Jumong – Episode 56

3 tahun kemudian.
Seluruh wilayah Jolbon sedang mengalami kelangkaan makanan karena musim kemarau yang berkepanjangan. Song Yang meminta GyehRu untuk mengirimkan biji-bijian pada BiRyu. Pihak GyehRu kesulitan. Biji-bijian untuk kebutuhan klan mereka saja belum tentu cukup, apalagi harus memberikannya pada Song Yang.
So Seo No menawarkan diri untuk melakukan perjalanan dagang ke Heng In dan OkJo agar mereka bisa mendapat biji-bijian dan garam.

Secara diam-diam, pihak So Seo No dan Yeon Ta Bal membangun sebuah camp pelatihan untuk melatih pasukan. Oo Tae bertanggung jawab untuk melatih para pasukan tersebut.
“Apakah kita akan bertindak sesuai dengan jadwal?” tanya Oo Tae.
“Song Yang akan segera datang ke GyehRu.” kata Sayong. “Kita bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk melenyapkan dia.”
“Ini adalah langkah penting dalam penyatuan Jolbon.” kata So Seo No. “Kau harus berhati-hati.”
“Aku mengerti.” kata Oo Tae.
Sebagai informasi, Oo Tae dan So Seo No kini memiliki dua orang putra yang bernama Biryu dan Onjo.

Di Gunung Bon Gye, Mo Pal Mo dan para pekerja pandai besi berusaha membuat baju perang baja yang kuat. Namun mereka masih saja gagal. Mo Pal Mo tidak mau menyerah dan berjanji akan terus mencoba sampai berhasil.

Wilayah yang diambil alih oleh Pasukan Da Mul semakin meluas. Ditambah lagi, mereka mendapat dukungan dari rakyat yang selama ini ditindas oleh Han.

Di Hyeon To, Yang Jung memanggil Song Yang. Ia memperlihatkan sebuah peta dengan papan dan bendera diatasnya.
“Ini adalah wilayah-wilayah yang berhasil diambil alih oleh Han.” kata Yang Jung. “Dia memiliki Changchun, Joongsan, Gye Soo, Dong Man, dan Sunbi. Dia mulai mengancam Hyeon To. Kini BuYeo sudah tidak ada gunanya lagi karena kekuasaan sudah kembali pada Geum Wa. Pasukan Jumong makin lama semakin kuat. Ini sangat memusingkan.”
“Jika Jolbon bisa membantu, maka kami akan berusaha keras membantu.” kata Song Yang.
“Aku ingin menggunakan Jolbon untuk menghabisi Pasukan Da Mul dan menyerang BuYeo.” kata Yang Jung. “Jika kau mau bergabung denganku, aku yakin hal ini juga akan menguntungkan bagi Jolbon. Apakah kau mau bergabung denganku?”
“Aku tidak bisa menolakmu.” jawab Song Yang. “Jolbon akan bergabung.”

Di sisi lain, BuYeo sedang kesulitan dalam segi bahan makanan dan finansial. Geum Wa melarang semua rakyatnya untuk minum arak disaat kondisi sedang sulit.
Disaat Geum Wa dan seluruh pihak istana berdoa untuk memohon rezeki dari langit, Young Po malah minum-minum arak di kamarnya.
Tiba-tiba Song Ju masuk ke kamar Young Po dan mengatakan bahwa Geum Wa akan mengadakan pertemuan.
“Menteri Keuangan.” panggil Geum Wa. “Bagaimana kondisi keuangan kita?”
“Maafkan aku, Yang Mulia, tapi aku harus mengatakan bahwa kondisi keuangan kita sangat kritis.”
“Para prajurit menggali sumur, tapi kita tidak memiliki cukup air untuk rakyat.” tambah Perdana Menteri.
“Banyak warga yang pergi dari perbatasan.” lapor pejabat yang lain. “Pasukan berusaha menghentikan, tapi rakyat marah dan menunjukkan tanda-tanda pemberontakan.”
Jenderal Heuk Chi juga melapor bahwa daerah dan klan yang ada dibawah BuYeo tidak lagi mematuhi perintah BuYeo dan ingin memisahkan diri.
Paman Dae So mengatakan bahwa BuYeo tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan Han.
“Apa kau yakin Han akan membantu?” tanya Perdana Menteri ragu. “Alasan kenapa Han mau membina hubungan dengan kita adalah karena kita memiliki kekuatan. Jika kita memberitahu mengenai situasi kita, maka mereka hanya akan berusaha mengambil alih BuyEo. Kenapa kita tidak berperang saja, Yang Mulia? Jika kita mengambil alih Heng In dan OkJo, maka kita bisa mendapatkan makanan untuk rakyat.”

Geum Wa berpikir dan merenung di kamarnya. Permaisuri Wan Ho dan Paman Dae So datang untuk menyarankan agar Geum Wa memanggil kembali Dae So ke istana. Mereka yakin Dae So sudah berubah dan banyak belajar disana.
Namun Geum Wa berpikir sebaliknya. Ia mendapat laporan bahwa Dae So sama sekali tidak berubah. Geum Wa akan memutuskan sendiri kapan akan memanggil Dae So kembali ke istana.

Di benteng pertahanan, kegiatan Dae So hanyalah mabuk-mabukan dan bersenang-senang. Ia mengadu dua orang agar bertarung sampai mati. Siapapun yang menang, maka ia akan diberi hadiah dan menjadi pengawal kepercayaan Dae So. Hidup Dae So lebih parah daripada sebelumnya.
“Ketika kau sedang menyia-nyiakan hidupmu, kekuatan Jumong semakin bertambah!” kata Seol Ran kesal. “Rakyat mencelamu. Mereka mengatakan bahwa Jumong adalah seekor naga yang tinggi sementara kau berubah menjadi ular kecil!”
“Diam!” bentak Dae So.
“Jika kau ingin tetap hidup seperti ini, maka aku akan kembali ke Hyeon To.” ancam Seol Ran.
Dae So membuang semua barang di atas meja dengan marah.

Pasukan GyehRu dibawah pimpinan Oo Tae dan Sayong bersembunyi untuk menyergap rombongan Song Yang. Mereka menembakkan panah kemudian membunuh semua pengawal Song Yang.
“Kepala, kau harus segera pergi dari sini!” seru pengawal pada Song Yang.
“So Seo No!” gumam Song Yang.
Oo Tae menyerang para pengawal, kemudian mendekati Song Yang. “Song Yang!” serunya. “Disini adalah tempat kau akan mati.”
Song Yang menyerang Oo Tae, namun dengan mudah Oo Tae bisa mengalahkannya. Ketika Oo Tae hendak membunuh Song Yang, tiba-tiba seorang pengawal menusuk tubuh Oo Tae dari belakang.
Song Yang kabur.
“Oo Tae!” seru Sayong panik, melihat Oo Tae sekarat. “Oo Tae, bertahanlah.”
“Katakan pada istriku bahwa aku minta maaf karena tidak bisa mewujudkan mimpinya bersamanya.” kata Oo Tae lemah, menangis.
“Oo Tae…”
“Istriku… Istriku…” Itu adalah kata terakhir Oo Tae. Oo Tae meninggal.

So Seo No dan Yeon Ta Bal menunggu Pasukan Oo Tae dengan cemas. Sayong kemudian datang dengan wajah sedih.
“Apakah kau gagal?” tanya Yeon Ta Bal, melihat ekspresi wajah Sayong.
“Tidak.” jawab Sayong. “Song Yang melarikan diri setelah terluka. Semua pengawalnya tewas.”
So Seo No tersenyum senang. “Lalu kenapa kau kelihatan sedih?” tanyanya.
“Manajer Oo Tae meninggal.” jawab Sayong.
Senyum menghilang dari wajah So Seo No, nerubah menjadi rasa terkejut dan sedih.
“Maafkan aku, Nona.” ujar Sayong.
“Aku akan membawa pasukan ke GyehRu.” kata So Seo No, menangis, mencoba menahan rasa sedihnya demi keberhasilan misinya.

So Seo No membawa pasukan ke GyehRu dan membunuh semua pengawal dan prajurit di sana. So Seo No ikut bertarung.
“Tunggu apa lagi? Cepat kurung mereka!” perintah Yeon Ta Bal.
Gye Pil tertawa senang melihat kedatangan So Seo No dan pasukannya. Namun So Seo No dan yang lainnya tidak kelihatan senang. Tidak lama kemudian, beberapa prajurit menarik sebuah gerobak masuk.
So Seo No dan Gye Pil mendekati gerobak itu dan membuka kain penutup jenazah Oo Tae.
So Seo No menyentuh wajah Oo Tae dan menangis.

Pihak GyehRu membakar jenazah Oo Tae di tepi sungai. Kedua putranya, Biryu dan Onjo juga berada disana. Setelah itu, So Seo No kembali diangkat menjadi Kepala Klan GyehRu.
“GyehRu akan menyatukan Jolbon dan membuat negara baru yang tidak terpecah belah.” kata So Seo No pada warganya.
Chae Ryeong, Yang Tak, dan Chan Soo dibawa kehadapan mereka. So Seo No memutuskan untuk memaafkan segala kesalahan mereka.
So Seo No sama sekali tidak memiliki waktu untuk menangisi kepergian Oo Tae. Yang harus ia lakukan sekarang adalah berusaha melenyapkan Song Yang karena nasib GyehRu ada ditangannya.
So Seo No berpikir. Ia merencanakan sesuatu, kemudian pergi menuju ke markas persembunyian Pasukan Da Mul.

Di Gunung Bon Gye, Jumong dan para perwira kepercayaannya melakukan rapat.
“Klan kita terlalu jauh dari Gunung Bon Gye.” kata Jumong. “Sulit untuk kita berhubungan dengan mereka.”
“Benar.” kata Jae Sa. “Kita harus memindahkan Pasukan Da Mul dari Gunung Bon Gye.”
“Tapi jika kita pindah dari Gunung Bon Gye, akan sulit bagi kita untuk mempertahankan diri.” bantah Ma Ri.
Pembicaraan mereka berhenti ketika mereka melihat So Seo No dan Sayong datang. So Seo No datang menemui Jumong untuk mengadakan perundingan. Hyeobpo kelihatan sangat senang bertemu dengan Sayong.

“Aku telah mendengar mengenai hasil yang diraih Pasukan Da Mul.” kata So Seo No pada Jumong. “Aku juga mendengar bahwa kau telah mengambil alih Gye Soo dan Dong Man di barat, serta mendorong Klan Sunbi pindah 200 li ke utara.”
Jumong sedikit terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu dengan rinci?” tanyanya heran.
“Kelompokku melakukan perjalanan ke mana-mana.” jawab So Seo No. “Aku kemari untuk membantumu membangun sebuah negara baru. Walaupun Pasukan Da Mul telah berkembang, tapi sangat sulit untuk memerintah karena letak klan-klan itu begitu jauh. Untuk membangun negara baru, kekuatan harus dipusatkan pada Pasukan Da Mul. Hal itu akan sulit dilakukan jika kalian tetap berada di Gunung Bon Gye. Kalian harus mencari tempat yang baru.”
“Dimana aku bisa menemukan tempat itu?” tanya Jumong.
“Datanglah ke Jolbon.” jawab So Seo No. “Aku akan membantumu.”
Jumong tidak langsung menjawab. So Seo No memberinya waktu untuk berpikir dan kembali pulang ke GyehRu.
“Nyonya So Seo No yang malang.” gumam Hyeopbo. “Kenapa ia begitu tidak beruntung.
“Apa yang kau katakan?” tanya Ma Ri.
“Manajer Oo Tae sudah meninggal.” kata Hyeopbo. “Ia meningal ketika menyerang Song Yang.”
Jumong dan yang lainnya sangat terkejut mendengarnya.

Jumong mengajak para perwiranya berunding.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo menyatakan setuju pada permintaan So Seo No. Menurut mereka, itu adalah peluang yang sangat baik bagi mereka.
“Tidak secepat itu.” bantah Jae Sa. “Anggaplah kita bergabung dengan Kepala Klan So Seo No dan membangun sebuah negara baru setelah menyatukan Jolbon. Setelah itu, siapa yang akan menjadi Raja di negara itu? Apakah Jenderal atau Kepala Klan So Seo No? Sebuah negara tidak bisa memiliki dua orang raja. Semua usaha kita selama ini akan sia-sia jika kita mengambil keputusan yang salah.”
Kelompok Ma Ri tetap bersikeras untuk bergabung dengan So Seo No sementara kelompok Jae Sa tetap bersikeras untuk memikirkan dulu hal tersebut baik-baik.
Jumong memutuskan untuk menunda pengambilan keputusan untuk berpikir.

Di sisi lain, So Ryeong dan Putri Bintang berdoa. Putri Bintang mengatakan bahwa ia bertemu dengan Yeo Mi Eul. Yeo Mi Eul memberitahu Putri Bintang bahwa Burung Berkaki Tiga harus mencari sarang yang baru.

Song Yang dan kepala klan Jolbon lain (kecuali GyehRu) mengadakan rapat. Song Yang berkata bahwa Yang Jung telah bersedia membantu mereka dengan mengirimkan Iron Army dan Pasukan Hyeon To.
“Kita akan menyerang GyehRu begitu pasukan itu tiba.” kata Song Yang.

Jumong dan Oyi pergi untuk melihat keadaan di Han dan BuYeo.

Dae So mendapatkan sebuah surat dari Yang Jung. Dalam suratnya, Yang Jung meminta Dae So untuk menemuinya di Hyeon To.

Di BuYeo, Permaisuri Wan Ho kelihatan kesal dan iri melihat Yoo Hwa bermain-main dengan cucunya.
Ye Soya telah melahirkan seorang putra yang ia beri nama Yuri.
“Aku akan meminta Yang Mulia agar mengirim kau dan Yuri pada Jumong.” kata Yoo Hwa.
“Permintaan ibu akan membuat Yang Mulia berada di posisi yang sulit.” kata Ye Soya.
“Apa maksudmu?”
“BuYeo dan Pasukan Da Mul bisa menjaga hubungan karena kita berdua ada BuYeo.” ujar Ye Soya. “Kurasa waktunya belum tepat. Aku masih bisa bergabung dengan suamiku setelah ia berhasil membangun negara baru.”
Yoo Hwa mengangguk paham.

Jumong dan Oyi berada di Hyeon To dan berhasil mendapat informasi bahwa Hyeon To akan mengirimkan pasukan ke Jolbon untuk membantu Song Yang menyerang GyehRu.
Di sana, Jumong juga melihat Dae So dan Seol Ran tiba di Hyeon To.

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s