo Hwa dan Ye Soya.
“Tunggu dan lihat saja!” ancam Wan Ho pada Yoo Hwa. “Suatu saat nanti aku akan melihat kau mati!”
Di dalam ruangan, Geum Wa memerintahkan pengawalnya untuk mengurung Dae So dalam penjara sampai rakyat tenang.

Young Po dan Ma Jin melarikan diri dari istana. Ma Jin memberitahu Young Po bahwa Yang Mulia mengurung Permaisuri dalam kamarnya dan mengurung Pangeran Dae So dalam penjara.
“Aku senang Yang Mulia mengurung Dae So.” kata Young Po. “Tapi aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku. Aku tidak terkait apa-apa dengan yang dilakukan Dae So. Benar! Ayah tidak akan menghukumku! Ayo kembali ke istana.”
“Tidak.” larang Ma Jin. “Kau datang bersama Tuan Chin. “Ia tidak akan memaafkanmu karena datang dengan teman dari Han.”
Young Po mengurungkan niatnya kembali ke istana karena takut.

Geum Wa kembali menduduki tahta.
Jenderal Heuk Chi datang dan membawa pemimpin SaChulDo.
“Dimana Ma Ga?” tanya Geum Wa.
“Aku berusaha menangkapnya hidup-hidup, tapi ia melawan.” jawab Heuk Chi. “Aku terpaksa membunuhnya.”
“Lepaskan ikatan mereka.” Geum Wa memerintahkan Heuk Chi melepaskan ikatan pemimpon SaChulDo.
Geum Wa menghadapai para pemimpin. “Aku tidak ingin ada pertumpahan darah lagi di BuYeo.” katanya. “Jika kau bergabung denganku, aku akan menjamin posisi dan keselamatan kalian sebagai pemimpin SaCHulDo.”
Para pemimpin SaCHulDo saling bertukar pandang.
“Aku membutuhkan bantuan SaChulDo.” tambah Geum Wa. “Maukah kalian menolongku?”
“Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia.” kata pemimpin SaChulDo. “Kami akan mengabdi padamu.”

So Seo No menjenguk Oo Tae di penjara. Ketika melihat suaminya, mata So Seo No berkaca-kaca.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya So Seo No cemas.
“Aku baik-baik saja.” jawab Oo Tae menenangkan. “Apakah Song Yang melarangmu membawa karavan?”
“Tidak.” kata So Seo No. “Song Yang tidak melarangku karena perdagangan kita memberi keuntungan yang besar untuknya.”
“Bagaimana kau akan pergi berdagang tanpa pengawal?” tanya Oo Tae khawatir.
“Aku akan meminta pengawal pada Song Yang. Bertahanlah sebentar lagi. Aku akan segera membebaskanmu.”
Oo Tae mengangguk. “Aku rela menahan semua ini demi masa depan kita.” katanya. “Aku ingin anak-anak kita lahir dengan selamat.”

Sayong mendapat informasi mengenai kembalinya Raja Geum Wa di tahta. So Seo No sangat senang. Ini menjadi peluang yang bagus bagi GyehRu.
Namun Yeon Ta Bal tidak sependapat.” Kekuasaannya pasti berkurang, dan kita belum tahu apakah ini peluang yang bagus untuk kita atau tidak.” katanya. “Walaupun kita punya peluang, tapi kita belum siap meraihnya.”
“Aku akan pergi ke BuYeo dan menemui Raja Geum Wa.” kata So Seo No. “Aku yakin ia akan membantu kita.”

Chae Ryeong dan Yang Tak juga mendengar mengenai kembalinya Raja Geum Wa ke tahta. Mereka berdua mengajak Chan Soo untuk pergi ke BiRyu.
“Aku tidak mau pergi.” kata Chan Soo. “Aku tidak mau lagi menjadi boneka. Aku akan bergabung dengan So Seo No dan membantunya.” Chan Soo berjalan pergi.
“Chan Soo!” panggil Chae Ryeong. Namun tekad Chan Soo sudah bulat.

Young Po menyamar menjadi rakyat biasa. Ia makan di sebuah kedai, tapi tidak memiliki uang untuk membayar.
“Maaf, tapi kami tidak punya uang.” kata Ma Jin. “Kami akan membayar beberapa hari lagi.”
Si pemilik kedai marah.
“Apa kau tidak tahu siapa aku?!” seru Young Po. “Aku adalah Pangeran Young Po!”
Pemilik kedai tertawa. “Young Po?! Kalau kau Young Po, maka aku adalah Dae So! Teman-teman!” Pemilik kedai memanggil anak buahnya dan menyuruh mereka memukuli Young Po habis-habisan.

Geum Wa memanggil Perdana Menteri dan mengatakan kalau ia ingin membawa Jumong kembali ke istana.
“Yang Mulia, apa kau ingin melanggar janjimu padaku?” tanya Perdana Menteri.
“Membawanya kembali tidak akan membahayakan BuYeo.” kata Geum Wa membujuk.
“Lalu bagaimana dengan Pasukan Da Mul dan para pengungsi?” tanya Perdana Menteri.
Geum Wa terdiam.

Pasukan Da Mul mendapatkan isyarat dari lembah, menandakan bahwa ada seseorang yang datang. Moo Gul kembali ke markas untuk melapor.
“Siapa yang datang?” tanya Jae Sa.
“Jenderal Heuk Chi dari BuYeo.” jawab Moo Gul.
Jumong dan Pasukan Da Mul menyambut kedatangan Jenderal Heuk Chi dan Song Ju.
“Yang Mulia ingin Pangeran kembali ke istana.” kata Song Ju.
Yeo Mi Eul terkejut, merasa tidak tenang.

“Apakah kau akan pergi?” tanya Yeo Mi Eul.
“Ya.” jawab Jumong. “Yang Mulia mengirim orang untuk menjemputku.”
“Jenderal, kau bukan lagi Pangeran BuYeo.” kata Yeo Mi Eul. “Kau adalah Jenderal Pasukan Da Mul dan raja masa depan. Kau harus memutuskan segala hubungan dengan BuYeo untuk mewujudkan mimpimu. Ingatlah bahwa kau harus lebih mewaspadai Raja Geum Wa dibandingkan dengan Pangeran Dae So.”
Jumong berpikir.

Jumong dan keenam perwira kepercayaannya datang ke BuYeo. Rakyat BuYeo menyambut Jumong dengan sorak-sorai. “Hidup Pangeran Jumong! Hidup Pangeran Jumong!”

Sesampainya di istana, Jumong bertemu dengan ibu dan istrinya.
Jumong bersujud pada Yoo Hwa. Yoo Hwa menangis.
Jumong menoleh ke arah Ye Soya dan tersenyum.

Setelah itu, Jumong berjalan untuk menemui Geum Wa. Geum Wa tersenyum melihat Jumong.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s