Jumong – Episode 58

“Namaku adalah Bi Geum Sun. Sudah sejak lama para peramal menunggu kedatangan pemilik Busur Da Mul. Banyak yang sudah meninggal tanpa bisa memenuhi keinginan langit. Tapi sekarang, aku bisa memenuhinya.” Bi Geum Sun menatap Jumong. “Kau adalah pemilik Busur Da Mul ini.”
“Yang kutahu, Busur Da Mul adalah benda keramat BuYeo.” kata Jumong. “Apakah itu artinya langit ingin aku menjadi penerus BuYeo?”
“Busur Da Mul bukan benda keramat BuYeo.” kata Bi Geum Sun.
Jumong dan Oyi terkejut.
“Coba lihat di bagian dalam busur.” kata Bi Geum Sun.
Jumong membersihkan debu yang menempel pada busur dan membaca tulisan disana, ‘Raja Besar GoJoSeon untuk Kemanusiaan’.
“Busur Da Mul membawa harapan bagi GoJoSeon.” kata Bi Geum Sun.
“Lalu kenapa Busur Da Mul menjadi benda keramat BuYeo?” tanya Jumong.
“Sejak GoJoSeon runtuh, wilayah menjadi terpecah-belah. Pembawa Busur Da Mul menginginkan BuYeo menjadi penerus kejayaan GoJoSeon dan merebut kembali wilayah yang hilang. Tapi BuYeo telah kehilangan tujuan dan bekerja sama dengan Han untuk melindungi diri sendiri dan menganiaya para pengungsi. Langit sudah memberi BuYeo kesempatan, tapi BuYeo menyia-nyiakannya. Busur Da Mul membawa darah dan jerih payah banyak Raja GoJoSeon. Bagaimana mungkin BuYeo menjadi pemilik busur ini? Busur itu akan kembali ke pemilik yang sebenarnya. Kau adalah pemilik Busur Da Mul. Tolong satukan kembali para pengungsi GoJoSeon yang terpecah-belah untuk mewujudkan keinginan Busur Da Mul.”
Jumong memutuskan untuk kembali ke Gunung Bon Gye dengan membawa Busur Da Mul. Ia meminta Oyi merahasiakan kejadian di gua pada semua orang.

Jumong dan Oyi tiba di markas Pasukan Da Mul.
Begitu tiba, Jumong langsung berkumpul dengan para perwira pentingnya.
Jumong belum membuat keputusan mengenai tawaran So Seo No. Ma Ri dan Hyepbo menyarankan agar Pasukan DaMul membantu GyehRu.
Setelah itu, Jumong menitipkan Busur Da Mul pada So Ryeong dan Putri Bintang.

Young Po dan Dae So sangat sedih melihat keadaan ayah mereka. Dae So bahkan sampai meneteskan air mata. Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Secara formal, Geum Wa mengumumkan bahwa ia memanggil Dae So kembali ke istana.

Paman Dae So dan Wan Ho menyadari bahwa Geum Wa bersikap aneh sekembalinya dari gunung pendiri.
“Mungkin ia mera kecewa karena Jumong mengkhianatinya.” kata Wan Ho. “Sekarang ia tahu pentingnya keluarnya.”
“Ya! Benar sekali!” seru Paman Dae So.
Wan Ho berpaling pada Seol Ran. “Seol Ran, kau harus berusaha keras untuk mendapatkan seorang bayi. Jika kau tidak bisa mendapatkan bayi, maka Dae So harus memiliki selir.”
Seol Ran terkejut dan marah.
Seol Ran memerintahkan Hao Chen untuk mencarikan tabib secara diam-diam.

Jumong berpikir. Ia teringat perkataan Peramal Bi Geum Sun di gua.
“Jenderal, apa kau tahu kenapa GoJoSeon yang sangat kuat bisa hancur?” tanya Bi Geum Sun. “Itu karena perpecahan internal yang disebabkan oleh Han. Bahkan GoJoSeon yang besar dan kuat akan hancur jika perpecahan terjadi. Sekarang kau sudah menemukan satu benda keramat. Jika kau tidak ditakdirkan untuk menyatukan negara yang terpecah belah, maka kau tidak akan bisa menemukan dua benda keramat yang tersisa.”
“Ada lagi benda keramat GoJoSeon yang lain?” tanya Jumong.
“Ada tiga benda keramat yang melambangkan Raja GoJoSeon. Kau harus menemukan dua benda yang lain agar terpilih menjadi Raja GoJoSeon. Jika benda keramat jatuh ke tangan yang salah, seluruh dunia akan dipenuhi dengan darah. Walaupun kau pemilik Busur Da Mul, tapi aku tidak tahu apakah kau adalah pemilik benda keramat yang lain atau tidak. Ada orang lain selain kau yang telah dipilih oleh langit. Ia adalah Jenderal Hae Mo Su. Tapi ia tidak bisa menyelesaikan tugasnya.”
“Bagaimana aku bisa mendapatkan benda keramat itu?” tanya Jumong. “Tolong katakan padaku.”
“Jenderal, kau harus menemukannya sendiri.” jawab Bi Geum Sun. “Kau akan menghadapi jalan yang gelap di depanmu dan tidak ada seorangpun yang akan menolongmu. Kau harus menemukan sendiri cahaya di jalanmu.”

Setelah kembali dari perjalanan bersama Jumong, Oyi bersikap aneh. Ia lebih banyak diam dan termenung. Dan yang lebih membuat Hyeopbo bingung adalah Oyi meminta Ma Ri mengajarinya membaca.

GyehRu melakukan latihan intensif untuk persiapan perang. Walaupun mereka ragu bahwa mereka bisa menang.
Sayong membawa seorang wanita sebagai pengawal pribadi So Seo No. Ia bernama Ho Yeon. Ho Yeon memiliki kemampuan bela diri yang baik.
So Seo No meminta Sayong memilih 50 prajurit terbaik untuknya. So Seo No merencanakan sesuatu.

Song Yang menemui Yang Jung dan mengatakan bahwa ia ingin memimpin sendiri pasukan bantuan dari Hyeon To.
“Setelah menyerang GyehRu, aku akan menyatukan Jolbon menjadi sebuah negara.” kata Song Yang. “Jika itu berhasil, aku akan mengabdi pada Han. Tolong buat petisi pada pihak istana Han agar mengangkat aku menjadi Raja Jolbon.”
Yang Jung tertawa. “Baiklah. Aku akan membuat petisi itu.”
Yang Jung memiliki rencananya sendiri. Setelah GyehRu hancur, Han akan menguasai Jolbon dan Yang Jung-lah yang akan menjadi Raja Jolbon.

Jumong memanggil Jae Sa dan Ma Ri untuk bertanya mengenai GoJoSeon. Tapi Ma Ri dan Jae Sa tidak tahu banyak.
“Kenapa tiba-tiba Jenderal bertanya tentang GoJoSeon?” tanya Jae Sa.
“Pasukan Da Mul terdiri dari para pengungsi GoJoSeon.” kata Jumong. “Tujuan kita adalah merebut kembali wilayah GoJoSeon yang hilang. Tapi, ketidaktahuan mengenai negara seperti apa GoJoSeon, membuat Pasukan Da Mul tidak memiliki jiwa. Darimana kita bisa tahu informasi mengenai GoJoSeon?”
“Aku yakin ada sejarahwan atau catatan sejarah yang mencantumkan informasi itu.” kata Ma Ri.
“Lalu dimana kita bisa menemukan sejarahwan atau catatan sejarah itu?” tanya Jumong.
“Ah!” seru Jae Sa, teringat sesuatu. “Aku mengenal seorang pedagang yang suka mengumpulkan barang-barang langka dan tulisan kuno. Mungkin ia memiliki catatan mengenai GoJoSeon.”
Jumong, Jae Sa dan Oyi bergegas mencari pedagang yang dimaksud.

Pedagang yang maksud Jae Sa adalah seorang pria tua bernama Chun Gyeong Sul.
“Setahuku, semua catatan mengenai GoJoSeon sudah dikubur ketika Wang Geom Seong jatuh.” kata Gyeong Sul. “Beberapa catatan bambu berhasil diselamatkan. Tapi kudengar, catatan bambu tersebut ada di perpustakaan Han atau BuYeo.”
“Apakah ada cara agar aku bisa mendapatkannya?” tanya Jumong.
“Aku tidak tahu.” jawab Gyeong Sul. “Aku tidak pernah ingin bertransaksi untuk barang-barang itu. Tapi aku akan mencoba mendapatkannya jika aku ke Han atau BuYeo.”
“Aku sangat membunuhkannya.” kata Jumong berharap.
“Aku tidak memiliki catatan sejarah GoJoSeon, tapi aku memiliki barang pusaka GoJoSeon.”
“Apa itu?” tanya Jae Sa. “Bisakah kami melihatnya?”
“Benda itu terlalu berharga untuk diberikan dengan cuma-cuma.” kata Gyeong Sul.
“Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Jumong.
“Aku ingin meminta Pasukan Da Mul melindungi rombongan pedagangku.” kata Gyeong Sul. “Aku yakin rombonganku juga bisa menguntungkan untukmu dan Pasukan Da Mul.”
Jumong setuju.
Gyeong Sul masuk ke dalam ruangan, dan keluar denan membawa sebuah kotak berisi peta.
“Ini adalah peta wilayah GoJoSeon.” kata Gyeong Sul.
Jumong, Ma Ri dan Jae Sa terkejut dan kagum melihat peta itu. Wilayah GoJoSeon sangat luas.
“Jenderal, apa kau tahu kalau GoJoSeon memiliki wilayah seluas ini?” tanya Ma Ri.
“Tidak, aku tidak tahu.” jawab Jumong.
“Aku tidak tahu wilayah GoJoSeon sebesar ini.” kata Jae Sa kagum.

Dae So bekerja keras untuk menyelesaikan masalah di BuYeo. Ketika Young Po mengajaknya minum-minum, Dae So memarahinya.
Dae So memanggil Na Ru dan pengawal barunya, yang bernama BuBeo No. Ia meminta mereka mengirimkan beberapa prajurit untuk pergi dan memata-matai apa yang dilakukan Jumong dan Pasukan Da Mul. Dae So juga meminta Bu Beo No memimpin para prajurit itu.

Ye Soya berbincang di kamar Yoo Hwa. Seorang pelayan masuk dan membawakan semangkuk minuman dari tabib untuk Yuri. Ye Soya mengambil mangkuk itu dan ingin meminumkannya pada Yuri.
Yoo Hwa curiga. “Tunggu!” larangnya.
“Ada apa?” tanya Ye Soya.
Yoo Hwa bertanya pada pelayan. “Apakah tabib yang memberikannya sendiri padamu?”
“Tidak, pelayan yang membawanya.” jawab pelayan.
Yoo Hwa memeriksa minuman tersebut dengan tusuk rambut besi. Besi itu menghitam.
“Apakah itu racun?” tanya Ye Soya terkejut.
“Seol Ran yang melakukan ini.” kata Yoo Hwa.
“Ibu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Ye Soya cemas.
Yoo Hwa merasa sangat marah.

Jumong membawa peta tersebut ke markas dan menunjukkannya pada orang-orang kepercayaannya.
“Kita akan segera pergi ke GyehRu.” kata Jumong.
“Jenderal, tidakkah sebaiknya kau membicarakan segala sesuatunya dulu dengan Kepala Klan So Seo No?” tanya Jae Sa.
“Aku pergi ke sana bukan hanya untuk menolong GyehRu.” kata Jumong menjelaskan. “Dan menentukan siapa yang akan menjadi Raja juga bukan hal yang penting. Bersatunya Pasukan Da Mul dan GyehRu adalah langkah pertama untuk menyatukan klan yang terpecah-belah dan merebut kembali wilayah yang hilang. Bersiaplah. Kita berangkat secepatnya.”

Di GyehRu, Sayong telah memilih prajurit yang diminta So Seo No. Chan Soo termasuk dalam salah satu prajurit.
“Kenapa kau ingin memilih prajurit?” tanya Yeon Ta Bal.
“Kita tidak akan punya kesempatan menang jika berperan langsung dengan Song Yang dan Pasukan Han.” jawab So Seo No.
“Apa kau ingin menyusup?” tanya Sayong.
“Ya, menyusup ke markas Song Yang untuk membunuhnya dan mengubur stok perangnya.” jawab So Seo No.
“Song Yang pasti sudah memperkirakan jika ada orang yang ingin membunuhnya” kata Yeon Ta Bal. “Kau terlalu gegabah mengambil keputusan.”
“Aku sudah memikirkan cara untuk menyusup ke markas Song Yang.” kata So Seo No. “Song Yang akan mengadakan jamuan untuk pasukan Han begitu mereka tiba. Dia butuh arak dan makanan dalam jumlah besar. Aku akan menyamarkan prajurit kita sebagai pedagang dan membawa arak ke markas Song Yang.”

Prajurit GyehRu menyamar menjadi pembawa arak. So Seo No bersembunyi di dalam salah satu guci arak besar.
Penjaga gerbang markas memeriksa guci satu per satu. Ketika penjaga hendak membuka guci tempat So Seo No bersembunyi, Sayong menyodorkan arak agar penjaga bisa mencobanya.
“Rasanya enak.” kata penjaga. “Boleh lewat!”

Di lain pihak, Jumong dan Pasukan Da Mul berangkat ke GyehRu.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Iklan

2 comments on “Jumong – Episode 58

  1. mas andy jumong episode 55 kok gak ada?
    Malah 51=55, please deh gak seru law gak lihat urutan ceritanya?

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s