Jumong – Episode 60

Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo menyusup ke dalam markas pasukan Song Yang.
Di saat yang sama, Chan Soo dan beberapa prajurit GyehRu berpapasan dengan pasukan Song Yang dan terkepung. Mereka mencoba bertahan dengan berperang melawan pasukan Song Yang. Jumong dan ketiga kawannya tiba-tiba datang untuk membantu mereka.
“Apakah kau terluka?” tanya Oyi.
“Aku baik-baik saja.” jawab Chan Soo.
Chan Soo kemudian mengantar Jumong dan yang lainnya ke tempat So Seo No. Obat-obatan yang berhasil ditemukan Chan Soo diberikan pada Sayong untuk mengobati luka So Seo No.

Di lain pihak, Song Yang tetap ingin mengumpulkan pasukan untuk menyerang GyehRu walaupun stok perang sudah terbakar.

So Seo No tersadar, namun masih sangat lemah.
“Aku akan mengalihkan perhatian pasukan Song Yang.” kata Jumong. “Kau harus membawa Kepala Klan So Seo No kembali ke GyehRu.”
Ma Ri masuk. “Jenderal, Pasukan Song Yang sudah mulai bergerak.” lapornya. “Kurasa, mereka akan menyerang GyehRu.”
“Kalau begitu, mereka pasti sudah berhenti mencari kita.” kata Jumong. “Kita bisa membawa Kepala Klan So Seo No keluar dari sini.”
Hyeopbo menggendong So Seo No. Mereka berusaha keluar dari markas pasukan Song Yang. Setelah berhasil keluar, Jumong meminta Sayong membawa kembali So Seo No ke GyehRu sementara Jumong dan Pasukan Da Mul akan menghadang Song Yang.
“Aku akan mengirim pesan ke GyehRu.” kata Jumong pada Sayong. “Jangan menggerakkan pasukan sebelum mendengar kabar dariku.”
“Ya.” kata Sayong.

Jumong dan yang lainnya kembali ke perkemahan Pasukan Da Mul, kemudian mengadakan rapat.
“Walaupun Kepala Klan So Seo No gagal membunuh Song Yang, tapi ia berhasil membakar tenda stok perang.” kata Ma Ri melaporkan.
“Jika stok perang Song Yang sudah terbakar, bukankah lebih baik kita melakukan perang jangka panjang?” tanya Jae Sa menyarankan.
“Itulah alasan kenapa Song Yang ingin melakukan penyerangan total.” kata Ma Ri.
“Benar.” ujar Jumong setuju. “Song Yang akan melakukan penyerangan total setelah kehilangan stok perangnya karena ia yakin pada pasukan bantuan dari Han. Jika kita pergi berperang melawan Pasukan BiRyu yang dibantu oleh Han, maka Pasukan Da Mul dan GyehRu akan mengalami kerugian besar.”
“Benar. Kita masih berada dalam kondisi tidak menguntungkan.” tambah Oyi.
“Kita harus melancarkan serangan mendadak pada Pasukan Han ketika mereka bergerak ke markas Song Yang.” kata Jumong. “Jika kita berhasil mengalahkan Pasukan Han, maka Song Yang akan kalah dalam perang ini. Siapkan serangan mendadak.”
“Baik.” kata Muh Guk.

Sayong berhasil membawa So Seo No kembali ke GyehRu. Yeon Ta Bal sangat terkejut melihat putrinya terluka. Mereka bergegas memanggil tabib untuk mengobati So Seo No.
Yeon Ta Bal memerintahkan Sayong untuk menyiapkan pasukan dan stok perang untuk bersiap-siap jika Pasukan Da Mul memberi kabar pada mereka.

Geum Wa memanggil Ma Oo Ryeong untuk mengobati penyakitnya. Ma Oo Ryeong membawa sebuah benda bersamanya.
“Peramal Bi Geum Sun memberikan air keramat ini padaku.” kata Ma Oo Ryeong. “Ia menyuruhku melakukan upacara ritual dan membersihkan tubuhmu dengan air ini.”
Ma Oo Ryeong melakukan upacara ritual dan membasahi wajah Geum Wa dengan air keramat dari Bi Geum Sun. Wajah Geum Wa kembali bersih seperti semula.
“Apakah Peramal Bi Geum Sun mengatakan sesuatu?” tanya Geum Wa setelah upacara ritual selesai.
“Yang Mulia, dia mengatakan padaku bahwa Busur Da Mul, benda keramat BuYeo, telah menemukan pemiliknya.” kata Ma Oo Ryeong.
“Pemilik?” tanya Geum Wa, terkejut. “Siapa pemulik Busur Da Mul?”
“Dia berkata bahwa pemilik Busur Da Mul akan mengembalikan tanah GoJoSeon dan membuat sebuah negara bari.” kata Ma Oo Ryeong. “Ia berkata bahwa Yang Mulia sudah mengetahui siapa pemiliknya.”
Geum Wa terdiam.

Iron Army dan Pasukan Han mulai bergerak.
Dilain pihak, Pasukan Da Mul menyiapkan jebakan mereka. Mereka menggali lubang di tanah, kemudian menguburkan bom asap ke dalam lubang tersebut.
“Jenderal, Pasukan Han sudah datang.” kata Oyi dan Moo Gul, berlari-lari.
“Bersiap di posisi kalian untuk menyerang.” kata Jumong memerintahkan pasukannya.

Jumong dan Pasukan Da Mul bersembunyi untuk menyergap. Begitu mereka melihat Pasukan Han mulai dekat dan berada di area tembak mereka, mereka mulai beraksi.
Jumong dan yang lainnya menembakkan panah api ke lubang bom asap sehingga menimbulkan asap. Pasukan Han terkejut.
“Tembak!” seru Jumong memerintahkan.
Pasukan Da Mul menembakkan panah ke arah Pasukan Han, kemudian berlari menyerang. Pasukan Han kalang-kabut menghadapi penyergapan itu.
“Mundur!” seru prajurit Han. “Mundur!”

“Apa yang terjadi?’ tanya Song Yang pada salah satu prajuritnya.
“Pasukan bantuan dari Han berhasil dikalahkan oleh musuh dengan serangan mendadak!” lapor salah seorang prajurit.
“Dikalahkan?!” seru Song Yang terkejut. “Apakah Pasukan GyehRu yang menyerang mereka?”
“Tidak.” kata prajurit. “Mereka diserang oleh Pasukan Da Mul.”
“Apa?!”

“Hidup Pasukan Da Mul!” seru para warga ketika Pasukan Da Mul berjalan menuju GyehRu. “Hidup Pasukan Da Mul!”

Jumong dan perwiranya datang ke GyehRu. Mereka disambut oleh Yeon Ta Bal dengan hangat.
“Jenderal, Pasukan Da Mul telah menyelamatkan GyehRu.” kata Yeon Ta Bal, berterima kasih.
“Terima kasih.” kata Gye Pil tulus. “Terima kasih banyak.”
“Pasukan Da Mul dan GyehRu sekarang adalah satu tubuh.” kata Jumong. “Bagaimana keadaan Kepala Klan So Seo No?”
“Dia masih tidak sadarkan diri.” jawab Yeon Ta Bal sedih.

Sayong mengantar Jumong menjenguk So Seo No.
“Kepala Klan.” kata Sayong pada So Seo No. “Pasukan Da Mul kembali setelah mengalahkan Pasukan Han. Jenderal Jumong ada disini. Bangunlah.”
So Seo No tidak bergerak sama sekali.

Yang Jung marah besar mendengar bahwa pasukan bantuan darinya dihabisi oleh Jumong.
“Apa yang kau lakukan ketika Pasukan Da Mul bergabung dengan GyehRu?!” seru Yang Jung marah.
“Maafkan aku.” kata Song Yang. “Aku terlalu sibuk memikirkan GyehRu.”
“Kau telah membunuh 2000 prajuritku tanpa kesempatan bertarung!” teriak Yang Jung.
“Gubernur, berikan aku kesempatan sekali lagi.” pinta Song Yang. “Jika kau memberiku pasukan bantuan dan stok perang, maka aku akan mengalahkan Pasukan Da Mul dan GyehRu kemudian menyerahkan kepala Jumong padamu.”
Yang Jung tertawa mengejek. “Berapa banyak lagi pasukan yang kau butuhkan?” tanyanya. “Aku sudah berkorban sangat banyak. Sekarang, lakukanlah sendiri. Mintalah stok perang pada Kepala Klan Jolbon!”
Song Yang terdiam.
“Aku meminta ganti rugi untuk pasukanku.” kata Yang Jung. “Jika tidak, maka aku akan menyerang Jolbon.”

Di sisi lain, Dae So dan pasukannya sedang bersiap menyerang Gunung Bon Gye. Ia memerintahkan Na Ru, Bu Beo No dan beberapa prajurit untuk melihat keadaan di markas Pasukan Da Mul di Gunung Bon Gye.
“Hanya ada orang tua, anak-anak dan sedikit Pasukan Da Mul yang menjaga mereka.” lapor Na Ru pada Dae So. “Pasukan utama dan para pengungsi telah pergi dari markas persembunyian.”
Dae So terkejut. “Bahkan para pengungsi?” tanyanya heran. “Itu artinya, mereka memindahkan markas mereka.”
“Kurasa begitu.” kata Bu Beo No.
“Apa yang akan kita lakukan?’ tanya Na Ru.
“Bunuh semua orang yang tersisa dan bakar markas persembunyian.” perintah Dae So.
Bu Beo No sangat terkejut. “Pangeran! Disana hanya ada orang tua dan anak-anak!”
“Mereka juga termasuk musuh BuYeo.” kata Dae So tajam. “Orang tua dan anak-anak akan tumbuh dan bergabung dengan Pasukan Da Mul. Bunuh mereka semua!”
Bu Beo No mencoba protes, tapi Na Ru memarahinya. Bu Beo No terdiam.

Ketika para pengungsi yang tersisa hendak pergi, pasukan Dae So datang dan mengepung mereka.
“Bunuh mereka!” perintah Dae So.
Pasukan BuYeo membunuh semua orang tanpa belas kasihan. Bu Beo No hanya diam dan menatap pembunuhan itu.
Dae So turun dari kudanya dan membunuh orang-orang tidak berdaya itu seperti orang gila.

Secara tiba-tiba, Geum Wa meminta catatan mengenai GoJoSeon. Young Po panik. Ia memerintahkan penjaga perpustakaan agar tidak memberitahukan pada Geum Wa bahwa Young Po-lah yang mengambil catatan tersebut.
“Apakah Pangeran Jumong pergi ke perpustakaan saat ia datang ke BuYeo?” tanya Geum Wa.
“Pangeran Jumong telah membaca semua buku di perpustakaan.” kata penjaga perpustakaan.
Geum Wa terdiam dan berpikir.

Dae So kembali ke BuYeo dan segera menemui Geum Wa.
“Jumong memindahkan markasnya.” kata Dae So melaporkan.
“Kemana?” tanya Geum Wa.
“Aku tidak tahu.” jawab Dae So.
Beberapa saat kemudian Perdana Menteri masuk ke ruangan dan melaporkan bahwa Pasukan Da Mul bergabung dengan GyehRu.
“Pasukan Da Mul melenyapkan pasukan bantuan dari Han yang dikirim untuk membantu pasukan Song Yang.” kata Perdana Menteri.
Dae So dan Geum Wa terkejut dan marah. Geum Wa memerintahkan Perdana Menteri untuk mengadakan pertemuan istana.

Bergabungnya Pasukan Da Mul dan GyehRu membuat situasi dangat sulit bagi BuYeo. GyehRu memiliki uang dan materi sementara Pasukan Da Mul memiliki senjata baja. Mereka akan sulit dikalahkan.
“Kita harus memberikan bantuan pada Pasukan Song Yang.” kata Dae So.
“Bagaimana kita bisa pergi berperang sementara rakyat kita kelaparan?” tanya seorang pejabat. “Yang Mulia, hal itu terlalu sulit.”
“Jenderal Heuk Chi.” panggil Geum Wa. “Cari tahu jumlah Pasukan Da Mul yang bergabung dengan GyehRu dan laporkan padaku.”

Ye Soya mendengar kabar bahwa Jumong dan Pasukan Da Mul pindah ke GyehRu.
“Aku khawatir karena Pangeran Jumong pindah ke GyehRu.” kata pelayan Ye Soya.
“Apa maksudmu?” tanya Ye Soya.
“Pangeran Jumong dan Kepala Klan So Seo No sangat dekat.” kata pelayan. “Kudengar suami Kepala Klan So Seo No sudah meninggal. Jika Pangeran bertemu dengannya…”
Ye Soya tersenyum. “Apa kau takut bahwa ia akan melupakan aku?” tanyanya.
“Ya.” jawab pelayan. “Sudah tiga tahun kalian tidak bertemu.”
Ye Soya tersenyum dan membalikkan badan membelakangi pelayannya. “Sudah tiga tahun, tapi aku masih ingat jelas wajahnya ketika ia mengucapkan selamat tinggal. Ia masih sangat jelas di hatiku. Apa yang perlu ditakutkan?” Ye Soya terdiam, matanya berkaca-kaca.

Jumong memutuskan untuk menyerang dan berperang melawan BiRyu, tapi Putri Bintang dan So Ryeong menolak.
“BiRyu adalah salah satu klan yang juga harus kau bawa dibawah sayapmu.” kata Putri Bintang.
“Akan lebih baik jika kau bisa membuat mereka menyerah tanpa pertumpahan darah.” kata So Ryeong menyarankan.
“Apakah ada suatu cara?” tanya Jumong.
So Ryeong tersenyum. “Burung Berkaki Tiga bisa terbang beribu-ribu mil.” katanya. “Karena sayapmu lebar, maka tidak akan sulit membawa mereka.”
Beberapa saat kemudian, Jae Sa datang berlari-lari memanggil Jumong. “Prajurit dari Gunung Bon Gye datang.” lapornya.

Jumong bergegas menemui prajurit itu.
Prajurit menceritakan pada mereka bahwa Dae So datang dan membunuh semua orang yang tersisa, walaupun yang tersisa adalah orang tua dan anak-anak.
Jumong dan yang lainnya sangat terkejut.
“Jenderal, kirim aku ke BuYeo.” kata Oyi, menangis. “Aku akan membalaskan dendam untuk kematian para pengungsi.”
Moo Gul dan Hyeopbo sependapat. Mereka dipenuhi rasa sedih dan marah.
“Satu-satunya cara untuk membalaskan dendam para pengungsi adalah membangun sebuah negara baru.” kata Jumong dengan mata berkaca-kaca. “Biarkan kemarahan itu menjadi motivasi untuk kalian.”

So Seo No telah sadar. Yeon Ta Bal mengatakan padanya bahwa Pasukan Da Mul berhasil mengalahkan Pasukan Han.
Jumong datang menjenguk.
“Aku tidak tahu bagaimana cara membayar kebaikanmu.” kata So Seo No, bangkit dari tidurnya.
“Cepatlah sembuh.” kata Jumong. “Kita punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan bersama.”

Chun Gyeong Sul telah tiba di GyehRu. Ia menyerahkan catatan GoJoSeon yang berhasil didapatnya dari Young Po.
“Sejarah GoJoSeon akan dilanjutkan oleh Pasukan Da Mul.” kata Jumong. “Terima kasih, Tuan Chun.”
Gyeong Sul tersenyum dan mengangguk.
“Apakah kau berhasil menyerahkan suratku?” tanya Jumong. “Bagaimana keadaan mereka?”
“Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya baik-baik saja.” jawab Gyeong Sul.
Jumong menarik napas lega.

Song Yang meminta stok perang pada Kepala Klan Jolbon yang lain. Walaupun Kepala Klan Jolbon mengatakan bahwa mereka tidak punya makanan untuk diberikan karena kekeringan panjang yang melanda, Song Yang tetap bersikeras memaksa. Mereka harus menyerahkan stok perang pada Song Yang apapun yang terjadi.

Wan Ho mengenalkan putri Menteri Pajak pada Dae So. Ia memaksa Dae So menikahi gadis itu. Karena Dae So tidak bisa berkata ‘tidak’ pada ibunya, maka ia bersedia menikahi gadis itu.
“Aku akan menikahinya setelah krisis di BuYeo berakhir.” kata Dae So.
Seol Ran merasa sedih mendengar hal itu. Dae So meminta maaf padanya.
“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Hao Chen ketika ia melihat Seol Ran sedih.
“Semua ini akan membuatku semakin kuat.” kata Seol Ran. “Jika aku menjadi Ratu nanti, aku akan membuat BuYeo membayar semua penghinaan ini. Tunggu dan lihat saja.”

Geum Wa akhirnya memutuskan untuk menyerang GyehRu dan Pasukan Da Mul sebelum GyehRu dan Pasukan Da Mul membuat BuYeo jatuh.
“Aku akan meminta stok perang dan makanan untuk Pasukan BuYeo dan rakyat kita dari Song Yang.” kata Geum Wa. “Sebagai gantinya, aku akan mengirimkan pasukan bantuan padanya.”
“Yang Mulia, itu ide yang sangat bagus.” kata Dae So. Ia menawarkan diri untuk memimpin pasukan.

Kesehatan So Seo No sudah membaik. Ia menemui Jumong ketika Jumong sedang membaca catatan mengenai GoJoSeon.
Jumong memperlihatkan peta GoJoSeon pada So Seo No.
“Sekarang, Pasukan Da Mul dan GyehRu menjadi satu.” kata Jumong. “Kita akan menyatukan negara dan klan yang terpecah belah untuk membangun kembali kejayaan negara ini. Itulah alasan kenapa aku datang ke GyehRu.”

Malam itu, Ye Soya membawakan arak dan makanan untuk pengawal yang menjaga kamar Yoo Hwa.
Di dalam kamar, Yoo Hwa menulis sebuah surat.
Pelayan Yoo Hwa masuk.
“Bagaimana?” tanya Yoo Hwa.
“Kita bisa pergi sekarang.” kata pelayan.
Yoo Hwa berjalan pergi. Diluar kamarnya, para pelayan tertidur dan terkapar tidak berdaya.
Yoo Hwa menemui Ye Soya dan Yuri, kemudian berjalan pergi.
Pelayan Yoo Hwa memberikan uang pada penjaga gerbang. Penjaga gerbang tersebut pergi. Yoo Hwa dan Ye Soya memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri, melewati gerbang istana.

Song Ju berjalan melakukan patroli. Ia terkejut melihat para pengawal yang menjaga kamar Yoo Hwa tertidur.
“Apa yang kalian lakukan?!” teriaknya marah.
Song Ju memeriksa kamar Yoo Hwa dan Ye Soya. Mereka sudah tidak ada dan digantikan oleh sebuah surat.
Song Ju melapor dan menyerahkan surat tersebut pada Geum Wa.
“Yang Mulia.” kata Yoo Hwa dalam suratnya. “Maafkan aku karena pergi seperti ini. Kupikir, cara terbaik untuk membalas kebaikanmu adalah dengan berada disisimu sampai aku mati. Tapi, kau tidak pernah tahu bagaimana takdir manusia. Tepat disaat Yang Mulia membuat Ye Soya dan Yuri sebagai tawanan, aku tidak bisa lagi meneruskan ikatan kita. Maafkan aku karena aku pergi, karena aku tidak berada disisimu sampai aku mati.”
Geum wa marah dan melempar surat itu. “Mereka pasti belum jauh!” teriaknya. “Kerahkan semua pengawal istana untuk menangkap mereka!”

sumber: princess-chocolates.blogspot.com

Jangan lupa meninggalkan jejakmu ...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s