Jumong – Episode 54

Dae So dikurung dalam penjara. Pelayan Wan Ho mengantarkan makanan untuk Dae So dan mengarakan bahwa Pangeran Jumong sedang berada di BuYeo.
“Jumong?!” seru Dae So. “Apa yang Jumong lakukan disini?!”
“Yang Mulia mengirim Jenderal Heuk Chi untuk menjemput Pangeran Jumong.” kata pelayan Wan Ho.
Dae So sangat terkejut dan marah. Ia membanting makanan yang dibawakan pelayan Wan Ho.
“Pangeran, tolong tenanglah.” kata pelayan Wan Ho panik.
“Apa ada orang di luar?!” teriak Dae So, frustasi. Beberapa pengawal datang. “Aku ingin bicara dengan Yang Mulia! Keluarkan aku dari penjara!” teriak Dae So.
“Pangeran…”
“Aku bilang keluarkan aku dari penjara! Sekarang!” bentak Dae So.
“Pangeran, maafkan aku.” kata pengawal. “Aku tidak bisa mengeluarkanmu tanpa perintah Yang Mulia.”
“Sampai kapan aku akan tinggal di penjara?!” teriak Dae So. “Jika kau tidak mengeluarkan aku sekarang, aku akan membunuhmu!”
Pengawal pergi, membiarkan Dae So berteriak-teriak seperti orang gila.

Geum Wa dan Jumong berbincang. Ia sangat kagum pada Pasukan Da Mul dibawah pimpinan Jumong karena berhasil mengambil alih Joongsan dan Changchun. Hasil yang bahkan Hae Mo Su dan Geum Wa tidak bisa mencapainya. Tapi menurutnya, Pasukan Da Mul tidak akan pernah bisa mengalahkan Han.
“Jumong, kenapa kau tidak membubarkan Pasukan Da Mul dan kembali ke BuYeo?” kata Geum Wa.
Jumong terkejut mendengar pernyataan Geum Wa.

Perdana Menteri memanggil Jenderal Heuk Chi ke ruangannya.
“Yang Mulia akan meminta Pangeran Jumong membubarkan Pasukan Da Mul dan kembali ke BuYeo.” kata Perdana Menteri. “Akan sangat baik jika Pangeran Jumong menyetujui permintaan Yang Mulia. Tapi jika dia tidak setuju, kau harus melenyapkan dia.”
Heun Chi terkejut. “Melenyapkan?! Maksudmu, membunuhnya?!”
“Benar,”
“Perdana Menteri, apa kau yakin bahwa ini yang diinginkan Yang Mulia?” tanya Heuk Chi ragu.
“Jika kita membiarkan Jumong dan Pasukan Da Mul, maka mereka akan menjadi batu penghalang bagi BuYeo.” kata Perdana Menteri tenang. “Pasukan Da Mul adalah musuh Han. Selama Pasukan Da Mul masih ada, maka kita tidak akan bisa membina hubungan baik dengan Han. Kita bisa melawan Han jika kita punya kekuatan, tapi bukan saat ini. Kita tidak bisa membiarkan Pasukan Da Mul mengacaukan BuYeo.”
Jenderal Heuk Chi kelihatan tidak senang.
“Aku tahu kau berpikir sangat tinggi mengenai Jumong.” tambah Perdana Menteri. “Tapi, kau adalah orang kepercayaan Yang Mulia dan pengabdi BuYeo. Kau harus mengambil keputusan.”

Jumong keluar dari ruangan Geum Wa dan teringat percakapannya beberapa waktu yang lalu.
“Aku tidak bisa meninggalkan mereka.” kata Jumong pada Geum Wa.
“Aku memintamu untuk membangun sebuah rumah baru bagi para pengungsi adalah karena aku tidak memiliki apapun saat itu.” Geum Wa berusaha membujuk Jumong. “Tapi sekarang berbeda. Aku akan memberikan segalanya untukmu.”

Yeo Mi Eul berdoa untuk pencari petunjuk.
“Aku merasakan firasat buruk.” kata Yeo Mi Eul.
“Aku juga sangat mengkhawatirkan Pangeran Jumong.” kata So Ryeong.
“Kupikir, Yeo Mi Eul harus lebih berhati-hati dibandingkan dengan Jenderal Jumong.” kata Putri Bintang.
“Apa maksudmu?” tanya So Ryeong. “Apakah ada seseorang yang berniat mencelakai Yeo Mi Eul?”
“Awan kematian sedang menyelimuti Yeo Mi Eul.” kata Putri Bintang.

Jumong menemui istri dan ibunya. Ia senang karena melihat ibunya sudah sehat.
“Ini semua berkat Soya.” kata Yoo Hwa.
“Terima kasih, istriku.” kata Jumong, tersenyum pada Ye Soya.
Ye Soya tersenyum dan mengangguk.
“Akhir-akhir ini bayimu sering menendang.” kata Yoo Hwa. “Kurasa, bayi itu akan kuat, sepertimu.”

Perdana Menteri menemui Geum Wa untuk bertanya mengenai keputusan Jumong.
“Pasukan Da Mul mempercayai Jumong dengan seluruh jiwa mereka.” kata Geum Wa. “Kurasa tidak akan mudah melepaskan orang-orang yang telah melalui hidup dan mati bersamanya.”
“Yeo Mi Eul-lah alasan kenapa Pangeran Jumong tidak bisa menerima permintaanmu.” kata Perdana Menteri. “Aku akan melenyapkan Yeo Mi Eul karena ia membuat Pangeran Jumong ragu.”
Geum Wa terkejut mendengar ucapan Perdana Menteri.

Jumong terus berpikir. Yoo Hwa menyadari raut wajah Jumong dan bertanya.
“Yang Mulia memintaku untuk membubarkan Pasukan Da Mul dan kembali ke BuYeo.” kata Jumong pada ibunya.
Yoo Hwa terkejut. “Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanyanya.
“Aku tidak tahu.” kata Jumong, ragu.
“Jumong, aku akan mendukung apapun keputusan yang kau ambil.” kata Yoo Hwa. “Tapi, ingat ini baik-baik. Kau pergi meninggalkan BuYeo bukan untuk keselamatanmu sendiri. Sekarang, kau dan Pasukan Da Mul adalah satu.”

Beberapa orang berpakaian hitam mengintai dan menyerang markas Pasukan Da Mul. Mereka datang untuk menculik Yeo Mi Eul.
Mo Pal Mo dan pihak Pasukan Da Mul menjadi kalang kabut.
“Bagaimana ini bisa terjadi ketika Jenderal sedang tidak ada?!” seru Mo Pal Mo panik.
“Kita harus segera memberi tahu Jenderal Jumong.” kata pelayan Yeo Mi Eul.
“Baik, baik!” kata Mo Pal Mo. “Aku akan segera ke BuYeo.”

Di BuYeo, 2 x 3 sekawan minum-minum dan makan-makan bersama Song Ju.
Ketika mereka sedang berbincang dan bersenda-gurau, Jenderal Heuk Chi memanggil Song Ju.
“Kudengar kau mencariku.” kata Song Ju. “Apa yang terjadi?”
Jenderal Heuk Chi melihat Song Ju dengan pandangan aneh. “Apa yang sedang dilakukan teman-teman Jenderal Jumong?” tanyanya.
“Mereka sedang minum dan beristirahat.” jawab Song Ju.
“Bagus.” kata Heuk Chi. “Awasi mereka.”
“Apa?”
“Pengawal Song Ju, kita mungkin harus melenyapkan Jenderal Jumong dan kawan-kawannya.” kata Heuk Chi.
Song Ju sangat terkejut. “Apa maksudmu?” tanyanya cemas.
Song Ju kembali ke tempat mereka minum-minum. Ekspresi wajahnya sangat sedih.

Malam itu, Jenderal Heuk Chi memerintahkan pasukannya untuk berjaga di dalam istana BuYeo. Song Ju mengamati mereka dari jauh.

Young Po menjadi gelandangan di kotanya sendiri. Karena kepepet, Young Po akhirnya memutuskan untuk kembali ke istana. Apapun hukuman yang mungkin di dapatkannya, ia tidak peduli lagi.

Keesokkan harinya, So Seo No dan Yeon Ta Bal datang ke istana BuYeo.
Di sana, So Seo No melihat Jumong sedang berjalan berdua dengan Ye Soya. So Seo No terkejut.
“Aku tidak tahu Pangeran Jumong ada di BuYeo.” kata Yeon Ta Bal.
“Kurasa Yang Mulia memanggil kembali Pangeran Jumong setelah menduduki tahta.” kata Seo So No.
Sebelum bisa menemui Geum Wa, So Seo No dan Yeon Ta Bal terlebih dahulu harus menemui Perdana Menteri.
“Ada perlu apa kalian kemari?” tanya Perdana Menteri.
So Seo No menjelaskan bahwa tujuan mereka datang ke istana BuYeo adalah untuk mengembalikan hubungan baik antara BuYeo dan GyehRu. Namun Perdana Menteri sepertinya menghalangi pertemuan mereka.
“Yang Mulia sedang sibuk.” kata Perdana Menteri. “Aku akan memanggil kalian jika waktunya tepat.”
Yeon Ta Bal merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia sadar, bahwa kekuasaan di istana BuYeo saat ini sebenarnya berada di tangan Perdana Menteri.

Jumong telah membuat keputusannya. Ia menemui Yoo Hwa dan Ye Soya untuk memberitahukan keputusannya. “Aku tidak akan kembali ke BuYeo.” katanya.
Yoo Hwa mengangguk. “Aku setuju.” kata Yoo Hwa sependapat.
“Bagaimana Yang Mulia akan bersikap menanggapi ini?” tanya Ye Soya.
“Ia tidak punya pilihan lain.” ujar Yoo Hwa. “Jika kau memberitahu mengenai perasaanmu padanya, aku yakin Yang Mulia akan mengerti.”

Young Po kembali ke istana. Sesampainya disana, ia langsung menemui Geum Wa.
Young Po sangat senang mengetahui bahwa Geum Wa tidak akan menghukumnya.

Jumong berkunjung ke ruangan Geum Wa untuk mengatakan keputusannya. Saat itu, Perdana Menteri juga ada disana.
“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa meninggalkan Pasukan Da Mul dan para pengungsi.” kata Jumong.
Geum Wa terpukul mendengarnya.
“Ada banyak sekali pengungsi dan Prajurit Da Mul diseluruh wilayah Gunung Bon Gye.” kata Jumong menjelaskan. “Aku tidak bisa meninggalkan mereka untuk keselamatanku sendiri. Maafkan aku.”
“Pangeran, jika Pangeran tidak membubarkan Pasukan Da Mul, kau akan menempatkan Yang Mulia dalam posisi sulit.” kata Perdana Menteri. “Kau tahu bahwa BuYeo harus membina hubungan baik dengan Han agar kondisi stabil. Tolong bubarkan Pasukan Da Mul. Yang Mulia akan memberikan segalanya padamu.”
“Ayah, selama aku hidup, aku akan tetap berusaha membangun sebuah negara bersama Pasukan Da Mul.” kata Jumong tegas.
Perdana Menteri dan Geum Wa terdiam.

Di lain pihak, Song Yang pergi ke BuYeo untuk memaksa So Seo No dan Yeon Ta Bal kembali ke GyehRu.

Perdana Menteri memerintahkan Jenderal Heuk Chi untuk mengambil tindakan. Pasukan BuYeo mulai menyebar di segala penjuru istana.
Jenderal Heuk Chi memerintahkan Song Ju untuk mengumpulkan para pengawal istana.
“Begitu kalian mendengar perintah, maka segera laksanakan!” kata Jenderal Heuk Chi pada para pengawal.

Song Ju berpikir. Semua tindakan itu menentang hati nuraninya. Akhirnya Song Ju memutuskan untuk memberitahukan Jumong dan yang lainnya.
“Pangeran, cepat segera pergi dari BuYeo.” kata Song Ju.
“Ada apa?” tanya Jumong.
“Perdana Menteri memerintahkan kami untuk membunuhmu.” kata Song Ju cemas. “Kalian tidak punya waktu lagi. Cepat pergi dari sini!”
“Ayo pergi dari sini!” kata Jae Sa.
“Ayo!” seru Jumong.

Jumong dan keenam perwiranya bergegas meninggalkan istana. Tiba-tiba Jumong berhenti.
“Ada apa?” tanya Hyeopbo.
“Jika aku pergi sekarang, aku tidak akan bisa bertemu ibu dan istriku lagi.” kata Jumong.
“Mungkin benar, tapi kita harus segera keluar dari sini.” kata Jae Sa.
Jumong ragu.
Di saat yang sama, para pengawal istana berdatangan untuk mengepungnya.
“Pangeran, maafkan kami, tapi tolong jatuhkan pedangmu.” kata seorang pengawal.
“Diam!” seru Oyi.
Jumong dan yang lainnya maju untuk menyerang dan bertarung dengan para pengawal.
Para pengawal kalah. Namun mendadak pasukan pemanah muncul dan mengepung mereka. Jumong terdesak.
Jenderal Heuk Chi maju. “Jatuhkan pedangmu.” katanya.
Jumong sangat terkejut melihat Heuk Chi.
“Jenderal, kami akan membukakan jalan untukmu.” kata Oyi. “Pergi dari sini.”
“Baik.” kata Hyeopbo, memasang kuda-kuda bertempur. “Kita akan mati bersama disini.”
Jumong diam, kemudian menjatuhkan pedangnya. “Jatuhkan pedang kalian.” perintahnya.
“Jenderal!” Moo Gul menolak.
“Kubilang jatuhkan!” seru Jumong.
Hyeopbo dan yang lainnya terpaksa menjatuhkan pedang mereka.
Jumong dan kawan-kawannya ditangkap.

Song Ju sangat khawatir dan melapor pada Geum Wa. “Yang Mulia, Perdana Menteri dan Jenderal Heuk Chi berusaha membunuh Pangeran Jumong.” katanya.
Geum Wa sangat terkejut. Ia bergegas menemui Perdana Menteri.
“Yang Mulia, tolong jangan lakukan apapun.” kata Perdana Menteri.
“Perdana Menteri, kenapa kau melakukan ini tanpa persetujuanku?” tanya Geum Wa.
“Yang Mulia, aku berusaha membunuh satu orang untuk menyelamatkan BuYeo.” kata Perdana Menteri, membenarkan perbuatannya.
“Apakah kau berpikir bahwa membunuh Jumong akan membuat Pasukan Da Mul bubar?” tanya Geum Wa. “Mereka akan menjadi ancaman bagi BuYeo jika mereka ingin membalas dendam atas kematian Jumong. Jumonglah satu-satunya orang yang bisa membubarkan Pasukan Da Mul. Kita harus membujuknya.”
“Ini kesempatan terakhir kita untuk melenyapkannya sebelum ia kembali ke Gunung Bon Gye.” kata Perdana Menteri. “Ini kesempatan terakhir kita! Tolong mengerti maksud kami!”
Para pejabat yang lain menyetujui ucapan Perdana Menteri.

Ketika Yoo Hwa mengetahui bahwa Jumong dan kawan-kawannya ditangkap, Yoo Hwa bergegas menemui Geum Wa.
“Mereka tidak akan membunuhnya jika Jumong membubarkan Pasukan Da Mul.” kata Geum Wa. “Aku akan membujuknya. Jangan khawatir.”
“Kau tahu bahwa kau tidak akan bisa membujuknya.” ujar Yoo Hwa marah.
“Jika Jumong tidak mau membubarkan Pasukan Da Mul, maka Jumong dan Pasukan Da Mul adalah musuh BuYeo.” kata Geum Wa.
Yoo Hwa terpukul mendengar perkataan Geum Wa. “Yang Mulia!”

Jumong dan keenam temannya diikat dan dibawa ke hadapan Geum Wa.
“Inikah yang kau inginkan, Yang Mulia?” tanya Jumong sedih.
“Jumong, lakukan apa yang kuminta.” Geum Wa berusaha membujuk. “Begitu BuYeo melewati krisis ini, aku akan memberikan segala yang kumiliki untukmu.”
“Yang Mulia berubah.” ujar Jumong. “Walaupun Yang Mulia ingin memberiku tahta, aku tidak akan menerimanya. Satu-satunya hal yang diwariskan Yang Mulia untukku adalah tekad untuk berperang melawan Han.”
“Jumong…”
“Yang Mulia! Pasukan Da Mul akan selalu menjadi pengikutmu. Tolong jangan tinggalkan mereka.” kata Jumong dengan mata berkaca-kaca.
“Selama aku hidup, membuat sebuah negara baru bersama Pasukan Da Mul adalah pengkhianatan pada BuYeo dan aku.”
“Aku mencoba berperang melawan Han.” kata Jumong. “Bagaimana bisa hal itu disebut pengkhianatan? Jenderal Hae Mo Su akan menangis di surga!”
“Kurung mereka dalam penjara!” teriak Geum Wa marah.
Prajurit membawa Jumong dan yang lainnya ke penjara.
“Kita harus membunuh mereka sekarang!” seru Perdana Menteri.

sumber: princess-chocolates.wordpress.com

Iklan

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s