Jumong – Episode 59

Kelompok penyusup So Seo No berhasil masuk ke markas pasukan Song Yang. So Seo No memerintahkan Chan Soo untuk menyebarkan bubuk ke arak pasukan Song Yang. Itu adalah bubuk pelamah yang bisa melemahkan kekuatan prajurit yang meminumnya.

Di lain pihak, Jumong dan Pasukan Da Mul berkemah di tengah perjalanan menuju GyehRu.
Bu Beo No mematai-matai mereka. “Jika aku membawa kepala Jumong pada Pangeran Dae So, ia pasti akan senang.” katanya. Maka ia dan seorang prajuritnya menyusup ke dalam perkemahan. Ia menyerang penjaga dan mencuri pakaiannya.

Di saat itu, Jumong dan Pasukannya sedang bersenang-senang. Mereka beradu gulat. Hyeobpo berhasil mengalahkan Moo Gul.
“Apa ada yang berani melawanku?” tanya Hyeopbo. “Jika kalian bisa mengalahkan aku, aku akan memberu 10 koin perunggu!”
Tidak ada yang bersedia.
“Jenderal!” panggil Hyeobpo. “Jangan bersembunyi disana! Ayo bertarung!”
Jumong diam, tersenyum.
“Tunggu apa lagi, Jenderal?” kata Jae Sa mendorong.
Jumong bangkit dari duduknya dan maju.
“Jenderal, aku bertarung koin.” kata Hyeopbo. “Apa yang kau pertaruhkan?”
“Aku akan mempertaruhkan pedang baja yang dibuatkan khusus oleh Mo Pal Mo untukku.” kata Jumong.
Mo Pal Mo terlihat terkejut dan ingin protes.
Bu Beo No dan seorang prajuritnya melihat mereka.
Jumong melawan Hyeopbo. Hyeopbo berhasil mengalahkan Jumong dengan mudah.
“Kau terlalu lemah.” omel Mo Pal Mo. “Apa gunanya membuatkan pedang baja untukmu?”
Semua pasukan Da Mul tertawa.

Bu Beo No berjalan pergi.
“Bukankah kau ingin memenggal kepala Jumong?” tanya prajurit. “Kenapa kita malah pergi?”
“Aku sudah bertemu banyak pemimpin di Pasukan BuYeo, tapi aku tidak pernah melihat pemimpin seperti dia.” kata Bu Beo No. Tidakkah kau melihat Pasukan Da Mul?Mereka berkemah di lapangan luas dalam cuaca sedingin ini, tapi tidak ada satu orangpun yang terlihat lelah. Mata mereka dipenuhi kesetiaan pada Jumong. Hal seperti itu tidak bisa dipaksakan. Sekarang, aku merasa takut pada Jumong dan Pasukan Da Mul.”

Ma Ri menemukan dua orang pejaga tewas. Ia segera melaporkan hal tersebut pada Jumong.
“Kita tidak boleh membiarkan orang lain tahu bahwa kita akan pergi ke GyehRu.” kata Jumong. “Kirim orang dengan diam-diam untuk mencari tahu siapa yang memata-matai kita.”
Keenam perwira Jumong secara diam-diam mencari pengintai itu. Mereka berhasil membunuh prajurit namun Bu Beo No berhasil kabur.

Di BuYeo, Wan Ho mencoba mencari selir untuk Dae So. Ia memanggil putri Menteri Pajak dan meminta gadis itu menjadi selir Dae So.
Di kamarnya, Seol Ran sangat marah mengetahui hal itu. “Ini semua salah Ye Soya!” seru Seol Ran. “Permaisuri meminta cucu karena Ye Soya berjalan di istana dengan putranya.” Ia menoleh pada Hao Chen. “Apakah terjadi sesuatu pada Ye Soya?”
“Tidak.” jawab Hao Chen.
“Apa yang terjadi?” tanya Seol Ran. “Seharusnya saat ini sudah terjadi sesuatu!”
Tiba-tiba Yoo Hwa datang ke kamar Seol Ran dan membawa minuman obat yang diberikan pada YuRi.
“Aku membawakan obat untukmu sebagai ucapan terima kasih karena perhatianmu pada Soya dan Yuri.” kata Yoo Hwa. “Minumlah.”
“Aku tidak butuh obat.” kata Seol Ran.
“Apa kau takut bahwa aku akan meracunimu?” tanya Yoo Hwa tajam. “Jangan ganggu Ye Soya dan Yuri. Jika kau berani mencoba mencelakai mereka lagi, aku tidak akan tinggal diam.”
“Apa maksudmu?” tanya Seol Ran.
“Kau tahu persis apa maksudku.” ujar Yoo Hwa sinis seraya berjalan pergi.

Bu Beo No melapor pada Dae So bahwa Jumong pergi dari Gunung Bon Gye bersama Pasukan Da Mul.
“Ini kesempatan kita untuk menyerang Gunung Bon Gye.” kata Na Ru.
Dae So berpikir, kemudian meminta izin Geum Wa untuk menyerang Gunung Bon Gye.
“Beri aku pasukan, Yang Mulia.” kata Dae So.
“Akan kupikirkan.” kata Geum Wa.
Beberapa saat kemudian Yoo Hwa datang. Ia meminta Geum Wa melepaskan Ye Soya dan Yuri, tapi Geum Wa tetap menolak.
“Aku akan mengirimnya jika waktunya sudah tepat.” kata Geum Wa.
“Kapan waktu yang tepat itu?” tanya Yoo Hwa.
“Saat tidak ada lagi bahaya peperangan antara BuYeo dan Pasukan Da Mul.” jawab Geum Wa. “Aku akan menjaga Ye Soya dan Yuri agar aman. Jangan khawatir.”
“Kau akan menjaga mereka?” tanya Yoo Hwa. “Yang Mulia, seseorang mencoba meracuni Yuri. Aku tidak bisa membiarkan mereka tetap di istana BuYeo. Jika kau tidak mau melepaskan mereka, maka aku yang akan mengeluarkan mereka.” Yoo Hwa bangkit dari duduknya.
“Apa kau ingat saat Jumong merusak Busur Da Mul?” tanya Geum Wa. “Aku datang ke gua itu dan bertemu dengan seorang peramal. Peramal itu mengatakan bahwa Jumong akan membuat BuYeo hancur. Bagaimana bisa aku tidak waspada pada Jumong dan Pasukan Da Mul? Ye Soya dan Yuri tidak akan pergi dari BuYeo tanpa izinku. Ingat itu baik-baik.”
Yoo Hwa merasa terpukul dan meneteskan air matanya, kemudian keluar dari ruangan Geum Wa.

Geum Wa memerintahkan Song Ju untuk mengurung Yoo Hwa dalam kamarnya.
“Ibu, ada apa?” tanya Ye Soya cemas, melihat kamar Yoo Hwa dijaga oleh pada pengawal.
“Kita harus segera keluar dari BuYeo.” kata Yoo Hwa. “Bersiap-siaplah.”

Chun Gyeong Sul tiba di BuYeo dan datang menemui Young Po. Ia membawakan sebuah hadiah pada Young Po berupa sekotak uang perak dan emas.
“Aku akan membantumu agar kau bisa menjalankan bisnis di BuYeo.” kata Young Po, termakan sogokan.
Gyeong Sul ingin mengutarakan sesuatu, namun berpura-pura merasa tidak enak.
“Katakan saja.” kata Young Po.
“Aku ingin melakukan perdagangan denganmu.” kata Gyeong Sul. “Sepengetahuanku, di perpustakaan BuYeo ada catatan mengenai GoJoSeon. Jika aku bisa mendapatkan catatan itu, maka aku akan memberimu benda yang sangat berharga.”
“Catatan GoJoSeon?” tanya Young Po. “Tidak akan sulit mendapatkan itu. Aku akan mencarinya.”
“Terima kasih.” kata Gyeong Sul.

Setelah keluar dari ruangan Young Po, Gyeong Sul meminta Ma Jin mengantarnya menemui Yoo Hwa dengan alasan bersilaturahmi. Ma Jin membantunya masuk ke kamar Yoo Hwa dengan menyogok penjaga.
Gyeong Sul menemui Yoo Hwa.
“Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya.” kata Yoo Hwa. “Siapa kau?”
“Aku dikirim oleh Jenderal Jumong.” kata Gyeong Sul, mengeluarkan surat dari Jumong dan menyerahkannya pada Yoo Hwa. “Aku akan pergi sekarang.”
Yoo Hwa membuka surat itu dan membacanya.
“Ibu, maafkan aku menyapamu lewat surat ini.” kata Jumong dalam suratnya. “Setiap kali aku merasa tertekan, aku selalu memikirkan kau, Ye Soya dan Yuri. Hatiku sakit setiap kali berpikir mengenai Ye Soya. Aku bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa putraku, Yuri, bahkan di dalam mimpiku. Ibu aku ingin sekali melepaskan beban di pundakku dan lari ke BuYeo, tapi aku tidak bisa. Aku harus membangun negara baru agar penderitaan ibu, Ye Soya dan Yuri selama bertahun-tahun terbayarkan.”
Yoo Hwa menyerahkan surat tersebut pada Ye Soya agar ia membacanya juga. Ye Soya menangis.

Atas persetujuan Geum Wa, Dae So dan pasukannya telah siap dan pergi ke Gunung Bon Gye untuk menyerang.

Pihak GyehRu mulai melakukan persiapan penyerangan di markan pasukan BiRyu.
“Kita akan melakukannya malam ini saat perjamuan.” kata So Seo No. Ia mengeluarkan peta dan menjelaskan strateginya. “Pertama, kita akan membakar stok perang di tenda. Ketika prajurit terburu-buru menuju tenda, pasukan kita akan menyerang Song Yang. Bersembunyi di posisi kalian sampai hari gelap.”
So Seo No terdiam dan teringat putranya. “Oo Tae, aku tahu kau bersamaku. Bantu aku agar aku bisa membunuh Song Yang dan membalaskan dendammu.” pikirnya dalam hati.

Jumong dan pasukannya tiba di GyehRu. Yeon Ta Bal mengatakan pada mereka bahwa So Seo No pergi ke markas pasukan Song Yang. Jumong dan yang lainnya cemas, kemudian memutuskan untuk membantu So Seo No dan bergegas pergi ke markas Song Yang.

Song Yang dan pasukannya mengadakan perjamuan dengan pasukan Han. Disaat itulah, So Seo No dan para prajuritnya menyerang dan membakar stok perang pasukan Song Yang.
Para prajurit Han kalang kabut dan bergegas pergi berlari-lari untuk memadamkan api.
Karena minuman yang diracuni So Seo No, para prajurit Song Yang menjadi pusing dan lemas.
So Seo No dan pasukannya mencari Song Yang.
“Lindungi Kepala Klan!” teriak pemimpin prajurit.
Terjadi peperangan antara pihak So Seo No dan pihak Song Yang.
“So Seo No, kau benar-benar ingin mati!” seru Song Yang marah. Ia memerintahkan pasukannya, “Bunuh dia!”
Pasukan GyehRu banyak yang dibunuh oleh para prajurit. Bahkan salah seorang prajurit Song Yang berhasil melukai lengan Seo So No.
“Cepat bawa dia pergi dari sini.” kata Sayong pada Chan Soo. Chan Soo memapah So Seo No melarikan diri, diikuti oleh prajurit GyehRu yang lainnya.

So Seo No, Sayong dan Chan Soo bersembunyi di sebuah ruangan.
“Bagaimana dia?” tanya Chan Soo cemas.
“Dia banyak mengeluarkan darah.” kata Sayong. “Hidupnya dalam bahaya jika kita tidak segera mengobatinya denga
“Kita masih di dalam markas Song Yang.” kata Chan Soo. “Mungkin saat ini kita sudah dikepung. Sangat sulit untuk meloloskan diri.”
“Kita tetap harus berusaha mencari. obat” kata Sayong. “Sekarang.”
Chan Soo dan beberpa prajurit keluar.
“Sayong, aku sudah tidak punya harapan.” kata So Seo No lemah. “Bawa para prajurit keluar dari sini.”
“Tidak.” tolak Sayong. “Aku akan melakukan apapun untuk membawamu keluar dari sini.”
So Seo No pingsan.

Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo mengintai markas Song Yang. Mereka mengetahui bahwa So Seo No gagal membunuh Song Yang.
“Kurasa Kepala Klan So Seo No sedang bersembunyi di suatu tempat di dalam markas BiRyu.” kata Oyi.
“Akan sulit baginya melarikan diri dalam keadaan terluka.” kata Jumong. “Kita harus segera menemukan Kepala Klan So Seo No.”
Jumong dan yang lainnya masuk. Di dalam, mereka bertemu berpapasan dengan pasukan Song Yang dan bertarung melawan mereka.

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s